Sekilas Tentang Raden Saleh, Maestro Seni Rupa Indonesia yang Mendunia

Koropak.co.id, 09 December 2021 13:07:25
Penulis : Eris Kuswara
Sekilas Tentang Raden Saleh, Maestro Seni Rupa Indonesia yang Mendunia

 

Koropak.co.id - Di dunia seni rupa, nama Raden Saleh sangat populer. Ketokohan dan karya-karyanya memiliki posisi penting dalam perkembangan seni rupa Indonesia.

Karya-karyanya banyak dikoleksi oleh penimat seni seluruh dunia. Ia harum. Dan mengharumkan bangsa Indonesia.

Nama lengkapnya Raden Saleh Sjarief Bustaman. Merupakan bumiputra Jawa pertama yang mendapatkan privilese untuk belajar melukis di Eropa atas beasiswa pemerintah Belanda.

Klaim ini bukan sepihak. Diakui sejumlah penulis dan peneliti. Banyak yang menyebut, Raden Saleh sebagai ‘manusia modern’ Jawa pertama yang memiliki pola pikir ala Barat.

Tercatat, dia menghabiskan 25 tahun masa hidupnya di Eropa (Belanda, Jerman, Prancis, Italia dan Inggris) dalam pergaulannya di kalangan elit aristrokat dan intelektual.

Selain menjadi seorang pelukis, Raden Saleh juga dikenal sebagai kolektor dokumen etnografi dan arkeologi, arsitek, paleontolog, perancang pertamanan, pendiri berbagai taman marga satwa, serta perancang busana.

Dilansir dari kebudayaan.kemendikbud.go.id, Raden Saleh dilahirkan sekitar tahun 1811 di Terboyo, Semarang dalam lingkungan keluarga Jawa ningrat keturunan Arab.

Dikarenakan ayahnya yang meninggal pada usia muda, Raden Saleh pun dididik oleh pamannya yang ketika itu menjabat sebagai Bupati Semarang, Raden Adipati Sura-adimanggala.

Di rumah pamannya itulah minat Raden Saleh kepada kesenian mulai tumbuh. Pada tahun 1819, Gubernur Jenderal van der Capellen mengajak Raden Saleh muda ke Bogor dan diantarkan kepada Professor Caspar Georg Carl Reinwardt untuk kemudian dititipkan kepada pelukis Auguste Antoine Joseph Payen.

Teknik melukisnya yang baik itu, membuatnya kemudian tergabung bersama Payen dalam tugas penelitian Professor Reinwardt sepanjang 1819-1822.

Sementara itu, akibat meletusnya Perang Jawa pada tahun 1825 yang di mana pamannya ditangkap pemerintah kolonial Belanda, Raden Saleh pun memutuskan untuk tidak kembali ke Semarang.

Raden Saleh kemudian tinggal di Cianjur setelah diterima pada dinas administrasi rendah pemerintah kolonial Belanda. Ia yang tumbuh mendambakan hidup di tengah peradaban Eropa, pada tahun 1829 berkesempatan mewujudkan mimpinya setelah menerima tawaran berangkat ke Belanda untuk bekerja pada Jean Baptiste de Linge, sekretaris keuangan pemerintahan kolonial Belanda.

Setibanya di Antwerpen, Raja Belanda kalau itu menyetujui beasiswa untuk Raden Saleh selama 2 tahun, yang kemudian selama beberapa kali diperpanjang.

Di Den Haag, Raden Saleh mulai belajar pada Cornelius Kruseman (1797-1857), pelukis potret dan lukisan sejarah, serta Andreas Schelfhout (1787-1870), pelukis pemandangan alam.

 

 


Baca : I Nyoman Masriadi, Seniman Bali dengan Berbagai Karya Fenomenalnya

Ia juga kemudian berpindah dari kota ke kota di Eropa seperti Duesseldorf, Frankfurt, Berlin, Dresden, Coburg dan berakhir di Paris yang di mana dia meraih pencapaian tertingginya ketika lukisannya Berburu Rusa di Jawa diikutsertakan pada Pameran Salon tahun 1847 dan dibeli oleh Raja Louis Phillippe.

Pada tahun 1851, Raden Saleh kembali ke Jawa dan sempat kembali berkunjung ke Eropa pada tahun 1870.

Sepanjang kariernya, Raden Saleh mengerjakan karya lukisan potret, pemandangan alam, dan tema-tema Romantik seperti perburuan binatang, badai di lautan, dan bencana alam. Karya-karyanya juga turut menyangkut kehidupan manusia dan binatang yang bergulat dalam tragedi.

Meskipun berada dalam bingkai Romantisisme, namun tema-tema karya dari lukisannya itu sendiri bervariasi, dramatis, dan mempunyai elan vital yang tinggi.

Kendati begitu, Raden Saleh ternyata belum sadar (sepenuhnya) untuk berjuang menciptakan seni lukis Indonesia. Akan tetapi, dorongan hidup yang diungkapkan tema-temanya itu sangat inspiratif bagi seluruh lapisan masyarakat.

Terlebih lagi bagi kaum terpelajar pribumi yang sedang bangkit nasionalismenya. Satu-satunya lukisan historis yang diciptakannya sekaligus merupakan karya utama dari Raden Saleh adalah Penangkapan Pangeran Diponegoro (1957).

Sedangkan karya lainnya yang sering disinggung dalam literatur adalah Banjir di Jawa (1862) yang terinspirasi dari Rakit Medusa (1818) karya Theodore Gericault.

Tak hanya itu saja, karya-karya Raden Saleh ternyata turut dikoleksi oleh kolektor dan museum terpandang di Eropa hingga Amerika. Seperti Museum Louvre di Perancis, Rijksmuseum di Belanda, dan Smithsonian American Art Museum di Amerika Serikat.

Galeri Nasional Indonesia juga turut memiliki koleksi beberapa karya Raden Saleh, salah satunya adalah Kapal Karam Dilanda Badai (c. 1840).

Semasa hidupnya, Raden Saleh juga memiliki beberapa murid, diantaranya Raden Salikin (putra dari saudara sepupu lelakinya), Raden Koesomadibrata dan Raden Mangkoe Mihardjo (keduanya merupakan anak muda Sunda keturunan bangsawan).

Diketahui juga karya dari muridnya yakni lukisan cat minyak Raden Koesoemadibrata dikoleksi oleh Tropenmuseum Amsterdam berupa potret Raden Wangsajuda, patih dari Bandung dan potret Raden Adipati Aria Kusumadiningrat, Bupati Galuh.

Sedangkan 21 lembar karya litografi Raden Mangkoe Mihardjo juga ternyata pernah dipamerkan pada Internationale Koloniale en Uitvoerhandel Tentoonstelling tahun 1883 di Amsterdam.

Belakangan, Raden Soma dan Lie Kim Hok pun untuk beberapa waktu sempat menjadi murid Raden Saleh. Raden Saleh tutup usia di Bogor pada 23 April 1880.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 

Komentar

Muhamad Musa, Pelopor Kesusastraan Cetak Sunda

Koropak.co.id, 09 August 2022 07:22:32

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Barat - Raden Hadji Moehamad Moesa atau yang lebih dikenal juga dengan Muhamad Musa merupakan seorang sastrawan, penghulu, sekaligus ulama kelahiran Garut, 1822. Ia berasal dari keturunan bangsawan, putra Raden Rangga Suryadikusumah, seorang patih dari Kabupaten Limbangan (sekarang Kabupaten Garut). 

Pendidikannya ditempuh di sebuah pesantren di Purwakarta. Saat ada waktu luang, Muhamad Musa belajar pengetahuan umum, khususnya mengenai sosial budaya Sunda. Selain itu, ia juga turut mempelajari keterampilan yang berkaitan dengan birokrasi pemerintahan.

Saat usianya masih muda, ia diajak oleh ayahnya untuk menunaikan ibadah haji. Dikarenakan ingin lebih fokus dalam bidang keagamaan, sekitar 1852, Muhamad Musa menolak tawaran Pemerintah Hindia Belanda yang memberikan tawaran untuk menjadikannya sebagai kepala gudang.

Tiga tahun kemudian atau tepatnya pada 1855, Pemerintah Hindia Belanda mengangkatnya sebagai Hoofdpanghoeloe atau penghulu besar di Kabupaten Limbangan. Ia bertugas mengurusi segala hal yang berkaitan dengan keagamaan Islam, mulai dari kelahiran, kematian, dakwah, hingga pernikahan.

Semasa hidupnya, Muhamad Musa bersahabat dengan pengusaha ladang teh berkebangsaan Belanda di Cikajang, K. F. Holle yang merupakan penasihat Pemerintah Hindia-Belanda. Hubungan erat yang terjalin antara Musa dengan Holle itu ternyata menguntungkan kedua belah pihak. 



Baca: Heri Dono, Seniman Indonesia yang Mendunia


Bagi Musa, ia merasa beruntung karena hubungan yang dijalinnya itu dapat mempermudahkan pergaulannya dengan bangsa Belanda. Bahkan, pandangan Pemerintah Hindia-Belanda kepada dirinya menjadi baik hingga membuatnya sangat dipercayai.

Dikarenakan jasa-jasa yang telah dilakukannya, Musa pernah dijanjikan jabatan tinggi sampai tujuh keturunan oleh Pemerintahan Hindia-Belanda. Selain itu, berkat hubungan erat persahabatannya dengan Holle, Musa juga diperbolehkan untuk mengembangkan bakat atau minat menulis dan mengarangnya, hingga dia mampu menciptakan karya-karya terbaiknya.

Tercatat, Musa berhasil menciptakan karya mulai dari hasil karangan sendiri maupun hasil terjemahan yang boleh dicetak sampai dengan ribuan eksemplar di Batavia (sekarang Jakarta) hingga membuatnya mendapatkan julukan sebagai "Pelopor Kesusastraan Cetak Sunda".

Sebagai pengarang, sejumlah karya berhasil diciptakannya, salah satunya Wawacan Panji Wulung (1871). Karya lain yang telah dicetak di antaranya Wawacan Raja Sudibya, Wawacan Wulang Krama, Wawacan Dongeng-dongeng, Wawacan Wulang Tani (1862), Carita Abdurahman jeung Abdurahim, Wawacan Seca Nala (1863), Ali Muhtar, Elmu Nyawah (1864), Wawacan Wulang Murid, Wawacan Wulang Guru (1865), Dongeng-dongeng nu Araneh (1866), Dongeng-dongeng Pieunteungeun (1867), Wawacan Lampah Sekar (1872) hingga Santri Gagal, Hibat (1881).


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Heri Dono, Seniman Indonesia yang Mendunia

Koropak.co.id, 30 July 2022 12:02:35

Fauziah Djayasastra


Koropak.co.id, Jakarta - Awal tahun lalu, Galeri Nasional Indonesia memproduksi film dokumenter berjudul Heridonology yang ditujukan untuk Heri Dono. Lantas, siapa sosok tersebut?

Heri Dono adalah seniman kontemporer asal Yogyakarta dan merupakan seniman Indonesia pertama yang berhasil menembus art scene global di tahun ’90-an. Pria yang lahir pada 12 Juni 1960, itu mengawali karier pada tahun '80-an.

Mengingat debutnya sejak tahun 1980, Heri tentu punya jam terbang tinggi dan kaya akan pengalaman. Tak heran jika sejak mengenyam pendidikan di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, Heri menyabet dua penghargaan lukisan terbaik pada tahun 1981 dan 1985. 

Heri dikenal sebagai seniman dengan karya instalasi kontemporer dimana karya-karyanya dominan terinspirasi dari wayang. Dia berupaya memadukan elemen dalam gelaran wayang seperti humor, kritik sosial, mantra, mitos-mitos kehidupan, storytelling, suara, dan visual yang digabungkan dalam narasi serta elemen multimedia.



Baca: Mustofa W. Hasyim, Sejak Kecil Candu Baca Buku


Lewat karya kreatifnya, Heri Dono merevitalisasi seni dari tradisi Indonesia. Dalam karya lukisnya, Heri banyak mengangkat keliaran dan fantasi pewayangan dan menambahkannya pada film animasi, kartun anak, maupun komik.

Heri Dono tercatat sudah berpartisipasi lebih dari 300 pameran dan 35 biennial internasional. Beberapa biennial internasional yang pernah dihadiri Heri diantaranya Asia Pasific Triennial (1993 dan 2002), Gwangju Binnale (1995 dan 2006, Sydney Biennale (1996), Sao Paolo Biennial (1996 dan 2004), dan Havana Biennial (2000).

Selain itu, dia juga mengikuti Sanghai Biennale (2000), Yokohama Triennial (2001), Venice Biennale (2003), the 50th Venice Biennale in the Arsenale’s Zone of Urgency (2003) Taipei Biennial (2004, Sharjah Biennial (2005), Guangzhou Triennial (2011), the 56th Venice Biennale: Voyage-Trokomod (2015), Bangkok Art Biennale (2018), serta Kochi-Muziris Biennale (2018).

Heri juga tercatat meraih sejumlah penghargaan, diantaranya Dutch Prince Clause Award for Culture and Development (1998), UNESCO Prize (2000), serta Anugerah Adhikarya Rupa dari Pemerintah Indonesia (2014).


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Mustofa W. Hasyim, Sejak Kecil Candu Baca Buku

Koropak.co.id, 02 July 2022 12:47:18

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Sastrawan yang satu ini terbilang produktif dalam menulis. Bukan hanya puisi atau cerita pendek, ia juga menulis novel dan esai. Karya-karyanya telah dipublikasikan di sejumlah surat kabar dan terhimpun dalam berbagai antologi.

Dialah Mustofa W. Hasyim. Putra pasangan Muh. Wazir Hasyim dan Darimah itu lahir di Yogyakarta, 17 November 1954. Sedari kecil ia memang sudah dekat dengan buku. Saat sekolah di SD Muhammadiyah Bodon Kotagede, ia sering mampir ke Pasar Legi untuk baca buku.

Saking rajinnya membaca buku di sana, Mustofa kecil pernah ditegur oleh pedagang buku, karena hanya membaca tapi tidak membeli. Setelah itu ia rajin membeli buku menggunakan uang yang seharusnya dipakai untuk jajan.

Selain gairahnya dalam membaca buku yang luar biasa, satu hal lagi yang patut diacungi jempol dari Mustofa adalah semangatnya untuk berhemat. Meskipun ia rutin ke pasar untuk membeli satu buku, namun ia juga turut memanfaatkan waktunya dengan membaca lima buku. Kegemarannya dalam membaca telah mengantarkannya pada kondisi sekarang.

Kendati keluarganya bukan seniman, berkat kerja kerasnya dengan selalu belajar, Mustofa gemilang dalam bidang seni sastra.  Apalagi, saat menempuh sekolah menengah, Mustofa aktif di berbagai komunitas sastra dan teater.

Selain mengenyam pendidikan formal, Mustofa juga mengikuti pendidikan nonformal dengan belajar di Balai Pendidikan Wartawan Jakarta. Ia pun terus mengembangkan diri dengan belajar di berbagai komunitas, seperti di Sanggar Sastra dan Teater (SST) Sila, serta aktif di Yayasan Budaya Masyarakat Indonesia (Yabumi) dan Dewan Kebudayaan Kota (DKK) Yogyakarta.



Baca: Djamaluddin Adinegoro, Pelopor Pers Indonesia


Mustofa juga menekuni bidang jurnalistik sejak 1979-an. Beberapa jabatan pernah diembannya, seperti menjadi pemimpin dan wakil pemimpin redaksi, dewan redaksi di koran, majalah, dan jurnal lokal maupun nasional. 

Aktivitas lainnya adalah sejak 1982-an menjadi editor buku di berbagai penerbit, seperti di Shalahudin Press, LP3Y, Sipress, Bentang Budaya, Pustaka SM, Titian Illahi Press, Navila, dan Gita Nagari.

Pada 2019 lalu, ia diundang dalam Pertemuan Penyair Nusantara XI di Kudus. Pertemuan itu dihadiri para sastrawan dari enam negara Melayu serumpun, mulai dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, dan Timor Leste.

Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) sendiri merupakan acara tahunan yang lahir dari Pertemuan Penyair Indonesia The 1st International Poets Gathering yang diselenggarakan oleh Laboratorium Sastra Medan dengan diketuai Afrion pada 2007 di Medan.

Tujuan digelarnya PPN adalah agar adanya forum bergilir yang mempertemukan para penyair se-Nusantara guna menjalin Kerjasama, baik itu kegiatan, pertukaran karya, hingga berbagi informasi perkembangan sastra di negara masing-masing.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Djamaluddin Adinegoro, Pelopor Pers Indonesia

Koropak.co.id, 27 June 2022 15:36:50

Fauziah Djayasastra


Koropak.co.id - Sosok yang satu ini namanya lebih akrab dengan profesi wartawan dibanding sastrawan. Padahal, ia merupakan penulis angkatan Balai Pustaka. Dia adalah Djamaluddin Adinegoro: perintis Pers di Indonesia.

Sebenarnya Adinegoro bukan nama asli. Dia lahir sebagai Djamaluddin gelar Datuk Maradjo Sutan dan merupakan adik Muhammad Yamin. Mereka bersaudara satu bapak, tapi beda ibu.

Ayah mereka bernama Usman gelar Baginda Chatib dan ibu Adinegoro bernama Sadarijah, sementara ibu Muhammad Yamin bernama Rohimah. Adinegoro kemudian menikah dengan Alidas yang berasal dari Sumatra Barat.

Pria kelahiran Sumatera Barat, 14 Agustus 1904 itu memakai nama Adinegoro lantaran tidak diperbolehkan menulis saat mengenyam pendidikan di STOVIA (1918-1925). Padahal minatnya di bidang kepenulisan amat menggebu-gebu.

Sejak menggunakan nama samaran, dia leluasa menulis dan mempublikasikan tulisannya tanpa seorang pun tahu bahwa Adinegoro adalah dirinya. Namun kemudian nama itu lebih melekat daripada nama aslinya.



Baca: Budi Riyanto, Kartunis yang Berkarya di Dunia Film


Selain di STOVIA, Adinegoro juga memperdalam pengetahuan tentang jurnalistik, geografi, kartografi, serta geopolitik di Jerman dan Belanda (1926-1930). Pengalaman tersebut menempanya menjadi wartawan.

Adinegoro memulai kariernya sebagai wartawan majalah Caya Hindia. Setiap minggu tulisannya tentang masalah luar negeri terbit di majalah tersebut. Dia juga merangkap sebagai wartawan lepas di surat kabar Pewarta Deli (Medan), Bintang Timur, dan Panji Pustaka (Batavia).

Sekembalinya dari Jerman, Adinegoro memimpin majalah Panji Pustaka pada 1931. Namun hanya bertahan enam bulan, sebelum akhirnya dia memimpin surat kabar Pewarta Deli (1932-1942).

Selain dua surat kabar itu, dia juga sempat memimpin Sumatra Shimbun, Mimbar Indonesia (1948-1950), Yayasan Pers Biro Indonesia (1951).

Namanya juga tercatat sebagai pekerja di Kantor Berita Nasional (kini LKBN Antara). Hingga akhir hayatnya, Adinegoro mengabdi di kantor berita tersebut.

Semasa hidupnya, Adinegoro turut mendirikan Perguruan Tinggi Jurnalistik di Jakarta serta Fakultas Publisistik dan Jurnalistik Universitas Padjadjaran. Di samping itu, aktif menulis buku. Dua novelnya yang terkenal berjudul Asmara Jaya dan Darah Muda, keduanya sama-sama ditulis tahun 1928.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Girang Saini K.M. Saat Puisi Pertama Dimuat dalam Majalah

Koropak.co.id, 17 June 2022 15:37:08

Eris Kuswara

 

Koropak.co.id - Saini Karnamisastra atau dikenal dengan nama Saini K.M. merupakan penulis produktif yang telah membuat banyak karya. Selain menulis puisi dan naskah drama, ia juga membuat cerita pendek, novel, dan karya terjemahan. 

Siapa sangka, ternyata ia punya pengalaman menarik saat mulai menekuni dunia sastra. Pria kelahiran Sumedang, 16 Juni 1938, yang sudah jatuh cinta pada puisi sejak kecil itu, kegirangan ketika puisi pertamanya dimuat dalam majalah Siasat, 1960. 

Putra kedua dari sepuluh bersaudara itu terkejut dan girang saat menerima wesel yang berisi honor dari puisinya. Hal itu membuatnya semakin semangat berkarya. Bukan lantaran honornya, tapi apresiasi atas karyanya.

Setelah itu ia semakin produktif menulis. Ada banyak karya yang telah dibuatnya, mulai naskah drama hingga terjemahan. Pangeran Geusan Ulun, Pangeran Sunten Jaya, Ben Go Tun, Siapa Bilang Saya Godot, Restoran Anjing, Egon, Kerajaan Burung, dan Sebuah Rumah di Argentina adalah beberapa naskah drama yang dibuatnya di rentang waktu 1963 s.d. 1980.

Sedangkan Nyanyian Tanah Air (1968), Rumah Cermin (1979), Sepuluh Orang Utusan (1989), dan Mawar Merah (2001) merupakan kumpulan puisi yang dibuat Saini. Ia juga menulis cerita pendek Anting Perak (1967), dan novel Purbaya (1976). 



Baca: Budi Riyanto, Kartunis yang Berkarya di Dunia Film


Ada pula karya terjemahan, seperti Percakapan dengan Stalin (1963, karya Milovan Djilas) dan Bulan di Luar Penjara (1965, karya Ho Tji Minh). Sementara karya nonfiksinya bisa dibaca dalam Beberapa Gagasan Teater (1981), Dramawan dan Karyanya (1985), Teater Modern dan Beberapa Masalahnya (1987), atau Puisi dan Beberapa Masalahnya (Penerbit ITB, 1993).

Diganjar Banyak Penghargaan

Selain produktif menulis, lulusan IKIP Bandung, jurusan Bahasa Inggris, itu dikenal sebagai pendiri Jurusan Teater di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung tahun 1978, dan menjadi dosen Akademi Seni Tari Indonesia, Bandung, sampai menjadi rektor perguruan tinggi tersebut hingga tahun 1987.

Mulai 1988 hingga 1995 Saini bertugas sebagai Direktur Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (kini Departemen Pendidikan Nasional) hingga tahun 1999. Ia juga pernah menjadi anggota DPRD Jawa Barat.

Sebelumnya, pada 1973, ia mendapat hadiah sastra dari Dewan Kesenian Jakarta atas dramanya yang berjudul Pangeran Sunten Jaya, dan apresiasi serupa untuk beberapa karyanya. Selain itu, pada 1980 Saini mendapat hadiah sastra dari Badan Komunikasi Penghayatan Kesatuan Bangsa atas dramanya yang berjudul Sebuah Rumah di Argentina. 

Bukan hanya di Indonesia, di luar negeri juga mendapat apresiasi serupa. Pada 2001, misalnya, Saini menerima penghargaan Hadiah Sastra Asia Tenggara 2001 (SEA Write Awards 2001) dari pemerintah Thailand atas karyanya Lima Orang Saksi (2001).


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Budi Riyanto, Kartunis yang Berkarya di Dunia Film

Koropak.co.id, 16 June 2022 12:12:38

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Budi Riyanto, pria kelahiran Bandung, merupakan seorang kartunis jempolan. Setelah menekuni dunia seni kartun, namanya jadi ada tambahan Karung: Budi Riyanto Karung. Bukan karung sembarang karung. Bukan karung wadah menyimpan barang. 

Karung yang disandangnya merupakan akronim dari kartunis Bandung. Kelompok tersebut dibentuk di Bandung pada 16 Januari 1985 oleh beberapa dosen dan mahasiswa  Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung.

Bakatnya sebagai seorang kartunis itu sudah nampak sejak Budi masih kecil. Ia senang menggambar dengan menggoreskan paku di pintu rumahnya. Kala itu, ia sering menggambar gambar kesukaannya, yakni tokoh Gatot Kaca.

Pria yang akrab juga disapa Kang Budi ini juga menggeluti bidang artistik di beberapa produksi film layar lebar. Ia terlibat dalam beberapa film Indonesia sebagai penata artistic, dan terkadang jadi pemeran pembantu.

Sebagai penata artistik, ia pernah terlibat dalam film Yuni (2021), 6,9 Detik (2019), Mooncake Story (2016), 12 Menit: Kemenangan untuk Selamanya (2014), Seputih Cinta Melati (2014), Gending Sriwijaya (2013), Badai di Ujung Negeri (2011), dan Love Story (2011).



Baca: Linus Suryadi dan Cara Kreatifnya Perkaya Khazanah Sastra Indonesia


Ada juga film King (2009), Jermal (2008), Di Bawah Pohon (2008), 9 Naga (2006), Denias, Senandung di Atas Awan (2006), Mencari Madonna (2005), Rindu Kami Padamu (2004), dan Aku Ingin Menciummu Sekali Saja (2002).

Sedangkan dalam film Denias, Senandung di Atas Awan, selain menjadi penata artistik, Budi juga terlibat sebagai pemeran pembantu.

Pada 2005, Budi berhasil meraih penghargaan sebagai penata artistik terpuji untuk film Rindu Kami Padamu dalam Festival Film Bandung. Berselang satu tahun, ia meraih penghargaan sebagai artistik terpuji untuk film Denias, Senandung di Atas Awan.

Kemudian, pada Festival Film Indonesia 2008, ia berhasil menyabet penghargaan sebagai penata artistik terbaik (piala citra) untuk film Di Bawah Pohon. Pada 2013, Budi Riyanto masuk nominasi sebagai penata artistik terpuji untuk film Gending Sriwijaya dalam Festival Film Bandung. 

Selanjutnya pada 2017, ia kembali masuk nominasi dalam Festival Film Bandung sebagai penata artistik terpuji untuk film Mooncake Story. Terakhir pada 2021, Budi Riyanto masuk nominasi tata artistik terbaik (piala citra) untuk film berjudul Yuni dalam Festival Film Indonesia.

Dalam dunia kartun yang telah melambungkan namanya, Budi telah membuat banyak karya, di antaranya Aden Endul, Juara Balap Karung, Thomas Savery, Balap Embe, Miceun Tipi dan lain-lain.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Agung Hujatnika, Kurator Seni Rupa Bergelar Doktor

Koropak.co.id, 15 June 2022 12:02:05

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Agung Hujatnikajennong atau lebih dikenal dengan nama Agung Hujatnika alias A.H. merupakan pengarang sekaligus kurator seni rupa yang mendapatkan gelar Doktor dalam bidang seni di Fakultas Seni dan Desain, Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2012.

Pria kelahiran Tasikmalaya, 1976, itu sudah aktif dalam dunia seni sebagai kurator, pengamat, pengajar, penulis, dan juga peneliti sejak 1997. Di awal kariernya, Agung Hujatnika mengkuratori pameran tunggal Jajang Supriyadi bertajuk 'Between Walls and Doors' yang dilaksanakan di Galeri Barak, Bandung.

Berawal dari sana, Agung Hujatnika menjadi kurator berbagai pameran dan kegiatan seni, seperti OK Video - Jakarta Video Festival (2003, and 'SUB/VERSION', 2005) dan Bandung New Emergence pada 2006, 2008 dan 2010. Ia juga telah menangani kurasi berbagai pameran besar, baik di tingkat nasional maupun internasional. 

Termasuk menangani Paviliun Indonesia pada 57th Venice Biennale, Venesia (2017), Not a Dead End. Indonesia Encounters the Arab Region, Jogja Biennale, Yogyakarta (2013), dan Exquisite Corpse, Paviliun Bandung pada 9th Shanghai Biennale, Shanghai (2012).



Baca: Asrul Sani, Sastrawan yang Masuk Gelanggang Politik


Hujatnika juga turut menjadi kurator sejumlah pameran tunggal yang diadakan oleh seniman kontemporer kenamaan Indonesia, seperti Agus Suwage, Ade Darmawan, Handiwirman Saputra, dan Jompet Kuswidananto.

Pada 2017, bersama dengan Charles Esche, Hujatnika mengkurasi Art Turns, World Turns, pameran perdana the Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN). Sejak 1999 s.d. 2000, ia menjadi asisten kurator di Soemardja Gallery, ITB. Di ITB juga, ia turut menjadi pengajar mulai dari 2001 s.d. 2012. 

Dalam tulisannya bertajuk "Interpretasi Tehadap Seni Rupa", ia mengungkapkan bahwa  kritik seni rupa adalah sebuah disiplin ilmu. Oleh karena itu, dalam mengamati dan menilai sebuah karya seni perlu menggunakan metode tertentu.

Salah satunya metode yang dikemukakan Edmund Burke Feldman: karya seni dapat dinilai melalui empat tahapan, yaitu deskripsi, analisis formal, interprestasi, dan penilaian.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Asrul Sani, Sastrawan yang Masuk Gelanggang Politik

Koropak.co.id, 12 June 2022 12:13:49

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Lahir di Rao, Sumatera Barat, 10 Juni 1926, Asrul Sani dikenal sebagai sastrawan Indonesia yang masuk dalam kelompok Sastrawan Angkatan '45. Bersama dengan Chairil Anwar dan Rivai Apin, ia disebut-sebut sebagai trio pembaharu puisi Indonesia. 

Ayah Asrul Sani, Sultan Marah Sani Syair Alamsyah, merupakan kepala adat Minangkabau. Sedangkan ibunya, Nuraini binti Itam Nasution, merupakan seorang keturunan Mandailing.

Pada 1936, Asrul Sani memulai pendidikan formalnya dengan masuk sekolah di Holland Inlandsche School atau sekolah dasar bentukan pemerintah kolonial Belanda di Bukit Tinggi. 

Setelah lulus, ia melanjutkan sekolahnya ke SMP Taman Siswa, Jakarta, pada 1942-an. Setelah itu, Asrul Sani melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Kedokteran Hewan di Bogor. Namun, dikarenakan minatnya akan dunia sastra yang tinggi, ia sempat pindah ke Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI).

Dengan adanya dukungan beasiswa Lembaga Kebudayaan Indonesia-Belanda, Asrul Sani akhirnya mengikuti pertukaran ke Akademi Seni Drama, Amsterdam pada 1952-an, meskipun pada akhirnya kembali melanjutkan kuliah kedokteran hewan hingga dapat memperoleh gelar dokter hewan pada 1955. 

Setelah berhasil meraih gelar dokter hewan, Asrul kembali mengejar hasratnya akan seni sastra. Ia memutuskan untuk melanjutkan kuliah dramaturgi dan sinematografi di South California University, Los Angeles, Amerika Serikat (1956), lalu membantu Sticusa di Amsterdam (1957-1958).

Berbicara mengenai sepak terjangnya dalam dunia sastra, Asrul Sani tergolong pelopor sastra Angkatan '45. Kariernya semakin naik ketika bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin menerbitkan buku kumpulan puisi bertajuk 'Tiga Menguak Takdir'.



Baca: Martin Aleida, Sastrawan Saksi Kekejaman Militer Orde Baru


Di sisi lain, ia juga pernah menjabat Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslim Indonesia (Lesbumi), dan Direktur Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI). Pernah juga menjadi Anggota Badan Sensor Film (BSF), Pengurus Pusat Nahdatul Ulama (NU), dan Anggota DPR-MPR (wakil seniman) mulai dari 1966 hingga 1982.

Selain sastrawan, Asrul Sani juga sempat masuk dunia politik. Sejak 1966 hingga 1971, ia duduk di parlemen mewakili Partai Nahdlatul Ulama. Setelah itu berlanjut hingga 1982-an dengan mewakili Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Dengan segudang karya yang dihasilkannya, Asrul Sani dianggap sebagai sosok terpenting dalam sejarah kebudayaan modern di Indonesia. Pada tahun 2000-an, ia menerima penghargaan Bintang Mahaputra dari Pemerintah Indonesia.

Ada banyak karya yang telah dibuatnya, seperti Tiga Menguak Takdir (kumpulan sajak bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin, 1950), Dari Suatu Masa dari Suatu Tempat (kumpulan cerpen, 1972) dan Mantera (kumpulan sajak, 1975). Ada juga Mahkamah (drama, 1988), Jenderal Nagabonar (skenario film, 1988) dan Surat-Surat Kepercayaan (kumpulan esai, 1997).

Di dunia film, berbagai karya yang dihasilkannya meliputi Titian Serambut Dibelah Tudjuh (1959), Pagar Kawat Berduri (1963), Apa Jang Kau Tjari, Palupi? (1970), Jembatan Merah (1973), Salah Asuhan (1974), Bulan di Atas Kuburan (1976), Kemelut Hidup (1978) dan Di Bawah Lindungan Ka'bah (1981).

Selain mendapatkan penghargaan di bidang seni dan budaya, Asrul Sani juga telah banyak menorehkan  prestasi di bidang perfilman tanah air seperti meraih Piala Citra Film "Kuberikan Segalanya" (1992), Piala Citra Film "Istana Kecantikan" (1988), Piala Antemas dan Piala Bing Slamet (1985), Anugerah Seni (1969) dan Bintang Mahaputra dari Pemerintah RI (2000).


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Sekilas Tentang Saadah Alim, Pengarang Wanita Pertama di Indonesia

Koropak.co.id, 11 June 2022 15:12:30

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Padang, 9 Juni 1897. Seorang anak terlahir ke dunia. Namanya Saadah Alim. Di kemudian hari, ia dikenal sebagai penulis kelompok Pujangga Baru yang dalam setiap karya tulisnya sering menggunakan nama samaran Aida S.A. 

Ia merupakan pengarang perempuan pertama di Indonesia yang secara lantang berani menentang adat. Saadah berhasil menyumbangkan pemikiran dan karyanya yang bagus untuk generasi muda pada zamannya.

Aktivitas menulisnya sudah dimulai sejak 1920-an, tapi karya-karyanya baru diterbitkan pada 1940-an. Tak hanya terjun di dunia penulisan, Saadah Alim juga terjun ke dunia jurnalistik dengan menerbitkan sebuah majalah perempuan 'Suara Perempuan'. 



Baca: Martin Aleida, Sastrawan Saksi Kekejaman Militer Orde Baru


Di majalah itu ia menjadi pemimpin redaksi sekaligus penulis. Di dalamnya berisi karya-karya berbahasa Indonesia dan Belanda. Dengan diterbitkannya majalah tersebut, kala itu ia berharap akan memberi kesempatan bagi kaum perempuan untuk berkarya.

Ia juga menjadi pembantu tetap majalah Bintang Timur sejak 1924-an. Selanjutnya pada 1930-an, Saadah Alim dipercaya untuk memimpin majalah Krekot's Magazine yang kemudian dijadikan sebagai lampiran harian Bintang Timur. 

Mulai dari 1924 hingga 1940-an, dia menjadi pembantu tetap majalah dan harian Bintang Hindia, Panji Pustaka, Pustaka Timur, Het Dagblad, dan Volkscourant.

Tak hanya membuat cerpen dan drama, Saadah Alim juga turut menulis terjemahan karya asing, seperti Angin Timur dan Angin Barat (karya Pearl S. Buck, 1941), Marga Hendak Tegak Sendiri (karya Freddy Haggers, 1949), Jacob si Luruh Hati (karya Maryat, 1949), hingga Zuleika Menyingsingkan Lengan Bajunya (karya Riesco).

Sedangkan untuk kumpulan cerpen yang berhasil ditulisnya adalah Taman Penghibur Hati (1941) dan sebuah drama bertajuk Pembalasannya (1940) yang diterbitkan Balai Pustaka. Saadah meninggal dunia pada 18 Agustus 1968, di rumahnya di Jalan Salemba Tengah 14, Jakarta Pusat.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Nugroho Notosusanto, Sejarawan yang Lekat dengan Dunia Militer

Koropak.co.id, 10 June 2022 19:12:26

Fauziah Djayasastra


Koropak.co.id - Salah satu figur sejarawan yang turut menjadi nadi dalam perjalanan bangsa Indonesia adalah Nugroho Notosusanto. Dia merupakan penulis cerpen sekaligus sejarawan militer dan menjabat guru besar Universitas Indonesia.

Pria bernama lengkap Brigjen TNI (Purn.) Prof. Dr. Raden Panji Nugroho Notosusanto ini lahir pada 15 Juni 1930 di tengah keluarga bangsawan Jawa Tengah. Ayahnya bernama R.P. Notosusanto merupakan ahli hukum Islam fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada sekaligus salah satu pendiri UGM.

Kakak Nugroho adalah pensiunan Patih Rembang, sementara kakak tertua ayahnya adalah pensiunan Bupati rembang. Pangkat patih dan juga bupati merupakan jabatan yang sulit diraih rakyat pribumi pada waktu itu.

Nugroho adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Sejak belia dia telah menunjukkan sisi nasionalismenya. 

Selama masa Revolusi Nasional, rentang tahun 1945 s.d. 1949, dia terlibat aktif sebagai anggota Tentara Pelajar dan bekerja di pengintaian. Walau ingin tetap berada di dunia militer, Nugroho tetap menuruti ayahnya untuk melanjutkan pendidikan sehingga mendaftar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Selama tahun 1950-an, dia menulis secara intensif serta aktif dalam kelompok akademis dan juga politik hingga akhirnya lulus dengan gelar sejarah di tahun 1960. Di tahun yang sama, dia menikah dengan Irma Savitri Ramelan (Lilik), perempuan yang dikenalnya lewat gerakan mahasiswa sekaligus keponakan ibu B.J. Habibie.



Baca: Membedah Kisah Rosidi, Penyintas Kamp Konsentrasi Eks PKI


Kariernya di bidang militer cukup mentereng, dimulai dari Tentara Pelajar (TP) dan TKR Yogyakarta. Sejak tahun 1964, dia menjabat sebagai Kepala Pusat Sejarah ABRI dan menjadi anggota Badan Pertimbangan Perintis Kemerdekaan.

Sesuai SK Panglima AD No. Kep. 1994/12/67, tahun 1967 Nugroho mendapat pangkat tituler, sesuai tugas dan jabatannya di Angkatan Darat. Pangkat terakhir yang didapatnya adalah Brigadir Jenderal, pangkat tertinggi yang mungkin dapat diraihnya pada saat itu.

Selain dalam kemiliteran, Nugroho juga berkarier di bidang pendidikan menduduki jabatan sebagai Rektor Universitas Indonesia. Bahkan, dia sempat menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI dalam Kabinaet IV.

Nugroho juga tercatat sebagai penulis yang produktif. Disamping menulis sastra dan jurnal ilmiah, dia juga tekun menulis buku-buku yang dominan merupakan lintasan sejarah Indonesia serta perjuangan militer.

Pengetahuannya sebagai sejarawan dan wawasannya di dunia kepenulisan diketahui membuat Nugroho dimintai ABRI dan Orde baru untuk menulis sejarah sesuai 'versi mereka'. Ketika diangkat sebagai Menteri Pendidikan tahun 1984, Nugroho menggunakan kesempatan tersebut untuk menulis ulang kurikulum sejarah dengan menekankan peranan historis militer.

Nugroho pun tercatat sebagai salah satu penulis skenario film Pengkhianatan G30S/PKI dan mewajibnkan film tersebut untuk diputar di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Sayangnya, baru 2 tahun menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Nugroho berpulang pada suatu hari di bulan Ramadan, tahun 1985.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Yogyakarta, 8 Juni 1921, Soeharto Lahir

Koropak.co.id, 08 June 2022 15:44:55

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Sosok yang satu ini dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perjalanan sejarah kepemimpinan di Indonesia: Soeharto. Pria kelahiran 8 Juni 1921, di Kemusuk, Yogyakarta, itu berasal dari keluarga petani. Orangtuanya adalah Kertosudiro dan Sukirah.

Keluarganya termasuk kurang beruntung secara ekonomi. Saat menghadapi masalah ekonomi yang sulit, Soeharto yang kala itu baru berusia 40 hari terpaksa dititipkan kepada kakak perempuan Kertosudiro.

Semasa kecilnya, Soeharto berpindah-pindah tempat tinggal. Menumpang di tempat saudaranya. Namun, ia memiliki minat yang kuat pada Pendidikan. Tak heran, pada 1941, dia terpilih sebagai prajurit teladan di Sekolah Bintara, Gombong, Jawa Tengah.

Dengan ketekunan dan semangat pantang menyerah dalam belajar, pada 5 Oktober 1945, Soeharto resmi menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI). 

Berkarier di dunia militer, Soeharto menempati sejumlah jabatan penting, seperti berpangkat Sersan Tentara KNIL, Komandan PETA, Komandan resimen dengan pangkat Mayor, hingga menjadi Komandan Batalyon dengan berpangkat Letnan Kolonel.

Siapa sangka, takdir mengantarkannya menjadi Presiden terlama yang memimpin Indonesia, yakni 32 tahun. Sebelum menjadi Presiden, Soeharto merupakan pemimpin militer pada masa pendudukan Jepang dan Belanda, dengan pangkat terakhirnya Mayor Jenderal. 

Di dunia Internasional, khususnya di Dunia Barat, Soeharto sangat populer dengan julukan "The Smiling General" atau "Sang Jenderal yang Tersenyum". Hal itu dikarenakan raut muka Soeharto yang tampak selalu tersenyum. Meski begitu, ia juga sering disebut sebagai diktator.



Baca: 12 Maret 1967; Peristiwa Bergantinya Kepemimpinan dari Soekarno ke Soeharto


Pada 26 Desember 1947-an, Soeharto menikah dengan seorang wanita anak pegawai Mangkunegaran di Solo bernama Siti Hartinah. Dari hasil pernikahannya itu, mereka dikaruniai enam putra dan putri, yaitu Siti Hardiyanti Hastuti, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Herijadi, Hutomo Mandala Putra, dan Siti Hutami Endang Adiningsih.

Di masanya, ia sempat menjadi Pengawal Panglima Besar Sudirman dan Panglima Mandala (Pembebasan Irian Barat). Soeharto juga memimpin pasukan untuk merebut kembali Yogyakarta yang sempat dikuasai Belanda pada 1949.

Pasca terjadinya pemberontakan Gerakan 30 September atau yang lebih dikenal dengan G30S/PKI, situasi Indonesia pun memanas. Untuk meredam situasi yang tengah memanas itu, MPRS pun melakukan sidang istimewa pada Maret 1967.

Dalam sidang itu, Soeharto ditunjuk sebagai pejabat Presiden. Setahun kemudian atau tepatnya pada Maret 1968, ia resmi menjabat sebagai Presiden kedua Indonesia.

Menjabat sebagai presiden hingga 32 tahun lamanya, Soeharto pun dianggap berhasil dalam menjaga stabilitas negara hingga membuatnya dijuluki sebagai 'Bapak Pembangunan'. Namun stabilitas yang selama itu digaungkan pun akhirnya goyah, seiring dengan krisis ekonomi yang terjadi pada 1998-an. Krisis itu menjadi titik awal dituntutnya Soeharto untuk mundur dari jabatannya sebagai Presiden.

Tuntutan itu melahirkan aksi demonstrasi besar-besaran yang dilakukan mahasiswa hingga pada akhirnya menyebabkan kerusuhan di Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan daerah lainnya di Indonesia. Mahasiswa menuntut Soeharto untuk segera lengser dari kekuasaannya. 

Semakin memanasnya krisis yang terjadi kala itu juga memicu terjadinya tragedi berdarah. Salah satu yang terkenal dan menjadi catatan kelam sejarah Indonesia hingga saat ini adalah 'Tragedi Trisakti'.

Pada Kamis, 21 Mei 1998, Soeharto akhirnya melepaskan jabatannya sebagai Presiden. Peristiwa saat Presiden Soeharto lengser dari jabatannya pun juga menjadi momen lahirnya 'Hari Reformasi'.

Seiring berjalannya waktu, kesehatan Soeharto pun menurun. Setelah menjalani perawatan selama 24 hari di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan. Soeharto dinyatakan meninggal dunia pada Minggu, 27 Januari 2006, pukul 13.10 WIB dalam usia 87 tahun. Ia dimakamkan di Astana Giribangun, Karanganyar, Jawa Tengah.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Martin Aleida, Sastrawan Saksi Kekejaman Militer Orde Baru

Koropak.co.id, 08 June 2022 12:10:21

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Memiliki nama asli Nurlan, Martin Aleida dikenal sebagai seorang sastrawan yang juga menjalani profesi wartawan. Pria kelahiran Tanjung Balai, Sumatera Utara, 31 Desember 1943, itu dikenal sebagai sastrawan setelah menghasilkan berbagai karya yang fenomenal, mulai dari cerita pendek (cerpen) hingga novel.

Menikah dengan wanita asal Solo, Sri Sulasmi dan dikarunia 4 orang anak, Martin terlahir dari keluarga yang taat beragama, bahkan sang ayah merupakan seorang haji. Sejak kecil Martin sudah akrab dengan dunia sastra.

Setelah lulus SMA, Martin tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Sastra, Universitas Sumatera Utara, namun sayangnya tidak tamat. Pada 1982-an ia juga pernah menempuh pendidikan di Georgetown University, Washington DC, Amerika Serikat.

Pada 1963, Martin memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Ia aktif berkesenian, bahkan setahun kemudian ia ikut bermain di Gedung Kesenian Jakarta dan PGRI. Kala itu ia bermain dengan membawakan naskah 'Si Nandang' yang diambil dari cerita rakyat dan ditulis oleh Ebrahim Hamid. 

Setelah itu, ia pun terjun ke dunia jurnalistik dengan menjadi wartawan. Sayangnya pekerjaannya itu hanya bertahan selama satu tahun. Setelah itu ia bekerja serabutan. Memasuki usia 22 tahun, pada Januari 1965, Martin kembali bekerja sebagai wartawan di 'Harian Rakjat'.

Di tempat barunya ini, ia ditugaskan untuk menjadi wartawan istana dengan meliputi kegiatan Presiden Soekarno. Ia bertugas selama 7 bulan untuk meliput orang nomor satu di Indonesia sebelum memutuskan keluar pada Juli 1965.



Baca: Linus Suryadi dan Cara Kreatifnya Perkaya Khazanah Sastra Indonesia


Siapa sangka bahwa profesi yang digeluti itulah yang mengantarkannya mendekam di balik jeruji besi. Kala itu, tepatnya pada awal 1966, Martin bersama enam rekannya ditangkap dan dibawa ke Markas Komando Distrik Militer 0501, Jakarta Pusat.

Ia bersama dengan enam rekannya itu ditangkap dan dipenjara di Kamp Konsentrasi, karena majalah Zaman Baru diterbitkan oleh Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) yang berafiliasi kepada Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sejak saat itu ia mengubah namanya dari awalnya bernama Nurlan berubah menjadi Martin Aleida. Diketahui, nama Martin merupakan wujud penghargaan terhadap kegemaran ayahnya yang bercerita tentang tokoh Martin Luther King. 

Sementara nama Aleida, diibaratkan semacam kata seru sebagai penanda kekaguman yang sering digunakan di kalangan penduduk Melayu di pesisir Sumatera Timur.

Dengan menggunakan nama pena Martin Aleida, tepatnya pada 14 Januari 1971, ia bergabung dengan majalah Tempo yang kala itu baru berdiri hingga bertahan selama 13 tahun. Pada 1984, ia pun menjadi wartawan mingguan olahraga Bola. 

Saat itu Martin meyakini bahwa olahraga mampu memberikan kesempatan yang luas bagi seorang penulis dalam mengasah dan mempertajam kepekaan pada detail dan gerak yang membuat bidang kehidupan menjadi begitu dinamis.

Berakhirnya kekuasaan Orde Baru pada 1998, ia pun menulis cerita-cerita pendek sebagai kesaksian terhadap ketidakadilan dan kekejaman kekuasaan Orde Baru. Tokoh-tokoh dalam cerita yang dibuatnya itu adalah mereka yang dikucilkan oleh kekuasaan.

Selama terjun di bidang penulisan, Martin berhasil menciptakan buku kumpulan cerita pendek mulai dari Malam kelabu, Ilyana, dan Aku (1998) Perempuan Depan Kaca (2000), Leontin Dewangga (2003), Dendam Perempuan (2006), dan Langit Pertama Langit Kedua (2013). 

Tak hanya cerpen, Martin juga turut menghasilkan novel meliputi Layang-Layang Itu Tidak Lagi Mengepak Tinggi-Tinggi (1999), Jamangilak Tak Pernah Menangis (2003), dan Mati Baik-Baik Kawan (2009).


Silakan tonton berbagai video menarik di sini: