Koropak.co.id – Tahukah Kamu? Ternyata budaya mencukur rambut si kecil ternyata telah dikenal secara turun temurun.
Umat muslim biasanya menyelenggarakan upacara cukuran tersebut pada saat anaknya berusia 40 hari dengan maksud untuk membersihkan atau menyucikan rambut si kecil dari segala macam najis.
Selain itu, cukuran yang dilakukan juga diharapkan agar nantinya si kecil akan tumbuh sehat dan dijauhkan dari berbagai macam penyakit. Upacara ini juga merupakan ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan yang telah mengaruniakan seorang anak.
Dalam pelaksanaan upacara ini, biasanya para pemuka agama setempat akan hadir dan membacakan doa-doa. Saat upacara itu juga si kecil akan digendong oleh bapak atau kakeknya dan akan digunting rambutnya oleh semua yang hadir dalam upacara dengan cara mencelupkan gunting terlebih dahulu ke dalam air kembang 7 rupa sebelum menggunting beberapa helai rambut si kecil.
Setelah itu potongan rambut si kecil pun diletakkan di dalam kelapa hijau yang telah dilubangi atasnya. Kemudian para penggunting rambut juga akan ditetesi minyak wangi pada bajunya dan beberapa hari kemudian barulah rambut bayi bisa dicukur habis.
Dilansir dari ibudanbalita.com, seluruh potongan rambut si kecil itu ditimbang di sebuah timbangan emas dan dinilai seharga nilai emas yang nantinya akan disumbangkan kepada fakir miskin sebagai sedekah. Setelah ditimbang, barulah kelapa yang berisi rambut si kecil akan dikubur.
Diketahui sedekah disini mengandung harapan agar si kecil kelak akan menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat, nusa, bangsa dan agama serta berbakti kepada orangtuanya. Hal ini tentunya mengingatkan kita kepada kelapa yang seluruh bagian pohonnya berguna bagi manusia.
Selain di Indonesia, di Thailand ada upacara Khwan yang diselenggarakan saat si kecil berusia satu bulan. Upacara ini terbagi menjadi 2 tahap, yang dimana tahap pertama rambut si kecil akan dicukur habis oleh biksu atau pemuka agama Budha yang kemudian ditempatkan pada wadah yang terbuat dari kulit pisang lalu diapungkan ke air.
Kemudian pada tahap kedua, pihak keluarga nantinya akan mengikatkan tali pada pergelangan tangan dan pergelangan kaki si kecil dan selanjutnya meminta berkat. Pada umumnya sebelum upacara ini digelar, si kecil belum memiliki nama.
Sementara itu dalam budaya orang Tionghoa, upacara cukur rambut sendiri diberi nama Man Ye atau Man Yue yang dirayakan ketika si kecil berusia 1 bulan. Upacara tersebut memiliki tujuan utama untuk memperkenalkan si kecil pada para kerabat dan relasi dari orangtuanya.
Baca : Mengenal Kesenian Rontek Khas Pacitan Jawa Timur
Saat acara ini digelar, rambut si kecil akan dicukur, dibungkus dengan kain merah dan dijahit pada bantal si kecil. Hal ini dilakukan dengan harapan agar si kecil kelak bisa menjadi anak yang berani dan tidak mudah takut.
Selain itu, tuan rumah juga biasanya akan menyajikan berbagai macam hidangan untuk para tamu, dan satu hidangan yang wajib ada adalah telur yang kulitnya diberi warna merah.
Telur itu melambangkan suatu tahapan kehidupan yang baru, sedangkan warna merah melambangkan perayaan dan keberuntungan. Bentuknya yang oval juga melambangkan harmoni dan kesatuan. Apabila si kecil berjenis kelamin laki-laki, maka telurnya akan berjumlah genap, sebaliknya apabila dia perempuan maka telurnya akan berjumlah ganjil.
Pada era modern seperti saat ini, sekarang pihak keluarga lebih suka mengirimkan bingkisan berupa kue atau nasi kotak kepada para kerabat dan relasi, tentunya dengan tidak lupa menyertakan telur. Sebagai gantinya, para tamu nantinya akan membawa berbagai jenis kado seperti pakaian, perlengkapan bayi, angpao hingga perhiasan emas.
Berbeda lagi dengan di Bali, upacara cukur rambut diadakan ketika si kecil berusia 3 bulan dengan maksud memperkenalkan dunia pada si kecil. Sebelum usia tiga bulan itu dipercaya si kecil masih memiliki jiwa yang bersih, suci.
Dengan upacara ini, untuk pertama kalinya si kecil menyentuh tanah yang melambangkan kembali ke bumi. Salah satu bagian dari upacara ini disebut ‘Ngangkid’ yang bermakna penyucian si kecil dari Tuhan yang berada di lautan.
Si kecil nantinya akan diperciki air suci di tengah lautan oleh pemuka agama Hindu dengan maksud untuk membersihkan segala hal yang ‘jahat’ pada tubuh si kecil. Setelahnya si kecil pun akan diserahkan pada orangtuanya di darat.
Setelah itu, upacara dilanjutkan di rumah dengan memakaikan si kecil pakaian adat Bali dan mengikatkan kain pada pergelangan tangan dan kepala si kecil. Pada upacara ini si kecil akan diberikan perhiasan pertamanya, gelang atau gelang kaki yang terbuat dari perak atau emas dan kotak perak yang berisi potongan tali pusat untuk dikalungkan di lehernya.
Diketahui, hal ini dipercaya dapat melindungi si kecil dari kuasa jahat dan ilmu hitam. Upacara pun diakhiri dengan berdoa bersama orangtua dan si kecil. Meskipun berbeda daerah, agama dan kepercayaan, namun tradisi adalah suatu hal yang perlu dilestarikan dan semua tujuannya untuk kebaikan si kecil.*
Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini











