Muasal

Mengungkap Jejak Pemukiman Orang Asing di Nusantara

×

Mengungkap Jejak Pemukiman Orang Asing di Nusantara

Sebarkan artikel ini

 

Koropak.co.id – Sejak berabad-abad lamanya, Pulau Jawa tidak hanya dihuni oleh penduduk aslinya saja, melainkan juga turut dihuni oleh para pendatang dari luar kota hingga luar negeri.

Bahkan seluruh pendatang itu juga sampai membentuk kelompok masyarakat yang beraneka ragam hingga pada akhirnya terbentuklah bermacam-macam komunitas etnis yang disetiap komunitasnya dipimpin oleh kepala etnis itu sendiri.

Olivier Johannes Raap dalam bukunya ‘Kota Di Djawa Tempo Doeloe’ menuliskan, pada umumnya para pendatang tersebut menjajal peruntungan di kota kedatangannya dengan turut menghuni kampung yang sudah terkoneksi oleh mereka serta bekerja di bidang-bidang usaha yang dimiliki oleh koneksinya.

“Anggota keluarga hingga teman dari tempat asalnya mereka yang sudah terlebih dahulu bermukim tak jarang dijadikan sebagai batu loncatan, sehingga fenomena ini pun menyebabkan adanya bidang pekerjaan tertentu hingga pengotak-ngotakan perkampungan berdasarkan etnis,” tulisnya.

Olivier menambahkan, semua pemukiman etnis itu sendiri memiliki sejarah dan orientasi tersendiri yang berkaitan dengan keadaan politik dan ekonomi pada zaman pendiriannya. Pada zaman VOC sekitar abad ke-17 hingga 18, banyak kampung pendatang dari luar terlahir.

“VOC memanfaatkan hal itu dengan melakukan perekrutan pasukan bersenjata dimana-mana mulai dari Bugis, Ambon, Bali, Melayu dan lainnya. Selain di Batavia, mereka juga turut mendirikan pemukimannya yang dijadikan sebagai kampung militer sebagai zona pertahanan tambahan,” tambahnya.

Seperti di Surabaya dan Semarang, Kampung Melayu saat itu didirikan dekat dengan Pelabuhan. Oleh karena itulah kampung tersebut lebih dikenal dengan julukannya sebagai Kampung Pelaut dan Pedagang.

 

 

Baca : Kawasan Pecinan Didirikan VOC Agar Orang Tionghoa Mudah Diawasi

Sementara itu, sejak abad ke-19 dalam undang-undang administratif kolonial Hindia Belanda, sebagian masyarakat diklasifikasikan sebagai ‘Orang Timur Asing’. Contohnya seperti pecinan yang masuk dalam kampung etnis Timur Asing.

Namun selain orang Tionghoa, di Nusantara juga terdapat imigran dari Arab, India, Jepang dan negara Asia lainnya. Tercatat, beberapa koloni Arab itu juga tersebar di berbagai kota di Jawa sejak berabad-abad lamanya.

Berdasarkan sejarahnya, mulai dari tahun 1870 pada saat Terusan Suez dibuka. Imbasnya, banyak kapal dari Eropa ke Timur melalui Semenanjung Arab bermigrasi dengan skala besar. Di nusantara, mereka pun menikah dengan wanita pribumi dan menetap di perkampungan Arab.

Selain itu, terdapat juga kelompok warga Asia lainnya yaitu orang Armenia yang berdekatan dengan orang Eropa dari sisi kebudayaan dan etnis. Sehingga dalam undang-undang kolonial, mereka pun dianggap sebagai Orang Eropa.

Dalam presepsi orang pribumi, mereka mengatakan bahwa semua orang berkulit putih disebut dengan londo. Akan tetapi, selain orang Belanda, ternyata di Hindia Belanda juga banyak pendatang dari Eropa Asing dan yang paling besar adalah orang Jerman.

Kemudian diikuti oleh orang Inggris, Austria, Belgia, Swiss, Italia, Prancis, Denmark dan Rusia. Meskipun begitu, mereka semua tidak tinggal berkelompok dan hanya tinggal di lingkungan Eropa bersama dengan orang Belanda.

Meskipun begitu, banyak komunitas yang cenderung terorganisir dan terkadang usaha mereka terkonsentrasi di satu kawasan tertentu contohnya Lingkungan Prancis di Batavia.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 

error: Content is protected !!