Orkes Keroncong Purna Praja Musika
Koropak.co.id – Keroncong, memang lahir dan tumbuh di negeri sendiri. Namun sayang jadi meredup sekitar tahun 1960-an akibat derasnya arus musik populer bergenre rock sejak tahun 1950-an, ditambah dengan musik barat seperti Beatles yang masuk ke Indonesia.
Untungnya, keroncong yang mulai bergema di Nusantara sekitar abad ke-19 dan telah mencatatkan sejarah sebagai musik penyemangat perjuangan kemerdekaan Indonesia itu, masih ada yang memainkan dan menikmatinya, walaupun hanya segelintir lapisan masyarakat. Hj Tien Kartini, mantan perangkat Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, ini sejak lama bercita-cita ingin melestarikan seni musik keroncong. Tidak sedikit kalangan mengenal, atau akrab namanya.
Cita-citanya mendapat dukungan dari keluarga, serta dari suaminya, H Samin Radianto. Hj Tien Kartini, demikian sosok satu ini, yang akhirnya memang dapat mendirikan kelompok musik keroncong di Tasikmalaya. Lantas dinamai itu, Orkes Keroncong Purna Praja Musika.
Ibu asal keluarga pelahir Rumah Sakit Jasa Kartini ini, menciptakan Orkes Keroncong purna Praja Musika berawal dari rasa sayangnya atas genre musik keroncong. Hingga terlahir pula kelompok pecinta keroncong yang terbangun dari semangat awalnya. Berlatih, bernyanyi bersama, serta melakukan perkumpulan rutin di Aula Jasa Kartini, Jalan Gunung Pongpok Kota Tasikmalaya.
Untuk jajaran musisi Orkes Keroncong Purna Praja Musika, terdiri atas pemain keroncong tempo lalu yang sudah berpengalaman, dan sering tampil dipanggung seni. Sehingga sering mengikuti festival lagu-lagu keroncong hingga kerap menjadi finalis.
Hal menarik lainnya adalah adanya pemain lansia yang memegang gitar, N. Kusnadi. Sosok yang dijuluki Bison ini, memiliki jari jemari lincah saat memetik gitar. Berikutnya pemain bas yang lugu dan jarang berbicara, Undang Suprayitno. Dia adalah pensiunan PNS yang lahir dari keluarga seniman musik.
Jika kelompok pecinta keroncong ini sudah berkumpul, dan masing masing memegang alat musik andalannya, lalu mulai memetik nada-nada ringan, unik sampai mendayu, maka terciptalah suara musik keroncong yang meliuk-liuk. Merdu dalam syair merayu-rayu. Di kuping pecintanya, syahdu hingga menyentuh ke dalam hati.
Melihat semaraknya hasrat penyanyi lagu-lagu akrab tempo dulu ini, tentu Hj Tien Kartini bangga dan bahagia. Rasa kekhawatirannya terobati sudah.*











