Mengintip Peran Kuliner dan Pariwisata Zaman Belanda

Koropak.co.id, 11 January 2022 19:07:42
Penulis : Eris Kuswara
Mengintip Peran Kuliner dan Pariwisata Zaman Belanda

 

Koropak.co.id - Unsur kuliner dalam dunia pariwisata tentunya memiliki peranan yang tidak kalah pentingnya dengan unsur-unsur lain seperti objek wisata, atraksi, fasilitas dan jaminan keamanan yang semuanya dapat dilihat dalam buku panduan pariwisata.

Dalam buku itu, dapat ditemukan juga saran untuk menikmati makanan atau minuman khas daerah setempat khususnya di bumi nusantara. Namun selain saran, disana juga dapat ditemukan berbagai larangan untuk menikmati makanan dan minuman tertentu.

Dilansir dari buku 'Titik Balik Historiografi di Indonesia' yang disunting Djoko Marihandono pada bab 'Kuliner dalam Pariwisata Kolonial di Hindia Belanda' Achmad Sunjayadi dituliskan bahwa saran dan larangan tersebut ternyata ditemukan dalam buku panduan pariwisata di Indonesia sejak masa kolonial hingga kini.

"Dalam persoalan kuliner, pemerintah atau penyelenggara pariwisata tentunya tak akan sembarangan. Tentunya bukanlah promosi yang baik bagi pariwisata setempat jika turis yang datang ke tempat destinasi wisata terpaksa harus terbaring di rumah sakit sebelum mereka secara penuh menikmati liburan yang menyenangkan dan berkesan," tulisnya.

Meskipun begitu, di sisi lain tetap saja ada wisatawan yang mengabaikan peringatan dan laran tersebut dikarenakan gairah pertualangannya yang lebih besar dibandingkan dengan rasa khawatirnya sendiri.

Selain itu, tidak jarang juga kuliner eksotis bagi pandangan wisatawan itu sangat berkesan di mata dan di perut. Sehingga para wisatawan tersebut pun menuliskan pengalamannya dalam sebuah catatan yang mereka buat sendiri.

 


Baca : Kuliner Nusantara dan Nama Baik Indonesia di Kancah Dunia

Sementara itu, apabila dikaji lebih jauh lagi, masih banyak hal yang dapat diungkapkan dan diteliti dari masalah kuliner sebagai unsur pariwisata baik itu pada masa lampau maupun masa sekarang mulai dari asal usul suatu makanan hingga industri rumahan makanan dan minuman yang dipengaruhi oleh parawisata.

Dibangunnya berbagai fasilitas seperti pabrik makanan dan minuman olahan seperti pabrik es juga tentunya mendukung unsur kenyamanan bagi para wisatawan khususnya wisatawan asing.

Tak hanya itu saja, berbagai fasilitas itu juga turut dimuat dalam buku panduan wisata. Meskipun juga fasilitas tersebut bukan untuk pendatang atau wisatawan, akan tetapi bagi mereka yang menetap (Blijvers).

Akan tetapi secara tidak langsung hal tersebut dapat dirasakan oleh para wisatawan yang menginginkan kenyaman di tempat wisatanya.

Di sisi lain, masalah kuliner juga ternyata tidak hanya bisa dijadikan sebagai sarana promosi baik yang positif maupun negatif dan hal itu tidak terlepas dari peran serta pihak yang terlibat di dalamnya.

Cerita kuliner khususnya pada pariwisata kolonial juga diketahui bahkan dibuat semenarik mungkin dengan menonjolkan keeksotisannya.

Sehingga secara tidak langsung juga turut berhasil dalam menarik minat para calon pengunjung, meskipun masih belum tentu sesuai dengan perutnya.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 

Komentar

Istana Maimun, Jejak Kejayaan Medan dan Legenda di Masa Lalu

Koropak.co.id, 12 August 2022 07:07:21

Fauziah Djayasastra


Koropak.co.id, Sumatra Utara - Keberadaan bangunan, baik museum ataupun peninggalan sejarah lain, bisa jadi gerbang pengetahuan untuk memahami perjuangan dan jati diri bangsa. Seperti pada keberadaan Istana Maimun di Medan, Sumatra Utara.

Istana Maimun, kini kerap ditulis Istana Maimoon, tak jauh dari pusat Kota Medan dan lekat kaitannya dengan sejarah Kesultanan Deli. Istana itu mulai dibangun oleh Sultan Mahmoed Al Rasyid Perkasa Alamsyah pada 26 Agustus 1888, kemudian rampung pada 18 Mei 1891.

Memakan waktu selama tiga tahun, istana itu dirancang oleh arsitek asal Belanda bernama Majoor Theodoor van Erp dengan gaya arsitektur Mughal. Istana tersebut berdiri kokoh nan megah di atas lahan seluas 2.772 meter persegi dengan total 30 ruangan.

Bangunan dua lantai ini terbagi menjadi tiga bagian, yakni bangunan induk, sayap kiri, serta sayap kanan. Jika diperhatikan, bangunan ini memadukan beberapa unsur budaya India, Italia, Melayu bercorak Islam, dan juga Spanyol, sehingga terkesan unik dan menarik.

Pengaruh Eropa bisa dilihat dari lampu gantung pada setiap ruangan, gaya jendela dan pintu, serta furnitur seperti kursi, lemari, dan juga meja. Corak Islam bisa dilihat dari bentuk lengkung (arcade) pada bagian atap yang menyerupai perahu terbalik atau lengkung Persia. Corak tersebut kerap dijumpai di bangunan Timur Tengah.



Baca: Rentak Kudo, Tarian Sakral Masyarakat Petani Kerinci Jambi


Ada pula prasasti berbahan marmer dengan tulisan Belanda yang kian membuat keindahan Istana Maimun menjadi tak terelakan. Kendati saat ini sudah berusia sekitar 131 tahun, namun sisi historis dan estetika dari bangunan ini seakan tak pernah lekang oleh perubahan zaman.

Di sisi Istana Maimun, terdapat rumah bergaya adat Karo. Bangunan itu merupakan tempat benda keramat Meriam Puntung berada. Keberadaan meriam tersebut tak lepas dari legenda. Konon, Meriam Puntung adalah jelmaan Mambang Khayali, adik Putri Hijau dari Kerajaan Deli Tua.

Mambang berubah menjadi meriam ketika mempertahankan istana dari serangan Raja Aceh. Kala itu Putri Hijau telah menolak pinangannya. Panasnya laras akibat digunakan untuk menembak terus-menerus, meriam itu pecah dan terbelah dua.

Diketahui, ujung meriam itu terhempas dan jatuh di Kampung Sukanalu, Tanah Karo. Sedangkan sisa pecahannya disimpan di dalam bangunan tersebut. Baik istana maupun bangunan kecil di sebelahnya, menyimpan jejak-jejak sejarah Kesultanan Deli yang bisa ditelusuri ketika berkunjung ke Kota Medan.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Menelusuri Perjalanan Panjang Sejarah Kopi di Bumi Nusantara

Koropak.co.id, 11 August 2022 07:13:48

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Siapa yang tak akrab dengan kopi? Kini, kedai atau kafe kopi menjamur di mana-mana. Bukan hanya di kota, tapi sudah merangsek ke desa-desa. Nongkrong di kafe telah menjadi budaya baru di kalangan anak muda.

Sebenarnya, sejak lama kopi telah menjadi salah satu komoditas yang dibudidayakan lebih dari 50 negara di dunia. Ada dua jenis pohon kopi yang dikenal secara umum, yaitu robusta dan arabika. Di Indonesia, biji kopi yang tumbuh hanya ada tiga jenis, yaitu arabika, robusta, dan liberika.

Sejak dulu, kopi berperan penting bagi pertumbuhan perekonomian masyarakat di bumi Nusantara. Hingga kini, dalam ekspor kopi, Indonesia menempati peringkat keempat terbesar di dunia setelah Brazil, Vietnam, dan Kolombia. 

Dulu, masuknya kopi ke Nusantara tak lepas dari peran kolonial Belanda. Sejarah penyebaran kopi di Nusantara dimulai pada 1696-an. Saat itu, Gubernur Belanda di Malabar, India, mengirim bibit kopi Yaman atau kopi arabika kepada Gubernur Belanda di Batavia (sekarang Jakarta). 

Namun, bibit pertama itu gagal tumbuh dikarenakan Batavia kala itu dilanda banjir. Kemudian pada 1711-an, bibit kopi berhasil tumbuh hingga dilakukan pengeksporan pertama dari Jawa ke Eropa melalui VOC.



Baca: Kopi Lokal Menembus Pasar Global


Setelah sukses di Batavia, Pemerintahan Kolonial Belanda memperluas produksi kopinya di beberapa daerah di Indonesia, seperti di daerah Preanger, Jawa Barat, Sumatra Utara, Aceh, Bali, Sulawesi, hingga Papua.

Sayangnya, memasuki 1878-an, menjadi masa buruk bagi tanaman kopi. Di masa itu, tanaman kopi diserang penyakit karat daun atau hemileia vastatrix yang tersebar hampir di seluruh perkebunan kopi. 

Pada 1920, perusahan-perusahaan kecil di Indonesia mulai menanam kopi sebagai komoditas utamanya. Lalu, pada 1950-an, perkebunan di Jawa dinasionalisasi pada hari kemerdekaan dan direvitalisasi dengan varietas baru kopi arabika. 

Varietas itu diadopsi oleh perusahaan-perusahaan kecil melalui pemerintah atau berbagai program pengembangan masyarakat. Kini, lebih dari 90 persen kopi arabika Indonesia dikembangkan oleh perusahaan kecil, terutama di daerah Sumatra Utara. 

Seiring berjalannya waktu, kopi tersebut bertransformasi menjadi salah satu komoditas terbesar di negeri ini. Ada beberapa jenis kopi Nusantara yang dikenal sebagai Indonesia Specialty Coffee, di antaranya kopi Aceh Gayo, kopi Sumatera Mandailing, kopi Lintong, kopi Toraja, kopi Lampung, dan kopi Luwak.


Silahkan tonton berbagai vidio menarik disini:


Sempat Dibubarkan Belanda, PSHT Punya Komisariat di Eropa

Koropak.co.id, 10 August 2022 12:07:43

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Nama PSHT atau Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) belakangan ini mendadak jadi perbincangan. Penyebabnya adalah lantaran insiden antara warga dengan anggota perguruan silat PSHT pada 7 Agustus 2022, di Jalan Sudanco Supriadi, Sukun, Kota Malang, Jawa Timur.

Menilik pada perjalannya, ternyata PSHT merupakan salah satu organisasi silat tertua di Indonesia. Didirikan oleh Ki Hadjar Hardjo Oetama pada 1922-an, perguruan itu sebelumnya bernama Setia Hati Pencak Sport Club (SH PSC).

Pada zaman Belanda, kelompok tersebut dicurigai oleh pemerintah kolonial sebagai gerakan perlawanan, sehingga dibubarkan. Ki Hadjar Hardjo dibuang ke Jember, Cipinang, hingga Padangpanjang, Sumatra Barat. 

Sepulangnya dari pengasingan, ia kembali mengaktifkan SH PSC dengan mengganti nama "pencak" menjadi "pemuda" sebagai siasat agar tidak dibubarkan Belanda. Pada 1942, nama SH PSC kemudian diubah menjadi Setia Hati Terate.

Perubahan nama itu dilakukan atas usulan dari Soeratno Soerengpati, seorang tokoh pergerakan Indonesia. Akan tetapi, saat itu SH Terate baru bersifat perguruan, bukan organisasi. Lantas, pada 1948, perguruan SH Terate diubah menjadi organisasi Persaudaraan Setia Hari Terate yang dipimpin oleh Soetomo Mengkoedjojo. 



Baca: Hikayat Pencak Silat Sudah Ada Sejak Abad VIII


Perubahan itu dilakukan berdasarkan hasil konferensi yang diadakan di rumah Ki Hadjar Hardjo, di desa Pelangbango, Madiun, Jawa Timur. Tak hanya menjadi organisasi, PSHT juga melebarkan sayapnya dengan mendirikan sebuah yayasan, membentuk banyak cabang, kampus hingga membangun padepokan sebagai pusat kegiatannya yang saat ini sudah tersebar se-Indonesia. 

Bukan hanya di Indonesia, PSHT juga mendirikan beberapa cabangnya di luar negeri, seperti di Malaysia, Belanda, Timor Leste, Hongkong, Rusia, Jepang, hingga Prancis.

Tujuan didirikannya PSHT adalah untuk mendidik manusia, khususnya para anggotanya, agar berbudi luhur, mengetahui mana yang benar dan salah, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta memayu hayuning bawana.

Suwardi Endraswara dalam bukunya "Ilmu Jiwa Jawa" menyebutkan, memayu hayuning bawana merupakan upaya dalam melindungi keselamatan dunia, baik itu secara lahir maupun batin. Selain itu, orang Jawa juga merasa berkewajiban untuk memegang filosofi ini untuk memperindah keindahan dunia.

Tercatat, hingga saat ini, PSHT sudah memiliki anggota sekitar 7 juta orang, memiliki cabang di 236 daerah di Indonesia, 10 komisariat di perguruan tinggi, dan 10 komisariat luar negeri di Korea Selatan, Jepang, Belgia, Prancis, Malaysia, Belanda, Rusia, Timor Leste, dan China.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Dadiah, Yoghurt Minang Dibuat Pakai Bambu

Koropak.co.id, 08 August 2022 12:29:00

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Sumatra Barat - Pernah mendengar makanan bernama ampiang dadiah? Belum? Bagaimana dengan yoghurt? Pasti sering, kan? Padahal, keduanya memiliki kesamaan, cuma memang kalau ampiang dadiah kurang begitu dipopulerkan.

Bagi orang Minang, ampiang dadiah sudah menjadi bagian dari kehidupan. Sudah ada sejak dulu. Dalam bahasa Minang, ampiang berarti berdekatan dan dadiah adalah susu yang dikentalkan atau difermentasi.

Dadiah berbahan susu kerbau yang difermentasi dalam batang bambu. Proses fermentasi yang dilakukan itu, membuat susu kerbau memiliki cita rasa asam yang khas layaknya yoghurt. Saat proses fermentasi dilakukan, susu kerbau dimasukkan ke dalam wadah bambu berukuran 15 s.d. 30 cm, kemudian ditutup dengan daun pisang atau daun waru. 

Proses fermentasi dadiah akan mencapai hasil maksimal setelah didiamkan selama dua malam di dalam tabung bambu. Dadiah itu juga dikatakan masih layak dan sehat untuk dikonsumsi sampai rentang waktu selama satu minggu sejak mulai difermentasikan.



Baca: Ada Sejak Zaman Belanda, Hingga Kini Kue Lupis Masih Eksis


Dadiah adalah kuliner tradisional dari daerah Darek di ranah Minang, seperti Bukit Tinggi, Tanah Datar, dan Padang Panjang. Dulu, itu merupakan makanan favorit pengganti lauk atau dijadikan makanan sampingan.

Dadiah merupakan makanan favorit, dan sajiannya tak dapat dilepaskan dengan ampiang atau emping beras. Adanya campuran ampiang, dadiah, kuah gula merah cair, serutan kelapa, dan serutan es pun akan terasa segar dan nikmat untuk disantap. 

Ampiang adalah beras ketan yang ditumbuk pipih. Uniknya, proses pemipihan ampiang dilakukan saat beras ketan masih dalam kondisi panas setelah direbus kering. Di Sumatra Barat, ampiang merupakan hidangan rumahan yang ada di Batipuh Baruah, Kecamatan Batipuh, Kabupaten Tanah Datar atau tepatnya berada di Jorong Ladang Laweh dan sekitarnya.

Merupakan dua makanan yang berbeda, ampiang dadiah menjadi perpaduan kudapan yang sangat cocok untuk disantap.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Benteng Fort Rotterdam, Saksi Bisu Kejayaan Kerajaan Gowa

Koropak.co.id, 07 August 2022 12:11:14

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Sulsel - Provinsi Sulawesi Selatan terkenal menyimpan banyak tempat bersejarah, salah satunya Benteng Fort Rotterdam. Berdiri sekitar abad ke-13 atau pada 1545-an, benteng tersebut didirikan seorang raja di Kerajaan Gowa, I Manrigu Daeng Bonto Karaeng Lalikung.

Di awal pendiriannya, benteng itu hanya terbuat dari tanah. Namun pada abad ke-14, mulai direnovasi dengan ciri arsitekturnya yang berbentuk seperti penyu. Hewan yang hidup di darat dan di air itu melambangkan Kerajaan Gowa yang mampu berjaya di darat juga di air

Sebelum dikenal dengan nama Benteng Fort Rotterdam, benteng itu bernama Benteng Ujung Pandang. Namun, setelah diserang Belanda, benteng tersebut diambi alih kolonial dan namanya diganti.

Perubahan nama tersebut seiring dengan ditandatanganinya surat perjanjian penyerahan benteng oleh Kerajaan Gowa kepada Pemerintahan Belanda yang dilakukan oleh Cornelis Spleeman. Ia sengaja memberi nama benteng itu dengan nama Fort Rotterdam, dengan alasan untuk mengenang kampung halamannya di Belanda.



Baca: Kediri Dari Wanita Mandul Hinggga Kota Tertua Di Indonesia


Sejak beralih kepemilikan, Benteng Fort Rotterdam dijadikan sebagai pusat pemerintahan kolonial Belanda. Kala itu, benteng tersebut dijadikan tempat untuk menyimpan berbagai macam rempah-rempah yang kemudian diekspor ke Belanda. 

Benteng itu juga dijadikan tempat untuk mengawasi kedatangan musuh dari luar, sekaligus markas VOC. Sekitar 200 tahun lamanya benteng tersebut menjadi pusat pemerintahan Belanda. Pada 1937-an, kepemilikan benteng Fort Rotterdam dialihkan ke Fort Rotterdam foundations. 

Kemudian, sejak 23 mei 1940, bangunan itu menjadi tempat bersejarah. Bahkan kini di sekitar kompleks benteng sudah dibangun Muousiem La Galigo, yang di dalamnya memuat berbagai peninggalan Kerajaan Gowa.


Silahkan tonton berbagai Video menarik disini:


Dipakai Sejak Zaman Batu, Cobek dan Ulekan Tetap Eksis

Koropak.co.id, 06 August 2022 15:16:36

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Cobek dan ulekan menjadi alat masak yang umum ada di dapur orang Indonesia. Meskipun kini sudah banyak alat modern, namun cobek masih tetap eksis sampai sekarang. 

Istilah cobek sendiri merujuk pada sejenis mangkuk sebagai alas yang digunakan untuk kegiatan menumbuk atau mengulek. Sedangkan ulekan merujuk pada benda tumpul memanjang seperti pentungan yang dapat digenggam oleh tangan untuk menumbuk atau mengulek suatu bahan.

Diperkirakan, cobek dan ulekan termasuk dalam pasangan alat masak kuno yang sudah dipakai oleh manusia purba sejak 35.000 tahun sebelum masehi. Beberapa temuan arkeologi menunjukkan, benda-benda batu yang digunakan sebagai alat untuk menumbuk, seperti artefak batu yang ditemukan di Yunani dari 3200 s.d 2800 SM. Artefak yang ditemukan itu  menunjukkan alat untuk mengekstraksi atau menumbuk zat pigmen pewarna yang diambil dari batu-batuan.

Kini, cobek dan ulekan identik sebagai alat masak yang digunakan untuk menghaluskan bumbu dan bahan, meskipun sebenarnya dahulu cobek bukan hanya dijadikan sebagai alat penumbuk makanan. Tak hanya di Indonesia, alat penumbuk ini juga turut digunakan oleh manusia kuno di berbagai belahan dunia.



Baca: Sumpit, Cara Raja Pamerkan Gaya Hidup Mewah


Cobek dan ulekan memiliki bentuk dan ukuran yang beraneka ragam sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Seperti cobek kecil berdiameter 8 s.d. 13 centimeter dan biasanya digunakan untuk penyajian sambal secara perseorangan di rumah makan.

Kemudian ada juga yang berukuran sedang dengan berdiameter 15 s.d. 20 centimeter yang digunakan untuk penggunaan masakan rumah tangga. Sedangkan cobek berukuran besar dengan berdiameter 30 s.d. 40 centimeter dan agak datar, biasanya digunakan oleh penjual gado-gado atau warung makan yang menyajikan hidangan sambal yang dibuat dalam jumlah besar.

Di sisi lain, ulekan juga memiliki bentuk yang berbeda-beda, namun yang paling lazim adalah bulat panjang dangan cara menggenggam seperti menggenggam pistol. Akan tetapi ada juga ulekan berbentuk bulat sesuai genggaman tangan yang digunakan untuk menumbuk, hingga ada yang berbentuk silinder untuk menggiling. 

Meskipun memiliki bentuk sederhana, namun tidaklah mudah dalam membuat atau mencari cobek dan ulekan yang berkualitas. Cobek yang bagus itu terbuat dari batu asli dengan permukaannya yang dihaluskan secara perlahan. Sayangnya, untuk menekan biaya, produsen kerap membuat cobek dengan bahan semen.

Di Indonesia, biasanya bahan yang lazim digunakan untuk membuat cobek dan ulekan adalah batu alam, batu kali atau batu andesit. Beberapa daerah di Indonesia yang terkenal sebagai sentra pengrajin cobek dan ulekan batu, salah satunya di daerah Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Kampung Adat Urug, Tempat Bermukimnya Keturunan Prabu Siliwangi

Koropak.co.id, 05 August 2022 12:18:03

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Barat - Di tengah kemajuan teknologi yang menggempur berbagai sisi kehidupan, beberapa komunitas di Indonesia hingga saat ini masih memertahankan adat yang dari dulu sampai sekarang tak berubah. Seperti yang dilakukan masyarakat Kampung Adat Urug.

Kampung adat yang berada di Kampung Urug, Desa Kiara Pandak, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu merupakan sisa peradaban masa lampau yang memiliki sejarah panjang dan masih berpegang teguh kepada nilai-nilai tradisi.

Masyarakat yang tinggal di Kampung Urug menganggap bahwa mereka berasal dari keturunan Raja Kerajaan Padjadjaran Jawa Barat, Prabu Siliwangi. Hal itu dibuktikan dengan hasil pemeriksaan konstruksi bangunan rumah tradisional di Kampung Urug yang dilakukan oleh seorang ahli saat itu.

Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukannya, sang ahli menemukan sambungan kayu pada rumah tradisional itu memiliki kesamaan dengan sambungan kayu yang ada pada salah satu bangunan di Cirebon yang merupakan sisa-sisa peninggalan Kerajaan Padjadjaran.

Ada beberapa versi terkait asal-usul dari Kampung Urug. Namun, perbedaan versi tersebut bukan terletak pada siapa dan dari mana Ieluhur mereka, akan tetapi terletak pada masalah tujuan atau motivasi yang menjadi penyebab berdirinya Kampung Urug.

Selain itu, masyarakat setempat juga mengganggap leluhur Kampung Urug, Embah Dalem Batutulis atau dikenal juga sebagai Embah Buyut Rosa dari Bogor merupakan salah seorang keturunan Prabu Siliwangi. Akan tetapi, masyarakat sendiri tidak berani menyebut nama Embah Buyut Rosa dikarenakan takut terjadinya bencana. 



Baca: Karaeng Pattingalloang, Raja dari Makassar yang Terlupakan


Menurut masyarakat setempat, kata Urug yang dijadikan sebagai nama kampung berasal dari kata "Guru", namun diubah cara pembacaannya. Jika biasanya dimulai dari kiri, diubah dengan dibaca dari sebelah kanan, sehingga kata "Guru" berubah menjadi "Urug".

Pikukuh adat kepercayaan Kampung Urug, memercayai, kampung adat tersebut sudah berdiri sejak 450 tahun yang lalu. Hal itu dibuktikan dengan adanya sebuah mandala urug dengan masyarakatnya yang berpegang teguh pada adat istiadat serta suatu keteladanan kesundaan. 

Di sisi lain, berdasarkan cerita yang beredar di masyarakat, Kampung Urug ini sezaman dengan masa pemerintahan Prabu Nilakendra (1551-1569 M), seorang raja yang memiliki sifat alim, bijaksana dan banyak mengabdi pada hal-hal kegaiban.

Konon, sisa-sisa kegaibannya itu, seperti patilasan raja masih ada di Kampung Urug. Pada umumnya, patilasan sendiri disebut Kabuyutan atau mandala, suatu tempat yang jauh dari keramaian dan sering dijadikan sebagai tempat berkhalwat atau memuja Sang Maha Pencipta.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Ada Sejak Zaman Belanda, Hingga Kini Kue Lupis Masih Eksis

Koropak.co.id, 04 August 2022 07:16:54

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Bagi kalian penggemar jajanan tradisional, tentunya sudah tidak asing lagi dengan kudapan berbahan dasar beras ketan yang biasa disajikan bersama siraman gula merah dan parutan kelapa satu ini. Kue lupis namanya.

Bentuknya yang unik, ditambah cita rasanya yang melegenda, membuat kue lupis ini mampu bertahan di antara banyaknya jajanan baru yang tak terbendung.

Kue lupis merupakan jajanan tradisional khas Indonesia, khususnya di daerah Jawa. Panganan yang satu ini memiliki dua bentuk berbeda. Ada yang berbentuk segitiga dan bulat memanjang. Ia kerap ditemui di pasar tradisional atau di warung-warung. 

Kue lupis dibuat dari beras ketan yang dimasak lalu dibungkus dengan daun pisang. Dalam penyajiannya, biasanya kue ini akan ditaburi dengan parutan kelapa serta gula merah cair, sehingga membuat kue lupis pun memiliki cita rasa yang khas. 

Konon, kue lupis sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Menariknya lagi, kue ini diklaim menjadi penganan asal beberapa daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Lumajang, dan pulau Jawa lainnya. 



Baca: Cerita Tentang Rengginang Hingga Jadi Penghuni Ilegal Kaleng Kue


Kendati terbilang kue jadul, sampai dengan saat ini lupis masih bertahan dan tetap eksis bersama dengan kue basah tradisional lainnya. Biasanya, dijajakan di pasar-pasar di waktu pagi hari bersama dengan klepon, cenil, gemblong maupun lontong. 

Dikarenakan terbuat dari beras ketan dan memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi, kue lupis  ini cocok sekali untuk dijadikan sebagai menu sarapan atau makanan pembuka.

Seiring berjalannya waktu, kue lupis yang awalnya dibungkus dengan daun pisang, akhirnya diganti dengan plastik putih lantaran sulit ditemukannya daun pisang di kota-kota besar, seperti Jakarta. Ia pun turut mengalami inovasi dan perubahan untuk menarik perhatian masyarakat. Kini, kue lupis biasa disajikan bersama parutan keju sebagai pengganti parutan kelapa. 

Bukan sekadar jajanan, kue tradisional ini memiliki filosofi di balik pengolahannya yang terbilang cukup mudah. Masyarakat Jawa mempercayai bahwa kudapan berbahan utama ketan dan lengket apabila sudah matang dan di balik daun pisan sebagai bungkusnya itu memiliki makna rasa erat persaudaraan.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Mengenang Es Goyang, Jajanan Unik Era 90-an

Koropak.co.id, 03 August 2022 12:08:35

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Bagi anak-anak yang tumbuh di era 90-an, tentu sudah tak asing lagi dengan jajanan unik yang satu ini. Namanya es goyang. Disebut begitu karena untuk membuatnya harus menggoyang-goyangkan gerobak. 

Dalam pembuatannya, es goyang akan dicelupkan ke dalam coklat leleh saat membeku. Terkadang, topping juga dipakai saat coklat masih cair. Beberapa topping yang paling populer dan biasanya digunakan untuk es goyang adalah kacang tanah dan meses.

Diketahui, es goyang lahir dari keterbatasan untuk bisa menikmati es krim impor yang kala itu dibanderol dengan harga mahal. Untuk menyiasatinya, maka dibuatlah semacam es krim "lolipop" yang terbuat dari santan lalu dicampur dengan tepung hunkwe, gula pasir, dan perasa. 

Es goyang dijual dengan menggunakan gerobak yang didorong. Selain berfungsi sebagai tempat menaruh es, gerobak itu juga digunakan untuk membuat es.

Dalam gerobak itu juga di dalamnya dipasang semacam meja berbahan seng berbentuk persegi panjang. Pada seng itu terdapat lubang-lubang persegi panjang pipih yang ujungnya mengarah ke bagian dalam gerobak.



Baca: Rambut Nenek, Jajanan Unik Era 90-an yang Kini Langka


Selain itu, ada juga kotak penyimpan es goyang yang sudah jadi. Di bagian dalam gerobak pun terdapat wadah atau tempat meletakkan es batu bercampur garam mentah, yang berfungsi untuk memproses pembuatan es lilin. 

Garam mentah yang dicampur dengan es batu itu berfungsi untuk mempertahankan dan menurunkan suhu beku es batu. 

Cara membuat es goyang terbilang mudah. Langkah pertama, tuangkan bahan-bahan yang sudah dicampur untuk mencapai kekentalan tertentu ke dalam cetakan lalu didinginkan. Untuk membekukannya, penjual es goyang akan menggoyang-goyangkan gerobaknya. 

Dalam keadaan setengah jadi, bagian tengah es pun ditusuk dengan lidi atau batangan bambu yang dibungkus kertas untuk pegangan. 

Setelah itu, gerobak kembali digoyang-goyangkan serta digerakkan naik turun selama beberapa kali, agar adonan es membeku secara merata. Setelah mengeras dan membeku, jika ingin lebih nikmat, bisa celupkan es goyang yang sudah jadi ke dalam kuah coklat lalu taburi kacang.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Sumpit, Cara Raja Pamerkan Gaya Hidup Mewah

Koropak.co.id, 02 August 2022 07:05:56

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Para penggemar mi pastinya sudah familiar dengan alat makan yang satu ini: sumpit. Alat makan itu tersedia dalam berbagai variasi, mulai dari sumpit bambu atau yang sekali pakai, sumpit kayu, plastik hingga yang berbahan logam.

Namun, kendati sudah familiar, masih banyak orang yang belum tahu sejarah sumpit. Meskipun penduduk Asia, seperti Jepang, Korea Selatan, Vietnam, termasuk Indonesia sudah terbiasa menggunakan sumpit, tapi alat untuk menyiap makanan berupa batangan yang terbuat dari kayu dan sebagainya itu disebut-sebut berasal dari Tiongkok.

Sumpit diduga sudah ada sejak zaman Neolitik, tepatnya sekitar 5000 tahun Sebelum Masehi. Pendapat tersebut bermula dari ditemukannya dua ribu jenis benda arkeologi, dengan 42 jenis di antaranya berbentuk batang berukuran panjang 9,2 s.d. 18,5 sentimeter, dengan diameter 0,3 s.d. 0,9 sentimeter.

Benda yang diduga sumpit itu terbuat dari tulang binatang dan ditemukan di sebuah situs arkeologi Longqiuzhang, daerah Gaoyu, Provinsi Jiangsu, dalam kegiatan ekskavasi yang dilakukan selama 1993 s.d. 1995-an.

Menurut legenda, sumpit kayu pertama kalinya dibuat oleh pendiri Dinasti Xia, Da Yu pada 2011 s.d. 1600 tahun Sebelum Masehi. Kala itu, ia tengah bersiap untuk menghadapi banjir besar. Menjelang waktu makan, Da Yu pun mematahkan ranting dan menjadikannya sebagai alat makan.



Baca: Antara Sendok, Garpu dan Pisau, Mana yang Lebih Dulu?


Ada juga kisah lainnya yang berasal dari masa Raja Zhou (1105 s.d. 1046). Saat itu, raja terakhir Dinasti Shang itu menggunakan sumpit gading untuk menyantap makanannya. Raja Zhou sengaja menggunakan sumpit gading untuk menggambarkan gaya hidup mewah dirinya bersama dengan keluarganya.

Sejak saat itu, sumpit akhirnya menjadi alat makan yang penting untuk digunakan bersamaan dengan mulai banyaknya makanan berbahan dasar tepung, seperti mi, dimsum, dan kue dadar yang dibuat. 

Dalam bahasa Cina Klasik, sumpit disebut juga dengan zhu yang terdiri dari bambu dan memiliki karakter membantu. Setelah itu, sumpit pun akhirnya identik terbuat dari bambu. 

Dalam kebudayaan Cina, sumpit tidak hanya digunakan sebagai alat makan saja, melainkan juga dijadikan sebagai simbol budaya. Bahkan sumpit tersebut sering dijadikan sebagai hadiah pernikahan, tanda cinta pasangan, dan harapan bahagia bagi pengantin.

Pada masa Dinasti Song abad ke-14, penggunaan sumpit menyebar luas di daratan Cina. Hal itu dibuktikan dengan digunakannya sumpit dalam berbagai kesempatan jamuan dan makan sehari-hari. 

Di sisi lain , sumpit sudah menjadi bagian penting dalam budaya tradisi komunal makan meja bundar. Kemudian pada abad ke-7, sumpit mulai digunakan masyarakat Jepang dan turut menyebar juga di masyarakat Korea.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Mi Glosor, dari Sukabumi Populer di Bogor

Koropak.co.id, 31 July 2022 12:18:28

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Barat - Ada banyak makanan yang terkenal dari Bogor. Salah satunya Mi Glosor. Namun, jika melihat sejarah perjalanannya, kudapan yang dikenal dengan tekstur kenyalnya itu bukan berasal dari Bogor.

Asal kata glosor pada mi tersebut berasal dari bahasa Sunda yang memiliki arti ngaglosor atau meluncur turun. Bentuk yang lurus dan tekstur yang licin itulah yang kemudian membuat mi tersebut dinamakan mi glosor.

Biasanya, kuliner khas Bogor itu terbuat dari bahan baku tepung aci atau tepung tapioka. Mi glosor dengan cita rasanya yang unik dan kuat ini terkenal sebagai jajanan yang merajai jalanan daerah berjuluk Kota Hujan itu. Warnanya kuning menyala berasal dari rempah-rempah kunyit sebagai bahan utamanya.

Rasanya tak perlu diragukan lagi. Jajanan tersebut dikenal memiliki perpaduan cita rasa antara pedas, asin, dan gurih yang menjadikannya nikmat disantap khususnya saat berbuka puasa.



Baca: Dari Bakmi, Lahirlah Mie Ayam


Meskipun kuliner yang satu ini terkenal di Bogor, namun ternyata mi glosor awalnya dari Sukabumi. Sejak 1990-an, makanan tersebut menjadi jajanan wajib warga setempat, terlebih saat memasuki bulan suci Ramadan.

Diceritakan, sekitar 1966-an, seorang pembuat mi glosor dari kota Sukabumi pindah ke daerah Pancasan Bogor. Akan tetapi, mi yang satu ini justru mulai diproduksi untuk masyarakat Bogor pada 1970-an.

Cara membuatnya terbilang cukup singkat. Hanya memerlukan waktu satu jam, mulai dari proses awal hingga menjadikan mie glosor yang siap olah. Awalnya, mi glosor terbuat dari bahan baku sagu aren yang berasal dari berbagai kota di Jawa Barat, seperti dari kota Bandung, Garut, Banten, hingga Cianjur.

Sagu terlebih dahulu diayak hingga halus. Setelah itu, dicampur sesuai resep hingga menjadi adonan, lalu dimasak hingga menjadi mi glosor siap jadi.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Bedak Kecantikan, dari Kotoran Buaya Hingga Gandum

Koropak.co.id, 30 July 2022 15:12:00

Fauziah Djayasastra


Koropak.co.id, Jakarta - Bedak jadi bagian tak terpisahkan dari kecantikan. Mulanya, bedak bukan semata-mata digunakan untuk keindahan, melainkan lebih identik dari sisi spiritual. Bedak yang ditaburkan ke seluruh tubuh dipercaya dapat menjauhkan dari roh halus.

Pada masa itu, orang Timur akan menggunakannya pada acara khusus, seperti pernikahan dan pertemuan lain. Baru pada saat Ratu Cleopatra menggunakannya sebagai lapisan dasar kosmetik, bedak jadi punya nilai estetik.

Selain menaruh perhatian pada parfum, Cleopatra juga sangat peduli dengan bedak. Dia menggunakan berbagai macam bahan, di antaranya ialah kotoran buaya yang diolah menjadi serbuk halus.

Umumnya, bangsa Mesir membuat bedak dari campuran kapur dan tanah liat, namun mereka juga menambahkan sedikit timah putih. Penggunaan timah putih ini tak hanya popular di dunia Timur, tetapi juga di Barat.

Sebelumnya, orang Sumeria menggunakan bunga ochre kuning sebagai bahan bedak yang kemudian mereka namai dengan nama golden clay atau face bloom.

Orang Mesopotamia kemudian meneruskan kebiasaan tersebut dengan menambahkan sedikit modifikasi, seperti ochre merah atau daun pacar (henna).

Sedangkan orang-orang Timur Juah (Cina, Jepang, dan sekitarnya) biasanya menggunakan tepung beras. Baru kemudian artis di era Dinasti Tang memanfaatkan bedak dari bahan mutiara. Hal tersebut dilanjutkan oleh Kaisar Dowager dari Dinasti Chang.



Baca: Simpan Tempat Sampah pada Sejarahnya


Kemudian, bangsa Yunani, Romawi, dan juga Eropa membuat bedak dari gandum. Walau bedak sudah meluas, dia terbatas untuk kalangan atas dan bangsawan.

Penggunaan beras untuk pembuatan bedak membuat persediaan beras menurun pada abad 15. Kendati demikian, hal tersebut tak menjadi alasan untuk berhenti bersolek. Bahkan pada abad berikutnya, beras dan terigu menempati posisi utama dalam dunia mode di Inggris, Prancis, dan Spanyol.

Namun pada akhir abad 18, bedak mulai kehilangan pamornya akibat campur tangan penguasa setempat. Hanya saja, memasuki abad ke-20 bedak kembali meraih popularitasnya.

Bedak yang kita saksikan dewasa ini lahir di Prancis, terbuat dari bahan talk tanpa kandungan timah putih. Anthony Overton meluncurkan bedak untuk orang Afro-Amerika dengan merk High Brown Brand.

Tahun 1923, perusahaan Laughton & Sons meluncurkan wadah bedak dengan spons-nya. Selang beberapa waktu, Hollywood Max Factor merilis bedak Pan Cake yang bisa digunakan sehari-hari. Pada 194, Helena Rubinstein meluncurkan bedak dengan merk serupa dengan namanya.

Perusahaan Johnson & Johnson yang mulanya tak sengaja terjun ke dunia bedak, mendulang kesuksesan lewat bedak bayi. Bedak terus dikonsumsi dan diproduksi, sehingga pada akhir 1920-an perempuan Amerika tercatat menggunakan 4.000 ton bedak per tahun.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini: