Sejarah Singkat Pembangunan Rumah Residen Hindia Belanda Warisan VOC

Koropak.co.id, 30 November 2021 13:54:30
Penulis : Eris Kuswara
Sejarah Singkat Pembangunan Rumah Residen Hindia Belanda Warisan VOC

 

Koropak.co.id - Pada tahun 1824 di Jalan Keresidenan (Residentielaan) atau yang kini menjadi Jalan Ahmad Yani Yogyakarta, dibangun rumah residen dengan ruang utamanya yang terbilang cukup mewah dan terletak di belakang beranda depan.

Di ujung ruangan di bawah tirai beledu, terdapat sebuah tahta yang digunakan untuk tempat duduk bagi Gubernur Jenderal. Namun saat ruangan digunakan oleh residen untuk acara resmi dan menerima tamu, tahta itu dibiarkan kosong.

Sementara itu, pada dinding di sekeliling ruangan dipasang lukiasan Ratu Belanda dan keluarganya beserta cermin besar. Kini, eks ruang tahta tersebut kini dikenal dengan Ruang Garuda dengan fungsi yang sama yakni sebagai ruangan resmi untuk menyambut tamu.

Demikian deskripsi yang dihimpun Koropak dari Buku Kota Di Djawa Tempoe Doeloe karya Olivier Johannes Raap. Disebutkan dalam buku itu tentang perkembangan sejarah pembangunan rumah residen dan istana gubernur jenderal.

"Magelang merupakan ibu kota keresidenan Kedu sekaligus menjadi ibu kota kabupaten Magelang sejak tahun 1811 atau tepatnya saat Hindia Belanda menaklukan wilayah Kedu dari Kesultanan Yogyakarta," tulis Oliver.

Setelah itu, jelasnya, dibangunlah rumah dinas bupati yang berada di posisi barat laut alun-alun yang kini menjadi Balai Diklat Kepemimpinan.

Dijelaskan Oliver, sekitar 500 meter ke arah barat dari alun-alun tersebut dibangun rumah residen yang kini menjadi Museum Diponegoro.

Rumah residen yang dibangun di sisi barat tersebut bisa dikatakan luas. Dengan penempatan kursi-kursi rotan di beranda luas, pemandangan indah atas lembah Kali Bening dan Gunung Sumbing dapat terlihat ditempat itu.

"Pada tahun 1900-an, rumah residen mengalami renovasi dengan pilar betonnya diganti dengan pilar besi karena dianggap tampak lebih cantik dan juga modern."

Sedangkan di Bogor, pada abad ke-17 VOC memiliki pangkalan tetap di Batavia dan mulai membuka hutan liar disekitarnya untuk perluasan wilayah.

 

 


Baca : Yang Menarik daru Sejarah Rumah Dinas Mewah Para Penguasa Daerah

Selain merancang perumahan, pertanian, industri dan pasar, para investor kala itu turut membangun sebuah kediaman atau rumah peristirahatan bernama Buitenzorg pada tahun 1744 ditengah hutan liar di kaki Gunung Salak oleh Gubernur Jenderal VOC, Gustaaf Willem Baron ban Imhoff.

"Pada tahun 1809, Istana Gubernur Jenderal yang dibangun diperluas oleh Gubernur Jenderal Herman Daendels. Bahkan pada tahun 1818, istana itu juga direnovasi Gubernur Jenderal van der Capellen."

Sayangnya, istana gubernur jenderal tersebut harus hancur akibat gempa bumi pada tahun 1834. Akan tetapi pada 1850, sisa-sisanya direnovasi dengan gaya arsitektur neoklasik memakai barisan tiang tebak dan fronton segitiga.

Kini, istana yang berada di tengah Kota Bogor itu telah berganti nama menjadi Istana Bogor dan menjadi salah satu dari enam istana presiden Indonesia.

Sama halnya dengan Istana Bogor, rumah residen warisan VOC yang kini disebut Gedung Grahadi di Surabaya itu sejarahnya dibangun oleh tokoh VOC pada tahun 1796.

Pada periode 1809 hingga 1929, rumah tersebut digunakan sebagai rumah dinas residen Surabaya yang kemudian menjadi rumah dinas Gubernur Jawa Timur hingga saat ini.

Gaya arsitektur yang dipakai untuk bangunan tersebut meniru kediaman luar kota seperti di Belanda pada abad ke-18. Bangunan itu juga beberapa kali mengalami renovasi, salah satunya pada tahun 1809.

Selain itu, rumah residen yang menjadi warisan VOC diangun di Rembang sekitar tahun 1747. Bangunan tersebut didirikan didalam benteng VOC yang didirikan di tepi pantai.

Pada abad ke-19, tembok tersebut dibongkar dan halamannya pun dijadikan taman indah di sekeliling rumah residen. Rumah residen itu pada awalnya menyerupai rumah mewah Eropa dengan bentuk yang lebar dan simetris berlantai dua.

"Seiring berjalannya waktu, kini rumah residen itu sudah dibongkar dan diganti dengan Gedung DPRD," jelas Oliver.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 

 

Komentar

Muasal Makanan Perkedel, Suku Frikadel Dibawa Belanda

Koropak.co.id, 30 January 2023 12:14:07

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Namanya Perkedel. Satu dari sekian banyaknya makanan yang sangat populer di Indonesia. Bahkan di berbagai daerah Indonesia, kita bisa dengan mudah menemukan makanan yang satu ini tersaji di atas meja makan keluarga. 

Bukan hanya itu saja, di warung makan, entah itu warung nasi Tegal atau pun warung nasi Padang, sajian perkedel seolah tak pernah absen sebagai salah satu menu makanan yang dihidangkan.

Biasanya, perkedel kerap dijadikan sebagai lauk pendamping di antara lauk-pauk yang sudah menjadi santapan utama. Tak jarang juga, perkedel hadir untuk melengkapi makanan-makanan lokal lainnya seperti soto.

Namun pernahkah kalian berpikir tentang asal usul dari perkedel yang hingga pada akhirnya bisa tercipta dan menjadi salah satu makanan khas Indonesia?

Berdasarkan sejarahnya, asal usul perkedel berawal dari kedatangan Belanda yang memang turut mempengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk dari segi budaya. Dalam hal ini, kuliner menjadi peninggalan Bangsa Kompeni yang masih bisa kita lihat sampai dengan sekarang.

Dari pengenalan makanan tersebut, sehingga bisa diketahui masyarakat Indonesia dan pada akhirnya diadaptasi dengan sentuhan lokal di berbagai daerah. Tentunya hal tersebut secara tidak langsung semakin menambah kekayaan kuliner di Indonesia. Termasuk salah satunya tentang perkedel.

Sebenarnya makanan yang satu ini terinspirasi dari salah satu kudapan yang kerap dikonsumsi orang-orang Belanda, yaitu frikadel. Selain itu, makanan ini juga kerap disebut dengan frikadelle, frikadellen, atau frikadeller, tergantung dari bahasanya.

Frikadel sendiri terbuat dari daging sapi atau daging babi cincang yang kemudian dicampurkan dengan berbagai bahan seperti bawang, parsley, telur, dan berbagai bumbu khas lainnya. Setelah itu dibentuk menjadi bulat pipih, lalu dimasak. Meskipun begitu, sebenarnya frikadel juga tidak hanya bisa ditemui di Belanda saja.



Baca: Serupa Tapi Tak Sama, Ini Perbedaan Gado-Gado, Karedok dan Pecel


Pasalnya makanan tersebut juga bisa ditemukan di berbagai daerah di kawasan kawasan Eropa seperti Jerman, negara-negara Skandinavia, hingga Polandia. Bahkan, sebenarnya ada kemungkinan yang mengatakan bahwa makanan ini berasal dari Denmark atau Jerman.

Ketika Frikadel sudah mulai banyak dikonsumsi orang-orang Belanda, hal itu pun cukup menarik perhatian masyarakat lokal. Namun sayangnya dikarenakan makanan itu terbuat dari daging yang tergolong sulit dan mahal untuk masyarakat pribumi mendapatkannya, maka terlintaslah sebuah ide untuk membuat alternatifnya.

Caranya, masyarakat pribumi pun menggunakan bahan-bahan hasil bumi lokal yang cenderung mudah untuk didapatkan, yaitu kentang. Meskipun menggunakan bahan berbeda, akan tetapi cara pembuatannya mirip dengan bagaimana orang-orang Belanda membuat frikadel.

Hanya saja, yang membedakannya terletak pada bahan utama daging yang benar-benar diganti oleh masyarakat pribumi dengan kentang yang telah dicampurkan telur dan berbagai bumbu lainnya. Kemudian dengan dicelupkan ke telur terlebih dahulu, bahan ini pun selanjutnya digoreng hingga menjadi perkedel khas Indonesia.

Fadly Rahman dalam buku "Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia masa Kolonial 1870-1942" menyebutkan, nama "frikadel" ini sedikit sulit untuk diucapkan oleh orang-orang pribumi. Sehingga lama kelamaan makanan itu pun disebut dengan adaptasi ucapan lokal menjadi "perkedel". 

Di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah, penyebutan makanan ini pun berubah menjadi "bergedel". Seiring berkembangnya zaman, makanan ini pun terus diwariskan secara turun temurun. Bahkan saat ini, berbagai variasi perkedel pun bisa ditemui di setiap daerah.

Seperti ada yang menggunakan campuran ikan atau daging tertentu, menggunakan singkong sebagai pengganti kentang, mencampurkannya dengan tahu, atau menggunakan bumbu khasnya sendiri. Variasi yang dilakukan itu tentunya turut memperkaya kekayaan kuliner khas Indonesia.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Selalu Hadir di Perayaan Imlek, Filosofi Kue Mangkok yang Penuh Arti

Koropak.co.id, 29 January 2023 07:15:18

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Di tilik dari perjalanan sejarahnya, tentunya orang-orang keturunan Tionghoa sudah lama menjadi bagian dari masyarakat Indonesia. Bahkan mereka juga turut melakukan pertukaran budaya dengan masyarakat lokal serta menjalankan tradisi khasnya di Indonesia.

Seperti, perayaan Imlek yang masih terus dijalankan dari masa ke masa. Selanjutnya, pengaruh lain yang bisa di temukan adalah dari segi kuliner. Yang mana, makanan orang-orang Tionghoa itu juga turut diperkenalkan dan membuatnya mulai dikenal masyarakat lokal hingga menjadi kuliner yang semakin umum ditemui di Indonesia.

Tak ayal, beberapa kuliner pun menjadi bagian dari perayaan Imlek. Sebut saja kue Mangkok. Kue ini memiliki filosofi dari segi penggunaannya, yakni sebagai salah satu kuliner yang tak pernah absen saat Hari Raya Imlek tiba.

Mungkin, kue Mangkok ini kerap ditemui sebagai salah satu jajanan pasar. Namun, tahukah Anda bahwa sebelumnya makanan ini sebenarnya berasal dari Tiongkok?

Berdasarkan sejarahnya, kue mangkok awalnya diperkenalkan oleh masyarakat Tionghoa yang berasal dari daerah Fujian atau yang biasa dikenal sebagai orang Hokkien. 

Di daerah asalnya, tentunya makanan yang satu ini sudah sangat populer. Bahkan, kue Mangkok ini juga telah menjadi bagian dari pelaksanaan berbagai tradisi yang dilakukan orang-orang Tionghoa, salah satunya Imlek. 

Jika di Indonesia dikenal dengan kue mangkok, berbeda dengan orang Tionghoa yang menyebutnya dengan nama Fa Gao. Jika dilihat secara sekilas, mungkin bentuk dari kue ini tampak seperti cupcake. Hanya saja, warna dari kue mangkok ini terlihat lebih mencolok seperti warna merah, hijau, putih, ungu, dan lain sebagainya.



Baca: Sejarah Warna Merah di Hari Raya Imlek


Selain itu, secara tekstur juga kue ini bertekstur cukup lembut ketika digigit. Berbeda dengan daerah asalnya, di Indonesia, pembuatan kue ini telah diadaptasi dengan bahan lokal. Di Indonesia, kue Mangkok dibuat dengan tape singkong sebagai bahan campurannya, sehingga membuat rasanya memiliki ciri khas tersendiri.

Di sisi lain, pemilihan warna kue yang mencolok itu juga bukanlah tanpa alasan. Sebab, orang-orang Tionghoa memiliki filosofinya tersendiri terkait warna cerah yang kerap digunakan pada kue tersebut, yaitu sebagai simbol dari kebahagiaan.

Terlebih lagi pemilihan warna merah yang telah menjadi salah satu warna andalan dan menjadi ciri khas orang-orang Tionghoa. Warna ini jugalah yang menjadi prioritas untuk digunakan sebagai bahan pewarnaan kue mangkok ketika melakukan tradisi.

Di bagian atas kue Mangkok, biasanya terdapat bentuk yang mekar layaknya kelopak bunga. Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, apabila jumlah bagian yang melar tersebut semakin banyak, maka kemakmuran seseorang juga akan semakin bertambah setelah hari Imlek. Selain itu, bentuk layaknya kelopak bunga ini juga melambangkan nasib baik dan kebahagiaan.

Sementara itu, ketika melakukan tradisi atau saat sembahyang, apabila membawa kue Mangkok ini sebagai sebuah persembahan, maka jumlahnya pun harus ganjil, seperti membawa 3 kue, 5 kue, 7 kue, 9 kue, dan seterusnya dalam satu keranjang. Sebab, angka yang ganjil itu sendiri juga mempunyai maknanya tersendiri.

Misalnya jika jumlahnya 3, hal tersebut melambangkan akhirat, dunia, dan neraka. Lalu ada juga makna lain dari angka yang berbeda. Intinya, semakin banyak jumlah kue yang diberikan, maka kemakmuran seseorang itu juga diharapkan akan semakin bertambah.

Selain itu juga ada pula kue Mangkok yang diberikan hanya 1 buah, namun memiliki bentuk yang lebih besar dimana hal ini melambangkan Tuhan yang Maha Esa.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Perjalanan Lapis Legit; Dari Orang Belanda, Kini Jadi Sajian Imlek Masyarakat Tionghoa

Koropak.co.id, 28 January 2023 12:06:43

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Perayaan Imlek selalu identik dengan berbagai hidangan yang penuh makna dan filosofi. Diketahui, salah satu makanan yang biasanya wajib tersaji di meja makan saat perayaan Imlek adalah kue lapis legit.

Bukan hanya dikarenakan cita rasanya yang manis dan enak, namun bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia, kudapan yang satu ini dipercaya mampu mendatangkan rezeki yang berlimpah. Bahkan semakin banyak lapisan pada kue lapis legit, maka semakin banyak pula rezeki yang akan diperoleh.

Masyarakat Tionghoa juga meyakini bahwa kue lapis legit sebagai simbol kemakmuran. Banyaknya lapisan kue lapis legit, melambangkan rezeki yang tidak ada habisnya. Selain itu, pembuatan lapis legit yang tergolong sulit juga menggambarkan perjuangan dalam mewujudkan impian. 

Meskipun harus bersusah payah dan menghabiskan waktu yang lama, namun nantinya akan memperoleh hasil yang memuaskan. Dari segi rasa, lapis legit memang tergolong sebagai kudapan yang sangat enak dan dunia juga telah mengakuinya. Hal itu dibuktikan dengan pernah masuknya lapis legit dalam 14 kue nasional terlezat di dunia versi Media internasional CNN Travel.

Sejak dulu sampai dengan sekarang, kudapan yang satu ini memang tak pernah absen menemani perayaan Imlek di Indonesia. Sebab, kue ini juga dianggap sebagai warisan nenek moyang. Akan tetapi pada kenyataannya lapis legit justru bukan berasal dari Indonesia, melainkan dari Belanda.

Sejarah mencatatkan bahwa sebenarnya lapis legit terinspirasi dari kue lapis hasil ciptaan orang Belanda yang dinamakan Spekkoek selama tinggal di Hindia Belanda pada masa penjajahan. Diketahui, kata Spek berarti minyak atau lemak babi yang tampak berlapis-lapis, sedangkan koek berarti bolu.

Kue tersebut biasanya dimasak untuk menggantikan speculaas yang tidak ada di Indonesia. Padahal kue ini termasuk menu wajib dalam perayaan Natal, Tahun Baru, atau pesta Sinterklaas di Belanda. Meskipun dua kue ini berbeda, namun dari segi bentuk, spekkoek sangat mirip dengan lapis legit ala Indonesia. 



Baca: Gutel, Kudapan Legendaris Aceh yang Jadi Bekal Para Pejuang Kemerdekaan


Kue itu juga bahkan terdiri dari minimal 10 lapisan. Bedanya spekkoek terbuat dari dua adonan yakni rasa vanila berwarna putih dan bumbu kue jahe (gingerbeead), sehingga menciptakan rasa manis bercampur pedas. Lapisan yang berbeda itu kemudian ditumpuk satu per satu hingga menghasilkan perpaduan warna yang cantik.

Seiring berjalannya waktu, Orang-orang peranakan Tionghoa pun mengganti resep kue spekkoek Belanda yang awalnya berbahan lemak babi dengan berbagai rempah khas Indonesia, seperti kapulaga, bunga pala, cengkeh, adas manis, dan kayu manis. 

Lalu, mereka juga menambahkan kuning telur, tepung terigu, gula, dan mentega dengan jumlah yang cukup banyak. Sementara untuk proses pembuatannya sendiri kurang lebih sama. Untuk satu adonan lapis legit, biasanya dibutuhkan 30 s.d 40 butir telur. 

Setelah bahan-bahan tercampur rata, adonan pun dituangkan ke cetakan lalu dipanggang selapis demi selapis secara terpisah. Pemanggangan setiap satu lapis ini mungkin bisa menghabiskan waktu 8 s.d 10 menit. Teknik melelahkan inilah yang pada akhirnya melahirkan nama lapis legit.

Pembuatan kue lapis legit juga terbilang sulit dikarenakan membutuhkan ketelatenan dan kesabaran untuk melapisi adonan dengan baik hingga 18 s.d 23 kali selama 4 s.d 6 jam. Kesulitan dalam pembuatan ini jugalah yang membuat lapis legit dihargai antara ratusan ribu sampai dengan jutaan rupiah untuk satu loyang berukuran 20x20 sentimeter.

Kini lapis legit sudah banyak mengalami perubahan dan modifikasi. Mulai dari segi rasa, motif lapisan, hingga bahan yang disesuaikan dengan tren dan perkembangan zaman. Sehingga membuat lapis legit pun bisa menarik lebih banyak kalangan. Biasanya beberapa perisa yang dimasukkan untuk memperkaya rasa, seperti cokelat, pandan, dan kismis.

Di samping itu, jika biasanya lapis legit bentuknya rata, namun kini ada lapis legit gulung. Beberapa varian lapis legit yang terkenal diantaranya lapis legit spekuk, lapis legit prunes, dan lapis legit bilik. 


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Jaya Suprana dan Sejarah Awal Berdirinya MURI

Koropak.co.id, 27 January 2023 12:12:42

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Tanggal 27 Januari 1990, menjadi momen bersejarah bagi Museum Rekor Indonesia atau Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Pasalnya, tanggal tersebut menjadi momen dimana MURI secara resmi berdiri di Kawasan Perindustrian Jamu Jago, Srondol, Semarang Selatan.

Adalah Jaya Suprana, yang mendirikan MURI tepat di ulang tahunnya yang ke-41 tahun pada 27 Januari 1990. Tak berdiri sendiri, pendirian MURI ini disokong oleh Perusahaan Jamu Jago sebagai ekspresi semangat pengabdian terhadap kebudayaan perusahaan jamu tertua di Indonesia itu.

Diketahui, Jaya Suprana merupakan tokoh Indonesia yang dikenal multitalenta atau ahli dalam banyak bidang. Sehingga ia pun bisa disebut sebagai seorang pianis, kartunis, budayawan, pemerhati sosial, hingga pengusaha. Bahkan ketika menyebut namanya saja, terkadang akan membuat kita teringat dengan MURI.

Saat itu, peresmian tersebut disahkan oleh dua Menteri Koordinator Republik Indonesia, yaitu Menko Kesra Supardo Rustam dan Menko Polkam Sudomo. Selain itu, turut hadir pula Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) kala itu, Ibnu Sutowo, dan Gubernur Jawa Tengah, Ismail.

Seiring berjalannya waktu, masyarakat memberikan respons baik terhadap museum ini. Bahkan rekor-rekor yang diciptakannya juga tidak hanya terbatas di Indonesia saja, melainkan juga sampai ke tingkat dunia. Maka dari itulah namanya pun berubah.



Baca: Sejarah Terbentuknya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)


Setelah ada peresmian galeri MURI di kawasan wisata Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah pada April 2005 lalu, diselipkan kata "Dunia" pada MURI. Sehingga dari nama awalnya Museum Rekor Indonesia, menjadi Museum Rekok-Dunia Indonesia. 

Tercatat hampir satu dekade kemudian atau tepatnya pada 2014, MURI secara resmi membuka Galeri di Mall of Indonesia, Jakarta, yang secara khusus menampilkan koleksi rekor-rekor dunia.

Dilansir dari laman resmi MURI, pada awal dekade 2000, istri Jaya Suprana, Aylawati Sarwono mulai berperan sebagai Direktur MURI yang gigih dalam mengembangkan manajemen MURI agar menjadi lebih profesional melalui lembaga Institut Prestasi Nusantara. 

Selain itu, kumpulan rekor MURI juga telah dibukukan dengan judul Rekor-Rekor MURI yang disunting oleh Aylawati Sarwono dan diberi kata sambutan oleh Presiden RI. 

Selain menjadi lembaga pencatat rekor, MURI juga berfungsi sebagai lembaga swadaya masyarakat. Kemudian setiap tahunnya juga, MURI aktif dalam menghimpun data dan capaian prestasi yang diterima anak bangsa.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Mengenang 42 Tahun Tenggelamnya KMP Tampomas II di Perairan Masalembo

Koropak.co.id, 27 January 2023 07:01:27

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Hari ini, 48 tahun lalu atau tepatnya tanggal 27 Januari 1981 silam, Kapal Motor Penyebrangan (KMP) Tampomas II terbakar dan tenggelam di Perairan Masalembo, Laut Jawa. 

Kala itu, kapal yang dikelola PT Pelni ini tengah berlayar dari Jakarta menuju Ujungpandang (sekarang Makassar) sejak 24 Januari 1981. Terhitung sejak 1980-an, KMP Tampomas yang sebelumnya digunakan untuk melayani perjalanan haji itu menjadi salah satu kapal laut yang melayani penumpang antarpulau. 

Lalu, bagaimana kronologi kejadian tenggelamnya KMP Tampomas II di Perairan Masalembo ini?

Diceritakan bahwa tanda-tanda musibah itu sebenarnya sudah terlihat dari rusaknya salah satu mesin kapal sebelum bertolak dari Dermaga Tanjung Priok. Kapal yang dijadwalkan sudah sampai di Makassar sekitar pukul 10.00 WIB pagi pada 26 Januari 1981 itu pun pada akhirnya tidak pernah sampai tujuan, dan karam untuk selama-lamanya. 

Kapal yang saat itu sudah berusia 25 tahun tersebut dinakhodai Kapten Abdul Rivai dengan estimasi seluruh penumpang saat itu, termasuk awak kapal dan sekitar 300 "penumpang gelap" sebanyak 1.442 orang. Tak hanya itu, KMP Tampomas II juga mengangkut 191 mobil dan sekitar 200 sepeda motor serta mesin giling.

Api pertama kali muncul sejak 25 Januari 1981 malam dan mulai menjalar hingga ke bagian dek bawah kapal dengan cepat. Selain itu, hujan deras yang mengguyur Laut Jawa pada keesokan harinya membuat proses evakuasi berjalan lambat. Kebakaran itu berawal dari beberapa bagian mesin yang mengalami kebocoran bahan bakar.

Kebocoran tersebut disebabkan oleh badai besar yang melanda perairan. Akibatnya, kapal pun miring hingga 45 derajat. Kemudian setelah itu muncul asap disertai api yang mulai membesar. Kejadian itu pun membuat penumpang mengalami kepanikan hingga beberapa penumpang memutuskan terjun ke laut.

Kapal Pelni atau kapal lain yang ada di sekitar kapal Tampomas II saat itu juga diperintahkan untuk mendekat dan memberikan pertolongan. Beberapa kapal yang diperintahkan mendekat saat itu di antaranya Wayabula, Ilmanul, Brantas, dua kapal penyapu ranjau Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI-AL), dan sebuah kapal navigasi Perhubungan Laut. 

Pada 27 Januari 1981, sekitar pukul 12.42 WIB, KMP Tampomas II akhirnya tenggelam, meskipun berbagai usaha penyelamatan telah dilakukan. Kapal berbobot 2.420 ton itu tenggelam di Selat Makassar dekat Pulau Masalembo, atau sekitar 22 mil laut menjelang pelabuhan tujuan Ujungpandang. 



Baca: Tenggelamnya KRI Nanggala 402 Tambah Daftar Panjang Kecelakaan Kapal Selam


Sementara itu hingga 27 Januari 1981 malam hari, setidaknya ada 566 orang penumpang yang berhasil diselamatkan ke atas kapal-kapal yang datang menolong. Upaya penyelamatan tak berjalan maksimal akibat terkendala cuaca buruk. 

Bahkan Pesawat Albatros UF-Skuadron Udara-5 TNI Angkatan Udara (AU) yang bermaksud mendarat di perairan sekitar lokasi kejadian harus mengurungkan rencana pendaratan akibat hujan, angin kencang, dan gelombang besar setinggi 7 s.d 10 meter yang terjadi di lokasi kejadian.

Tak hanya itu saja, di udara juga terhalangi oleh kabut tebal. Sehingga, untuk menemukan lokasi Kapal Tampomas II, pesawat Albatros pun harus terbang rendah sekitar 350 s.d 500 kaki dari permukaan laut. Seiring berjalannya waktu, peristiwa tenggelamnya KMP Tampomas II pun dikenang sebagai tragedi kemanusiaan yang sangat memilukan. 

Peristiwa ini juga tercatat sebagai musibah terbesar dalam sejarah maritim nasional, sekaligus juga menjadi musibah ketiga yang tergolong terbesar di dunia saat itu. 

Pasalnya musibah ini menelan korban jiwa hingga 431 orang meninggal dunia, baik itu penumpang maupun awak kapal. Disebutkan bahwa kecelakaan kapal itu berasal dari percikan api di kabin kendaraan. Percikan api itu pun kemudian membesar hingga menjalar ke seluruh bagian kapal. 

Kebakaran tersebut juga diduga akibat rendahnya disiplin penumpang dan awak kapal tentang keselamatan pelayaran, di antaranya tidak mematuhi larangan merokok di tempat-tempat tertentu, seperti kabin kendaraan selama pelayaran. 

Selain rendahnya disiplin penumpang, tenggelamnya KMP Tampomas II juga diakibatkan oleh awak kapal yang tidak memahami cara dan prosedur penggunaan semua peralatan pertolongan. 

Belakangan diketahui bahwa baju pelampung (life jacket) ternyata tidak dapat digunakan untuk penumpang awam serta radio portabel yang seharusnya ada di dalam sekoci juga tidak berada di tempatnya. Atas keteledoran itu, sejumlah awak kapal pun mendapat sanksi administratif oleh Mahkamah Pelayaran.

Peristiwa kecelakaan KMP Tampomas II juga diabadikan dalam sebuah lagu oleh musisi legendaris, Ebiet G. Ade dengan lagunya yang berjudul "Sebuah Tragedi 1981". Tak hanya Ebiet G. Ade, musisi legendaris lainnya, Iwan Fals juga turut mengabadikannya dalam lagu berjudul "Celoteh Camar Tolol".


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Selalu Ada dalam Upacara Adat Batak, Inilah Kue Nitak

Koropak.co.id, 26 January 2023 15:10:45

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Sumatra Utara - Suku Batak yang menghuni wilayah Provinsi Sumatra Utara terkenal dengan adat-istiadatnya yang masih terjaga dengan baik. Tak ayal, berbagai upacara pun kerap mengiringi aktivitas sehari-hari masyarakat Batak, mulai dari panen padi, memperoleh pekerjaan, keagamaan, pernikahan, kelahiran, hingga kematian.

Menariknya lagi, mayoritas upacara adat Batak ini akan selalu diakhiri dengan makan bersama. Kemudian dalam setiap upacara suku ini, setidaknya ada lima kue tradisional yang wajib dihidangkan. Bahkan saking sudah melekatnya dengan adat istiadat Suku Batak, salah satu kue tersebut juga sudah terdaftar sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dari Sumatra Utara.

Salah satu kue tradisional khas Batak itu adalah Nitak. Bisa dikatakan, kue tradisional yang berasal dari Simalungun ini terbilang sangat spesial. Alasannya dikarenakan kudapan khas Batak itu hanya bisa dijumpai pada acara-acara adat tertentu saja.

Dilansir dari laman warisanbudaya.kemdikbud.go.id, nitak ini terbuat dari bahan dasar beras. Kuliner tradisional yang identik sebagai makanan adat tersebut hanya disajikan dalam acara adat tertentu saja dan biasanya akan disajikan pada kegiatan bersifat ritual seperti perkawinan, kematian, menempati rumah baru, menyekolahkan anak dan lainnya.

Meskipun begitu, bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat Nitak ini tidak tergolong sulit untuk didapatkan. Selain beras, bahan yang harus ada untuk membuat kudapan yang satu ini, diantaranya lada hitam, garam, kencur, gula merah dan jahe.



Baca: Tahu Pong dan Eksistensi Etnis Tionghoa di Semarang


Jangan lupa juga untuk menyediakan dua buah kelapa, dengan rincian satu buah yang sudah di sangrai atau gongseng dan satunya lagi mentah. kendati tergolong sebagai makanan adat, namun cara membuat Nitak ini tidak terlalu sulit. 

Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah menumbuk beras dengan menggunakan alat tumbuk tradisional atau lesung kurang lebih selama setengah jam hingga halus. Setelah itu, masukkan lada hitam, kencur, jahe, kelapa mentah, kelapa yang sudah disangrai dan gula merah. 

Setelah lengket dan menjadi adonan, maka Nitak pun siap untuk dihidangkan. Biasanya nitak ini akan disajikan dengan pisang dan telur bulat yang sudah matang. Nitak memiliki ciri khas yang terletak pada cita rasanya yang manis berpadu dengan rasa lada. 

Dengan keunikan yang dimilikinya itu, membuat kuliner khas Batak ini cocok untuk dijadikan sebagai makanan penutup setelah mencoba makanan yang bercita rasa gurih dan pedas.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Menapaki Sejarah Kerajaan Kutai, Kerajaan Hindu Tertua di Indonesia

Koropak.co.id, 26 January 2023 07:09:37

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Kalimantan Timur - Kerajaan Kutai dikenal sebagai kerajaan Hindu tertua di Indonesia yang berdiri pada abad ke-4 atau sekitar 400 Masehi. Kerajaan Kutai terletak di daerah Muara Kaman yang berada di hulu Sungai Mahakam, Kalimantan Timur dan menguasai seluruh area tersebut.

Kerajaan Kutai dipengaruhi oleh kebudayaan India. Alasannya dikarenakan saat itu banyak pendatang dari India dengan kebudayaan yang dibawanya ke Indonesia, hingga disebarkan ke seluruh negeri.

Kerajaan Kutai juga memiliki catatan sejarah yang cukup panjang. Selain itu, kerajaan ini memiliki hubungan perdagangan yang baik dengan India, meskipun Kerajaan Kutai sendiri tidak terletak di jalur perdagangan Nusantara. Diketahui, dari sinilah awal penyebaran pengaruh Hindu dimulai.

Dilansir dari laman GNFI, diceritakan pada awalnya Kerajaan Kutai merupakan kelompok masyarakat berbentuk suku. Namun sejak kedatangan Hindu, terjadilah perubahan pada sistem pemerintahannya. Tercatat, bukti yang menunjukkan bahwa adanya pengaruh India ke dalam kelompok itu adalah adanya Yupa yang dibuat sekitar abad ke-5.

Selain itu juga diketahui bahwa Raja Pertama Kutai adalah Kudungga yang merupakan warga asli Indonesia yang belum memeluk agama Hindu. Dari penemuan tujuh Yupa atau Prasasti ini, terlihat bahwa Kerajaan Kutai memiliki hubungan perdagangan dengan India. 

Yupa tersebut berbentuk monumen batu dan menggunakan Bahasa Sansekerta dengan huruf Pallawa. Mulai dari Yupa inilah nama Kutai diketahui oleh para ahli mitologi, hingga prasasti ini pun menjadi informasi tentang kerajaan ini berada. Bahkan Yupa ini juga merupakan peninggalan asli dari pengaruh agama Hindu dan Buddha.

Yupa tersebut memiliki 3 fungsi utama, yaitu sebagai prasasti, tiang pengikat hewan untuk upacara korban keagamaan, serta lambang kebesaran raja. Sementara itu, Sansekerta pada Yupa itu adalah bahasa klasik India yang merupakan sebuah bahasa liturgis dalam kepercayaan kepada tuhan Hindu, Buddha dan Jainisme. 

Dari penemuan Yupa inilah, para ahli mitologi menyimpulkan bahwa Kerajaan Kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia. Selain mengetahui letak Kerajaan Kutai, Yupa itu juga turut memberikan informasi mengenai nama-nama raja dan salah satunya adalah Raja Kudungga sebagai pendiri Kerajaan Kutai.

 


Baca: Kisah Kebesaran Kerajaan Majapahit


Nama Kudungga sendiri adalah nama asli dari Indonesia karena dari namanya belum terpengaruh dengan penggunaan bahasa India. Sementara, Raja Mulawarman dan Aswawarman, sudah banyak terpengaruh budaya Hindu dari India. 

Kata Warman pada penamaan Raja Kutai ini berasal dari bahasa Sansekerta, sehingga banyak yang mengatakan bahwa Kerajaan Kutai memiliki corak Hindu dan kental dengan kebudayaan India. Setidaknya ada 20 generasi raja dari Kerajaan Kutai, beberapa diantaranya yaitu Maharaja Kudungga dengan gelar Anumerta Dewawarman sebagai pendiri Kerajaan Kutai.

Kemudian ada Maharaja Aswawarman, anak dari Raja Kudungga, dan Maharaja Mulawarman yang merupakan raja paling terkenal di Kerajaan Kutai. Selanjutnya ada Maharaja Marawijaya Warman, Maharaja Gajayana Warman, Maharaja Tungga Warman, Maharaja Jayanaga Warman, Maharaja Nalasinga Warman, Maharaja Gadingga Warman Dewa hingga Maharaja Dharma Setia.

Kerajaan Kutai sendiri berhasil mencapai puncak kejayaan saat berada di masa pemerintahan Raja Mulawarman yang dikenal sebagai raja yang kuat dengan budi pekertinya yang baik.

Bahkan disebutkan juga sang raja pernah mengadakan acara persembahan 20 ribu ekor lembu untuk kaum Brahmana di Waprakeswara, tempat suci yang merupakan perpaduan budaya India dan Indonesia saat itu. Masa kejayaan Raja Mulawarman tersebut juga tertulis pada prasasti Yupa. 

Diceritakan juga bahwa terdapat dua kerajaan yang ada di Kutai dengan nama yang cukup sama, yaitu Kerajaan Kutai Martadipura dengan masyarakatnya yang menganut agama Hindu, dan Kesultanan Kutai Kartanegara yang masyarakatnya menganut ajaran Islam. 

Awalnya kedua kerajaan itu hidup berdampingan, akan tetapi suatu ketika terjadi perselisihan yang di mana Kerajaan Kutai Martadipura dipimpin oleh Raja Dharma Setia dan Kesultanan Kutai Kartanegara dipimpin oleh Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa.

Akibatnya pada 1635, terjadilah peperangan di antara kedua kerajaan tersebut hingga menewaskan Raja Dharma Setia di tangan Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa. Sehingga semenjak itulah, wilayah kekuasaan Kerajaan Kutai pun berada di bawah kendali Kesultanan Kutai Kartanegara.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Sejarah Lahirnya Hari Gizi Nasional

Koropak.co.id, 25 January 2023 07:00:22

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Tanggal 25 Januari setiap tahunnya di Indonesia diperingati sebagai Hari Gizi Nasional. Peringatan Hari Gizi Nasional juga bertujuan untuk memupuk pentingnya memenuhi nutrisi sehat dan seimbang. Selain itu, Hari Gizi Nasional juga mengemban tugas wajib tahunan Indonesia yakni terbebas dari stunting. 

Sementara tujuan lain diperingatinya Hari Gizi Nasional adalah untuk menciptakan produksi pangan berkelanjutan bagi masyarakat, mulai dari anak-anak hingga ibu hamil. Sehingga mulai dari sanalah, Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) akan tercipta. Bahkan Hari Gizi Nasional juga bisa dijadikan sebagai patokan negara sehat berprestasi.

Tercatat, sampai dengan saat ini Hari Gizi Nasional berfokus terhadap tiga beban utama yakni stunting, kekurangan, dan kelebihan gizi. Berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia 2021 menyatakan bahwa ketiga beban utama tersebut memiliki persentase yang besar meskipun mengalami penurunan setiap tahunnya.

Lantas, bagaimana sejarah awal Hari Gizi Nasional ini diperingati?

Sejarah Hari Gizi Nasional ini bermula dari upaya perbaikan gizi yang dicetuskan pada 1950-an oleh Prof Poorwo Seodarmo, yang secara bersamaan dengan dilantiknya Prof Poorwo Soedarmo menjadi Kepala Lembaga Makanan Rakyat (LMR) oleh Menteri Kesehatan, Dokter J Leimena.


Baca: Sejarah Lahirnya Hari Braille Sedunia

Namun, pada masa itu, penyebutan Lembaga Makanan Rakyat (LMR) masih disebut Instituut Voor Volksvoeding (IVV). Meskipun penyebutan LMR juga masih tidak spesifik, akan tetapi dalam perjalanannya LMR melakukan pengkaderan yang disahkan pada 25 Januari sebagai langkah untuk memenuhi tenaga gizi Indonesia dan Sekolah Juru Penerang Makanan. 

Berawal dari sanalah peringatan tersebut diresmikan sebagai peringatan Hari Gizi Nasional. Berkat program itu jugalah, Prof Poorwo Soedarmo selanjutnya diangkat menjadi Bapak Gizi Indonesia. Kemudian sejak 1970-an jugalah hari penting ini berpindah tangan dari LRM ke Direktorat Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan.

Sementara itu, untuk peringatan Hari Gizi Nasional 2023 sendiri mengambil tema "Protein Hewani Cegah Stunting". Tema yang dipilih tersebut mencakup protein hewani layaknya susu, aneka ikan, telur, dan daging-dagingan yang menjadi pokok utama sebagai langkah penurunan risiko stunting atau kekurangan gizi kronis.

Adapun pengambilan tema itu dipertimbangkan dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) dan Food and Agriculture Organization of United States yang menunjukkan bahwa konsumsi protein hewani di Indonesia masih terbilang rendah di taraf global.

Oleh karena itulah, pada akhirnya tema tersebut ditetapkan Kemenkes sebagai tema untuk peringatan Hari Gizi Nasional 2023. Selain itu, Hari Gizi Nasional turut membuat program dalam panduan gizi sehat seimbang yang diberi nama Isi Piringku.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Spirit Hari Pendidikan Internasional 2023, Revitalisasi Investasi Manusia

Koropak.co.id, 24 January 2023 07:03:38

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Pendidikan menjadi suatu aspek penting yang tak dapat dipisahkan dari pembangunan suatu bangsa. Pasalnya, tanpa pendidikan yang baik, maka generasi penerus tidak akan memiliki kompetensi untuk membangun negara ke arah yang lebih baik. 

Selain itu, permasalahan mengenai pendidikan sering menjadi bahasan penting dalam berbagai forum. Bahkan di tataran internasional, permasalahan seputar dunia pendidikan tersebut hingga saat ini masih terus menjadi perhatian banyak pihak. 

Oleh karena itulah, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memproklamirkan Hari Pendidikan Internasional atau International Day of Education setiap 24 Januari, untuk merayakan peran pendidikan bagi perdamaian dan pembangunan dunia.

Lantas, bagaimana latar belakang sejarah Hari Pendidikan Internasional ini? 

Berdasarkan sejarahnya, titik balik Hari Pendidikan Internasional ini bisa dilacak dari Konvensi Hak Anak yang dicetuskan PBB pada 1989-an. Pasalnya, konvensi tersebut mengatur tentang apa yang harus dilakukan negara agar setiap anak dapat tumbuh dengan sehat, bersekolah, terlindungi, didengar pendapatnya, serta diperlakukan secara adil oleh publik.

Seiring berjalannya waktu, tepatnya pada 2015, agenda mengenai masa depan anak-anak itu pun pada akhirnya dirumuskan dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Dunia pada 2030. Diketahui, pokok dari perumusan tersebut adalah menjadikan pendidikan sebagai bahasan utama yang dibicarakan dalam lanskap global.

Kemudian pada 2018, Majelis Umum PBB akhirnya mengadopsi resolusi yang menyatakan bahwa setiap 24 Januari diperingati sebagai Hari Pendidikan Internasional. Resolusi tersebut dilakukan untuk menandai betapa pentingnya akses pendidikan yang baik dalam perdamaian dan pembangunan masyarakat dunia. 



Baca: Mengungkap Sejarah Hari Layang-Layang


Dalam resolusi itu, 59 negara sepakat untuk ikut serta dalam memperkuat akses pendidikan. Selain itu juga turut digalakkan pendidikan yang transformatif demi kesetaraan dan kualitas yang inklusif bagi semua orang, agar menjadikan dunia yang lebih baik untuk ke depannya. 

Sebab menurut PBB, tanpa adanya pendidikan yang baik dan layak, hal tersebut akan mempengaruhi suatu negara untuk mencapai kesetaraan gender. Tak hanya itu saja, proses pendidikan yang inklusif juga dapat memutus siklus kemiskinan yang menyebabkan jutaan anak, remaja, dan orang dewasa tertinggal.

Berdasarkan data United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), diperkirakan lebih dari 244 juta anak tidak bersekolah, dan 771 juta orang dewasa mengalami kondisi buta huruf. 

Tercetusnya Hari Pendidikan Internasional yang memiliki sejarah yang panjang ini juga pastinya tak terlepas dari sederet tujuan krusial yang perlu digalakkan, diantaranya sebagai sarana evaluasi pendidikan bagi kehidupan manusia, dan sebagai medium identifikasi sekaligus penyelesaian problematika atas pendidikan untuk manusia.

Tujuan lainnya dari Hari Pendidikan Internasional ini adalah memastikan anak-anak bisa mendapatkan pendidikan dasar dan menengah yang layak, merancang masa depan bagi anak-anak dengan pendidikan yang memadai, serta menggerakan pemuda dalam pemajuan pendidikan.

Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Internasional Tahun 2023, UNESCO sebagai penyelenggara peringatannya pun secara resmi telah merilis tema tahunannya. Dilansir dari situs resminya, tema peringatan Hari Pendidikan Internasional 2023 adalah "To Invest in People, Prioritize Education" atau "Berinvestasi pada Manusia, Memprioritaskan Pendidikan".

Tema tersebut dipilih sebagai pengingat akan pendidikan yang harus diprioritaskan, untuk mempercepat kemajuan menuju pembangunan berkelanjutan. Selain itu juga, semua orang di seluruh dunia diharapkan bisa mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan yang berkualitas.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Sejarah Hari Ini; Pemberontakan APRA di Kota Bandung

Koropak.co.id, 23 January 2023 12:07:48

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Barat - Berawal dari hasil keputusan Komisi Meja Bundar (KMB) pada Agustus 1949, Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) dibawah pimpinan Raymond Westerling melakukan pemberontakan atau kudeta militer di kota Bandung, Jawa Barat pada 23 Januari 1950.

Diketahui, APRA merupakan kelompok milisi pro-Belanda yang muncul di era Revolusi Nasional. APRA sendiri dibentuk dan dipimpin oleh Raymond Westerling, mantan kapten tentara Kerajaan Hindia Belanda, Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL).

Saat itu, Westerling berusaha keras untuk mempertahankan bentuk negara federal dan menolak berdirinya Republik Indonesia Serikat (RIS) yang berada di bawah Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta yang terlalu fokus pada wilayah Jawa atau Jawa sentris.

Dalam pemberontakan pada 23 Januari 1950 itu, Westerling beserta pasukannya masuk ke kota Bandung, Jawa Barat dan membunuh semua orang berseragam Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang mereka temui di kota tersebut. Peristiwa bersejarah yang penuh darah nan sadis ini pun lantas dikenang sebagai peristiwa Kudeta Angkatan Perang Ratu Adil (APRA). 

Lantas, bagaimana latar belakang dari pemberontakan APRA yang didorong oleh hasil Komisi Meja Bundar (KMB) ini?

Berdasarkan sejarahnya, Konferensi Meja Bundar (KMB) yang dilaksanakan pada Agustus 1949 menghasilkan dua keputusan, diantaranya, Kerajaan Belanda akan menarik pasukan Koninklijk Leger (KL) dari Indonesia, dan Tentara Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL) akan dibubarkan serta akan dimasukkan ke dalam kesatuan-kesatuan TNI.

Namun, pasukan KL dan KNIL merasa dirugikan atas keputusan KMB itu. Pasalnya, pasukan KNIL juga takut mengalami hukuman atau ancaman saat menyatu dengan TNI kelak. Hingga pada akhirnya, seorang Komandan dari kesatuan khusus Depot Speciale Troopen (DST), Kapten Raymond Westerling memanfaatkan keadaan ini. 

Westerling pun berhasil mengumpulkan 8.000 pasukan dari desertir dan anggota KNIL. Setelah itu ia menggunakan nama Ratu Adil dari kitab Jangka Jayabaya tentang datangnya "Sang Ratu Adil" dan menamai gerakan ini dengan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA).

APRA telah memasang target pemberontakannya di Jakarta dan Bandung. Alasan Jakarta dijadikan target sasaran dikarenakan pada awal Januari 1950, sedang ramai dilakukannya Sidang Kabinet RIS untuk membahas kembalinya Indonesia ke bentuk negara kesatuan.



Baca: Pertempuran Laut Aru dan Cikal Bakal Lahirnya Hari Dharma Samudera


Sementara Kota Bandung, alasannya dikarenakan situasi kota tersebut belum sepenuhnya dikuasai oleh pasukan Siliwangi. Ditambah juga dengan basis kekuatan militer Belanda yang masih kuat di Bandung. 

Pagi hari di tanggal 23 Januari 1950, pasukan yang menamakan dirinya sebagai APRA itu pun bergerak dari Cimahi menuju pusat kota Bandung, dengan tujuan utamanya ke Markas Divisi Siliwangi yang berada di Jalan Oude Hospitaalweg (sekarang Jalan Lembong). 

Di sepanjang jalan menuju markas Divisi Siliwangi, pasukan APRA menembaki tentara Siliwangi yang terlihat tak bersenjata. Pada akhirnya membuat pertempuran tak seimbang antara 800 pasukan APRA melawan 100 tentara Siliwangi yang tersisa di markas Siliwangi terjadi. 

Akibatnya, Letkol Adolf Lembong tewas dalam pertempuran dan APRA berhasil menguasai markas Siliwangi. Sementara itu, pada Januari 1950, Presiden RIS, Ir Soekarno menunjuk Hamid sebagai menteri negara tanpa portofolio sekaligus juga sebagai koordinator tim perumusan lambang negara.

Menteri tanpa portofolio sendiri merupakan menteri pemerintahan tanpa tanggung jawab spesifik atau tidak mengepalai kementerian tertentu. Kemudian dalam sidang kabinet pada 10 Januari 1950, Hamid membentuk Panitia Lencana Negara dan setelah itu diadakan sayembara pembuatan lambang negara. 

Di sisi lain, Hamid juga menjalin mufakat dengan Westerling karena ingin mempertahankan negara federal dan merasa kecewa dengan jabatannya yang hanya sebagai menteri tanpa portofolio. 

Dalam Buku Modul Sejarah Indonesia kelas XII oleh Kemendikbud, Hamid juga mengakui telah memberi perintah kepada Westerling dan Inspektur Polisi Frans Najoan untuk menyerang sidang Dewan Menteri RIS pada 24 Januari 1950.

Tak hanya itu saja, dalam penyerbuan itu Hamid juga memerintahkan agar semua menteri ditangkap. Sedangkan Menteri Pertahanan, Sultan Hamengku Buwono IX, Sekretaris Jenderal Ali Budiardjo, dan Kepala Staf Angkatan Perang RIS (APRIS) Kolonel T.B. Simatupang harus ditembak mati.

Drs. Moh. Hatta tak tinggal diam dan turun langsung untuk berunding dengan Komisaris Tinggi Belanda. Sehingga pada akhirnya, Mayor Jenderal Engels, Komandan Tinggi Belanda di Bandung mendesak agar Westerling meninggalkan Kota Bandung. Berkat hal itulah, APRA pun berhasil dilumpuhkan oleh pasukan APRIS.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


23 Januari 1946; Perlawanan Rakyat Luwu Dipimpin Andi Djemma Lawan Penjajah Belanda

Koropak.co.id, 23 January 2023 07:14:18

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Sulawesi Selatan - Tanggal 23 Januari menyimpan makna yang keramat bagi rakyat Luwu Raya, Sulawesi Selatan (Sulsel). Pasalnya tanggal tersebut atau tepatnya pada 23 Januari 1946, merupakan peristiwa bersejarah yang menjadi bukti kesetiaan masyarakat Bumi Sawerigading pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Tercatat, hanya berselang dua hari setelah Presiden Ir Soekarno menyatakan bahwa Indonesia telah lepas dari belenggu penjajahan, Datu' atau Raja Luwu, Andi Djemma menyatakan wilayah yang dipimpinnya masuk ke dalam wilayah NKRI. Langkah tersebut pun disambut dengan antusias oleh rakyat.

Bahkan setelah mencetuskan organisasi pergerakan Soekarno Muda, Andi Djemma kemudian ikut serta dalam memprakarsai Deklarasi Jongaya pada 15 Oktober 1945. 

Dicetuskan bersama Raja Bone ke-32 sekaligus mertuanya, Andi Mappanyukki, deklarasi yang diikuti oleh raja-raja seluruh kerajan di Sulsel itu didalamnya berisi pengucapan sumpah setia dan pernyataan sikap melebur ke Republik Indonesia. 

Namun sebelum Deklarasi Jongaya dicetuskan, menjelang akhir September 1945, pasukan Australia sebagai perwakilan Sekutu mendarat di Makassar untuk melucuti tentara Jepang, merawat para interniran dan membawa pulang warga sipil yang sempat ditawan. 

Dipimpin Mayor G. Wright dan Mayor Hearman, kontingen Australia itu pun tiba di Palopo pada November 1945 bersama serdadu Belanda-Netherlands Indies Civil Administration (NICA). Selanjutnya pada 1 Desember 1945, Andi Djemma beserta pemimpin kontingen Australia menyepakati tugas pasukan Sekutu hanya sebatas membawa dan melucuti tentara Jepang. 

Adapun untuk administrasi sipil Luwu tetap berada dalam kendalinya. Namun sayangnya, situasi berubah saat komandan baru, Brigjen Chilton mengumumkan bahwa seluruh rakyat Sulsel wajib mematuhi NICA. Sontak saja, sikap bersahabat yang sempat ditunjukkan oleh petinggi Kerajaan Luwu pun berubah menjadi rasa curiga. 

Akibatnya, gelagat bahwa Belanda ingin kembali menduduki NKRI yang belum genap setahun berdiri sontak menyeruak. Ditambah lagi, perselisihan dan provokasi juga kerap terjadi di antara pihak pemuda dan serdadu NICA atau Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL) yang sering melakukan patroli. 

Selain itu, sejak jauh-jauh hari Andi Djemma juga menyatakan sikap permusuhan dengan semua tentara yang datang atas nama Kerajaan Belanda. Sumbu pun telah dinyalakan, dan konflik seolah menunggu waktu untuk meledak. Benar saja, hal yang dikhawatirkan pada akhirnya terjadi. 

Tepat pada Ahad 21 Januari 1946, satu brigade KNIL dikirim ke Masjid Jami' Bua, yang letaknya 11 kilometer dari Palopo. Di sana, mereka melakukan perusakan, mulai dari merobek kitab suci Al-Qur'an, merusak sajadah, menumpahkan sisa-sisa makanan kaleng ke lantai, hingga menganiaya penjaga masjid (Luwu dalam Revolusi).

Tindakan teror yang dilakukan KNIL membuat rakyat dan petinggi Luwu naik pitam. Hingga pada akhirnya, Andi Djemma bersama dengan pemuka agama, KH M. Ramli, dan pemimpin organisasi Pemuda Republik Indonesia, M. Yusuf Arief, langsung memberikan ultimatum kepada pasukan KNIL-NICA agar segera angkat kaki dari Palopo dalam kurun waktu 24 jam.



Baca: Mengenang Peristiwa Malari; Sejarah Kelam Aksi Demonstrasi di Indonesia


Sayangnya, hingga batas yang ditentukan telah lewat, tentara NICA-KNIL masih berada di dalam tangsi masing-masing. Sehingga pada Senin malam 22 Januari 1946, suasana Palopo mendadak sunyi senyap. Akan tetapi, ketegangan nan pekat begitu terasa di udara.

Ketika jam menunjukkan pukul 3 dini hari, pada Selasa 23 Januari 1946, saat M. Yusuf Arief memuntahkan pelor ke udara sebagai tanda penyerangan dimulai, ratusan pemuda pun langsung menyerbu seluruh pos militer Belanda di Palopo sampai mengakibatkan terjadinya pertempuran sengit hingga siang hari dan mengubah langit Palopo diliputi asap tebal.

Kendati sempat berhasil menguasai kota selama beberapa jam, namun para pemuda dipaksa mundur dikarenakan kalah dalam hal persenjataan. Tak hanya itu saja, Belanda juga bahkan bisa merangsek maju hingga mendekati Istana Langkanae, tempat sang Datu' tinggal. Atas desakan para pemuda, Andi Djemma pada akhirnya meninggalkan istana dan mencari tempat perlindungan.

Namun sebelum mundur ke pegunungan selang beberapa hari, beberapa faksi pejuang masih berdiam di Palopo, dan para pemimpin faksi pejuang itu diantaranya M. Yusuf Arief, M. Ramli, Andi Tenri Ajeng, M. Landau, La Pata Daeng Imil, Martinus dan H.R. Bando (PRI Poso), Ahmad Ali dan Baso Rahim (kelompok pelajar), Yusuf Setia, Abu Perto dan Abdullah Daeng Mallimpo (Anak Pasar), M. Badawie (PRI Lasusua), serta Bandi dan Andi Rumpang (Laskar PRI Bua).

Memasuki bulan Februari 1946, seluruh faksi laskar pejuang berbasis di daerah hutan dan sesekali mereka melakukan penyerangan mendadak. Akan tetapi penyerangan itu dilakukan tanpa koordinasi dan cenderung secara sporadis. Pada akhirnya, 1 Maret 1946, seluruh pemimpin laskar sepakat bergabung dalam satu komando dibawah naungan Pembela Keamanan Rakyat (PKR) Luwu.

Kemudian di bulan yang sama juga, Andi Djemma bersama istri dan kerabat lingkar dalam istana mulai berpindah-pindah tempat demi mengelabui Belanda. Mereka berpindah-pindah mulai ke Lamasi di utara Palopo, lalu desa pesisir Cappasole, menyeberangi Teluk Bone dan tiba di Patampanua (sekarang bagian dari Kolaka Utara), sebelum ke arah utara dan mendiami Latowu pada 28 Februari 1946.

Meskipun berstatus eksil, Andi Djemma sendiri masih menjalankan pemerintahan Luwu dari Latowu. Tak disangka, posisinya bisa terendus juga. Setelah menerima laporan mata-mata, Belanda pun berhasil meringkus Andi Djemma bersama keluarga, pembantu dan kerabatnya pada malam hari di tanggal 2 Juni 1946. 

Sang Datu' dan dua anaknya diterbangkan ke Makassar via Palopo dan mereka tiba disana pada 6 Juni 1946. Andi Djemma juga sempat ditahan tangsi polisi Jongaya, setelah itu secara berturut-turut dipindahkan ke Bantaeng kemudian Pulau Selayar. 

Pada 4 Juli 1948, ia akhirnya dijatuhi hukuman 25 tahun pengasingan di Ternate. Sedangkan Andi Ahmad, sang putra sulungnya mendapat hukuman mati meskipun kemudian diubah menjadi penjara seumur hidup. Sementara putra keduanya, Andi Makkulau, divonis 20 tahun pengasingan di Pulau Morotai. Setelah itu ketiganya baru bebas pada 27 Desember 1948.

Hingga kini, peristiwa penyerangan pada 23 Januari 1946 tersebut pun menjadi awal upaya masyarakat Luwu melawan serdadu Belanda. Meskipun pada akhirnya berhasil dipukul mundur, namun para pemuda mampu kembali melakukan serangan massal pada 29 Oktober 1949, atau biasa disebut dengan "Masamba Affair".


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Kisah Si Jampang, "Robin Hood" Lain dari Tanah Betawi

Koropak.co.id, 22 January 2023 15:08:56

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Masyarakat etnis Betawi memiliki berbagai cerita rakyat atau legenda yang berkembang hingga diceritakan secara turun temurun sejak zaman dulu sampai dengan sekarang.

Mungkin dari sekian banyaknya cerita yang berkembang di masyarakat Betawi, ada salah satu cerita rakyat yang memang sudah diketahui banyak orang. Adalah Si Pitung, cerita rakyat yang berkembang dan memiliki berbagai versi hingga ada juga yang sampai memiliki bumbu-bumbu mitos setempat.

Cerita Si Pitung ini, sangat lekat dengan nilai-nilai kepahlawanan sekaligus juga dikenal sebagai tokoh dengan tindakan yang mirip seperti cerita Robin Hood dari Inggris. Dimana, Si Pitung merupakan seorang perampok ulung, namun hasil curiannya diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Selain Si Pitung, ada satu lagi cerita dari Betawi yang menceritakan seorang tokoh dengan tindakan serupa, yaitu cerita legenda Si Jampang, seorang jawara dan ahli dalam silat. Lantas, bagaimana kisah legenda Si Jampang ini?

Diceritakan bahwa Si Jampang merupakan seorang pemuda yang lahir di daerah Sukabumi, Jawa Barat. Ia memiliki orang tua yang berbeda etnis yaitu, ibunya berasal dari etnis Betawi, dan ayahnya berasal dari Banten. Namun sejak kecil kedua orang tuanya sudah meninggal dunia, sehingga Si Jampang pun diasuh oleh pamannya dan tinggal di daerah Grogol, Depok. 

Secara sifat, Jampang kecil dikenal sebagai sosok anak yang cerdas dan ulet dalam mempelajari suatu hal. Termasuk salah satu hal yang dipelajarinya sejak kecil adalah ilmu silat. Tak hanya itu saja, ia juga sangat lihai dalam bermain senjata tradisional, golok. 

Menariknya, semuanya itu ia pelajari setelah diperintahkan untuk berguru dengan guru silat yang sudah pamannya kenal di daerah Cianjur, Jawa Barat. Hal ini juga mengingat karena Jampang sendiri merupakan anak keturunan Banten, sehingga setidaknya ia harus menguasai ilmu silat. 

Tak cuma itu saja, selama di Cianjur, Jampang juga mempelajari berbagai hal mulai dari bercocok tanam hingga manajemen diri. Setelah kembali ke Grogol Depok, ia juga belajar mengaji. 

Sehingga di masa mudanya, Jampang pun dikenal sebagai seseorang yang jago dalam ilmu bela diri silat serta memiliki watak yang baik hingga ia bisa diterima sangat baik secara sosial dengan berbagai ilmu yang dikuasainya. Setelah cukup dewasa, Jampang memutuskan untuk merantau ke tanah Betawi, tepatnya di daerah Kebayoran Lama. 

Di sana ia tinggal bersama teman dari pamannya dan sehari-harinya ia membantu untuk berkebun dan berdagang. Mulai dari sinilah ia melihat berbagai ketidakadilan yang membuat hatinya bergejolak. Diceritakan saat itu, ada banyak centeng yang bertindak semaunya untuk menagih uang pajak. 



Baca: Rumah Si Pitung dan Spirit Perjuangan Lawan Penjajahan


Si Jampang pun akhirnya menggunakan keahlian silatnya untuk melawan agar mereka mendapat pelajaran. Hal itu dilakukannya sesuai dengan perkataan sang guru saat di Cianjur dahulu, gunakanlah ilmu bela diri tersebut untuk melawan ketidakadilan.

Dikarenakan tindakan yang dilakukan si Jampang itu jugalah, secara perlahan orang-orang yang bertindak sewenang-wenang ini tidak melancarkan aksinya lagi di Kebayoran Baru. Tidak lama sejak masa itu, Jampang bertemu dengan seorang perempuan yang kelak menjadi istrinya.

Setelah menikah, Si Jampang dan istrinya pun memiliki anak dan mereka hidup bahagia. Selain itu, Jampang juga sangat menginginkan anaknya agar bisa menjadi pribadi yang saleh. Oleh karena itulah, Jampang memasukkan anaknya ke pondok pesantren.

Namun sayangnya, semua itu berubah ketika sang istri meninggal dunia akibat sakit. Si Jampang mulai merasa kehilangan dan hal ini jugalah yang turut mempengaruhi pikirannya. Terlebih lagi, ia pun sangat jarang bertemu dengan anaknya dikarenakan jarak keduanya yang jauh.

Kesedihannya semakin bertambah setelah ia melihat masyarakat Betawi semakin tertindas. Dengan keadaan yang demikian, Jampang pun pada akhirnya memutuskan untuk membantu mereka agar kehidupannya bisa lebih terjamin. Maka sejak saat itulah, ia memutuskan untuk merampok orang-orang kaya dan membagikan hasilnya kepada masyarakat yang membutuhkan. 

Tak disangka, tindakan yang ia lakukan secara terus menerus itu sampai kepada anaknya. Anak Si Jampang merasa malu dan memutuskan untuk berhenti dari pesantren. Kekosongan hatinya karena ditinggal istri memunculkan keinginannya untuk menikah lagi. 

Salah satu perempuan yang saat itu ia incar adalah Mayangsari, istri sahabatnya yang telah meninggal. Namun sayangnya, Mayangsari menolak keinginan Si Jampang. Cinta ditolak, dukun pun bertindak. Mungkin itulah tindakan yang dilakukan Jampang.

Demi mendapatkan hati Mayangsari, Si Jampang rela untuk pergi ke "orang pintar" hingga pada akhirnya Mayangsari menerima ajakan Jampang untuk menikah dengan syarat tertentu. Setelah menyetujui persyaratannya, ia pun melakukan perampokan di rumah seorang saudagar bernama Haji Saudi yang tinggal di Bekasi. 

Nahas, nasib sial justru menimpa dirinya. Jampang berhasil ditangkap oleh pihak keamanan Belanda. Pasca kejadian itu, Jampang pun dihukum mati. Kepergian sosok Si Jampang itu tentunya sangat membuat masyarakat yang membutuhkan merasa kehilangan. Pasalnya, tidak ada lagi sosok pahlawan yang membantu kehidupan mereka sehari-hari.

Meskipun menuju akhir hayatnya Si Jampang melakukan hal yang kurang baik, akan tetapi setidaknya cerita dengan nilai kepahlawanan ini masih diteruskan secara turun temurun dengan berbagai versi sebagai bagian dari kebudayaan masyarakat Betawi.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini: