Hubungan Tradisi Sanggring dan Sunan Dalem

Koropak.co.id, 22 January 2022 12:57:19
Penulis : Eris Kuswara
Hubungan Tradisi Sanggring dan Sunan Dalem

 

Koropak.co.id - Sanggring atau Kolak Ayam merupakan tradisi masyarakat Desa Gumeno, Gresik, Jawa Timur yang dilaksanakan setiap tahunnya pada malam hari di tanggal 23 Ramadan.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat setempat akan menyediakan masakan yang kemudian disebut Sanggring atau Kolak Ayam dengan jumlah yang mencapai ribuan piring untuk dimakan bersama-sama.

Contohnya seperti yang dilaksanakan pada tahun 2014, tercatat jumlah porsi kolak ayam yang disajikan untuk berbuka bersama d Masjid Jami Sunan Dalem mencapai 2.200 porsi.

Dilansir dari kebudayaan.kemdikbud.go.id, kolak ayam sendiri merupakan makanan takjil atau makanan pembuka untuk berbuka puasa yang sifatnya hanya sementara.

Berdasarkan sejarahnya, tradisi ini berasal dari suatu riwayat. Diceritakan pada saat pelariannya di Desa Gumeno, Sunan Dalem jatuh sakit dan ternyata beliau dapat disembuhkan dengan membuat makanan Sanggring.

Saat itu, beliau pun memerintahkan kepada penduduk setempat untuk mengusahakan obat agar sakitnya bisa sembuh. Sebagian penduduk kala itu mencarikan obat ke sana ke mari, namun mereka tidak dapat menemukan obat atau orang yang bisa menyembuhkan Sunan Dalem.

Menurut Babad Gresik, Sunan Dalem sendiri merupakan putra dari Sunan Giri yang memerintah di Giri Kedathon. Tercatat, Sunan Giri meninggal dunia pada tahun 1506 Masehi, kemudian kekuasaan Giri Kedathon pun digantikan oleh putranya yaitu Sunan Dalem.

Di tengah kebingungan penduduk, Sunan Dalem mendapatkan petunjuk dari Allah SWT melalui mimpinya agar membuat suatu masakan untuk obat.

Sehingga pada keesokan harinya, Sunan Dalem memerintahkan semua penduduk agar membawa seekor ayam jago berumur sekitar satu tahun atau jago lancur ke Masjid. Dengan segera semua penduduk membawa seekor ayam jago untuk dimasak dengan santan kelapa, jinten, gula merah dan daun bawang.

Setelah masakan selesai, selanjutnya Sunan Dalem memerintahkan kepada penduduk Gumeno agar membawa ketan yang sudah dimasak. Diketahui saat itu bertepatan juga dengan Bulan Ramadan, sehingga ketika tiba waktunya Maghrib (waktu berbuka puasa), Sunan Dalem dan semua penduduk berbuka bersama di Masjid.

Pada akhirnya Sunan Dalem mendapat Hidayah, Mau’unah serta ‘Inayah dari Allah dan beliau pun sembuh dari sakit yang dideritanya setelah menyantap masakan tersebut.

Masakan tersebut jugalah yang pada akhirnya dikenal dengan nama Kolak Ayam atau Sanggring. Nama Sanggring sendiri berasal dari kata Sang yang artinya Raja atau Penggedhe dan Gring yang artinya gering atau sakit. Jadi Sanggring artinya raja yang sakit.

 


Baca : Ngayau yang Menyeramkan, Tradisi Berburu Kepala di Masa Lalu

Karena kepatuhan kepada sang Raja, maka warga Desa Gumeno selalu melanjutkan tradisi tersebut setiap tahunnya. Sementara itu, disebut juga Kolak Ayam dikarenakan bahan utamanya memang berupa daging ayam yang dimasak menggunakan santan, sehingga menyerupai kolak.

Selain itu, untuk prosesi memasak Kolak Ayam yang pertama itu bertepatan dengan 22 Ramadan 946 Hijriah atau tepatnya pada 31 Januari 1540 Masehi. Sunan Dalem saat itu kemudian berwasiat kepada semua penduduk agar setiap tahunnya pada malam ke 23 bulan Ramadhan diadakan Sanggring atau Kolak Ayam.

Dalam membuat masakan Sanggring sendiri dibutuhkan bahan-bahan yang semuanya berkhasiat bagi kesehatan tubuh, mulai dari daun bawang, jinten, kelapa, gula merah dan ayam kampung.

Dalam praktiknya, tradisi ini tidak hanya diikuti oleh warga desa Gumeno atau Gresik saja, melainkan juga kedatangan tamu dari berbagai daerah lain. Sebab, ada yang mengaku juga diberi petunjuk oleh kyai dimana mereka tinggal untuk mencoba kolak ayam yang dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

 

 

Di dalam tradisi sanggring sendiri juga tidak pernah ada perubahan–perubahan dalam pelaksanaannya. Masyarakat Desa Gumeno masih tetap melestarikan tradisi ini dari asal mula terjadinya sampai saat ini dengan selalu diusahakan sama dari proses memasaknya, bahan-bahannya, hingga tempat dilaksanakannya.

Untuk cara memasaknya pun tetap menggunakan tungku dan kayu bakar. Meskipun demikian, ada beberapa hal yang sedikit demi sedikit berubah yaitu, alat memasak yang digunakan berupa kuali dan alat memasak yang lainnya sudah tidak asli lagi dari masa Sunan Dalem.

Hal itu dikarenakan alat-alat memasak tersebut dinilai sudah terlalu tua dan rapuh, bahkan sudah hancur hingga benar-benar tidak dapat digunakan lagi. Dengan begitu, kini digunakanlah kuali dari bahan aluminium dan bukan lagi tanah liat.

Selain itu juga, pada masa Sunan Dalem, digunakan ayam kampung jago. Namun sekitar tahun 90-an, tidak hanya menggunakan ayam jago, akan tetapi juga menggunakan ayam betina dikarenakan bertambahnya jumlah kolak ayam yang dibuat setiap tahunnya.

Seperti tradisi sanggring yang dilaksanakan pada tahun 2014, membutuhkan 210 ekor ayam kampung untuk membuat 2.200 porsi kolak ayam dan yang terpenting adalah menggunakan ayam kampung.

Kemudian yang juga menarik dari tradisi ini adalah pembuat kolak ayam ini semuanya adalah kaum laki-laki tanpa ada seorang pun perempuan yang ikut dalam membuat kolak ayam.

Sementara itu pada budaya masyarakat Jawa, umumnya memasak sendiri diidentikkan dengan peran yang dilakukan perempuan. Dikarenakan peran tersebut juga berkaitan dengan nilai kelaziman perempuan Jawa, yaitu perempuan sebaiknya berada di dalam rumah.

 


Baca : Misteri Bambu Gila dari Tanah Maluku

Namun sejak tahun 1987, terdapat keterlibatan perempuan akan tetapi hanya memasak ketan, memarut kelapa dan membersihkan bulu ayam dan kedua kegiatan ini tetap dilakukan di rumah masing-masing.

Parutan kelapa dan ayam yang sudah bersih dari bulunya tersebut kemudian diantarkan ke masjid setelah sholat tarawih untuk dilanjutkan oleh kaum laki-laki. Dari tradisi ini juga dapat ditemukan beberapa fenomena sebagai berikut:

1. Fenomena sosial

Pelaksanaan tradisi sanggring ini memiliki fenomena yang dapat melahirkan kerjasama di dalamnya. Seperti, adanya pembagian tugas dalam pembuatan kolak ayam hingga pemilihan orang-orang yang ahli dalam bidangnya masing-masing, seperti ahli memasak, ahli memilih bahan dan lain sebagainya.

Selain itu, dalam menjalankan sebuah tradisi, masyarakat juga akan menampakkan sebuah rutinitas yang akan dilakukan secara rutin. Rutinitas inilah yang melahirkan sebuah etika baru dan adat istiadat yang dijalankan oleh masyarakat pendukungnya. Masyarakat tersebut nantinya akan mampu mempunyai harapan yang selalu ingin diwujudkan.

2. Makna budaya

Tradisi juga tentunya menjadi sebuah jati diri dan identitas bagi pendukungnya. Hal itu dikarenakan sudah menjadi sebuah kebiasaan yang dilaksanakan setiap tahun oleh masyarakat Desa Gumeno. Kemudian kebudayaan pun ditempatkan sebagai keseluruhan ‘cara hidup’ suatu masyarakat yang diwariskan, dipelajari, dipelihara dan dikembangkan dari generasi ke generasi sesuai dengan tuntutan dari lingkungan hidup yang dihadapi.

3. Makna ekonomi

Dalam pelaksanaan tradisi sanggring, terdapat peran penting dari pedagang ayam, pedagang kelapa, pedagang gula jawa, maupun yang lainnya dalam mencukupi kebutuhan pembuatan kolak ayam. Sumber dana itu tentunya didapat dari masyarakat Gumeno yang melakukan iuran yang dijadikan dalam bentuk kupon.

4. Makna religi

Masyarakat setempat juga melaksanakan tradisi sanggring didasari atas rasa ketaatan terhadap seorang keturunan insan kamil (orang suci), yaitu Sunan Dalem yang merupakan putra dari Sunan Giri. Ketaatan inilah yang dapat dianggap sebagai ibadah yang ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pelaksanaan acara ini juga digelar pada bulan Ramadan tepatnya di tanggal 22 Ramadan atau malam ke-23 dan dipercaya sebagai masa-masa yang penuh barokah sebagai malam-malam turunnya Lailatul Qadar atau malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Disamping itu juga, tradisi ini mengandung makna simbolis terkait dengan waktu dilaksanakannya, tempat pelaksanaan, para pembuatnya, ubarampe atau bahan-bahan yang digunakan dalam kolak ayam, serta doa yang dibaca saat pelaksanaan tradisi sanggring.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 

Komentar

Murah dan Mudah, Tiga Mainan Anak Terbuat dari Tumbuhan

Koropak.co.id, 30 June 2022 12:08:10

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Perkembangan zaman yang semakin maju membuat berbagai permainan yang dahulu sering dimainkan anak-anak, kini sudah terlupakan. Bahkan bisa dibilang hampir tidak ada lagi yang memainkannya.

Padahal semua permainan tempo dulu mudah dan murah. Beda dengan permainan zaman sekarang yang berbasis internet. Jika tak ada kuota di ponsel, maka tidak bisa main. Kalaupun ada kuota, mainnya cuma sendirian. Bisa main barengan, tapi dengan orang di beda tempat. Susah dan mahal memang.

Coba bandingkan dengan permainan zaman dulu. Selain mudah dan murah, tapi bisa senang bersama-sama. Main ramai-ramai di satu tempat dan waktu yang sama. Ada banyak manfaat yang didapat; senang, sehat, dan hemat.

Dibilang hemat, karena tak perlu uang untuk memainkannya. Alam sudah menyediakan segalanya. Berikut ini beberapa mainan yang terbuat dari tumbuhan dan sangat seru untuk dimainkan:

1. Senapan dari pelepah pisang

Permainan yang satu itu termasuk yang paling seru untuk dimainkan. Cara membuat mainan tembak-tembakan dari pelepah pisang ini terbilang sederhana. Ambil pelepah pisang lalu potong sesuai ukuran yang diinginkan, kemudian satukan dengan lidi.

Setelah selesai, sebuah senapan siap dipakai untuk bermain perang-perangan. Tak hanya dibuat menjadi senapan, kita juga bisa membuat pelepah pisang ini menjadi sebuah pistol-pistolan. Anak-anak bersembunyi, lalu saling adu tembak. 

Menariknya, suara tembakannya memakai mulut. Uniknya lagi, terkadang anak-anak tidak akan mengaku jika mereka sudah terkena tembakan. Memang susah, karena tidak ada bukti juga. Tapi di sanalah letak keseruannya.



Baca: Empat Permainan Tradisional Sunda Berawal Ucing


2. Perahu daun bambu

Saat melihat daun bambu, anak-anak zaman sekarang mungkin tak akan kepikiran apa-apa. Beda dengan anak zaman dulu. Saat melihat pohon beruas itu, mereka akan memikirkan banyak hal untuk menjadikannya sebagai mainan. 

Salah satunya adalah dengan memanfaatkan daunnya yang bisa dibuat menjadi perahu-perahuan. Meskipun terkesan sederhana, jangan salah, untuk membuatnya itu terbilang cukup susah. 

Ada trik-trik lipatan yang harus dilakukan agar dapat menghasilkan perahu yang stabil saat berada di air. Sementara itu, cara memainkannya terbilang mudah. Tinggal diletakan saja pada air mengalir atau kita pun bisa adu cepat bersama teman sebaya.

3. Wayang daun singkong

Tak hanya bisa dijadikan sebagai olahan makanan, dulu daun singkong sering digunakan anak-anak untuk bermain. Seperti bagian jari-jari daun yang bisa dibentuk menjadi gelang hingga dijadikan semacam wayang-wayangan. 

Memang membuatnya sedikit sulit dan tak semua anak bisa membuatnya seperti wayang sungguhan. Akan tetapi, meskipun bentuknya jadi seperti apapun, pada akhirnya akan tetap dipakai untuk bermain. 

Dalam memainkannya, biasanya anak-anak akan berperan layaknya seorang dalang yang menjalankan sebuah cerita. Namun, mengingat masih anak-anak, mereka pun biasanya akan menjalankan cerita yang mereka ketahui.

Meski terbilang sederhana dan murah, namun permainan zaman dulu penuh dengan kreativitas dan sarat manfaat. Kita berharap, semua permainan seperti itu kembali membersamai anak-anak zaman sekarang agar kewarasan sosial tetap terjaga.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Dipengaruhi Tradisi Majapahit, Kesenian Reak Tetap Eksis Hingga Kini

Koropak.co.id, 28 June 2022 15:15:09

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Sebagian orang mungkin tidak mengetahui tentang kesenian khas Sunda yang satu ini: Reak. Kesenian itu biasanya ditampilkan dalam hajatan atau panen padi. Dalam pertunjukannya, reak identik dengan atraksi para pemain yang dibarengi iringan sinden dan irama musiknya yang khas.

Lantaran dalam setiap pertunjukannya sejumlah pemain dan penari kerap mengalami kesurupan, kesenian reak identik dengan hal yang berbau mistik. Berdasarkan sejarahnya, kesenian reak berasal dari kata 'Reok' atau 'Reog' yang berarti membuat kebisingan atau kegaduhan.

Konon, kesenian lahir dan mendapatkan pengaruh dari tradisi di Majapahit hingga pada akhirnya menyebar ke wilayah Cirebon dan beradaptasi dengan budaya setempat. Di sisi lain, kesenian reak identik dengan suara dan irama dari alat musik tradisional, serta penari yang menggunakan topeng singa bersurai hitam yang terbuat dari kayu dan karung goni.



Baca: Badawang, Kesenian Rancaekek Kulon yang Mirip Ondel-Ondel Betawi


Biasanya kelompok kesenian reak beranggotakan 20 orang, dan 10 orang di antaranya menjadi nagaya atau pemain musik. Sedangkan 10 orang lainnya menjadi penari yang menggunakan kuda-kudaan serta kostum barong atau singa.

Alat musik yang digunakan pun masih memertahankan tradisi, seperti gong, tilingtit, prung, bamblang hingga terompet. Dan, meskipun tarian dalam kesenian reak terkesan tak beraturan, akan tetapi ada arti dan aturan tersendiri untuk setiap tarian yang ditampilkan.

Di tengah perkembangan zaman dan kemajuan teknologi yang berkembang pesat, kesenian reak masih tetap bertahan dan eksis sampai dengan saat ini. Salah satunya dibuktikan dengan keikutsertaan delapan seniman reak Juarta Putra dari Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang diundang untuk tampil dalam Festival Musik Roskilde, Denmark, mulai 26 Juni s.d 2 Juli 2022.

Festival Roskilde merupakan acara musik terbesar di Denmark, sekaligus menjadi salah satu yang terbesar di Eropa. Itu merupakan festival nonprofit yang pada awalnya dimulai oleh dua orang mahasiswa pada 1971-an, dan hingga kini terus menghasilkan jutaan dolar donasi untuk budaya, musik, dan kemanusiaan. 


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Tepuk Tepung Tawar, Cara Masyarakat Melayu Haturkan Syukur

Koropak.co.id, 28 June 2022 12:04:07

Fauziah Djayasastra


Koropak.co.id - Tradisi yang ada di Indonesia memang beragam dan tak sedikit yang masih melestarikannya hingga kini. Setiap tradisi berkaitan dengan wujud rasa syukur kepada Sang Pencipta, baik atas segala kenikmatan, kesehatan, hasil panen melimpah, dan masih banyak lagi.

Seperti tradisi masyarakat Melayu di Riau. Mereka punya tradisi bernama tepuk tepung tawar. Tradisi itu biasanya mengiringi acara-acara perhelatan, seperti pernikahan, syukuran, naik jabatan, naik haji, dan acara lain sebagai ucapan syukur.

Juga ditujukan guna memberi berkah dalam mencapai keselamatan serta kesejahteraan, termasuk permohonan dijauhkan dari duka, nestapa, serta kesialan. Uniknya, selain untuk manusia, tradisi itu juga berlaku untuk benda. Untuk benda, biasanya dilaksanakan dalam acara pernikahan, rumah baru, atau kendaraan baru.

Untuk calon pengantin, tepuk tepung tawar dilaksanakan secara bergantian karena mereka belum bersatu atau belum melakukan mahar batih. Ketika sudah resmi menikah, upacara dapat dilakukan bersamaan di tempat pengantin melayu bersanding.


Baca: Ritual Matoyak; Cara Suku di Sulawesi Utara Mencari Kesembuhan


Beberapa hal yang perlu disiapkan untuk rangkaian upacara ini adalah daun perenjis, bahan penabur, serta bahan renjis yang terdiri dari air percung, beras putih basuh, beras tabur (beras kunyit dan beras kuning), bertih, bunga rampai, daun ati-ati, daun gandarusa, daun juang-juang, daun sedingin, serta daun setawar.

Sementara Mak Inang akan menyiapkan alat semacam air tepung tawar, astakone, beras basuh, bertih, buah kaki batil,  embat, keto, mangkuk kecil, perenjis, telur ayam mentah, tepak sirih, terenang, serta sirih nikah dalam senjong berbahan beras kunyit.

Upacara dimulai dengan mengambil sejumput beras kunyit, beras putih, serta bertih untuk ditaburkan ke atas kepala dan bahu orang yang diupacarakan. Ketika menaburkannya akan dibacakan juga salawat.

Selanjutnya, perenjis dipercikkan pada kening, bahu, belakang telapak tangan, serta menempelkan telur di wajah. Proses tepuk tepung ini biasa diakhiri dengan pembacaan doa agar orang yang diupacarakan senantiasa ada dalam keselamatan dan keberkahan.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Empat Permainan Tradisional Sunda Berawal Ucing

Koropak.co.id, 26 June 2022 12:21:51

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Jawa Barat punya banyak permainan yang sarat manfaat dan selalu menghadirkan kebahagiaan bagi para pemainnya. Tak perlu barang mewah atau uang banyak untuk memainkannya. Selama ada lahan kosong, baik pekarangan rumah, lapang, atau sawah kering anak-anak bisa bebas bermain.

Selain bisa dijadikan sebagai media bersosialisasi, berbagai permainan yang jadi primadona anak-anak zaman dulu mampu mengasah kecerdasan motorik, melatih kerja sama tim, serta sebagai sarana hiburan hingga mampu menjaga kesehatan anak-anak. 

Kali ini kita akan membahas empat permainan tradisional khas Sunda yang mengandung ucing. Apa saja?

1. Ucing Sumput

Jika dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama petak umpet, lain halnya dengan bahasa Sunda. Suku Sunda mengenal permainan ini dengan sebutan 'Ucing Sumput' atau yang dalam bahasa Sunda berarti 'Kucing Sembunyi'.

Biasanya permainan ini dimainkan oleh minimal dua orang. Awalnya, para pemain akan melakukan hompimpa untuk menentukan siapa yang menjadi "kucing". Nantinya "kucing" tersebut bertugas mencari pemain lain yang bersembunyi.

Setelah ditentukan, pemain yang menjadi "kucing" akan berhitung sampai sepuluh sambil memejamkan mata dan menghadap tembok atau pohon. Selesai menghitung, "kucing" akan mencari para pemain yang bersembunyi. Jika berhasil menemukan pemain yang bersembunyi, selanjutnya dia harus segera menyentuh tembok sembari mengucapkan nama pemain yang ditemukan.

2. Ucing-ucingan

Permainan yang satu ini biasanya sering disebut juga 'Emeng-emengan'. Namun tak jarang ada pula yang menyebut permainan ini dengan sebutan 'Ucing Udag'. Permainan ini dimainkan lebih dari dua orang pemain.

Permainan akan diawali cingciripit, suit atau hompimpa untuk menentukan siapa yang menjadi kucing. Barulah setelah itu, pemain yang menjadi kucing akan berlari mengejar dan menyentuh badan lawan.



Baca: Permainan Tuk Tuk Geni, Ajarkan Anak Cara Mematuhi Orangtua


Pemain yang sudah tersentuh "kucing" secara otomatis menjadi "kucing", sementara pemain yang sebelumnya menjadi "kucing" akan terbebas dari tugasnya. Ada juga versi lainnya. Pemain yang terkena sentuhan "kucing" akan menjadi teman "si kucing" dan membantu dalam mengejar pemain lain sampai semuanya tertangkap.

3. Ucing Beling

Permainan ini dimainkan dengan menggunakan media pecahan beling atau kaca yang ditumbuk menjadi kecil. Untuk memainkannya, semua pemain membuat pecahan kaca kecil lalu membuat garis bulat di tanah dengan ukuran garisnya yang disesuaikan dengan pemain.

Permainan diawali dengan cingciripit, hompimpa, suten atau suit untuk menentukan siapa yang menjadi "kucing". Setelah ditentukan, "si kucing" akan mulai melakukan penghitungan dari 1 s.d. 10. Sementara para pemain lain menyembunyikan pecahan beling tersebut di area garis bulat yang dibuatnya tadi, namun disamarkan agar tidak terlihat oleh "si kucing" yang nanti akan mencarinya.

4. Ucing Bendrong

Permainan yang satu memiliki aturan yang hampir sama dengan ucing sumput atau petak umpet, namun menggunakan tumpukan batu atau batu bata sebagai media permainannya. Dalam memainkannya, batu atau batu bata sebanyak 8 sampai 12 buah akan ditumpuk ke atas. Setelah itu para pemain akan melakukan undian urutan melempar dengan cingciripit atau hompimpa.

Setelah ditentukan, para pemain akan berjejer dengan jarak yang disepakati bersama sesuai urutan. Selanjutnya, satu per satu pemain melemparkan batu atau batu bata ke arah tumpukan. Jika pemain dengan urutan melempar 1 berhasil meruntuhkan batu bata, maka pemain urutan 2 akan menjadi 'kucing'. 

Sementara pemain lain berlari untuk bersembunyi. Pemain yang menjadi "kucing" harus cepat menumpukkan dan menyusun kembali bata yang runtuh, lalu mencari permain yang bersembunyi. Saat "kucing" menemukan pemain, dia akan berteriak hong dan menyebut nama pemain yang sembunyi.

Selain itu, saat "si kucing" tengah mencari pemain yang bersembunyi, pemain lain juga dapat mengintai dari tempat persembunyiannya dan menunggu si kucing lengah dan jauh dari tumpukan bata, lalu berlari dan meruntuhkan bata.

Apabila bata yang tersusun runtuh sebelum semua pemain yang bersembunyi ditemukan, maka permainan akan dimulai lagi dari awal dan "si kucing" akan tetap menjadi "kucing". Semua pemain juga akan bersembunyi kembali meskipun sebelumnya dia sudah ditemukan.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Badawang, Kesenian Rancaekek Kulon yang Mirip Ondel-Ondel Betawi

Koropak.co.id, 25 June 2022 15:11:58

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Kesenian tradisional khas Jawa Barat ini lahir dan hidup di tengah-tengah masyarakat pedesaan, khususnya di Desa Rancaekek Kulon, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Namanya Badawang. Sebagian menyebutnya Memeniran.

Ada dua sosok yang berjasa dalam kesenian tersebut. Mereka adalah E Rachmat dan Rumsadi. Keduanya kini sudah meninggal dunia. Dalam Bahasa Sunda, Badawang diartikan sebagai sosok manusia tinggi besar. Lantaran itu pula kenapa disebut memeniran asal kata meneer atau orang Belanda berbadan tinggi besar.

Badawang biasanya dijadikan pengisi upacara helaran atau pentas di atas panggung, khitanan anak, pernikahan hingga peringatan hari penting, seperti hari jadi kota dan kabupaten serta hari-hari besar nasional.

Ganjar Kurnia dalam bukunya 'Deskripsi Kesenian Jawa Barat' menulis, Badawang merupakan kesenian yang memiliki kemiripan dengan kesenian ondel-ondel Betawi. Itu karena boneka besar dengan pakaian perlente digendong atau dipakai oleh orang dengan pakaian sederhana di dalamnya. 



Baca: Suling dari Tanah Sunda, Alat Musik Tiup Sejak Manusia Purba


Biasanya, Badawang juga turut diisi dengan sebuah tarian yang merupakan perpaduan dari berbagai tarian yang ada dan berkembang di Jawa Barat. Sebut saja misalnya Tari Keurseus, Tari Pencak Silat, Tari Benjang dan Tari Ketuk Tilu yang dipadukan juga dengan olahraga seperti sepakbola dan olahraga lainnya.

Selain di Kabupaten Bandung, Badawang juga menyebar di setiap kabupaten dan kota yang ada di Provinsi Jawa Barat, seperti Kabupaten Garut, Sumedang, dan Kota Bandung. Dalam perkembangannya, Badawang lebih menonjolkan unsur kamonesan atau keterampilan dalam memainkan boneka.

Tak jarang, beberapa figur yang sudah dikenal masyarakat seperti Semar, Cepot, Dawala, hingga Gareng pun kerap beraksi dan menghibur penonton, mulai dari atraksi mulut boneka yang seolah-olah berbicara, menari dan berjoget, melambaikan tangan, bersorak dan lainnya.

Biasanya, Badawang dimainkan oleh sekitar 4 sampai 9 orang. Mereka dituntut hapal karakter Badawang yang dimainkannya. Di sisi lain, pagelaran Badawang merupakan  gambaran dalam tarian rakyat pedesaan yang penuh dengan hiburan dan humor, serta menggambarkan kegembiraan kehidupan dalam masyarakat yang penuh dengan gairah.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Mengulas Awal Mula Berkembangnya Batik Jawa Barat

Koropak.co.id, 18 June 2022 12:27:56

Eris Kuswara



Koropak.co.id - Batik di Jawa Barat memiliki sejarah yang panjang. Berdasarkan beberapa sumber, budaya membatik di Jawa Barat pada awalnya dibawa oleh masyarakat Jawa Tengah di era Kerajaan Mataram. 

Kala itu masyarakat Jawa Tengah membawa budaya membatik saat akan menuju Batavia (sekarang Jakarta) ketika Perang Diponegoro meletus sekitar 1825-an. Sejak itu masyarakat di Jawa Barat mulai mengenal batik. 

Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) mencatat, pada 2008, kerajinan batik Jawa Barat pada awalnya hanya ada di 8 kabupaten/kota. Namun lambat laun jumlahnya semakin meluas. Bahkan, pada 2013, sudah ada 27 kabupaten/kota di Jawa Barat yang menghasilkan produk batik. Berikut beberapa motif batik yang ada di beberapa daerah di Jawa Barat:

1. Batik Priangan 

Batik Priangan merujuk pada sejumlah daerah di Jawa Barat, meliputi Garut, Ciamis, dan Tasikmalaya. Ciri khas yang menonjol dari batik ini adalah warna latar kuning muda yang berasal dari Batik Garut dan setelah itu turut mempengaruhi ciri khas batik di derah lainnya di Priangan.



2. Batik Cirebonan

Masuk sebagai kota wilayah di pesisir utara Jawa, Cirebon memiliki produk batik yang terkenal seperti Batuk Keratonan, Pesisiran, dan Trusmi. Secara garis besar, warna dari kain batik Cirebonan menggunakan warna-warna yang ceria, seperti warna merah, biru langit hingga hijau pupus. Mega mendung pun diketahui menjadi motif batik yang paling populer diantara yang lainnya.

3. Batik Kuningan

Batik Kuningan lebih dikenal dengan nama batik Paseban Kuningan. Berdasarkan cerita dari beberapa masyarakat setempat, motif batik tersebut dibuat dan dirancang oleh Pangeran Djatikusumah dengan melakukan penelusuran secara pendalaman seni melalui ukir dan relief pada Gedung Paseban. 

Batik Paseban Kuningan ini memiliki keunikan tersendiri, yakni terletak pada motifnya yang relatif besar, tanpa isen-isen dengan warna latarnya yang gelap seperti warna biru tua, hitam, dan merah hati.

4. Batik Indramayu

Salah satu yang menjadi ciri khas dari Batik Indramayu atau dikenal juga dengan sebutan Batik Dermayon ini adalah ragam flora dan fauna yang direpresentasikan secara datar dengan banyaknya lengkungan dan garis-garis lancip. 

5. Batik Sumedang

Batik Sumedang atau yang dikenal juga dengan nama Batik Kasumedangan didominasi penggunaan warna merah. Motifnya berpola pada ceplokan sebagai motif utama pada latar vertical atau horizontal.

6. Batik Bandung 

Terakhir ada Batik Bandung dengan motifnya yang unik dan dibuat oleh pegiat batik di Jawa Barat, Komarudin Kudiya. Ia membuat motif khas Bandung yang terinspirasi dari Jembatan Pasupati, angklung, dan bunga patrakomala.



Ritual Motayok; Cara Suku di Sulawesi Utara Mencari Sembuh

Koropak.co.id, 18 June 2022 07:45:22

Fauziah Djayasastra


Koropak.co.id - Bisa jadi Anda baru tahu nama yang satu ini: Motayok. Sepintas namanya tidak terlalu akrab dengan kosakata bahasa Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pun belum tercantum. Tidak seperti silat atau reog yang sudah ada dalam kamus.

Motayok adalah salah satu ritual di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, yang di dalamnya terdapat beberapa suku dan masing-masing suku punya budaya. Salah satunya Motoyak, kini lebih akrab dengan sebutan Tari Motayok atau Tari Pengobatan.

Motayok (disebut juga Mokitayok) adalah sebutan untuk ritual mengobati orang sakit. Ritual tersebut telah dilakukan sejak ratusan tahun silam oleh para leluhur. Diketahui jika kebiasaan Motayak merupakan ritual pengobatan tertua yang ada di Bolaang Mongondow. Namun ritual ini tidak serta merta dapat dilakukan oleh setiap orang.

Alat-alat yang diperlukan dalam ritual ini adalah giring-giring yang diikatkan pada kain berwarna-warni (kokaloy), gendang berukuran 1,25 m yang dimainkan dua orang, serta dua buah gong yang dimainkan oleh dua pemain dengan irama Do Mi.

Sebelum upacara dimulai dilakukan dulu Mokibondit atau bisa dibilang sebagai proses diagnose. Lewat Mokibondit akan diketahui jenis penyakit apa yang diderita oleh orang yang sakit. Mokibondit ini juga penentu ritual seperti apa yang harus dilakukan ketika Motayak.



Baca: Bebehas, Tradisi Masyarakat Muara Enim yang Tergerus Zaman


Di desa Bilalang Baru, ada bangunan berupa sanggar budaya, sekaligus tempat melangsungkan upacara Motayak. Selain pengobatan dengan bahan-bahan alami, dilakukan juga seni tarian yang dipercaya sebagai pengobatan. Menanamkan keyakinan pada pasien bahwa hal tersebut bisa mengobati penyakit, adalah hal penting yang harus dilakukan agar pasien sembuh.

Ritual ini biasanya dilakukan pada malam hari dengan tabuhan gimbal dan pukulan gong besar serta gong kecil sebagai iringan. Lalu akan ada orang yang kerasukan roh leluhur (dodutaan) akan melakukan gerakan-gerakan kecil di atas lantai (molansikan) dan sewaktu-waktu akan menginjak potongan kayu sebagai tanda pergantian roh leluhur.

Ritual Motayok juga diiringi dengan lantunan syair-syair pendek yang disambut oleh 4-5 orang wanita pengiring (monenden). Pada pelaksanaannya, akan diselingi istirahat agar dodutaan bisa berganti baju. Sementara pemain yang lain serta penonton yang hadir juga bisa makan dan minum terlebih dahulu.

Ritual ini biasanya berlangsung hingga pagi hari, lalu dilanjutkan dengan memasak makanan untuk sesajen kepada para leluhur. Sajian yang dimasak berbahan ayam, beras ketan, ikan, serta sagu hutan (koito'). Sementara pengobatan akan dilakukan pada sore hari sambil meminta petunjuk dan perlindungan roh-roh leluhur.

Prosesi Motayok ini berakhir ketika matahari terbenam dengan membawa sesajian ke tempat yang telah ditentukan, lalu sisa sesajian itu akan dibagikan pada orang-orang yang hadir pada ritual pengobatan. Namun, pasien dilarang memakan sesajian agar penyakit bisa sembuh dengan cepat.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Suling dari Tanah Sunda, Alat Musik Tiup Sejak Manusia Purba

Koropak.co.id, 17 June 2022 07:29:39

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Satu dari sekian banyak alat musik yang identik dengan Sunda adalah suling. Kendati ukurannya terbilang kecil, keberadaan suling dalam satu pementasan bisa membuat suasana berubah. Kala suara suling mengalun mendayu, orang Sunda pasti seakan terbawa pada satu tempat yang menenangkan.

Suling merupakan waditra atau alat music tiup yang terbuat dari bahan bambu berlubang berdiameter 4,5 dan 6 milimeter. Biasanya digunakan untuk membawakan sebuah melodi lagu, baik mengiringi vokal (tembang dan kawih) maupun untuk dimainkan mandiri (tunggalan atau landangan).

Seiring berkembangnya teknologi, saat ini sudah banyak sekali ditemukan suling modern yang terbuat dari bahas perak. Meskipun begitu, suling juga masih tetap dianggap alat musik tradisional, karena telah digunakan sejak manusia purba yang hidup sekitar 100 ribu tahun yang lalu.

Selain di Tatar Sunda, suling ada juga di daerah lain di pulau Jawa. Di Provinsi Jawa Barat, ada banyak jenis suling berlubang empat, di antaranya suling degung bersurupan pelog, suling salendro, dan madenda.



Baca: Ritmik Alat Musik Rindik; Berawal dari Pemberontakan


Untuk membuat suling, biasanya jenis bambu yang digunakan adalah bambu tamiang, bambu buluh dan bambu iraten. Dari ketiga jenis bambu itu, bambu tamiang terkenal memiliki kulit yang lebih tipis dengan ruas yang panjang, sehingga bambu ini pun dinilai paling baik untuk dijadikan bahan suling.

Sementara bambu buluh dan iraten, memiliki kulit yang lebih tebal dengan ruas batangnya yang cenderung pendek. Oleh karena itu bambu tersebut seringkali hanya dijadikan sebagai bahan baku alternatif.

Kemudian untuk suliwer atau tali ikat menggunakan rotan cacing, dikarenakan teksturnya yang tipis dan mudah dibentuk. Selain itu, rotan jenis ini juga tahan terhadap air liur, sehingga membuat bahan ini tidak akan mudah lapuk.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Bubu Gila, Hiburan yang Melatih Ketangkasan

Koropak.co.id, 16 June 2022 07:47:31

Fauziah Djayasastra


Koropak.co.id - Ada ragam permainan rakyat yang nyaris tiada, bahkan sudah tidak diketahui di kalangan anak muda. Satu di antaranya adalah bubu gila dari Bengkulu. Ada juga yang menyebutnya bubu gilo atau lukah gilo.

Bubu gila yang oleh masyarakat Bengkulu disebut lukah gila (atau lukah gilo) adalah permainan yang diciptakan masyarakat zaman dulu untuk hiburan rakyat, baik selepas panen ataupun di acara pernikahan.

Selain sebagai hiburan, permainan tradisional ini juga melatih ketangkasan dan menguji keterampilan dalam mengendalikan alat penangkap ikan (bubu) yang sebelumnya telah dimantrai oleh seorang pawang.

Permainan ini konon telah ada sejak ratusan tahun silam dan diciptakan oleh suku Lembak: suku yang mendiami daerah-daerah di Provinsi Bengkulu dan sebagian bermukim di Provinsi Sumatera.

Cara memainkannya, dibutuhkan peserta berjumlah delapan orang. Mereka duduk berbaris menjadi dua barisan dengan sebuah alat penangkap ikan dari rautan bambu yang dijalin dengan rotan (bubu) dan diselubungi kain (pakaian) berwarna hitam.



Baca: Cingcowong, Ritual Masyarakat Kuningan Memanggil Hujan


Mereka memegang bubu, kecuali satu orang yang bertugas memegang jalinan lidi kelapa dengan benang warna hitam, merah, dan putih. Jalinan lidi itu dipukulkan pada triplek kecil, sehingga menghasilkan bunyi-bunyian. Selain membikin suara tak-tuk tak-tuk yang riuh, dia juga merapal mantra berbahasa Lembak.

Ketika triplek dipukul dan menghasilkan bunyi, bubu yang dipegang itu sontak seperti menari dan melompat-lompat, seakan ada sesuatu tak kasatmata yang menggerakkan bubu tersebut. Pemegang bubu akan berusaha terus memegang bubu.

Gerak bubu tersebut tidak sesuka hati, melainkan sesuai dengan keinginan sang pawang. Semakin keras lidi dipukul pada triplek dan semakin keras bunyi yang dihasilkan, maka bubu akan bergerak semakin tak terkendali.

Oleh karenanya, permainan ini diberi nama Bubu Gila. Sepintas, permainan ini terkesan mirip jelangkung. Bedanya, permainan ini akan berhenti ketika bubu jatuh maupun rusak. Masyarakat Lembak percaya jika bubu tersebut digerakkan oleh roh leluhur yang mereka panggil lewat pawang ketika membacakan mantra tadi.

Untuk memainkan permainan ini tidak ada syarat khusus bagi para pemain. Hanya dibutuhkan waktu untuk mempelajari mantra sehingga hapal di luar kepala. Terutama bagi pawang, dia harus punya antisipasi jika salah satu pemain atau penonton mengalami kesurupan.

Sebab tak hanya pemain, penonton juga kadang dilibatkan untuk memegang bubu jika permainan ini punya durasi yang panjang. Biasanya hanya untuk membuktikan kepada penonton jika hal tersebut bukan rekayasa.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Semangat Persaudaraan Batak dalam Dalihan Na Tolu

Koropak.co.id, 15 June 2022 15:17:54

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Suku Batak, Sumatera Utara, merupakan suku bangsa terbesar ketiga di Indonesia. Pada 2010 Badan Pusat Statistik melansir, populasi Suku Batak di Indonesia mencapai 8.466.969 jiwa. Itu setara dengan dengan 3,58 persen dari keseluruhan penduduk di Indonesia kala itu. 

Tak heran, ada seni budaya yang berkembang di sana. Salah satunya Dalihan Na Tolu. Itu merupakan aturan terkait perkawinan, hubungan kerabat sedarah, hingga hubungan keluarga satu marga meskipun berbeda keturunan.

Ada tiga bagian besar dalam Dalihan Na Tulo yang mengatur hubungan masyarakat dengan unsur adat dalam budaya Batak. Ketiga bagian itu adalah somba marhulahula atau sikap sembah atau hormat kepada keluarga pihak istri, elek marboru atau sikap membujuk atau mengayomi wanita, dan manat mardongan tubu atau sikap berhati-hati kepada teman semarga.

Dalihan Na Tolu juga memiliki arti "tungku yang berkaki tiga" yang membutuhkan keseimbangan mutlak. Jika satu dari ketiga kaki tungku tersebut rusak, maka tungku tidak dapat digunakan kembali. Filosofi tersebut dipilih oleh leluhur Suku Batak sebagai falsafah hidup dalam tatanan kekerabatan antara sesama yang bersaudara dengan hulahula dan boru.



Baca: Jangan Lupakan Mossak, Seni Bela Diri Khas Batak


Diperlukan keseimbangan dalam menjalani tatanan hidup antara tiga unsur itu. Untuk menjaga keseimbangannya diharuskan menyadari bahwa semua orang akan pernah menjadi hula-hula, boru, dan pernah menjadi dongan tubu.

Dalam adat Batak Toba, hula-hula merupakan keluarga laki-laki dari pihak istri atau ibu. Mereka adalah kelompok orang-orang yang posisinya sangat dihormati keluarga marga pihak istri. 

Sedangkan boru bisa diartikan sebagai marga yang terbagi menjadi dua, yaitu hela atau suami dari boru kita dan bere atau anak saudara perempuan kita yang memang dipandang oleh orang Batak masuk dalam unsur boru mengikuti ibunya.

Adapun dongan tubu adalah kelompok orang-orang yang posisinya 'sejajar', seperti  teman atau saudara semarga. Sebutannya Manat Mardongan Tubu yang berarti menjaga persaudaraan agar terhindar dari perseteruan.

Hula-hula dan boru harus saling menjaga kekerabatan yang ada antara dua keluarga. Hal yang perlu dilakukan oleh seorang hula-hula adalah menjaga tatanan yang sudah dibuat dalam keluarga. Di sisi lain, seorang boru juga dituntut untuk memiliki peran yang penting dalam aturan tersebut.

Hal itu dilakukan agar keseimbangan yang sejati bisa terjadi dalam tiga unsur tatanan. Masyarakat Batak meyakini bahwa tanpa adanya seorang boru, maka tidak akan ada gelaran pesta meriah.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Permainan Tuk Tuk Geni, Ajarkan Anak Cara Mematuhi Orangtua

Koropak.co.id, 15 June 2022 07:18:58

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Jika disuruh untuk menentukan pilihan, mungkin saat ini mayoritas anak-anak di Indonesia akan lebih memilih bermain video gim atau gadget ketimbang bermain di lapangan. Padahal, jika anak-anak terlalu sering bermain gim di ponsel, dampaknya tidak kecil. Bisa mengganggu kesehatan jiwa.

Beda halnya dengan permainan-permaintan tempo dulu, seperti Tuk Tuk Geni atau bisa disebut juga dengan permainan Nenek Gerandong yang berasal dari Betawi. Permainan tersebut menceritakan tentang seorang nenek gerondong yang miskin dan hendak mengambil ubi anak-anak. 

Untuk memainkan permainan ini, dibutuhkan pemain lebih dari dua orang. Selain bisa dimainkan di dalam ruangan, permainan ini juga bisa dimainkan di luar ruangan. Cara memainkannya terbilang sangat sederhana. Satu orang  pemain akan berperan sebagai nenek gerondong yang ditentukan melalui hompimpa. 

Setelah ditentukan siapa yang menjadi nenek gerondong, pemain lain pun kemudian akan duduk berbaris dengan memeluk pinggang pemain lain yang berada di depannya. Sementara untuk pemain yang paling depan biasanya akan memeluk pohon atau tiang yang kokoh. 

Selama permainan berlangsung, pemain yang berperan sebagai nenek gerondong pun akan melantunkan sebuah lagu dan akan dijawab beriringan oleh pemain lain yang duduk saling berpegangan dan berperan sebagai anak pemilik ubi. Biasanya lagu yang dilantunkannya itu adalah:

"Tok-tok-tok" (Nenek Gerondong)

"Siapa tuh?" (Anak-anak Pemilik Ubi)

"Nenek Gerondong" (Nenek Gerondong)



Baca: Ngadu Muncang, Dulu Jadi Alat Unjuk Kesaktian Zaman Kerajaan


"Mau minta apa?" (Anak-anak Pemilik Ubi)

"Mau minta ubi" (Nenek Gerondong)

"Baru daun satu" (Anak-anak Pemilik Ubi)

Setelah lagu berakhir, maka nenek gerondong pun akan menarik salah seorang pemain dari barisan secara acak. Akan tetapi, biasanya pemain paling belakang yang akan terlebih dahulu ditarik oleh nenek gerondong. 

Jika salah seorang yang menjadi sasaran nenek gerondong itu berhasil ditarik, maka pemain tersebut akan membantu nenek gerondong untuk menarik anak-anak lainnya agar bisa keluar dari barisan.

Setelah semua pemain terlepas, selanjutnya mereka pun harus berlari dan bersembunyi dari nenek gerondong. Sehingga, nenek gerondong pun selanjutnya akan bertugas untuk mencari para pemain.

Bagi orang pertama yang berhasil ditemukan oleh nenek gerondong, maka dialah yang akan menjadi nenek gerondong di permainan berikutnya.

Selain asyik untuk dimainkan, permainan ini juga memiliki berbagai manfaat bagi anak-anak, mulai dari dapat meningkatkan rasa kompetitif, kerjasama, kepekaan anak dalam mendengarkan perintah hingga sikap saling membantu dan melindungi sesama. 

Tak hanya itu saja, permainan ini juga akan mengajarkan anak-anak untuk senantiasa mematuhi perintah atau ucapan dari nenek atau orangtuanya. Karena jika mereka mengikuti segala perintah dan ucapannya, maka kehidupan mereka pun akan menjadi lebih baik.

Di sisi lain, permainan nenek gerondong ini juga mengajarkan kesetiaan, kehormatan dan kemuliaan kepada orang-orang yang lebih tua. Bahkan permainan ini juga dapat membantu anak dalam mengatasi rasa stress akibat belajar atau masalah lainnya dengan berlari, tertawa dan bernyanyi.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Ngelawang, Asal Ritual Sakral Penolak Bala di Bali

Koropak.co.id, 14 June 2022 07:28:00

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Bali punya banyak cerita. Bukan hanya tempat wisata nan menawan, tapi juga ada beragam adat istiadat yang memukau. Sebagai pulau dengan mayoritas penduduk beragama Hindu, salah satu tradisi yang rutin digelar adalah Ngelawang.

Itu merupakan ritual tolak bala yang dilakukan umat Hindu. Biasanya tradisi ini dilakukan oleh sekelompok dengan berkeliling banjar atau desa sambil menarikan barong dengan diiringi alunan gamelan dari rumah ke rumah. Sesuai namanya, Ngelawang, asal kata lawang yang berarti pintu, rumah ke rumah atau dari desa ke desa. 

Ritual tersebut muncul untuk mengembalikan ketenangan dan kedamaian di bumi yang diakibatkan adanya gonjang-ganjing dunia, musibah, dan bencana. Tarian, iringan musik, dalang, dan lain sebagainya diharapkan dapat menjadi penghibur bagi manusia, sehingga mereka bisa kembali tenang dan damai.

Biasanya, tradisi Ngelawang dilakukan pada hari raya Galungan Kuningan serta hari baik tertentu yang ditetapkan oleh masing-masing desa di Bali.



Baca: Tradisi Siat Yeh dan Kebo Dongol di Dua Desa Adat Bali Raih Sertifikat WBTb


Umumnya, Ngelawang dilakukan oleh sekelompok anak-anak dan remaja yang terdiri dari 8 hingga 15 orang. Dua diantara anak-anak atau remaja itu akan berperan sebagai penari dengan seperangkat pakaian barong yang lengkap, sementara sisanya akan berperan sebagai penabuh gamelan. 

Dalam setiap rute yang dilewati, para penonton yang menyaksikan dan menikmati tarian ini biasanya akan memberikan sedekah (punia) seikhlasnya sebagai imbalan dan rasa terima kasih. 

Meskipun Ngelawang ini merupakan tarian yang sarat akan nilai religi, namun tradisi ini bisa juga dinikmati oleh wisatawan, terutama yang berada di wilayah Kuta dan Ubud, sebagai pertunjukan seni unik, menghibur, dan menyenangkan. 

Berbicara mengenai sejarahnya, konon Ngelawang berasal dari mitologi Dewi Ulun Danu yang berubah menjadi seorang raksasa. Dia bertugas untuk membantu penduduk desa dalam mengusir roh-roh jahat.

Dahulu, Ngelawang merupakan ritual yang sacral, sehingga jika ada bulu-bulu barong yang tercecer, maka warga sekitar akan memungutnya dan menjadikannya sebagai benda bertuah. Seiring berjalannya waktu, kini tradisi ngelawang dijadikan sebagai pertunjukan seni yang dibawakan oleh anak-anak.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini: