Mengenal Kesenian Rontek Khas Pacitan Jawa Timur

Koropak.co.id, 23 November 2021 22:33:13
Penulis : Eris Kuswara
Mengenal Kesenian Rontek Khas Pacitan Jawa Timur

 

Koropak.co.id - Ini adalah rontek. Kesenian yang berasal dari Desa Pelem Kecamatan Pringkuku Kabupaten Pacitan Jawa Timur.

Di desa Palem ini ada grup rontek yang selalu eksis, namanya "Raung Bambu."

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari infopublik.id, Selasa 23 November 2021. Pernah menjuarai Festival Rontek Pacitan pada tahun 2018, dan di tahun 2021 terpilih menjadi salah satu pengisi Pekan Kebudayaan Nasional (PKN), yang rutin digelar Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, dan Ristek (Kemendikbud Ristek).

Pengasuh Rontek Raung Bambu Pringkuku, Deasylina Da Ary mengatakan bahwa kesenian Rontek mengangkat filosofi hubungan petani dengan simbol kesejahteraan yaitu dewi padi.

"Rontek merupakan kesenian khas Kabupaten Pacitan dan rontek juga berasal dari kata Ronda dan Thethek," kata Deasylina, sebagaimana dihimpun Koropak daro InfoPublik.id, Selasa 23 November 2021.

Deasylina menjelaskan. Menurut kamus Bausastra, kata 'Rontek' bermakna panji-panji, bendera kecil berlandaian tombak. Sedangkan 'Ronda' merupakan kegiatan berjalan berkeliling untuk menjaga keamanan, berpatroli dan 'Thethek' adalah meronda sambil memukul tongtong.

Rontek bisa dimaknai sebagai aktivitas masyarakat meronda sambil memukul thethek. Pada awalnya, Rontek merupakan aktivitas masyarakat Pacitan yang sedang melakukan ronda malam dengan menggunakan alat kentongan bambu atau oleh masyarakat setempat biasa disebut Thethek.

Kentongan (Thektek) tersebut terbuat dari potongan bambu dengan panjang kurang lebih 50 centimeter. Rontek juga diketahui sudah ada sejak dahulu kala, akan tetapi pada saat itu hanya difungsikan sebagai alat untuk memberikan pertanda dan membangunkan orang tidur.

 


Baca : 4 Fakta Wayang Kulit Jadi Warisan Mahakarya Dunia yang Tak Ternilai

Dalam perjalanannya, Rontek tak hanya dikenal sebagai kentongan. Akan tetapi juga dilengkapi dengan instrumen-instrumen lain dan perbedaan instrumen ini mencerminkan harmonisasi yang sangat kuat. Selain instrumen yang beragam, dalam penampilannya juga terdapat tarian.

Berbicara mengenai PKN 2021, Kemendikbud Ristek akan mengusung tema 'Cerlang Nusantara, Pandu Masa Depan'. Tujuan dilaksanakannya PKN tahun 2021 kali ini adalah berusaha untuk mengajak masyarakat agar kembali mengenali jati diri dan khazanah budaya bangsa sebagai suatu aset.

Dari aset tersebut, kemudian diadaptasi menjadi cara hidup yang kekinian untuk menjawab tantangan dari perkembangan dan perubahan zaman. Tema ini juga diambil dengan maksud untuk menjawab tantangan utama yang ada di masa kini yaitu gaya hidup.

Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan, Hilmar Farid menuturkan, PKN 2021 hadir untuk mengawali perubahan gaya hidup dan perubahan tersebut dilakukan dengan memutar haluan dari segala cara hidup lama yang tidak berkelanjutan untuk menemukan arus kebudayaan dari bawah yang akan melontarkan ke masa depan serta maju ke cara hidup baru yang berkelanjutan.

"Kebudayaan itu bisa jadi pandu menuju normal baru. Kebudayaan Nusantara juga telah dihasilkan lewat praktik sosial selama ribuan tahun dan terbukti bisa membuat kita bertahan hingga hari ini. Kita juga perlu menengok untuk mencari jalan keluar dari dilema hari ini," tutur Hilmar saat peluncuran PKN 2021 secara virtual pada 25 Oktober 2021 lalu.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 

Komentar

Ngadu Muncang, Dulu Jadi Alat Unjuk Kesaktian Zaman Kerajaan

Koropak.co.id, 15 May 2022 07:09:11

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Ngadu muncang merupakan salah satu permainan tradisional dari Indonesia. Biasanya dimainkan oleh anak laki-laki pada musim kemiri. Bila berkaca pada sejarah perjalanan bangsa, ngadu muncang ternyata bukan hanya permainan di kala senggang.

Pada masa Kerajaan Sunda, ngadu muncang dijadikan sebagai alat untuk menunjukkan kesaktian. Siapa yang muncang atau kemirinya paling kuat, ia dipercaya punya kesaktian tinggi. Seiring berjalannya waktu, ngadu muncang jadi bertransformasi jadi permainan anak-anak.

Dalam bermain ngadu muncang, anak-anak menyiapkan muncang andalannya yang telah direndam selama seperempat atau setengah jam di dalam air cuka. Perendaman itu berguna untuk menambah kekuatan kulit muncang. Setelah itu, muncang andalannya pun siap untuk ditandingkan dengan muncang teman se-permainannya.



Baca: Adu Keseimbangan dan Ketangkasan Melalui Permainan Perepet Jengkol


Salah seorang wasit muncang akan memberi aba-aba agar kedua muncang tersebut siap untuk ditandingkan. Setelah itu, biasanya kedua muncang akan diletakan secara vertikal-bertumpuk di atas sebilah bambu yang telah dipotong mendatar. 

Kedua bambu mendatar tersebut pun diletakkan di sisi bawah dan atas kedua tumpukan muncang dengan yang di sisi paling bawahnya itu diberi alas sandal jepit. 

Setelah semua perlengkapan selesai dipersiapkan, seorang wasit muncang akan memberi aba-aba dari satu sampai tiga. Pada hitungan ketiga, wasit selanjutnya memukul tumpukan muncang dengan kayu yang agak besar.

Di akhir permainan, anak-anak pun bisa melihat muncang mana yang masih bertahan dan muncang mana yang telah remuk. Di sinilah, anak-anak mengetahui pihak mana yang lebih unggul atau menang dalam permainan.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Karih, Senjata Tradisional Minangkabau yang Mirip Keris

Koropak.co.id, 14 May 2022 12:53:27

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Pernahkah Anda mendengar nama Karih? Bisa jadi belum. Bagaimana kalau keris? Pasti itu sudah familiar. Padahal, di antara keduanya memiliki kesamaan bentuk. Kendati begitu, antara karih dan keris terdapat sejumlah perbedaan, baik itu dari segi sejarah, kegunaan, hingga pembuatannya.

Karih adalah salah satu senjata tradisional Minangkabau. Ia merupakan senjata tikam berjenis belati, yang kedua sisinya sama-sama tajam. Bentuknya pun sangat khas dan mudah dibedakan dengan jenis senjata lainnya. Karih ini juga tidak simetris, karena di bagian pangkalnya melebar dan mengecil hingga ke ujung. Bilahnya lebih dominan melekuk-lekuk membentuk seni khas Minangkabau.

Pada awal kemunculannya, Karih dipergunakan sebagai senjata peperangan, serta melindungi diri dari serangan musuh ketika keluar rumah. Dahulu, alat ini terbilang serbaguna bagi kehidupan orang Minang, termasuk untuk membantu memasak di dapur.

Keunikan lainnya adalah bentuk Karih yang sarungnya dihiasi oleh ukiran-ukiran indah dengan berbagai motif yang berbeda. Begitu juga dengan tangkai atau ulunya. Sementara warnanya dominan berwarna cokelat gelap atau terang, menyerupai warna kulit kayu bagian dalam.


Baca: Mengenal Lima Senjata Tradisional dari Bengkulu


Seiring dengan perkembangan zaman, Karih tidak lagi difungsikan sebagai alat pelindung diri atau alat dapur. Kini, lebih dekat dengan berbagai upacara adat serta perayaan budaya dan sejenisnya di tanah Minang. 

Biasanya Karih dipakai oleh pemimpin kaum, pemangku, pemuka adat, pemegang adat atau Sako, dan sejenisnya. Selain dipakai para pemuka adat, Karih Minang juga menjadi aksesoris mempelai pria ketika menjalani resepsi pernikahan. 

Karih itu akan diselipkan di pinggang bagian kanan depan, beserta dengan sarungnya. Keberadaan senjata Tradisional Sumatera Barat yang satu ini tentunya sekaligus menjadi ciri khas orang Minang, dimanapun mereka berada.

Jika dikaji dari segi simbolik, Karih Minang ini berfungsi sebagai hakim, yakni penyelesai sengketa atau persoalan di dalam kaum dan nagari. Selain itu, jika Karih dipegang dengan posisi tegak lurus, maka akan membentuk huruf Alif dalam bahasa Arab, yang melambangkan ajaran tauhid tentang keberadaan Allah Subhawahu wata'ala.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Tari Primitif, Beda Gaya di Zaman Batu dan Zaman Logam

Koropak.co.id, 13 May 2022 12:17:08

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Apa yang terlintas di benak saat membaca kata primitif? Kalau saya tiba-tiba ingat Bang Mandra dalam film Si Doel Anak Sekolahan. Dalam satu episode, Doel dan Mandra disebut primitif oleh si Roy. Doel murung, sementara Mandra linglung. Ia tidak paham apa itu primitif.

Namun, tulisan ini bukan akan membahas film Si Doel. Bukan tentang film, tapi tari. Ya, tari primitif. Disebut begitu lantaran tarian tersebut dimainkan pada zaman pra-sejarah, berkisar antara tahun 20.000 sebelum Masehi hingga 400 Masehi. Masa ini pun dibagi dalam dua zaman, yaitu zaman Batu dan zaman Logam (perunggu dan besi).

Di dua zaman itu, ada perbedaan mencolok dalam tarian yang dimainkan. Di zaman Batu, tarian hanya diiringi dengan sorak sorai serta tepuk tangan. Sedangkan pada zaman Logam, ditemukan nekara (alat musik primitif) dan juga ditemukan gambar penari dengan menggunakan hiasan bulu-bulu burung dan daun-daunan di kepalanya.

Gerakannya terbilang sangat sederhana. Tari primitif kadang menirukan gerakan hewan dan gerakan alam dengan gerakan-gerakan tangan, kaki, dan kepala sambil bergerak melingkar mengelilingi api unggun. Ada juga gerak perulangan dan iringannya sangat sederhana, yakni berupa hentakan kaki, tepukan tangan, dan suara.



Baca: Keunikan Wisata Budaya Umah Wayang Kemukusan Purbalingga


Namun, gerakan-gerakan itu dilakukan bukan tanpa maksud. Gerakan yang meniru gerak binatang digunakan untuk berburu dan tujuan ritual tertentu.

Ciri lainnya terletak pada instrumen tari yang sangat sederhana, yakni berupa alat pukul. Tari primitif ini juga bersifat sakral (disucikan), karena biasanya dipakai untuk upacara keagamaan. Umumnya, pola lantai pada tarian primitif ini berbentuk lingkaran dikarenakan menggambar kekuatan.

Di sisi lain, tari primitif juga memiliki beberapa keistimewaan, yakni sebagai warisan budaya leluhur, merupakan identitas dari suatu kelompok masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun, serta memiliki nilai sejarah.

Tari primitif juga bisa digunakan dalam berbagai ritual yang berkaitan dengan agama dan adat istiadat. Kini, tari primitif menjadi daya tarik wisata serta menjadi sarana bagi masyarakat untuk berekspresi.

Di Indonesia, tari primitif itu misalnya Tari Tor-Tor (Sumatera Utara), Tari Hudoq (Kalimantan), Tari Tarawangsa dan Tari Ular (Jawa Barat), Tari Turuk Langgai (Pulau Mentawai), Tari Perang Sanudhe, Tari Tellu 'Otul dan Tari Tobe (Papua), dan Tari Kuna dan Tari Rontek Singo Wulung (Jawa Timur).


Simak berbagai video menarik di sini:


Topeng Labu, Perayaan Mirip Halloween di Muara Jambi

Koropak.co.id, 11 May 2022 12:34:14

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Anda pasti sudah tidak asing bila mendengar perayaan Halloween. Kendati bisa jadi tidak mengetahui sepenuhnya tentang tahu asal-usulnya, paling tidak saat mendengar Halloween pikiran langsung tertuju pada topeng dan Amerika Serikat.

Di Indonesia juga ada perayaan yang tampak serupa, yakni topeng labu. Sesuai namanya, topeng itu terbuat dari labu yang merupakan tanaman menjalar berdaging tebal. Topeng labu dan Halloween memiliki kesamaan, yakni menggunakan media labu.

Warga Desa Muara Jambi, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, sudah menjadikan perayaan topeng labu dalam momen Idul Fitri. Awalnya itu lahir dari cerita rakyat dan menjadi tradisi yang dilakukan secara turun-temurun.

Dalam laman Kemdikbud dijelaskan, topeng labu merupakan bagian dari sejarah perjuangan masyarakat Jambi pada zaman kolonial. Saat itu, mereka menggunakan topeng labu saat berhadapan dengan penjajah.

Topeng labu berkembang dari sebuah cerita rakyat. Konon, dahulu kala ada satu masyarakat Muaro Jambi yang menderita penyakit kusta. Penyakit tersebut diyakini sebagai kutukan yang tidak akan bisa sembuh.



Baca: Muasal Kesenian Topeng Dhalang Khas Sumenep


Dikarenakan bisa menular, masyarakat mulai merasa resah. Masyarakat menyuruh mereka yang menderita kusta untuk pergi ke hutan dan mengasingkan diri. Seiring berjalannya waktu, mereka yang menderita kusta merasa rindu untuk bertemu sanak keluarga.

Sadar sulit kembali ke perkampungan dengan kondisi penyakit yang tak kunjung sembuh, akhirnya mereka membuat topeng yang terbuat dari labu untuk menutupi wajah mereka.

Dalam pembuatannya, buah labu tersebut dibelah dan dihiasi dengan ijuk, kemudian setelah itu digambar layaknya muka manusia. Mereka juga berpakaian sederhana lalu kemudian menggendong ambung, sejenis keranjang, saat masuk ke perkampungan.

Tak disangka, kedatangan para penderita kusta itu menjadi hiburan tersendiri bagi warga lain. Terlebih lagi ketika memasuki perkampungan, mereka disebut berjalan dengan cara berlenggak-lenggok layaknya seorang penari.

Syahdan, setiap hari raya Idul Fitri tiba, kehadiran mereka akan selalu dinantikan, terutama oleh anak-anak. Tak hanya itu, warga juga memberikan makanan, minuman, hasil pangan, atau pakaian kepada mereka yang memakai topeng labu tersebut dengan memasukannya ke ambung yang dibawa.

Setiap tahunnya, momen hiburan berupa tradisi topeng labu ini selalu menjadi saat yang paling dinantikan oleh warga setempat. Selain itu, di saat yang bersamaan juga tradisi ini memiliki makna dan moral yang terkandung di dalamnya, yakni mengenai pesan kesetaraan sesama manusia.*


Simak berbagai video menarik di sini:


Topeng Labu, Perayaan Mirip Halloween di Muara Jambi

Koropak.co.id, 11 May 2022 12:34:14

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Anda pasti sudah tidak asing bila mendengar perayaan Halloween. Kendati bisa jadi tidak mengetahui sepenuhnya tentang tahu asal-usulnya, paling tidak saat mendengar Halloween pikiran langsung tertuju pada topeng dan Amerika Serikat.

Di Indonesia juga ada perayaan yang tampak serupa, yakni topeng labu. Sesuai namanya, topeng itu terbuat dari labu yang merupakan tanaman menjalar berdaging tebal. Topeng labu dan Halloween memiliki kesamaan, yakni menggunakan media labu.

Warga Desa Muara Jambi, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, sudah menjadikan perayaan topeng labu dalam momen Idul Fitri. Awalnya itu lahir dari cerita rakyat dan menjadi tradisi yang dilakukan secara turun-temurun.

Dalam laman Kemdikbud dijelaskan, topeng labu merupakan bagian dari sejarah perjuangan masyarakat Jambi pada zaman kolonial. Saat itu, mereka menggunakan topeng labu saat berhadapan dengan penjajah.

Topeng labu berkembang dari sebuah cerita rakyat. Konon, dahulu kala ada satu masyarakat Muaro Jambi yang menderita penyakit kusta. Penyakit tersebut diyakini sebagai kutukan yang tidak akan bisa sembuh.



Baca: Muasal Kesenian Topeng Dhalang Khas Sumenep


Dikarenakan bisa menular, masyarakat mulai merasa resah. Masyarakat menyuruh mereka yang menderita kusta untuk pergi ke hutan dan mengasingkan diri. Seiring berjalannya waktu, mereka yang menderita kusta merasa rindu untuk bertemu sanak keluarga.

Sadar sulit kembali ke perkampungan dengan kondisi penyakit yang tak kunjung sembuh, akhirnya mereka membuat topeng yang terbuat dari labu untuk menutupi wajah mereka.

Dalam pembuatannya, buah labu tersebut dibelah dan dihiasi dengan ijuk, kemudian setelah itu digambar layaknya muka manusia. Mereka juga berpakaian sederhana lalu kemudian menggendong ambung, sejenis keranjang, saat masuk ke perkampungan.

Tak disangka, kedatangan para penderita kusta itu menjadi hiburan tersendiri bagi warga lain. Terlebih lagi ketika memasuki perkampungan, mereka disebut berjalan dengan cara berlenggak-lenggok layaknya seorang penari.

Syahdan, setiap hari raya Idul Fitri tiba, kehadiran mereka akan selalu dinantikan, terutama oleh anak-anak. Tak hanya itu, warga juga memberikan makanan, minuman, hasil pangan, atau pakaian kepada mereka yang memakai topeng labu tersebut dengan memasukannya ke ambung yang dibawa.

Setiap tahunnya, momen hiburan berupa tradisi topeng labu ini selalu menjadi saat yang paling dinantikan oleh warga setempat. Selain itu, di saat yang bersamaan juga tradisi ini memiliki makna dan moral yang terkandung di dalamnya, yakni mengenai pesan kesetaraan sesama manusia.


Simak berbagai video menarik di sini:


Tujuh Keunikan Rumah Betang Uluk Palin Suku Dayak

Koropak.co.id, 10 May 2022 07:53:04

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Rumah Betang Uluk Palin merupakan rumah adat Suku Dayak Tamambaloh Palin atau Tamam Palin, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Dibangun pada 1800-an, rumah ini dinobatkan sebagai rumah betang tertinggi dan terpanjang di Kalimantan Barat.

Secara bahasa, rumah betang ini berarti 'rumah panjang'. Berdiri di area seluas 16.500 meter persegi, panjang 204 meter, tinggi 8 meter. Saking luasnya, Rumah Betang Uluk Palin ini bisa menampung ratusan orang dari suku Dayak.

Selain menjadi rumah adat khas suku Dayak, Rumah Betang Uluk Palin memiliki berbagai keunikan, di antaranya:

1. Dibangun di Tepi Sungai

Rumah Betang Uluk Palin dibangun di tepi sungai Kapuas. Posisinya menghadap langsung ke arah sungai. Sungai Kapuas merupakan tempat beraktivitas masyarakat Suku Dayak Tamambaloh Palin, sehingga rumah ini menghadap langsung ke sungai.

2. Ukurannya Besar

Rumah Betang Uluk Palin merupakan rumah adat tertinggi dan terpanjang di Kalimantan Berat. Luas bangunannya 3.762 meter persegi dengan 53 bilik atau kamar di dalamnya. Rumah adat ini sengaja dibangun tinggi untuk menghindari ancaman, seperti serangan binatang buas, musuh, dan bencana banjir.

3. Bisa Dihuni Ratusan Orang

Pada 2019, Rumah Betang Uluk Palin dihuni setidaknya oleh 73 kepala keluarga dengan 213 jiwa di dalamnya. Oleh sebab itulah, rumah ini selalu dibangun kembali untuk menambah jumlah bilik, seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di dalamnya.



Baca: Rumah Adat Souraja, Rumah Khas Sulteng Kediaman Para Raja


4. Tiga Kali Pindah Lokasi

Rumah Betang Uluk Palin sudah tiga kali berpindah lokasi. Pemindahan rumah tersebut terjadi karena erosi atau pengikisan tanah oleh aliran Sungai Uluk dan Sungai Nyabau. Rumah ini juga pernah mengalami kebakaran, sehingga harus dipindah dan dibangun ulang.

5. Pernah Terbakar

Pada 13 hingga 14 September 2014, Rumah Betang Uluk Palin terbakar dan api melahap seluruh bagian rumah. Tidak ada korban jiwa dalam kebakaran tersebut. Namun, masyarakat Suku Dayak Tamambaloh Palin kehilangan hampir seluruh harta benda. Kebakaran diduga berasal dari dapur warga yang sedang memasak menggunakan kayu bakar.

6. Berhasil Dibangun Kembali

Setelah musibah kebakaran, Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu pun membantu membangun kembali rumah ini. Pembangunannya dilakukan secara patungan, mulai pemerintah kabupaten hingga Pusat. Terkumpul dana Rp 100 miliar untuk membangun kembali Rumah Betang Uluk Palin.

7. Simbol Persatuan

Selain sebagai tempat tinggal, Rumah Betang Uluk Palin menjadi simbol persatuan Suku Dayak Tamambaloh Palin. Juga menjadi simbol kebersamaan dan kekerabatan yang terjalin dengan kuat di antara warga.


Simak berbagai video menarik di sini:


Keunikan Wisata Budaya Umah Wayang Kemukusan Purbalingga

Koropak.co.id, 30 April 2022 12:16:23

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Tak hanya terkenal dengan kekayaan wisata alamnya, Kabupaten Purbalingga juga memiliki wisata budaya yang tak kalah unik. Salah satunya adalah wisata budaya Umah Wayang Kemukusan Purbalingga.

Diketahui, Wisata budaya Umah Wayang Kemukusan ini berada di Desa Selakambang, Kecamatan Kaligondang Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

Tak hanya memberikan nuansa rekreasi, Umah Wayang Kemukusan ini juga turut memberikan edukasi terkait tokoh pewayangan, termasuk perangkat gamelan.

Hal itu dilakukan dengan tujuan untuk mengedukasi atau memperkenalkan warisan budaya asli Indonesia kepada masyarakat. Sehingga, para pengunjung bisa menikmati, melihat-lihat sambil belajar tentang warisan budaya yang unik.

Dilansir dari berbagai sumber, contohnya seperti cerita dalam wayang yang mengandung pelajaran, fatwa, dan simbol-simbol yang menjadi nilai hidup dan moral bangsa Indonesia, terutama bagi masyarakat Jawa.



Baca : Mengenal Kampung Sindang Barang, Desa Adat Tertua di Jawa Barat


Pemilik Rumah Wayang Kemukusan, Kusno mengatakan bahwa pihaknya merubah design ruang rumahnya itu sebagai museum yang berkoleksi wayang kulit.

"Selain wayang kulit, di rumah ini juga tersedia wayang golek buatan almarhum Eyang Hartono yang juga asli Selakambang. Tidak hanya wayang, ia juga turut merevitalisasi sebuah bunker bawah tanah di belakang rumahnya," katanya.

Konon, bunker itu diketahui dulunya merupakan tempat persembunyian masyarakat ketika tentara Jepang ingin menjarah bahan pangan yang dimiliki warga. 

Bunker itu pun kini disulap menjadi semacam museum mini yang menyimpan berbagai perkakas kuno. Jadi, ayo kunjungi Umah Wayang Kemukusan, destinasi wisata Purbalingga yang menarik sekaligus menambah ilmu.*


Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini


Mengintip Keunikan Tradisi Makan Jagung di Indonesia

Koropak.co.id, 29 April 2022 12:02:59

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Di Indonesia, jagung memiliki nilai historis dan budaya tersendiri. Selain itu, di sejumlah daerah di Indonesia, kita bisa melihat bahwa masyarakat memiliki tradisi khusus terhadap tanaman yang satu ini. 

Contohnya saja, Masyarakat Kampung Jalawastu, Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan, Brebes, Jawa Tengah yang mempunyai tradisi upacara Ngasa.

Dilansir dari laman InfoPublik, upacara Ngasa yang digelar setahun sekali itu diketahui sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu. 

Konon, berdasarkan sejarahnya, upacara itu digelar pertama kalinya pada masa pemerintahan Bupati Brebes ke-9, yaitu Raden Arya Candranegara (1880-1885). Sehingga, sejak saat itulah, upacara Ngasa digelar secara turun temurun.

Sementara itu, dilansir dari laman Jatengprov.go.id, upacara Ngasa digelar pada mangsa kesanga (bulan kesembilan dalam Kalender Jawa) setiap tahunnya. Untuk hari perayaannya sendiri dilaksanakan pada Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon di lereng Gunung Kumbang dan Gunung Sagara. 

Setelah dilakukan prosesi ritual, upacara itu pun akan ditutup dengan acara makan-makan bersama. Selain itu, masyarakat yang tinggal di Dukuh Jalawastu memiliki pantangan untuk makan nasi, daging serta ikan. Sehingga, makanan pokok mereka adalah nasi jagung dengan lalapan dedaunan, umbi-umbian, pete, terong, sambal, dan daun reundeu yang semua bahan makanan itu telah tersedia di lingkungan sekitarnya.

Selain di Brebes, tradisi dan ritual makan jagung itu juga bisa ditemui di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Disana, mereka menyebut tradisi itu dengan sebutan sawar. Tradisi Sawar berlangsung di setiap suku dengan jadwal yang disesuaikan dengan kondisi kematangan jagung di ladang.



Baca : Makna Mendalam Dibalik Tradisi Tukar Takir Brebes


Jika sawar sudah digelar, maka semua orang dalam suku itu bebas mengonsumsi jagung muda. Sebelum sawar digelar, tidak ada seorang pun yang dibenarkan untuk mengonsumsinya. Namun, jika ada anggota suku yang melanggar sawar dengan mengonsumsi jagung muda, diyakini dia akan mendapat kutukan berupa sakit, gagal panen, dan lainnya.

Pun di Sulawesi Tenggara. Di sini ada suku Muna yang hidup di pulau Muna. Muna sendiri merupakan pulau karang yang cukup keras yang dulunya terkenal dengan kualitas kayu jatinya. Di pulau ini, padi agak sulit untuk tumbuh subur. 

Dikarenakan sulit untuk tumbuh, masyarakat Muna lebih pada akhirnya memenuhi kebutuhan karbohidrat mereka dengan tanaman jagung dan ubi kayu.

Salah satu tradisi menarik dalam budaya Muna adalah pada masa panen jagung. Sudah menjadi tradisi bagi masyarakat suku Muna, pada saat panen, pemilik kebun akan membuat acara pesta panen yang biasanya dilaksanakan saat usia tanaman jagung memasuki 60 hari.

Bagi masyarakat Muna, jagung yang dipanen di usia 60 hari itu merupakan jagung terbaik yang sangat cocok untuk dijadikan olahan makanan mereka. Dimana usia jagung 60 hari itu adalah jagung yang telah matang namun masih memiliki banyak kandungan air.

Sebelum memulai pesta panen, biasanya pemilik kebun akan mengundang keluarga dan kerabatnya yang bukan hanya tinggal di kampung saja, akan tetapi juga dari kampung lain termasuk juga yang tinggal di Kota.*


Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini



Lima Budaya Malaysia yang Mirip dengan Indonesia

Koropak.co.id, 29 April 2022 07:18:57

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Indonesia dan Malaysia sering dikata satu rumpun. Tak jarang, dua negara ini kerap bergesekan. Urusan budaya salah duanya.

Akan tetapi, ternyata ada lima budaya Malaysia yang memiliki kemiripan dengan budaya Indonesia hingga masih jarang sekali banyak orang yang mengetahuinya. 

Diketahui, sebagai saudara serumpun, Malaysia dengan Indonesia sedikit banyaknya memiliki kemiripan dari segi kebudayaan. Baik itu dari segi kultur sosial masyarakat, makanan, bahasa, dan lainnya.

Lantas, apa saja kira-kira kemiripan budaya dari Malaysia yang mirip dengan budaya Indonesia? Dilansir dari berbagai sumber, berikut Koropak merangkum singkat lima budaya Malaysia yang mirip dengan Indonesia.

1. Lamaran

Sebelum memasuki gerbang pernikahan, biasanya calon pengantin di Malaysia memiliki tahapan acara yang dinamakan dengan Merisik.

Dalam tradisi itu, sang calon pengantin pria akan membawa kedua orangtuanya untuk berkunjung secara resmi bertemu dengan orangtua dan keluarga dari sang calon pengantin wanita.

Dalam pertemuan itu, sang calon pengantin pria akan membawa seserahan berupa makanan atau barang-barang khusus untuk sang wanita. Prosesi ini pun ternyata sama halnya dengan acara Lamaran di Indonesia.

2. Bahasa

Bahasa juga masuk menjadi salah satu produk budaya Malaysia yang mirip dengan Indonesia. Pasalnya, sumber bahasa dari dua negara ini pada kenyataannya sama, yakni Austronesia. 

Tak hanya itu saja, banyak kosa kata bahasa Indonesia yang merupakan turunan dari bahasa Melayu. Malaysia sendiri diketahui menggunakan bahasa Melayu tersebut sebagai bahasa ibu atau bahasa nasionalnya.



Baca : Lima Keseruan Ramadan di Era 90-an yang Kini Jarang Ditemukan


3. Makanan

Kemiripan budaya Malaysia dan Indonesia itu juga bisa dilihat dari produk makanannya. Sebagai negara tetangga terdekat dengan Indonesia, tidak mengherankan apabila bumbu rempah, jenis, atau penyajian makanan di dua negara ini memang mirip. 

Contohnya saja hidangan nasi uduk di Indonesia, dan di Malaysia disebut sebagai nasi lemak. Uniknya lagi, hidangan ini sama-sama dijadikan sebagai menu sarapan.

4. Mudik

Tradisi mudik saat hari raya keagamaan, mulai dari mudik Lebaran, Natal, atau Tahun Baru China yang ada di Malaysia juga rupanya bisa dilihat juga di Indonesia. Meski beda nama tapi ada kemiripan, jika di Indonesia disebut mudik atau 'pulang kampung', sedangkan di Malaysia disebut dengan 'balik kampung'.

5. Cara makan

Di Malaysia, masyarakatnya memiliki budaya 'makan tengah', yakni meletakkan aneka lauk pauk di tengah meja makan untuk dimakan bersama dengan anggota keluarga lainnya.

Kultur ini juga ada di masyarakat Indonesia, yang suka makan bersama-sama dengan menyantap lauk yang sama di meja makan sebagai bentuk wujud kekeluargaan, baik itu di rumah ataupun di luar rumah bersama dengan anggota keluarga, teman maupun kolega.*


Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini


Lima Keseruan Ramadan di Era 90-an yang Kini Jarang Ditemukan

Koropak.co.id, 28 April 2022 19:11:09

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Ramadan akan segera berakhir dan hanya tinggal menghitung hari. Berbicara mengenai bulan penuh berkah itu, Ramadan ala era 90-an menjadi yang paling menyenangkan sekali dan mungkin akan sulit sekali ditemukan sekarang. 

Karena, zamannya, tantangan hingga keseruannya juga sudah berbeda. Terlebih lagi Ramadan tahun ini, meski aktivitas ada pelonggaran, namun kita masih harus tetap menjaga protokol kesehatan secara ketat dikarenakan pandemi Covid-19 masih belum berakhir.

Sehingga, terkadang kita pun merindukan semua keceriaan di masa lalu. Hmm, apa saja keseruan Ramadan kala itu? Berikut keseruan Ramadan di era 90-an yang saat ini jarang bahkan sulit untuk ditemukan:

1. Buku Kegiatan Ramadan

Buku ini berisi rekaman atau catatan setiap kegiatan yang dilakukan selama bulan Ramadan. Isinya itu mulai dari sahur sampai berbuka puasa. Mulai dari salat fardu, salat sunah, sahur, berbuka, catatan ceramah ustaz hingga apakah hari ini puasa atau tidak harus dicacat pada buku itu. 

Buku ini tentunya mengajarkan kita betapa pentingnya kejujuran dan keberanian. Selain itu, buku ini juga melatih kita tentang kesungguhan dan kesabaran.

2. Obor minyak tanah

Selain lilin, alat penerangan lain yang sering digunakan pada masa lalu adalah obor minyak tanah. Biasanya obor tersebut terbuat dari bambu dan kaos bekas. 

Selain digunakan untuk menerangi saat perjalanan menuju masjid, obor ini juga turut digunakan untuk menerangi bagian luar masjid dikarenakan kala itu lampu petromax hanya cukup untuk menerangi bagian dalam masjid saja.



Baca : Nostalgia Enam Tradisi Unik Sambut Lebaran Generasi 90-an


3. Boardgame jadul

Apabila sekarang kita mengenal begitu banyak jenis board game. Dulu, jenis boardgame hanya itu-itu saja dan rata-rata dimainkannya hanya di bulan Ramadan atau Lebaran. 

Halma, Ular Tangga dan Ludo pun biasanya menjadi pilihan untuk menunggu waktu berbuka puasa. Tentunya hal itu juga dilakukan setelah menyelesaikan target tilawah pada saat itu.

4. Kembang Api

Pada masanya, kembang Api merupakan barang mewah terutama di desa. Biasanya kembang api itu baru dijual di  bulan Ramadan saja. 

Di banyak keluarga, kembang api menjadi hadiah di akhir pekan, jika puasa yang dilakukan selama pekan itu penuh. Bermain kembang api juga menjadi salah satu hiburan saat pulang tarawih atau di waktu sahur.

5. Bedil

Sistem kerjanya sama seperti meriam dan dibuat dari bambu. Salah satu ujungnya juga dibuat bolongan untuk memasukkan minyak tanah dan garam. 

Jika lubang tersebut disulut dengan api, maka akan terdengar bunyi dentuman seperti meriam. Pada umumnya, permainan ini dimainkan saat Ramadan oleh anak laki-laki setelah pulang tarawih dan tadarus di masjid.*


Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini


Nostalgia Enam Tradisi Unik Sambut Lebaran Generasi 90-an

Koropak.co.id, 27 April 2022 19:27:31

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Generasi 90-an bisa dikatakan merupakan istilah khusus untuk generasi yang lahir atau mengalami masa kecil di tahun 1990 hingga 1999. Generasi 90-an juga menjadi istilah yang cukup populer dan eksis di masa kini. 

Pasalnya, dikatakan bahwa masa-masa di tahun 90-an itu merupakan masa-masa yang tidak akan terlupakan. Karena, di masa itu belum bermunculan gawai (gadget) kekinian, kaya akan permainan tradisional, banyak tayangan televisi yang menghibur serta berkualitas bagi anak-anak, dan lain sebagainya.

Selain itu, banyak momen-momen berharga sekaligus juga menyenangkan yang tidak bisa terlupakan dari tahun 90-an. Bahkan sampai saat ini, momen-momen tersebut rasanya masih terkenang oleh para generasi 90-an, hingga tidak jarang pula momen tersebut membuat generasi 90-an ingin kembali ke masa kecil.

Nah, salah satu momen berharga dan menyenangkan dari masa 90-an adalah tradisi merayakan Idul Fitri atau lebarannya yang khas. Apa saja tradisinya?

1. Saling Kirim Kartu Ucapan Lebaran

Berburu kartu Lebaran dengan motif unik dan lucu merupakan hal yang 'wajib' dilakukan oleh anak-anak di masa 90-an. Ada yang memang sengaja menabung untuk membeli kartu lebaran, namun ada juga yang dengan kreatif membuat serta menggambar sendiri kartu lebarannya. 

Biasanya, kartu-kartu Lebaran ini akan diberikan kepada teman dekat yang sebaya, sepupu, hingga anggota keluarga termasuk ayah dan ibu. Tak hanya memberi, biasanya anak-anak di tahun 90-an juga saling bertukar kartu lebaran satu sama lain. 

Kartu dengan motif terunik biasanya juga menjadi yang paling diincar untuk dipertukarkan. Pada umumnya, kartu Lebaran ini cukup sederhana dan hanya berisikan ucapan selamat Lebaran. Namun, bukan isinya yang terpenting, melainkan memori dan suasananya.

2. Lomba Bedug

Selain pada saat waktu salat, bedug juga menjadi benda sakral yang wajib dibunyikan pada waktu malam takbiran dan hari raya Lebaran. Di masa 90-an, lomba bedug untuk menyambut hari raya Lebaran pun diketahui kerap kali diselenggarakan di setiap kabupaten. 

Suasana perlombaan bedug juga kala itu cenderung sangat meriah, baik dari bunyi bedug itu sendiri sampai dengan dukungan dari supporter atau pendukung masing-masing tim bedug.



Baca : Lima Tradisi Unik Indonesia Sambut Hari Raya Idul Fitri


3. Takbir Keliling dan Pawai Obor

Masih ingat dengan takbir keliling dan pawai obor? Kedua tradisi ini biasanya dilaksanakan pada saat malam takbiran. Bagi anak-anak generasi 90-an terutama mereka yang tinggal di wilayah pedesaan, ikut meramaikan takbiran keliling dan pawai obor merupakan hal yang sangat menyenangkan. 

Biasanya, takbiran keliling dan pawai obor itu dimulai sekitar pukul 8 malam hingga tengah malam. Ada yang berkeliling dengan berjalan kaki beramai-ramai. namun ada juga yang sampai menyewa mobil bak terbuka.

Tradisi open house juga merupakan tradisi yang paling dinanti-nanti oleh anak-anak generasi 90-an. Pasalnya, akan banyak rumah-rumah tetangga yang 'terbuka lebar' saat Lebaran dan siapa pun bebas datang dan bersilaturahmi. 

Tak hanya itu saja, pemilik rumah juga akan menyuguhkan berbagai hidangan seperti ketupat, opor ayam, dan aneka kue-kue kering secara grati. Sehingga, tak jarang juga anak-anak akan mendapatkan angpau dari sang pemilik rumah.

5. Banyak-banyakan THR

Lebaran juga seolah menjadi berkah tersendiri bagi anak-anak generasi 90-an. Selain tersedia banyak makanan, berbagai perayaan, tak lupa juga THR. Ya, biasanya pada saat lebaran, anak-anak akan diberi angpau oleh sanak saudara, kerabat, orangtua, hingga tetangga. 

Seolah menjadi kompetisi tersendiri, setelah puas berkeliling dan 'berburu' THR sambil bersilaturahmi, uang THR yang didapat itu akan dihitung jumlahnya untuk kemudian dibandingkan satu sama lain. 

6. Nonton Home Alone dan Baby’s Day Out

Lebaran tanpa plesiran juga bukan merupakan masalah bagi anak-anak generasi 90-an. Mengapa? Karena pada saat Lebaran, stasiun televisi akan berlomba-lomba dalam menayangkan acara-acara spesial Lebaran seperti film kartun. Nah, ada dua film hits yang tak pernah ketinggalan ditayangkan oleh stasiun televisi saat Lebaran tiba, yaitu Home Alone dan Baby’s Day Out. 

Kalian tentumua masih ingat kan dengan kelucuan dan kejahilan Kevin McCallister dalam menjaga rumah sekaligus melindungi diri dari kejaran perampok? Atau Baby Bink yang lincah dan cerdik dalam melarikan diri dari para penculiknya?*


Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini


Mengenal Fungsi dan Gerakan Tari Gubang Melayu Asahan

Koropak.co.id, 27 April 2022 12:09:32

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Tari Gubang merupakan tarian tradisional khas masyarakat Melayu Asahan. Tari Gubang ini  mempunyai ragam fungsi dalam pelaksanaannya. Selain itu, fungsi dari tarian Gubang juga disesuaikan dengan kebutuhannya. 

Sebab dalam pelaksanaannya, tarian gubang ini memiliki beberapa jenis tarian dan sesuai dengan namanya yaitu berasal dari kata gebeng yang berarti perahu.

Dilansir dari warisanbudaya.kemdikbud.go.id, dahulu, tari gubang berfungsi sebagai sarana pemanggil angin (unsur magis), yaitu sejenis ritual untuk memanggil angin untuk aktivitas para nelayan. 

Selain berfungsi magis, tarian Gubang ini juga dijadikan sebagai hiburan saat melepas penat bagi masyarakat pesisir setelah seharian mengarungi laut lepas dengan berbagai tantangannya. 

Seiring dengan perkembangan zaman, fungsi dari tarian Gubang pun semakin berkembang. Ketika tarian ini mulai dipentaskan, maka fungsi utamanya adalah sebagai hiburan bagi masyarakat nelayan. 

Selain itu, tarian ini juga berfungsi sebagai tarian penyambutan tamu dalam upacara adat masyarakat seperti perayaan, pesta perkawinan, penyambutan tamu kehormatan dan juga proses pengobatan.

Gerakan tari Gubang  

Dikutip dari buku Tari Gubang Asahan (2016) karya Fariani, untuk gerakan tari Gubang ini terbagi menjadi beberapa gerakan;

1. Gerakan masuk 

Tarian diawali dengan penari wanita yang melakukan gerakan tari menggambarkan datangnya angin dan burung sambil menari berputar-putar. Sedangkan untuk penari pria yang masuk, menggambarkan aktivitas nelayan yang melempar jala dan mendayung perahu.  

2. Gerakan sembah 

Gerakan ini menggambarkan penghormatan kepada para tamu atau penonton yang dilakukan oleh penari perempuan dan pria secara bersamaan. Gerakan itu diawali dengan gerakan kepala penari yang menunduk sebagai tanda hormat, kemudian kembali tegak lurus sembari kedua tangan saling bertemu di dada sebagai ucapan salam.  

3. Gerakan maju dan mundur  

Setelah melakukan gerakan menghormati tamu, penari wanita dan pria juga selanjutnya memutar ke kanan dan ke kiri dengan lenggok penari yang riang dan lincah. 



Baca : Tari Golek Montro, Tarian Sakral Penyambut Tamu Kerajaan


4. Gerakan tayang tambar  

Gerakan ini sendiri menggambarkan seseorang yang membawa jambar atau talam yang berisi hidangan untuk disuguhkan kepada tamu undangan.  

5. Gerakan melayah  

Gerakan yang menggambarkan membagi-bagikan jambar kepada tamu undangan. Dalam gerakan ini, penari akan berputar mengelilingi penari lainnya.  

6. Gerakan san tabik  

Gerakan ini mempersilakan tamu undangan untuk menyantap hidangan yang sudah disediakan.  

7. Gerakan merajut jala dan mencabut pedang  

Dalam gerakan ini, penari perempuan akan melakukan gerakan merajut jala untuk menggambarkan keuletan dan kelembutan perempuan. Sedangkan mencabut pedang yang dilakukan oleh penari laki-laki menggambarkan kegagahan pria dalam kehidupan.  

8. Gerakan angka delapan  

Gerakan ini menggambarkan hilir mudik dan kesibukan dalam melayani tamu undangan mulai dari menyajikan makanan hingga tamu selesai menyantap. Penari juga biasanya melakukan gerakan berputar dengan sesama penari, untuk menggambarkan sedang melayani tamu undangan.

9. Gerakan maju dan mundur kedua  

Gerakan ini menggambarkan bahwa penari memeriksa kembali para tamu apakah semua sudah menyantap hidangan yang telah disajikan atau belum.  

10. Sembah  

Gerakan penutup yang dilakukan penari ini biasanya dengan memberikan salah penghormatan kepada para tamu undangan dan ucapan terima kasih. Kemudian semua penari pun meninggalkan tempat.*


Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini