Pesona Wayang Golek yang Tak Pernah Pudar

Koropak.co.id, 24 December 2021 18:14:31
Penulis : Eris Kuswara
Pesona Wayang Golek yang Tak Pernah Pudar

 

Koropak.co.id - Cepot dan Semar merupakan dua nama yang sangat familier bagi masyarakat, terutama di Jawa Barat. Kedua tokoh ini menjadi kunci dalam gelaran Wayang Golek. Keduanya sangat popular dan memiliki penggemarnya tersendiri.

Cepot berkarakter humoris dan kadang tengil. Ia selalu ditunggu oleh penonton, pembawaannya yang santai selalu membuat penonton tertawa terpingkal-pingkal.

Figur ini ada dalam wayang golek yang merupakan bagian dari kesenian wayang di Indonesia. Disebut wayang golek karena punya bentuk seperti boneka kayu (golek).

Kehadiran wayang golek ini menjadi bagian penting dari kebudayaan masyarakat di Jawa Barat. Lantas, seperti apa sejarah Wayang Golek?

Dihimpun dari berbagai sumber, penamaan Wayang Golek sendiri diambil dari kata golek yang berarti boneka kayu.

Kesenian tersebut diketahui pertama kalinya berkembang di daerah pesisir utara Jawa,tepatnya di Brebes, Cirebon, dan sekitarnya.

Pada awal kemunculannya, wayang golek tidak begitu berkembang. Hal itu dikarenakan masyarakat Indonesia sudah cenderung jatuh cinta pada Wayang Kulit yang sudah ada bertahun-tahun lamanya di Pulau Jawa.

Kehadiran Wayang Golek pun tidak lepas dari pengaruh Wayang Kulit. Oleh karena itulah ada kesamaan tokoh baik itu dalam Wayang Golek dan Wayang Kulit. Hanya saja, nama tokoh-tokohnya, ada yang dibuat berbeda.

Misalnya saja tokoh Bagong dalam Wayang Kulit itu identik dengan Cepot dalam Wayang Golek. Begitu juga tokoh Petruk dalam Wayang Kulit, dia identik dengan Dawala atau Udel dalam Wayang Golek.

Untuk material utama dalam pembuatan Wayang Golek adalah kayu yang kemudian diukir menyerupai manusia. Setelah jadi, akan didandani dengan kain-kain sebagai busana yang akan membuatnya terlihat lebih menarik. Sementara itu, pada bagian tangan Wayang Golek, akan diberikan sebilah kayu yang disebut tuding.

Tuding inilah yang menjadi bagian penting untuk bisa menghidupkan Wayang Golek dengan berbagai gerakan dan gestur.

Dikarenakan Wayang Golek merupakan wayang tiga dimensi, maka pertunjukan Wayang Golek tersebut bisa dilakukan kapan saja, baik itu pagi maupun malam. Bahkan dalam pertunjukannya juga tidak diperlukan pencahayaan khusus layaknya wayang kulit.

Berbicara mengenai perkembangannya, Wayang Golek terbagi menjadi tiga jenis. Pertama, ada yang namanya Wayang Cepak atau wayang kepala datar yang menceritakan tentang babad Cirebon dan sejarah Tanah Jawa dengan sisipan muatan ajaran Islam.

 

 


Baca : Sekilas 11 Warisan Leluhur Nusantara yang Ditetapkan WBTb UNESCO

Kedua, ada Wayang Golek Purwa yang menceritakan kisah Ramayana dan Mahabharata. Sementara yang terakhir adalah Wayang Golek Modern.

Siapa yang menggunakan Wayang Golek ini pertama kali? Dia adalah Sunan Kudus.

Sunan Kudus menjadi orang yang pertama kali menggunakan wayang golek sebagai media penyebaran agama Islam pada tahun 1583. Beliau bahkan membuat setidaknya 70 buah wayang dari kayu.

Selain itu, kisah-kisah yang dibawakannya juga berkenaan dengan kehidupan sehari-hari dengan petuah dan nilai-nilai ajaran agama Islam yang diselipi humor, sehingga membuat penonton tidak ingin beranjak.

Pada masa itu, wayang golek banyak digunakan di kalangan para santri dan ulama. Saat Panembahan Ratu (1640-1650) yang merupakan cicit dari Sunan Kudus memimpin Kesultanan Cirebon, Wayang Golek Cepak pun mulai dipentaskan di Tanah Parahyangan.

Selanjutnya pada saat pemerintahan Pangeran Girilaya (1650-1662), Wayang Golek Cepak semakin populer di kalangan masyarakat.

Wayang golek akhirnya mulai tersebar secara masif ke seluruh penjuru Jawa Barat sejak dibukanya De Grote Postweg atau Jalan Raya Daendels.

Pada masa itu, Bupati Bandung ke-6, Wiranata Kusumah III (1829-1846) memiliki andil dalam perkembangan bentuk Wayang Golek.

Saat itu, beliau memiliki sebuah gagasan dan menyampaikannya pada Ki Darman atau pengrajin dan pegiat wayang kulit asal Tegal untuk merancang Wayang Golek yang kental akan nilai ke-Sunda-an.

Hasil karya tersebut mampu menghadirkan bentuk Wayang Golek seperti yang bisa kita saksikan saat ini. Dalam penampilannya, wayang golek akan dimainkan oleh seorang dalang. Selain sebagai orang yang memainkan wayang, dalang juga berperan sebagai pemimpin, pembuat cerita serta pemberi petuah atau nasihat dalam kehidupan.

Agar lebih menarik, pertunjukan Wayang Golek tersebut turut diiringi musik instrumen yang dimainkan oleh para pemusik dengan alat musik tradisional yang digunakan seperti gendang, gambang, rebab, gong, salendro (gamelan khas Sunda) dan berbagai alat musik tradisional khas Sunda lainnya.

Tercatat sejak tahun 1920-an, pertunjukan Wayang Golek juga diiringi oleh penampilan seorang sinden yang akan menyanyikan lagu-lagu khas Sunda.

Kepopularan Wayang Golek di kalangan masyarakat luas ternyata tidak terlepas dari andil para dalangnya seperti R.H. Tjetjep Supriyadi, R.U. Partasuwanda, Ade Kosasih Sunarya, Asep Sunandar, dan lainnya. Bahkan, Wayang Golek juga pernah menjadi program acara khusus di salah satu televisi swasta nasional.

Selain sebagai hiburan, Wayang Golek turut diperjualbelikan sebagai souvenir. Beberapa penggemar pun menyimpan Wayang Goleknya di rumah dengan tujuan sebagai pajangan (di dinding rumah) maupun koleksi.

Dengan berbagai keunikan yang dimilikinya itulah membuat Wayang Golek ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia yang Tak Ternilai dalam Seni Bertutur (Masterpiece of Oral and Ingtangible Heritage of Humanity) pada 7 November 2003 oleh UNESCO.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 

Komentar

Hajat Huluwotan; Berawal dari Nazar Saat Kesulitan Air Bersih

Koropak.co.id, 05 July 2022 07:13:00

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Keberagaman tradisi dan budaya yang ada di Indonesia memiliki keunikan tersendiri. Seperti yang tampak dalam 'Hajat Huluwotan' atau 'Upacara Huluwotan' di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Upacara huluwotan merupakan ritual yang dilaksanakan masyarakat Gambung secara turun temurun setiap satu tahun sekali, tepatnya tiap bulan silih mulud atau dalam kalender Islam disebut bulan Rabi'ul Akhir. 

Upacara adat itu digelar sebagai satu bentuk pemenuhan nazar atau janji leluhur masyarakat Kampung Gambung yang pada saat itu kesulitan air bersih.

Dipimpin sesepuh kampung, masyarakat Gambung sepakat membangun solokan atau saluran air yang panjangnya kurang lebih 2 kilometer, mulai dari huluwotan atau mata air di kaki Gunung Geulis sampai ke permukiman warga.

Abah Apung menjadi orang yang pertama kali melaksanakan ritual hajat huluwotan yang dikenal juga sebagai sesepuh kampung kala itu. Dalam nazarnya, Abah Apung mengatakan, jika air sudah mengalir ke daerah Gambung, maka dia akan menggelar kesenian dan syukuran.

Mata air yang tercipta dari hajat huluwotan pun hingga kini menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat sekitar. Keberadaannya sangat penting. Selain mengairi lahan pertanian, juga digunakan untuk keperluan sehari-hari.

Dalam pelaksanaannya, sebelum melakukan hajat huluwotan, masyarakat biasanya akan membentuk kepanitiaan lalu dilanjutkan dengan membersihkan sumber air atau Huluwotan dengan secara gotong royong. 

Setelah dibentuk kepanitiaan, akan diadakan rapat pertemuan antara juru kunci, tokoh masyarakat, ketua RT, dan ketua RW untuk membahas berbagai hal yang berhubungan dengan pelaksanaan upacara huluwotan.



Baca: Dikei; Sebuah Ritual Pengobatan Suku Sakai


Satu hari menjelang pelaksanaan upacara huluwotan, berbagai perlengkapan upacara mulai dari kambing berwarna hitam, ayam hitam, sesajen atau sesaji dan samara, makanan dan minuman hingga nasi tumpeng sebagai perlengkapan arak-arakan turut dipersiapkan.

Ada dua proses acara yang digelar dalam pelaksanaan upacara huluwotan, yaitu arak-arakan (iring-iringan) dan hiburan. Arak-arakan sendiri menjadi ritual awal yang dilakukan dalam upacara huluwotan.

Nantinya, semua warga akan berjalan menyusuri kampung yang dimulai dari kantor desa menuju tempat sumber air atau huluwotan di kawasan Ciawitali atau tepatnya di sekitar kaki Gunung Tilu dan Gunung Geulis.

Tak lupa, mereka juga membawa perlengkapan upacara dengan diiringi kesenian angklung yang dipimpin oleh sesepuh atau tokoh adat. Juga turut diisi dengan pembacaan mantera yang kemudian dilanjutkan penyembelihan kambing. Kambing hitam menjadi salah satu syarat wajib dalam perlengkapan upacara huluwotan. 

Adapun maksud dan tujuan dari pelaksanaan upacara huluwotan adalah sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan berkah yang sudah dilimpahkan, serta dimudahkannya warga Gambung dalam menikmati air yang berasal dari wilayah Gunung Tilu.

Setelah ritual upacara selesai, masyarakat akan kembali ke desa untuk menikmati makanan yang sudah disiapkan sebelumnya sembari menikmati hiburan kesenian tradisional yang ada di sekitar wilayah Gambung. Sebagai penutup upacara, biasanya pada malam hari akan diadakan pertunjukkan wayang.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Bakiak Batok; Permainan Sederhana Segudang Manfaat

Koropak.co.id, 04 July 2022 15:48:52

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Bogor tidak hanya terkenal dengan beragam kuliner dan wisata alamnya yang indah, tapi juga memiliki permainan yang seru untuk dimainkan. Namanya Bakiak Batok. Tak perlu uang banyak untuk membuat dan memainkan permainan tersebut. Bahan utamanya adalah batok atau tempurung kelapa yang sudah kering.

Batok itu dibelah dua, kemudian di setiap bagian tengahnya diberi lubang untuk memasukkan tali. Disarankan pakai tali yang lentur agar memudahkan pemain dalam menggunakannya. Bakiak batok biasanya dimainkan dengan menggunakan rintangan. 

Cara memainkannya terbilang sangat sederhana. Sebelum memulai permainan, bakiak batok akan dikaitkan pada jempol kaki layaknya ketika memakai sandal jepit. Lalu kedua tangan memegang tali secara seirama dan menariknya ketika kaki melangkah. 

Tapi, kendati tampak mudah, keseimbangan tubuh sangat diperlukan saat memainkan permainan bakiak batok. Dibutuhkan juga kekompakan antara gerak kaki dan tangan agar pemain bisa melangkah secara cepat dan sempurna.



Baca: Mengenang Ayang-ayang Gung dan Ucang-ucang Angge


Dalam permainannya, setiap pemain akan diadu laju dengan melewati jalan yang sudah diberi rintangan. Bagi pemain yang menyentuh tali rintangan pada saat berjalan, maka pemain tersebut dianggap gagal. Sementara bagi pemain yang paling cepat sampai ke garis akhir, dia dinyatakan pemenang.

Namun, seiring perkembangan zaman yang semakin maju, permainan bakiak batok kian jarang ditemukan. Sebagai upaya dalam melestarikan permainan tersebut, Kampung Budaya Sindang Barang, Bogor, bergerak untuk menghidupkan kembali bakiak batok. Salah satu caranya dengan menggelar perlombaan.

Diharapkan, dengan cara tersebut generasi muda turut melestarikan permainan batok kepala. Selain seru untuk dimainkan, bakiak batok kelapa memiliki beragam manfaat. Di antaranya melatih sensorik kasar anak-anak, melatih koordinasi tubuh, melatih kesabaran, hingga dapat melatih keseimbangan tubuh.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Tujuh Tradisi Unik Sambut Iduladha di Indonesia

Koropak.co.id, 03 July 2022 12:06:50

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Hari Raya Iduladha yang sebentar lagi hadir, tentunya menjadi momen yang selalu dinantikan oleh umat muslim seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Meskipun identik dengan menyembelih hewan kurban, akan tetapi di Indonesia turut diperingati dengan berbagai tradisi unik yang sering dilakukan di beberapa daerah. Apa saja?

1. Grebeg Gunungan, Yogyakarta

Tradisi Iduladha ini dilakukan oleh masyarakat Yogyakarta dengan cara mengarak hasil bumi, mulai dari halaman Keraton Yogyakarta sampai Masjid Gede Kauman Yogyakarta. Arak-arakan hasil bumi itu biasanya berbentuk tiga buah gunungan yang tersusun dari rangkaian sayuran dan buah-buahan. 

Masyarakat Yogyakarta percaya, jika mereka berhasil mengambil hasil bumi dalam bentuk gunungan tersebut, maka mereka bisa mendapatkan rezeki. Tak heran, perayaan grebeg gunungan selalu diramaikan banyak orang.

2. Meugang, Aceh

Bagi masyarakat Aceh, tradisi meugang identik dengan memakan daging sapi atau kerbau secara bersama-sama yang diolah dengan beraneka ragam masakan. Berdasarkan sejarahnya, tradisi Meugang berawal pada masa kerajaan Aceh. Kala itu daging kurban dibagikan secara gratis kepada masyarakat.

Tradisi meugang dilaksanakan masyarakat Aceh sebagai ungkapan syukur atas kemakmuran tanah, hingga saat ini masih bertahan dan dilestarikan untuk menyambut hari-hari besar suci umat Islam, termasuk Iduladha.

3. Mepe Kasur, Banyuwangi

Di Banyuwangi, ada tradisi sambut Iduladha yang dikenal dengan sebutan mepe kasur atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan jemur kasur. Awalnya tradisi itu dilakukan oleh suku Osing di Desa Kemiren, Banyuwangi, Jawa Timur.

Dalam pelaksanaannya, dimulai dengan penampilan tarian tradisional. Setelah itu kasur dijemur mulai dari pagi sampai sore, sembari dipukul menggunakan sapu lidi agar bersih.

Uniknya, tradisi mepe kasur ini dilakukan secara serentak oleh masyarakat dengan menjemur kasur di halaman rumahnya. Meskipun terkesan sederhana, namun tradisi ini memiliki makna yang mendalam, yakni untuk menolak bala baik itu dari bencana atau penyakit.



Baca: Daftar Menu Hari Raya Idul Adha yang Cocok Disantap Bersama Keluarga


4. Toron, Madura

Sama halnya dengan Hari Raya Idulfitri, saat Hari Raya Iduladha tiba, masyarakat Madura, Jawa Timur, khususnya yang berada di perantauan akan beramai-ramai pulang kampung ke Madura. Aktivitas itu disebut toron, berarti toronan atau turunan.

Selain dalam momentum Iduladha, tradisi toron juga biasanya dilakukan pada saat Idulfitri atau Maulid Nabi. Spiritnya adalah merawat turunan keluarga. Mereka akan saling bersilaturahmi pada sanak saudara.

5. Manten Sapi, Pasuruan

Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat Pasuruan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur, sekaligus penghormatan kepada hewan kurban sebelum disembelih. Salah satu yang menjadi daya tariknya adalah sapi-sapi yang hendak dikurbankan akan didandani dan dirias secantik mungkin bak pengantin. 

Sapi itu juga akan dikalungkan bunga tujuh rupa, lalu dibalut dengan serban, sajadah, dan kain kafan sebagai tanda kesucian orang yang berkurban. Setelah didandani, semua sapi akan diarak menuju masjid untuk diserahkan kepada panitia kurban. 

6. Gamelan Sekaten, Cirebon

Tradisi Gamelan Sekaten ini dipercaya merupakan media dakwah dari Sunan Gunung Jati sebagai penyebar agama Islam di tanah Cirebon. Disebut tradisi Gamelan Sekaten, karena selalu dibunyikan setiap perayaan hari besar agama Islam, yaitu Idulfitri dan Iduladha.

Alunan Gamelan yang berada di sekitar area Keraton Kasepuhan Cirebon itu pun menjadi penanda bagi perayaan hari kemenangan di Cirebon. Dalam pelaksanaannya, rangkaian gamelan akan dibunyikan sesaat setelah sultan Keraton Kasepuhan keluar dari Masjid Agung Sang Cipta Rasa.

7. Apitan, Semarang

Tradisi itu dilakukan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat Semarang, Jawa Tengah, atas limpahan rezeki berupa hasil bumi yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Dalam pelaksanannya, tradisi Apitan dimulai dengan pembacaan doa, dilanjutkan arak-arakan gunungan yang disusun dari hasil tani dan ternak. 

Nantinya, gunungan yang diarak tersebut akan diambil secara rebutan oleh masyarakat. Tak hanya itu, masyarakat yang menyaksikan apitan juga disuguhkan aneka hiburan khas kearifan lokal.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Dikei; Sebuah Ritual Pengobatan Suku Sakai

Koropak.co.id, 01 July 2022 18:26:08

Fauziah Djayasastra


Koropak.co.id - Selain pengobatan medis, ada ragam alternatif kesembuhan di Indonesia. Mulai dari akupuntur, obat herbal, hingga tradisi atau ritual yang dilakukan oleh beberapa suku. Salau satunya Dikei Sakai atau lebih dikenal dengan sebutan Dikei saja. 

Pengobatan ala Suku Sakai itu terbilang langka dan nyaris punah. Tahun 2019, Dikei masuk dalam Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Provinsi Riau. Suku Sakai adalah suku yang hidup di Kepulauan Riau dan bermukim di Balai Pungut, Duri, Kandis, Kapur, Kota sekitar Sungai Siak, Minas, dan di bagian hulu Sungai Apit.  

Keunikan Suku itu adalah punya tempat tinggal sederhana yang bisa dibongkar pasang. Biasanya mereka juga hidup berpindah-pindah tempat alias nomaden. Kehidupannya bergantung pada alam dan tidak tersentuh oleh kemajuan zaman. Bahkan pakaian mereka berbahan kulit kayu.

Pada dasarnya, Dikei punya peranan penting dalam menjaga kesehatan sekaligus kesejahteraan masyarakat. Ritual itu juga tak dapat dipisahkan dengan kepercayaan kepada Tuhan dan alam. 

Ritual Dikei dilakukan untuk mengembalikan semangat manusia yang telah hilang. Masyarakat Sakai percaya jika hilangnya semangat tersebut adalah penyebab orang menjadi sakit. Untuk mengembalikan semangat sekaligus menyembuhkan orang sakit maka akan memanfaatkan roh-roh baik.



Baca: Dipengaruhi Tradisi Majapahit, Kesenian Reak Tetap Eksis Hingga Kini


Roh baik dipercaya tidak mengganggu manusia. Alih-alih berbuat jahat, roh baik dapat memberikan kehormatan, rasa segan, ataupun perasaan takut.

Untuk menyelenggarakan ritual Dikei dibutuhkan Mahligai 9 Telingkek atau Sembilan tingkat yang terbuat dari jalinan daun angina-angin dan dibuat sebanyak tujuh tingkat. Pun dibutuhkan obor dari kayu damar yang harus menyala sepanjang ritual.

Ritual akan dipimpin oleh dukun yang disebut kemantan. Dia percaya bahwa di atas puncak ke Sembilan mahligai merupakan tempat putri makhluk halus duduk di singgasana dan membantu penyembuhan.

Ritual itu memang agak terasa mistis; dilaksanakan malam hari dan dalam remang, dengan iring-iringan mantra, tabuhan gendang, serta nyanyian. Lengkap dengan tarian olang-olang dengan gerakan seperti mengepakkan sayap.

Kini, sebagian masyarakat Sakai masih melakukan ritual Dikei walau sebagian dari mereka juga memilih beralih ke pengobatan medis. Untuk melestarikannya, Dikei dijadikan sebagai ajang pertunjukkan seni.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Genggong, Alat Musik yang Mulanya untuk Memanggil Kekasih

Koropak.co.id, 01 July 2022 12:18:50

Fauziah Djayasastra


Koropak.co.id - Suku-suku di Indonesia punya keunikan dan ciri khas tersendiri, termasuk dengan ragam tradisi, budaya, serta keseniannya. 

Di Suku Karo, ada alat musik unik bernama genggong. Alat musik itu memang tak seterkenal keteng-keteng, kulcapi, atau surdam. Tetapi alat musik genggong memang (pernah) ada dan terbilang langka; sebagian bahkan menyebut sudah punah.

Genggong sendiri merupakan alat musik Karo yang dibuat dari besi dan dimainkan dengan menggunakan mulut sebagai resonator. Selain itu, mulut juga punya peranan sebagai pengatur tinggi rendahnya nada yang dihasilkan.

Sekilas, alat musik ini tampak biasa saja dan tergolong ke dalam instrumen tunggal. Tetapi pada zaman dulu, alat musik ini punya peran penting terutama bagi kawula muda (anak perana) yang tengah dimabuk asmara.

Dilansir dari Website Departemen Etnomusikanologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatra Utara (USU), ada satu penelitian yang menyebutkan jika alat musik ini digunakan oleh anak perana guna memanggil gadis (singuda-nguda) pujaan hatinya agar keluar dari rumah dan menemuinya.



Baca: Murah dan Mudah, Tiga Mainan Anak Terbuat dari Tumbuhan


Para anak perana biasanya akan memainkan genggong sesuai lagu tertentu yang telah dipahami kekasihnya, sehingga apabila mengalun nada dari alat musik ini, si gadis sontak mengetahui jika kekasihnya tengah menunggu di luar rumah.

Jika dilihat peranannya, alat musik ini juga digunakan sebagai alat komunikasi dan menunjukkan romantisme yang dibalut dengan alunan musik dan budaya. Namun kabarnya, dewasa ini genggong telah punah dari kebudayaan musik Karo. Dari fungsi komunikasi juga tampak sudah ditinggalkan dan digantikan dengan alat yang lebih modern.

Adapun alat musik genggong yang saat ini ada jika dicari di kolom search engine, dominan muncul genggong khas Bali yang masih lestari. Genggong Bali berbahan pelepah pohon enau, bentuknya pun sekilas seperti karinding.

Konon genggong juga dikenal sebagai khas Besemah, Sumatera Selatan, dimana alat musik ini kerap dimainkan para petani guna mengusir sepi dan jenuh ketika berada di sawah atau kebun.


Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini:


Murah dan Mudah, Tiga Mainan Anak Terbuat dari Tumbuhan

Koropak.co.id, 30 June 2022 12:08:10

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Perkembangan zaman yang semakin maju membuat berbagai permainan yang dahulu sering dimainkan anak-anak, kini sudah terlupakan. Bahkan bisa dibilang hampir tidak ada lagi yang memainkannya.

Padahal semua permainan tempo dulu mudah dan murah. Beda dengan permainan zaman sekarang yang berbasis internet. Jika tak ada kuota di ponsel, maka tidak bisa main. Kalaupun ada kuota, mainnya cuma sendirian. Bisa main barengan, tapi dengan orang di beda tempat. Susah dan mahal memang.

Coba bandingkan dengan permainan zaman dulu. Selain mudah dan murah, tapi bisa senang bersama-sama. Main ramai-ramai di satu tempat dan waktu yang sama. Ada banyak manfaat yang didapat; senang, sehat, dan hemat.

Dibilang hemat, karena tak perlu uang untuk memainkannya. Alam sudah menyediakan segalanya. Berikut ini beberapa mainan yang terbuat dari tumbuhan dan sangat seru untuk dimainkan:

1. Senapan dari pelepah pisang

Permainan yang satu itu termasuk yang paling seru untuk dimainkan. Cara membuat mainan tembak-tembakan dari pelepah pisang ini terbilang sederhana. Ambil pelepah pisang lalu potong sesuai ukuran yang diinginkan, kemudian satukan dengan lidi.

Setelah selesai, sebuah senapan siap dipakai untuk bermain perang-perangan. Tak hanya dibuat menjadi senapan, kita juga bisa membuat pelepah pisang ini menjadi sebuah pistol-pistolan. Anak-anak bersembunyi, lalu saling adu tembak. 

Menariknya, suara tembakannya memakai mulut. Uniknya lagi, terkadang anak-anak tidak akan mengaku jika mereka sudah terkena tembakan. Memang susah, karena tidak ada bukti juga. Tapi di sanalah letak keseruannya.



Baca: Empat Permainan Tradisional Sunda Berawal Ucing


2. Perahu daun bambu

Saat melihat daun bambu, anak-anak zaman sekarang mungkin tak akan kepikiran apa-apa. Beda dengan anak zaman dulu. Saat melihat pohon beruas itu, mereka akan memikirkan banyak hal untuk menjadikannya sebagai mainan. 

Salah satunya adalah dengan memanfaatkan daunnya yang bisa dibuat menjadi perahu-perahuan. Meskipun terkesan sederhana, jangan salah, untuk membuatnya itu terbilang cukup susah. 

Ada trik-trik lipatan yang harus dilakukan agar dapat menghasilkan perahu yang stabil saat berada di air. Sementara itu, cara memainkannya terbilang mudah. Tinggal diletakan saja pada air mengalir atau kita pun bisa adu cepat bersama teman sebaya.

3. Wayang daun singkong

Tak hanya bisa dijadikan sebagai olahan makanan, dulu daun singkong sering digunakan anak-anak untuk bermain. Seperti bagian jari-jari daun yang bisa dibentuk menjadi gelang hingga dijadikan semacam wayang-wayangan. 

Memang membuatnya sedikit sulit dan tak semua anak bisa membuatnya seperti wayang sungguhan. Akan tetapi, meskipun bentuknya jadi seperti apapun, pada akhirnya akan tetap dipakai untuk bermain. 

Dalam memainkannya, biasanya anak-anak akan berperan layaknya seorang dalang yang menjalankan sebuah cerita. Namun, mengingat masih anak-anak, mereka pun biasanya akan menjalankan cerita yang mereka ketahui.

Meski terbilang sederhana dan murah, namun permainan zaman dulu penuh dengan kreativitas dan sarat manfaat. Kita berharap, semua permainan seperti itu kembali membersamai anak-anak zaman sekarang agar kewarasan sosial tetap terjaga.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Dipengaruhi Tradisi Majapahit, Kesenian Reak Tetap Eksis Hingga Kini

Koropak.co.id, 28 June 2022 15:15:09

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Sebagian orang mungkin tidak mengetahui tentang kesenian khas Sunda yang satu ini: Reak. Kesenian itu biasanya ditampilkan dalam hajatan atau panen padi. Dalam pertunjukannya, reak identik dengan atraksi para pemain yang dibarengi iringan sinden dan irama musiknya yang khas.

Lantaran dalam setiap pertunjukannya sejumlah pemain dan penari kerap mengalami kesurupan, kesenian reak identik dengan hal yang berbau mistik. Berdasarkan sejarahnya, kesenian reak berasal dari kata 'Reok' atau 'Reog' yang berarti membuat kebisingan atau kegaduhan.

Konon, kesenian lahir dan mendapatkan pengaruh dari tradisi di Majapahit hingga pada akhirnya menyebar ke wilayah Cirebon dan beradaptasi dengan budaya setempat. Di sisi lain, kesenian reak identik dengan suara dan irama dari alat musik tradisional, serta penari yang menggunakan topeng singa bersurai hitam yang terbuat dari kayu dan karung goni.



Baca: Badawang, Kesenian Rancaekek Kulon yang Mirip Ondel-Ondel Betawi


Biasanya kelompok kesenian reak beranggotakan 20 orang, dan 10 orang di antaranya menjadi nagaya atau pemain musik. Sedangkan 10 orang lainnya menjadi penari yang menggunakan kuda-kudaan serta kostum barong atau singa.

Alat musik yang digunakan pun masih memertahankan tradisi, seperti gong, tilingtit, prung, bamblang hingga terompet. Dan, meskipun tarian dalam kesenian reak terkesan tak beraturan, akan tetapi ada arti dan aturan tersendiri untuk setiap tarian yang ditampilkan.

Di tengah perkembangan zaman dan kemajuan teknologi yang berkembang pesat, kesenian reak masih tetap bertahan dan eksis sampai dengan saat ini. Salah satunya dibuktikan dengan keikutsertaan delapan seniman reak Juarta Putra dari Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang diundang untuk tampil dalam Festival Musik Roskilde, Denmark, mulai 26 Juni s.d 2 Juli 2022.

Festival Roskilde merupakan acara musik terbesar di Denmark, sekaligus menjadi salah satu yang terbesar di Eropa. Itu merupakan festival nonprofit yang pada awalnya dimulai oleh dua orang mahasiswa pada 1971-an, dan hingga kini terus menghasilkan jutaan dolar donasi untuk budaya, musik, dan kemanusiaan. 


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Tepuk Tepung Tawar, Cara Masyarakat Melayu Haturkan Syukur

Koropak.co.id, 28 June 2022 12:04:07

Fauziah Djayasastra


Koropak.co.id - Tradisi yang ada di Indonesia memang beragam dan tak sedikit yang masih melestarikannya hingga kini. Setiap tradisi berkaitan dengan wujud rasa syukur kepada Sang Pencipta, baik atas segala kenikmatan, kesehatan, hasil panen melimpah, dan masih banyak lagi.

Seperti tradisi masyarakat Melayu di Riau. Mereka punya tradisi bernama tepuk tepung tawar. Tradisi itu biasanya mengiringi acara-acara perhelatan, seperti pernikahan, syukuran, naik jabatan, naik haji, dan acara lain sebagai ucapan syukur.

Juga ditujukan guna memberi berkah dalam mencapai keselamatan serta kesejahteraan, termasuk permohonan dijauhkan dari duka, nestapa, serta kesialan. Uniknya, selain untuk manusia, tradisi itu juga berlaku untuk benda. Untuk benda, biasanya dilaksanakan dalam acara pernikahan, rumah baru, atau kendaraan baru.

Untuk calon pengantin, tepuk tepung tawar dilaksanakan secara bergantian karena mereka belum bersatu atau belum melakukan mahar batih. Ketika sudah resmi menikah, upacara dapat dilakukan bersamaan di tempat pengantin melayu bersanding.


Baca: Ritual Matoyak; Cara Suku di Sulawesi Utara Mencari Kesembuhan


Beberapa hal yang perlu disiapkan untuk rangkaian upacara ini adalah daun perenjis, bahan penabur, serta bahan renjis yang terdiri dari air percung, beras putih basuh, beras tabur (beras kunyit dan beras kuning), bertih, bunga rampai, daun ati-ati, daun gandarusa, daun juang-juang, daun sedingin, serta daun setawar.

Sementara Mak Inang akan menyiapkan alat semacam air tepung tawar, astakone, beras basuh, bertih, buah kaki batil,  embat, keto, mangkuk kecil, perenjis, telur ayam mentah, tepak sirih, terenang, serta sirih nikah dalam senjong berbahan beras kunyit.

Upacara dimulai dengan mengambil sejumput beras kunyit, beras putih, serta bertih untuk ditaburkan ke atas kepala dan bahu orang yang diupacarakan. Ketika menaburkannya akan dibacakan juga salawat.

Selanjutnya, perenjis dipercikkan pada kening, bahu, belakang telapak tangan, serta menempelkan telur di wajah. Proses tepuk tepung ini biasa diakhiri dengan pembacaan doa agar orang yang diupacarakan senantiasa ada dalam keselamatan dan keberkahan.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Empat Permainan Tradisional Sunda Berawal Ucing

Koropak.co.id, 26 June 2022 12:21:51

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Jawa Barat punya banyak permainan yang sarat manfaat dan selalu menghadirkan kebahagiaan bagi para pemainnya. Tak perlu barang mewah atau uang banyak untuk memainkannya. Selama ada lahan kosong, baik pekarangan rumah, lapang, atau sawah kering anak-anak bisa bebas bermain.

Selain bisa dijadikan sebagai media bersosialisasi, berbagai permainan yang jadi primadona anak-anak zaman dulu mampu mengasah kecerdasan motorik, melatih kerja sama tim, serta sebagai sarana hiburan hingga mampu menjaga kesehatan anak-anak. 

Kali ini kita akan membahas empat permainan tradisional khas Sunda yang mengandung ucing. Apa saja?

1. Ucing Sumput

Jika dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama petak umpet, lain halnya dengan bahasa Sunda. Suku Sunda mengenal permainan ini dengan sebutan 'Ucing Sumput' atau yang dalam bahasa Sunda berarti 'Kucing Sembunyi'.

Biasanya permainan ini dimainkan oleh minimal dua orang. Awalnya, para pemain akan melakukan hompimpa untuk menentukan siapa yang menjadi "kucing". Nantinya "kucing" tersebut bertugas mencari pemain lain yang bersembunyi.

Setelah ditentukan, pemain yang menjadi "kucing" akan berhitung sampai sepuluh sambil memejamkan mata dan menghadap tembok atau pohon. Selesai menghitung, "kucing" akan mencari para pemain yang bersembunyi. Jika berhasil menemukan pemain yang bersembunyi, selanjutnya dia harus segera menyentuh tembok sembari mengucapkan nama pemain yang ditemukan.

2. Ucing-ucingan

Permainan yang satu ini biasanya sering disebut juga 'Emeng-emengan'. Namun tak jarang ada pula yang menyebut permainan ini dengan sebutan 'Ucing Udag'. Permainan ini dimainkan lebih dari dua orang pemain.

Permainan akan diawali cingciripit, suit atau hompimpa untuk menentukan siapa yang menjadi kucing. Barulah setelah itu, pemain yang menjadi kucing akan berlari mengejar dan menyentuh badan lawan.



Baca: Permainan Tuk Tuk Geni, Ajarkan Anak Cara Mematuhi Orangtua


Pemain yang sudah tersentuh "kucing" secara otomatis menjadi "kucing", sementara pemain yang sebelumnya menjadi "kucing" akan terbebas dari tugasnya. Ada juga versi lainnya. Pemain yang terkena sentuhan "kucing" akan menjadi teman "si kucing" dan membantu dalam mengejar pemain lain sampai semuanya tertangkap.

3. Ucing Beling

Permainan ini dimainkan dengan menggunakan media pecahan beling atau kaca yang ditumbuk menjadi kecil. Untuk memainkannya, semua pemain membuat pecahan kaca kecil lalu membuat garis bulat di tanah dengan ukuran garisnya yang disesuaikan dengan pemain.

Permainan diawali dengan cingciripit, hompimpa, suten atau suit untuk menentukan siapa yang menjadi "kucing". Setelah ditentukan, "si kucing" akan mulai melakukan penghitungan dari 1 s.d. 10. Sementara para pemain lain menyembunyikan pecahan beling tersebut di area garis bulat yang dibuatnya tadi, namun disamarkan agar tidak terlihat oleh "si kucing" yang nanti akan mencarinya.

4. Ucing Bendrong

Permainan yang satu memiliki aturan yang hampir sama dengan ucing sumput atau petak umpet, namun menggunakan tumpukan batu atau batu bata sebagai media permainannya. Dalam memainkannya, batu atau batu bata sebanyak 8 sampai 12 buah akan ditumpuk ke atas. Setelah itu para pemain akan melakukan undian urutan melempar dengan cingciripit atau hompimpa.

Setelah ditentukan, para pemain akan berjejer dengan jarak yang disepakati bersama sesuai urutan. Selanjutnya, satu per satu pemain melemparkan batu atau batu bata ke arah tumpukan. Jika pemain dengan urutan melempar 1 berhasil meruntuhkan batu bata, maka pemain urutan 2 akan menjadi 'kucing'. 

Sementara pemain lain berlari untuk bersembunyi. Pemain yang menjadi "kucing" harus cepat menumpukkan dan menyusun kembali bata yang runtuh, lalu mencari permain yang bersembunyi. Saat "kucing" menemukan pemain, dia akan berteriak hong dan menyebut nama pemain yang sembunyi.

Selain itu, saat "si kucing" tengah mencari pemain yang bersembunyi, pemain lain juga dapat mengintai dari tempat persembunyiannya dan menunggu si kucing lengah dan jauh dari tumpukan bata, lalu berlari dan meruntuhkan bata.

Apabila bata yang tersusun runtuh sebelum semua pemain yang bersembunyi ditemukan, maka permainan akan dimulai lagi dari awal dan "si kucing" akan tetap menjadi "kucing". Semua pemain juga akan bersembunyi kembali meskipun sebelumnya dia sudah ditemukan.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Badawang, Kesenian Rancaekek Kulon yang Mirip Ondel-Ondel Betawi

Koropak.co.id, 25 June 2022 15:11:58

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Kesenian tradisional khas Jawa Barat ini lahir dan hidup di tengah-tengah masyarakat pedesaan, khususnya di Desa Rancaekek Kulon, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Namanya Badawang. Sebagian menyebutnya Memeniran.

Ada dua sosok yang berjasa dalam kesenian tersebut. Mereka adalah E Rachmat dan Rumsadi. Keduanya kini sudah meninggal dunia. Dalam Bahasa Sunda, Badawang diartikan sebagai sosok manusia tinggi besar. Lantaran itu pula kenapa disebut memeniran asal kata meneer atau orang Belanda berbadan tinggi besar.

Badawang biasanya dijadikan pengisi upacara helaran atau pentas di atas panggung, khitanan anak, pernikahan hingga peringatan hari penting, seperti hari jadi kota dan kabupaten serta hari-hari besar nasional.

Ganjar Kurnia dalam bukunya 'Deskripsi Kesenian Jawa Barat' menulis, Badawang merupakan kesenian yang memiliki kemiripan dengan kesenian ondel-ondel Betawi. Itu karena boneka besar dengan pakaian perlente digendong atau dipakai oleh orang dengan pakaian sederhana di dalamnya. 



Baca: Suling dari Tanah Sunda, Alat Musik Tiup Sejak Manusia Purba


Biasanya, Badawang juga turut diisi dengan sebuah tarian yang merupakan perpaduan dari berbagai tarian yang ada dan berkembang di Jawa Barat. Sebut saja misalnya Tari Keurseus, Tari Pencak Silat, Tari Benjang dan Tari Ketuk Tilu yang dipadukan juga dengan olahraga seperti sepakbola dan olahraga lainnya.

Selain di Kabupaten Bandung, Badawang juga menyebar di setiap kabupaten dan kota yang ada di Provinsi Jawa Barat, seperti Kabupaten Garut, Sumedang, dan Kota Bandung. Dalam perkembangannya, Badawang lebih menonjolkan unsur kamonesan atau keterampilan dalam memainkan boneka.

Tak jarang, beberapa figur yang sudah dikenal masyarakat seperti Semar, Cepot, Dawala, hingga Gareng pun kerap beraksi dan menghibur penonton, mulai dari atraksi mulut boneka yang seolah-olah berbicara, menari dan berjoget, melambaikan tangan, bersorak dan lainnya.

Biasanya, Badawang dimainkan oleh sekitar 4 sampai 9 orang. Mereka dituntut hapal karakter Badawang yang dimainkannya. Di sisi lain, pagelaran Badawang merupakan  gambaran dalam tarian rakyat pedesaan yang penuh dengan hiburan dan humor, serta menggambarkan kegembiraan kehidupan dalam masyarakat yang penuh dengan gairah.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Mengulas Awal Mula Berkembangnya Batik Jawa Barat

Koropak.co.id, 18 June 2022 12:27:56

Eris Kuswara



Koropak.co.id - Batik di Jawa Barat memiliki sejarah yang panjang. Berdasarkan beberapa sumber, budaya membatik di Jawa Barat pada awalnya dibawa oleh masyarakat Jawa Tengah di era Kerajaan Mataram. 

Kala itu masyarakat Jawa Tengah membawa budaya membatik saat akan menuju Batavia (sekarang Jakarta) ketika Perang Diponegoro meletus sekitar 1825-an. Sejak itu masyarakat di Jawa Barat mulai mengenal batik. 

Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) mencatat, pada 2008, kerajinan batik Jawa Barat pada awalnya hanya ada di 8 kabupaten/kota. Namun lambat laun jumlahnya semakin meluas. Bahkan, pada 2013, sudah ada 27 kabupaten/kota di Jawa Barat yang menghasilkan produk batik. Berikut beberapa motif batik yang ada di beberapa daerah di Jawa Barat:

1. Batik Priangan 

Batik Priangan merujuk pada sejumlah daerah di Jawa Barat, meliputi Garut, Ciamis, dan Tasikmalaya. Ciri khas yang menonjol dari batik ini adalah warna latar kuning muda yang berasal dari Batik Garut dan setelah itu turut mempengaruhi ciri khas batik di derah lainnya di Priangan.



2. Batik Cirebonan

Masuk sebagai kota wilayah di pesisir utara Jawa, Cirebon memiliki produk batik yang terkenal seperti Batuk Keratonan, Pesisiran, dan Trusmi. Secara garis besar, warna dari kain batik Cirebonan menggunakan warna-warna yang ceria, seperti warna merah, biru langit hingga hijau pupus. Mega mendung pun diketahui menjadi motif batik yang paling populer diantara yang lainnya.

3. Batik Kuningan

Batik Kuningan lebih dikenal dengan nama batik Paseban Kuningan. Berdasarkan cerita dari beberapa masyarakat setempat, motif batik tersebut dibuat dan dirancang oleh Pangeran Djatikusumah dengan melakukan penelusuran secara pendalaman seni melalui ukir dan relief pada Gedung Paseban. 

Batik Paseban Kuningan ini memiliki keunikan tersendiri, yakni terletak pada motifnya yang relatif besar, tanpa isen-isen dengan warna latarnya yang gelap seperti warna biru tua, hitam, dan merah hati.

4. Batik Indramayu

Salah satu yang menjadi ciri khas dari Batik Indramayu atau dikenal juga dengan sebutan Batik Dermayon ini adalah ragam flora dan fauna yang direpresentasikan secara datar dengan banyaknya lengkungan dan garis-garis lancip. 

5. Batik Sumedang

Batik Sumedang atau yang dikenal juga dengan nama Batik Kasumedangan didominasi penggunaan warna merah. Motifnya berpola pada ceplokan sebagai motif utama pada latar vertical atau horizontal.

6. Batik Bandung 

Terakhir ada Batik Bandung dengan motifnya yang unik dan dibuat oleh pegiat batik di Jawa Barat, Komarudin Kudiya. Ia membuat motif khas Bandung yang terinspirasi dari Jembatan Pasupati, angklung, dan bunga patrakomala.



Ritual Motayok; Cara Suku di Sulawesi Utara Mencari Sembuh

Koropak.co.id, 18 June 2022 07:45:22

Fauziah Djayasastra


Koropak.co.id - Bisa jadi Anda baru tahu nama yang satu ini: Motayok. Sepintas namanya tidak terlalu akrab dengan kosakata bahasa Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pun belum tercantum. Tidak seperti silat atau reog yang sudah ada dalam kamus.

Motayok adalah salah satu ritual di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, yang di dalamnya terdapat beberapa suku dan masing-masing suku punya budaya. Salah satunya Motoyak, kini lebih akrab dengan sebutan Tari Motayok atau Tari Pengobatan.

Motayok (disebut juga Mokitayok) adalah sebutan untuk ritual mengobati orang sakit. Ritual tersebut telah dilakukan sejak ratusan tahun silam oleh para leluhur. Diketahui jika kebiasaan Motayak merupakan ritual pengobatan tertua yang ada di Bolaang Mongondow. Namun ritual ini tidak serta merta dapat dilakukan oleh setiap orang.

Alat-alat yang diperlukan dalam ritual ini adalah giring-giring yang diikatkan pada kain berwarna-warni (kokaloy), gendang berukuran 1,25 m yang dimainkan dua orang, serta dua buah gong yang dimainkan oleh dua pemain dengan irama Do Mi.

Sebelum upacara dimulai dilakukan dulu Mokibondit atau bisa dibilang sebagai proses diagnose. Lewat Mokibondit akan diketahui jenis penyakit apa yang diderita oleh orang yang sakit. Mokibondit ini juga penentu ritual seperti apa yang harus dilakukan ketika Motayak.



Baca: Bebehas, Tradisi Masyarakat Muara Enim yang Tergerus Zaman


Di desa Bilalang Baru, ada bangunan berupa sanggar budaya, sekaligus tempat melangsungkan upacara Motayak. Selain pengobatan dengan bahan-bahan alami, dilakukan juga seni tarian yang dipercaya sebagai pengobatan. Menanamkan keyakinan pada pasien bahwa hal tersebut bisa mengobati penyakit, adalah hal penting yang harus dilakukan agar pasien sembuh.

Ritual ini biasanya dilakukan pada malam hari dengan tabuhan gimbal dan pukulan gong besar serta gong kecil sebagai iringan. Lalu akan ada orang yang kerasukan roh leluhur (dodutaan) akan melakukan gerakan-gerakan kecil di atas lantai (molansikan) dan sewaktu-waktu akan menginjak potongan kayu sebagai tanda pergantian roh leluhur.

Ritual Motayok juga diiringi dengan lantunan syair-syair pendek yang disambut oleh 4-5 orang wanita pengiring (monenden). Pada pelaksanaannya, akan diselingi istirahat agar dodutaan bisa berganti baju. Sementara pemain yang lain serta penonton yang hadir juga bisa makan dan minum terlebih dahulu.

Ritual ini biasanya berlangsung hingga pagi hari, lalu dilanjutkan dengan memasak makanan untuk sesajen kepada para leluhur. Sajian yang dimasak berbahan ayam, beras ketan, ikan, serta sagu hutan (koito'). Sementara pengobatan akan dilakukan pada sore hari sambil meminta petunjuk dan perlindungan roh-roh leluhur.

Prosesi Motayok ini berakhir ketika matahari terbenam dengan membawa sesajian ke tempat yang telah ditentukan, lalu sisa sesajian itu akan dibagikan pada orang-orang yang hadir pada ritual pengobatan. Namun, pasien dilarang memakan sesajian agar penyakit bisa sembuh dengan cepat.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini: