Hubungan Tradisi Sanggring dan Sunan Dalem

Koropak.co.id, 22 January 2022 12:57:19
Penulis : Eris Kuswara
Hubungan Tradisi Sanggring dan Sunan Dalem

 

Koropak.co.id - Sanggring atau Kolak Ayam merupakan tradisi masyarakat Desa Gumeno, Gresik, Jawa Timur yang dilaksanakan setiap tahunnya pada malam hari di tanggal 23 Ramadan.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat setempat akan menyediakan masakan yang kemudian disebut Sanggring atau Kolak Ayam dengan jumlah yang mencapai ribuan piring untuk dimakan bersama-sama.

Contohnya seperti yang dilaksanakan pada tahun 2014, tercatat jumlah porsi kolak ayam yang disajikan untuk berbuka bersama d Masjid Jami Sunan Dalem mencapai 2.200 porsi.

Dilansir dari kebudayaan.kemdikbud.go.id, kolak ayam sendiri merupakan makanan takjil atau makanan pembuka untuk berbuka puasa yang sifatnya hanya sementara.

Berdasarkan sejarahnya, tradisi ini berasal dari suatu riwayat. Diceritakan pada saat pelariannya di Desa Gumeno, Sunan Dalem jatuh sakit dan ternyata beliau dapat disembuhkan dengan membuat makanan Sanggring.

Saat itu, beliau pun memerintahkan kepada penduduk setempat untuk mengusahakan obat agar sakitnya bisa sembuh. Sebagian penduduk kala itu mencarikan obat ke sana ke mari, namun mereka tidak dapat menemukan obat atau orang yang bisa menyembuhkan Sunan Dalem.

Menurut Babad Gresik, Sunan Dalem sendiri merupakan putra dari Sunan Giri yang memerintah di Giri Kedathon. Tercatat, Sunan Giri meninggal dunia pada tahun 1506 Masehi, kemudian kekuasaan Giri Kedathon pun digantikan oleh putranya yaitu Sunan Dalem.

Di tengah kebingungan penduduk, Sunan Dalem mendapatkan petunjuk dari Allah SWT melalui mimpinya agar membuat suatu masakan untuk obat.

Sehingga pada keesokan harinya, Sunan Dalem memerintahkan semua penduduk agar membawa seekor ayam jago berumur sekitar satu tahun atau jago lancur ke Masjid. Dengan segera semua penduduk membawa seekor ayam jago untuk dimasak dengan santan kelapa, jinten, gula merah dan daun bawang.

Setelah masakan selesai, selanjutnya Sunan Dalem memerintahkan kepada penduduk Gumeno agar membawa ketan yang sudah dimasak. Diketahui saat itu bertepatan juga dengan Bulan Ramadan, sehingga ketika tiba waktunya Maghrib (waktu berbuka puasa), Sunan Dalem dan semua penduduk berbuka bersama di Masjid.

Pada akhirnya Sunan Dalem mendapat Hidayah, Mau’unah serta ‘Inayah dari Allah dan beliau pun sembuh dari sakit yang dideritanya setelah menyantap masakan tersebut.

Masakan tersebut jugalah yang pada akhirnya dikenal dengan nama Kolak Ayam atau Sanggring. Nama Sanggring sendiri berasal dari kata Sang yang artinya Raja atau Penggedhe dan Gring yang artinya gering atau sakit. Jadi Sanggring artinya raja yang sakit.

 


Baca : Ngayau yang Menyeramkan, Tradisi Berburu Kepala di Masa Lalu

Karena kepatuhan kepada sang Raja, maka warga Desa Gumeno selalu melanjutkan tradisi tersebut setiap tahunnya. Sementara itu, disebut juga Kolak Ayam dikarenakan bahan utamanya memang berupa daging ayam yang dimasak menggunakan santan, sehingga menyerupai kolak.

Selain itu, untuk prosesi memasak Kolak Ayam yang pertama itu bertepatan dengan 22 Ramadan 946 Hijriah atau tepatnya pada 31 Januari 1540 Masehi. Sunan Dalem saat itu kemudian berwasiat kepada semua penduduk agar setiap tahunnya pada malam ke 23 bulan Ramadhan diadakan Sanggring atau Kolak Ayam.

Dalam membuat masakan Sanggring sendiri dibutuhkan bahan-bahan yang semuanya berkhasiat bagi kesehatan tubuh, mulai dari daun bawang, jinten, kelapa, gula merah dan ayam kampung.

Dalam praktiknya, tradisi ini tidak hanya diikuti oleh warga desa Gumeno atau Gresik saja, melainkan juga kedatangan tamu dari berbagai daerah lain. Sebab, ada yang mengaku juga diberi petunjuk oleh kyai dimana mereka tinggal untuk mencoba kolak ayam yang dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

 

 

Di dalam tradisi sanggring sendiri juga tidak pernah ada perubahan–perubahan dalam pelaksanaannya. Masyarakat Desa Gumeno masih tetap melestarikan tradisi ini dari asal mula terjadinya sampai saat ini dengan selalu diusahakan sama dari proses memasaknya, bahan-bahannya, hingga tempat dilaksanakannya.

Untuk cara memasaknya pun tetap menggunakan tungku dan kayu bakar. Meskipun demikian, ada beberapa hal yang sedikit demi sedikit berubah yaitu, alat memasak yang digunakan berupa kuali dan alat memasak yang lainnya sudah tidak asli lagi dari masa Sunan Dalem.

Hal itu dikarenakan alat-alat memasak tersebut dinilai sudah terlalu tua dan rapuh, bahkan sudah hancur hingga benar-benar tidak dapat digunakan lagi. Dengan begitu, kini digunakanlah kuali dari bahan aluminium dan bukan lagi tanah liat.

Selain itu juga, pada masa Sunan Dalem, digunakan ayam kampung jago. Namun sekitar tahun 90-an, tidak hanya menggunakan ayam jago, akan tetapi juga menggunakan ayam betina dikarenakan bertambahnya jumlah kolak ayam yang dibuat setiap tahunnya.

Seperti tradisi sanggring yang dilaksanakan pada tahun 2014, membutuhkan 210 ekor ayam kampung untuk membuat 2.200 porsi kolak ayam dan yang terpenting adalah menggunakan ayam kampung.

Kemudian yang juga menarik dari tradisi ini adalah pembuat kolak ayam ini semuanya adalah kaum laki-laki tanpa ada seorang pun perempuan yang ikut dalam membuat kolak ayam.

Sementara itu pada budaya masyarakat Jawa, umumnya memasak sendiri diidentikkan dengan peran yang dilakukan perempuan. Dikarenakan peran tersebut juga berkaitan dengan nilai kelaziman perempuan Jawa, yaitu perempuan sebaiknya berada di dalam rumah.

 


Baca : Misteri Bambu Gila dari Tanah Maluku

Namun sejak tahun 1987, terdapat keterlibatan perempuan akan tetapi hanya memasak ketan, memarut kelapa dan membersihkan bulu ayam dan kedua kegiatan ini tetap dilakukan di rumah masing-masing.

Parutan kelapa dan ayam yang sudah bersih dari bulunya tersebut kemudian diantarkan ke masjid setelah sholat tarawih untuk dilanjutkan oleh kaum laki-laki. Dari tradisi ini juga dapat ditemukan beberapa fenomena sebagai berikut:

1. Fenomena sosial

Pelaksanaan tradisi sanggring ini memiliki fenomena yang dapat melahirkan kerjasama di dalamnya. Seperti, adanya pembagian tugas dalam pembuatan kolak ayam hingga pemilihan orang-orang yang ahli dalam bidangnya masing-masing, seperti ahli memasak, ahli memilih bahan dan lain sebagainya.

Selain itu, dalam menjalankan sebuah tradisi, masyarakat juga akan menampakkan sebuah rutinitas yang akan dilakukan secara rutin. Rutinitas inilah yang melahirkan sebuah etika baru dan adat istiadat yang dijalankan oleh masyarakat pendukungnya. Masyarakat tersebut nantinya akan mampu mempunyai harapan yang selalu ingin diwujudkan.

2. Makna budaya

Tradisi juga tentunya menjadi sebuah jati diri dan identitas bagi pendukungnya. Hal itu dikarenakan sudah menjadi sebuah kebiasaan yang dilaksanakan setiap tahun oleh masyarakat Desa Gumeno. Kemudian kebudayaan pun ditempatkan sebagai keseluruhan ‘cara hidup’ suatu masyarakat yang diwariskan, dipelajari, dipelihara dan dikembangkan dari generasi ke generasi sesuai dengan tuntutan dari lingkungan hidup yang dihadapi.

3. Makna ekonomi

Dalam pelaksanaan tradisi sanggring, terdapat peran penting dari pedagang ayam, pedagang kelapa, pedagang gula jawa, maupun yang lainnya dalam mencukupi kebutuhan pembuatan kolak ayam. Sumber dana itu tentunya didapat dari masyarakat Gumeno yang melakukan iuran yang dijadikan dalam bentuk kupon.

4. Makna religi

Masyarakat setempat juga melaksanakan tradisi sanggring didasari atas rasa ketaatan terhadap seorang keturunan insan kamil (orang suci), yaitu Sunan Dalem yang merupakan putra dari Sunan Giri. Ketaatan inilah yang dapat dianggap sebagai ibadah yang ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pelaksanaan acara ini juga digelar pada bulan Ramadan tepatnya di tanggal 22 Ramadan atau malam ke-23 dan dipercaya sebagai masa-masa yang penuh barokah sebagai malam-malam turunnya Lailatul Qadar atau malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Disamping itu juga, tradisi ini mengandung makna simbolis terkait dengan waktu dilaksanakannya, tempat pelaksanaan, para pembuatnya, ubarampe atau bahan-bahan yang digunakan dalam kolak ayam, serta doa yang dibaca saat pelaksanaan tradisi sanggring.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 

Komentar

Upacara Rakut Sitelu, Cara Suku Karo Merawat Kekerabatan

Koropak.co.id, 28 November 2022 07:12:02

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Sumatra Utara - Kehidupan masyarakat Suku Karo, Sumatra Utara tak lepas dari upacara adatnya yang berlangsung secara turun temurun. Salah satunya adalah upacara rakut sitelu yang berperan penting bagi masyarakat suku Karo. 

Upacara yang berhubungan dengan sistem kekerabatan suku Karo ini tidak lepas dari tungku atau memasak. Diketahui, upacara rakut sitelu juga dikenal sebagai sistem kekerabatan yang terdiri dari beragam fitur di dalamnya. 

Sehingga bisa dikatakan, dalam pelaksanaannya, upacara ini tidak bisa dilakukan tanpa kehadiran dari unsur-unsur kerabat. Selanjutnya, unsur-unsur yang dilibatkan dalam upacara rakut Sitelu juga bergantung dari tujuan yang akan diadakan pada saat upacara tersebut. 

Unsur yang dilibatkan itu dinamakan kalimbubu, sembuyak atau senina. Jadi, bisa dikatakan juga bahwa posisi orang Karo pada saat upacara berlangsung itu tergantung dari tujuannya. 

Untuk kalimbubu sembuyak sendiri memiliki posisi prioritas petani, maka posisi unsur lain pun tentunya tidak akan berani untuk mendahului dalam kegiatan apapun termasuk makan. Posisi ini juga diyakini sebagai pembawa berkat, sekaligus juga sebagai pembawa ridho dari Tuhan. 

Selain itu, kelompok pemberi perempuan, atau yang disebut juga sebagai kalimbubu sembuyak ini sangat dihormati di lingkungan masyarakat suku Karo. Kemudian untuk kalimbubu bena-bena, merupakan kelompok perempuan yang sudah melewati sekurang-kurangnya tiga generasi hingga dianggap sebagai senior. 

Pada umumnya kelompok ini sudah menjadi bagian pemberi perempuan dari awal generasi. Lalu, ada juga kalimbubu simajek lulang, yakni orang-orang yang berperan sebagai pendiri kampung dan pada umumnya selalu diundang saat diadakan pesta-pesta adat di Tanah Karo. 



Baca: Sarsar Lambe, Tradisi Bertarung Adat Karo


Ada juga kalimbubu simupus atau simada dareh, yakni pihak pemberi perempuan yang berasal dari generasi Ayah atau pihak yang semarga dari ibu kandung. Jenis kalimbubu ini biasanya dikategorikan berdasarkan kekerabatan dari perkawinan. 

Sementara itu, untuk kalimbubu senina berada pada golongan kalimbubu simupus yang berperan sebagai juru bicara bagi kelompok-kelompok semarga kalimbubu simupus. Sebagai bagian dari golongan kalimbubu di suku Karo, seseorang pun memiliki hak untuk dihormati oleh anak berunya. 

Selain itu juga, ia berhak untuk memberikan perintah dan menerima bagian dari mahar dalam sebuah perkawinan dari anak berunya. Sebagai golongan dari kalimbubu juga, maka dia akan memiliki tugas serta kewajiban yang harus dilakukan. 

Biasanya untuk tugas dan kewajiban yang harus dilaksanakannya itu di antaranya, menjaga perdamaian antar anak beru terutama jika ada yang sedang berselisih, memberi saran-saran jika diminta anak berunya, dan meminjamkan serta mengenakan pakaian adat jika ada dalam acara adat. 

Diketahui, anak beru sendiri merupakan bagian dari pihak pengambil perempuan atau bisa dikatakan juga sebagai penerima perempuan untuk diperistri. Anak beru ini memiliki tugas untuk mendamaikan jika ada perselisihan di keluarga Kalimbubu. Sehingga, itulah alasannya mengapa Anak beru di sebut juga sebagai halim moral.

Anak beru ini juga dikategorikan menjadi dua golongan yakni anak beru tua dan anak beru taneh. Yang membedakan kedua golongan ini adalah jika anak beru tua merupakan pihak penerima perempuan, dalam tingkatan nenek moyang. Sedangkan anak beru taneh merupakan penerima perempuan pertama saat sebuah kampung selesai dibangun atau didirikan. 

Dalam pelaksanaan acara adatnya, anak beru memiliki tugas dan kewajiban seperti mengatur jalannya pembicaraan musyawarah, menyiapkan peralatan yang diperlukan untuk pesta, mengawasi semua harta milik kalimbubu-nya, hingga menjadi juru damai bagi pihak kalimbubu-nya.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Tari Sarama Datu, Ritual Sakral dari Etnis Mandailing

Koropak.co.id, 27 November 2022 15:11:58

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Sumatra Utara - Setiap daerah di Indonesia mempunyai jenis tarian yang berbeda-beda dengan ciri khasnya masing-masing. Salah satunya tarian yang dimiliki oleh suku atau etnis Mandailing, Sumatra Utara. 

Ya, etnis Mandailing sendiri mempunyai beberapa tarian tradisionalnya dengan ciri khasnya tersendiri dan sering dipertunjukkan dalam berbagai upacara dan kegiatan adat di masyarakat. Salah satunya adalah tari Sarama Datu.

Tari Sarama Datu merupakan tarian yang pada awal mulanya sering digunakan atau dilakukan untuk meminta sesuatu melalui kuasa roh. Dalam prakteknya, tarian ini hanya dilakukan oleh satu orang penari saja yang dinamakan Sibaso.

Untuk satu orang penarinya yang dinamakan Sibaso itu diambil dari tokoh Shaman dalam religi lama orang Mandailing yang disebut dengan Si Pelebegu.

Biasanya, tarian ini juga akan diiringi dengan lagu ensambel dengan musik sambilan Sibaso atai Gordang Sambilan yang seolah-olah seperti meminta bantuan atau pertolongan pada begu atau roh-roh halus untuk mengabulkan permohonannya. 

Jenis tarian ini sering dipakai saat terjadi banyak musibah di Mandailing, seperti hujan yang menguyur secara terus menerus, bencana kekeringan, hingga penyakit menular. Berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat, hanya Sibaso saja yang bisa berkomunikasi dengan roh halus melalui tariannya.

Di masa lalu, upacara ritual Paturun Sibaso (Marsibaso) atau disebut juga pasusur begu ini diselenggarakan saat terjadi musibah besar seperti mewabahnya penyakit kolera dan musim kemarau, atau sebaliknya musim penghujan yang berkepanjangan.

Musibah besar itu tentunya mengganggu aktivitas penduduk setempat yang hingga pada akhirnya akan menimbulkan kelaparan, dikarenakan habisnya persediaan padi atau beras sebagai makanan pokok mereka.



Baca: Mengenal 14 Tradisi yang Sudah Tidak Ditemukan Lagi di Etnis Mandailing


Sehingga, untuk mengatasi Bala Na Godang atau bencana besar itu, mereka pun meminta pertolongan begu atau roh-roh leluhur melalui perantaraan Sibaso. Sebab, menurut keyakinan mereka. konon dahulu hanya Sibaso inilah yang dapat berkomunikasi dengan begu.

Konon dahulu, upacara ritual Paturun Sibaso ini dilaksanakan di alaman bolak atau Halaman Luas dari Bagas Godang atau Istana Raja. Upacara ritual ini juga akan dihadiri oleh Raja, Namora Natoras, Si Tuan Najaji atau Penduduk Setempat dan seorang tokoh supranatural bernama Datu yang memiliki peranan sangat besar, terutama untuk memimpin pelaksanaan upacara-upacara ritual. 

Kala itu, datu tersebut dipandang sebagai "Gudang Ilmu" dikarenakan ia memiliki berbagai macam kearifan tradisional atau Traditional Wisdom yang sangat dibutuhkan untuk kesempurnaan hidup komunitas huta atau banua.

Dalam pelaksanaannya, akan disediakan makanan khusus untuk Sibaso, yaitu parlaslas yang diletakkan di atas sebuah nampan yang diantaranya berisi Garing atau Ikan Jurung yang dibakar dan Pege atau Lengkuas, serta Ngiro atau Air Nira di dalam Tanduk Ni Orbo atau Wadah yang terbuat dari tanduk kerbau. 

Setelah Gordang Sambilan dimainkan dengan Gondang atau Repertoar Musik khusus bernama Mamele Begu, Sibaso pun akan menari-nari hingga kemudian mengalami kesurupan atau Trance. Dalam keadaan kesurupan inilah, Sibaso akan meminta makan dan minum. 

Setelah diberi makan dan minum, Sibaso pun akan kembali menari-nari. Lalu, tak lama kemudian sang Datu menghampiri Sibaso untuk memberitahukan adanya suatu peristiwa Bala Na Godang atau Musibah Besar yang sedang melanda penduduk.

Sang Datu juga turut memohon kepada Sibaso agar berkenan menanyakan apa penyebab dan bagaimana solusinya kepada begu, dikarenakan penduduk sudah tidak mampu lagi untuk mengatasinya. Setelah itu, Sibaso pun akan memberitahukan apa penyebab dan bagaimana caranya mengatasi musibah besar itu kepada sang Datu. 

Setelah memberi tahu, Sibaso akan terjatuh dan tidak sadarkan diri atau pingsan hingga beberapa saat kemudian ia pun tersadar kembali seperti semula dengan keadaannya yang sama sebelum upacara ritual tersebut dimulai.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Lebih Dekat dengan Tenun Troso dari Jepara

Koropak.co.id, 26 November 2022 15:10:44

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Tengah - Kabupaten Jepara merupakan daerah yang berada di Jawa Tengah dan sangat berkembang dalam sektor kerajinan. Tak hanya terkenal dengan kerajinan kayu ukir atau mebel khas Jeparanya, di Kabupaten ini juga masih menyimpan banyak lagi kerajinan lain yang berkembang.

Mulai dari batik, keramik, monel, patung kayu, rebana hingga yang tidak kalah menariknya adalah kerajinan tenun ikat tradisional khas dari Jepara yang dikenal dengan nama tenun troso.

Mungkin banyak yang mengira bahwa tenun khas daerah itu hanya ada di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Bali, tentunya itu salah besar. Karena sebenarnya, kerajinan kain tenun juga bisa ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk salah satunya di Jepara. 

Bahkan, bisa dikatakan juga produksi tenun di Kabupaten Jepara ini tenyata tergolong tinggi. Ya, sesuai dengan namanya, tenun ini berasal dari Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. 

Desa ini jugalah yang kini menjadi sentra dari kerajinan tenun tersebut. Yang mana, profesi sebagai pengrajin tenun di desa tersebut tentunya menjadi mata pencaharian utama untuk masyarakat Desa Troso.

Sementara itu, jika mengacu pada hasil penelitian yang dilakukan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, diketahui awal mula kemunculan tenun di desa itu sendiri berasal dari tokoh yang dihormati di desa tersebut, yaitu Ki Senu dan Nyi Senu.

Diceritakan saat itu Nyi Senu memiliki keterampilan dalam membuat kain tenun. Disana, mereka pun kerap menggunakan kain buatannya sendiri dalam acara besar. Tak disangka, kain yang dikenakan itu pun membuat warga Desa Troso tertarik hingga pada akhirnya Nyi Senu mengajarkan mereka cara pembuatan kainnya.

Perlahan namun pasti, keterampilan yang diajarkan Nyi Senu itu pun mulai banyak dikuasai oleh warga desa sampai diwariskan secara turun temurun. Sehingga pada akhirnya, kerajinan ini seakan menjadi identitas khas warga Troso sampai menjadikannya sebagai mata pencaharian.



Baca: Mengenal Sarung Tenun Kresesek Khas Pulau Sumbawa


Saat berkunjung ke Desa Troso, pastinya kalian pun akan menemukan banyak sekali rumah-rumah yang sedang melakukan proses pengerjaan kain tenun. Entah itu proses pengerjaan kainnya maupun proses pewarnaannya. 

Tak hanya itu saja, bunyi hentakan mesin tenun tradisional juga seakan tidak ada habisnya untuk terus menjalin benang-benang menjadi kain tenun yang cantik. Selain itu, di setiap sisi jalan juga kalian bisa sangat mudah menemukan toko-toko penjual kain tenun.

Sebagai kain tenun buatan tangan sendiri yang mengedepankan kualitas dan detail estetikanya, maka pembuatan kain tenun ini pun bisa memakan waktu selama berhari-hari, atau bahkan juga berminggu-minggu untuk dapat menghasilkan kualitas terbaik.

Untuk proses pembuatannya sendiri akan dimulai dengan pengetengan dan pewarnaan benang. Setelah itu, benang tersebut akan dijemur dan ditata sesuai motif. Kemudian benang akan ditarik dengan alat bum satu persatu, lalu dilanjutkan dengan proses pencucukan. Setelah proses itu selesai, barulah kain ini bisa ditenun.

Setidaknya ada dua motif otentik dari kain khas Troso yang pertama kali dibuat, yaitu motif lompong (talas) dan motif daun cemara. Namun seiring berjalannya waktu, secara perlahan motif-motif lain pun dikembangkan oleh warga dengan cerita atau filosofinya yang berbeda-beda.

Berdasarkan data dari laman Pemerintahan Desa Troso, hingga 2020, sebanyak 115 motif kain tenun khas Troso sudah dipatenkan. Sementara untuk jumlah total pekerja yang ada kini mencapai ribuan orang.

Di sisi lain, sampai dengan saat ini kerajinan tenun di Desa Troso terus mengalami perkembangan meskipun terkadang juga mengalami berbagai hambatan. Selain itu juga, untuk pangsa pasarnya pun kini sudah mencapai berbagai wilayah di Indonesia dengan alat produksi yang juga terus berkembang. 

Pengrajin juga bisa menerima pesanan kain sesuai dengan motif dari daerah lain atau motif yang sesuai dengan keinginan. Menariknya lagi, ternyata Mantan Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama juga menjadi orang yang menggemari tenun khas Bumi Kartini ini.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Mengenal Tarian Kontemporer di Indonesia

Koropak.co.id, 23 November 2022 15:06:02

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Tahukah kamu? Tarian yang ada di Indonesia sendiri dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu tari tradisional dan tari kontemporer.

Berbicara mengenai tari kontemporer, saat ini keberadaan seni tari tersebut masih dipertahankan. Bahkan seiring berjalannya waktu, seni tari kontemporer itu juga sudah memiliki banyak sekali pengembangan.

Tari kontemporer sendiri merupakan jenis tarian yang tidak memikirkan pakem atau aturan tertentu yang ada di dalam tradisi tari pada umumnya. Selain itu, tari kontemporer juga lebih banyak memadukan unsur tradisi dengan unsur modern. 

Meskipun begitu, tari kontemporer juga tidak akan menghilangkan jiwa dari tari tradisi tersebut. Sehingga, tari kontemporer bisa juga diartikan sebagai kombinasi tari tradisional dengan tari modern tanpa menghilangkan jiwa dari tari tradisional itu sendiri.

Jadi bisa dikatakan bahwa tari kontemporer tidak sepenuhnya menggunakan unsur modern saja, akan tetapi juga ada unsur tradisional yang ditunjukkan di setiap gerakan tariannya. 

Namun di sisi lain, tari kontemporer juga tidak bisa sepenuhnya disebut tari tradisional dikarenakan di dalamnya terdapat unsur modern yang ditunjukkan dari setiap gerakan atau iringan musik yang digunakannya.

Biasanya, tari kontemporer ini menggunakan iringan musik campuran alat musik tradisional dan alat musik modern. Dengan demikian, tari kontemporer itu pun akan lebih mudah menyesuaikan dengan tren yang ada saat ini, bersifat bebas, dan tidak memiliki aturan baku dalam setiap gerakan yang ada dalam tariannya.



Baca: Tari Barong dan Metamorfosis Reog Ponorogo


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata kontemporer diartikan pada waktu yang sama atau masa kini. Dengan begitu, tari kontemporer pun bisa diartikan sebagai suatu tarian yang bisa menggambarkan keadaan masa kini, dan ketika diciptakan akan memiliki ketentuan diluar tarian pada umumnya.

Adapun beberapa karakteristik atau ciri-ciri tari kontemporer yang dapat membedakannya dengan tari modern diantaranya, pola gerakan dari tari kontemporer diketahui lebih bebas dibandingkan tari tradisi. Kemudian tari kontemporer juga tidak terikat dengan aturan yang sudah ada. 

Selain itu, untuk gerakan yang digunakan dalam tariannya juga tidak harus mendasar pada tari tradisional. Selanjutnya, tata tariannya diciptakan sesuai dengan suasana pada saat penciptaan. 

Sementara untuk musik yang digunakan, merupakan kombinasi alat musik modern dan tradisional, dan kostum yang digunakan pun tidak harus sesuai dengan aturan kostum tari tradisi. 

Tari kontemporer juga memiliki beberapa tujuan di dalamnya, diantaranya sebagai sarana hiburan, media pendidikan, tujuan artistik, hingga media komunikasi. Sementara itu, setidaknya ada beberapa contoh tari kontemporer dari Indonesia yang sudah dikenal oleh masyarakat banyak. 

Biasanya, tari-tari kontemporer ini dipertunjukkan ketika acara penyambutan, hiburan, dan media ekspresi seniman. Salah satunya seperti, tari Barong-Barongan yang merupakan tari kontemporer dari Bali dengan pencipta tariannya yaitu seorang seniman bernama I Wayan Dibia. 

Ada juga Tari Yapong yang diciptakan oleh seniman tari bernama Bagong Kussudiarjo. Tari Yapong ini digunakan untuk merayakan ulang tahun kota Jakarta ke-450 tahun. Kemudian ada juga Tari Cak Rina yang sudah dikenal luas sejak 1972-an. Tarian ini diciptakan oleh seniman tari, Sardono W. Kusumo. 


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Sebab Musabab Orang Batak Dianugerahi Suara Emas

Koropak.co.id, 23 November 2022 07:13:41

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Sumatra Utara - Mungkin semua orang juga mengetahui jika Suku Batak atau Orang Batak, Sumatra Utara dikenal sebagai maestro-nya dunia tarik suara. Sehingga banyak sekali deretan public figure yang berasal dari kalangan Suku Batak. 

Makanya, tidak mengherankan sekali jika di setiap audisi dan kontes tarik suara, sudah dipastikan orang Batak akan selalu hadir sebagai kontestannya. Bahkan biasanya orang Batak juga sudah pasti mampu memegang tiket juara.

Kalian tentunya sudah akrab dengan nama-nama penyanyi tenar seperti Judika Sihotang, Sammy Simorangkir, Viky Sianipar, Petra Sihombing, Rita Butarbutar, hingga yang saat ini tengah naik daun Lyodra Margareta Ginting, semua nama penyanyi tersebut merupakan orang Batak.

Lantas, apa yang membuat banyak orang Batak ini memiliki "Suara Emas" dan pandai bernyanyi?

Diketahui bahwa hal utama yang membuat orang Batak ini mempunyai suara yang merdu itu tercermin juga dari cara berbicara orang Batak yang cenderung lantang. Dengan mereka terbiasa berbicara dengan suara yang keras dan nada yang meninggi itulah, secara tidak langsung vokal mereka pun menjadi ikut terlatih. 

Karena setidaknya juga suara yang lantang tersebut bisa mendukung aspek power ketika bernyanyi. Berdasarkan sejarahnya, pada zaman dahulu orang Batak tinggal di dataran Tinggi, atau tepatnya berada di sekitar bukit barisan. Selain itu, hampir semua wilayah tanah Batak juga dikelilingi oleh pegunungan.

Dikarenakan pada saat itu pemukiman penduduk masih sepi, maka untuk memanggil orang yang jaraknya 10 kilometer sekalipun, mereka pun harus berteriak sekeras-kerasnya. Sehingga saat itu ada interaksi dari kedua pihak dengan suara lantang, keras, nyaring yang hingga lama kelamaan kedengaran merdu.

Kemudian dari segi biologis, menurut penelitian yang dilakukan oleh para ahli menyebutkan bahwa orang Batak memiliki kepala yang rongga sinusnya meliputi pita suara, dan pernafasan yang lebih besar dari suku lain.

Dengan demikian, hal itu pun memungkinkan proses tarik suara lebih leluasa hingga membuat kualitas vokal seperti resonansi dan tone suaranya pun cenderung lebih enak untuk didengar.

Selain itu, berdasarkan cerita dari orang-orang berdarah Batak, khususnya mereka yang beragama nasrani, kebanyakan dari mereka sudah dilatih bernyanyi sejak kecil untuk bernyanyi di gereja. 



Baca: Orang Batak Punya Lapo Tuak, Bukan Sekadar Tempat Rehat


Mereka juga bahkan sudah mulai mendapatkan dasar-dasar olah vokal. Biasanya, latihan yang mereka lakukan itu baik secara duo, trio, maupun grup vokal. 

Dengan latihan yang terus menerus dilakukan selama di gereja, ditambah juga dengan pengenalan pada teknik-teknik vokal inilah yang secara tidak langsung membuat orang Batak lebih terlatih untuk bernanyi. Khususnya bagi mereka yang tergolong aktif mengikuti latihan ini di gereja.

Ditambah lagi, ketika sedang berkumpul, entah itu kumpul keluarga atau kumpul bersama kawan-kawan di lapo, orang Batak juga senang sekali bernyanyi. Saat berkumpul, lantunan nada yang indah pun pastinya sering muncul untuk meramaikan suasana. 

Di sisi lain, mereka juga kerap melakukan improvisasi dan harmonisasi ketika bernyanyi secara kelompok. Untuk mencurahkan apa yang mereka rasakan, orang Batak juga kerap menuangkannya melalui sebuah nyanyian, terlebih lagi ketika sedang bersama-sama.

Pasalnya, semua kehidupan orang Batak juga kerap dituangkan dalam bentuk lagu, mulai dari kelahiran, menjadi anak remaja, dewasa, sukses, pernikahan, percintaan, silsilah, pujian, alam lingkungannya, profesinya, marganya, namanya, hingga meninggal pun tetap ada lagu yang berhubungan dengan hal itu. 

Pada intinya, setiap suka maupun duka, orang Batak selalu mencurahkannya dalam bentuk nyanyian. Sehingga secara tidak sadar, pada akhirnya banyak orang Batak yang menjadi composer lagu "tidak resmi" dikarenakan ia mampu menciptakan lagu dan alunan not secara tersendiri.

Dengan dipadukan oleh kondisi alam dan kebiasaan yang selalu tidak pernah lepas dari dunia tarik suara, tentunya suara merdu yang dimiliki orang Batak itu merupakan anugerah yang tak ternilai dari Tuhan Yang Maha Kuasa. 

Bahkan falsafahnya juga sudah ada jauh sebelum ada agama di dunia dan Indonesia. Orang Batak akan senantiasa bersyukur kepada Tuhan sang pencipta dengan falsafahnya "Debata Mula Jadi Nabolon".

Ada juga pendapat yang menarik mengenai alasan mengapa orang Batak ini mempunyai suara yang bagus. Alasannya  karena orang Batak juga hobi minum tuak, minuman beralkohol khas Batak yang hampir tak pernah ketinggalan ketika ada kegiatan berkumpul. 

Menurut kepercayaan mereka, tuak yang mereka minum itu bisa membuat tenggorokan menjadi hangat, hingga membuat suaranya menjadi lebih merdu. Tuak juga akan membuat semangat untuk bernyanyi akan semakin bergelora. Maka, tidak heran jika mereka pun mampu menyanyi hingga larut malam bahkan 24 jam nonstop.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Silu, Alat Musik Tradisional Khas Bima yang Keberadaannya Semakin Langka

Koropak.co.id, 22 November 2022 07:15:52

Eris Kuswara


Koropak.co.id, NTB - Indonesia memiliki banyak sekali alat musik tradisional yang tersebar di berbagai daerah. Menariknya lagi, masing-masing daerah di Indonesia itu juga memiliki alat musik tradisional dengan beragam bentuk dan ciri khasnya tersendiri.

Salah satunya adalah alat musik tradisional yang berasal dari daerah Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang dikenal dengan nama "Silu". Alat musik yang termasuk dalam jenis aerofon tipe hobo ini memiliki lidah lebih dari satu. 

Untuk lidah pada silu itu sendiri disebut dengan pipi silu, dan terdiri dari empat lidah. Di daerah Bima ada pembagian alat musik. Di daerah Bima terdapat pembagian golongan alat musik, dan silu termasuk ke dalam golongan ufi yaitu sebuah alat musik tiup. 

Sementara itu, ada golongan alat musik lain yang disebut dengan bo-e yaitu untuk alat musik pukul dengan tangan seperti rebana. Kemudian ada juga Ko–bi untuk alat musik petik seperti gambo (gambus), lalu golongan toke, untuk alat musik yang dipukul dengan alat pemukul, seperti genda (gendang).

Kemudian golongan yang terakhir adalah Ndiri, untuk alat musik gesek seperti biola mbojo (biola Bima). Biasanya bahan untuk membuat silu sendiri adalah kayu sawo, perak dan daun lontar. Menariknya lagi, pada silu sendiri tidak ada ornamen-ornamen, dan warna yang digunakannya juga adalah warna asli. 



Baca: Mendedah Madihin, Sastra Lisan yang Terancam Punah


Di sisi lain, dalam pembuatan silu juga tidak ada ukuran yang standar. Pasalnya di dalam membuat silu, yang diutamakan adalah produksi suaranya. Seiring berjalannya waktu, saat ini silu dan pemain atau peniup silu sudah semakin langka untuk ditemukan di Bima. 

Oleh karena itulah, diperlukan upaya yang serius untuk melestarikan dan melakukan proses Re-Generasi terhadap alat musik dan peniupnya. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan melatih anak-anak muda, para pelajar dan membentuk sanggar-sanggar seni budaya Bima-Dompu di setiap sekolah-sekolah. 

Selanjutnya bisa ditindaklanjuti dengan megundang seniman dan peniup silu dan sarone untuk mengajari para pelajar sebagai salah satu program ekstrakurikuler di sekolah-sekolah. 

Tak hanya itu saja, mereka juga harus diberikan honor yang sepadan agar ada rangsangan untuk terus membina dan mendidik anak-anak generasi Bima yang mencintai budayanya.

Silu ini juga memiliki fungsi sebagai pembawa melodi dalam ansambel musik Bima yang pada umumnya terdiri dari silu, gong, dan gendang. Biasanya silu juga dipergunakan untuk mengiring tari-tarian istana Bima pada upacara Maulid Nabi, upacara pelantikan raja, khitanan, dan upacara-upacara lain yang berlangsung di istana. 


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


ABC Lima Dasar, Pemainan Simpel yang Mengasah Kecepatan Berpikir

Koropak.co.id, 20 November 2022 15:19:59

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Tengah - ABC Lima Dasar merupakan permainan tradisional yang terbilang sangat simpel untuk dimainkan. ABC lima dasar juga menjadi permainan zaman dulu yang sangat populer bagi anak-anak di era 90-an.

Dilansir dari laman budaya-indonesia.org, permainan tradisional ini berasal dari Jawa Tengah (Jateng). Sementara itu, alasan permainan yang satu ini terbilang simpel dikarenakan untuk memainkan ABC lima dasar tidak memerlukan bantuan alat-alat lainnya. 

Dalam permainannya, setiap pemainnya akan menggunakan lima jarinya untuk bermain. Menariknya lagi, dalam permainan ABC lima dasar ini juga setiap pemain diharuskan untuk berpikir cepat.

Sebelum permainan di mulai, biasanya semua peserta akan terlebih dahulu menyepakati tema apa yang akan di gunakan pada permainan ABC lima dasar, seperti nama-nama hewan, buah, kota, dan lain sebagainya. 

Setelah ditentukan, selanjutnya setiap pemain pun akan mengeluarkan lima jarinya secara bersamaan sembari mengucapkan "ABC lima dasar". Kemudian setelah itu satu orang pemain biasanya akan bertugas untuk menghitung jumlah jari yang di keluarkan semua pemain dengan menggunakan huruf. 

Selanjutnya setelah penghitungan berakhir, maka setiap pemain pun harus menyebutkan sesuatu yang berawalan dengan huruf terpilih sesuai dengan tema yang ditentukan. Contohnya, semua jari yang keluar dari semua pemain sebanyak 10 huruf alfabet dan huruf kesepuluh itu adalah "H".

Maka, huruf inilah yang akan menjadi huruf awalan dari sesuatu sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Seperti tema hewan, maka pemain bisa menyebut harimau, hamster, hiu, dan lainnya.



Baca: Permainan Tradisional Petak Jongkok, Ada Sejak Zaman Belanda


Bagi pemain yang menjawab paling lambat atau bahkan tidak menjawab sekali, pemain itu pun biasanya akan dikenakan hukuman sesuai dengan kesepakatan bersama yang ditentukan di awal permainan. Untuk memainkan permainan ABC lima dasar ini, bisa dilakukan lebih dari dua orang pemain.  

Kendati merupakan permainan yang terbilang simpel, namun jangan salah, ABC lima dasar ini ternyata memiliki manfaat untuk mempercepat kinerja berfikir otak. Tak hanya itu saja, keterampilan bahasa anak-anak juga semakin terasah dengan memainkan permainan yang satu ini.

Kenapa? Alasannya karena anak-anak dituntut untuk bisa menghapal huruf dengan cepat dan menyenangkan. Terlebih lagi permainannya dilakukan secara bersama-sama dengan menyebutkan huruf sesuai jari yang diacungkan secara berulang-ulang.

Sehingga dengan demikian anak-anak pun nantinya akan mengenal kosakata baru dari berbagai kelompok nama-nama dari tema permainan tradisional itu, seperti benda, hewan, tumbuhan, dan lain sebagainya.

Di sisi lain, permainan ini juga dapat digunakan sebagai media belajar bagi anak-anak dalam menguasai kata dengan cepat untuk menyebutkan nama sesuai huruf yang telah ditentukan. 

Selain itu, anak-anak juga akan belajar untuk berlomba dalam mengatakan kata dengan cepat dan tepat di permainan ABC lima dasar sesuai tema yang telah ditentukan.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Belajar Gotong Royong dari Suku Minahasa dengan Tradisi Mapalus

Koropak.co.id, 20 November 2022 07:07:22

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Sulawesi Utara - Sulawesi Utara termasuk wilayah dengan keberagamannya yang cukup kompleks, mulai dari segi suku, budaya, hingga agama. Dalam konteks kerukunan antar umat beragama dan sosial di Sulawesi Utara mengakar atas peran budaya lokalnya yang disebut "Mapalus". 

Diketahui, budaya mapalus sendiri merupakan budaya gotong-royong yang dilakukan oleh masyarakat suku Minahasa, Sulawesi Utara. Hingga kini, mapalus juga masih dilakukan di kota dan kabupaten Provinsi Sulawesi Utara. 

Pasalnya, budaya mapalus tersebut dapat membantu dalam membantuk karakter masyarakat agar dapat memiliki jiwa sosial yang tinggi. Biasanya, kegiatan mapalus ini dilakukan oleh sekelompok masyarakat beragam yang sesuai dengan kebutuhan dan kesepakatan kelompok mapalus pada suatu daerah. 

Pada umunya, mapulus dilaksanakan dengan tujuan untuk saling membantu satu sama lain dalam anggota mapalus, baik itu membantu saat suasana senang atau bersyukur atas hasil bumi, hingga suasana duka atau meninggal dunia.

Setidaknya ada tiga bentuk kerja sama yang dilakukan di antara anggota mapalus, yakni kerja bersama pada kelompok mapalus dan kerja bersama antar seluruh anggota kelompok, dan kerja bersama anggota kelompok mapalus dan kerja bersama antar seluruh anggota kelompok. 

Terakhir, kerja bersama dengan adanya dukungan pemerintah dan swasta dalam hal perencanaan dan pelaksanaan bersama. Biasanya, gotong royong yang dilakukan itu akan secara bergantian, baik tenaga maupun materi.

Di sisi lain, masyarakat Sulawesi Utara juga memiliki semboyan "Torang Samua Basudara" yang berarti "Kita semua bersaudara" dan "Torang Samua Ciptaan Tuhan" yang berarti "Kita semua ciptaan Tuhan". Semangat inilah yang pada akhirnya menjadikan masyarakat Sulawesi Utara hidup dalam rasa peduli satu dengan yang lain. 



Baca: Kabasaran, Tarian Kasatria dan Tradisi Minahasa


Selain itu, ada lima azas dari budaya mapalus Suku Minahasa, diantaranya azas religius, kekeluargaan, musyawarah dan mufakat, kerja bersama serta azas persatuan dan kesatuan.

Dalam penerapannya, budaya mapalus ini memiliki fungsi sebagai daya tangkal bagi resesi ekonomi dunia, sarana untuk memotivasi dan memobilisasi manusia bagi pemantapan pembangunan, serta merupakan sarana pembinaan semangat kerja produktif untuk keberhasilan operasi mandiri.

Sementara itu, prinsip solidaritas yang tercermin dalam budaya mapalus, terefleksi dalam perekonomian masyarakat di Minahasa, yaitu dengan dikenalkannya prinsip ekonomi Tamber yang merujuk pada suatu kegiatan untuk memberikan sesuatu kepada orang lain atau warga sewanua (sekampung) secara sukarela tanpa mengharapkan balas jasa.

Di sisi lain, prinsip ekonomi Tamber juga berasaskan kekeluargaan. Kemudian dari segi motivasi adat, prinsip ini mengandung suatu makna sebagai perekat kultural (cagar budaya) yang mengungkapkan juga kepedulian sosial, hingga indikator keakraban sosial.

Budaya mapalus ini bisa dilakukan masyarakat setempat dalam berbagai kegiatan, seperti pembukaan kebun, membersihkan kebun, memanen hasil pertanian, membantu pemasangan rumah panggung, kematian, pernikahan, dan lain sebagainya. 

Berbicara mengenai salah satu wujud dari budaya mapalus sendiri adalah masyarakat yang saling menjaga keamaan dalam perayaan agama. Seperti pada perayaan hari raya Idul Fitri, masyarakat non muslim akan turut menjaga keamanannya. Begitu pun sebaliknya, pada saat perayaan Natal, masyarakat non kristiani akan ikut menjaga keamanan. 

Sedangkan dalam bidang pertanian wujud dari budaya mapalus ini bisa berupa bantuan tenaga pada masyarakat yang memiliki lahan, namun kekurangan modal untuk menggarap lahannya.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Boboko dan Simbol Kesempurnaan Orang Sunda

Koropak.co.id, 19 November 2022 15:06:12

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Barat - Belum lama ini beredar salah satu cuitan di Twitter yang diposting oleh seorang Warga Negara Indonesia (WNI) di Islandia. Dalam cuitannya itu, ia membagikan penemuannya mengenai sebuah boboko yang dijual seharga 34,99 euro atau sekitar Rp563 ribu.

Terlepas dari hal itu, kendati dipatok dengan harga yang tinggi di luar negeri, namun di Indonesia sendiri, perabotan tradisional itu sudah menjadi hal yang lumrah, banyak dijumpai, serta dijual dengan harga yang terjangkau.

Meskipun sudah menjadi hal yang lumrah dan banyak dijumpai dalam setiap jamuan makanan tradisional khas Sunda, hingga di sejumlah rumah makan atau restoran Sunda modern, sebenarnya penggunaan boboko itu juga banyak ditemui di daerah lain di Indonesia.

Bahkan, penamaan dari perabotan tradisional ini di setiap daerahnya juga beragam, mulai dari tumbu bambu, hingga secara umum banyak mengenal barang yang satu ini dengan sebutan bakul. Boboko sendiri terbuat dari serat bambu dengan ciri khas wujudnya yang bisa terbentuk berkat proses anyaman yang dilakukan oleh para pengrajin di daerah.

Pada umumnya, boboko ini biasanya digunakan sebagai wadah nasi. Pasalnya sebelum adanya peralatan modern seperti rice cooker, jika sudah matang, nasi yang dimasak secara tradisional akan ditempatkan pada wadah yang satu ini.

Bagi masyarakat Sunda terdahulu atau tepatnya masyarakat Sunda Wiwitan, boboko bukan hanya sekedar wadah nasi biasa, namun memiliki makna tersendiri.

Jamaludin dari Institut Teknologi Nasional Bandung dalam penelitiannya "Boboko Sebagai Simbol Kesempurnaan: Memahami Makna Bentuk Dasar dalam Budaya Sunda" menuliskan bahwa boboko bagi masyarakat Sunda Wiwitan selama ini menyimbolkan tiga bentuk yang mengandung pribahasa dan memiliki makna kesempurnaan.



Baca: Ungkapkan Syukur dengan Hajat Leuweung


Sebagai gambaran, pada satu wadah boboko berbentuk lingkaran dapat dengan mudah dilihat dari bagian mulutnya. Kemudian setelah itu, ada bentuk segitiga yang tergambar di bagian badan dari atas sampai ke bawah. Terakhir, ada juga bagian segiempat yang terbentuk pada kaki boboko.

Diketahui, setiap tiga bentuk itulah yang memiliki makna kesempurnaan masing-masing. Misalnya untuk bentuk dasar lingkaran pada boboko yang diyakini memiliki makna kesempurnaan iman atau spiritualitas. 

Selanjutnya untuk bentuk dasar segitiga, diyakini memiliki makna kesempurnaan tempat, dan bentuk dasar persegi melambangkan kesempurnaan perilaku. Sementara itu di sisi lain, rupanya masyarakat Sunda tradisional juga memiliki kepercayaan kosmologis pada dewi padi yang disebut dengan Pohaci Sang Hyang Asri. 

Selain itu juga, penggunaan bentuk persegi pada bagian boboko juga dipandang perlu untuk dua tujuan. Tujuan pertama adalah untuk unsur fungsi yaitu higienis. Sebab, sebagai wadah makanan pokok, maka diperlukan wadah yang berjarak dengan lantai atau tempat wadah itu disimpan untuk kebersihan makanan.

Tujuan kedua adalah untuk unsur simbolik. Karena, tempat Pohaci Sanghyang Asri atau hasil limpahan berupa nasi, beras, atau padi itu haruslah wadah yang layak dan berbeda dengan wadah lainnya. 

Boboko itu pun diberi kaki agar nasi berjarak dengan tanah atau tempat wadah itu diletakkan. Dengan adanya kaki persegi pada boboko, nasi sebagai simbol Pohaci Sanghyang Asri ditinggikan tempatnya sebagai bentuk penghormatan.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Kenali Tiga Ritual Petani Kita

Koropak.co.id, 19 November 2022 07:12:11

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Petani Indonesia punya banyak cerita. Sebagai negara agraris, para pahlawan pangan ini mempunyai peradaban tersendiri yang sudah ada di nusantara sejak lama.

Satu di antara khasanah budaya petani adalah menyambut musim panen. Momentum yang paling dinanti-nantikan oleh setiap petani ini tentu menyajikan khasahan unik dengan sajian ritual khusus.

Ritual petani kita beragam caranya. Tapi intinya sama, sebagai ucapan rasa syukur kepada sang pencipta. Mereka bersuka cita karena waktu panen telah tiba. 

Para petani dari berbagai daerah di Indonesia ini kerap menyambut masa panen atau pun masa tanam dengan sejumlah ritual yang sakral. Seperti dengan mempersembahkan sesajen, atau ada juga yang sampai menginjak telur.

Lantas, apa saja ritual unik yang dilakukan para petani di Indonesia ?

1. Ghan Woja 

Ghan Woja merupakan ritual yang dilaksanakan masyarakat petani padi dan Jagung di Manggarai Timur dalam bentuk penghormatan. Diketahui, dalam bahasa etnis Kolor, kata ghan sendiri berarti makan dan woja berarti bulir padi panjang dan beras.

Tradisi ini biasanya dilakukan para petani dengan tujuan untuk mengungkapkan rasa syukurnya terhadap hasil panen yang bagus ataupun gagal. Menariknya lagi, jika ada warga yang tidak menjalankan ritual ini, maka ia pun dilarang untuk menanam padi di masa berikutnya.

Ritual suci ini akan digelar setiap tahunnya oleh para tetua adat dan warga suku Saghe. Ibaratnya, semua warga suku Saghe akan mengakhiri tahun lama musim tanah di lahan kering dan memulai masa tanam padi, jagung, serta kacang-kacangan di tahun baru menurut kalender pertanian orang Manggarai Timur.

Dalam pelaksanaannya, ritual ghan woja bisa dilakukan di rumah masing-masing penduduk, kebun, atau rumah adat yang dilangsungkan dengan menyajikan sesajen berupa ayam berwarna merah dan babi hitam. Bahan-bahan tersebut wajib dikumpulkan dari anggota suku Saghe.



Baca: Eksistensi Tradisi Babarit Pangandaran yang Keberadaannya Hampir Punah


Ghan woja ini juga dilaksanakan bersamaan dengan ritual kedha rugha manuk atau injak telur ayam kampung yang dilakukan oleh istri dari anak lelaki suku Saghe. Selain itu, nama para leluhur suku Saghe juga akan terus diucapkan selama ritual ini berlangsung agar generasi penerus tidak lupa dengan nenek moyang mereka.

2. Wiwitan

Masyarakat Jawa memiliki ritual persembahan sebelum panen padi yang dinamakan wiwitan. Ritual ini dilaksanakan sebagai ucapan terima kasih sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Tuhan dikarenakan telah menumbuhkan padi. Ritual Wiwitan sendiri berarti mulai memotong padi sebelum panen. 

Uniknya, tradisi ini ternyata sudah ada jauh sebelum agama Islam masuk ke tanah Jawa. Untuk prosesi wiwitan biasanya akan dipimpin oleh tetua atau mbah kaum di sawah yang dimulai dengan berdoa lalu diteruskan dengan memotong sebagian padi sebagai tanda padi sudah siap untuk dipanen.

Beragam makanan tradisional yang dibungkus daun pisang atau jati pun akan dihidangkan dalam ritual ini, mulai dari sayur nangka, kerupuk, tahu dan tempe, nasi gurih, telur, rempeyek, dan ikan teri. Setelah doa selesai dipanjatkan, maka masyarakat pun akan makan bersama sambil bercengkerama.

3. Methil

Masyarakat Jawa khususnya yang berada di Desa Kasreman, Jawa Timur juga memiliki tradisi yang tergolong unik bernama tradisi methil. Ritual ini biasanya akan dilakukan para petani tanah kas desa atau bengkok sebagai ungkapan rasa syukur dikarenakan panen padi akan segera mulai dipanen sekaligus juga sebagai pengharapan agar hasil panen melimpah.

Tradisi ini akan dilaksanakan di pagi buta dengan berbagai perlengkapan atau uborambe. Dalam pelaksanaannya, tradisi methil pun akan dimulai dengan penyerahan padi yang telah dipetik oleh tetua desa kepada pemilik sawah dengan menggunakan anai-anai yang diikat benang lalu dioles kunyit di batangnya dan bagian ini dinamakan mantenan. 

Setelah prosesi itu selesai, selanjutnya di tepi persawahan akan diberi tarub agung dan di sanalah tradisi methil ini akan dilakukan. Selain itu, dalam tradisi ini juga harus ada lauk lodoh ayam dan pisang raja.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Kisah Penduduk Bermata Biru Seperti Orang Eropa dari Pulau Siompu

Koropak.co.id, 18 November 2022 12:10:26

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Sulawesi Tenggara - Seperti yang diketahui bahwa salah satu ciri khas dari bangsa Asia, khususnya masyarakat Indonesia adalah memiliki warna iris mata yang coklat hingga kehitaman.

Namun, hal tersebut ternyata tidak berlaku bagi penduduk di Desa Kaimbulawa, Kecamatan Siompu Timur yang berada di Pulau Siompu, Sulawesi Tenggara. Pasalnya, di desa yang tergolong unik ini, menjadi tempat tinggal beberapa warganya yang memiliki bola mata berwarna biru, sepasang bola mata yang menyerupai mata bangsa Kaukasia dari Eropa.

Tentunya hal tersebut bukan merupakan kelainan genetik ataupun hasil ilmu sihir. Bola mata berwarna biru hingga ada sebagian yang bertubuh tinggi dan berambut pirang itu ternyata merupakan hasil persilangan antar budaya di masa lalu.

Lantas, seperti apa kisah sebenarnya dari penduduk berbola mata biru yang menghuni Pulau Siompu itu?

Diketahui, Pulau Siompu sendiri adalah pulau yang terletak di barat daya Kabupaten Buton Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara. Pulau ini terbagi menjadi dua kecamatan, yakni Siompu Timur dan Siompu Barat. Pulau Siompu ini bisa dijangkau melalui perjalanan laut dari Kendari, Ibu Kota Sulawesi Tenggara dengan tujuan ke Kota Baubau, Pulau Buton. 

Biasanya dengan menumpang kapal Feri, waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Pulau Siompu yakni sekitar enam jam perjalanan. Setelah itu kalian pun akan tiba di Kaimbulawa, sebuah desa di Kecamatan Siompu Timur. 

Disana, kalian akan mendapati sekelompok warga dengan ciri tubuhnya yang unik yakni berbola mata biru dan berambut pirang layaknya bangsa Kaukasia atau orang Eropa.

Berdasarkan sejarahnya, fenomena ini sendiri pertama kali disingkap oleh seorang peneliti dari lembaga Summer Institute Linguistic (SIL), La Ode Yusrie yang pada 2016 lalu sedang melakukan riset mengenai dialek lokal unik di Siompu Timur.

Secara historis, pada saat bangsa Eropa berlomba dalam menguasai rempah-rempah dunia, para pelaut Portugis pun menjadikan Pulau Siompu sebagai persinggahannya sebelum menuju ke Maluku. Selama berlabuh inilah, para pelaut Portugis tersebut menjalin hubungan baik dengan warga lokal dan pihak kerajaan.



Baca: Alasan Suku Palembang Sering Disebut Mirip Orang Tionghoa


Bahkan, beberapa pria Portugis juga kala itu diizinkan untuk mempersunting gadis Siompu. Cerita ini sendiri diketahui termuat dalam naskah kuno peninggalan Kesultanan Buton Kanturuna Mohelana yang bermakna Pelitanya Orang Berlayar.

Dikisahkan pada abad ke-16, ada seorang pimpinan kapal dari Portugis yang menikah dengan seorang gadis bangsawan dari Pulau Siompu, bernama Waindawula. Ia merupakan anak dari La Laja, bangsawan Wolio yang juga berkerabat dekat dengan seorang Raja Liya, La Ode Ntaru Lakina Liya yang berkuasa pada 1928-an.

Kemudian dari pernikahan putri Siompu dan pria Portugis itulah lahir beberapa anak, termasuk La Ode Raindabula yang berpostur tinggi, berkulit putih, dan bermata biru. Raindabula ini jugalah yang merupakan generasi pertama mata biru di Pulau Siompu.

Selanjutnya, La Ode Raindabula pun mempersunting perempuan bangsawan hingga memiliki lima orang anak yang salah satunya adalah La Ode Pasere yang merupakan kakek buyut La Dala dari pihak ibu. Sementara itu, La Dala sendiri sempat menjadi Kepala Sekolah Dasar 2 Kaimbulawa, Siompu. 

Tak hanya itu saja, mata biru La Dala juga ikut menurun kepada Ariska Dala yang merupakan keturunan keenam sekaligus satu-satunya dari enam anak La Dala dengan mata biru.

Di sisi lain, ketika Pemerintahan Belanda berhasil menguasai Buton, mereka pun melancarkan propaganda dan fitnah (devide et impera) terhadap keturunan Portugis, yang mereka sebut sebagai pengkhianat. Hal itu dilakukan sesuai dengan kepentingan Belanda yang menganggap bangsa Portugis sebagai saingan dalam berebut pengaruh di Kesultanan Buton.

Propaganda itu jugalah yang pada akhirnya berdampak kepada generasi hasil perkawinan Buton-Portugis. Bahkan mereka juga memilih untuk menyingkir ke beberapa wilayah, seperti Liya di Kabupaten Wakatobi, Ambon, hingga Malaysia.

Selain itu, stigma penjajah Belanda juga terus membekas pada komunitas bermata biru di Pulau Siompu selama berpuluh tahun, hingga mendesak mereka untuk membangun tempat tinggal di wilayah perbukitan Kaimbulawa. Disana, mereka juga semakin menutup diri dan membatasi komunikasinya dengan orang asing dan cenderung menghindari keramaian.

Meskipun mereka secara perlahan mulai membuka diri, namun penduduk bermata biru yang tersisa saat ini tak lebih dari 10 orang. Kini, La Dala dan sejumlah warga Pulau Siompu bermata biru tersebut mulai sering diundang dalam acara-acara di lingkungan Kesultanan Buton.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Gabungkan Rekreasi dan Seni dengan Permainan Nglabrak

Koropak.co.id, 15 November 2022 07:13:18

Eris Kuswara


Koropak.co.id, DIY - Nglabrak atau dikenal juga dengan sebutan Nglarak blarak, merupakan permainan tradisional sejenis pacuan kereta berbahan dasar pelepah kelapa asli dari Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). 

Diketahui, awalnya permainan tradisional ini bersifat tradisi dan hanya ada di wilayah Kulon Progo saja. Nglabrak biasanya dimainkan oleh anak-anak desa di Area Perbukitan Menoreh.

Kata nglabrak berasal dari serapan bahasa yang berarti menabrak atau melawan. Artinya, permainan tradisional ini bisa dilakukan sebagai langkah pembawa semangat dalam melawan segala hal negatif, baik itu berupa kebodohan maupun ketertinggalan.

Permainan ini juga turut menyiratkan semangat juang para pemuda dalam melawan kemiskinan yang kian lama melanda daerah Kulon Progo, ketika Gunung Kidul mampu bangkit. Dalam permainannya, menggunakan bahan dasar blarak atau pelepah daun kelapa yang memang masih alami. 

Biasanya pada blarak sendiri masih terdapat lidi, janur, dan pelepah kelapa. Berdasarkan sejarahnya, konon permainan nglabrak ini berasal dari area Perbukitan Menoreh yang awalnya dimainkan oleh para penderes nira kelapa yang tinggal di kampung di sekitar perbukitan.

Di sela-sela kesibukannya, para penderes nira itu akan mengisi waktu luangnya dengan memainkan permainan tradisional itu. Selain itu, dalam permainan nglarak blarak juga turut menggunakan bumbung nira, yang nantinya akan dijadikan sebagai target permainan untuk diperebutkan oleh para pemain.

Berangkat dari keseruan dan kolaborasi permainan tradisional yang menggabungkan rekreasi, olahraga, budaya dan nilai seni itulah, Bupati Kulon Progo pun gencar mempromosikan permainan tradisional nglabrak sebagai permainan asli dari Kulon Progo.

Bahkan naiknya permainan tradisional ini, membuat pemerintah pada akhirnya secara rutin menggelar sebuah perhelatan pertandingan nglarak blarak setiap tahunnya bertajuk Menoreh Art Festival (MAF). Tak hanya itu saja, dalam helatan ajang ini juga, permainan nglabrak menjadi salah satu cabang lomba yang diikuti setiap kecamatan se-Kulon Progo.

Dalam permainannya, para pemain bisa memanfaatkan blarak atau pelepah kelapa sebagai tunggangannya layaknya kereta. Nantinya, pelepah itu kemudian diseret hingga menghasilkan suara berdercit di tanah lapang. 



Baca: Sluku-sluku Bathok dan Tembang Sunan Kalijaga


Permainan nglabrak ini juga menuntut setiap pemainnya untuk adu cepat dan tangkas dalam memperebutkan bumbung atau wadah nira, hasil penyadap sebagai target para pemain nglabrak. Untuk memainkan permainan tradisional ini, akan dibagi menjadi dua tim yang saling berhadapan.

Setiap tim masing-masing, memiliki 3 anggota laki-laki dan 3 anggota perempuan. Kemudian setiap tim pun dituntut untuk saling adu kecepatan dan ketangkasan dengan mengelilingi sebuah arena tanah lapang berbentuk segi empat. Nantinya, mereka juga akan saling beradu satu sama lain demi memperebutkan sebuah bumbung. 

Permainan Nglabrak ini berlangsung tiga babak dengan dipimpin seorang wasit dan juri. Permainan ini juga akan terasa meriah dikarenakan kehadiran tabuhan gamelan yang ditabuh setiap tim, hingga menjadikan suasana arena semakin bergelora dan ramai riuh rentahnya.

Di sisi lain, permainan ini juga menjadi sebuah kolaborasi yang memadukan antara olahraga, kesenian, dan budaya sekaligus sarana hiburan untuk melepas penat dan mencari suasana keceriaan. Di satu sisi, permainan ini juga membutuhkan teknik, ketepatan, ketangkasan, dan strategi jitu untuk bisa menumpas lawan-lawan dihadapannya. 

Tiga pemain sebagai penarik pelepah kelapa harus bisa menarik sekuat tenaga dengan mengelilingi arena pertandingan berbentuk segi empat. Selain iti, posisi joki yang sedang berada diatas pelepah kelapa juga harus bisa memegang kendali yang kokoh. 

Tak hanya itu saja, dia juga harus bisa menjaga keseimbangan tubuh sehingga tidak terjadi insiden yang menyebabkan sang joki jatuh akibat kencangnya tarikan kereta blarak yang dipacu. Selanjutnya mereka juga harus bisa menyusun strategi agar bisa mengalahkan lawan-lawannya. 

Contohnya seperti jalinan daun kelapa dari blarak demi menguatkan struktur kereta, memilih pelepah yang dianggap ringan namun kuat, hingga bagaimana cara mengikat blarak agar kuat ketika ditarik pemacunya, namun tidak meninggalkan keindahan blarak.

Permainan nglarak blarak juga menyelipkan nilai edukasi yang sarat makna, diantaranya melakukan persiapan yang matang, frekuensi latihan yang sesering mungkin, menyusun dan mengatur strategi, membangun kekompakan, hingga kebersamaan di antara pemain.

Menariknya lagi, saat turun ke arena pertandingan nglarak blarak, mereka juga bukan semata-mata untuk bertanding dan menang saja. Akan tetapi mereka juga memiliki andil dan rasa kebanggaan tersendiri dikarenakan nglarak blarak ini sarat akan kearifan lokal, serta jalinan kerukunan warga demi nguri-uri kabudayan atau melestarikan kebudayaan lokal.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini: