Mengenal Enam Jenis Kain Tradisional Khas Daerah di Indonesia

Koropak.co.id, 25 December 2021 14:45:31
Penulis : Eris Kuswara
Mengenal Enam Jenis Kain Tradisional Khas Daerah di Indonesia

 

Koropak.co.id - Indonesia memiliki beraneka ragam kekayaan budaya, salah satunya kain tradisional dan merupakan kain yang berasal dari budaya di daerah lokal. Diketahui, kain ini juga dibuat secara tradisional serta digunakan untuk kepentingan adat dan istiadat.

Di Bumi Nusantara ini, tentunya terdapat banyak jenis kain tradisional yang berbeda-beda di setiap daerahnya. Lalu apa saja jenis kain tradisional tersebut?

Dilansir dari akun Instagram Direktorat Sekolah Dasar, berikut 6 jenis kain tradisional yang bisa diketahui untuk pembelajaran sebagaimana dihimpun Koropak, Sabtu 25 Desember 2021:

1. Kain Ulos

Ulos adalah jenis kain khas dari suku Batak. Kain ulos sendiri dibuat dari benang kapas yang kemudian diwarnai dengan cara merendam benang tersebut ke dalam pewarna alami yang berasal dari tanaman. Kain ini digunakan pada upacara adat.

Selain itu, pada awalnya kain ulos digunakan sebagai pakaian sehari-hari masyarakat Batak. Kain ini juga dapat dipakai sebagai penutup kepala hingga selendang. Kain ulos juga merupakan simbol status dari Suku Batak.

2. Songket Palembang

Tercatat pada tahun 2013 lalu, songket Palembang secara resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia. Kain Songket Palembang ini memiliki makna filosofis, seperti kemakmuran, kejayaan dan keberanian.

Songket berasal dari kata sungkin yang artinya mengait. Sementara itu, Songket Palembang sendiri memiliki beberapa jenis yaitu Songket Lepus, Songket Tabur, Songket Bunga, Songket Limar dan lainnya.

Kain songket biasanya digunakan untuk menghadiri acara adat seperti perkawinan, upacara cukur rambut bayi dan busana penari Gending Sriwijaya.

3. Sasirangan Banjar

Kain sasirangan Banjar ternyata sudah ada sejak abad ke 12. Kain ini merupakan hasil karya dari Patih Lambung Mangkurat setelah dia bertapa di atas rakit Balarut Banyu selama 40 hari 40 malam.

Sasirangan sendiri memiliki arti menyirang atau menjelujur. Pada awalnya, kain sasirangan dibuat untuk pengobatan tradisional, terutama digunakan untuk pengobatan keturunan raja.

Namun kini, kain tersebut sering digunakan dalam upacara adat, misalnya acara mandi calon pengantin, melahirkan dan upacara Baayun Maulid. Berbicara mengenai motifnya, motif utama dalam kain sasirangan adalah motif lajur, motif ceplok, dan motif variasi.

 

 


Baca : Sejarah Songket yang Ditetapkan UNESCO Sebagai WBTb Malaysia

4. Endek Bali

Endek memiliki arti diam atau tetap dan tidak berubah warnanya. Untuk proses pembuatan Endek ini dengan menggunakan benang yang diikat yang kemudian dicelupkan pada pewarna.

Meskipun begitu, benang tersebut tidak berubah warnanya. Diketahui, kain tenun Endek juga memiliki motif yang beragam.

Contohnya seperti motif patra dan encak saji. Motif tersebut bersifat sakral dan hanya digunakan pada saat upacara keagamaan saja.

Sedangkan untuk motif kain Endek lainnya seperti flora, fauna, tokoh pewayangan dan motif gemotris biasa digunakan untuk kegiatan sosial atau juga menjalani kehidupan sehari-hari.

5. Songket Minangkabau

Songket Minangkabau berasal dari Kerajaan Sriwijaya yang kemudian berkembang hingga ke Kerajaan Melaya dan masuk ke daerah Minang.

Menurut sejarahnya, kain Songket digunakan sebagai alat berekspresi dan Suku Minang mengekpresikan perasaannya itu ke dalam sehelai songket.

Kain ini digunakan dalam berbagai upacara adat tingkat tinggi seperti upacara Batagak Pangulu atau Pengangkatan Pemimpin Adat.

Selain itu, kain ini juga sering digunakan dalam prosesi upacara pernikahan. Motif yang paling terkenal pada kain ini adalah motif Kaluak Paku dan Pucuak Rabuang.

6. Kain Lurik

Lurik merupakan jenis kain tradisional yang berasal dari Jawa dan kain ini memiliki pla lorek atau garis-garis. Sementara itu, garis-garis yang ada pada kain ini juga bisa berupa garis vertical maupun horizontal.

Untuk bahannya, kain lurik terbuat dari serat seperti kapas, kayu sutra hingga sintetis. Kain lurik ini juga sering digunakan untuk upacara adat, seperti pada saat acara mitoni dan labuhan.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 

Komentar

Serba-serbi Permainan Tradisional dari Biji

Koropak.co.id, 11 August 2022 15:23:30

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Barat - Ada banyak permainan tradisional yang terbilang sederhana dan sangat seru untuk dimainkan. Selain menggunakan media berbahan kayu, bambu, plastik hingga bahan-bahan daur ulang yang aman digunakan untuk bermain, permainan tradisional di Indonesia juga bisa dimainkan dengan menggunakan biji-bijian sebagai medianya. Apa saja?

1. Adu Muncang

Bagi kalian yang berasal dari daerah Jawa Barat, seperti Sumedang, Garut, hingga Tasikmalaya dan sekitarnya, tentu sudah tak asing lagi dengan permainan adu kemiri atau yang lebih dikenal juga dengan nama ngaadu muncang. 

Permainan tradisional yang cukup populer di tanah Sunda ini dimainkan dengan menggunakan muncang atau kemiri yang nantinya akan diadu kuat. Kemiri yang digunakan harus sudah kering dan masih ada kulitnya.

Adapun pemukulnya bisa berupa batu besar atau alat khusus yang terbuat dari kayu. Meski terbilang sederhana, namun permainan yang satu ini memiliki nilai positif, yaitu kebersamaan dan sportivitas antarpemain.

2. Adu Klingsi atau klingsian

Kendati asal usul dari permainan ini belum jelas, namun permainan tradisional yang satu ini sempat populer di Indonesia pada 1970 s.d 1980-an. Diketahui, klingsi merupakan biji asam jawa. Cara bermainnya, biji klingsi akan diasah pada benda berpermukaan kasar hingga tersisa separuh atau sampai terlihat bagian dalamnya. 

Setelah itu, biji tersebut ditempelkan pada pecahan kaca atau keramik dengan menggunakan beberapa cara, seperti dengan tepung kanji yang sudah dimasak, getah pohon, atau putih telur, akan tetapi juga tidak boleh menggunakan lem. 

Selanjutnya, klingsi akan disejajarkan dengan klingsi pemain lain dan klingsi siapa yang paling lama menempel, dialah pemenangnya.

3. Adu Cilong

Permainan tradisional ini sangat populer di daerah Riau. Cilong merupakan biji dari pohon karet yang berjatuhan dan bisa dipungut di sekitar sekitar pohonnya. Cara memainkannya, pilih salah satu biji karet yang dianggap paling keras kulitnya. Kemudian ajak satu orang teman untuk main bersama. Untuk menentukan siapa yang akan bermain terlebih dahulu, biasanya ditentukan dengan cara undian. 



Baca: Murah dan Mudah, Tiga Mainan Anak Terbuat dari Tumbuhan


Pemain yang kalah undian harus rela cilong miliknya berada di bagian bawah. Sementara pemain yang menang undian, meletakkan cilongnya di atas cilong pemain yang kalah, setelah itu dipukul dengan tangan.

Jika cilong lawan belum pecah, maka permainan dilanjutkan secara bergantian dengan cilong milik lawan, begitu seterusnya sampai ada cilong dari salah satu pemain yang pecah. Pemenangnya adalah pemilik cilong yang tidak pecah.

4. Serak Biji Saga

Permainan serak biji saga terbilang sederhana, namun membutuhkan ketangkasan. Semakin banyak bijinya maka permainan akan kian menyenangkan. Pemain yang mendapatkan giliran pertama akan menyebarkan biji saga ke area bermain yang licin. Setelah itu menyentil salah satu biji saga dengan ujung kelingking hingga mengenai biji saga yang lain. 

Apabila mengenai target, maka biji yang disentil dan biji yang tersenggol atau tergeser akibat disentil bisa menjadi milik pemain. Permainan dilanjutkan secara bergantian. Pemenangnya adalah dia yang berhasil mengumpulkan biji saga terbanyak.

5. Sumbar Suru

Sumbar Suru merupakan permainan tradisional yang berasal dari Yogyakarta. Diketahui, kata Sumbar memiliki arti menyebar, sedangkan suru berarti disendok. Biasanya, untuk bermain sumbar suru ini dibutuhkan 2 sampai 5 orang pemain. 

Bahan yang dipakai dalam permainan ini adalah daun sawo kecik yang sudah dihilangkan pangkalnya dan biji sawo kecik atau biji tanjung. Permainan dilakukan di sebuah tempat datar berukuran 40 x 40 centimeter.

Pemain yang mendapatkan giliran pertama bertugas untuk menyebarkan biji, lalu menyendok biji satu per satu dengan daun sawo kecik tanpa menyentuh biji lain. Biji yang boleh disendok hanya yang berada di area bermain. 

Selain itu, pemain tidak boleh bergeser atau beranjak dari tempat semula. Apabila melanggar, maka pemain dianggap "mati" dan digantikan oleh yang lain. Pemenangnya adalah yang mampu menyendok biji hingga habis tanpa melanggar peraturan.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Tari Fataele dan Spirit Prajurit Nias Pertahankan Daerah

Koropak.co.id, 10 August 2022 15:42:09

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Sumut - Selain tradisi lompat batu, Pulau Nias, di Sumatra Utara, juga punya tari fataele atau yang lebih dikenal juga dengan tari perang. Dalam tarian ini, para penari mengenakan pakaian warna-warni, seperti hitam, kuning dan merah, plus mahkota ikat kepala.

Layaknya seorang kesatria dalam peperangan, para penari tarian Fataele ini juga akan membawa pedang, tombak, hingga tameng, sebagai alat pertahanan diri saat menghadapi musuh. Dalam pertunjukannya, tarian dipimpin oleh seorang komando seperti dalam prosesi perang yang dipimpin oleh seorang Panglima.

Diceritakan, pada zaman dahulu di Kampung Nias sering terjadi peperangan terkait dengan perebutan lahan kekuasaan kampung. Pemimpin atau petinggi kampung Nias, yang sering disebut juga sebagai "Si'Ulu", berinisiatif mengumpulkan para pemuda Nias untuk berlatih peperangan.

Tujuan pengumpulan para pemuda itu untuk mempertahankan kampung dari serangan musuh yang sering mengintai. Mereka yang akan ikut latihan perang akan diseleksi terlebih dahulu dengan cara yang unik, yaitu melompati Hombo Batu.

Jika pemuda itu berhasil melompati Hombo Batu, ia lulus dan akan melewati proses latihan perang sebelum dijadikan sebagai prajurit. Setelah itu, Si'Ulu akan mengadakan pesta kampung dengan memotong babi dan akan dinikmati para pemuda terpilih.

Kemudian dalam pesta itu juga, Si'Ulu akan mengumumkan nama pemuda yang telah berhasil melewati Hombo Batu. Hal itu pun tentunya menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi pemuda yang terpilih. Selanjutnya, pemuda-pemuda pilihan itu akhirnya akan membentuk Fataele. 



Baca: Mengulas Pembelajaran Ilmu Fisika Melalui Tradisi Lompat Batu Nias


Dulu, pasukan Fataele sendiri dibentuk untuk mempertahankan daerah kekuasaan dari musuh. Akan tetapi, tidak jarang juga pasukan Fataele itu turut melakukan kegiatan adat seperti pesta pernikahan, pesta penyambutan tamu, maupun prosesi pengangkatan pemimpin kampung. 

Seiring dengan perkembangan zaman, pasukan Fataele itu pun tidak lagi berperang, melainkan hanya bertugas untuk melakukan upacara adat saja. Mulai dari sanalah pada akhirnya Tari Adat Fataele itu terbentuk. 

Dalam gerakannya, tarian khas Pulau Nias ini akan dimulai dengan gerakan kaki maju, mundur, sambil dihentak sembari meneriakkan kata-kata pembangkit semangat untuk berperang. 

Gerakan itu memiliki makna kesiapan pasukan untuk terjun ke medan perang dengan penuh semangat kepahlawanan. Setelahnya, diikuti dengan formasi melingkar yang bertujuan untuk mengepung musuh.

Bagi masyarakat Nias, Tari adat Fataele dimaknai sebagai tari peperangan yang menjadi gambaran perjuangan dan solidaritas para prajurit yang penuh semangat dalam mempertahankan daerah tempat tinggal mereka.

Kini, tarian adat khas Sumatra Utara itu pun sering ditampilkan dalam prosesi adat tertentu, sekaligus sebagai bentuk penghormatan kepada tamu yang berkunjung ke Pulau Nias.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Rentak Kudo, Tarian Sakral Masyarakat Petani Kerinci Jambi

Koropak.co.id, 09 August 2022 12:16:21

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jambi - Kabupaten Kerinci, Jambi, punya kesenian sakral masyarakat petani yang disebut Tari Rantak atau lebih dikenal dengan Tari Rentak Kudo. Dinamakan Rantak Kudo dikarenakan gerakan dalam tariannya yang menghentak-hentak layaknya seperti kuda. Tarian yang indah itu mengedepankan dan menegaskan ketajaman gerakan dari para penarinya. 

Gerakannya sangat dinamis, terinspirasi dari seni pencak silat. Dalam gerakannya menimbulkan bunyi dari hentakan kaki yang selaras. Hal lain yang melekat dalam tarian itu adalah dalam pertunjukannya para penari dirasuki makhluk halus hingga bertingkah tak seperti manusia normal. Tak heran, saat tarian tersebut digelar, aroma kemenyan akan tercium di sekitar tempat pagelaran.

Biasanya, tarian tradisional tersebut dipersembahkan untuk merayakan hasil panen pertanian di daerah Kerinci yang akan berlangsung selama berhari-hari tanpa henti. Terkadang, jika daerah Kerinci dilanda musibah musim kemarau yang panjang, masyarakat akan turut mementaskan kesenian dalam rangka berdoa memohon kepada Tuhan agar dimudahkan segala urusannya. 

Dalam pelaksanaannya, mereka akan berdoa dan memohon kepada Tuhan sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Tujuan dari pementasan tarian itu pada umumnya adalah untuk melestarikan pertanian dan kemakmuran masyarakat.



Baca: Nilai Luhur dalam Tari Persembahan dari Riau


Tujuan lainnya adalah untuk menunjukkan rasa syukur masyarakat dalam musim subur atau juga dalam musim kemarau sebagai upaya memohon berkah hujan yang dianggap sakral oleh masyarakat Kerinci.

Dijelaskan, Tarian Rentak Kudo merupakan adaptasi dari tari Asyek, namun ada perbedaan di antara keduanya. Jika di dalam tari Asyek terdapat persembahan atau sesajen, sedangkan pada tari Rentak Kudo tidak ada sesajen sama sekali. 

Selain itu, kesenian tradisional tersebut juga sangat identik sekali dengan bahasa dan gaya bahasa masyarakat Kerinci daerah Rawang dalam menembangkan syairnya yang disebut "Asuh" dan penyanyinya sering disebut "Pengasuh".

Mayoritas pengasuh atau penyanyi dalam Rentak Kudo berasal dari daerah Tanjung Rawang, yang berada di hilir hamparan Rawang dengan menyusuri pinggiran Sungai Batang Merao yang mengalir menuju Danau Kerinci. Hal itu dapat dilihat dari lirik dan pantun serta Bahasa Rawang yang digunakan dalam mendendangkan lagu yang mengiringi gerakan tarian. 


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Makepung, Tradisi Balap Kerbau yang Berawal dari Iseng

Koropak.co.id, 08 August 2022 07:15:24

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Bali - Tak hanya memiliki pesona wisatanya yang terkenal sampai ke mancanegara, Bali juga memiliki keanekaragaman seni dan budaya yang tetap dilestarikan sampai saat ini. Satu di antaranya tradisi Makepung.

Tradisi yang berasal dari Kabupaten Jembrana itu merupakan balapan kerbau yang dilakukan masyarakat petani, dan sudah berlangsung secara turun-temurun. Biasanya, tradisi Makepung dilakukan pada saat musim tanam padi tiba.

Makepung telah menjadi identitas dari Kabupaten Jembrana yang dikenal sebagai "daerah buangan" bagi masyarakat "pembangkang". Selain itu, Jembrana juga turut dikenal sebagai daerah yang heterogen dan lebih terbuka terhadap perubahan.

Selain sebagai sarana hiburan dan pengisi waktu luang, di sisi lain tradisi makepung juga memiliki arti sebagai olahraga gaya petani Bali lawas. Tradisi ini juga dinilai untuk memupuk semangat dan kegigihan dalam berjuang demi meraih sebuah impian.

Tradisi tersebut dipercaya sudah ada sejak 1925 dan berawal dari sebuah permainan iseng yang dilakukan para petani saat membajak sawah. Seiring berjalannya waktu, para petani mengubah kegiatan iseng tersebut menjadi tradisi lomba balap kerbau yang dilakukan di arena sawah.



Baca: Tradisi Ngerebeg Bali Ditetapkan Jadi WBTb Indonesia


Para petani sepakat untuk mengadakan semacam lomba adu cepat di atas cikar-cikar atau pedati sebagai pengangkut hasil panen. Pedati itu ditarik satu akit kerbau atau sepasang kerbau yang penuh dengan muatan padi hasil panen raya dari sebidang tanah yang mereka garap. 

Ternyata, kegiatan itu memberikan dampak yang positif bagi para petani hingga kerbau yang mengangkut pedati. Akhirnya, lomba adu cikar pengangkut padi itu berkembang menjadi atraksi pakepungan.

Kini, tradisi Makepung biasa diadakan di Kabupaten Jembrana pada hari Minggu di bulan Juni s.d Oktober. Aturan mainnya mirip dengan tradisi Karapan Sapi yang ada di Madura. Tapi, ada hal yang sedikit unik. 

Pemenang dalam tradisi ini ditentukan dengan siapa yang berhasil membuat jarak antarpeserta di belakangnya sejauh sepuluh meter. Jika lawan berhasil mempersempit jaraknya menjadi kurang dari 10 meter, maka sang lawanlah yang menjadi pemenangnya. 

Seiring berjalannya waktu, Makepung bertransformasi menjadi salah satu agenda tahunan, hingga ada Makepung Gubernur Cup dan Jembrana Cup. Ratusan peserta dari berbagai kalangan turut memeriahkan kegiatan tersebut.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Berkunjung ke Kampung Adat Sijunjung, Pahami Aturannya

Koropak.co.id, 07 August 2022 07:07:23

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Sumatra Barat - Selain terkenal dengan kuliner rendangnya, hal lain yang dimiliki Sumatra Barat adalah gaya arsitektur rumah adatnya yang khas. Atap rumahnya kerap menjadi gambar penanda rumah makan Padang. 

Salah satu daerah yang hingga saat ini masih memertahankan rumah adat itu adalah Kampung Sijunjung yang berada di Jalan Diponegoro, Lalan, Kecamatan Lubuk Tarok, Kabupaten Sijunjung, Sumatra Barat.

Memiliki luas tanah sekitar 150 hektar, di Kampung Adat Sijunjung ada 76 buah rumah adat yang tersusun rapi. Rumah-rumah itu merupakan simbolisasi kepemilikan harta pusaka oleh kaum kerabat wanita yang diikat menurut garis keturunan ibu.

Seperti halnya desa pada umumnya, di Kampung Sijunjung juga ada beragam fasilitas yang terbilang cukup lengkap, seperti pemukiman, sawah, ladang, pangdampa kuburan, surau, mesjid, pasar, hingga jalan dan balai adat yang tersusun pada di area yang saling berdekatan dengan sungai. 



Baca: Kampung Adat Urug, Tempat Bermukimnya Keturunan Prabu Siliwangi


Ada satu hal lagi yang menarik dari kampung adat ini, yakni perayaan Festival Bakava Adat dan Membantai Kerbau yang sering dilaksanakan setiap tahunnya dan tetap dilestarikan sampai dengan saat ini. 

Untuk menjaga kelestarian di kampung adat tersebut, masyarakat setempat pun membuat aturan atau kesepakatan dengan memberikan hukuman sanksi sosial bagi anggota masyarakat yang melanggar ketentuan adat.

Kesepakatan itu di antaranya saat bertamu, wajib untuk saling bertegur sapa saat bertandang ke rumah warga atau melewati setiap rumah gadang. Selain itu, apabila ada seorang warga yang berada di rumah dan menyapa mampir, maka harus dibalas dengan senyuman dan harus mampir.

Aturan selanjutnya, jangan membiarkan suguhan yang disajikan tuan rumah tidak dimakan, karena menolak suguhan makanan maupun minuman sendiri merupakan hal yang kurang santun. Jika makanan atau minuman yang disuguhkan itu tersisa juga sangat tidak mengenakan. Sebaliknya, apabila tamu telah menghabiskan makanan maupun minuman yang disuguhkan, itu dianggap sebagai sebuah keberuntungan.

Di kampung adat ini juga tidak diperkenankan sekali untuk berkata kotor, dan perempuan dianjurkan memakai rok dan baju yang rapi. Jika semua itu dilanggar, maka akan ada sanksi adat.


Silakan tonton berbagai video menarik disini


Membaca Sejarah Tradisi Maen Pukulan, Silat Khas Betawi

Koropak.co.id, 06 August 2022 12:31:19

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Selain punya kerak telor, lenong, dan beragam seni budaya lainnya, Betawi juga ternyata memiliki silat khas yang bernama maen pukulan. Itu menjadi ajang bagi para jago silat atau yang terkenal dengan sebutan jawara untuk adu kekuatan. Siapa paling unggul, dia akan disegani masyarakat.

Maen pukulan merupakan permainan yang melibatkan kontak fisik, serang, dan membela dengan atau tanpa senjata. Main di sini juga menandakan adanya kesenangan, sehingga dengan kata lain, bagi orang Betawi ilmu bela diri itu awalnya adalah sebuah permainan dan bukan adu jago.

Antropolog Universitas Indonesia, Yasmin Zaki Shahab, memperkirakan, sejak abad ke-16, masyarakat setempat sudah mempertunjukan seni silat di berbagai acara penting, seperti pesta perkawinan hingga acara khitanan. 

Bagi orang Betawi juga silat tidak hanya sekadar seni bela diri, tapi menjadi suatu produk sosial hingga seni budaya yang mengakar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Hal senada disampaikan budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra. Menurutnya, ada ikatan yang erat antara budaya Betawi dan seni bela diri. Di masa lalu, ibadah salat dan silat sudah menjadi kewajiban bagi anak-anak Betawi.

"Maen pukulan ini pernah begitu menyatu dengan kehidupan masyarakat Betawi. Bahkan bisa dikatakan juga bahwa tradisi ini sudah mendarah daging bagi masyarakat Betawi, hingga tidak ada satupun orang Betawi yang sama sekali tidak maen pukulan," ucapnya.



Baca: Lenong, Seni Teater Khas Betawi yang Sarat Pesan Moral


Sayangnya, seiring perkembangan zaman, tradisi maen pukulan ini justru hampir punah. Itu lantaran tidak banyak anak muda yang ingin belajar seni bela diri. Selain itu, anak-anak Betawi pun sudah jarang berlatih maen pukulan sehabis belajar mengaji.

Beberapa literatur sejarah menyebutkan, cikal bakal dari tradisi maen pukulan ini berawal sejak Kerajaan Tarumanegara menguasai Sunda Kelapa (sekarang Jakarta) sekitar abad ke-5 s.d ke-7 Masehi.

Di masa lampau, pelabuhan Sunda Kelapa merupakan bagian penting. Tak heran, pelabuhan tersebut selalu mendapat perlindungan militer dari kerajaan. Selama menunggu pasukan datang, orang-orang di pelabuhan juga membutuhkan banyak orang jago yang direkrut dari daerah sekitar.

Pada 1618-an, diperkirakan sebanyak 6 ribu sampai 7 ribu prajurit yang ahli dalam bermain silat melindungi Jayakarta hingga memberikan pengaruhnya kepada masyarakat sekitar. Prajurit itu jugalah yang kemudian membentuk keluarga dan meneruskan ilmu bela dirinya.

Tak jarang, para jawara Betawi muncul bersamaan dengan masalah sosial yang terjadi pada masa itu. Meskipun mereka akan dielu-elukan sebagai pahlawan, namun tak sedikit juga jawara ini disebut sebagai bandit sosial.

G.J Nawi dalam bukunya "Maen Pukulan: Pencak Silat Khas Betawi (2016)", menyebutkan, meski memiliki nama maen pukulan, namun silat khas Betawi ini juga turut memuat beragam aspek, mulai dari aspek mental, spiritual, seni, bela diri hingga aspek olahraga yang menyatu dalam gerakan-gerakan khas pencak silat, baik itu bertahan maupun menyerang.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Lenong, Seni Teater Khas Betawi yang Sarat Pesan Moral

Koropak.co.id, 04 August 2022 12:21:41

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Mendengar kata lenong, ingatan kita pasti langsung ingat Betawi. Wajar saja. Itu lantaran beberapa tahun lalu, lenong pernah wara-wiri di televisi, dan memori kita masih merekam baik beberapa pemainnya.

Lenong yang merupakan teater tradisional dari Betawi memang sangat popular. Biasanya ditampilkan dalam berbagai acara hajatan dan perayaan-perayaan lainnya. Di dalamnya berisi cerita-cerita tentang kehidupan sehari-hari masyarakat yang dipadukan dengan unsur komedi.

Menariknya lagi, pertunjukan lenong ini biasa dilakukan secara cair. Antara pemain dan penonton bisa saling berinteraksi untuk mempengaruhi cerita dalam pertunjukannya. Dalam pertunjukannya, kesenian tradisional ini biasanya diiringi musik gambang, kromong, gong, kendang, kempor, suling, kecrek, serta alat musik dengan unsur Tionghoa, seperti tehyan, kongahyan, dan sukong. 

Untuk lakon atau ceritanya, pada umumnya mengandung pesan moral, yaitu menolong yang lemah, membenci kerakusan dan perbuatan tercela. 

Meskipun eksistensi teater tradisional satu ini kian hari semakin memudar, namun sampai dengan saat ini, lenong dianggap sebagai salah satu sandiwara komedi yang paling populer di lanskap kebudayaan Betawi.



Baca: Akulturasi Budaya Betawi-Tionghoa Melahirkan Gambang Kromong


Diceritakan, lenong mulai berkembang sejak akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20. Dikatakan bahwa kesenian teatrikal ini merupakan adaptasi masyarakat Betawi dari kesenian serupa seperti "komedi bangsawan" dan "teater stambul" yang sudah ada saat itu.

Seniman Betawi, Firman Muntaco, menyebutkan, lenong berkembang dari proses teaterisasi musik gambang kromong hingga berkembang sebagai tontonan dan sudah dikenal sejak 1920-an. Saat itu, lakon-lakon yang dibawakan dalam lenong, berkembang dari lawakan-lawakan tanpa alur cerita yang kemudian dirangkai hingga menjadi sebuah pertunjukan.

Awalnya, kesenian ini dipertunjukkan dengan mengamen dari kampung ke kampung. Bahkan, pertunjukannya kala itu diadakan di tempat terbuka tanpa panggung. Selanjutnya, pada saat pertunjukan berlangsung, salah seorang aktor atau aktris akan mengitari penonton sambil meminta sumbangan secara sukarela. 

Setelah itu, lenong mulai berkembang dan dipertunjukkan dalam acara-acara di panggung hajatan, seperti resepsi pernikahan sesuai dengan permintaan pelanggan. Barulah di awal kemerdekaan Indonesia, teater rakyat ini murni menjadi sebuah tontonan panggung.

Seiring berjalannya waktu, lenong semakin menjadi populer setelah pertunjukannya disiarkan di stasiun televisi, yang kala itu ditayangkan oleh TVRI mulai 1970-an. Tak hanya itu, kepopuleran kesenian itu juga turut membuat beberapa seniman lenong menjadi terkenal sejak saat itu, seperti Bokir, Nasir, Siti, dan Anen.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Enam Mainan Anak "Jadul" dari Karet Gelang

Koropak.co.id, 03 August 2022 15:14:18

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Kreativitas anak zaman dulu atau jadul memang tak diragukan lagi. Apapun bisa dijadikan mainan, termasuk karet gelang. Dengan segudang kreativitas yang dimilikinya, anak-anak zaman dulu berhasil menyulap benda murah meriah tersebut menjadi mainan yang mengasyikan hingga membuat ketagihan. Apa saja?

1. Lompat tali

Lompat tali menjadi salah satu permainan yang sering sekali dimainkan, terutama oleh anak-anak perempuan. Tali yang digunakan untuk permainan tersebut dari karet gelang yang dibuat simpul hingga memanjang dan cukup untuk melakukan permainan lompat tali. 

Untuk memperkuat tali agar bisa dimainkan, biasanya anak-anak menggunakan lebih dari satu karet gelang di setiap simpulnya. Permainan itu dijamin seru, karena harus melompat sesuai dengan batas tali yang dipasang, mulai dari sebatas mata kaki, dada, kepala hingga ke langit-langit.

2. Karetan

Ketajaman dalam melempar karet menjadi pertaruhan penting dalam permainan yang satu ini. Hal itu dikarenakan untuk memainkan permainan karetan adalah dengan cara melempar karet pada tancapan segitiga berganda (berisi 1 hingga 6 karet). 

Jika lemparan yang dihasilkan itu menyangkut pada tancapan, maka karet akan dikalikan sesuai deret yang ditentukan bandar. Akan tetapi jika lemparannya tak menyangkut, maka karet-karet itu menjadi milik bandar. Menariknya lagi, agar adil, pemeran bandar ini akan ditentukan secara bergantian.

3. Adu Ayam

Meskipun namanya adu ayam, namun dalam permainan ini tidak ada ayam sama sekali. Sebab, yang dibutuhkan untuk memainkan permainan ini adalah 1 karet gelang dan 2 sedotan. Untuk cara memainkannya, sedotan akan dilipat menjadi dua, lalu sangkutkan lipatan ke karet.



Baca: Empat Permainan Tradisional Sunda Berawal Ucing


Kemudian lakukan juga pada sedotan kedua dengan karet yang sama. Setelah karet mengikat antara 2 sedotan yang dilipat, selanjutnya putar sedotan ke arah yang berlawanan dan setelah putaran dirasa cukup, maka lepaskan benda tersebut ke lantai.

Elastisitas yang ada pada karet pun akan mengembalikan putaran yang telah dibuat sebelumnya, sehingga kedua sedotan pun akan bergerak berputar-putar layaknya seperti pertarungan ayam.

4. Pistol karet gelang

Umumnya, permainan yang satu ini dimainkan oleh anak laki-laki. Cara memainkan permainan ini pun terbilang cukup sederhana. 

Langkah pertama, bentuk tangan menyerupai pistol, lalu kaitkan satu sisi karet di tengah jari telunjuk dan tarik ke arah luar telapak tangan. Kemudian untuk ujung karet satunya lagi ditahan dengan kelingking, jari manis atau jari tengah. 

5. Adu Karet

Permainan yang satu ini juga sangat sederhana, untuk karet yang berhasil berada di atas karet lawan, maka dialah yang menjadi pemenangnya. 

Untuk mengarahkan karet, pemain bisa menggerakkannya dengan cara ditiup atau disentil dengan menggunakan jari. Sementara untuk pemain yang kalah, harus rela menyerahkan karet kepada lawannya.

6. Seni tangan

Untuk permainan satu ini, tentunya dibutuhkan trik dan keahlian khusus. Sebab, tidak semua anak juga bisa membuat kreasi tangan dari karet gelang ini. Biasanya, dari dua buah gelang itu akan dibentuk menyerupai rumah, bintang, pesawat, bintang, kuburan bahkan celana dalam.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Nilai Luhur dalam Tari Persembahan dari Riau

Koropak.co.id, 02 August 2022 15:37:22

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Riau - Selain ungkapan keindahan yang dituangkan dalam gerakan, seni tari juga  mengandung makna dan nilai estetik. Begitupun dalam "Tari Persembahan" atau tari makan sirih khas Melayu. Biasanya, tarian itu akan dibawakan oleh 5 sampai 8 orang penari perempuan. 

Gerakannya terbilang sederhana, bertumpu pada tangan dan kaki. Ada juga gerakan menunduk sambil merapatkan telapak tangan. Gerakan itu dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada para tamu yang datang.

Saat pertunjukan, salah satu penari akan membawa kotak yang berisi sirih, tamu yang dianggap agung diberi kesempatan pertama untuk mengambilnya sebagai bentuk penghormatan, lalu diikuti oleh tamu lainnya.

Bagi masyarakat Riau, sirih dinilai bukan hanya sekadar benda, tapi juga media perekat dalam pergaulan. Selain itu, melalui tarian, masyarakat Riau juga telah menunjukkan kesadaran bahwa manusia itu saling berhubungan satu sama lain. 



Baca: Tari Bosara, Cara Suku Bugis Sambut Tamu


Kesadaran sosial tersebut jugalah yang kemudian mampu menumbuhkan komunikasi yang baik, saling menghargai, dan menghormati terhadap sesama manusia. Tari persembahan biasanya dipentaskan dengan iringan musik Melayu yang bersumber dari perpaduan antara suara marwas, biola atau fill, gendang, gambus, hingga akordion. 

Dalam pertunjukannya, para penari mengenakan baju yang biasa dipakai mempelai perempuan, yaitu baju adat yang disebut juga dengan baju kurung teluk belanga. Pada bagian kepalanya terdapat mahkota yang dilengkapi hiasan-hiasan berbentuk bunga. Sedangkan di bagian bawah tubuh para penari, dibalut oleh kain songket berwarna cerah.

Dijelaskan, tarian asal Pekanbaru itu sejak awal memang dibuat untuk menyambut para tamu. Tari persembahan itu memiliki nilai-nilai luhur di dalamnya, mulai dari belajar disiplin dan sabar, sebagai sarana hiburan, pelestarian budaya, hingga memiliki nilai seni, olahraga dan kreativitas.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Kukui, Tembang Sakral Suku Dayak Agabag Kalimantan

Koropak.co.id, 01 August 2022 12:00:40

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Kalimantan Utara - Suku Dayak Agabag, salah satu suku etnis asli dari Kalimantan yang mendiami perbatasan antara Indonesia-Malaysia, tepatnya di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, punya tradisi unik. Namanya Kukui.

Kukui adalah tembang khas etnik yang menjadi peninggalan dari nenek moyang mereka. Tembang sakral khas Suku Dayak Agabag itu juga turut menjadi salah satu warisan budaya yang sampai dengan saat ini terus mereka lestarikan.

Kukui merupakan lagu puja dan puji atau syukur yang diberikan kepada leluhur, sekaligus penghargaan bagi alam semesta yang dilantunkan dengan menggunakan bahasa alam gaib. Oleh karena itu, masyarakat Suku Dayak Agabag percaya bahwa Kukui memiliki nilai yang sakral.

Tradisi tersebut pertama kalinya muncul pada masa Tabug atau zaman Ngayau (pertempuran). Biasanya, Kukui akan dilantunkan sebelum masyarakat Suku Dayak Agabag berangkat mengayau dan setelah sukses memenangi pertempuran.

Kemenangan saat pertempuran itu dikenal dengan sebutan "Amayung Da Ulu" atau "Ngayau/Tabug". Di sisi lain, Kukui yang dilantunkan saat berhasil memenangi pertempuran itu bertujuan sebagai ungkapan rasa syukur kepada akion atau leluhur Dayak Agabag.



Baca: Menelusuri Makna Mendalam dari Tradisi Lawang Sakepeng Suku Dayak Ngaju


Kukui juga menjadi spirit dan ritual dengan keyakinan teguh, langkah, dan semangat Suku Dayak Agabag dalam laga dan diberkahi arwah leluhur. Tak heran, kosa kata dalam Kukui berbeda dengan bahasa adat yang mudah dipahami.

Menariknya lagi, kukui yang dilantunkan saat berhasil memenangi pertempuran juga digelar dalam sebuah upacara kemenangan yang dalam istilah Dayak Agabag disebut "Belakan" atau "Belau". Tak hanya digunakan sebagai lambang syukur terhadap leluhur dikarenakan menang dalam pertempuran, Kukui juga turut dilantunkan dalam prosesi pemakaman warga Dayak Agabag. 

Kukui tersebut digunakan untuk mengantar roh ke tempat peristirahatan terakhirnya, yang dari dulu sampai dengan saat ini dilantukan setiap acara terakhir (amakan/ampid). 

Seiring perkembangan zaman dan meningkatnya tatanan kehidupan sosial, suku Dayak Agabag masih terus melestarikan tradisi Kukui tersebut yang tentunya kini disesuaikan dengan kondisi sekarang. 

Jika sebelumnya Kukui akrab dengan peperangan dan prosesi pemakaman, tembang sakral ini sekarang turut dilantunkan juga untuk mempererat persatuan dengan kerap ditampilkan dalam setiap kegiatan antar etnis serta turut dipersembahkan untuk penyambutan tamu dari luar suku Dayak Agabag.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Martandang, Cara Pria Batak Dekati Wanita Pujaan

Koropak.co.id, 31 July 2022 15:21:36

Fauziah Djayasastra


Koropak.co.id, Sumatera Utara - Dalam istilah Batak, seorang lelaki yang menjelang dewasa disebut Doli-doli Sampe Bunga. Sedangkan bagi perempuan disebut Namar Baju atau Boru-boru. Begitu beranjak dewasa, sudah pasti akan mengenal cinta (holong) dan pada masa tersebut lelaki akan mendatangi perempuan. Kegiatan itu dikenal dengan istilah martandang.

Martandang merupakan ajang pendekatan alias pdkt bagi masyarakat Batak zaman dahulu. Para lelaki akan mendatangi rumah gebetan untuk menyampaikan perasaan dengan berbalas pantun yang dikenal dengan istilah marundang undangan.

Secara harfiah, martandang adalah keluar kandang, melewat, atau berkunjung. Tradisi ini menjadi etika dalam bergaul antara Doli-doli dan Boru-boru. Umumnya, martandang ini dilakukan pada malam hari (telengkup periuk).

Dalam Sekelumit Mengenal Masyarakat Batak Toba dan Kebudayaannya yang dimuat Historia, E.H. Tambunan menyebut para pemuda yang mendatangi perempuannya dengan menyelinap di kolong rumah panggung atau lewat dinding rumah yang bersekat lepas.

Sumber lain menyebutkan, jika pasangan muda-mudi biasanya juga datang secara berkelompok, lalu menghabiskan malam dengan bersenda gurau di halaman balai desa.

Tidak semua perempuan bersedia menerima kedatangan si lelaki ke rumahnya, terutama jika sejak awal pihak perempuan ini tidak suka dengan lelaki tersebut. Biasanya, jika terjadi penolakan maka si perempuan dimarahi oleh ayah dan ibunya.

Jacob Cornelis Vergouwen, pegawai pemerintah yangpada 1927 sempat bermukim di Tapanuli Utara menyebut pemuda yang sudah ditolak tapi masih memaksa, akan diberi hukuman untuk menebus dosa. Bagi masyarakat Batak, sekali mengucapkan kata 'tidak' berarti 'tidak'.



Baca: Membangun Interaksi Sosial dalam Permainan Domikado


Dalam martandang ini, pihak lelaki diberi kesempatan untuk mengutarakan isi hatinya. Curahan hati itu dituangkan dalam bentuk sajak, irama, pepatah, atau peribahasa. Perempuan juga akan membalasnya dengan sajak dan irama dalam kesusastraan Batak.

Jika martandang sering dilakukan, maka kemungkinan besar benih-benih cinta di antara muda-mudi telah tumbuh. Jika sudah memantapkan pilihan,keduanya akan memberitahu orang tua mereka.

Selanjutnya, orang tua keduanya akan bertemu dan membicarakan perkawinan. Jika perempuan setuju, pihak lelaki akan memberikan cinderamata berupa kain panjang dan perempuan membalasnya dengan memberi sarung.

Bahkan, ada yang langsung tukar cincin. Hal itu disebut tanda burju yang dimaksudkan untuk mengikat kedua insan itu.

Pihak lelaki kemudian akan mendatangi si perempuan dan membawa uang yang disebut Mondondoni Tanda Burju dan dilanjutkan dengan orang tua lelaki menemui orang tua perempuan untukmenyepakati berapa mahar yang harus diberikan (Marhori Hori Ding Ding).

Namun kini, tradisi martandang sudah mulai dilupakan. Jika dilihat lebih jauh, martandang adalah suatu adat yang baik. Sebelum menikah dua orang berkenalan dahulu dengan cara yang baik dan sopan.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Tari Bosara, Cara Suku Bugis Sambut Tamu

Koropak.co.id, 31 July 2022 07:15:31

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Sulawesi Selatan - Tari Paduppa atau dikenal juga dengan sebutan tari Bosara merupakan tarian tradisional dari Sulawesi Selatan. Itu merupakan salah satu kearifan lokal yang di miliki suku Bugis-Makassar. Biasanya ditampilkan untuk menyambut tamu atau bisa disebut juga sebagai tari selamat datang dari suku Bugis.

Tari Bosara dibawakan dengan gerakan yang khas oleh para kaum perempuan. Dalam tariannya, terdapat gerakan menabur beras yang memiliki makna sebagai tanda penghormatan dan juga dipercaya sebagai penolak bala atau pengusir gangguan roh-roh halus.

Tarian tradisional ini diambil dari nama "Bosara", nama sebuah nampan khas suku Bugis. Bosara atau nampan yang digunakan dalam tarian ini memiliki bentuk yang khas, yakni mempunyai satu kaki sebagai penyangga nampan dan terbuat dari material besi.

Nampan yang digunakan itu juga turut dilengkapi dengan penutup yang biasanya disebut pattongko. Meskipun begitu, keduanya merupakan satu kesatuan. Jadi, saat tampil, bosara dan pattongko ini harus selalu dibawa.

Berdasarkan sejarahnya, tari Bosara ini diciptakan oleh seorang seniman bernama Andi Siti Nurhani Sapada yang lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1929 dan meninggal pada 8 Juli 2010 di usia ke-81 tahun di Makassar, Sulawesi Selatan.

Awalnya, tari Bosara ini digunakan untuk menjamu para tamu kerajaan, seperti dalam pesta, kedatangan tamu agung, atau perayaan pernikahan. Namun seiring berjalannya waktu,  pertunjukan tarian kebanggaan masyarakat Bugis ini turut ditampilkan untuk acara besar lainnya.



Baca: Tari Sirih Kuning, Perpaduan Budaya Betawi dan Tionghoa


Dalam pelaksanaannya, Bosara atau nampan tersebut nantinya akan diletakkan secara berjejer. Nampan itu juga akan diisi dengan aneka kue basah maupun kering khas Bugis seperti bolu peca, kue lapis, kue biji nangka, dan lainnya.

Tari Bosara ini dibawakan oleh penari perempuan dengan jumlah ganjil. Sedangkan untuk pakaian yang digunakannya adalah baju Bodo, sarung sutra, bando bunga, anting, gelang, dan kalung. 

Selanjutnya, untuk properti yang harus dibawa oleh penari adalah bosara berisi beras, bunga, dan benno atau makanan ringan dari biji jagung. Tarian ini juga diiringi alat musik berupa suling, gendang, kuik, dan kecapi.

Selain sebagai tarian pertunjukan, tari Bosara juga turut dijadikan sebagai sarana pendidikan, pergaulan,  berekspresi hingga pengembangan bakat.

Seiring berkembangnya zaman, fungsi Bosara juga kini telah berganti. Jika, dahulu Bosara digunakan sebagai wadah sajian bagi para tamu, kini Bosara digunakan oleh masyarakat setempat untuk memberikan undangan kepada seseorang.

Masyarakat setempat menilai bahwa Bosara dirasa lebih sopan untuk memberikan undangan, seperti halnya saat kita memberikan sajian makanan atau minuman untuk tamu.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini: