Peusijeuk, Tradisi Masyarakat Aceh yang Sudah Ada Sebelum Masuknya Agama Islam

Koropak.co.id, 14 January 2022 15:30:35
Penulis : Eris Kuswara
Peusijeuk, Tradisi Masyarakat Aceh yang Sudah Ada Sebelum Masuknya Agama Islam

 

Koropak.co.id - Jika dilihat secara makna, maka Peusijeuk merujuk pada prosesi adat untuk memohon keselamatan di tiap-tiap kegiatan yang akan dilakukan oleh masyarakat Aceh.

Biasanya prosesi ini akan dilaksanakan saat acara perkawinan, kenduri sunatan, upacara adat, pulang berlayar hingga pada saat seseorang akan berangkat menunaikan ibadah haji.

Dilansir dari kebudayaan.kemdikbud.go.id, dalam tradisi ini, panjatan doa-doa keselamatan, shalawat dan doa-doa dalam ajaran agama Islam lainnya pun berkumandang dengan jelas seiring dengan keselamatan yang hendak diminta kepada Sang Pencipta.

Dimulai dari Peusijeuk inilah, masyarakat Aceh berharap kepada Allah SWT agar selalu memberikan keselamatan di setiap langkah yang diambilnya. Diketahui, Peusijeuk sendiri diambil dari kata dalam bahasa Aceh yakni sijue yang berarti dingin.

Pada umumnya, tradisi Peusijeuk yang sakral ini hanya boleh dilakukan oleh orang yang sudah dituakan oleh masyarakat setempat, seperti tokoh agama atau tokoh adat.

Sementara itu, dlansir dari grid.id, berdasarkan sejarahnya, awal dari tradisi upacara ini, dimulai ketika Aceh menerima ajaran agama Islam pada abad ketujuh oleh para pedagang dari Arab.

Ketika proses pengenalan agama Islam yang damai dan tanpa penaklukan itu, terjadilah pembauran suatu budaya, yaitu Islam dengan budaya masyarakat Aceh dan inilah yang menghasilkan suatu budaya baru yakni Peusijuek.

Sehingga, sebenarnya peusijuek tersebut sudah ada sebelum penyebaran agama Islam di Aceh. Akan tetapi terjadi perubahan pada doa-doa yang digunakan. Jika sebelumnya doa yang dipanjatkan berupa mantra-mantra dalam bahasa Aceh, kini sudah berganti menjadi doa-doa berbahasa Arab.

 

 


Baca : Pesona Tari Saman yang Mendunia

Oleh karena itulah, upacara adat Peusijuek masih ada dan mengakar dalam masyarakat Aceh hingga saat ini. Selain itu, untuk pelaksanaannya pun masih dilakukan sampai dengan sekarang, baik itu oleh perorangan maupun berkelompok untuk mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa.

Dalam prosesi upacara adat Peusijuek, masyarakat Aceh akan mengundang orangtua yang dianggap sebagai tokoh agama dan tentunya mempunyai ilmu-ilmu keagamaan yang tinggi, seperti Tengku (ustadz) dan Umi Chik (ustadzah).

Kemudian, untuk orang yang sedang mengadakan upacara Peusijuek juga nantinya akan menyiapkan bahan-bahan untuk upacara. Mulai dari dedaunan dan reruputan untuk melambangkan keharmonisan, keindahan dan kerukunan. Tak ketinggalan juga beras dan padi yang melambangkan kesuburan, kemakmuran, dan kekuatan.

Selanjutnya bahan yang terakhir adalah air dan tepung ketan, sebagai simbol persaudaraan dan ketenangan. Setelah itu, Tengku pun akan memercikan air ke kiri dan ke kanan sambil melakukan gerakan-gerakan unik dengan menggunakan dedaunan dan rerumputan.

Beras dan padi akan ditaburkan, lalu tepung ketan akan dioleskan di telinga kanan dan kiri pada orang yang mempunyai acara Peusijuek. Namun, beberapa proses Peusijuek juga akan menyiapkan bahan-bahan lain seperti buah talam, kue, tempat cuci tangan dan tudung saji.

Setelah itu, Tengku akan memanjatkan doa-doa agar selalu dilimpahkan keselamatan, kedamaian, dan dimudahkan rezekinya pada Tuhan yang Maha Esa. Proses terakhir dari upacara adat Peusijuek ini adalah para tamu akan memberikan uang kepada orang yang menyelenggarakan Peusijeuk.

Pemberian uang tersebut biasanya dilakukan jika Peusijeuknya untuk calon jamaah haji, pernikahan dan acara sunat. Upacara adat peusijuek yang bernuansa Islam dan tetap dijalankan oleh masyarakat ini adalah adat istiadat dari apa yang kerajaan perintahkan pada rakyatnya. Oleh karena itulah, upacara adat yang terdapat unsur agamanya dipegang teguh oleh masyarakat Aceh.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 

Komentar

Empat Permainan Tradisional Sunda Berawal Ucing

Koropak.co.id, 26 June 2022 12:21:51

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Jawa Barat punya banyak permainan yang sarat manfaat dan selalu menghadirkan kebahagiaan bagi para pemainnya. Tak perlu barang mewah atau uang banyak untuk memainkannya. Selama ada lahan kosong, baik pekarangan rumah, lapang, atau sawah kering anak-anak bisa bebas bermain.

Selain bisa dijadikan sebagai media bersosialisasi, berbagai permainan yang jadi primadona anak-anak zaman dulu mampu mengasah kecerdasan motorik, melatih kerja sama tim, serta sebagai sarana hiburan hingga mampu menjaga kesehatan anak-anak. 

Kali ini kita akan membahas empat permainan tradisional khas Sunda yang mengandung ucing. Apa saja?

1. Ucing Sumput

Jika dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama petak umpet, lain halnya dengan bahasa Sunda. Suku Sunda mengenal permainan ini dengan sebutan 'Ucing Sumput' atau yang dalam bahasa Sunda berarti 'Kucing Sembunyi'.

Biasanya permainan ini dimainkan oleh minimal dua orang. Awalnya, para pemain akan melakukan hompimpa untuk menentukan siapa yang menjadi "kucing". Nantinya "kucing" tersebut bertugas mencari pemain lain yang bersembunyi.

Setelah ditentukan, pemain yang menjadi "kucing" akan berhitung sampai sepuluh sambil memejamkan mata dan menghadap tembok atau pohon. Selesai menghitung, "kucing" akan mencari para pemain yang bersembunyi. Jika berhasil menemukan pemain yang bersembunyi, selanjutnya dia harus segera menyentuh tembok sembari mengucapkan nama pemain yang ditemukan.

2. Ucing-ucingan

Permainan yang satu ini biasanya sering disebut juga 'Emeng-emengan'. Namun tak jarang ada pula yang menyebut permainan ini dengan sebutan 'Ucing Udag'. Permainan ini dimainkan lebih dari dua orang pemain.

Permainan akan diawali cingciripit, suit atau hompimpa untuk menentukan siapa yang menjadi kucing. Barulah setelah itu, pemain yang menjadi kucing akan berlari mengejar dan menyentuh badan lawan.



Baca: Permainan Tuk Tuk Geni, Ajarkan Anak Cara Mematuhi Orangtua


Pemain yang sudah tersentuh "kucing" secara otomatis menjadi "kucing", sementara pemain yang sebelumnya menjadi "kucing" akan terbebas dari tugasnya. Ada juga versi lainnya. Pemain yang terkena sentuhan "kucing" akan menjadi teman "si kucing" dan membantu dalam mengejar pemain lain sampai semuanya tertangkap.

3. Ucing Beling

Permainan ini dimainkan dengan menggunakan media pecahan beling atau kaca yang ditumbuk menjadi kecil. Untuk memainkannya, semua pemain membuat pecahan kaca kecil lalu membuat garis bulat di tanah dengan ukuran garisnya yang disesuaikan dengan pemain.

Permainan diawali dengan cingciripit, hompimpa, suten atau suit untuk menentukan siapa yang menjadi "kucing". Setelah ditentukan, "si kucing" akan mulai melakukan penghitungan dari 1 s.d. 10. Sementara para pemain lain menyembunyikan pecahan beling tersebut di area garis bulat yang dibuatnya tadi, namun disamarkan agar tidak terlihat oleh "si kucing" yang nanti akan mencarinya.

4. Ucing Bendrong

Permainan yang satu memiliki aturan yang hampir sama dengan ucing sumput atau petak umpet, namun menggunakan tumpukan batu atau batu bata sebagai media permainannya. Dalam memainkannya, batu atau batu bata sebanyak 8 sampai 12 buah akan ditumpuk ke atas. Setelah itu para pemain akan melakukan undian urutan melempar dengan cingciripit atau hompimpa.

Setelah ditentukan, para pemain akan berjejer dengan jarak yang disepakati bersama sesuai urutan. Selanjutnya, satu per satu pemain melemparkan batu atau batu bata ke arah tumpukan. Jika pemain dengan urutan melempar 1 berhasil meruntuhkan batu bata, maka pemain urutan 2 akan menjadi 'kucing'. 

Sementara pemain lain berlari untuk bersembunyi. Pemain yang menjadi "kucing" harus cepat menumpukkan dan menyusun kembali bata yang runtuh, lalu mencari permain yang bersembunyi. Saat "kucing" menemukan pemain, dia akan berteriak hong dan menyebut nama pemain yang sembunyi.

Selain itu, saat "si kucing" tengah mencari pemain yang bersembunyi, pemain lain juga dapat mengintai dari tempat persembunyiannya dan menunggu si kucing lengah dan jauh dari tumpukan bata, lalu berlari dan meruntuhkan bata.

Apabila bata yang tersusun runtuh sebelum semua pemain yang bersembunyi ditemukan, maka permainan akan dimulai lagi dari awal dan "si kucing" akan tetap menjadi "kucing". Semua pemain juga akan bersembunyi kembali meskipun sebelumnya dia sudah ditemukan.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Badawang, Kesenian Rancaekek Kulon yang Mirip Ondel-Ondel Betawi

Koropak.co.id, 25 June 2022 15:11:58

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Kesenian tradisional khas Jawa Barat ini lahir dan hidup di tengah-tengah masyarakat pedesaan, khususnya di Desa Rancaekek Kulon, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Namanya Badawang. Sebagian menyebutnya Memeniran.

Ada dua sosok yang berjasa dalam kesenian tersebut. Mereka adalah E Rachmat dan Rumsadi. Keduanya kini sudah meninggal dunia. Dalam Bahasa Sunda, Badawang diartikan sebagai sosok manusia tinggi besar. Lantaran itu pula kenapa disebut memeniran asal kata meneer atau orang Belanda berbadan tinggi besar.

Badawang biasanya dijadikan pengisi upacara helaran atau pentas di atas panggung, khitanan anak, pernikahan hingga peringatan hari penting, seperti hari jadi kota dan kabupaten serta hari-hari besar nasional.

Ganjar Kurnia dalam bukunya 'Deskripsi Kesenian Jawa Barat' menulis, Badawang merupakan kesenian yang memiliki kemiripan dengan kesenian ondel-ondel Betawi. Itu karena boneka besar dengan pakaian perlente digendong atau dipakai oleh orang dengan pakaian sederhana di dalamnya. 



Baca: Suling dari Tanah Sunda, Alat Musik Tiup Sejak Manusia Purba


Biasanya, Badawang juga turut diisi dengan sebuah tarian yang merupakan perpaduan dari berbagai tarian yang ada dan berkembang di Jawa Barat. Sebut saja misalnya Tari Keurseus, Tari Pencak Silat, Tari Benjang dan Tari Ketuk Tilu yang dipadukan juga dengan olahraga seperti sepakbola dan olahraga lainnya.

Selain di Kabupaten Bandung, Badawang juga menyebar di setiap kabupaten dan kota yang ada di Provinsi Jawa Barat, seperti Kabupaten Garut, Sumedang, dan Kota Bandung. Dalam perkembangannya, Badawang lebih menonjolkan unsur kamonesan atau keterampilan dalam memainkan boneka.

Tak jarang, beberapa figur yang sudah dikenal masyarakat seperti Semar, Cepot, Dawala, hingga Gareng pun kerap beraksi dan menghibur penonton, mulai dari atraksi mulut boneka yang seolah-olah berbicara, menari dan berjoget, melambaikan tangan, bersorak dan lainnya.

Biasanya, Badawang dimainkan oleh sekitar 4 sampai 9 orang. Mereka dituntut hapal karakter Badawang yang dimainkannya. Di sisi lain, pagelaran Badawang merupakan  gambaran dalam tarian rakyat pedesaan yang penuh dengan hiburan dan humor, serta menggambarkan kegembiraan kehidupan dalam masyarakat yang penuh dengan gairah.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Mengulas Awal Mula Berkembangnya Batik Jawa Barat

Koropak.co.id, 18 June 2022 12:27:56

Eris Kuswara



Koropak.co.id - Batik di Jawa Barat memiliki sejarah yang panjang. Berdasarkan beberapa sumber, budaya membatik di Jawa Barat pada awalnya dibawa oleh masyarakat Jawa Tengah di era Kerajaan Mataram. 

Kala itu masyarakat Jawa Tengah membawa budaya membatik saat akan menuju Batavia (sekarang Jakarta) ketika Perang Diponegoro meletus sekitar 1825-an. Sejak itu masyarakat di Jawa Barat mulai mengenal batik. 

Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) mencatat, pada 2008, kerajinan batik Jawa Barat pada awalnya hanya ada di 8 kabupaten/kota. Namun lambat laun jumlahnya semakin meluas. Bahkan, pada 2013, sudah ada 27 kabupaten/kota di Jawa Barat yang menghasilkan produk batik. Berikut beberapa motif batik yang ada di beberapa daerah di Jawa Barat:

1. Batik Priangan 

Batik Priangan merujuk pada sejumlah daerah di Jawa Barat, meliputi Garut, Ciamis, dan Tasikmalaya. Ciri khas yang menonjol dari batik ini adalah warna latar kuning muda yang berasal dari Batik Garut dan setelah itu turut mempengaruhi ciri khas batik di derah lainnya di Priangan.



2. Batik Cirebonan

Masuk sebagai kota wilayah di pesisir utara Jawa, Cirebon memiliki produk batik yang terkenal seperti Batuk Keratonan, Pesisiran, dan Trusmi. Secara garis besar, warna dari kain batik Cirebonan menggunakan warna-warna yang ceria, seperti warna merah, biru langit hingga hijau pupus. Mega mendung pun diketahui menjadi motif batik yang paling populer diantara yang lainnya.

3. Batik Kuningan

Batik Kuningan lebih dikenal dengan nama batik Paseban Kuningan. Berdasarkan cerita dari beberapa masyarakat setempat, motif batik tersebut dibuat dan dirancang oleh Pangeran Djatikusumah dengan melakukan penelusuran secara pendalaman seni melalui ukir dan relief pada Gedung Paseban. 

Batik Paseban Kuningan ini memiliki keunikan tersendiri, yakni terletak pada motifnya yang relatif besar, tanpa isen-isen dengan warna latarnya yang gelap seperti warna biru tua, hitam, dan merah hati.

4. Batik Indramayu

Salah satu yang menjadi ciri khas dari Batik Indramayu atau dikenal juga dengan sebutan Batik Dermayon ini adalah ragam flora dan fauna yang direpresentasikan secara datar dengan banyaknya lengkungan dan garis-garis lancip. 

5. Batik Sumedang

Batik Sumedang atau yang dikenal juga dengan nama Batik Kasumedangan didominasi penggunaan warna merah. Motifnya berpola pada ceplokan sebagai motif utama pada latar vertical atau horizontal.

6. Batik Bandung 

Terakhir ada Batik Bandung dengan motifnya yang unik dan dibuat oleh pegiat batik di Jawa Barat, Komarudin Kudiya. Ia membuat motif khas Bandung yang terinspirasi dari Jembatan Pasupati, angklung, dan bunga patrakomala.



Ritual Motayok; Cara Suku di Sulawesi Utara Mencari Sembuh

Koropak.co.id, 18 June 2022 07:45:22

Fauziah Djayasastra


Koropak.co.id - Bisa jadi Anda baru tahu nama yang satu ini: Motayok. Sepintas namanya tidak terlalu akrab dengan kosakata bahasa Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pun belum tercantum. Tidak seperti silat atau reog yang sudah ada dalam kamus.

Motayok adalah salah satu ritual di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, yang di dalamnya terdapat beberapa suku dan masing-masing suku punya budaya. Salah satunya Motoyak, kini lebih akrab dengan sebutan Tari Motayok atau Tari Pengobatan.

Motayok (disebut juga Mokitayok) adalah sebutan untuk ritual mengobati orang sakit. Ritual tersebut telah dilakukan sejak ratusan tahun silam oleh para leluhur. Diketahui jika kebiasaan Motayak merupakan ritual pengobatan tertua yang ada di Bolaang Mongondow. Namun ritual ini tidak serta merta dapat dilakukan oleh setiap orang.

Alat-alat yang diperlukan dalam ritual ini adalah giring-giring yang diikatkan pada kain berwarna-warni (kokaloy), gendang berukuran 1,25 m yang dimainkan dua orang, serta dua buah gong yang dimainkan oleh dua pemain dengan irama Do Mi.

Sebelum upacara dimulai dilakukan dulu Mokibondit atau bisa dibilang sebagai proses diagnose. Lewat Mokibondit akan diketahui jenis penyakit apa yang diderita oleh orang yang sakit. Mokibondit ini juga penentu ritual seperti apa yang harus dilakukan ketika Motayak.



Baca: Bebehas, Tradisi Masyarakat Muara Enim yang Tergerus Zaman


Di desa Bilalang Baru, ada bangunan berupa sanggar budaya, sekaligus tempat melangsungkan upacara Motayak. Selain pengobatan dengan bahan-bahan alami, dilakukan juga seni tarian yang dipercaya sebagai pengobatan. Menanamkan keyakinan pada pasien bahwa hal tersebut bisa mengobati penyakit, adalah hal penting yang harus dilakukan agar pasien sembuh.

Ritual ini biasanya dilakukan pada malam hari dengan tabuhan gimbal dan pukulan gong besar serta gong kecil sebagai iringan. Lalu akan ada orang yang kerasukan roh leluhur (dodutaan) akan melakukan gerakan-gerakan kecil di atas lantai (molansikan) dan sewaktu-waktu akan menginjak potongan kayu sebagai tanda pergantian roh leluhur.

Ritual Motayok juga diiringi dengan lantunan syair-syair pendek yang disambut oleh 4-5 orang wanita pengiring (monenden). Pada pelaksanaannya, akan diselingi istirahat agar dodutaan bisa berganti baju. Sementara pemain yang lain serta penonton yang hadir juga bisa makan dan minum terlebih dahulu.

Ritual ini biasanya berlangsung hingga pagi hari, lalu dilanjutkan dengan memasak makanan untuk sesajen kepada para leluhur. Sajian yang dimasak berbahan ayam, beras ketan, ikan, serta sagu hutan (koito'). Sementara pengobatan akan dilakukan pada sore hari sambil meminta petunjuk dan perlindungan roh-roh leluhur.

Prosesi Motayok ini berakhir ketika matahari terbenam dengan membawa sesajian ke tempat yang telah ditentukan, lalu sisa sesajian itu akan dibagikan pada orang-orang yang hadir pada ritual pengobatan. Namun, pasien dilarang memakan sesajian agar penyakit bisa sembuh dengan cepat.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Suling dari Tanah Sunda, Alat Musik Tiup Sejak Manusia Purba

Koropak.co.id, 17 June 2022 07:29:39

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Satu dari sekian banyak alat musik yang identik dengan Sunda adalah suling. Kendati ukurannya terbilang kecil, keberadaan suling dalam satu pementasan bisa membuat suasana berubah. Kala suara suling mengalun mendayu, orang Sunda pasti seakan terbawa pada satu tempat yang menenangkan.

Suling merupakan waditra atau alat music tiup yang terbuat dari bahan bambu berlubang berdiameter 4,5 dan 6 milimeter. Biasanya digunakan untuk membawakan sebuah melodi lagu, baik mengiringi vokal (tembang dan kawih) maupun untuk dimainkan mandiri (tunggalan atau landangan).

Seiring berkembangnya teknologi, saat ini sudah banyak sekali ditemukan suling modern yang terbuat dari bahas perak. Meskipun begitu, suling juga masih tetap dianggap alat musik tradisional, karena telah digunakan sejak manusia purba yang hidup sekitar 100 ribu tahun yang lalu.

Selain di Tatar Sunda, suling ada juga di daerah lain di pulau Jawa. Di Provinsi Jawa Barat, ada banyak jenis suling berlubang empat, di antaranya suling degung bersurupan pelog, suling salendro, dan madenda.



Baca: Ritmik Alat Musik Rindik; Berawal dari Pemberontakan


Untuk membuat suling, biasanya jenis bambu yang digunakan adalah bambu tamiang, bambu buluh dan bambu iraten. Dari ketiga jenis bambu itu, bambu tamiang terkenal memiliki kulit yang lebih tipis dengan ruas yang panjang, sehingga bambu ini pun dinilai paling baik untuk dijadikan bahan suling.

Sementara bambu buluh dan iraten, memiliki kulit yang lebih tebal dengan ruas batangnya yang cenderung pendek. Oleh karena itu bambu tersebut seringkali hanya dijadikan sebagai bahan baku alternatif.

Kemudian untuk suliwer atau tali ikat menggunakan rotan cacing, dikarenakan teksturnya yang tipis dan mudah dibentuk. Selain itu, rotan jenis ini juga tahan terhadap air liur, sehingga membuat bahan ini tidak akan mudah lapuk.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Bubu Gila, Hiburan yang Melatih Ketangkasan

Koropak.co.id, 16 June 2022 07:47:31

Fauziah Djayasastra


Koropak.co.id - Ada ragam permainan rakyat yang nyaris tiada, bahkan sudah tidak diketahui di kalangan anak muda. Satu di antaranya adalah bubu gila dari Bengkulu. Ada juga yang menyebutnya bubu gilo atau lukah gilo.

Bubu gila yang oleh masyarakat Bengkulu disebut lukah gila (atau lukah gilo) adalah permainan yang diciptakan masyarakat zaman dulu untuk hiburan rakyat, baik selepas panen ataupun di acara pernikahan.

Selain sebagai hiburan, permainan tradisional ini juga melatih ketangkasan dan menguji keterampilan dalam mengendalikan alat penangkap ikan (bubu) yang sebelumnya telah dimantrai oleh seorang pawang.

Permainan ini konon telah ada sejak ratusan tahun silam dan diciptakan oleh suku Lembak: suku yang mendiami daerah-daerah di Provinsi Bengkulu dan sebagian bermukim di Provinsi Sumatera.

Cara memainkannya, dibutuhkan peserta berjumlah delapan orang. Mereka duduk berbaris menjadi dua barisan dengan sebuah alat penangkap ikan dari rautan bambu yang dijalin dengan rotan (bubu) dan diselubungi kain (pakaian) berwarna hitam.



Baca: Cingcowong, Ritual Masyarakat Kuningan Memanggil Hujan


Mereka memegang bubu, kecuali satu orang yang bertugas memegang jalinan lidi kelapa dengan benang warna hitam, merah, dan putih. Jalinan lidi itu dipukulkan pada triplek kecil, sehingga menghasilkan bunyi-bunyian. Selain membikin suara tak-tuk tak-tuk yang riuh, dia juga merapal mantra berbahasa Lembak.

Ketika triplek dipukul dan menghasilkan bunyi, bubu yang dipegang itu sontak seperti menari dan melompat-lompat, seakan ada sesuatu tak kasatmata yang menggerakkan bubu tersebut. Pemegang bubu akan berusaha terus memegang bubu.

Gerak bubu tersebut tidak sesuka hati, melainkan sesuai dengan keinginan sang pawang. Semakin keras lidi dipukul pada triplek dan semakin keras bunyi yang dihasilkan, maka bubu akan bergerak semakin tak terkendali.

Oleh karenanya, permainan ini diberi nama Bubu Gila. Sepintas, permainan ini terkesan mirip jelangkung. Bedanya, permainan ini akan berhenti ketika bubu jatuh maupun rusak. Masyarakat Lembak percaya jika bubu tersebut digerakkan oleh roh leluhur yang mereka panggil lewat pawang ketika membacakan mantra tadi.

Untuk memainkan permainan ini tidak ada syarat khusus bagi para pemain. Hanya dibutuhkan waktu untuk mempelajari mantra sehingga hapal di luar kepala. Terutama bagi pawang, dia harus punya antisipasi jika salah satu pemain atau penonton mengalami kesurupan.

Sebab tak hanya pemain, penonton juga kadang dilibatkan untuk memegang bubu jika permainan ini punya durasi yang panjang. Biasanya hanya untuk membuktikan kepada penonton jika hal tersebut bukan rekayasa.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Semangat Persaudaraan Batak dalam Dalihan Na Tolu

Koropak.co.id, 15 June 2022 15:17:54

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Suku Batak, Sumatera Utara, merupakan suku bangsa terbesar ketiga di Indonesia. Pada 2010 Badan Pusat Statistik melansir, populasi Suku Batak di Indonesia mencapai 8.466.969 jiwa. Itu setara dengan dengan 3,58 persen dari keseluruhan penduduk di Indonesia kala itu. 

Tak heran, ada seni budaya yang berkembang di sana. Salah satunya Dalihan Na Tolu. Itu merupakan aturan terkait perkawinan, hubungan kerabat sedarah, hingga hubungan keluarga satu marga meskipun berbeda keturunan.

Ada tiga bagian besar dalam Dalihan Na Tulo yang mengatur hubungan masyarakat dengan unsur adat dalam budaya Batak. Ketiga bagian itu adalah somba marhulahula atau sikap sembah atau hormat kepada keluarga pihak istri, elek marboru atau sikap membujuk atau mengayomi wanita, dan manat mardongan tubu atau sikap berhati-hati kepada teman semarga.

Dalihan Na Tolu juga memiliki arti "tungku yang berkaki tiga" yang membutuhkan keseimbangan mutlak. Jika satu dari ketiga kaki tungku tersebut rusak, maka tungku tidak dapat digunakan kembali. Filosofi tersebut dipilih oleh leluhur Suku Batak sebagai falsafah hidup dalam tatanan kekerabatan antara sesama yang bersaudara dengan hulahula dan boru.



Baca: Jangan Lupakan Mossak, Seni Bela Diri Khas Batak


Diperlukan keseimbangan dalam menjalani tatanan hidup antara tiga unsur itu. Untuk menjaga keseimbangannya diharuskan menyadari bahwa semua orang akan pernah menjadi hula-hula, boru, dan pernah menjadi dongan tubu.

Dalam adat Batak Toba, hula-hula merupakan keluarga laki-laki dari pihak istri atau ibu. Mereka adalah kelompok orang-orang yang posisinya sangat dihormati keluarga marga pihak istri. 

Sedangkan boru bisa diartikan sebagai marga yang terbagi menjadi dua, yaitu hela atau suami dari boru kita dan bere atau anak saudara perempuan kita yang memang dipandang oleh orang Batak masuk dalam unsur boru mengikuti ibunya.

Adapun dongan tubu adalah kelompok orang-orang yang posisinya 'sejajar', seperti  teman atau saudara semarga. Sebutannya Manat Mardongan Tubu yang berarti menjaga persaudaraan agar terhindar dari perseteruan.

Hula-hula dan boru harus saling menjaga kekerabatan yang ada antara dua keluarga. Hal yang perlu dilakukan oleh seorang hula-hula adalah menjaga tatanan yang sudah dibuat dalam keluarga. Di sisi lain, seorang boru juga dituntut untuk memiliki peran yang penting dalam aturan tersebut.

Hal itu dilakukan agar keseimbangan yang sejati bisa terjadi dalam tiga unsur tatanan. Masyarakat Batak meyakini bahwa tanpa adanya seorang boru, maka tidak akan ada gelaran pesta meriah.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Permainan Tuk Tuk Geni, Ajarkan Anak Cara Mematuhi Orangtua

Koropak.co.id, 15 June 2022 07:18:58

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Jika disuruh untuk menentukan pilihan, mungkin saat ini mayoritas anak-anak di Indonesia akan lebih memilih bermain video gim atau gadget ketimbang bermain di lapangan. Padahal, jika anak-anak terlalu sering bermain gim di ponsel, dampaknya tidak kecil. Bisa mengganggu kesehatan jiwa.

Beda halnya dengan permainan-permaintan tempo dulu, seperti Tuk Tuk Geni atau bisa disebut juga dengan permainan Nenek Gerandong yang berasal dari Betawi. Permainan tersebut menceritakan tentang seorang nenek gerondong yang miskin dan hendak mengambil ubi anak-anak. 

Untuk memainkan permainan ini, dibutuhkan pemain lebih dari dua orang. Selain bisa dimainkan di dalam ruangan, permainan ini juga bisa dimainkan di luar ruangan. Cara memainkannya terbilang sangat sederhana. Satu orang  pemain akan berperan sebagai nenek gerondong yang ditentukan melalui hompimpa. 

Setelah ditentukan siapa yang menjadi nenek gerondong, pemain lain pun kemudian akan duduk berbaris dengan memeluk pinggang pemain lain yang berada di depannya. Sementara untuk pemain yang paling depan biasanya akan memeluk pohon atau tiang yang kokoh. 

Selama permainan berlangsung, pemain yang berperan sebagai nenek gerondong pun akan melantunkan sebuah lagu dan akan dijawab beriringan oleh pemain lain yang duduk saling berpegangan dan berperan sebagai anak pemilik ubi. Biasanya lagu yang dilantunkannya itu adalah:

"Tok-tok-tok" (Nenek Gerondong)

"Siapa tuh?" (Anak-anak Pemilik Ubi)

"Nenek Gerondong" (Nenek Gerondong)



Baca: Ngadu Muncang, Dulu Jadi Alat Unjuk Kesaktian Zaman Kerajaan


"Mau minta apa?" (Anak-anak Pemilik Ubi)

"Mau minta ubi" (Nenek Gerondong)

"Baru daun satu" (Anak-anak Pemilik Ubi)

Setelah lagu berakhir, maka nenek gerondong pun akan menarik salah seorang pemain dari barisan secara acak. Akan tetapi, biasanya pemain paling belakang yang akan terlebih dahulu ditarik oleh nenek gerondong. 

Jika salah seorang yang menjadi sasaran nenek gerondong itu berhasil ditarik, maka pemain tersebut akan membantu nenek gerondong untuk menarik anak-anak lainnya agar bisa keluar dari barisan.

Setelah semua pemain terlepas, selanjutnya mereka pun harus berlari dan bersembunyi dari nenek gerondong. Sehingga, nenek gerondong pun selanjutnya akan bertugas untuk mencari para pemain.

Bagi orang pertama yang berhasil ditemukan oleh nenek gerondong, maka dialah yang akan menjadi nenek gerondong di permainan berikutnya.

Selain asyik untuk dimainkan, permainan ini juga memiliki berbagai manfaat bagi anak-anak, mulai dari dapat meningkatkan rasa kompetitif, kerjasama, kepekaan anak dalam mendengarkan perintah hingga sikap saling membantu dan melindungi sesama. 

Tak hanya itu saja, permainan ini juga akan mengajarkan anak-anak untuk senantiasa mematuhi perintah atau ucapan dari nenek atau orangtuanya. Karena jika mereka mengikuti segala perintah dan ucapannya, maka kehidupan mereka pun akan menjadi lebih baik.

Di sisi lain, permainan nenek gerondong ini juga mengajarkan kesetiaan, kehormatan dan kemuliaan kepada orang-orang yang lebih tua. Bahkan permainan ini juga dapat membantu anak dalam mengatasi rasa stress akibat belajar atau masalah lainnya dengan berlari, tertawa dan bernyanyi.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Ngelawang, Asal Ritual Sakral Penolak Bala di Bali

Koropak.co.id, 14 June 2022 07:28:00

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Bali punya banyak cerita. Bukan hanya tempat wisata nan menawan, tapi juga ada beragam adat istiadat yang memukau. Sebagai pulau dengan mayoritas penduduk beragama Hindu, salah satu tradisi yang rutin digelar adalah Ngelawang.

Itu merupakan ritual tolak bala yang dilakukan umat Hindu. Biasanya tradisi ini dilakukan oleh sekelompok dengan berkeliling banjar atau desa sambil menarikan barong dengan diiringi alunan gamelan dari rumah ke rumah. Sesuai namanya, Ngelawang, asal kata lawang yang berarti pintu, rumah ke rumah atau dari desa ke desa. 

Ritual tersebut muncul untuk mengembalikan ketenangan dan kedamaian di bumi yang diakibatkan adanya gonjang-ganjing dunia, musibah, dan bencana. Tarian, iringan musik, dalang, dan lain sebagainya diharapkan dapat menjadi penghibur bagi manusia, sehingga mereka bisa kembali tenang dan damai.

Biasanya, tradisi Ngelawang dilakukan pada hari raya Galungan Kuningan serta hari baik tertentu yang ditetapkan oleh masing-masing desa di Bali.



Baca: Tradisi Siat Yeh dan Kebo Dongol di Dua Desa Adat Bali Raih Sertifikat WBTb


Umumnya, Ngelawang dilakukan oleh sekelompok anak-anak dan remaja yang terdiri dari 8 hingga 15 orang. Dua diantara anak-anak atau remaja itu akan berperan sebagai penari dengan seperangkat pakaian barong yang lengkap, sementara sisanya akan berperan sebagai penabuh gamelan. 

Dalam setiap rute yang dilewati, para penonton yang menyaksikan dan menikmati tarian ini biasanya akan memberikan sedekah (punia) seikhlasnya sebagai imbalan dan rasa terima kasih. 

Meskipun Ngelawang ini merupakan tarian yang sarat akan nilai religi, namun tradisi ini bisa juga dinikmati oleh wisatawan, terutama yang berada di wilayah Kuta dan Ubud, sebagai pertunjukan seni unik, menghibur, dan menyenangkan. 

Berbicara mengenai sejarahnya, konon Ngelawang berasal dari mitologi Dewi Ulun Danu yang berubah menjadi seorang raksasa. Dia bertugas untuk membantu penduduk desa dalam mengusir roh-roh jahat.

Dahulu, Ngelawang merupakan ritual yang sacral, sehingga jika ada bulu-bulu barong yang tercecer, maka warga sekitar akan memungutnya dan menjadikannya sebagai benda bertuah. Seiring berjalannya waktu, kini tradisi ngelawang dijadikan sebagai pertunjukan seni yang dibawakan oleh anak-anak.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Sawah Lodok Manggarai, Pesawahan Unik di Asia Pasifik

Koropak.co.id, 13 June 2022 07:19:30

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Indonesia merupakan negara yang dibangun di atas keberagaman budaya dan adat istiadat, serta terdapat berbagai macam kearifan lokal. Salah satu kearifan lokal yang dimiliki bangsa Indonesia ada di Manggarai, Flores Nusa Tenggara Timur.

Kearifan lokal tersebut adalah pembagian sawah yang dipetakan dengan sistem Lodok, sehingga masyarakat pun menyebutnya dengan sebutan sawah lodok. Itu merupakan sistem pengelolaan dan pembagian tanah komunal (Lingko) berbentuk sarang laba-laba yang digunakan untuk usaha pertanian pada masyarakat Manggarai.  

Sistem sawah Lodok ini sudah berlangsung selama berabad-abad. Hal itu dilakukan untuk menjamin hak dasar semua warga Manggarai agar bisa mendapatkan sumber daya lahan pertanian, khususnya untuk produksi pangan.  

Untuk pembagian lahan sawah lodok dilakukan oleh Tu'a Teno yang bekerjasama dengan Tu'a Panga atau yang menjadi kepala dari beberapa kumpulan keluarga, serta Tu'a Golo atau Tua Adat yang membawahi atau memimpin suatu kampung atau wilayah. 



Baca: Mengenal Sistem Irigasi Tradisional dari Bali yang Diakui UNESCO


Istilah lodok sendiri terdapat di daerah Kampung Cancar, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, dengan pembagian lahannya berbentuk seperti jaring laba-laba. Model sistem itu hanya bisa ditemui di daerah Manggarai Raya, yang meliputi daerah Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur.

Dengan keunikan yang dimilikinya, buku panduan perjalanan terbesar di dunia, yakni Lonely Planet mengkategorikannya sebagai pesawahan unik di Asia Pasifik.

Dari sisi sosial dan budaya, Lodok memiliki arti sebagai persatuan suatu kampung dalam hal pembagian tanah berdasarkan status sosial warganya. Di tengah kemajuan teknologi, sistem Lodok Manggarai sampai saat ini masih bertahan. 

Itu dilakukan untuk menjamin kebutuhan pangan pangan masyarakat, sekaligus menjamin konservasi sumber daya alam dan Indigenous Knowledge dalam peengelolaan sumber daya pertanian. 


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Tiga Pakaian Adat Khas Kalimantan Barat

Koropak.co.id, 11 June 2022 19:35:31

Fauziah Djayasastra


Koropak.co.id - Setiap daerah di Indonesia punya pakaian adat dengan ciri khas masing-masing, termasuk di Kalimantan Barat. Dalam konteks berpakaian, pakaian adat daerah ini dipengaruhi oleh kebudayaan dari dua suku, yakni suku Dayak dan suku Melayu Sambas. 

Berikut ragam pakaian di Kalimantan Barat:

1. King Baba

King Baba adalah salah satu jenis pakaian adat suku Dayak. Apabila diartikan, nama King Baba berarti pakaian laki-laki. Uniknya, pakaian ini berbahan dasar kulit tanaman bernama ampuro (kayu kapur). Ampuro ini merupakan tanaman asal Kalimantan, dimana dalam pembuatannya kulit tanaman ini diambil seratnya untuk kemudian di jemur.

Setelah itu, serat kulit tanaman tersebut dilukis dengan corak khas Dayak. Corak yang sering ditemuo adalah corak burung engang. Ada kepercayaan yang tumbuh dan berkembang di masyarakat tentang engang yang merupakan simbol penguasa alam atas (Matahala dan Patohara) serta akan tiba pada saat-saat yang penting.

Usai dihias, serat kulit tersebut akan dibentuk menjadi sebuah baju yang menyerupai rompi serta penutup kaki. Biasanya, ketika mengenakan pakaian adat ini akan dilengkapi dengan ikat kepala dengan motif khas serta dibubuhi bulu burung enggang gading. Disempurnakan juga dengan adanya senjata mandau yang memunculkan kesan gagah.



Baca: Bebehas, Tradisi Masyarakat Muara Enim yang Tergerus Zaman


2. King Bibinge

Menilik namanya, King Bibinge sama saja dengan King baba. Namun bedanya, pakaian ini dikenakan oleh oleh perempuan. Sementara bahan dan proses pembuatannya tidak jauh beda dengan King Baba.

Perbedaan yang mencolok terdapat pada model pakaiannya yang lebih tertutup, terutama di bagian dada. King Bibinge juga menggunakan tambahan stagen (mirip korset) serta kain bawahan. Tak lupa juga dengan aksen manik-manik serta sejumlah aksesoris.

Aksesoris ini biasanya terdapat di bagian tangan. Uniknya, pada bagian jerat tangan ini berbahan lilitan akar tanaman yang konon dipercaya sebagai pencegah segala bencana. Selain itu, kalung pun dibuat dari akar kayu serta beberapa tulang hewan untuk menjauhkan dari roh halus.

Beberapa aksesoris lain yang dapat dikenakan dan berasal dari Kalimantan Barat adalah gelang semacam galang pasan manik, galling gading, tajuk bulu area, tajuk bulu tantawan, dan masih banyak lagi.

3. Pakaian Adat Melayu Sambas

Berbeda dengan King Baba dan King Bibinge yang menggunakan serat tumbuhan dengan aksesoris akar dan minim menggunakan kain, pakaian adat Melayu Sambas justru menggunakan kain seluruhnya. Pakaian ini punya kesamaan dengan pakaian adat khas Melayu lainnya, yakni berlengan panjang dengan paduan kain songket khas Kalimantan Barat.

Model pakaian juga tertutup dengan desain yang khas. Untuk laki-laki, akan ditambahkan aksesoris peci atau kopiah berwarna hitam. Sementara untuk perempuan, bajunya berlengan panjang dengan bawahan memakai kain tenun. Secara keseluruhan, pakaian ini punya nilai estetika.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Lempar Sandal, Permainan Sederhana Banyak Manfaat

Koropak.co.id, 11 June 2022 12:07:41

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Lempar sandal. Mendengar namanya saja kita langsung bisa menafsirkan bahwa itu merupakan aktivitas melempar sandal. Ya, sesederhana itu. Dulu, itu merupakan salah satu jenis permainan anak yang paling digemari.

Kendati permainan yang satu itu terkenal di kalangan masyarakat Betawi, namun di daerah lain juga ada, tapi dengan nama berbeda. Permainan tersebut dimainkan untuk mengisi waktu luang, baik sepulang sekolah atau di hari libur. 

Untuk melakukan permainan Lempar Sandal, setidaknya diperlukan empat buah sandal yang meliputi tiga sandal akan disusun berdiri menyerupai piramida, sementara satu sandal lainnya digunakan untuk melempar.

Sebelum memulai permainan, pemain akan dibagi menjadi dua tim dengan masing-masing timnya beranggotakan minimal dua orang. Setiap pemain akan melemparkan sandalnya masing-masing. Siapa lemparannya terjauh, maka dialah yang akan menjadi pelempar pertama.

 


Baca: Mengenang Ayang-ayang Gung dan Ucang-ucang Angge


Setelah 3 sandal disusun berdiri menyerupai piramida, setiap pemain akan melempar sandal secara bergantian dari jarak yang sudah ditentukan dengan sasaran sandal yang sudah ditumpukkan.

Menariknya, sandal yang dilempar itu tidak boleh melayang dan harus terseret di tanah. Pelempar pertama akan mengarahkan lemparannya ke arah susunan sandal. 

Jika sandal yang dilemparkannya itu mengenai susunan sandal, maka pelempar urutan kedua akan menjadi penjaga susunan sandal, dan bertugas untuk menata susunan sandal tersebut, kemudian pemain lain akan bersembunyi layaknya petak umpet.

Tugas penjaga adalah menjaga agar susunan sandal tetap berdiri sampai semua anak yang bersembunyi tertangkap. Sementara untuk tugas anak yang bersembunyi adalah berusaha dalam merobohkan susunan sandal tanpa sepengetahuan penjaga. 

Penjaga sandal juga akan mencari teman-temannya yang bersembunyi. Jika tertangkap, maka penjaga harus menyebutkan nama temannya yang tertangkap sambil kembali ke arah susunan sandal dan mengucapkan kata "undil-undil" atau bisa juga diganti dengan kata lain yang berarti anak tersebut sudah tertangkap. 

Sedangkan jika susunan sandal roboh sebelum semua anak tertangkap, maka sang penjaga harus menyusunnya dan anak yang sudah tertangkap bisa kembali bersembunyi.

Tak hanya bisa dijadikan sebagai ajang pelestarian seni dan budaya dari ambang kepunahan, Lempar Sandal ini juga memiliki berbagai manfaat yang dapat diperoleh. Di antaranya membiasakan anak untuk berkomunikasi dengan teman-teman yang ada di lingkungan sekitarnya. Selain itu, anak juga menjadi aktif dalam menggerakkan badan, dan hal itu tentunya bagus untuk kesehatan fisik.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini: