20 Januari 1892, Pertandingan Bola Basket Pertama di Dunia Resmi Digelar

Koropak.co.id, 20 January 2022 17:05:25
Penulis : Eris Kuswara
20 Januari 1892, Pertandingan Bola Basket Pertama di Dunia Resmi Digelar

 

Koropak.co.id - Perkembangan permainan bola basket tentunya tidak bisa dilepaskan dari permainan yang diciptakan oleh James Naismith.

Sebab, sebelum adanya bola basket yang menjadi bola resmi dalam permainan ini, para pemainnya kala itu menggunakan bola yang biasa digunakan pada permainan sepak bola.

Bahkan diketahui, pada awal-awal permainan bola basket juga belum ada yang menciptakan dribble. Hal itu dikarenakan pada masa itu, lapangan yang dipakai untuk permainannya cukup luas.

Dilansir dari gramedia.com, kemudian dari lapangan yang cukup luas itulah, permainan yang diciptakan oleh James Naismith hanya mementingkan dan memanfaatkan passing dari teman saja.

Setelah passing, langkah berikutnya adalah memasukan bola ke dalam keranjang atau basket.

Namun, seiring dengan perkembangan permainan ini, para pemain pun mulai mencari cara agar permainan bisa tetap berjalan dengan menyenangkan dan tidak hanya sebatas melakukan passing saja.

Sehingga, para pemain saat itu mulai memantulkan bola ke lantai ketika ingin melakukan passing. Sementara itu, tercatat pertandingan resmi bola basket pertama yang terjadi di dunia dilakukan pada 20 Januari 1892.

Pertandingan resmi pertama di dunia ini dilakukan di tempat James Naismith dengan memberikan materi pelajaran olahraga, yaitu YMCA.

Setelah pertandingan bola basket dilakukan beberapa kali, permainan ini pun mulai terkenal, sehingga masyarakat Amerika Serikat banyak yang mulai menyukai permainan bola basket tersebut.

Tidak hanya sampai disana saja, pada saat itu juga permainan bola basket mulai banyak disukai hingga menjadi fanatik. Imbasnya, pertandingan bola basket pun akhirnya diselenggarakan hampir di seluruh kota-kota yang ada di negara bagian Amerika Serikat.

 

 


Baca : Telegraf Pertama Kali Digunakan di Hindia Belanda, Ini Sejarah Lengkapnya

Pada awal-awal pertandingan resmi dilakukan, jumlah pemain dari bola basket terdiri dari sembilan orang dan tidak boleh melakukan passing.

Tak hanya itu saja, para pemainnya juga harus mengikuti 13 aturan dasar yang telah ditulis oleh James Naismith.

Olahraga bola basket pun semakin populer di Amerika Serikat hingga pada tahun 1914.

Selain itu, sudah banyak juga perguruan tinggi yang membuat tim bola basket, dan tercatat saat itu ada 360 tim . Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mengikuti penyelenggaraan pertandingan bola basket antar tim di perguruan tinggi.

Pada tahun 1939, perlombaan bola basket antar perguruan tinggi tersebut baru memiliki turnamen resmi dam turnamen itu juga menjadi turnamen pertama bola basket di Amerika Serikat.

Turnamen bola basket antar perguruan tinggi itu dinamakan NCAA College Basketball Championship Tournament. Pada turnamen yang baru pertama kali diselenggarakan tersebut, University of Oregon berhasil menjadi juaranya.

Seiring dengan perkembangannya, kepopuleran dari permainan bola basket ini tidak hanya di Amerika Serikat saja, akan tetapi mulai menyebar ke beberapa negara.

Oleh karena itulah, pada 18 Juni 1932, dibentuklah sebuah federasi bola basket dunia yang diberi nama Federation Internationale de Basketball Amateur (FIBA) dan berpusat atau bermarkas di Jenewa, Swiss.

Berdirinya FIBA sendiri dilakukan oleh beberapa negara, seperti Yunani, Italia, Argentina, Cekoslowakia, Latvia, Swiss, Rumania, dan Portugal.

Adapun beberapa kejuaraan yang sering diselenggarakan oleh FIBA, yaitu kejuaraan dunia FIBA, kejuaraan bola basket Olimpiade hingga kejuaraan dunia FIBA antar klub.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 

Komentar

Hari Waisak; Bahwa Kekayaan tidak Menjamin Kebahagiaan

Koropak.co.id, 16 May 2022 08:12:27

Jihan Fauziah


Koropak.co.id - Hari Waisak diketahui sebagai hari paling suci bagi umat Buddha di seluruh dunia. Di hari tersebut umat Buddha memeringati kelahiran, pencapaian pencerahan, serta wafatnya Sang Buddha.

Dengan kata lain, waisak merupakan hari peringatan bagi kelahiran Sang Buddha atau Siddhartha Gautama. Sementara Buddha sendiri merupakan gelar yang bermakna 'yang tercerahkan' atau 'yang terbangun'.

Menurut laman BBC, Siddharta Gautama merupakan pangeran yang lahir pada abad ke-5 SM di tengah keluarga kaya. Mereka bermukim di suatu tempat yang kini bernama Nepal. Dalam ajaran Buddha, Siddhartha memahami bahwa kekayaan dan kemewahan tidak dapat menjamin kebahagiaan.

Maka, Sang Buddha melakukan perjalanan sebagai seorang tunawisma yang suci untuk mempelajari banyak hal tentang dunia, termasuk juga perihal penderitaan.

Selama enam tahun belajar dan bermeditasi, dia menyadari secara spiritual telah mencapai tujuan hidup dan menemukan makna kehidupan itu sendiri. Dia kemudian menjadi Buddha dan mengajarkan para pengikutnya seluruh pengalaman spiritual tersebut.

Dengan demikian, hari lahir Siddhartha Gautama kemudian diperingati sebagai Hari Waisak. Uniknya, perayaan Hari Waisak tidak selalu jatuh pada tanggal yang sama di bulan Mei setiap tahunnya.



Baca: Kerusuhan Mei 1998, Lembaran Hitam Sejarah Indonesia


Di perayaan tahun lalu, misalnya, digelar pada 7 Mei 2021. Sedangkan tahun sekarang diperingati pada 16 Mei 2022. Perbedaan tanggal tersebut disebabkan karena perayaannya berdasarkan bulan pertama bulan lunar kuno Waisak yang biasa terjadi di bulan Mei atau Juni.

Di berbagai sudut dunia, Hari Waisak diperingati dengan beragam cara yang berbeda tergantung tradisi dan budaya masing-masing. Tak sedikit umat Buddha yang pergi ke kuil dan berada di sana seharian penuh ketika malam bulan purnama.

Orang-orang juga biasa memeringatinya dengan melakukan segala perbuatan baik, merenungkan ajaran Buddha, membawakan persembahan ke kuil, meditasi, atau berbagi makanan kepada orang-orang.

Umat Buddha juga biasa menghias rumah dengan lentera atau bertukar kartu ucapan dengan sanak keluarga dan teman-teman. Selain itu, sebagian orang juga biasa menuangkan air ke atas bahu Buddha sebagai simbol untuk menjernihkan pikiran dari keserakahan dan kebencian.

Di Indonesia, perayaan Hari Waisak biasanya diperingati di Candi Borobudur dengan mengadakan festival lampion dan beberapa rangkaian upacara.

Rangkaian acara lain di tahun ini meliputi pembagian sembako, pengambilan api alam dari Mrapen dan air berkah dari umbul jumprit Kabupaten Temanggung, serta ditutup dengan Dharmasanti Waisak. Puncak acara biasa ditandai dengan pelepasan lampion di pelataran Candi Borobudur.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Cikal Bakal Bahasa Indonesia, Bahasa Melayu Dipakai di Asia Tenggara

Koropak.co.id, 15 May 2022 12:16:02

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Sebagai bahasa nasional, Bahasa Indonesia telah digunakan sejak sebelum era kemerdekaan. Awal mulanya berasal dari bahasa Melayu dan dipakai di kawasan Asia Tenggara pada abad ke-7.

Ada peninggalan berupa prasasti yang ditemukan di Kedukan Bukit, Palembang, pada 683 Masehi. Di dalamnya tertulis huruf Pranagari atau bahasa Melayu kuno. Bahasa Melayu juga digunakan di era Kerajaan Sriwijaya, hingga merambah ke sejarah kerajaan Islam yang dibuktikannya batu nisan di Minye Tujuh, Aceh, pada 1380 Masehi.

Bahasa Melayu juga digunakan dalam karya sastra abad ke-16 hingga ke-17, seperti pada syair, hikayat, hingga jejak sejarah lainnya. Juga disebut-sebut sebagai lingua franca atau basantara, yaitu bahasa penghubung yang menyatukan antarpulau, suku, golongan, kerajaan, sampai dengan pedagang.

Bersamaan dengan penyebaran agama Islam, popularitas Bahasa Melayu terus meluas ke wilayah Nusantara, terutama di abad ke-17. Diketahui, bahasa Melayu yang dipakai di bumi Nusantara tersebut memiliki campuran dari budaya daerah serta menyerap kosakata dari berbagai bahasa lain, di antaranya bahasa Sanskerta, Persia, Arab, dan Eropa.



Baca: Kerusuhan Mei 1998, Lembaran Hitam Sejarah Indonesia


Sistem Bahasa Melayu yang sederhana digunakan oleh banyak masyarakat antarwilayah. Namun, proses penetapan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia agar diakui ternyata tidaklah mudah. Tokoh penggagasnya adalah Moh. Yamin.

Kala itu, ia mengusulkan bahwa pembentukan suatu bangsa penting memiliki bahasa persatuan. Pemikirannya tersebut disampaikannya dalam Kongres Pemuda I yang berlangsung pada 30 April s.d 2 Mei 1926 di Batavia (Kini Jakarta).

Saat itu, Yamin mengusulkan bahwa bahasa persatuan Indonesia adalah bahasa Melayu. Dilanjutkan pada Kongres Pemuda II pada 27 s.d 28 Oktober 1928, bahasa persatuan pun diperbarui.

Ketika kongres kedua berlangsung, Yamin mengatakan, bahasa Melayu dinyatakan telah menjelma menjadi bahasa Indonesia. Sebagai sekretaris kongres pemuda, Yamin ikut andil dalam merumuskan putusan atau yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda.

Di dalam teks Sumpah Pemuda ditegaskan bahwa bahasa persatuan Indonesia adalah bahasa Indonesia. Kini, bahasa Indonesia terus meluas dan berkembang pesat dengan ragam perbendaharaan kata yang semakin bertambah. 


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Cerita Buah Pala yang Melegenda dan Keberadaannya Kini

Koropak.co.id, 14 May 2022 15:09:06

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Jika dilihat sepintas, buah ini bentuknya mirip duku, tapi ukurannya sedikit lebih besar. Buah ini berbentuk bulat lonjong, berdaging buah, dan beraroma khas dikarenakan mengandung minyak atsiri. Kulitnya juga berwarna coklat muda dengan ketebalan sedang.

Buah ini bergelantungan di seluruh bagian pohon, namun tidak dalam satu rangkaian. Bila sudah masak, kulit dan daging buahnya akan membuka, bijinya akan terlihat dengan warna merahnya. Dialah Pala.

Pala merupakan satu tanaman buah yang namanya sudah mendunia sejak dahulu kala. Saking mendunianya, para pedagang banyak yang mengincar tanaman ini dikarenakan nilai jualnya yang tinggi dan permintaan kebutuhannya yang sangat banyak. 

Bagian utama yang banyak menjadi incaran para pedagang itu adalah biji dan daging buahnya. Konon, buah dan biji Pala ini sudah menjadi komoditi perdagangan yang penting sejak masa Romawi berkuasa di seperempat bagian bumi.

Biji pala yang sudah dikeringkan juga merupakan bahan utama untuk pembuatan berbagai masakan. Biasanya, biji pala ini akan digerus dan dibentuk menjadi bubuk. Salah satu penyebab Pala ini menjadi istimewa adalah minyak Atsiri yang terkandung dalam buahnya secara alami.

Sudah sepatutnya Indonesia merasa bangga, karena menjadi salah satu penghasil Pala tersubur yang pernah ada di muka bumi. Tak heran jika para pedagang Arab sudah lama menjajaki wilayah Indonesia untuk berdagang rempah populer ini. 

Bahkan, penjajahan yang terjadi di Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropa seperti Portugis, Spanyol, maupun Belanda juga disebabkan oleh hasrat monopoli perdagangan rempah-rempah seperti Pala.


Baca: Cerita Kapuk Jawa yang Berjaya Kuasai Pasar Kasur Dunia


Salah satu penghasil Pala di Nusantara adalah Maluku dan Maluku Utara. Tanaman tropis ini tumbuh subur. Untuk mendapatkan kualitas biji dan daging buah terbaik dari Pala, proses yang dilalui tidak sebentar.

Panen pertama biasanya dilakukan dalam kurun waktu tanam tujuh sampai dengan sembilan tahun. Setelah berjalan normal, produksi maksimum tanaman ini diperoleh setelah berumur 25 tahun. 

Pala juga merupakan tanaman yang kuat dan berumur sangat panjang hingga ratusan tahun dengan ketinggian mencapai 20 meter. Setelah dipanen, dagingnya dapat langsung dikonsumsi, sedangkan bijinya harus dijemur dan dipisahkan dari fuli atau kulit pembungkusnya. 

Pengeringan ini juga akan memakan waktu hingga delapan minggu. Setelah itu bagian dalam biji akan menyusut. Cangkang biji tersebut nantinya akan pecah dan bagian dalam inilah yang akan dijual sebagai Pala.

Pala dipercaya mempunyai banyak manfaat. Para ahli menemukan bahwa Pala mengandung senyawa-senyawa kimia yang bermanfaat bagi kesehatan. Di antaranya dapat mengobati susah tidur, masuk angin, rematik, melancarkan pencernaan, peningkatan selera makan, meringankan nyeri haid, hingga mengatasi rasa mual di tubuh.

Kini pengolahan Pala tidak hanya untuk membuat bubuk dan daging manisan saja. Beberapa produk lain pun sudah banyak dihasilkan seperti sirup Pala, kripik Pala, bahkan minyak gosok yang berbahan dasar Pala.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Kerusuhan Mei 1998, Lembaran Hitam Sejarah Indonesia

Koropak.co.id, 13 May 2022 15:24:11

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Kerusuhan Mei 1998 merupakan kerusuhan rasial terhadap etnis Tionghoa, sekaligus menjadi peristiwa kelam yang pernah terjadi di Indonesia pada 13 hingga 15 Mei 1998. Peristiwa itu terjadi di daerah Ibu Kota Jakarta serta di beberapa daerah lain di Indonesia. 

Kerusuhan diawali dengan adanya krisis finansial Asia serta dipicu juga oleh tragedi Trisakti, di mana empat orang mahasiswa Universitas Trisakti ditembak dan terbunuh dalam aksi demonstrasi 12 Mei 1998. Banyak toko dan perusahaan dihancurkan oleh amuk massa, terutama milik warga Indonesia keturunan Tionghoa. Konsentrasi kerusuhan terbesar terjadi di Jakarta, Medan dan Surakarta.

Sebagian masyarakat mengasosiasikan peristiwa ini dengan peristiwa Kristallnacht yang terjadi di Jerman pada 9 November 1938. Itu menjadi titik awal penganiayaan orang-orang Yahudi dan  berpuncak pada pembunuhan massal secara sistematis di hampir seluruh benua Eropa oleh pemerintahan Jerman Nazi.

Sebab dan alasan kerusuhan ini masih banyak diliputi ketidakjelasan dan kontroversi sampai hari ini. Meski begitu, pada umumnya masyarakat Indonesia secara keseluruhan setuju bahwa peristiwa ini merupakan sebuah lembaran hitam dari sejarah Indonesia.

Beberapa pihak, terutama dari pihak Tionghoa, berpendapat, peristiwa itu merupakan tindakan pembasmian (genosida) terhadap orang Tionghoa. Kendati demikian, peristiwa ini juga masih menjadi kontroversi, apakah merupakan sebuah peristiwa yang disusun secara sistematis oleh pemerintah atau perkembangan provokasi di kalangan tertentu hingga menyebar ke masyarakat.



Baca: 12 Mei 1998, Tragedi Kelam Trisakti Demi Indonesia Terang


Tidak lama setelah kejadian ini berakhir, dibentuklah Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk menyelidiki masalah tersebut. TGPF pun kala itu mengeluarkan sebuah laporan yang dikenal dengan "Laporan TGPF".

Mengenai pelaku provokasi, pembakaran, penganiayaan, dan pelecehan seksual, TGPF menemukan fakta bahwa terdapat sejumlah oknum yang berdasar penampilannya diduga berlatar belakang militer. 

Selain itu, sebagian pihak berspekulasi bahwa Pangab saat itu (Wiranto) dan Pangdam Jaya Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin melakukan pembiaran atau bahkan aktif terlibat dalam provokasi kerusuhan ini.

Pada 2004, Komnas Hak Asasi Manusia (HAM) mempertanyakan kasus ini kepada Kejaksaan Agung namun sampai 1 Maret 2004 masih belum menerima tanggapan dari Kejaksaan Agung.

Pada Mei 2010, Ketua Subkomisi Partisipasi Masyarakat di Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), Andy Yentriyani meminta agar dilakukan amendemen terhadap Kitab Undang-undang Hukum Pidana. 

Menurutnya, Kitab UU Hukum Pidana tersebut hanya mengatur tindakan perkosaan berupa penetrasi alat kelamin laki-laki ke alat kelamin perempuan. Namun pada kasus kerusuhan Mei 1998, bentuk kekerasan seksual yang terjadi justru sangat beragam. 

Sebanyak 85 korban saat itu (data Tim Pencari Fakta Tragedi Mei 1998) mengalami pemerkosaan anal, oral, dan disiksa alat kelaminnya menggunakan benda tajam. Bentuk-bentuk kekerasan tersebut pun diketahui belum diatur dalam pasal perkosaan Kitab UU Hukum Pidana.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


12 Mei 1998, Tragedi Kelam Trisakti Demi Indonesia Terang

Koropak.co.id, 12 May 2022 07:19:51

Eris Kuswara

 

Koropak.co.id - Tanggal 12 Mei 1998 menjadi peristiwa bersejarah bagi Indonesia. Aksi para mahasiswa yang menginginkan masa depan Indonesia menjadi terang, malah berbuah tragedi kelam. Mereka yang menuntut Presiden Soeharto turun dari jabatannya malah dihujani tembakan. Empat mahasiswa meninggal dunia, puluhan lainnya mengalami luka-luka.

Peristiwa penembakan empat mahasiswa Universitas Trisakti itu digambarkan secara detail dan akurat oleh seorang penulis sastra dan jurnalis, Anggie Dwi Widowati dalam karyanya "Langit Merah Jakarta".

Tragedi itu dilatarbelakangi oleh beberapa faktor, seperti krisis politik, ekonomi, hukum, dan krisis kepercayaan. Pada awal 1998, ekonomi Indonesia mulai goyah dan terpengaruh oleh krisis finansial Asia yang terjadi sepanjang 1997 s.d. 1999. 

Presiden Soeharto dinilai otoriter dan tidak menerima kritikan. Tak hanya itu, kekuasaan kehakiman juga berada dibawah kontrol dan campur tangan Presiden Soeharto. Masyarakat hilang kepercayaan.



Baca: Muasal Kemunculan Garong di Indonesia


Tragedi itu bermula ketika mahasiswa melakukan demonstrasi. Mereka melakukan aksi damai dari kampus Trisakti menuju Gedung Nusantara. Namun, aksi tersebut dihambat oleh blokade polisi dan militer. Beberapa mahasiswa mencoba bernegosiasi dengan aparat.

Pada pukul 17.15 WIB, para mahasiswa bergerak mundur yang diikuti dengan majunya aparat keamanan dan mulai menembakkan peluru ke arah mahasiswa. Barisan mahasiswa terpecah, panik, sebagian besar lari berlindung di Universitas Trisakti. 

Aparat terus melakukan penembakan hingga membuat korban berjatuhan. Pada pukul 20.00 WIB, dipastikan ada empat mahasiswa yang tewas. Aparat membantah telah menggunakan peluru tajam, namun hasil autopsi menunjukkan kematian mereka disebabkan peluru tajam.

Kondisi bangsa semakin tidak terkendali. Presiden Soeharto akhirnya mundur dari jabatannya pada 21 Mei 1998. Di saat yang sama, Soeharto menunjuk B.J. Habibie untuk menggantikan posisinya.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Empal Gentong, dari Timur Tengah Menjadi Ciri Khas Cirebon

Koropak.co.id, 10 May 2022 12:01:25

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Cirebon memang identik dengan julukannya sebagai kota udang. Namun, bukan berarti hanya punya itu. Masih ada makanan khas Cirebon yang bukan berbahan dasar udang, yakni Empal Gentong. 

Berbahan dasar daging sapi, Empal Gentong layaknya gulai, dengan kuah bersantan berwarna kekuningan. Di baliknya menyimpan sejarah panjang. Empal Gentong semula merupakan makanan Timur Tengah yang dibawa ke Cirebon oleh para pendatang dari Arab dan sultan-sultan terdahulu.

Lantas, mengapa dinamakan Empal Gentong?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata Empal sendiri berarti daging sapi yang dipotong pipih, kemudian direbus dan dibumbui lalu digoreng. Namun, empal yang dimaksud dalam Empal Gentong ini adalah bagian dari sapi yakni berupa usus, babat dan daging dengan sedikit lemak yang dipotong-potong. 

Tidak ada ukuran tertentu dalam memotong daging-daging tersebut. Biasanya daging tersebut dipotong dengan ukuran agak besar. Dinamakan Empal Gentong, karena selama proses memasaknya menggunakan gentong, wadah berukuran besar yang terbuat dari tanah liat.

Dulu memang belum ada perkakas yang terbuat dari logam untuk keperluan memasak, seperti panci, wajan dan sejenisnya. Tak heran, gentong digunakan sebagai wadah untuk merebus seluruh bahan.



Baca: Nasi Jaha, Kuliner Minahasa dengan Aroma Rempahnya yang Kuat


Ciri khas lain dari proses pembuatan Empal Gentong yakni bahan bakar yang digunakan adalah kayu bakar. Kayu yang biasanya digunakan adalah kayu pohon mangga dan kayu asam. Itu dimaksudkan untuk mempertahankan cita rasa. Beberapa rumah makan tercatat ada yang memertahankan cara seperti itu. Namun, ada juga yang sudah beralih menggunakan panci atau dandang dan kompor gas.

Berdasarkan sejarahnya, daging yang digunakan untuk membuat Empal Gentong biasanya daging kerbau. Saat Sunan Gunung Djati (Syarif Hidayatullah) menyiarkan agama Islam di wilayah Cirebon, ia sangat menjunjung tinggi nilai toleransi.

Kala itu banyak masyarakat di sekitar Cirebon yang beragama Hindu yang sangat menghormati sapi sebagai hewan yang dikeramatkan. Syahdan, dipilihlah daging kerbau agar tidak terjadi perselisihan antar umat beragama. 

Seiring berjalannya waktu, daging sapi digunakan untuk membuat Empal Gentong. Biasanya, Empal Gentong disajikan dengan nasi panas atau lontong. Rasanya yang gurih berasal dari kuah bersantan yang memberikan tekstur agak kental dan juga bumbu yang meresap.


Simak berbagai video menarik di sini:


Candi Badut dan Kisah Tentang Raja yang Adil Bijaksana

Koropak.co.id, 09 May 2022 12:18:30

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Candi Badut. Pernahkah Anda mendengar nama itu? Namanya memang tidak seterkenal Candi Prambanan di Yogyakarta atau Candi Borobudur Jawa Tengah. Namun, Candi Badut disebut-sebut sebagai candi tertua di Jawa Timur. Usianya diperkirakan lebih dari 1400 tahun.

Candi yang berada di Desa Karangbesuki, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur, ini ditemukan oleh pakar arkeologi pada tahun 1923. Candi yang disebut juga sebagai Candi Liswa pembangunannya diperkirakan dibangun jauh sebelum masa pemerintahan Airlangga (1009-1042 M). Ia merupakan penguasa terbesar di Kerajaan Kahuripan yang berpusat di Sidoarjo.

Sebagian ahli purbakala berpendapat, Candi Badut dibangun atas perintah Raja Gajayana dari Kerajaan Kanjuruhan. Dalam Prasasti Dinoyo (tahun 682 Caka atau 760 Masehi), yang ditemukan di Desa Merjosari, Malang, dijelaskan bahwa pusat Kerajaan Kanjuruhan adalah di daerah Dinoyo.

Saat ini, seperti dijelaskan dalam laman perpusnas, prasasti Dinoyo tersimpan di Museum Nasional Jakarta. Tulisan yang ada dalam prasastinya menceritakan tentang masa pemerintahan Raja Dewasimba dan putranya, Sang Liswa, yang merupakan masa keemasan Kerajaan Kanjuruhan. 



Baca: Nilai dalam Rumah Gapura Candi Bentar


Diketahui, kedua raja tersebut sangat adil dan bijaksana serta dicintai rakyatnya. Konon, Sang Liswa yang bergelar Raja Gajayana, sangat senang melucu (bahasa Jawa, mbadhut), sehingga candi yang dibangun atas perintahnya itu pun dinamakan Candi Badut. 

Versi lainnya menyebutkan, kata Badut diduga berasal dari bahasa Sansekerta, yakni Bha-dyut yang berarti bintang canopus yang merupakan bintang paling terang kedua. Diharapkan, Candi Badut menjadi penerang di tengah gelap.

Selain usianya yang diduga jauh lebih tua, terdapat ciri khas lain yang membedakan Candi Badut dengan candi lain yang ada di Jawa Timur, yaitu pahatan kalamakara yang menghiasi ambang pintunya. 

Umumnya, relief kepala raksasa yang terdapat di candi-candi Jawa Timur dibuat lengkap dengan rahang bawah, namun untuk kalamakara yang terdapat di Candi Badut justru dibuat tanpa rahang bawah, sehingga membuatnya mirip dengan yang didapati pada candi-candi di daerah Jawa tengah. 

Candi ini pernah dipugar di tahun 1925 hingga 1926-an, namun banyak bagian yang sudah hilang atau belum dapat dikembalikan ke bentuk asalnya. Candi ini dilengkapi hiasan relief burung berkepala manusia dan sulur-suluran yang mengelilingi peniup seruling.


Simak berbagai video menarik di sini:


Ada Sesuatu Dibalik Mudik, Mulai Sindiran Hingga Pembuktian

Koropak.co.id, 30 April 2022 19:18:19

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Tradisi pulang ke kampung halaman atau yang dikenal masyarakat dengan sebutan mudik, bagi sebagian masyarakat Indonesia seperti yang dari suku Jawa, bukan hanya sekedar kembali ke tempat orangtua.

Bahkan lebih dari sekadar pulang bertemu sanak saudara. Bagi masyarakat Jawa, mudik disebut sebagai "mulih" yang memiliki sindiran kepada mereka yang merantau untuk ingat akan asal-usulnya.

"Mulih itu sering dihubungkan dengan minggat, dan istilah 'ora gelem mulih' itu enggak enak banget," kata Guru Besar Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) Heddy Shri Ahimsa-Putra, sebagaimana dihimpun Koropak dari berbagai sumber, Sabtu 30 April 2022.

Heddy menambahkan, jadi seolah-olah sang perantau itu sudah sangat salah, dia menjadi orang yang sombong dan tidak peduli. "Enggak ngerewes dan enggak peduli lagi. Oleh karena itulah, mulih menjadi sesuatu hal yang sangat penting bagi perantau asal Jawa," tambahnya.

Selain dibandingkan memiliki makna yang lebih menohok, Heddy menyebutkan bahwa masyarakat Jawa lebih sering menggunakan kata "mulih" dibanding "mudik" dikarenakan faktor geografi. Selain itu, Heddy juga mengatakan kata "mudik" itu berasal dari bahasa Melayu yaitu "udik" yang berarti hulu sungai.

Orang Melayu juga menyebutkan bahwa orang yang biasa tinggal di daerah hulu sungai atau tepi sungai dengan sebutan "orang udik". Sehingga, kata "mudik" pun disebut juga sebagai "kembali ke hulu".

Sementara di Tanah Jawa, kondisinya itu amat sangat berbeda. Di pulau dengan populasi manusia terpadat di dunia ini, kondisi sungainya tidak seperti di pulau Sumatera atau Kalimantan yang dulunya merupakan lokasi utama sebaran orang Melayu.



Baca : Mengulik Muasal Mudik


"Karena di Jawa itu enggak banyak sungai, jadi orang Jawa pun lebih familiar dengan perjalanan darat. Jadi istilah mudiknya juga dipakai untuk merujuk ke situ. Namun, mudik ini mengalami perluasan makna hingga pada akhirnya juga dipakai oleh orang-orang yang tidak tinggal di hulu sungai saja. Karena bahasa melayu jadi bahasa Indonesia, jadi dipakai semua orang," ucapnya.

Perluasan penggunaan itu jugalah yang membuat kata "mudik" memiliki perluasan makna hingga bisa dianggap sebagai kegiatan menjalin kembali silaturahmi dengan sanak saudara di tempat asal atau kampung halaman.

"Orang yang tinggal di kota, kemudian pulang ke asalnya ya dia bilangnya mudik. Walaupun dia pulangnya tidak lagi ke hulu sungai, tapi dia tetap bilangnya mudik, karena dia mudik kembali ke tempat asalnya. Mudik yang awalnya berarti kembali ke tempat asal, sekarang juga bisa bermakna kembali ke orang tua dan ke sesuatu yang sudah lama ditinggalkan. Sehingga, mulai dari situ muncul silaturahmi," ujarnya.

Namun kini, mudik tidak hanya sekedar untuk menjalin silaturahmi atau melepas rindu. Pulang ke kampung halaman itu juga berarti menunjukkan hasil kerja keras dari para perantau di tanah seberang.

Dorongan untuk bisa menjadi kebanggaan atau penghargaan bagi orang tua itu jugalah yang membuat tradisi mudik pun selalu menjadi hal yang menghebohkan setiap tahunnya, tak terkecuali saat pandemi dua tahun terakhir.

"Mereka enggak akan banyak berpikir lagi, pokoknya mudik saja. Karena kalau tidak terpenuhi, maka akan serasa ada yang hilang." pungkasnya.*


Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini



Menguak Sejarah Panjang Gunung Anak Krakatau

Koropak.co.id, 30 April 2022 15:21:08

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Sudah beberapa pekan ini, Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda mengalami erupsi. Bahkan pada Minggu lalu, ketinggian erupsinya hingga mencapai 3.000 meter.

Imbasnya, ketinggian erupsi tersebut membuat Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menaikkan status dari level II (waspada) ke level III (siaga) pada Minggu itu. 

Dengan adanya kenaikan status itu, Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati pun meminta masyarakat sekitar untuk mewaspadai potensi gelombang tinggi atau tsunami.

"Masyarakat juga diminta untuk menyesuaikan peningkatan status ini dengan tidak beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah aktif gunung yang memiliki ketinggian 813 meter itu," katanya.

Sejarah Gunung Anak Krakatau

Dilansir dari laman InfoPublik, Volkanolog ITB, Mirzam Abdurrachman menyebutkan bahwa Anak Krakatau merupakan sisa sejarah panjang dari letusan Krakatau Purba yang disebutkan para ahli geologi sebagai Gunung Batuwara. 

Letusan Gunung Batuwara yang terjadi pada abad ke-5 Masehi itu terbilang sangat dahsyat hingga mengakibatkan tsunami besar. Kala itu, sebagian tanah ambles, membentuk Selat Sunda, serta membelah sebagian Pulau Jawa dan melahirkan Pulau Sumatera.

Selain itu, jejak Krakatau Purba ini juga turut disebutkan dalam teks Jawa Kuno berjudul "Pustaka Raja Parwa" yang diperkirakan berasal dari tahun 416 Masehi. Dalam buku itu disebutkan bahwa, tinggi Krakatau Purba mencapai 2.000 meter di atas permukaan laut, dan memiliki lingkaran pantainya yang mencapai 11 kilometer.

Tak hanya itu saja, dahsyatnya letusan Krakatau Purba juga turut digambarkan dalam buku itu. "Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada pula goncangan bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat."

"Kemudian datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan serta seluruh badai itu menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir besar juga datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula. Ketika air menenggelamkannya, Pulau Jawa pun terpisah menjadi dua dan menciptakan Pulau Sumatera."

Sementara itu, ledakan Krakatau Purba juga diperkirakan berlangsung selama 10 hari dengan kecepatan muntahan massa mencapai 1 juta ton per detik. Ledakan itu juga turut membentuk perisai atmosfer setebal 20-150 meter, menurunkan temperatur sebesar 5-10 derajat selama 10-20 tahun.

Dalam Buku Krakatau: Laboratorium Alam di Selat Sunda (2007) terbitan Pusat Survei Sumber Daya Alam Laut Universitas Indonesia menyebutkan, letusan ini mengakibatkan Gunung Krakatau Purba hancur dengan menyisakan kaldera (kawah besar) di bawah laut. 



Baca : Lindungi Bumi dari Krisis Iklim Global, Begini Sejarah Earth Day


Kawah besar inilah yang kemudian membentuk tiga pulau, yakni Pulau Rakata, Pulau Panjang (Pulau Rakata Kecil), dan Pulau Sertung. Selain itu juga, dorongan vulkanik hebat dari dalam perut bumi itu menyebabkan sebuah gunung anakan yang terbuat dari batuan basaltic di Pulau Rakata. 

Dalam proses ini, lahirlah dua gunung lain dari kawah di area yang sama, yakni Gunung Danan dan Gunung Perbuwatan. Dua gunung yang tumbuh bersamaan itu juga lambat laun menyatu menjadi Gunung Krakatau.

Terbentuk dan tertidur selama ratusan tahun lalu, pada 26-27 Agustus 1883, Gunung Krakatau pun meletus dahsyat. Setidaknya ada empat kali ledakan besar kala itu. Letusan itu juga menyebabkan empat kali gelombang tsunami di Selat Sunda dan menghancurkan sekitar 60 persen dari tubuh Gunung Krakatau.

Suara letusannya terdengar sampai 4.600 kilometer dari pusat letusan ahkan dapat didengar oleh 1/8 penduduk bumi saat itu. Letusannya kala itu disebut sebagai bencana alam yang mempunyai kedahsyatan yang sama dengan kisah masyarakat Pompeii dan Heculaneum yang terkubur oleh letusan Gunung Vesuvius.

Lebih dari 36 ribu orang tewas akibat erupsi Gunung Krakatau ini. Namun referensi lain bahkan mengklaim jumlah korban jiwa jauh lebih besar, yakni hingga mencapai 120 ribu orang.

Letusan Gunung Krakatau itu juga turut membuat sebagian besar gunung berapi bersama Pulau Rakata runtuh ke dalam laut. Pada saat itu, Krakatau mengeluarkan jutaan ton batu, debu, dan magma. Material tersebut pun menutupi wilayah seluas 827.000 km2.

Sekitar 40 tahun setelah meletusnya Gunung Krakatau yang terjadi pada Agustus 1883 itu,Gunung Anak Krakatau pun muncul. Gunung tersebut pun muncul dari area kawah besar yang masih aktif.

Menurut catatan PVMBG, sejak awal munculnya hingga tahun 2000 atau dalam jangka waktu 73 tahun, Gunung Anak Krakatau meletus sebanyak lebih dari 11 kali, akan tetapi belum sampai pada taraf yang mengkhawatirkan.

Namun pada tahun 2018, aktivitas Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan, hingga terjadilah tsunami di Selat Sunda pada 22 Desember 2018. Letusan itu juga menelan korban ratusan jiwa. 

Gelombang air bah menerpa karena dipicu oleh runtuhan sebagian tubuh gunung yang longsor di dalam laut. Kini, empat tahun setelah letusan tersebut, Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan tanda-tanda berulah lagi.*


Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini


Mengulik Muasal Mudik

Koropak.co.id, 30 April 2022 07:41:10

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Lebaran dan mudik. Dua kata yang akan selalu bersama, seperti dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. 

Mudik bukan hanya pulang kampung, datang menemui orang tua di tanah kelahiran atau sekedar berdoa di makam orang terkasih. Mudik punya perjalanan panjang dalam peradaban. 

Maknanya yang luhur itu dirasakan jutaan masyarakat Indonesia. Mereka berbondong-bondong mudik menghadapi macet panjang dan penatnya perjalanan berjam-jam. 

Tradisi tahunan mudik sempat terhenti saat pandemi Covid-19. Dua tahun terakhir masyarakat indonesia merana. Saat lebaran tiba, tak ada aktivitas hilir mudik transportasi bus, kereta, dan pesawat canggih.

Bagaimana muasal mudik di Indonesia hingga menjadi budaya saat Idul Fitri tiba? 

Guru Besar Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM), Heddy Shri Ahimsa-Putra mengatakan bahwa mudik itu sejatinya sudah ada ketika peradaban manusia di bumi Nusantara masih menempati tepian sungai.

"Kata mudik itu berasal dari bahasa Melayu yaitu udik, yang berarti hulu sungai. Orang Melayu menyebut orang yang biasa tinggal di daerah hulu sungai atau tepi sungai itu dengan sebutan orang udik. Sehingga, mudik pun bisa disebut juga sebagai kembali ke hulu," kata Heddy.

Meskipun begitu, Heddy menyebutkan bahwa "meng-udik" atau yang kemudian lebih akrab disebut sebagai "mudik" tidak harus berkaitan dengan bepergian dalam waktu yang lama.

"Misalnya, pagi saya berangkat dari hulu sungai, terus kemudian siangnya sudah sampai di pantai. Lalu, ketika sore harinya, saya mau kembali ke hulu sungai. Ya itu saya bilangnya mau mudik," kata Heddy sebagaimana dihimpun Koropak dari CNN Indonesia beberapa waktu lalu.

Seiring dengan perkembangan zaman, Mudik itu pun kemudian digunakan secara luas oleh orang-orang di luar suku Melayu dan di tempat lainnya.



Baca : Begini Sejarah Mudik Pertama di Indonesia


Mereka diketahui menggunakan kata mudik untuk merujuk pada kegiatan pulang ke tempat asalnya alias kampung halaman. Hal ini tentunya tak bisa dilepaskan dari fenomena merantau, serta urbanisasi.

Perluasan penggunaan itu jugalah yang membuat kata mudik memiliki perluasan makna, bahkan bisa dianggap juga  sebagai kegiatan untuk menjalin kembali silaturahmi dengan sanak saudara di tempat asal atau kampung halaman.

"Orang yang tinggal di kota, kemudian mereka pulang ke asalnya, ya dia bilangnya mudik. Walau dia pulangnya tidak lagi ke hulu sungai, dia masih tetap bilangnya mudik dikarenakan dia mudik kembali ke tempat asal," ucapnya.

Heddy menambahkan bahwa mudik yang pada awalnya berarti kembali ke tempat asal, seiring berjalannya waktu, kini mudik itu juga bermakna kembali ke orang tua dan ke sesuatu yang sudah lama ditinggalkan. Sehingga, mulai dari sanalah muncul silaturahmi.

Namun fenomena mudik itu juga sejatinya bukan hanya ada di Indonesia saja. Di luar negeri, ada fenomena yang serupa dengan mudik, salah satunya adalah "homecoming" di Amerika Serikat yang dilakukan saat Thanksgiving.

Thanksgiving yang sebenarnya merayakan rasa syukur atas pencapaian panen di musim sebelumnya itu juga sekaligus menjadi ajang berkumpulnya anggota keluarga yang telah lama tak bersua.

Perayaan yang biasanya terjadi pada November di Amerika Serikat itu juga turut dihiasi dengan acara makan malam dan berbagai hidangan, seperti layaknya momen Idul fitri di Indonesia.

Heddy menyebutkan, tradisi serupa pun terjadi di Afrika, Amerika Latin, dan juga negara-negara Asia Tenggara lainnya. Karena pada intinya, orang itu selalu ingin bertemu kembali, atau menengok kembali orangtuanya.

"Ketika anak sudah dewasa, mereka pun akan pergi dari rumah orang tuanya. Itu bisa diartikan seperti mereka merantau, pindah negara, sehingga itu membuatnya lama berpisah. Biasanya, mereka harus mempererat hubungan ini lagi, oleh karena itulah mereka pun kemudian mudik," sebutnya.*


Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini


Sejarah Hari Tari Internasional dan Kelahiran Jean George's Noverre

Koropak.co.id, 29 April 2022 15:10:31

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Hari ini, Tanggal 29 April diperingati sebagai Hari Tari Internasional atau International Dance Day. Diketahui, sejarah Hari Tari Internasional ini dicetuskan oleh Komite Tari Institut Teater Internasional (ITI) pada tahun 1982.

Dilansir dari berbagai sumber, komite tersebut merupakan rekan utama UNESCO dalam menyelenggarakan pertunjukan seni yang biasa digelar oleh organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Peringatan Hari Tari Internasional yang dirayakan sejak tahun 1982 oleh dunia internasional itu bertujuan untuk mempromosikan keanekaragaman talenta para penari di seluruh dunia.

Selain itu, alasan dipilihnya tanggal 29 April sebagai Hari Tari Internasional dikarenakan bertepatan dengan hari kelahiran pencipta tari balet modern, Jean George's Noverre.

Sejarah Hari Tari Internasional

Hari Tari pertama kalinya dicanangkan pada tahun 1982 oleh lembaga tari internasional CID-Counseil Internasional de la Danse. Pada awalnya, tujuan dicanangkannya hari tari adalah untuk mengajak seluruh masyarakat dunia untuk berpartisipasi dengan menampilkan tarian-tarian negara mereka yang jumlahnya beragam.

Pada tahun 2003, Presiden CID, Professor Alkis Raftis mengatakan bahwa, pelestarian budaya menari masih sangat minim. Bahkan saat itu, tidak ada lembaga atau organisasi yang mendanai bidang seni tersebut secara memadai dan juga tidak ada pendidikan seni tari. Akibatnya, ketertarikan warga untuk menekuni bidang tari pun dinilai masih sangat rendah.



Baca : Hari Desain Grafik Dunia dan Henry Cole


CID dan UNESCO pun akhirnya menjadi wadah bagi para masyarakat dunia untuk mementaskan pertunjukan tari dari budaya mereka. Sehingga dengan demikian diharapkan semua generasi muda dapat terus melestarikan budaya melalui seni tari.

Kemudian pada awal tahun 2007, promosi untuk merayakan Hari Tari Internasional pun semakin gencar dilakukan. Dengan berfokus pada anak-anak, lembaga tari internasional CID kala itu meminta seluruh anak sekolah untuk berpartisipasi dalam lomba menulis esai tentang tarian di negara mereka.

Selanjutnya juga melukis dengan bertemakan tari, bahkan lomba menari yang dilakukan di jalanan. Sejak saat itulah, Hari Tari Internasional semakin diapresiasi warga. Sehingga banyak pertunjukan tari yang diadakan untuk memeringati hari tersebut.

Di beberapa negara, Hari Tari Internasional ini diperingati sebagai hari libur nasional. Peringatan tersebut dilakukan guna menyadarkan masyarakat tentang nilai tarian dan menjadi ajang Komunitas tari untuk mempromosikan karya-karya mereka.

Sementara itu, untuk tahun ini, Indonesia sendiri memperingati Hari Tari Internasional bertepatan dengan momen libur cuti bersama menjelang Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri, yakni pada 29 April 2022.*


Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini



Asal Usul Kue Nastar, Ada Sejak Zaman Penjajahan Belanda

Koropak.co.id, 28 April 2022 15:17:32

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Bagi pencinta kue kering, tentunya sudah tidak asing dengan yang namanya kue nastar. Kue berbentuk bundar dan agak pipih ini diketahui sering kali disajikan pada momen hari spesial tertentu, khususnya pada hari raya Idul Fitri. 

Camilan yang nikmat ini tentunya mengundang selera, dan jika sudah sekali mencicipi, maka dijamin kamu akan ketagihan. Biasanya, para ibu rumah tangga berusaha untuk dapat membuat kue ini sendiri, dibandingkan dengan membelinya di pasar atau tempat lain. 

Dilansir dari berbagai sumber, nama nastar berasal dari Bahasa Belanda, yakni 'ananas' atau nanas dan 'taartjes' atau tart. Namun pelafalannya pun dipermudah menjadi 'nastar'. Jadi, bisa diartikan bahwa nastar adalah tart dengan isian selai nanas. 

Berdasarkan sejarahnya, Nastar sendiri sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Sementara itu, dalam Bahasa Inggris, nastar ini sering disebut juga dengan Pineapple Tarts atau Pineapple Nastar Roll. 

Untuk resep nastar sendiri diketahui terinspirasi dari kue pie yang dibuat dalam loyang-loyang besar berisi blueberry, strawberry, maupun apel. Kemudian untuk adonan nastar sendiri sama seperti adonan pie, yakni tepung terigu, telur, mentega, dan bahan lainnya. 



Baca : Kisah Kue Kering yang Ditemukan Tak Sengaja


Konon, pada saat masa penjajahan, buah-buah isian pie tersebut sangat sulit untuk didapatkan. Sehingga, masyarakat Indonesia pun menggantinya dengan buah nanas yang mudah didapat di Indonesia yang merupakan negara tropis.

Seiring dengan perkembangan zaman, nastar itu pun kemudian memilki berbagai variasi isian, seperti selai strawberry, blueberry, durian, dan lainnya. Menariknya lagi, kue kering satu ini juga ternyata bukan hanya muncul saat momen lebaran saja. Karena, pada saat Natal dan Imlek pun nastar kerap dijadikan sebagai jamuan untuk tamu.

Dilansir dari laman detikFood, pakar pastry terkenal Indonesia, Yongki Gunawan menyebutkan bahwa nastar masuk dalam kategori cake, dikarenakan teksturnya yang lembut dan lembab serta bukan garing atau renyah layaknya kue kering pada umumnya. 

"Masyarakat Indonesia selama ini salah kaprah jika menyebut nastar sebagai kue kering, padahal aslinya nastar itu berarti kue nanas," kata Yongki.

Selain memiliki cita rasa yang unik di lidah, nastar juga ternyata memiliki filosofi tersendiri. Etnis Tionghoa bahkan menyebut nastar sebagai ong lai yang berarti pir emas yang dipercaya sebagai simbol dari kemakmuran, rezeki dan keberuntungan.*


Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini