Begini Sejarah Lengkap Tercipta Kuliner Lotek

Koropak.co.id, 28 January 2022 18:48:02
Penulis : Eris Kuswara
Begini Sejarah Lengkap Tercipta Kuliner Lotek

Koropak.co.id - Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki berbagai kebudayaan daerah, mulai dari pakaian tradisional, kesenian tradisional, bahasa daerah, dan makanan khas daerahnya. Kuliner di Provinsi Jawa Barat juga terkenal memiliki cita rasa yang unik sehingga tidak jarang digemari oleh banyak negara tetangga.

Diketahui yang menjadi ciri khas masakan Jawa Barat sendiri adalah rasa pedas dan kekreatifannya dengan menggunakan beberapa bahan yang dianggap kebanyakan orang tidaklah bermanfaat, akan tetapi di Jawa Barat justru itu menjadi makanan utama yang lezat. Salah satunya adalah lotek.

Dilansir dari budayaindonesia.org, Lotek merupakan salah satu makanan tradisional yang telah ada sejak zaman dahulu kala.

Lotek berisikan sayuran yang di bumbui oleh bumbu kacang yang dapat disajikan dengan lontong atau nasi hangat, kemudian disertai juga dengan kerupuk dan bawang goreng.

Lotek ini hampir mirip dengan pecel, yaitu jenis makanan dari beberapa sayuran yang sudah direbus kemudian disiram dengan menggunakan sambal dari bumbu bumbu kacang.

Namun yang menjadi keunikan dari makanan ini yaitu bahan untuk sambalnya di samping kacang, seringkali juga ditambahkan memakai tempe.

 

 


Baca : Serupa Tapi Tak Sama, Ini Perbedaan Gado-Gado, Karedok dan Pecel

Kemudian di dalam bumbunya juga turut ditambahkan terasi, gula merah, dan bawang putih. Sehingga mampu menimbulkan perpaduan rasa pedas dan manis pada makanan tradisional ini. Tak hanya itu saja, kandungan gizi alami dalam sayuran hijau pada makanan inj sangat banyak.

Selain kaya dengan vitamin A dan C, sayuran hijau juga mengandung berbagai unsur mineral seperti zat kapur, zat besi, magnesium dan fosfor.

Sementara itu, berdasarkan sejarahnya, awal mula kemunculan lotek terjadi pada tahun 1970. Saat itu, ada seorang jurnalis asal negara Inggris yang bertugas di Parongpong mencari salad.

Namun, di daerah tersebut hanya ada sayur-sayuran khas Indonesia, dengan keadaan seperti itulah jurnalis tersebut akhirnya menggunakan bahan seadanya dan membuatnya dengan menggunakan alat tradisional. Dia pun menyebutnya dengan 'low tech' alias Lo tek dengan lafal Sunda menjadi mendunia.

Bukan hanya dikaruniai berbagai pemandangan alam yang indah, Indonesia juga dilimpahi banyak makanan unik yang tersebar di penjuru negeri. Sehingga, menikmati citarasa khas dari sederet masakan nusantara seperti Lotek terkadang harus dilakukan.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

Komentar

Bandrek, Minuman Khas Sunda dengan Segudang Manfaat untuk Tubuh

Koropak.co.id, 05 February 2023 12:19:08

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Barat - Bandrek dikenal sebagai minuman khas Sunda yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat yang tinggal di wilayah Jawa Barat. Biasanya, Bandrek ini dikonsumsi saat cuaca dingin sebagai minuman yang menghangatkan tubuh.

Dikenal sebagai minuman tradisional, bandrek dibuat dengan bahan dasar jahe dan gula merah. Meski terlihat sederhana, ternyata ada sejarah dibalik begitu dikenalnya bandrek sebagai minuman yang kaya akan manfaat.

Berdasarkan sejarahnya, diketahui minuman bandrek ini sudah ada sejak abad ke-10 hingga abad ke-20. Pada masa itu, bandrek begitu dikenal sebagai minuman khas Sunda yang menggunakan bahan dasar rempah yakni jahe. Pasalnya rempah juga memang tengah menjadi primadona kala itu.

Tak jarang orang-orang Eropa pun rela menukarkan barang berharganya demi mendapatkan rempah. Sebab di Eropa, rempah memang sulit didapat. Dulu, bandrek juga tergolong sebagai minuman yang mewah hingga mempunyai harga tergolong tinggi. Alasan mengapa harganya mahal dikarenakan kandungan rempah-rempah dalam bandrek itu sendiri.

Seiring berjalannya waku, popularitas rempah-rempah pun kian meredup dikarenakan orang-orang Eropa saat itu lebih melirik komoditas kopi dan teh. Meredupnya popularitas rempah juga pada akhirnya membuat nama dan popularitas bandrek semakin menurun hingga membuatnya jarang dikonsumsi, namun masih ada sebagian orang yang meminum bandrek.

Meskipun begitu, sejak beberapa dekade terakhir, mengkonsumsi bandrek mulai kembali digemari masyarakat yang tidak hanya dilakukan masyarakat Sunda. Bahkan, bandrek juga hampir bisa ditemukan di beberapa daerah di Indonesia.

Di beberapa tempat, bahan dasar bandrek juga tidak hanya jahe dan gula merah. Ada juga yang menambahkan bandrek dengan bahan lainnya seperti cengkeh, telur ayam kampung hingga susu yang disesuaikan dengan selera masing-masing.



Baca: Akulturasi Budaya Indonesia-Cina, Lahirlah Wedang Ronde


Selain dapat menghangatkan tubuh, bandrek juga kaya akan manfaat lainnya untuk kesehatan lainnya. Diketahui kandungan jahe dalam bandrek itu juga mampu meredakan peradangan, meringankan gejala batuk, flu, demam, mual, pusing hingga nyeri sendi.

Seriring perkembangan zaman, kini minuman bandrek telah memiliki berbagai macam rasa. Tak hanya itu saja, saat ini bandrek juga bisa disajikan dengan cara instan. Akan tetapi di daerah Bandung, masih banyak pedagang yang menjual bandrek asli.

Saat ini, bandrek juga telah berinovasi dengan beraneka ragam rasa dan aroma, mulai dari Original Bandrek, Bandrek Susu, Bandrek Susu Telur, hingga Kopi Bandrek.

Sementara itu, bagi Anda yang ingin membuat bandrek sendiri pun caranya cukup mudah. Langkah pertama siapkan bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat bandrek, seperti jahe yang sudah dibakar, gula merah, kayu manis, cengkeh, daun pandan, garam, dan air.

Selanjutnya, rebus jahe bakar yang sudah di geprek bersama dengan bahan-bahan lainnya seusai selera dalam air yang mendidih dengan api sedang hingga mengeluarkan aroma. Bandrek pun akhirnya siap disajikan.

Tak jarang juga ada beberapa rempah lainnya seperti ayam kampung mentah, jeruk nipis hingga daun sirih yang dapat ditambahkan ke dalam bandrek jika menginginkannya.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Gulai Nangka, Adaptasi dari India Jadi Khas Minang

Koropak.co.id, 04 February 2023 12:17:04

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Sumatra Barat - Bagi kalian penikmat masakan Padang, tentunya sudah tidak asing lagi dengan makanan yang satu ini. Kuah kuning kentalnya dipadukan dengan lembutnya nangka muda, sangat cocok sekali disajikan dengan nasi hangat khas restoran Padang. Namanya Gulai Nangka.

Biasanya, Gulai Nangka disajikan sebagai pelengkap pada sajian makanan di restoran Padang. Kuliner khas Minang yang biasa disebut juga dengan Gulai Cubadak ini ternyata merupakan gulai yang paling rumit dibuat.

Alasannya dikarenakan dalam proses pembuatannya memakan waktu yang lama. Terlebih lagi pada saat mengupas nangka muda yang masih banyak diselimuti oleh getah yang lengket di tangan.

Lantas, bagaimana asal mula dari Gulai Nangka ini?

Diketahui, hidangan yang berasal dari Pulau Sumatra ini diadaptasi oleh pengaruh dan penerapan seni memasak India yang kaya akan rempah, sama halnya dengan Kari.

Sementara itu, kata "Gulai" sendiri merujuk pada salah satu bumbu hidangan yang terkenal dalam masakan Minangkabau. Berdasarkan sejarahnya, pada awalnya yang menjadi menu utama dalam Gulai Nangka adalah nangka muda. Namun seiring dengan berkembangnya zaman, masyarakat pun mulai menambahkannya dengan daging, jeroan, hingga jengkol.



Baca: Tentang Celimpungan, Perlambang Semangat Masyarakat Palembang


Bagi masyarakat Minangkabau, hidangan yang satu ini merupakan hidangan wajib yang biasa disuguhkan di pesta perkawinan. Bahkan konon katanya, jika ada orang yang tidak membuat Gulai Nangka atau Gulai Cubadak, maka pesta perkawinannya akan dirasa kurang menarik.

Biasanya masyarakat juga akan mengucapkan "Ka makan Gulai Cubadak lo wak lai" atau yang berarti akan ada pesta perkawinan dalam waktu dekat. Cubadak sendiri merupakan kata dalam bahasa Minang yang digunakan sebagai kiasan sesuatu yang tidak dikerjakan seseorang dan dampaknya pun bisa saja dia sendiri yang akan menerimanya.

Selain itu, kiasan "dampak yang buruk" juga biasanya akan digantikan dengan istilah "bak cando urang makan cubadak, urang nan makan awak nan anai gatahyo".

Sementara itu, rasanya yang pedas gurih berpadu dengan tekstur kuahnya yang kental itu ternyata merupakan hasil dari pemasakan dengan menggunakan periuk. Masyarakat Minang akan memasak Gulai Cubadak menggunakan periuk tanah liat di atas tungku bata serta kayu kering sebagai bahan bakarnya.

Hal tersebut pun dipercaya masyarakat mampu menghasilkan cita rasa yang khas pada Gulai Cubadak yakni seperti rasa yang lebih pekat dan kental.

Menariknya lagi, hidangan yang satu ini juga kerap dijadikan sebagai makanan pendamping bersama lontong atau ketupat. Bahkan di daerah asalnya, masyarakat biasa menyantap Gulai Cubadak dengan menggunakan telur rebus dan kerupuk merah muda.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Dari Lapangan Tawuran Hingga Saksi Kolonial, Inilah Matraman

Koropak.co.id, 03 February 2023 12:07:19

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Matraman, salah satu wilayah yang ada di Jakarta Timur ini punya kisah menarik bahkan sejak zaman penjajahan. Meski kerap dicap sebagai lapangan tawuran, kecamatan kecil di Jakarta Timur ini justru menjadi saksi bisu era kolonialisme di Indonesia.

Diketahui Matraman menjadi wilayah yang kerap kali terjadi aksi tawuran berdarah yang dilakukan antara warga Palmeriam, yang dihuni kaum Betawi dan pendatang dengan warga Bearland yang merupakan anak kolong atau tangsi tentara. Terkadang penyebab terjadinya tawuran berdarah itu karena masalah sepele. Salah satu contohnya, berebut lahan putaran atau Pak Ogah.

Hal itulah yang menyebabkan sampai dengan sekarang di sepanjang Jalan Matraman Raya, tidak ada lagi putaran atau Pak Ogah, hingga membuat jalan itu dipagari besi untuk meminimalisir terjadinya konflik antara dua wilayah yang bertetangga itu.

Berdasarkan sejarahnya, awal mula nama Matraman masih menjadi perdebatan. Dilansir dari laman Dinas Kebudayaan Jakarta, nama Matraman sendiri berasal dari kata Mataraman. Namun ada juga versi lain yang menyebutkan bahwa Matraman ini berkaitan dengan pasukan Mataram yang tidak berani pulang dan mendiami kawasan tersebut hingga namanya menjadi Matraman.

Sementara itu, berdasarkan penuturan Pemerhati Masalah Sosial dan Budaya, Lily Utami dalam tulisan yang pernah diunggah akun Twitter @perpusnas1, menyebutkan bahwa kata Matraman diambil dari kata Mataraman. Alasannya dikarenakan kawasan tersebut dulunya dijadikan sebagai markas pasukan Mataram dalam penyerangan kota Batavia (sekarang Jakarta) melalui darat.

Diceritakan kala itu, pasukan Mataram yang dipimpin oleh Sultan Agung sebanyak dua kali menyerang Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) yang dipimpin Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen di Batavia pada 1628 s.d 1629-an. Seiring berjalannya waktu, pelafalan kata Mataram di kawasan itu pun berubah menjadi Matraman karena lidah orang Betawi.



Baca: Legenda Mbah Kondor, Monyet Penjaga Ancol Sebelum Jadi Taman Impian


Pada 1811-an, kawasan Matraman pun kembali menjadi tempat pertempuran antara pasukan Inggris dan Belanda. Dalam pertempuran itu, pasukan Inggris berhasil meraih kemenangan dan membuat mereka memulai masa pendudukan Inggris di Pulau Jawa. Selain itu, Thomas Raffles pun membangun kubu pertahanan di kawasan Matraman sampai dengan Jatinegara.

Keterkenalan Matraman sebagai lapangan pertempuran dan kejahatan itu bahkan telah dimulai sejak awal 1900-an. Hal tersebut bisa dilihat dari Koran Bintang Betawi yang memberitakan beberapa kejahatan, salah satunya dimuat pada 3 Juli 1902.

Akan tetapi ada juga yang menyebutkan bahwa nama Matraman berasal dari suatu tempat di Kelurahan Pal Meriam. Diketahui, asal usul wilayah Pal Meriam sendiri diberikan oleh seorang pangeran Mataram kepada pamannya dalam penyerangan ke VOC. Kala itu Pangeran tersebut berkata, "Monggo, Paman" (Silakan, Paman).

Selain itu, konon tempat itu juga merupakan bekas tancapan tongkat Pangeran dari Mataram hingga pada akhirnya tempat tersebut dikeramatkan orang dan dinamakan Kampung Matraman. Adapun versi lain yang mengatakan bahwa Matraman berasal dari masjid kecil di pinggir Ciliwung.

Dikisahkan bahwa pada masa itu Pangeran Matraman pernah menggunakan masjid tersebut hingga wilayah masjid itu menjadi Kampung Matraman Dalam, Kelurahan Pegangsaan, Kecamatan Menteng.

Kini, Kecamatan Matraman membawahi enam kelurahan di Jakarta Timur, yakni Kelurahan Pisangan Baru, Utan Kayu Selatan, Utan Kayu Utara, Kayu Manis, Pal Meriam, dan Kelurahan Kebon Manggis.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Wedang Tiyung, Minuman Pemberi Kehangatan Bagi Jenderal Soedirman Saat Bergerilya

Koropak.co.id, 02 February 2023 15:10:28

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Yogyakarta - Ada momen menarik dalam peristiwa bersejarah, perang gerilya yang dilakukan Jenderal Soedirman beserta pasukannya. Diceritakan bahwa pada momen perang gerilya pada masa itu, hampir sepekan lamanya Jenderal Soedirman bersama pasukannya menetap di daerah Kretek yang berjarak sekitar 30 kilometer dari Kota Yogyakarta.

Bukan tanpa alasan, hal itu dilakukan Jenderal Soedirman karena saat itu Kali Opak sedang meluap. Dalam buku Tempo, Jamaluddin, seorang tentara dapur masih mengingat tugasnya untuk memberi makan dan minum pasukan, salah satunya adalah teriakan dokter pribadi Jenderal Soedirman, Soewondo yang meminta wedang.

Selain Soewondo, Jamaludin juga mengingat Kapten Soepardjo Roestam selalu minta teh panas untuk Soedirman. Hal ini dikarenakan saat momen perang gerilya tersebut, sang Panglima TNI tengah jatuh sakit, hingga merasa nyaman jika meminum sesuatu yang panas dan manis.

Jamaludin juga bahkan masih mengingat merek teh yang dibuatkan untuk Jenderal Soedirman. Namanya Teh Sruni. Teh yang memiliki bau langu itu merupakan jatah untuk semua tentara Republik. Kemudian ada satu lagi wedang kegemaran Jenderal Soedirman yakni teh tiyung, daun jeruk yang diseduh air panas ditambah gula pasir hingga menghasilkan warna yang merah.



Baca: 27 Juni 1947; Semula Guru, Jenderal Soedirman Jadi Panglima Besar


Dengan minuman itu, Jenderal Soedirman mendorong obat-obatan ke kerongkongan. Obat-obatan yang diminum sang Jenderal itu di antaranya codeine, sejenis obat gangguan pernapasan. Diketahui sejak dioperasi pada November 1948, Soedirman harus hidup dengan sebelah paru-paru.

Dalam hal makanan, Jenderal Soedirman sendiri tidak pernah pilih-pilih dan dia memakan makanan yang sama dengan seluruh prajuritnya. Terlebih lagi saat itu sedang pada masa gerilya, sehingga semua serba seadanya. Terkadang makanan yang disajikan nasi berteman rebusan daun lembayung, atau terkadang juga tempe.

Biasanya, ransum untuk Jenderal Soedirman yang diantar sampai pintu kamar tersebut dalam rantang dan satu rantang untuk sekali makan. Akan tetapi, seringkali dari tiga rantang yang dikirim hanya satu yang habis. Hal itu dikarenakan, sang jenderal sering berpuasa.

Selain dapur umum, penduduk juga sering mengirimkan makanan untuk para pejuang meskipun mereka memang kerap sekali kekurangan makanan. Sehingga untuk menutupi kebutuhan penduduk, Jenderal Soedirman pernah meminta perhiasan Siti Alfiah untuk ditukarkan dengan ayam dan beras.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Muasal Aceh Dijuluki Serambi Mekkah

Koropak.co.id, 02 February 2023 07:10:22

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Aceh - Nanggroe Aceh Darussalam atau yang kerap disebut sebagai Aceh saja merupakan sebuah provinsi yang berada di ujung barat Indonesia dan menjadi salah satu daerah yang menjalani otonomi khusus layaknya DKI Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan provinsi di Papua.

Sebagai daerah istimewa, membuat Aceh memiliki keunikan tersendiri. Seperti dari segi hukum yang diterapkan di Aceh adalah menggunakan hukum syariat. Sehingga, daerah ini pun sangat kental dengan penerapan nilai-nilai keislaman. Di sisi lain, Aceh juga memiliki salah satu julukan yang sangat terkenal, yaitu Serambi Mekkah.

Lantas, apa yang menjadi alasan Aceh dijuluki Serambi Mekkah?

Diketahui sebenarnya, julukan Serambi Mekkah yang melekat pada Aceh ini bukanlah suatu hal yang baru. Pasalnya, julukan itu sendiri sudah bermula sejak Aceh masih dipimpin oleh sistem kerajaan Kesultanan Aceh.

Bahkan, daerah Aceh inilah yang menjadi awal mula kemunculan Samudera Pasai sebagai kerajaan Islam pertama sekaligus juga menjadi gerbang masuknya agama Islam ke bumi Nusantara.

Menariknya lagi, nama Serambi Mekkah ini juga bahkan sudah tercatat dalam kitab ulama penasehat Kesultanan Aceh, Syekh Nuruddin Al-Raniri. Dalam kitabnya itu, terdapat sebuah kata yang tertulis dalam bahasa Aceh yaitu Seuramoe Mekkah yang artinya adalah Serambi Mekkah.

Alasan penyebutan Serambi Mekkah ini sendiri bermula ketika Aceh menjadi tempat singgah bagi para umat Islam yang hendak melaksanakan ibadah haji ke tanah suci. Dimana pada zaman dahulu kapal menjadi moda transportasi utama, terlebih lagi jika harus pergi ke negeri seberang.



Baca: Kilas Sejarah Mengapa Aceh Pernah Berstatus Daerah Istimewa


Selain itu juga, pada zaman tersebut umat Islam yang harus berangkat ke tanah suci tidaklah banyak. Sebab, untuk melakukan ibadah haji saat itu membutuhkan biaya yang sangatlah banyak, ditambah lagi perjalanannya juga yang menghabiskan waktu hingga berbulan-bulan lamanya.

Mengingat lokasi Aceh juga berada di ujung paling barat Indonesia, dan di sisi lain memang jalur pelayaran menuju ke Mekkah itu harus melewati Selat Malaka. Sehingga Aceh pun dirasakan sangat cocok untuk dijadikan tempat para jemaah haji yang terlebih dahulu melakukan transit.

Terlebih lagi saat itu Aceh juga menjadi pusat dari perkembangan agama Islam. Uniknya lagi, umat Islam yang hendak melaksanakan ibadah haji itu juga ternyata tidak hanya sekedar transit saja di Aceh. Akan tetapi, mereka juga disana belajar soal pelaksanaan haji, seperti manasik hingga memakan waktu berbulan-bulan.

Jika mereka semua sudah memahami soal manasik haji, selanjutnya mereka pun akan segera diberangkatkan. Kemudian ketika pulang pun, mereka juga tidak akan langsung pulang ke daerahnya masing-masing. Akan tetapi mereka akan tetap singgah sejenak di kawasan Aceh.

Bahkan, ada juga yang sampai memutuskan untuk menetap dan menikah dengan warga lokal. Sehingga pada akhirnya mereka pun memiliki keturunan yang menjadi penduduk Aceh.

Diibaratkan sebuah "teras" atau "serambi" yang menjadi tempat berkumpulnya para calon jemaah haji sebelum menapakkan kakinya di tanah suci, maka julukan Serambi Mekkah ini juga sangat melekat pada daerah tersebut sampai dengan sekarang.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Hari Hijab Sedunia 2023; Perjuangan Wanita Muslim Lawan Hijabofobia

Koropak.co.id, 01 February 2023 07:13:13

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Tepat hari ini, tanggal 1 Februari, diperingati sebagai Hari Hijab Sedunia atau World Hijab Day dan Nazma Khan menjadi sosok di balik pendiri dan penggaung Hari Hijab Internasional tersebut.

Diketahui, peringatan Hari Hijab Sedunia ini pertama kalinya muncul pada 2013 lalu. Tidak asal-asalan, Hari Hijab Sedunia dibuat untuk melihat jutaan wanita muslim yang mulai memilih menggunakan hijab untuk mode di samping anjuran agama.

Diceritakan, kala itu Nazma pun berniat untuk mendorong kebebasan pribadi dalam mengekspresikan agama Islam termasuk dengan penggunaan hijab. Nazma sendiri merupakan aktivis sosial asal Bangladeh yang tinggal di New York, Amerika Serikat sejak usia 11 tahun. 

Di tingkat sekolah menengah, Nazma menjadi satu-satunya orang yang menggunakan hijab. Pada saat masa sekolah, Nazma sendiri mengaku mendapatkan banyak pengalaman yang terjal, seperti perlakuan diskriminasi, mulai dari cemoohan, hingga dikaitkan dengan citra teroris. 

Sehingga, berawal dari sanalah Nazma pun pada akhirnya membuat World Hijab Day dengan tujuan untuk memutus mata rantai diskriminasi bagi orang-orang yang berhijab. Salah satu gerakan yang dilakukannya adalah dengan mendorong orang-orang dari ragam lapisan masyarakat untuk merasakan menggunakan hijab selama satu hari tepat pada 1 Februari setiap tahunnya. 

Dilansir dari situs World Hijab Day, gerakan yang dibuat Nazma tersebut ternyata cukup mendapatkan perhatian publik tentang kontroversi penggunaan hijab di kalangan wanita muslim. Mengawali konsep eksperimental itulah, hingga saat ini setiap tahunnya diperkirakan lebih dari 150 negara berpartisipasi dalam Hari Hijab Sedunia. 

Selain itu, mereka juga memiliki banyak sukarelawan di seluruh dunia untuk menyebarkan kesadaran mengenai penggunaan hijab di muka publik. Tak berhenti sampai disana saja, penggunaan hijab di wilayah Barat ini juga semakin dilirik. Bahkan New York, tempat Nazma tinggal sejak belia juga pada akhirnya memberi pengakuan tentang Hari Hijab Sedunia pada 2017 lalu. 

Menariknya lagi, kesadaran mengenai hijab itu juga semakin menyebar di Inggris. Tak hanya itu saja, House of Commonc of the U.K juga menggalakan penegasan hak bagi perempuan untuk memilih apapun yang mereka kenakan di manapun dan kapan pun.



Baca: Hari Hijab Sedunia, Kampanyekan Kerukunan Umat Beragama


Seiring berjalannya waktu, Hari Hijab Sedunia tidak hanya diperingati dari sisi toleransi beragama saja, akan tetapi juga mengenai hak-hak perempuan di seluruh dunia. Pada 2018, World Hijab Day pun berdiri sebagai organisasi dengan misi menumpas diskriminasi dan prasangka buruk terhadap perempuan berhijab.

Kemudian pada 2021 lalu, Nazma juga menggelar International Muslim History Month untuk memutus stigma Islamofobia secara global, serta menghormati dan merayakan kontribusi pria dan wanita Muslim dalam sejarah.

Seiring dengan perkembangannya, peringatan Hari Hijab Sedunia ini semakin disambut positif oleh masyarakat Dunia. Raksasa media sosial dari Facebook dan Instagram, Meta juga turut menyebarkan peringatan Hari Hijab Sedunia tepat 1 Februari 2022 lalu dalam misi organisasinya.

Di tahun yang sama, Nazma juga menjadi pembicara tamu dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Wanita dan keadilan Internasional ke-5 yang berlangsung di Turki. 

Di sana, Nazma pun membawakan topik diskriminasi yang kerap dihadapi wanita Muslim berhijab di muka umum, termasuk juga dengan larangan hijab dalam dunia kerja yang masih banyak terjadi di berbagai perusahaan di dunia.

Sementara itu, dalam peringatan Hari Hijab Sedunia tahun 2023 ini, Organisasi Hari Hijab Sedunia menyerukan kepada semua komunitas untuk menentang diskriminasi terhadap wanita Muslim yang memilih untuk memakai jilbab. 

Tahun ini juga akan menjadi perayaan Hari Hijab Sedunia ke-11 yang mengusung tema "Progression, not oppression" atau "Kemajuan, Bukan Penindasan" dan dengan tagar #UnapologeticHijabi. Organisasi Hari Hijab Sedunia juga mengundang semua individu yang tertarik untuk mendukung kampanye tersebut dalam misinya membongkar Hijabofobia secara global.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Muasal Makanan Perkedel, Suku Frikadel Dibawa Belanda

Koropak.co.id, 30 January 2023 12:14:07

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Namanya Perkedel. Satu dari sekian banyaknya makanan yang sangat populer di Indonesia. Bahkan di berbagai daerah Indonesia, kita bisa dengan mudah menemukan makanan yang satu ini tersaji di atas meja makan keluarga. 

Bukan hanya itu saja, di warung makan, entah itu warung nasi Tegal atau pun warung nasi Padang, sajian perkedel seolah tak pernah absen sebagai salah satu menu makanan yang dihidangkan.

Biasanya, perkedel kerap dijadikan sebagai lauk pendamping di antara lauk-pauk yang sudah menjadi santapan utama. Tak jarang juga, perkedel hadir untuk melengkapi makanan-makanan lokal lainnya seperti soto.

Namun pernahkah kalian berpikir tentang asal usul dari perkedel yang hingga pada akhirnya bisa tercipta dan menjadi salah satu makanan khas Indonesia?

Berdasarkan sejarahnya, asal usul perkedel berawal dari kedatangan Belanda yang memang turut mempengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk dari segi budaya. Dalam hal ini, kuliner menjadi peninggalan Bangsa Kompeni yang masih bisa kita lihat sampai dengan sekarang.

Dari pengenalan makanan tersebut, sehingga bisa diketahui masyarakat Indonesia dan pada akhirnya diadaptasi dengan sentuhan lokal di berbagai daerah. Tentunya hal tersebut secara tidak langsung semakin menambah kekayaan kuliner di Indonesia. Termasuk salah satunya tentang perkedel.

Sebenarnya makanan yang satu ini terinspirasi dari salah satu kudapan yang kerap dikonsumsi orang-orang Belanda, yaitu frikadel. Selain itu, makanan ini juga kerap disebut dengan frikadelle, frikadellen, atau frikadeller, tergantung dari bahasanya.

Frikadel sendiri terbuat dari daging sapi atau daging babi cincang yang kemudian dicampurkan dengan berbagai bahan seperti bawang, parsley, telur, dan berbagai bumbu khas lainnya. Setelah itu dibentuk menjadi bulat pipih, lalu dimasak. Meskipun begitu, sebenarnya frikadel juga tidak hanya bisa ditemui di Belanda saja.



Baca: Serupa Tapi Tak Sama, Ini Perbedaan Gado-Gado, Karedok dan Pecel


Pasalnya makanan tersebut juga bisa ditemukan di berbagai daerah di kawasan kawasan Eropa seperti Jerman, negara-negara Skandinavia, hingga Polandia. Bahkan, sebenarnya ada kemungkinan yang mengatakan bahwa makanan ini berasal dari Denmark atau Jerman.

Ketika Frikadel sudah mulai banyak dikonsumsi orang-orang Belanda, hal itu pun cukup menarik perhatian masyarakat lokal. Namun sayangnya dikarenakan makanan itu terbuat dari daging yang tergolong sulit dan mahal untuk masyarakat pribumi mendapatkannya, maka terlintaslah sebuah ide untuk membuat alternatifnya.

Caranya, masyarakat pribumi pun menggunakan bahan-bahan hasil bumi lokal yang cenderung mudah untuk didapatkan, yaitu kentang. Meskipun menggunakan bahan berbeda, akan tetapi cara pembuatannya mirip dengan bagaimana orang-orang Belanda membuat frikadel.

Hanya saja, yang membedakannya terletak pada bahan utama daging yang benar-benar diganti oleh masyarakat pribumi dengan kentang yang telah dicampurkan telur dan berbagai bumbu lainnya. Kemudian dengan dicelupkan ke telur terlebih dahulu, bahan ini pun selanjutnya digoreng hingga menjadi perkedel khas Indonesia.

Fadly Rahman dalam buku "Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia masa Kolonial 1870-1942" menyebutkan, nama "frikadel" ini sedikit sulit untuk diucapkan oleh orang-orang pribumi. Sehingga lama kelamaan makanan itu pun disebut dengan adaptasi ucapan lokal menjadi "perkedel". 

Di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah, penyebutan makanan ini pun berubah menjadi "bergedel". Seiring berkembangnya zaman, makanan ini pun terus diwariskan secara turun temurun. Bahkan saat ini, berbagai variasi perkedel pun bisa ditemui di setiap daerah.

Seperti ada yang menggunakan campuran ikan atau daging tertentu, menggunakan singkong sebagai pengganti kentang, mencampurkannya dengan tahu, atau menggunakan bumbu khasnya sendiri. Variasi yang dilakukan itu tentunya turut memperkaya kekayaan kuliner khas Indonesia.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Selalu Hadir di Perayaan Imlek, Filosofi Kue Mangkok yang Penuh Arti

Koropak.co.id, 29 January 2023 07:15:18

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Di tilik dari perjalanan sejarahnya, tentunya orang-orang keturunan Tionghoa sudah lama menjadi bagian dari masyarakat Indonesia. Bahkan mereka juga turut melakukan pertukaran budaya dengan masyarakat lokal serta menjalankan tradisi khasnya di Indonesia.

Seperti, perayaan Imlek yang masih terus dijalankan dari masa ke masa. Selanjutnya, pengaruh lain yang bisa di temukan adalah dari segi kuliner. Yang mana, makanan orang-orang Tionghoa itu juga turut diperkenalkan dan membuatnya mulai dikenal masyarakat lokal hingga menjadi kuliner yang semakin umum ditemui di Indonesia.

Tak ayal, beberapa kuliner pun menjadi bagian dari perayaan Imlek. Sebut saja kue Mangkok. Kue ini memiliki filosofi dari segi penggunaannya, yakni sebagai salah satu kuliner yang tak pernah absen saat Hari Raya Imlek tiba.

Mungkin, kue Mangkok ini kerap ditemui sebagai salah satu jajanan pasar. Namun, tahukah Anda bahwa sebelumnya makanan ini sebenarnya berasal dari Tiongkok?

Berdasarkan sejarahnya, kue mangkok awalnya diperkenalkan oleh masyarakat Tionghoa yang berasal dari daerah Fujian atau yang biasa dikenal sebagai orang Hokkien. 

Di daerah asalnya, tentunya makanan yang satu ini sudah sangat populer. Bahkan, kue Mangkok ini juga telah menjadi bagian dari pelaksanaan berbagai tradisi yang dilakukan orang-orang Tionghoa, salah satunya Imlek. 

Jika di Indonesia dikenal dengan kue mangkok, berbeda dengan orang Tionghoa yang menyebutnya dengan nama Fa Gao. Jika dilihat secara sekilas, mungkin bentuk dari kue ini tampak seperti cupcake. Hanya saja, warna dari kue mangkok ini terlihat lebih mencolok seperti warna merah, hijau, putih, ungu, dan lain sebagainya.



Baca: Sejarah Warna Merah di Hari Raya Imlek


Selain itu, secara tekstur juga kue ini bertekstur cukup lembut ketika digigit. Berbeda dengan daerah asalnya, di Indonesia, pembuatan kue ini telah diadaptasi dengan bahan lokal. Di Indonesia, kue Mangkok dibuat dengan tape singkong sebagai bahan campurannya, sehingga membuat rasanya memiliki ciri khas tersendiri.

Di sisi lain, pemilihan warna kue yang mencolok itu juga bukanlah tanpa alasan. Sebab, orang-orang Tionghoa memiliki filosofinya tersendiri terkait warna cerah yang kerap digunakan pada kue tersebut, yaitu sebagai simbol dari kebahagiaan.

Terlebih lagi pemilihan warna merah yang telah menjadi salah satu warna andalan dan menjadi ciri khas orang-orang Tionghoa. Warna ini jugalah yang menjadi prioritas untuk digunakan sebagai bahan pewarnaan kue mangkok ketika melakukan tradisi.

Di bagian atas kue Mangkok, biasanya terdapat bentuk yang mekar layaknya kelopak bunga. Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, apabila jumlah bagian yang melar tersebut semakin banyak, maka kemakmuran seseorang juga akan semakin bertambah setelah hari Imlek. Selain itu, bentuk layaknya kelopak bunga ini juga melambangkan nasib baik dan kebahagiaan.

Sementara itu, ketika melakukan tradisi atau saat sembahyang, apabila membawa kue Mangkok ini sebagai sebuah persembahan, maka jumlahnya pun harus ganjil, seperti membawa 3 kue, 5 kue, 7 kue, 9 kue, dan seterusnya dalam satu keranjang. Sebab, angka yang ganjil itu sendiri juga mempunyai maknanya tersendiri.

Misalnya jika jumlahnya 3, hal tersebut melambangkan akhirat, dunia, dan neraka. Lalu ada juga makna lain dari angka yang berbeda. Intinya, semakin banyak jumlah kue yang diberikan, maka kemakmuran seseorang itu juga diharapkan akan semakin bertambah.

Selain itu juga ada pula kue Mangkok yang diberikan hanya 1 buah, namun memiliki bentuk yang lebih besar dimana hal ini melambangkan Tuhan yang Maha Esa.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Perjalanan Lapis Legit; Dari Orang Belanda, Kini Jadi Sajian Imlek Masyarakat Tionghoa

Koropak.co.id, 28 January 2023 12:06:43

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Perayaan Imlek selalu identik dengan berbagai hidangan yang penuh makna dan filosofi. Diketahui, salah satu makanan yang biasanya wajib tersaji di meja makan saat perayaan Imlek adalah kue lapis legit.

Bukan hanya dikarenakan cita rasanya yang manis dan enak, namun bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia, kudapan yang satu ini dipercaya mampu mendatangkan rezeki yang berlimpah. Bahkan semakin banyak lapisan pada kue lapis legit, maka semakin banyak pula rezeki yang akan diperoleh.

Masyarakat Tionghoa juga meyakini bahwa kue lapis legit sebagai simbol kemakmuran. Banyaknya lapisan kue lapis legit, melambangkan rezeki yang tidak ada habisnya. Selain itu, pembuatan lapis legit yang tergolong sulit juga menggambarkan perjuangan dalam mewujudkan impian. 

Meskipun harus bersusah payah dan menghabiskan waktu yang lama, namun nantinya akan memperoleh hasil yang memuaskan. Dari segi rasa, lapis legit memang tergolong sebagai kudapan yang sangat enak dan dunia juga telah mengakuinya. Hal itu dibuktikan dengan pernah masuknya lapis legit dalam 14 kue nasional terlezat di dunia versi Media internasional CNN Travel.

Sejak dulu sampai dengan sekarang, kudapan yang satu ini memang tak pernah absen menemani perayaan Imlek di Indonesia. Sebab, kue ini juga dianggap sebagai warisan nenek moyang. Akan tetapi pada kenyataannya lapis legit justru bukan berasal dari Indonesia, melainkan dari Belanda.

Sejarah mencatatkan bahwa sebenarnya lapis legit terinspirasi dari kue lapis hasil ciptaan orang Belanda yang dinamakan Spekkoek selama tinggal di Hindia Belanda pada masa penjajahan. Diketahui, kata Spek berarti minyak atau lemak babi yang tampak berlapis-lapis, sedangkan koek berarti bolu.

Kue tersebut biasanya dimasak untuk menggantikan speculaas yang tidak ada di Indonesia. Padahal kue ini termasuk menu wajib dalam perayaan Natal, Tahun Baru, atau pesta Sinterklaas di Belanda. Meskipun dua kue ini berbeda, namun dari segi bentuk, spekkoek sangat mirip dengan lapis legit ala Indonesia. 



Baca: Gutel, Kudapan Legendaris Aceh yang Jadi Bekal Para Pejuang Kemerdekaan


Kue itu juga bahkan terdiri dari minimal 10 lapisan. Bedanya spekkoek terbuat dari dua adonan yakni rasa vanila berwarna putih dan bumbu kue jahe (gingerbeead), sehingga menciptakan rasa manis bercampur pedas. Lapisan yang berbeda itu kemudian ditumpuk satu per satu hingga menghasilkan perpaduan warna yang cantik.

Seiring berjalannya waktu, Orang-orang peranakan Tionghoa pun mengganti resep kue spekkoek Belanda yang awalnya berbahan lemak babi dengan berbagai rempah khas Indonesia, seperti kapulaga, bunga pala, cengkeh, adas manis, dan kayu manis. 

Lalu, mereka juga menambahkan kuning telur, tepung terigu, gula, dan mentega dengan jumlah yang cukup banyak. Sementara untuk proses pembuatannya sendiri kurang lebih sama. Untuk satu adonan lapis legit, biasanya dibutuhkan 30 s.d 40 butir telur. 

Setelah bahan-bahan tercampur rata, adonan pun dituangkan ke cetakan lalu dipanggang selapis demi selapis secara terpisah. Pemanggangan setiap satu lapis ini mungkin bisa menghabiskan waktu 8 s.d 10 menit. Teknik melelahkan inilah yang pada akhirnya melahirkan nama lapis legit.

Pembuatan kue lapis legit juga terbilang sulit dikarenakan membutuhkan ketelatenan dan kesabaran untuk melapisi adonan dengan baik hingga 18 s.d 23 kali selama 4 s.d 6 jam. Kesulitan dalam pembuatan ini jugalah yang membuat lapis legit dihargai antara ratusan ribu sampai dengan jutaan rupiah untuk satu loyang berukuran 20x20 sentimeter.

Kini lapis legit sudah banyak mengalami perubahan dan modifikasi. Mulai dari segi rasa, motif lapisan, hingga bahan yang disesuaikan dengan tren dan perkembangan zaman. Sehingga membuat lapis legit pun bisa menarik lebih banyak kalangan. Biasanya beberapa perisa yang dimasukkan untuk memperkaya rasa, seperti cokelat, pandan, dan kismis.

Di samping itu, jika biasanya lapis legit bentuknya rata, namun kini ada lapis legit gulung. Beberapa varian lapis legit yang terkenal diantaranya lapis legit spekuk, lapis legit prunes, dan lapis legit bilik. 


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Jaya Suprana dan Sejarah Awal Berdirinya MURI

Koropak.co.id, 27 January 2023 12:12:42

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Tanggal 27 Januari 1990, menjadi momen bersejarah bagi Museum Rekor Indonesia atau Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Pasalnya, tanggal tersebut menjadi momen dimana MURI secara resmi berdiri di Kawasan Perindustrian Jamu Jago, Srondol, Semarang Selatan.

Adalah Jaya Suprana, yang mendirikan MURI tepat di ulang tahunnya yang ke-41 tahun pada 27 Januari 1990. Tak berdiri sendiri, pendirian MURI ini disokong oleh Perusahaan Jamu Jago sebagai ekspresi semangat pengabdian terhadap kebudayaan perusahaan jamu tertua di Indonesia itu.

Diketahui, Jaya Suprana merupakan tokoh Indonesia yang dikenal multitalenta atau ahli dalam banyak bidang. Sehingga ia pun bisa disebut sebagai seorang pianis, kartunis, budayawan, pemerhati sosial, hingga pengusaha. Bahkan ketika menyebut namanya saja, terkadang akan membuat kita teringat dengan MURI.

Saat itu, peresmian tersebut disahkan oleh dua Menteri Koordinator Republik Indonesia, yaitu Menko Kesra Supardo Rustam dan Menko Polkam Sudomo. Selain itu, turut hadir pula Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) kala itu, Ibnu Sutowo, dan Gubernur Jawa Tengah, Ismail.

Seiring berjalannya waktu, masyarakat memberikan respons baik terhadap museum ini. Bahkan rekor-rekor yang diciptakannya juga tidak hanya terbatas di Indonesia saja, melainkan juga sampai ke tingkat dunia. Maka dari itulah namanya pun berubah.



Baca: Sejarah Terbentuknya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)


Setelah ada peresmian galeri MURI di kawasan wisata Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah pada April 2005 lalu, diselipkan kata "Dunia" pada MURI. Sehingga dari nama awalnya Museum Rekor Indonesia, menjadi Museum Rekok-Dunia Indonesia. 

Tercatat hampir satu dekade kemudian atau tepatnya pada 2014, MURI secara resmi membuka Galeri di Mall of Indonesia, Jakarta, yang secara khusus menampilkan koleksi rekor-rekor dunia.

Dilansir dari laman resmi MURI, pada awal dekade 2000, istri Jaya Suprana, Aylawati Sarwono mulai berperan sebagai Direktur MURI yang gigih dalam mengembangkan manajemen MURI agar menjadi lebih profesional melalui lembaga Institut Prestasi Nusantara. 

Selain itu, kumpulan rekor MURI juga telah dibukukan dengan judul Rekor-Rekor MURI yang disunting oleh Aylawati Sarwono dan diberi kata sambutan oleh Presiden RI. 

Selain menjadi lembaga pencatat rekor, MURI juga berfungsi sebagai lembaga swadaya masyarakat. Kemudian setiap tahunnya juga, MURI aktif dalam menghimpun data dan capaian prestasi yang diterima anak bangsa.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Mengenang 42 Tahun Tenggelamnya KMP Tampomas II di Perairan Masalembo

Koropak.co.id, 27 January 2023 07:01:27

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Hari ini, 48 tahun lalu atau tepatnya tanggal 27 Januari 1981 silam, Kapal Motor Penyebrangan (KMP) Tampomas II terbakar dan tenggelam di Perairan Masalembo, Laut Jawa. 

Kala itu, kapal yang dikelola PT Pelni ini tengah berlayar dari Jakarta menuju Ujungpandang (sekarang Makassar) sejak 24 Januari 1981. Terhitung sejak 1980-an, KMP Tampomas yang sebelumnya digunakan untuk melayani perjalanan haji itu menjadi salah satu kapal laut yang melayani penumpang antarpulau. 

Lalu, bagaimana kronologi kejadian tenggelamnya KMP Tampomas II di Perairan Masalembo ini?

Diceritakan bahwa tanda-tanda musibah itu sebenarnya sudah terlihat dari rusaknya salah satu mesin kapal sebelum bertolak dari Dermaga Tanjung Priok. Kapal yang dijadwalkan sudah sampai di Makassar sekitar pukul 10.00 WIB pagi pada 26 Januari 1981 itu pun pada akhirnya tidak pernah sampai tujuan, dan karam untuk selama-lamanya. 

Kapal yang saat itu sudah berusia 25 tahun tersebut dinakhodai Kapten Abdul Rivai dengan estimasi seluruh penumpang saat itu, termasuk awak kapal dan sekitar 300 "penumpang gelap" sebanyak 1.442 orang. Tak hanya itu, KMP Tampomas II juga mengangkut 191 mobil dan sekitar 200 sepeda motor serta mesin giling.

Api pertama kali muncul sejak 25 Januari 1981 malam dan mulai menjalar hingga ke bagian dek bawah kapal dengan cepat. Selain itu, hujan deras yang mengguyur Laut Jawa pada keesokan harinya membuat proses evakuasi berjalan lambat. Kebakaran itu berawal dari beberapa bagian mesin yang mengalami kebocoran bahan bakar.

Kebocoran tersebut disebabkan oleh badai besar yang melanda perairan. Akibatnya, kapal pun miring hingga 45 derajat. Kemudian setelah itu muncul asap disertai api yang mulai membesar. Kejadian itu pun membuat penumpang mengalami kepanikan hingga beberapa penumpang memutuskan terjun ke laut.

Kapal Pelni atau kapal lain yang ada di sekitar kapal Tampomas II saat itu juga diperintahkan untuk mendekat dan memberikan pertolongan. Beberapa kapal yang diperintahkan mendekat saat itu di antaranya Wayabula, Ilmanul, Brantas, dua kapal penyapu ranjau Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI-AL), dan sebuah kapal navigasi Perhubungan Laut. 

Pada 27 Januari 1981, sekitar pukul 12.42 WIB, KMP Tampomas II akhirnya tenggelam, meskipun berbagai usaha penyelamatan telah dilakukan. Kapal berbobot 2.420 ton itu tenggelam di Selat Makassar dekat Pulau Masalembo, atau sekitar 22 mil laut menjelang pelabuhan tujuan Ujungpandang. 



Baca: Tenggelamnya KRI Nanggala 402 Tambah Daftar Panjang Kecelakaan Kapal Selam


Sementara itu hingga 27 Januari 1981 malam hari, setidaknya ada 566 orang penumpang yang berhasil diselamatkan ke atas kapal-kapal yang datang menolong. Upaya penyelamatan tak berjalan maksimal akibat terkendala cuaca buruk. 

Bahkan Pesawat Albatros UF-Skuadron Udara-5 TNI Angkatan Udara (AU) yang bermaksud mendarat di perairan sekitar lokasi kejadian harus mengurungkan rencana pendaratan akibat hujan, angin kencang, dan gelombang besar setinggi 7 s.d 10 meter yang terjadi di lokasi kejadian.

Tak hanya itu saja, di udara juga terhalangi oleh kabut tebal. Sehingga, untuk menemukan lokasi Kapal Tampomas II, pesawat Albatros pun harus terbang rendah sekitar 350 s.d 500 kaki dari permukaan laut. Seiring berjalannya waktu, peristiwa tenggelamnya KMP Tampomas II pun dikenang sebagai tragedi kemanusiaan yang sangat memilukan. 

Peristiwa ini juga tercatat sebagai musibah terbesar dalam sejarah maritim nasional, sekaligus juga menjadi musibah ketiga yang tergolong terbesar di dunia saat itu. 

Pasalnya musibah ini menelan korban jiwa hingga 431 orang meninggal dunia, baik itu penumpang maupun awak kapal. Disebutkan bahwa kecelakaan kapal itu berasal dari percikan api di kabin kendaraan. Percikan api itu pun kemudian membesar hingga menjalar ke seluruh bagian kapal. 

Kebakaran tersebut juga diduga akibat rendahnya disiplin penumpang dan awak kapal tentang keselamatan pelayaran, di antaranya tidak mematuhi larangan merokok di tempat-tempat tertentu, seperti kabin kendaraan selama pelayaran. 

Selain rendahnya disiplin penumpang, tenggelamnya KMP Tampomas II juga diakibatkan oleh awak kapal yang tidak memahami cara dan prosedur penggunaan semua peralatan pertolongan. 

Belakangan diketahui bahwa baju pelampung (life jacket) ternyata tidak dapat digunakan untuk penumpang awam serta radio portabel yang seharusnya ada di dalam sekoci juga tidak berada di tempatnya. Atas keteledoran itu, sejumlah awak kapal pun mendapat sanksi administratif oleh Mahkamah Pelayaran.

Peristiwa kecelakaan KMP Tampomas II juga diabadikan dalam sebuah lagu oleh musisi legendaris, Ebiet G. Ade dengan lagunya yang berjudul "Sebuah Tragedi 1981". Tak hanya Ebiet G. Ade, musisi legendaris lainnya, Iwan Fals juga turut mengabadikannya dalam lagu berjudul "Celoteh Camar Tolol".


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Selalu Ada dalam Upacara Adat Batak, Inilah Kue Nitak

Koropak.co.id, 26 January 2023 15:10:45

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Sumatra Utara - Suku Batak yang menghuni wilayah Provinsi Sumatra Utara terkenal dengan adat-istiadatnya yang masih terjaga dengan baik. Tak ayal, berbagai upacara pun kerap mengiringi aktivitas sehari-hari masyarakat Batak, mulai dari panen padi, memperoleh pekerjaan, keagamaan, pernikahan, kelahiran, hingga kematian.

Menariknya lagi, mayoritas upacara adat Batak ini akan selalu diakhiri dengan makan bersama. Kemudian dalam setiap upacara suku ini, setidaknya ada lima kue tradisional yang wajib dihidangkan. Bahkan saking sudah melekatnya dengan adat istiadat Suku Batak, salah satu kue tersebut juga sudah terdaftar sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dari Sumatra Utara.

Salah satu kue tradisional khas Batak itu adalah Nitak. Bisa dikatakan, kue tradisional yang berasal dari Simalungun ini terbilang sangat spesial. Alasannya dikarenakan kudapan khas Batak itu hanya bisa dijumpai pada acara-acara adat tertentu saja.

Dilansir dari laman warisanbudaya.kemdikbud.go.id, nitak ini terbuat dari bahan dasar beras. Kuliner tradisional yang identik sebagai makanan adat tersebut hanya disajikan dalam acara adat tertentu saja dan biasanya akan disajikan pada kegiatan bersifat ritual seperti perkawinan, kematian, menempati rumah baru, menyekolahkan anak dan lainnya.

Meskipun begitu, bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat Nitak ini tidak tergolong sulit untuk didapatkan. Selain beras, bahan yang harus ada untuk membuat kudapan yang satu ini, diantaranya lada hitam, garam, kencur, gula merah dan jahe.



Baca: Tahu Pong dan Eksistensi Etnis Tionghoa di Semarang


Jangan lupa juga untuk menyediakan dua buah kelapa, dengan rincian satu buah yang sudah di sangrai atau gongseng dan satunya lagi mentah. kendati tergolong sebagai makanan adat, namun cara membuat Nitak ini tidak terlalu sulit. 

Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah menumbuk beras dengan menggunakan alat tumbuk tradisional atau lesung kurang lebih selama setengah jam hingga halus. Setelah itu, masukkan lada hitam, kencur, jahe, kelapa mentah, kelapa yang sudah disangrai dan gula merah. 

Setelah lengket dan menjadi adonan, maka Nitak pun siap untuk dihidangkan. Biasanya nitak ini akan disajikan dengan pisang dan telur bulat yang sudah matang. Nitak memiliki ciri khas yang terletak pada cita rasanya yang manis berpadu dengan rasa lada. 

Dengan keunikan yang dimilikinya itu, membuat kuliner khas Batak ini cocok untuk dijadikan sebagai makanan penutup setelah mencoba makanan yang bercita rasa gurih dan pedas.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini: