Siapa Sangka Sejarah Topi yang Mendunia Berawal dari Topi Copet

Koropak.co.id, 05 December 2021 10:00:33
Penulis : Aisya Kartika
Siapa Sangka Sejarah Topi yang Mendunia Berawal dari Topi Copet

 

Koropak.co.id - Topi, merupakan benda yang kerap dikenakan sebagai aksesoris kepala, baik wanita atau pria kini kerap menggunakan topi sebagai aksesoris fashion ketika hang-out.

Selain sebagai aksesoris, topi juga memiliki fungsi sebagai pelindung kepala baik dikala panas ataupun hujan gerimis. Bahkan bagi mereka yang botak, topi merupakan penutup kepala yang mampu mendopping percaya diri seseorang.

Namun pernah tidak terpikirkan oleh kalian, bagaimana topi bisa hadir? sebagai penutup kepala yang modern dengan beragam bentuk serta merek yang dibanderol dengan harga-harga fantastis.

Percayalah bahwa topi ternyata memiliki sejarah dan perjalanan panjang hingga di titik modern saat ini. Pada dasarnya topi memiliki fungsi sebagai para pekerja sebagai pelindung diri dari paparan sinar matahari.

Dilansir dari buku seri Asal Usul karya Zaenuddin M. H., pada tahun 1572 ada suatu ketetapan yang dikeluarkan oleh Parlemen Inggris, dimana dalam kebijakannya mewajibkan semua laki laki termasuk anak laki-laki yang usianya sudah diatas 6 tahun, wajib menggunakan topi pada hari-hari suci dan hari minggu.

 


Baca : Awalnya Tidak Bernama, Begini Asal Usul Ritsleting

Akan tetapi keijakan tersebut tidak berlaku bagi para bangsawan dan pendeta. Tujuan dari ketetapan ini tak lain adalah untuk meningkatkan penjualan wol, dan jika ada pria yang tidak menerapkan kebijakan tersebut makan akan mendapatkan sanksi berupa denda.

Namun ketetapan tersebut tak berlangsung hingga saat ini, beruntung di tahun 1597 kebijakan ini telah dihapus. Namun uniknya orang-orang Inggris masih sering mengenakan topi dalam kesehariannya.

Seiring pekembangan zaman, setelah para imigran Eropa menetap di Amrika Serikat, siapa yang menyangka bahwa daya tarik topi terhadap fashion semakin banyak memikat orang-orang sehingga membuat topi menjadi salah satu trend fashion di Amerika terutama para remaja ketika hendak keluar rumah.

Satu model topi yang berkaitan erat dengan warga negara Inggris ialah topi pet, topi yang bagi orang Indoensia kerap disebut sebagai topi seniman. Perlu kamu tahu, bahwa Pangeran Charles dari Wales kerapkali terlihat mengenakan topi pet.

Semakin maju perkembangan fashion, pada abad ke 20 dan ke 21 di Amerika Serikat, topi pet ini digunakan oleh para model fashion kelas atas, penyanyi hiphop, hingga pria kerah biru. Baik dalam desain polos dan sederhana, hingga mencolok, topi pet selalu menarik antusias anak muda untuk menggunakannya.

 


Baca : Sejarah Singkat Dunia Pertelevisian di Indonesia

Jika itu di Amerika, lalu bagaimana di Indonesia? Topi pet di Indonesia cukup dikenal unik loh, mungkin kamu kerap mendengar topi copet? Nah, inilah topi yang dikenal sebagai topi pet di Amerika.

Meski dikenal sebagai topi copet, namun topi pet kini sering digunakan oleh para penggemar sepeda motor Vespa. Topi pet juga kerap dibuat dengan desain khusus untuk klub olahraga hingga partai politik dengan desain dan logo masing-masing,

Saat ini topi muncul dengan beragam model dan merek, bahkan topi sudah menjadi trend fashion yang mendunia, dengan bentuk-bentuk unik dan fungsi yang beragam selain daripada melindungi diri dari cuaca panas.

Untuk kalangan fashion papan atas, topi yang terkait dengan brand dunia kerap memiliki harga yang fantastis, bahkan tak jarang selain dibuat dengan bahan berkualitas, aksesoris pelengkapnya kerap menggunakan emas, berlian juga permata, wow luar biasa sekali kan.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 

Komentar

Wedang Tiyung, Minuman Pemberi Kehangatan Bagi Jenderal Soedirman Saat Bergerilya

Koropak.co.id, 02 February 2023 15:10:28

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Yogyakarta - Ada momen menarik dalam peristiwa bersejarah, perang gerilya yang dilakukan Jenderal Soedirman beserta pasukannya. Diceritakan bahwa pada momen perang gerilya pada masa itu, hampir sepekan lamanya Jenderal Soedirman bersama pasukannya menetap di daerah Kretek yang berjarak sekitar 30 kilometer dari Kota Yogyakarta.

Bukan tanpa alasan, hal itu dilakukan Jenderal Soedirman karena saat itu Kali Opak sedang meluap. Dalam buku Tempo, Jamaluddin, seorang tentara dapur masih mengingat tugasnya untuk memberi makan dan minum pasukan, salah satunya adalah teriakan dokter pribadi Jenderal Soedirman, Soewondo yang meminta wedang.

Selain Soewondo, Jamaludin juga mengingat Kapten Soepardjo Roestam selalu minta teh panas untuk Soedirman. Hal ini dikarenakan saat momen perang gerilya tersebut, sang Panglima TNI tengah jatuh sakit, hingga merasa nyaman jika meminum sesuatu yang panas dan manis.

Jamaludin juga bahkan masih mengingat merek teh yang dibuatkan untuk Jenderal Soedirman. Namanya Teh Sruni. Teh yang memiliki bau langu itu merupakan jatah untuk semua tentara Republik. Kemudian ada satu lagi wedang kegemaran Jenderal Soedirman yakni teh tiyung, daun jeruk yang diseduh air panas ditambah gula pasir hingga menghasilkan warna yang merah.



Baca: 27 Juni 1947; Semula Guru, Jenderal Soedirman Jadi Panglima Besar


Dengan minuman itu, Jenderal Soedirman mendorong obat-obatan ke kerongkongan. Obat-obatan yang diminum sang Jenderal itu di antaranya codeine, sejenis obat gangguan pernapasan. Diketahui sejak dioperasi pada November 1948, Soedirman harus hidup dengan sebelah paru-paru.

Dalam hal makanan, Jenderal Soedirman sendiri tidak pernah pilih-pilih dan dia memakan makanan yang sama dengan seluruh prajuritnya. Terlebih lagi saat itu sedang pada masa gerilya, sehingga semua serba seadanya. Terkadang makanan yang disajikan nasi berteman rebusan daun lembayung, atau terkadang juga tempe.

Biasanya, ransum untuk Jenderal Soedirman yang diantar sampai pintu kamar tersebut dalam rantang dan satu rantang untuk sekali makan. Akan tetapi, seringkali dari tiga rantang yang dikirim hanya satu yang habis. Hal itu dikarenakan, sang jenderal sering berpuasa.

Selain dapur umum, penduduk juga sering mengirimkan makanan untuk para pejuang meskipun mereka memang kerap sekali kekurangan makanan. Sehingga untuk menutupi kebutuhan penduduk, Jenderal Soedirman pernah meminta perhiasan Siti Alfiah untuk ditukarkan dengan ayam dan beras.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Muasal Aceh Dijuluki Serambi Mekkah

Koropak.co.id, 02 February 2023 07:10:22

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Aceh - Nanggroe Aceh Darussalam atau yang kerap disebut sebagai Aceh saja merupakan sebuah provinsi yang berada di ujung barat Indonesia dan menjadi salah satu daerah yang menjalani otonomi khusus layaknya DKI Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan provinsi di Papua.

Sebagai daerah istimewa, membuat Aceh memiliki keunikan tersendiri. Seperti dari segi hukum yang diterapkan di Aceh adalah menggunakan hukum syariat. Sehingga, daerah ini pun sangat kental dengan penerapan nilai-nilai keislaman. Di sisi lain, Aceh juga memiliki salah satu julukan yang sangat terkenal, yaitu Serambi Mekkah.

Lantas, apa yang menjadi alasan Aceh dijuluki Serambi Mekkah?

Diketahui sebenarnya, julukan Serambi Mekkah yang melekat pada Aceh ini bukanlah suatu hal yang baru. Pasalnya, julukan itu sendiri sudah bermula sejak Aceh masih dipimpin oleh sistem kerajaan Kesultanan Aceh.

Bahkan, daerah Aceh inilah yang menjadi awal mula kemunculan Samudera Pasai sebagai kerajaan Islam pertama sekaligus juga menjadi gerbang masuknya agama Islam ke bumi Nusantara.

Menariknya lagi, nama Serambi Mekkah ini juga bahkan sudah tercatat dalam kitab ulama penasehat Kesultanan Aceh, Syekh Nuruddin Al-Raniri. Dalam kitabnya itu, terdapat sebuah kata yang tertulis dalam bahasa Aceh yaitu Seuramoe Mekkah yang artinya adalah Serambi Mekkah.

Alasan penyebutan Serambi Mekkah ini sendiri bermula ketika Aceh menjadi tempat singgah bagi para umat Islam yang hendak melaksanakan ibadah haji ke tanah suci. Dimana pada zaman dahulu kapal menjadi moda transportasi utama, terlebih lagi jika harus pergi ke negeri seberang.



Baca: Kilas Sejarah Mengapa Aceh Pernah Berstatus Daerah Istimewa


Selain itu juga, pada zaman tersebut umat Islam yang harus berangkat ke tanah suci tidaklah banyak. Sebab, untuk melakukan ibadah haji saat itu membutuhkan biaya yang sangatlah banyak, ditambah lagi perjalanannya juga yang menghabiskan waktu hingga berbulan-bulan lamanya.

Mengingat lokasi Aceh juga berada di ujung paling barat Indonesia, dan di sisi lain memang jalur pelayaran menuju ke Mekkah itu harus melewati Selat Malaka. Sehingga Aceh pun dirasakan sangat cocok untuk dijadikan tempat para jemaah haji yang terlebih dahulu melakukan transit.

Terlebih lagi saat itu Aceh juga menjadi pusat dari perkembangan agama Islam. Uniknya lagi, umat Islam yang hendak melaksanakan ibadah haji itu juga ternyata tidak hanya sekedar transit saja di Aceh. Akan tetapi, mereka juga disana belajar soal pelaksanaan haji, seperti manasik hingga memakan waktu berbulan-bulan.

Jika mereka semua sudah memahami soal manasik haji, selanjutnya mereka pun akan segera diberangkatkan. Kemudian ketika pulang pun, mereka juga tidak akan langsung pulang ke daerahnya masing-masing. Akan tetapi mereka akan tetap singgah sejenak di kawasan Aceh.

Bahkan, ada juga yang sampai memutuskan untuk menetap dan menikah dengan warga lokal. Sehingga pada akhirnya mereka pun memiliki keturunan yang menjadi penduduk Aceh.

Diibaratkan sebuah "teras" atau "serambi" yang menjadi tempat berkumpulnya para calon jemaah haji sebelum menapakkan kakinya di tanah suci, maka julukan Serambi Mekkah ini juga sangat melekat pada daerah tersebut sampai dengan sekarang.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Hari Hijab Sedunia 2023; Perjuangan Wanita Muslim Lawan Hijabofobia

Koropak.co.id, 01 February 2023 07:13:13

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Tepat hari ini, tanggal 1 Februari, diperingati sebagai Hari Hijab Sedunia atau World Hijab Day dan Nazma Khan menjadi sosok di balik pendiri dan penggaung Hari Hijab Internasional tersebut.

Diketahui, peringatan Hari Hijab Sedunia ini pertama kalinya muncul pada 2013 lalu. Tidak asal-asalan, Hari Hijab Sedunia dibuat untuk melihat jutaan wanita muslim yang mulai memilih menggunakan hijab untuk mode di samping anjuran agama.

Diceritakan, kala itu Nazma pun berniat untuk mendorong kebebasan pribadi dalam mengekspresikan agama Islam termasuk dengan penggunaan hijab. Nazma sendiri merupakan aktivis sosial asal Bangladeh yang tinggal di New York, Amerika Serikat sejak usia 11 tahun. 

Di tingkat sekolah menengah, Nazma menjadi satu-satunya orang yang menggunakan hijab. Pada saat masa sekolah, Nazma sendiri mengaku mendapatkan banyak pengalaman yang terjal, seperti perlakuan diskriminasi, mulai dari cemoohan, hingga dikaitkan dengan citra teroris. 

Sehingga, berawal dari sanalah Nazma pun pada akhirnya membuat World Hijab Day dengan tujuan untuk memutus mata rantai diskriminasi bagi orang-orang yang berhijab. Salah satu gerakan yang dilakukannya adalah dengan mendorong orang-orang dari ragam lapisan masyarakat untuk merasakan menggunakan hijab selama satu hari tepat pada 1 Februari setiap tahunnya. 

Dilansir dari situs World Hijab Day, gerakan yang dibuat Nazma tersebut ternyata cukup mendapatkan perhatian publik tentang kontroversi penggunaan hijab di kalangan wanita muslim. Mengawali konsep eksperimental itulah, hingga saat ini setiap tahunnya diperkirakan lebih dari 150 negara berpartisipasi dalam Hari Hijab Sedunia. 

Selain itu, mereka juga memiliki banyak sukarelawan di seluruh dunia untuk menyebarkan kesadaran mengenai penggunaan hijab di muka publik. Tak berhenti sampai disana saja, penggunaan hijab di wilayah Barat ini juga semakin dilirik. Bahkan New York, tempat Nazma tinggal sejak belia juga pada akhirnya memberi pengakuan tentang Hari Hijab Sedunia pada 2017 lalu. 

Menariknya lagi, kesadaran mengenai hijab itu juga semakin menyebar di Inggris. Tak hanya itu saja, House of Commonc of the U.K juga menggalakan penegasan hak bagi perempuan untuk memilih apapun yang mereka kenakan di manapun dan kapan pun.



Baca: Hari Hijab Sedunia, Kampanyekan Kerukunan Umat Beragama


Seiring berjalannya waktu, Hari Hijab Sedunia tidak hanya diperingati dari sisi toleransi beragama saja, akan tetapi juga mengenai hak-hak perempuan di seluruh dunia. Pada 2018, World Hijab Day pun berdiri sebagai organisasi dengan misi menumpas diskriminasi dan prasangka buruk terhadap perempuan berhijab.

Kemudian pada 2021 lalu, Nazma juga menggelar International Muslim History Month untuk memutus stigma Islamofobia secara global, serta menghormati dan merayakan kontribusi pria dan wanita Muslim dalam sejarah.

Seiring dengan perkembangannya, peringatan Hari Hijab Sedunia ini semakin disambut positif oleh masyarakat Dunia. Raksasa media sosial dari Facebook dan Instagram, Meta juga turut menyebarkan peringatan Hari Hijab Sedunia tepat 1 Februari 2022 lalu dalam misi organisasinya.

Di tahun yang sama, Nazma juga menjadi pembicara tamu dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Wanita dan keadilan Internasional ke-5 yang berlangsung di Turki. 

Di sana, Nazma pun membawakan topik diskriminasi yang kerap dihadapi wanita Muslim berhijab di muka umum, termasuk juga dengan larangan hijab dalam dunia kerja yang masih banyak terjadi di berbagai perusahaan di dunia.

Sementara itu, dalam peringatan Hari Hijab Sedunia tahun 2023 ini, Organisasi Hari Hijab Sedunia menyerukan kepada semua komunitas untuk menentang diskriminasi terhadap wanita Muslim yang memilih untuk memakai jilbab. 

Tahun ini juga akan menjadi perayaan Hari Hijab Sedunia ke-11 yang mengusung tema "Progression, not oppression" atau "Kemajuan, Bukan Penindasan" dan dengan tagar #UnapologeticHijabi. Organisasi Hari Hijab Sedunia juga mengundang semua individu yang tertarik untuk mendukung kampanye tersebut dalam misinya membongkar Hijabofobia secara global.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Muasal Makanan Perkedel, Suku Frikadel Dibawa Belanda

Koropak.co.id, 30 January 2023 12:14:07

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Namanya Perkedel. Satu dari sekian banyaknya makanan yang sangat populer di Indonesia. Bahkan di berbagai daerah Indonesia, kita bisa dengan mudah menemukan makanan yang satu ini tersaji di atas meja makan keluarga. 

Bukan hanya itu saja, di warung makan, entah itu warung nasi Tegal atau pun warung nasi Padang, sajian perkedel seolah tak pernah absen sebagai salah satu menu makanan yang dihidangkan.

Biasanya, perkedel kerap dijadikan sebagai lauk pendamping di antara lauk-pauk yang sudah menjadi santapan utama. Tak jarang juga, perkedel hadir untuk melengkapi makanan-makanan lokal lainnya seperti soto.

Namun pernahkah kalian berpikir tentang asal usul dari perkedel yang hingga pada akhirnya bisa tercipta dan menjadi salah satu makanan khas Indonesia?

Berdasarkan sejarahnya, asal usul perkedel berawal dari kedatangan Belanda yang memang turut mempengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk dari segi budaya. Dalam hal ini, kuliner menjadi peninggalan Bangsa Kompeni yang masih bisa kita lihat sampai dengan sekarang.

Dari pengenalan makanan tersebut, sehingga bisa diketahui masyarakat Indonesia dan pada akhirnya diadaptasi dengan sentuhan lokal di berbagai daerah. Tentunya hal tersebut secara tidak langsung semakin menambah kekayaan kuliner di Indonesia. Termasuk salah satunya tentang perkedel.

Sebenarnya makanan yang satu ini terinspirasi dari salah satu kudapan yang kerap dikonsumsi orang-orang Belanda, yaitu frikadel. Selain itu, makanan ini juga kerap disebut dengan frikadelle, frikadellen, atau frikadeller, tergantung dari bahasanya.

Frikadel sendiri terbuat dari daging sapi atau daging babi cincang yang kemudian dicampurkan dengan berbagai bahan seperti bawang, parsley, telur, dan berbagai bumbu khas lainnya. Setelah itu dibentuk menjadi bulat pipih, lalu dimasak. Meskipun begitu, sebenarnya frikadel juga tidak hanya bisa ditemui di Belanda saja.



Baca: Serupa Tapi Tak Sama, Ini Perbedaan Gado-Gado, Karedok dan Pecel


Pasalnya makanan tersebut juga bisa ditemukan di berbagai daerah di kawasan kawasan Eropa seperti Jerman, negara-negara Skandinavia, hingga Polandia. Bahkan, sebenarnya ada kemungkinan yang mengatakan bahwa makanan ini berasal dari Denmark atau Jerman.

Ketika Frikadel sudah mulai banyak dikonsumsi orang-orang Belanda, hal itu pun cukup menarik perhatian masyarakat lokal. Namun sayangnya dikarenakan makanan itu terbuat dari daging yang tergolong sulit dan mahal untuk masyarakat pribumi mendapatkannya, maka terlintaslah sebuah ide untuk membuat alternatifnya.

Caranya, masyarakat pribumi pun menggunakan bahan-bahan hasil bumi lokal yang cenderung mudah untuk didapatkan, yaitu kentang. Meskipun menggunakan bahan berbeda, akan tetapi cara pembuatannya mirip dengan bagaimana orang-orang Belanda membuat frikadel.

Hanya saja, yang membedakannya terletak pada bahan utama daging yang benar-benar diganti oleh masyarakat pribumi dengan kentang yang telah dicampurkan telur dan berbagai bumbu lainnya. Kemudian dengan dicelupkan ke telur terlebih dahulu, bahan ini pun selanjutnya digoreng hingga menjadi perkedel khas Indonesia.

Fadly Rahman dalam buku "Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia masa Kolonial 1870-1942" menyebutkan, nama "frikadel" ini sedikit sulit untuk diucapkan oleh orang-orang pribumi. Sehingga lama kelamaan makanan itu pun disebut dengan adaptasi ucapan lokal menjadi "perkedel". 

Di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah, penyebutan makanan ini pun berubah menjadi "bergedel". Seiring berkembangnya zaman, makanan ini pun terus diwariskan secara turun temurun. Bahkan saat ini, berbagai variasi perkedel pun bisa ditemui di setiap daerah.

Seperti ada yang menggunakan campuran ikan atau daging tertentu, menggunakan singkong sebagai pengganti kentang, mencampurkannya dengan tahu, atau menggunakan bumbu khasnya sendiri. Variasi yang dilakukan itu tentunya turut memperkaya kekayaan kuliner khas Indonesia.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Selalu Hadir di Perayaan Imlek, Filosofi Kue Mangkok yang Penuh Arti

Koropak.co.id, 29 January 2023 07:15:18

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Di tilik dari perjalanan sejarahnya, tentunya orang-orang keturunan Tionghoa sudah lama menjadi bagian dari masyarakat Indonesia. Bahkan mereka juga turut melakukan pertukaran budaya dengan masyarakat lokal serta menjalankan tradisi khasnya di Indonesia.

Seperti, perayaan Imlek yang masih terus dijalankan dari masa ke masa. Selanjutnya, pengaruh lain yang bisa di temukan adalah dari segi kuliner. Yang mana, makanan orang-orang Tionghoa itu juga turut diperkenalkan dan membuatnya mulai dikenal masyarakat lokal hingga menjadi kuliner yang semakin umum ditemui di Indonesia.

Tak ayal, beberapa kuliner pun menjadi bagian dari perayaan Imlek. Sebut saja kue Mangkok. Kue ini memiliki filosofi dari segi penggunaannya, yakni sebagai salah satu kuliner yang tak pernah absen saat Hari Raya Imlek tiba.

Mungkin, kue Mangkok ini kerap ditemui sebagai salah satu jajanan pasar. Namun, tahukah Anda bahwa sebelumnya makanan ini sebenarnya berasal dari Tiongkok?

Berdasarkan sejarahnya, kue mangkok awalnya diperkenalkan oleh masyarakat Tionghoa yang berasal dari daerah Fujian atau yang biasa dikenal sebagai orang Hokkien. 

Di daerah asalnya, tentunya makanan yang satu ini sudah sangat populer. Bahkan, kue Mangkok ini juga telah menjadi bagian dari pelaksanaan berbagai tradisi yang dilakukan orang-orang Tionghoa, salah satunya Imlek. 

Jika di Indonesia dikenal dengan kue mangkok, berbeda dengan orang Tionghoa yang menyebutnya dengan nama Fa Gao. Jika dilihat secara sekilas, mungkin bentuk dari kue ini tampak seperti cupcake. Hanya saja, warna dari kue mangkok ini terlihat lebih mencolok seperti warna merah, hijau, putih, ungu, dan lain sebagainya.



Baca: Sejarah Warna Merah di Hari Raya Imlek


Selain itu, secara tekstur juga kue ini bertekstur cukup lembut ketika digigit. Berbeda dengan daerah asalnya, di Indonesia, pembuatan kue ini telah diadaptasi dengan bahan lokal. Di Indonesia, kue Mangkok dibuat dengan tape singkong sebagai bahan campurannya, sehingga membuat rasanya memiliki ciri khas tersendiri.

Di sisi lain, pemilihan warna kue yang mencolok itu juga bukanlah tanpa alasan. Sebab, orang-orang Tionghoa memiliki filosofinya tersendiri terkait warna cerah yang kerap digunakan pada kue tersebut, yaitu sebagai simbol dari kebahagiaan.

Terlebih lagi pemilihan warna merah yang telah menjadi salah satu warna andalan dan menjadi ciri khas orang-orang Tionghoa. Warna ini jugalah yang menjadi prioritas untuk digunakan sebagai bahan pewarnaan kue mangkok ketika melakukan tradisi.

Di bagian atas kue Mangkok, biasanya terdapat bentuk yang mekar layaknya kelopak bunga. Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, apabila jumlah bagian yang melar tersebut semakin banyak, maka kemakmuran seseorang juga akan semakin bertambah setelah hari Imlek. Selain itu, bentuk layaknya kelopak bunga ini juga melambangkan nasib baik dan kebahagiaan.

Sementara itu, ketika melakukan tradisi atau saat sembahyang, apabila membawa kue Mangkok ini sebagai sebuah persembahan, maka jumlahnya pun harus ganjil, seperti membawa 3 kue, 5 kue, 7 kue, 9 kue, dan seterusnya dalam satu keranjang. Sebab, angka yang ganjil itu sendiri juga mempunyai maknanya tersendiri.

Misalnya jika jumlahnya 3, hal tersebut melambangkan akhirat, dunia, dan neraka. Lalu ada juga makna lain dari angka yang berbeda. Intinya, semakin banyak jumlah kue yang diberikan, maka kemakmuran seseorang itu juga diharapkan akan semakin bertambah.

Selain itu juga ada pula kue Mangkok yang diberikan hanya 1 buah, namun memiliki bentuk yang lebih besar dimana hal ini melambangkan Tuhan yang Maha Esa.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Perjalanan Lapis Legit; Dari Orang Belanda, Kini Jadi Sajian Imlek Masyarakat Tionghoa

Koropak.co.id, 28 January 2023 12:06:43

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Perayaan Imlek selalu identik dengan berbagai hidangan yang penuh makna dan filosofi. Diketahui, salah satu makanan yang biasanya wajib tersaji di meja makan saat perayaan Imlek adalah kue lapis legit.

Bukan hanya dikarenakan cita rasanya yang manis dan enak, namun bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia, kudapan yang satu ini dipercaya mampu mendatangkan rezeki yang berlimpah. Bahkan semakin banyak lapisan pada kue lapis legit, maka semakin banyak pula rezeki yang akan diperoleh.

Masyarakat Tionghoa juga meyakini bahwa kue lapis legit sebagai simbol kemakmuran. Banyaknya lapisan kue lapis legit, melambangkan rezeki yang tidak ada habisnya. Selain itu, pembuatan lapis legit yang tergolong sulit juga menggambarkan perjuangan dalam mewujudkan impian. 

Meskipun harus bersusah payah dan menghabiskan waktu yang lama, namun nantinya akan memperoleh hasil yang memuaskan. Dari segi rasa, lapis legit memang tergolong sebagai kudapan yang sangat enak dan dunia juga telah mengakuinya. Hal itu dibuktikan dengan pernah masuknya lapis legit dalam 14 kue nasional terlezat di dunia versi Media internasional CNN Travel.

Sejak dulu sampai dengan sekarang, kudapan yang satu ini memang tak pernah absen menemani perayaan Imlek di Indonesia. Sebab, kue ini juga dianggap sebagai warisan nenek moyang. Akan tetapi pada kenyataannya lapis legit justru bukan berasal dari Indonesia, melainkan dari Belanda.

Sejarah mencatatkan bahwa sebenarnya lapis legit terinspirasi dari kue lapis hasil ciptaan orang Belanda yang dinamakan Spekkoek selama tinggal di Hindia Belanda pada masa penjajahan. Diketahui, kata Spek berarti minyak atau lemak babi yang tampak berlapis-lapis, sedangkan koek berarti bolu.

Kue tersebut biasanya dimasak untuk menggantikan speculaas yang tidak ada di Indonesia. Padahal kue ini termasuk menu wajib dalam perayaan Natal, Tahun Baru, atau pesta Sinterklaas di Belanda. Meskipun dua kue ini berbeda, namun dari segi bentuk, spekkoek sangat mirip dengan lapis legit ala Indonesia. 



Baca: Gutel, Kudapan Legendaris Aceh yang Jadi Bekal Para Pejuang Kemerdekaan


Kue itu juga bahkan terdiri dari minimal 10 lapisan. Bedanya spekkoek terbuat dari dua adonan yakni rasa vanila berwarna putih dan bumbu kue jahe (gingerbeead), sehingga menciptakan rasa manis bercampur pedas. Lapisan yang berbeda itu kemudian ditumpuk satu per satu hingga menghasilkan perpaduan warna yang cantik.

Seiring berjalannya waktu, Orang-orang peranakan Tionghoa pun mengganti resep kue spekkoek Belanda yang awalnya berbahan lemak babi dengan berbagai rempah khas Indonesia, seperti kapulaga, bunga pala, cengkeh, adas manis, dan kayu manis. 

Lalu, mereka juga menambahkan kuning telur, tepung terigu, gula, dan mentega dengan jumlah yang cukup banyak. Sementara untuk proses pembuatannya sendiri kurang lebih sama. Untuk satu adonan lapis legit, biasanya dibutuhkan 30 s.d 40 butir telur. 

Setelah bahan-bahan tercampur rata, adonan pun dituangkan ke cetakan lalu dipanggang selapis demi selapis secara terpisah. Pemanggangan setiap satu lapis ini mungkin bisa menghabiskan waktu 8 s.d 10 menit. Teknik melelahkan inilah yang pada akhirnya melahirkan nama lapis legit.

Pembuatan kue lapis legit juga terbilang sulit dikarenakan membutuhkan ketelatenan dan kesabaran untuk melapisi adonan dengan baik hingga 18 s.d 23 kali selama 4 s.d 6 jam. Kesulitan dalam pembuatan ini jugalah yang membuat lapis legit dihargai antara ratusan ribu sampai dengan jutaan rupiah untuk satu loyang berukuran 20x20 sentimeter.

Kini lapis legit sudah banyak mengalami perubahan dan modifikasi. Mulai dari segi rasa, motif lapisan, hingga bahan yang disesuaikan dengan tren dan perkembangan zaman. Sehingga membuat lapis legit pun bisa menarik lebih banyak kalangan. Biasanya beberapa perisa yang dimasukkan untuk memperkaya rasa, seperti cokelat, pandan, dan kismis.

Di samping itu, jika biasanya lapis legit bentuknya rata, namun kini ada lapis legit gulung. Beberapa varian lapis legit yang terkenal diantaranya lapis legit spekuk, lapis legit prunes, dan lapis legit bilik. 


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Jaya Suprana dan Sejarah Awal Berdirinya MURI

Koropak.co.id, 27 January 2023 12:12:42

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Tanggal 27 Januari 1990, menjadi momen bersejarah bagi Museum Rekor Indonesia atau Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Pasalnya, tanggal tersebut menjadi momen dimana MURI secara resmi berdiri di Kawasan Perindustrian Jamu Jago, Srondol, Semarang Selatan.

Adalah Jaya Suprana, yang mendirikan MURI tepat di ulang tahunnya yang ke-41 tahun pada 27 Januari 1990. Tak berdiri sendiri, pendirian MURI ini disokong oleh Perusahaan Jamu Jago sebagai ekspresi semangat pengabdian terhadap kebudayaan perusahaan jamu tertua di Indonesia itu.

Diketahui, Jaya Suprana merupakan tokoh Indonesia yang dikenal multitalenta atau ahli dalam banyak bidang. Sehingga ia pun bisa disebut sebagai seorang pianis, kartunis, budayawan, pemerhati sosial, hingga pengusaha. Bahkan ketika menyebut namanya saja, terkadang akan membuat kita teringat dengan MURI.

Saat itu, peresmian tersebut disahkan oleh dua Menteri Koordinator Republik Indonesia, yaitu Menko Kesra Supardo Rustam dan Menko Polkam Sudomo. Selain itu, turut hadir pula Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) kala itu, Ibnu Sutowo, dan Gubernur Jawa Tengah, Ismail.

Seiring berjalannya waktu, masyarakat memberikan respons baik terhadap museum ini. Bahkan rekor-rekor yang diciptakannya juga tidak hanya terbatas di Indonesia saja, melainkan juga sampai ke tingkat dunia. Maka dari itulah namanya pun berubah.



Baca: Sejarah Terbentuknya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)


Setelah ada peresmian galeri MURI di kawasan wisata Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah pada April 2005 lalu, diselipkan kata "Dunia" pada MURI. Sehingga dari nama awalnya Museum Rekor Indonesia, menjadi Museum Rekok-Dunia Indonesia. 

Tercatat hampir satu dekade kemudian atau tepatnya pada 2014, MURI secara resmi membuka Galeri di Mall of Indonesia, Jakarta, yang secara khusus menampilkan koleksi rekor-rekor dunia.

Dilansir dari laman resmi MURI, pada awal dekade 2000, istri Jaya Suprana, Aylawati Sarwono mulai berperan sebagai Direktur MURI yang gigih dalam mengembangkan manajemen MURI agar menjadi lebih profesional melalui lembaga Institut Prestasi Nusantara. 

Selain itu, kumpulan rekor MURI juga telah dibukukan dengan judul Rekor-Rekor MURI yang disunting oleh Aylawati Sarwono dan diberi kata sambutan oleh Presiden RI. 

Selain menjadi lembaga pencatat rekor, MURI juga berfungsi sebagai lembaga swadaya masyarakat. Kemudian setiap tahunnya juga, MURI aktif dalam menghimpun data dan capaian prestasi yang diterima anak bangsa.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Mengenang 42 Tahun Tenggelamnya KMP Tampomas II di Perairan Masalembo

Koropak.co.id, 27 January 2023 07:01:27

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Hari ini, 48 tahun lalu atau tepatnya tanggal 27 Januari 1981 silam, Kapal Motor Penyebrangan (KMP) Tampomas II terbakar dan tenggelam di Perairan Masalembo, Laut Jawa. 

Kala itu, kapal yang dikelola PT Pelni ini tengah berlayar dari Jakarta menuju Ujungpandang (sekarang Makassar) sejak 24 Januari 1981. Terhitung sejak 1980-an, KMP Tampomas yang sebelumnya digunakan untuk melayani perjalanan haji itu menjadi salah satu kapal laut yang melayani penumpang antarpulau. 

Lalu, bagaimana kronologi kejadian tenggelamnya KMP Tampomas II di Perairan Masalembo ini?

Diceritakan bahwa tanda-tanda musibah itu sebenarnya sudah terlihat dari rusaknya salah satu mesin kapal sebelum bertolak dari Dermaga Tanjung Priok. Kapal yang dijadwalkan sudah sampai di Makassar sekitar pukul 10.00 WIB pagi pada 26 Januari 1981 itu pun pada akhirnya tidak pernah sampai tujuan, dan karam untuk selama-lamanya. 

Kapal yang saat itu sudah berusia 25 tahun tersebut dinakhodai Kapten Abdul Rivai dengan estimasi seluruh penumpang saat itu, termasuk awak kapal dan sekitar 300 "penumpang gelap" sebanyak 1.442 orang. Tak hanya itu, KMP Tampomas II juga mengangkut 191 mobil dan sekitar 200 sepeda motor serta mesin giling.

Api pertama kali muncul sejak 25 Januari 1981 malam dan mulai menjalar hingga ke bagian dek bawah kapal dengan cepat. Selain itu, hujan deras yang mengguyur Laut Jawa pada keesokan harinya membuat proses evakuasi berjalan lambat. Kebakaran itu berawal dari beberapa bagian mesin yang mengalami kebocoran bahan bakar.

Kebocoran tersebut disebabkan oleh badai besar yang melanda perairan. Akibatnya, kapal pun miring hingga 45 derajat. Kemudian setelah itu muncul asap disertai api yang mulai membesar. Kejadian itu pun membuat penumpang mengalami kepanikan hingga beberapa penumpang memutuskan terjun ke laut.

Kapal Pelni atau kapal lain yang ada di sekitar kapal Tampomas II saat itu juga diperintahkan untuk mendekat dan memberikan pertolongan. Beberapa kapal yang diperintahkan mendekat saat itu di antaranya Wayabula, Ilmanul, Brantas, dua kapal penyapu ranjau Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI-AL), dan sebuah kapal navigasi Perhubungan Laut. 

Pada 27 Januari 1981, sekitar pukul 12.42 WIB, KMP Tampomas II akhirnya tenggelam, meskipun berbagai usaha penyelamatan telah dilakukan. Kapal berbobot 2.420 ton itu tenggelam di Selat Makassar dekat Pulau Masalembo, atau sekitar 22 mil laut menjelang pelabuhan tujuan Ujungpandang. 



Baca: Tenggelamnya KRI Nanggala 402 Tambah Daftar Panjang Kecelakaan Kapal Selam


Sementara itu hingga 27 Januari 1981 malam hari, setidaknya ada 566 orang penumpang yang berhasil diselamatkan ke atas kapal-kapal yang datang menolong. Upaya penyelamatan tak berjalan maksimal akibat terkendala cuaca buruk. 

Bahkan Pesawat Albatros UF-Skuadron Udara-5 TNI Angkatan Udara (AU) yang bermaksud mendarat di perairan sekitar lokasi kejadian harus mengurungkan rencana pendaratan akibat hujan, angin kencang, dan gelombang besar setinggi 7 s.d 10 meter yang terjadi di lokasi kejadian.

Tak hanya itu saja, di udara juga terhalangi oleh kabut tebal. Sehingga, untuk menemukan lokasi Kapal Tampomas II, pesawat Albatros pun harus terbang rendah sekitar 350 s.d 500 kaki dari permukaan laut. Seiring berjalannya waktu, peristiwa tenggelamnya KMP Tampomas II pun dikenang sebagai tragedi kemanusiaan yang sangat memilukan. 

Peristiwa ini juga tercatat sebagai musibah terbesar dalam sejarah maritim nasional, sekaligus juga menjadi musibah ketiga yang tergolong terbesar di dunia saat itu. 

Pasalnya musibah ini menelan korban jiwa hingga 431 orang meninggal dunia, baik itu penumpang maupun awak kapal. Disebutkan bahwa kecelakaan kapal itu berasal dari percikan api di kabin kendaraan. Percikan api itu pun kemudian membesar hingga menjalar ke seluruh bagian kapal. 

Kebakaran tersebut juga diduga akibat rendahnya disiplin penumpang dan awak kapal tentang keselamatan pelayaran, di antaranya tidak mematuhi larangan merokok di tempat-tempat tertentu, seperti kabin kendaraan selama pelayaran. 

Selain rendahnya disiplin penumpang, tenggelamnya KMP Tampomas II juga diakibatkan oleh awak kapal yang tidak memahami cara dan prosedur penggunaan semua peralatan pertolongan. 

Belakangan diketahui bahwa baju pelampung (life jacket) ternyata tidak dapat digunakan untuk penumpang awam serta radio portabel yang seharusnya ada di dalam sekoci juga tidak berada di tempatnya. Atas keteledoran itu, sejumlah awak kapal pun mendapat sanksi administratif oleh Mahkamah Pelayaran.

Peristiwa kecelakaan KMP Tampomas II juga diabadikan dalam sebuah lagu oleh musisi legendaris, Ebiet G. Ade dengan lagunya yang berjudul "Sebuah Tragedi 1981". Tak hanya Ebiet G. Ade, musisi legendaris lainnya, Iwan Fals juga turut mengabadikannya dalam lagu berjudul "Celoteh Camar Tolol".


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Selalu Ada dalam Upacara Adat Batak, Inilah Kue Nitak

Koropak.co.id, 26 January 2023 15:10:45

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Sumatra Utara - Suku Batak yang menghuni wilayah Provinsi Sumatra Utara terkenal dengan adat-istiadatnya yang masih terjaga dengan baik. Tak ayal, berbagai upacara pun kerap mengiringi aktivitas sehari-hari masyarakat Batak, mulai dari panen padi, memperoleh pekerjaan, keagamaan, pernikahan, kelahiran, hingga kematian.

Menariknya lagi, mayoritas upacara adat Batak ini akan selalu diakhiri dengan makan bersama. Kemudian dalam setiap upacara suku ini, setidaknya ada lima kue tradisional yang wajib dihidangkan. Bahkan saking sudah melekatnya dengan adat istiadat Suku Batak, salah satu kue tersebut juga sudah terdaftar sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dari Sumatra Utara.

Salah satu kue tradisional khas Batak itu adalah Nitak. Bisa dikatakan, kue tradisional yang berasal dari Simalungun ini terbilang sangat spesial. Alasannya dikarenakan kudapan khas Batak itu hanya bisa dijumpai pada acara-acara adat tertentu saja.

Dilansir dari laman warisanbudaya.kemdikbud.go.id, nitak ini terbuat dari bahan dasar beras. Kuliner tradisional yang identik sebagai makanan adat tersebut hanya disajikan dalam acara adat tertentu saja dan biasanya akan disajikan pada kegiatan bersifat ritual seperti perkawinan, kematian, menempati rumah baru, menyekolahkan anak dan lainnya.

Meskipun begitu, bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat Nitak ini tidak tergolong sulit untuk didapatkan. Selain beras, bahan yang harus ada untuk membuat kudapan yang satu ini, diantaranya lada hitam, garam, kencur, gula merah dan jahe.



Baca: Tahu Pong dan Eksistensi Etnis Tionghoa di Semarang


Jangan lupa juga untuk menyediakan dua buah kelapa, dengan rincian satu buah yang sudah di sangrai atau gongseng dan satunya lagi mentah. kendati tergolong sebagai makanan adat, namun cara membuat Nitak ini tidak terlalu sulit. 

Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah menumbuk beras dengan menggunakan alat tumbuk tradisional atau lesung kurang lebih selama setengah jam hingga halus. Setelah itu, masukkan lada hitam, kencur, jahe, kelapa mentah, kelapa yang sudah disangrai dan gula merah. 

Setelah lengket dan menjadi adonan, maka Nitak pun siap untuk dihidangkan. Biasanya nitak ini akan disajikan dengan pisang dan telur bulat yang sudah matang. Nitak memiliki ciri khas yang terletak pada cita rasanya yang manis berpadu dengan rasa lada. 

Dengan keunikan yang dimilikinya itu, membuat kuliner khas Batak ini cocok untuk dijadikan sebagai makanan penutup setelah mencoba makanan yang bercita rasa gurih dan pedas.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Menapaki Sejarah Kerajaan Kutai, Kerajaan Hindu Tertua di Indonesia

Koropak.co.id, 26 January 2023 07:09:37

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Kalimantan Timur - Kerajaan Kutai dikenal sebagai kerajaan Hindu tertua di Indonesia yang berdiri pada abad ke-4 atau sekitar 400 Masehi. Kerajaan Kutai terletak di daerah Muara Kaman yang berada di hulu Sungai Mahakam, Kalimantan Timur dan menguasai seluruh area tersebut.

Kerajaan Kutai dipengaruhi oleh kebudayaan India. Alasannya dikarenakan saat itu banyak pendatang dari India dengan kebudayaan yang dibawanya ke Indonesia, hingga disebarkan ke seluruh negeri.

Kerajaan Kutai juga memiliki catatan sejarah yang cukup panjang. Selain itu, kerajaan ini memiliki hubungan perdagangan yang baik dengan India, meskipun Kerajaan Kutai sendiri tidak terletak di jalur perdagangan Nusantara. Diketahui, dari sinilah awal penyebaran pengaruh Hindu dimulai.

Dilansir dari laman GNFI, diceritakan pada awalnya Kerajaan Kutai merupakan kelompok masyarakat berbentuk suku. Namun sejak kedatangan Hindu, terjadilah perubahan pada sistem pemerintahannya. Tercatat, bukti yang menunjukkan bahwa adanya pengaruh India ke dalam kelompok itu adalah adanya Yupa yang dibuat sekitar abad ke-5.

Selain itu juga diketahui bahwa Raja Pertama Kutai adalah Kudungga yang merupakan warga asli Indonesia yang belum memeluk agama Hindu. Dari penemuan tujuh Yupa atau Prasasti ini, terlihat bahwa Kerajaan Kutai memiliki hubungan perdagangan dengan India. 

Yupa tersebut berbentuk monumen batu dan menggunakan Bahasa Sansekerta dengan huruf Pallawa. Mulai dari Yupa inilah nama Kutai diketahui oleh para ahli mitologi, hingga prasasti ini pun menjadi informasi tentang kerajaan ini berada. Bahkan Yupa ini juga merupakan peninggalan asli dari pengaruh agama Hindu dan Buddha.

Yupa tersebut memiliki 3 fungsi utama, yaitu sebagai prasasti, tiang pengikat hewan untuk upacara korban keagamaan, serta lambang kebesaran raja. Sementara itu, Sansekerta pada Yupa itu adalah bahasa klasik India yang merupakan sebuah bahasa liturgis dalam kepercayaan kepada tuhan Hindu, Buddha dan Jainisme. 

Dari penemuan Yupa inilah, para ahli mitologi menyimpulkan bahwa Kerajaan Kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia. Selain mengetahui letak Kerajaan Kutai, Yupa itu juga turut memberikan informasi mengenai nama-nama raja dan salah satunya adalah Raja Kudungga sebagai pendiri Kerajaan Kutai.

 


Baca: Kisah Kebesaran Kerajaan Majapahit


Nama Kudungga sendiri adalah nama asli dari Indonesia karena dari namanya belum terpengaruh dengan penggunaan bahasa India. Sementara, Raja Mulawarman dan Aswawarman, sudah banyak terpengaruh budaya Hindu dari India. 

Kata Warman pada penamaan Raja Kutai ini berasal dari bahasa Sansekerta, sehingga banyak yang mengatakan bahwa Kerajaan Kutai memiliki corak Hindu dan kental dengan kebudayaan India. Setidaknya ada 20 generasi raja dari Kerajaan Kutai, beberapa diantaranya yaitu Maharaja Kudungga dengan gelar Anumerta Dewawarman sebagai pendiri Kerajaan Kutai.

Kemudian ada Maharaja Aswawarman, anak dari Raja Kudungga, dan Maharaja Mulawarman yang merupakan raja paling terkenal di Kerajaan Kutai. Selanjutnya ada Maharaja Marawijaya Warman, Maharaja Gajayana Warman, Maharaja Tungga Warman, Maharaja Jayanaga Warman, Maharaja Nalasinga Warman, Maharaja Gadingga Warman Dewa hingga Maharaja Dharma Setia.

Kerajaan Kutai sendiri berhasil mencapai puncak kejayaan saat berada di masa pemerintahan Raja Mulawarman yang dikenal sebagai raja yang kuat dengan budi pekertinya yang baik.

Bahkan disebutkan juga sang raja pernah mengadakan acara persembahan 20 ribu ekor lembu untuk kaum Brahmana di Waprakeswara, tempat suci yang merupakan perpaduan budaya India dan Indonesia saat itu. Masa kejayaan Raja Mulawarman tersebut juga tertulis pada prasasti Yupa. 

Diceritakan juga bahwa terdapat dua kerajaan yang ada di Kutai dengan nama yang cukup sama, yaitu Kerajaan Kutai Martadipura dengan masyarakatnya yang menganut agama Hindu, dan Kesultanan Kutai Kartanegara yang masyarakatnya menganut ajaran Islam. 

Awalnya kedua kerajaan itu hidup berdampingan, akan tetapi suatu ketika terjadi perselisihan yang di mana Kerajaan Kutai Martadipura dipimpin oleh Raja Dharma Setia dan Kesultanan Kutai Kartanegara dipimpin oleh Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa.

Akibatnya pada 1635, terjadilah peperangan di antara kedua kerajaan tersebut hingga menewaskan Raja Dharma Setia di tangan Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa. Sehingga semenjak itulah, wilayah kekuasaan Kerajaan Kutai pun berada di bawah kendali Kesultanan Kutai Kartanegara.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Sejarah Lahirnya Hari Gizi Nasional

Koropak.co.id, 25 January 2023 07:00:22

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Tanggal 25 Januari setiap tahunnya di Indonesia diperingati sebagai Hari Gizi Nasional. Peringatan Hari Gizi Nasional juga bertujuan untuk memupuk pentingnya memenuhi nutrisi sehat dan seimbang. Selain itu, Hari Gizi Nasional juga mengemban tugas wajib tahunan Indonesia yakni terbebas dari stunting. 

Sementara tujuan lain diperingatinya Hari Gizi Nasional adalah untuk menciptakan produksi pangan berkelanjutan bagi masyarakat, mulai dari anak-anak hingga ibu hamil. Sehingga mulai dari sanalah, Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) akan tercipta. Bahkan Hari Gizi Nasional juga bisa dijadikan sebagai patokan negara sehat berprestasi.

Tercatat, sampai dengan saat ini Hari Gizi Nasional berfokus terhadap tiga beban utama yakni stunting, kekurangan, dan kelebihan gizi. Berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia 2021 menyatakan bahwa ketiga beban utama tersebut memiliki persentase yang besar meskipun mengalami penurunan setiap tahunnya.

Lantas, bagaimana sejarah awal Hari Gizi Nasional ini diperingati?

Sejarah Hari Gizi Nasional ini bermula dari upaya perbaikan gizi yang dicetuskan pada 1950-an oleh Prof Poorwo Seodarmo, yang secara bersamaan dengan dilantiknya Prof Poorwo Soedarmo menjadi Kepala Lembaga Makanan Rakyat (LMR) oleh Menteri Kesehatan, Dokter J Leimena.


Baca: Sejarah Lahirnya Hari Braille Sedunia

Namun, pada masa itu, penyebutan Lembaga Makanan Rakyat (LMR) masih disebut Instituut Voor Volksvoeding (IVV). Meskipun penyebutan LMR juga masih tidak spesifik, akan tetapi dalam perjalanannya LMR melakukan pengkaderan yang disahkan pada 25 Januari sebagai langkah untuk memenuhi tenaga gizi Indonesia dan Sekolah Juru Penerang Makanan. 

Berawal dari sanalah peringatan tersebut diresmikan sebagai peringatan Hari Gizi Nasional. Berkat program itu jugalah, Prof Poorwo Soedarmo selanjutnya diangkat menjadi Bapak Gizi Indonesia. Kemudian sejak 1970-an jugalah hari penting ini berpindah tangan dari LRM ke Direktorat Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan.

Sementara itu, untuk peringatan Hari Gizi Nasional 2023 sendiri mengambil tema "Protein Hewani Cegah Stunting". Tema yang dipilih tersebut mencakup protein hewani layaknya susu, aneka ikan, telur, dan daging-dagingan yang menjadi pokok utama sebagai langkah penurunan risiko stunting atau kekurangan gizi kronis.

Adapun pengambilan tema itu dipertimbangkan dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) dan Food and Agriculture Organization of United States yang menunjukkan bahwa konsumsi protein hewani di Indonesia masih terbilang rendah di taraf global.

Oleh karena itulah, pada akhirnya tema tersebut ditetapkan Kemenkes sebagai tema untuk peringatan Hari Gizi Nasional 2023. Selain itu, Hari Gizi Nasional turut membuat program dalam panduan gizi sehat seimbang yang diberi nama Isi Piringku.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Spirit Hari Pendidikan Internasional 2023, Revitalisasi Investasi Manusia

Koropak.co.id, 24 January 2023 07:03:38

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Pendidikan menjadi suatu aspek penting yang tak dapat dipisahkan dari pembangunan suatu bangsa. Pasalnya, tanpa pendidikan yang baik, maka generasi penerus tidak akan memiliki kompetensi untuk membangun negara ke arah yang lebih baik. 

Selain itu, permasalahan mengenai pendidikan sering menjadi bahasan penting dalam berbagai forum. Bahkan di tataran internasional, permasalahan seputar dunia pendidikan tersebut hingga saat ini masih terus menjadi perhatian banyak pihak. 

Oleh karena itulah, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memproklamirkan Hari Pendidikan Internasional atau International Day of Education setiap 24 Januari, untuk merayakan peran pendidikan bagi perdamaian dan pembangunan dunia.

Lantas, bagaimana latar belakang sejarah Hari Pendidikan Internasional ini? 

Berdasarkan sejarahnya, titik balik Hari Pendidikan Internasional ini bisa dilacak dari Konvensi Hak Anak yang dicetuskan PBB pada 1989-an. Pasalnya, konvensi tersebut mengatur tentang apa yang harus dilakukan negara agar setiap anak dapat tumbuh dengan sehat, bersekolah, terlindungi, didengar pendapatnya, serta diperlakukan secara adil oleh publik.

Seiring berjalannya waktu, tepatnya pada 2015, agenda mengenai masa depan anak-anak itu pun pada akhirnya dirumuskan dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Dunia pada 2030. Diketahui, pokok dari perumusan tersebut adalah menjadikan pendidikan sebagai bahasan utama yang dibicarakan dalam lanskap global.

Kemudian pada 2018, Majelis Umum PBB akhirnya mengadopsi resolusi yang menyatakan bahwa setiap 24 Januari diperingati sebagai Hari Pendidikan Internasional. Resolusi tersebut dilakukan untuk menandai betapa pentingnya akses pendidikan yang baik dalam perdamaian dan pembangunan masyarakat dunia. 



Baca: Mengungkap Sejarah Hari Layang-Layang


Dalam resolusi itu, 59 negara sepakat untuk ikut serta dalam memperkuat akses pendidikan. Selain itu juga turut digalakkan pendidikan yang transformatif demi kesetaraan dan kualitas yang inklusif bagi semua orang, agar menjadikan dunia yang lebih baik untuk ke depannya. 

Sebab menurut PBB, tanpa adanya pendidikan yang baik dan layak, hal tersebut akan mempengaruhi suatu negara untuk mencapai kesetaraan gender. Tak hanya itu saja, proses pendidikan yang inklusif juga dapat memutus siklus kemiskinan yang menyebabkan jutaan anak, remaja, dan orang dewasa tertinggal.

Berdasarkan data United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), diperkirakan lebih dari 244 juta anak tidak bersekolah, dan 771 juta orang dewasa mengalami kondisi buta huruf. 

Tercetusnya Hari Pendidikan Internasional yang memiliki sejarah yang panjang ini juga pastinya tak terlepas dari sederet tujuan krusial yang perlu digalakkan, diantaranya sebagai sarana evaluasi pendidikan bagi kehidupan manusia, dan sebagai medium identifikasi sekaligus penyelesaian problematika atas pendidikan untuk manusia.

Tujuan lainnya dari Hari Pendidikan Internasional ini adalah memastikan anak-anak bisa mendapatkan pendidikan dasar dan menengah yang layak, merancang masa depan bagi anak-anak dengan pendidikan yang memadai, serta menggerakan pemuda dalam pemajuan pendidikan.

Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Internasional Tahun 2023, UNESCO sebagai penyelenggara peringatannya pun secara resmi telah merilis tema tahunannya. Dilansir dari situs resminya, tema peringatan Hari Pendidikan Internasional 2023 adalah "To Invest in People, Prioritize Education" atau "Berinvestasi pada Manusia, Memprioritaskan Pendidikan".

Tema tersebut dipilih sebagai pengingat akan pendidikan yang harus diprioritaskan, untuk mempercepat kemajuan menuju pembangunan berkelanjutan. Selain itu juga, semua orang di seluruh dunia diharapkan bisa mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan yang berkualitas.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini: