Tentang Bir Pletok, Ada Sejak Zaman Belanda

Koropak.co.id, 02 February 2022 10:31:00
Penulis : Eris Kuswara
Tentang Bir Pletok, Ada Sejak Zaman Belanda

 

Koropak.co.id - Mungkin hingga kini masih banyak yang belum mengetahui tentang asal usul dari bir pletok. Selain tidak mengandung alkohol, minuman tradisional dari DKI Jakarta ini juga ternyata memiliki banyak manfaat.

Diketahui, bir pletok sendiri menjadi salah satu minuman tradisional khas Betawi yang kaya akan manfaat. Meskipun menyandang kata ‘bir’, namun bir pletok sendiri sama sekali tidak mengandung alkohol.

Bir pletok itu justru terbuat dari campuran lada, jahe, dan kulit kayu secang yang membuat bir pletok berwarna merah. Pada awalnya minuman ini diracik dikarena pada zaman dahulu banyak orang Betawi yang melihat kebiasaan warga Belanda di Indonesia.

Pada masa itu, banyak warga Belanda selalu mengonsumsi wine di dalam sebuah perayaan. Oleh karena itulah, orang Betawi juga ingin mengonsumsi minuman serupa saat ada perayaan khusus.

Akan tetapi dikarenakan minuman beralkohol masuk ke dalam kategori minuman yang dilarang agama, maka orang Betawi pun membuat ‘wine’ dari racikan rempah-rempah seperti lada, jahe dan kulit kayu secang.

Dilansir dari sudinpusarjakpus.jakarta.go.id, kata ‘pletok’ sendiri diambil dari bunyi ‘pletok’ yang dihasilkan pada saat orang Belanda membuka tutup botol wine. Orang betawi pun menggabungan kata bir dan pletok menjadi nama dari racikan minuman herbal tersebut.

 

 


Baca : Asal Usul Bubur Ayam, Sudah Ada Sejak Sebelum Masehi

Meskipun begitu, ada juga yang percaya apabila kata ‘bir’ pada bir pletok berasal dari kata bi’run yang artinya abyar atau sumber mata air. Sedangkan kata ‘pletok’ memiliki 3 arti yakni, dibuat dari bambu, ditaruh diteko dan dikocok sehingga berbunyi pletok.

Terlepas dari perbedaan pandangan asal usulnya, bir pletok mempunyai banyak khasiat dan beberapa diantaranya, mampu memperlancar peredaran darah, mengatasi nyeri lambung, memulihkan radang sendi, mengobati migran hingga menghangatkan badan.

Dikutip dari berbagai sumber, bir pletok ini juga ternyata aman dikonsumsi oleh anak-anak hingga orang dewasa. Tak hanya itu saja, penyajian bir pletok juga bisa disesuaikan dengan selera yaitu bisa disajikan hangat ataupun dingin.

Untuk rasanya juga terbilang unik, karena ada manis, hangat dan sedikit pedas serta memiliki aroma yang semerbak wangi. Saat ini, bir pletok sendiri bisa sering juga disebut bir Jawa dan masih menjadi minuman favorit. Minuman ini juga populer di wilayah Bogor.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 

Komentar

Kupat Jembut, Makanan Nyentrik dari Semarang yang Jadi Simbol Kesederhanaan

Koropak.co.id, 30 September 2022 15:14:15

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Tengah - Saat mendengar kata jembut, mungkin akan terkesan vulgar. Menariknya, kata tersebut justru dijadikan sebagai nama dari makanan khas Semarang yang biasanya dihidangkan untuk memeriahkan tradisi Syawalan.

Adalah Kupat Jembut. Makanan ini diketahui sudah menjadi tradisi rutin yang dilaksanakan setiap Lebaran Syawal atau yang biasa disebut juga dengan Syawalan di Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Sesuai dengan namanya yang terkesan vulgar, di Pedurungan, kupat jembut sering mendapatkan komentar miring terkait penamaannya. Namun terlepas dari masalah itu, kupat jembut memiliki sejarah panjang hingga menjadi sebuah tradisi kupat dengan akar tradisinya yang kuat.

Alasan dinamakan kupat jembut, karena berisikan taoge dan sambal kelapa yang sampai keluar dalam ketupat hingga mirip dengan rambut kemaluan. Meskipun namanya nyentrik dan terkesan jorok, akan tetapi makanan ini memiliki makna yang mendalam, yakni tentang perjuangan untuk saling memaafkan dan menjaga silaturahmi.

Tak hanya itu saja, makanan yang dinamakan kupat sumpel ini juga merupakan simbol kesederhanaan. Kupat ini dibuat dari bungkus daun kelapa muda (janur) atau di Semarang dibuat dari daun bambu muda. Setelah itu, ketupat yang sudah berbentuk segi empat itu akan dibelah diagonal namun tidak sampai putus. 

Kemudian, di dalamnya disisipkan tauge yang dimasukkan hingga tampilannya seperti organ kelamin wanita. Pada awalnya, isian kupat jembut hanyalah tauge dikarenakan pada saat awal tradisi ini dimulai, masyarakat saat itu hanya mempunyai tauge untuk dijadikan isian ketupat. Namun dalam perkembangannya, kini ada tambahan kubis (kol) dan sambal kelapa.

Selain itu, dikarenakan di dalamnya juga sudah ada sayur dan bumbu, kupat jembut ini pun sudah terasa lezat meskipun tidak ditambahkan opor ayam atau sayur bersantan lainnya. Berbicara mengenai tradisinya, diketahui sudah ada sejak 1950-an.



Baca: Memek Khas Aceh Jadi WBTb Indonesia, Cocok Untuk Buka Puasa


Konon katanya pada masa itu, ada seorang warga yang pulang kampung akibat perang dunia kedua. Saat itu, masyarakat masih hidup dalam kesederhanaan dan tidak ada bahan baku lain selain taoge, kelapa dan lombok.

Akan tetapi setelah bulan ramadan, masyarakat ingin melakukan syukuran. Dikarenakan yang ada hanya bahan baku taoge, kelapa dan lombok, akhirnya terciptalah kupat jembut. Alasan mereka membuat kupat jembut, agar bisa langsung dimakan tanpa membutuhkan banyak lauk pauk lainnya.

Seiring berjalannya waktu, tradisi ini pun terus dilakukan secara turun temurun. Meskipun sempat terhenti di tahun-tahun tertentu akibat adanya berbagai gejolak politik di Indonesia, namun setelah itu tradisi kupat jembut tetap dilaksanakan sampai dengan sekarang.

Menariknya, tradisi ini sendiri ternyata sempat berganti-ganti konsep. Pada awalnya, tradisi ini hanya dibagikan di masjid dan dimakan bersama-sama. Namun lambat laun, dikarenakan anak-anak semakin banyak, maka tradisi ini pun dilaksanakan dengan cara berderet di sepanjang kampung seraya membagikan uang.

Selain di Pedurungan Tengah, tradisi bagi-bagi kupat jembut sebagai ungkapan rasa syukur dan penolak bala ini juga dilaksanakan di Jaten Cilik yang masih satu kecamatan dengan Pedurungan Tengah. Tradisi yang biasanya dilakukan orang dewasa ini juga menjadi simbol meneruskan tradisi ke generasi muda.

Tradisi membagikan kupat jembut ini diselenggarakan setiap satu tahun sekali, atau tepatnya hanya pada saat syawalan. Kupat jembut ini dibagikan setelah salat Subuh untuk dimakan bersama pengurus dan jamaah masjid. Menariknya dalam pembagiannya dibuat seperti permainan. 

Nantinya akan ada orang yang membawa ketupat dan uang. Kemudian akan ada juga yang memberi tanda dengan mengetuk tiang listrik, sehingga anak-anak pun berlarian keluar. Alhasil, anak-anak pun sangat menantikan kupat jembut ini dikarenakan ada uang tunai juga yang diselipkan di dalamnya.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Hari Sarjana dan Strata Intelektualitas Mahasiswa

Koropak.co.id, 29 September 2022 12:24:08

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Tepat hari ini, 29 September diperingati sebagai Hari Sarjana Nasional. Peringatan Hari Sarjana Nasional ini ternyata pertama kali digaungkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI pada 29 September 2014 melalui akun Twitter-nya hingga pada akhirnya diperingati setiap tahunnya pada tanggal yang sama.

Peringatan Hari Sarjana Nasional ini dilakukan karena para sarjana sendiri dianggap sebagai salah satu aset penentu kemajuan bangsa. Karena, para sarjana juga dianggap sebagai aset negara yang diharapkan mampu memberikan sumbangsih bagi pembangunan bangsa serta pendidikan dan masyarakat secara umum. 

Selain itu, para sarjana juga dianggap memiliki ilmu yang dapat mengharumkan nama bangsanya hingga ke tingkat dunia. Tak hanya itu saja, Hari Sarjana Nasional ini juga menjadi salah satu bentuk apresiasi terhadap perjuangan para mahasiswa yang telah berhasil meraih gelar sarjana sekaligus menjadi bagian dari generasi pembangun bangsa.

Lalu, bagaimana dengan latar belakang dari Hari Sarjana Nasional ini?

Diketahui, sarjana merupakan gelar yang diterima oleh seseorang yang telah berhasil menyelesaikan pendidikannya pada jenjang perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Di Indonesia, orang pertama yang berhasil memperoleh gelar sarjana adalah Sosrokartono yang juga merupakan kakak kandung dari Raden Ajeng (RA) Kartini.

Pada masa itu, Kartono menjadi orang Indonesia yang beruntung karena mendapatkan kesempatan emas untuk menempuh pendidikan di Belanda dalam rangka Politik Balas Budi Pemerintah Belanda, pada 1897. Dalam kurun 2 tahun saja, ia lulus sebagai sarjana Teknik Sipil di Polytechnische School.

Berdasarkan catatan sejarahnya, Kartono terkenal sebagai sosok yang haus akan ilmu pengetahun dan pendidikan. Hal itu dibuktikan dengan kemampuannya yang mampu menguasai 17 bahasa asing.



Baca: Hari Bakti Postel; Kisah Perjuangan Merebut Kekuasaan Kantor PTT dari Jepang


Berkaca dari kisah Sosrokartono itulah, peringatan Hari Sarjana Nasional bisa menjadi tanda penghargaan bagi para sarjana yang sudah berhasil mencapai strata intelektualitas, sekaligus juga menjadi sebuah momentum untuk mengintrospeksi diri, baik untuk para pemilik gelar sarjana itu sendiri maupun perihal kondisi pendidikan tinggi di Indonesia secara keseluruhan. 

Sebab, sudah waktunya juga bagi generasi muda untuk lebih peduli pada dunia pendidikan tinggi dan harus menjadi suatu target bahwa seluruh generasi muda Indonesia minimal harus memiliki gelar Sarjana. 

Kemudian yang terpenting, mereka juga perlu diberikan pendidikan entrepreneurship yang memadai agar nantinya para sarjana mampu menciptakan lapangan pekerjaan dengan salah satunya menjadi seorang entrepreneur.

Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2021, jumlah sarjana di Indonesia sudah mencapai angka 8.746.008 orang. Jumlah yang tercatat itu mengalami peningkatan sebanyak 26,3 persen atau hampir 3 kali lipat dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Meskipun begitu, tingginya tingkat pendidikan di Indonesia ternyata belum mampu menjamin mudahnya para sarjana mendapatkan pekerjaan. Pada 2019, berdasarkan data Biro Pusat Statistik menunjukkan bahwa tingkat pengangguran lulusan diploma dan strata 1, masing-masing masih berada pada kisaran 6 hingga 7 persen.

Angka ini tentunya sangat jauh di atas tingkat pengangguran lulusan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, bahkan diprediksi mengalami kenaikan akibat pandemi Covid-19.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Sejarah Hari Ini, Grand Prix Motor Digelar di Indonesia

Koropak.co.id, 28 September 2022 15:06:29

Eris Kuswara

 

Koropak.co.id, Jakarta - Tepat di tanggal ini, 28 September 1997, negara kita mencatatkan sejarah penting di industri balapan sepeda motor kelas dunia. Kala itu, Indonesia didapuk sebagai tuan rumah balap grand prix yang kala itu bernama Malboro Indonesia Grand Prix.

Perhelatan akbar itu dilaksanakan di Sirkuit Sentul, Bogor pada 1997-an. Mata dunia pencinta balap motor tertuju ke negara kita. Dan hajat Grand Prix diklaim sukses.

Tiga kelas balapan meliputi 500cc, 250cc, dan 150cc dilangsung dalam grand prix tersebut. Balapan seri ke-14 dari 15 seri yang dimainkan musim itu mendapat antusiasme yang tinggi.

Di kelas 500cc, pembalap asal Jepang dari Repsol YPF Honda Team, Tadayuki Okada berhasil menyabet gelar juara. Okada mampu menyelesaikan balapan dengan catatan waktu selama 43:22.010 detik. Sementara di kelas 250cc, Pembalap Honda, Max Biaggi keluar sebagai pemenangnya. 

Pembalap asal Italia itu mampu menyelesaikan balapan dengan catatan waktu selama 41:35.549 detik. Adapun di kelas 125cc menjadi kemenangan bagi Valentino Rossi. Pembalap berjuluk The Doctor itu menyelesaikan balapan dengan catatan waktu selama 41:14.511 detik. 

Menariknya lagi, balapan di Sentul menjadi tantangan tersendiri bagi para pembalap MotoGP, terutama faktor cuacanya yang panas. Selain itu, sirkuit yang memiliki 11 tikungan ini juga dikenal tak mudah untuk ditaklukkan dikarenakan lintasannya yang panas.



Baca: Sejarah Hari Ini; MotoGP Digelar di Sirkuit Sentul Tahun 1996


Jika di kelas 125cc dan 250cc, Rossi dan Biaggi sama-sama dijagokan untuk menjadi pemenang dan mereka berhasil membuktikan kapasitasnya, tidak demikian di kelas utama. Pasalnya, Okada yang tidak diperhitungkan, justru ia keluar sebagai pemenangnya.

Dengan menunggangi kuda besi Honda NSR500, Okada berhasil mengalahkan calon juara musim 1997, Doohan. Gelar yang diraih Okada di Sentul pun menjadi gelar podium pertamanya di kelas utama, yang di mana sebelumnya ia paling banter menjadi runner up atau juara ketiga.

Meskipun demikian, pada akhirnya Doohan sendiri tetap menjadi Juara MotoGP 1997. Pembalap asal Australia itu mengumpulkan 340 poin, dan unggul jauh atas Okada yang berada di peringkat kedua dengan catatan 197 poin dari 15 seri balapan.

Seiring berjalannya waktu, setelah 25 tahun berlalu sejak MotoGP 1997, Indonesia akhirnya kembali menjadi tuan rumah MotoGP 2022 yang berlangsung di Sirkuit Mandalika pada 20 Maret 2022. Pembalap Red Bull KTM, Miguel Oliveira berhasil meraih kampiun di gelaran perdana Sirkuit Mandalika Indonesia.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Memek Khas Aceh Jadi WBTb Indonesia, Cocok Untuk Buka Puasa

Koropak.co.id, 28 September 2022 07:37:38

Eris Kuswara

 

Koropak.co.id, Aceh - Ini daerah yang disebut Serambi Mekah. Punya kekayaan kuliner yang beranekaragam, khas, lezat, menggugah selera, dan siap menggoyang lidah. 

Sejumlah tempat di daerah ini memang tak diragukan lagi kualitas kulinernya. Selalu unik dan mencuri perhatian. Salah satunya adalah "Memek", kuliner khas Pulau Simeuleu, Provinsi Aceh.

Eits, jangan salah sangka dan berpikiran yang aneh-aneh. Kendati nama kuliner yang tampilannya mirip bubur ini memiliki konotasi negatif dalam bahasa prokem (slang) Indonesia, akan tetapi sebenarnya nama memeknya sendiri berasal dari kata dalam bahasa Devayan yakni "Mamemek". 

Kendati punya nama nyeleneh, tapi masyarakat Simeuleu patut berbangga. Tentu saja, kudapan yang terbuat dari campuran pisang, beras ketan, santan, dan gula itu ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak benda (WBTb) Indonesia pada 2019. 

Penetapan memek sebagai Warisan Budaya Tak benda (WBTb) tersebut tentunya menjadi sebuah perlindungan dari kepunahan, sekaligus klaim budaya dari negara lain. Selain sudah ditetapkan menjadi WBTb Indonesia, memek juga menjadi salah satu kuliner khas Simeulue yang ternyata sudah eksis sejak zaman kerajaan. 

Bagi masyarakat asli Simeulue, sebenarnya nama memek sendiri memiliki arti mengunyah atau menggigit. Berdasarkan sejarahnya, konon pada zaman dahulu, nenek moyang Simeulue sering mengunyah beras ketan yang dicampur pisang, sehingga muncullah istilah "mamemek". 

Perlahan, makanan yang dikonsumsi nenek moyang tersebut akhirnya disebut dengan memek. Meskipun bagi kebanyakan orang, nama memek sendiri memang cenderung berkonotasi negatif. Akan tetapi nama memek tersebut tidak boleh diganti, dikarenakan bagi masyarakat Simeulue, kuliner tersebut sudah menjadi warisan leluhur.



Baca: Ada Perpaduan Budaya yang Tersaji dalam Semangkuk Mi Aceh


Di sisi lain, sejarah makanan ini awalnya diciptakan pada masa pendudukan Jepang. Pada masa itu, warga berupaya untuk  menyembunyikan beras mereka agar tidak disita oleh pasukan Jepang. Mereka juga memutuskan untuk tidak memasaknya dikarenakan asap hasil pembakaran bisa terlihat oleh tentara Jepang. 

Beras yang disembunyikan itu pun dikunyah mentah-mentah dengan buah pisang, dan kunyahan tersebut menghasilkan suara gemeretak yang disebut mamemek. Setelah Jepang pergi dari Simeulue, nama mamemek berubah menjadi memek dikarenakan cara pengolahannya yang telah diganti.

Simak cara membuatnya. Mulanya beras ketan akan disangrai dan pisang ditumbuk kasar hingga membuat teksturnya masih terasa. Pisang itu pun kemudian dicampur dan dimasak dengan beras ketan yang sudah disangrai, ditambah santan, dan gula sekitar satu jam.

Setelah matang, memek akan berbentuk seperti bubur. Meskipun begitu, saat disantap, rasa pisang dan beras ketan akan lebih terasa. 

Diketahui, pemilihan jenis pisang sendiri ternyata turut andil dalam cita rasa memek. Biasanya, beberapa orang di Simeuleu menggunakan pisang kepok atau pisang raja sebagai bahan utamanya.

Bagi masyarakat Simeuleu, memek juga menjadi kuliner yang sangat spesial karena wajib ada saat perayaan tertentu. Memek tersebut menjadi jamuan wajib ketika ada tamu pemerintahan atau orang penting yang datang ke Simeulue.

Selain untuk perayaan, masyarakat lokal juga selalu menyediakan bubur ini saat bulan Ramadan tiba. Memek pun menjadi takjil favorit yang tak boleh ketinggalan saat berbuka puasa. Bubur ini biasanya dijual seharga Rp5.000 dalam gelas plastik, dan dihidangkan selagi hangat.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Mengenang Dua Mahasiswa Korban Tragedi Lampung

Koropak.co.id, 27 September 2022 15:06:29

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Hari Rabu, 23 tahun lalu, atau tepatnya pada 28 September 1999, dua orang mahasiswa menjadi korban dalam aksi demonstrasi menentang Rancangan Undang-Undang Penanggulangan Keadaan Bahaya (RUU-PKB) di Lampung. Peristiwa berdarah itu pun dikenal dengan "Tragedi Lampung".

Diketahui, peristiwa itu terjadi tak lama setelah "Tragedi Semanggi II" yang menyebabkan gugurnya mahasiswa Universitas Indonesia (UI), Yap Yun Hap. 

Tercatat, dua mahasiswa di Lampung yang menjadi korban itu adalah Muhammad Yusuf Rizal (23), mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bandar Lampung (UBL) dan Saidatul Fitria (21), mahasiswa Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung (Unila).

Yusuf Rizal ditemukan dalam keadaan tersungkur dan meninggal dunia di halaman kampus UBL setelah sebutir peluru menembus lehernya. Sementara, Saida Fitria meninggal dunia akibat luka tembak di keningnya setelah sebelumnya sempat mendapatkan perawatan.

Lantas, bagaimana kronologi Tragedi Lampung tersebut?

Tragedi Lampung pada 28 September 1999 itu berawal ketika mahasiswa dari Universitas Lampung berjalan menuju Universitas Bandar Lampung dan bergabung bersama rekan-rekannya untuk melakukan aksi menentang RUU Penanggulangan Keadaan Bahaya (PKB) serta unjuk rasa solidaritas bagi rekan mereka yang meninggal di Semanggi Jakarta, Yap Yun Hap empat hari sebelumnya.

Ratusan mahasiswa gabungan dari UBL, Unila, aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD), dan beberapa mahasiswa kampus lainnya berkumpul di depan UBL sejak pukul 09.30 WIB. Mereka selanjutnya bergerak menuju kawasan Jalan ZA Pagaralam, Kedaton sembari meneriakkan yel-yel.

Namun, secara tiba-tiba puluhan orang berlarian masuk ke halaman markas Koramil Kedaton dan meminta petugas Koramil untuk menaikkan bendera setengah tiang sebagai ungkapan duka atas meninggalnya rekan mereka, Yap Yun Hap di Jakarta.

Setelah itu, keadaan justru menjadi tak terkendali setelah Komandan Koramil menolak permintaan mahasiswa untuk menandatangi penolakan diberlakukannya UU PKB. 

Massa makin tak terkendali, mereka merobohkan papan nama markas koramil hingga terjadi aksi saling lempar batu dan berujung tembakan.

 


Baca: Mengenang Yun Hap, Mahasiswa UI Korban Tragedi Semanggi II


Meski tembakan peringatan diletuskan dan gas air mata dilemparkan oleh aparat gabungan, namun hal itu sama sekali tak menyurutkan aksi massa. Sehingga, bentrokan pun tak terelakkan lagi, dikarenakan ratusan aparat juga sudah berhadapan langsung dengan massa yang hanya berjarak sekitar 60 meter saja. 

Aparat pun kemudian merangsek maju sembari memberondongkan peluru ke arah massa hingga membuat mereka terpencar dan menyelamatkan diri ke dalam Universitas Bandar Lampung. 

Nahas. Mereka terus dikejar hingga korban mulai berjatuhan, baik dari aparat maupun mahasiswa. Salah seorang mahasiswa yang menjadi korban itu bernama Muhammad Yusuf Rizal.

Saat itu, mahasiswa jurusan FISIP Universitas Lampung angkatan 1997 tersebut meninggal dunia dengan luka tembak di dada yang tembus hingga ke belakang dan juga sebutir peluru yang menembus lehernya. 

Akibat kejadian itu juga 31 mahasiswa menjadi korban, dan 11 di antaranya mengalami luka serius karena mengalami pendarahan di bagian kepala, tangan dan perut hingga membuat mereka harus dirawat di rumah sakit. 

Beberapa hari kemudian, Saidatul Fitriah, Mahasiswa Universitas Lampung yang juga menjadi korban kekerasan aparat, meninggal dunia setelah sebelumnya mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Banyaknya korban yang berjatuhan dalam Tragedi Lampung itu disebabkan Kampus Universitas Bandar Lampung saat itu dimasuki oleh aparat keamanan, baik yang berseragam maupun yang tidak berseragam. 

Selain itu, aparat juga turut melakukan pengejaran dan pemukulan terhadap mahasiswa, hingga perusakan di dalam kampus mulai dari gedung, kendaraan roda dua maupun roda empat.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Hari Bakti Postel; Kisah Perjuangan Merebut Kekuasaan Kantor PTT dari Jepang

Koropak.co.id, 27 September 2022 07:09:12

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Hari ini merupakan momentum perjuangan bidang pos dan telekomunikasi. Di tanggal ini, para pemuda berhasil merebut objek vital yang memengaruhi telekomunikasi Indonesia.

Itu sebabnya, setiap tanggal 27 September, negara memberi tanda peringatan Hari Bakti Pos Telekomunikasi Telegraf (PTT) atau dikenal juga dengan sebutan Hari Bakti Postel. Peringatan ini sebagai pengingat peristiwa bersejarah pengambilalihan Kantor Pusat Jawatan PTT di Bandung.

Catatan sejarah menulis, di tahun proklamasi kemerdekaan, kantor PTT masih dikuasai oleh Pemerintahan Jepang. Pemuda kita tau akan hal itu. Mereka tak tinggal diam.

Para pemuda Indonesia yang dipelopori Angkatan Muda Pos, Telegrap, dan Telepon (AMPTT) berupaya melakukan pengambilalihan kantor PTT pada 1945. 

Lalu, bagaimana dengan sejarah lengkapnya?

Sejarah Hari Bakti Postel berawal dari AMPTT yang saat itu belum memiliki pengurus. Dengan dipelopori Soetoko, AMPTT pun menggelar pertemuan dengan para pemuda pada 3 September 1945. 

Selain Soetoko, pertemuan itu turut dihadiri Slamet Soemari, Joesoef, Agoes Salman, Nawawi Alif dan beberapa pemuda lainnya. Dalam pertemuan itu, mereka membahas kesepakatan untuk merebut Kantor Pusat Jawatan Pos, Telegraf, dan Telepon (PTT) dari Pemerintahan Jepang.

Untuk merealisasikan pemindahan kekuasaan tersebut, Soetoko dan AMPTT menyepakati bahwa Kantor Pusat PTT harus sudah dikuasai Indonesia paling lambat akhir September 1945. Saat itu, AMPTT juga berusaha untuk melobi militer Jepang agar mereka mau menyerahkan kantor pusat PTT kepada pemerintah Indonesia. 

Namun upaya yang dilakukan AMPTT tak membuahkan hasil, pihak Jepang justru ingin penyerahan itu dilakukan oleh pihak Sekutu. Dengan alasan itulah, Soetoko dan AMPTT pun memiliki rencana untuk merebut Kantor PPT dari Jepang. 

Pada 23 September 1945, dalam proses perebutan Kantor PTT itu, Soetoko berunding dengan Ismojo dan Slamet Soemari serta memutuskan untuk meminta Mas Soeharto dan R. Dijar agar menuntut Jepang untuk menyerahkan kekuasaan Kantor PTT secara damai, dan mengancam akan melakukan kekerasan jika tidak mau menyerahkan. 

Soetoko pun meminta Mas Soeharto dan R. Dijar untuk menemui pimpinan PTT Jepang, Tuan Osada, untuk melakukan perundingan sekaligus mendesak agar Jepang menyerahkan pimpinan Jawatan PTT kepada Bangsa Indonesia pada 24 September 1945.

Lagi-lagi, perundingan yang dilakukan kala itu pun gagal dan hanya berujung pada kesepakatan kubu Jepang yang memperbolehkan pengibaran bendera Sang Saka Merah Putih di halaman belakang kantor PPT di Jalan Cilaki.



Baca: Menguak Sejarah Car Free Day, Di Indonesia Digelar Pada 2007


Meskipun kesepakatan yang dilakukan tak membuahkan hasil yang baik bagi para pemuda PPT. Akan tetapi, para pemuda AMPTT tetap memanfaatkan momen itu untuk melakukan pengibaran bendera Sang Saka Merah Putih di Tugu PPT.

Setelah pengibaran bendera Merah Putih di kantor PTT, AMPTT terus melakukan perundingan dengan Jepang. Akan tetapi dikarenakan perundingan yang dilakukan cenderung tak membuahkan hasil, para pemuda AMPTT pun akhirnya menyusun strategi untuk merebut secara paksa Kantor Pusat Jawatan PPT dari Jepang.

Pada 26 September 1945, Soetoko meminta Soewarno yang kala itu menjabat sebagai Komandan Cusin Tai dan Nawawi Alif,  untuk memimpin peruntuhan tanggul sekaligus juga mengepung kantor PTT. Dalam misi itu juga Soetoko ditetapkan sebagai ketua, dengan dibantu tiga wakil ketuanya meliputi Nawawi Alif, Hasan Zein dan Abdoel Djabar.

Selanjutnya. Soetoko menemui Mas Soeharto untuk memberitahukan rencananya yang akan dilaksanakan pada 27 September 1945. Pada malam harinya, anggota AMPTT mulai disebar untuk mempersiapkan senjata tajam, kendaraan bermotor, senjata api dan berbagai kebutuhan lainnya.

Pergerakan yang dilakukan AMPTT saat itu diorganisir secara matang dan diikuti juga oleh pada penduduk yang tinggal di dekat Kantor Pusat PTT. Namun sebelum melakukan aksinya pada 27 September 1945, Mas Soeharto dan R. Dijar kembali mengadakan perundingan dengan Pimpinan Jepang di Kantor Pusat PTT.

Sayangnya perundingan tersebut masih tetap mengalami kegagalan. Sehingga setelah itu, sebagaimana yang sudah direncanakan AMPTT dengan bantuan penduduk sudah mengepung dan siap dengan senjatanya masing-masing. 

Soetoko membagi dua bagian penyerbuan. Soewarno memimpin pasukan yang menghadapi tentara Jepang dan Nawawi mengomando massa. Setelah itu, mereka masuk ke dalam gedung PTT, dan berhasil membuat tentara Jepang tak berkutik dan menyerah serta meletakkan senjatanya.

Dalam penyerbuannya itu, Soetoko pun mengumumkan bahwa pada 27 September 1945, Mas Soeharto dan R. Dijar ditunjuk sebagai Kepala dan Wakil Kepala Jawatan PTT Indonesia. Setelah itu, AMPTT juga melarang Jepang untuk masuk ke dalam lingkungan kantor. 

Meski penyerbuan saat itu sudah berakhir, AMPTT masih tetap melakukan penjagaan ketat di sekitar kantor demi menghindari serangan atau perebutan kembali yang dilakukan oleh Jepang. Peristiwa pengambilalihan Jawatan PTT dari tangan Jepang oleh AMPTT pada 27 September 1945 itulah yang kemudian diperingati sebagai Hari Bhakti Postel.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Jejak Teh Kejek, Teh Legendaris dari Garut

Koropak.co.id, 25 September 2022 07:27:47

Eris Kuswara

 

Koropak.co.id, Jawa Barat - Dodol dan Garut seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Dimana ada dodol, disitu nama Garut tersemat.

Padahal sebetulnya bukan cuma dodol yang identik dengan Garut. Teh rakyat bernama "Teh Kejek" satu diantaranya. 

Teh dengan cita rasanya yang sangat khas ini memang banyak keistimewaan. Rasa yang unik dihasilkan dari proses produksi yang tak biasa. Memang, cara pengolahan dari teh kejek ini masih mempertahankan cara tradisional.

Diyakini muncul sejak awal 1900-an, proses pembuatan teh asli Garut ini masih memesona sampai dengan saat ini. Diketahui, kata kejek dalam bahasa Sunda sendiri berarti diinjak. 

Mari tengok cara membuat teh legendaris ini. Pertama, daun teh yang sudah disangrai lalu diinjak-injak di sebuah parit panjang dengan tujuan untuk  menyempurnakan proses pengeluaran getah daun teh. Hal itu juga dilakukan agar bisa mendapatkan hasil fermentasi yang lebih baik. 

Biasanya, para pengolah teh kejek ini akan menginjak daun teh layaknya seperti gerakan orang yang tengah berjalan di atas treadmill. Injak terus dengan penuh tenaga dan gembira.

Setelah diinjak, teh pun akan masuk dalam tahap pengeringan. Daun teh nantinya akan disimpan di atas tungku api. Setelah dikeringkan, untuk memastikan benar-benar kering, daun teh akan kembali di sangrai.

Kemudian setelah itu masuk pada proses pengayakan. Proses ini dilakukan untuk memisahkan daun teh dengan tangkainya. Namun dikarenakan jumlah pesanan teh yang semakin tinggi, biasanya pabrik tek juga akan menggunakan mesin untuk mempercepat proses produksinya.

Akan tetapi jangan salah sangka dulu, penggunaan mesin itu juga tetap tidak menghilangkan cara tradisionalnya dan hanya dipakai untuk mempercepat waktu produksinya saja. Untuk teh yang sudah selesai diproses pun selanjutnya akan didistribusikan ke pasar tradisional.

Proses pembuatan teh secara tradisional ini tentunya menjadi potret bagaimana masyarakat pedesaan masih mempertahankan tradisi mereka di tengah derasnya kemajuan zaman yang semakin berkembang pesat. 

Meski dalam kesederhanaannya, proses produksi teh secara manual ini tetap bisa menghasilkan teh dengan cita rasa khas yang membuatnya mampu bertahan sampai dengan saat ini. Lantas, bagaimana dengan sejarah dari teh kejek asli Garut ini?

Sayangnya, tidak ada data atau catatan yang pasti mengenai asal-usul dari teh kejek Garut. Akan tetapi, diduga pembuatan teh kejek sendiri muncul seiring dengan kemunculan usaha perkebunan teh Waspada pada 1865-an, yang dirintis oleh Karel Frederik Holle di daerah yang kini masuk wilayah Cikajang dan Cigedug.



Baca: Ada Cerita Jam Gadang di Balik Nikmat Teh Talua


Kala itu, Holle merekrut warga setempat yang dibantu juga dengan pekerja asal Tiongkok yang berpengalaman dalam pembudidayaan dan pengolahan teh menjadi siap seduh. Sehingga, ada kemungkinan bahwa teh kejek ini merupakan hasil kolaborasi antara Holle dan pekerja asal negeri tirai bambu itu. 

Hal itu dikarenakan dalam proses pembuatan teh kejek, sama dengan yang biasa dilakukan oleh pembuat teh di Tiongkok atau Eropa hingga saat ini. Namun perbedaannya hanya terletak dari segi teknologinya saja.

Jika proses pembuatan teh di perusahaan lain sudah menggunakan mesin pemanas dan penggilingan raksasa yang digerakkan oleh listrik, namun untuk proses pembuatan teh kejek di Kabupaten Garut itu masih dilakukan secara manual dengan peralatan tradisional, kayu bakar dan dengan cara diinjak-injak.

Meskipun dibuat secara tradisional, siap sangka teh kejek justru banyak sekali penggemarnya. Bahkan, kegemaran itu juga secara perlahan telah melahirkan kebiasaan minum teh baru di Garut yang dikenal dengan "tradisi Nyaneut". Tradisi minum teh tersebut berguna untuk menghangatkan tubuh di tengah dinginnya udara malam.

Sayangnya, ledakan komoditas teh itu justru tak bertahan lama. Saat itu, kualitas teh rakyat termasuk di Jawa Barat  anjlok akibat minimnya harga jual teh. Akibatnya, teh pun menjadi usaha yang tidak menguntungkan khususnya bagi petani yang hanya memiliki lahan kurang dari 0,5 hektare hingga banyak petani yang menelantarkan kebunnya. 

Kondisi ini juga semakin diperparah dengan adanya perlakuan pasca panen yang buruk dari kebun teh yang masih tersisa. Jika sebelumnya pemetikan pucuk daun teh dilakukan dengan teliti menggunakan tangan, sebagian petani saat ini justru tergoda menggunakan mesin pemotong dengan alasan efisiensi. Tak jarang ada juga petani yang membabat teh menggunakan parang.

Semua itu pun menjadi penyebab sulitnya mendapat bahan baku teh dengan kualitas yang baik. Hal ini jugalah yang membuat banyak usaha pembuatan teh kejek, baik yang berada di Cigedug maupun di Cikajang gulung tikar. Kendati demikian, hingga kini masih ada yang mencoba untuk bertahan. 

Karena, mereka mempercayai bahwa usaha ini layak untuk diteruskan karena dapat memberikan penghidupan yang lebih baik bagi masyarakat setempat. Terlebih lagi, teh kejek ini memiliki cita rasa yang khas dibandingkan dengan teh lain yang diproduksi menggunakan mesin. Hal itu tentunya membuat teh kejek memiliki pasarnya sendiri.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Sejarah Alat Transportasi Laut, Ada Sejak Zaman Kerajaan Hindu-Buddha

Koropak.co.id, 23 September 2022 07:14:19

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Generasi 90-an, sudah tidak asing lagi dengan lagu "Nenek Moyangku Seorang Pelaut." 

Lagu yang menceritakan tentang rasa bangga bangsa Indonesia punya seorang pelaut yang menjelajahi lautan. Bukan sekadar lagu tentunya. Ada filosofi historis mengapa lagu ini tercipta.

Faktanya memang begitu. Dalam beberapa literatur sejarah banyak disebut, nenek moyang Indonesia menjelajahi lautan dengan menggunakan kapal-kapal laut.

Para leluhur kita, sudah terbiasa melakukan perjalanan internasional. Dunia kemaritiman sudah ditaklukkan dengan alat transportasi laut pada zamannya.

Alat transportasi laut bergerak sesuai tujuan. Mengombinasikan keilmuan pelayaran, memanfaatkan arah mata angin dan beragam teknologi tanpa bahan bakar.

Berbeda dengan sekarang. Selain kayu, bahan logam sudah dipakai untuk membuat kapal. Kemajuan zaman membuat kapal modern banyak yang menggunakan bahan bakar untuk menyalakan mesin.

Perkembangan teknologi transportasi laut di nusantara sebenarnya sudah ada pada masa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha sekitar abad ke-8. Pada masa itu, Kerajaan Mataram Kuno diketahui sudah menggunakan teknologi perahu bercadik atau yang disebut juga "Kapal Borobudur" sebagai alat transportasi air.

Alasan perahu bercadik itu dinamakan Kapal Borobudur, pasalnya ditemukan gambar perahu bercadik di relief candi Borobudur. Selain itu, kemajuan teknologi transportasi air Indonesia juga dapat dilihat dalam jejak kejayaan Kerajaan Sriwijaya.



Baca: Sejarah Panjang Stasiun Kereta Api Tertua di Yogyakarta


Dalam sejarahnya, Kerajaan Sriwijaya merupakan Kerajaan Maritim Terbesar di Asia Tenggara dengan armada laut yang terkenal kuat. Pada masa kerajaan Hindu-Buddha hingga berdirinya kerajaan-kerajaan Islam, transportasi laut yang digunakan masih memiliki teknologi yang sederhana.

Saat itu, kapal laut biasanya digunakan untuk mencari ikan di laut, mengirim barang untuk dijual, dan pelayaran di sekitar Asia Tenggara. Memasuki masa kolonial, teknologi transportasi air di Indonesia semakin berkembang. 

Bangsa-bangsa Barat seperti Portugis, Belanda dan Inggris pada masa itu mulai mengenalkan teknologi perkapalan maju yang mampu mengarungi Samudra dari benua-benua yang jauh.

Pada akhir abad ke-19, Belanda juga turut mengenalkan teknologi kapal uap sebagai alat transportasi publik di Indonesia sekaligus juga sebagai cikal bakal majunya bidang teknologi transportasi laut. 

Setelah itu, penggunaan penemuan penting terkait transportasi laut bermunculan, seperti penggunaan radio, radar, hingga Global Positioning System (GPS) yang dibantu dengan satelit.

Dalam perkembangannya, transportasi laut memiliki peran yang sangat penting bagi negara kepulauan, tak terkecuali Indonesia yang memiliki kurang lebih 17.000 pulau yang disatukan oleh lautan luas. Sehingga, transportasi laut pun seolah menjadi "Urat Nadi" bagi perekonomian Indonesia.

Mengingat juga sangat vitalnya transportasi bagi roda perekonomian Indonesia, maka transpotasi laut pun harus dikembangkan dengan baik dan benar untuk menunjang pertumbuhan perekonomian.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Menelusuri Sejarah Panjang Kementerian Perhubungan

Koropak.co.id, 22 September 2022 15:32:50

Eris Kuswara

 

Koropak.co.id, Jakarta - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Republik Indonesia (RI) punya tugas mengurus transportasi di darat, laut dan udara.

Era kepemimpinan Presiden Joko Widodo, nakhoda Kemenhub dipercayakan pada Budi Karya Sumadi, yang menjabat sejak 27 Juli 2016. 

Tahukah kamu, bentuk awal dari Kemenhub sendiri awalnya bernama Departemen Perhubungan yang lahir dalam kancah perjuangan Departemen Perhubungan dan Departemen Pekerjaan Umum saat itu, yang dipimpin oleh seorang Menteri bernama Abikusno Tjokrosuyoso. 

Setelah Abikusno Tjokrosuyoso lengser dari jabatannya, urusan perhubungan dan pekerjaan umum pun kemudian berada di bawah pimpinan dua pejabat yang berbeda yaitu, Ir. Abdulkarim yang memimpin Kementerian Perhubungan dan Ir. Putuhena yang memimpin Kementerian Pekerjaan Umum (PU) 

Sesuai dengan namanya, Departemen Perhubungan membidangi urusan perhubungan. Namun kala itu, di awal kemerdekaan Indonesia, bidang ini masih bergabung dengan PU dan belum spesifik mengurus transportasi.

Berdasarkan catatan sejarah, Pemerintah Belanda ingin berkuasa kembali di Indonesia, dan hal itu sangat jelas terlihat ketika mereka melancarkan agresi militernya yang kedua pada 19 Desember 1948. 

Dalam agresinya, Belanda pun berhasil menguasai Yogyakarta dan menangkap Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Dalam kondisi darurat inilah, Dinas Telegrap sebagai salah satu Jawatan dalam Departemen Perhubungan berhasil menjalankan tugasnya yang sangat berdampak penting bagi keberlangsungan tegaknya Indonesia pada masa itu. 

Saat itu, Dinas Telegrap berhasil mengirim berita terakhir ke Bukittinggi yang ditujukan kepada Sjafruddin Prawiranegara dari Presiden Soekarno yang didalamnya berisi tentang pemberian wewenang untuk membentuk suatu pemerintahan darurat. 

Sehingga setelah itu, dibentuklah Kabinet Darurat dengan Sjafruddin Prawiranegara yang bertindak sebagai Perdana Menteri dan Ir. Indratjaja sebagai Menteri Perhubungan yang juga merangkap sebagai Menteri Kemakmuran. 

Sementara itu, sejak awal kemerdekaan hingga pengakuan kedaulatan Belanda atas Republik Indonesia Serikat (RIS) pada 1949-an, Departemen Perhubungan memiliki wewenang untuk mengatur perhubungan laut, udara, darat, perkeretaapian, pos, telegraf, dan telekomunikasi.

Kemudian masing-masing sektor tersebut pun diurus oleh jawatan-jawatannya sendiri yang berada di bawah struktur organisasi Departemen Perhubungan. Di era 1945 s.d 1949, titik berat yang menjadi perhatian Departemen Perhubungan adalah perhubungan darat. 

Karena, diantara beberapa sektor perhubungan lainnya seperti laut maupun udara, saat itu masih belum bisa menjadi sarana yang optimal. Pada masa itu, angkatan laut masih terbatas jalur operasinya dikarenakan sebagian besar wilayah lautan Indonesia dikuasai tentara sekutu, termasuk Belanda. Sehingga hubungan interinsuler berada dalam kekuasaan mereka. 

Pada masa itu juga, perkeretaapian menjadi perhatian utama dalam mengelola perhubungan darat, dikarenakan bisa dikatakan jaringan angkutan darat lainnya seperti bus, truk, mobil tidak ada. Semua alat angkut bermotor kala itu masih dikuasai Jepang. 

Di sisi lain, pembenahan perkeretaapian sebagai sarana darat utama saat itu juga ternyata bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan, sebab tingkat kerusakan kereta api sendiri terbilang cukup signifikan. 

Pada masa Demokrasi Liberal itu, Departemen Perhubungan secara kelembagaan kembali mengalami perubahan, yakni dengan dibentuknya Departemen Perhubungan Laut pada masa Kabinet Djuanda. 



Baca: Sekelumit Tentang Patung Garuda Wisnu Kencana


Dengan adanya departemen itu, maka urusan laut yang sebelumnya menjadi tanggung jawab Departemen Perhubungan, menjadi terpisah dan ditangani secara mandiri oleh Departemen Perhubungan Laut. 

Dalam rangka menguasai pelayaran secara menyeluruh, pada 1952-an, Ir. Djuanda selaku Menteri Perhubungan menetapkan berdirinya PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) yang mulai beroperasi dengan 16 buah kapal milik Perpuska dan 45 kapal yang baru dibeli.

Berdasarkan Keputusan Presiden Indonesia Nomor 153 tanggal 10 Juli 1959, Presiden Soekarno pun kemudian membentuk kabinet baru yang dikenal dengan sebutan Kabinet Kerja I. Dalam Kabinet Kerja I inilah terjadi perubahan dalam struktur pemerintahan negara. 

Istilah Departemen Perhubungan tidak lagi digunakan dan diganti dengan sebutan Kementerian Distribusi dan J. Leimena ditunjuk sebagai Menterinya. Perubahan yang cukup signifikan bagi Departemen Perhubungan terjadi pada masa pemerintahan Demokrasi Terpimpin ini. 

Pada era ini, urusan perhubungan laut, udara, dan darat serta komunikasi tidak lagi berada secara keseluruhan di bawah wewenang Departemen Perhubungan, akan tetapi menjadi terpecah-pecah ke dalam beberapa Departemen yang baru terbentuk pada era tersebut. 

Bahkan nama Departemen Perhubungan dalam Kabinet Kerja I juga tidak lagi digunakan dan diganti dengan istilah Bidang Distribusi yang menangani perhubungan laut, perhubungan darat, pos, dan telekomunikasi, perhubungan udara serta perdagangan. 

Memasuki masa Kabinet Kerja II, urusan perhubungan pun berada di bawah bidang distribusi yang terdiri dari Departemen Perhubungan Darat, Pos dan Telekomunikasi, Departemen Perhubungan Laut, Departemen Perhubungan Udara, dan Departemen Perdagangan. 

Sementara dalam Kabinet Kerja IV, istilah Bidang Distribusi resmi diganti dengan nama Kompartemen Distribusi yang antara lain terdiri dari Departemen Perhubungan Darat, Pos dan Telekomunikasi, Departemen Perhubungan Laut dan Departemen Perhubungan Udara. 

Sedangkan pada masa Kabinet Dwikora, perhubungan laut tidak lagi masuk lagi dalam Kompartemen Distribusi. Akan tetapi dibentuk menjadi kompartemen sendiri yaitu Kompartemen Maritim yang meliputi Departemen Perhubungan Laut, Departemen Perikanan dan Pengolahan Produksi Hasil Laut, serta Departemen Industri Maritim. 

Dalam Kabinet Dwikora yang Disempurnakan I terjadi lagi perubahan, yakni terpisahnya urusan pos dan telekomunikasi dengan perhubungan darat. Dalam kabinet ini juga turut dibentuk departemen baru yaitu Departemen Pos dan Telekomunikasi dibawah Kompartemen Distribusi. 

Selanjutnya dalam susunan Kabinet Dwikora yang disempurnakan II, lagi-lagi terjadi perubahan. Urusan-urusan perhubungan yang sebelumnya didistribusikan dalam beberapa departemen, akhirnya disatukan kembali dalam Departemen Perhubungan. 

Penataan demi penataan yang dilakukan dalam Departemen Perhubungan tersebut menyesuaikan struktur dan citranya, sehingga membuat Departemen Perhubungan menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi bangsa dan negara. Bahkan, konsolidasi yang dilakukan sejak 1945 sampai dengan sekarang mampu menghasilkan sebuah Departemen yang besar.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Sekelumit Tentang Patung Garuda Wisnu Kencana

Koropak.co.id, 22 September 2022 07:35:30

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Bali - Tepat hari ini, empat tahun lalu, Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) diresmikan oleh Presiden Jokowi. 

Patung GWK penuh sejarah. Proses pembangunannya memakan waktu 28 tahun. Hingga 22 September 2018 silam, patung setinggi 121 meter itu sudah bisa dinikmati keelokannya.

Luas lahan pembangunan Patung GWK ini sekitar 60 hektare, tepatnya di Desa Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali akhirnya resmi berdiri setelah 28 tahun lamanya dibangun.

Kala itu, Sabtu 22 September 2018 malam, peresmian Patung GWK dilakukan secara langsung oleh Presiden Jokowi di kawasan GWK Cultural Park, Bukit Ungasan.

Patung GWK berhasil menjadi patung tertinggi ketiga di dunia setelah The Spring Temple Buddha yang ada di China dan The Laykyun Sekkya Buddha yang ada di Myanmar. 

Proses pembuatan patung GWK ini selama 28 tahun. Dikerjakan oleh seniman pematung sekaligus desainer I Nyoman Nuarta. Teknik pembuatan patung tembaga tersebut, menggunakan teknik cor las untuk 754 modul dan salah satu modulnya berukuran 4x3 meter dengan berat kurang lebih satu ton.

Patung GWK yang melebihi tinggi Patung Liberty di Amerika Serikat ini pernah melibatkan 1.000 pekerja meliputi, 400 pekerja di Bandung dan 600 pekerja di Bali. 

Sebagai informasi, Garuda Wisnu Kencana merupakan wujud dari Dewa Wisnu yang sedang mengendarai seekor Garuda. 

Dalam agama Hindu, Dewa Wisnu merupakan Dewa Pemelihara atau Sthiti. 

Filosofi ini yang dipegang erat oleh pembuat patung I Nyoman Nuarta, bahwa selama membuat patung GWK penuh kesakralan.

Proses pembuatannya dipenuhi semangat spiritual, maka sang pembuat, pada 4 Agustus 2018, yakni beberapa pekan sebelum peresmian, menggelar acara syukuran bertajuk "Swadharma Ning Pertiwi" untuk merayakan penyelesaian pembuatan patung. 

Swadharma Ning Pertiwi itu memiliki arti persembahan seseorang kepada tanah kelahirannya. Perayaan dan syukuran yang dilakukan I Nyoman Nuarta tersebut juga menjadi peringatan terhadap perjuangan panjang I Nyoman Nuarta sebagai pematung.



Baca: Jadi Tempat Makan Delegasi KTT G20, Begini Sejarah Garuda Wisnu Kencana


Membutuhkan waktu selama 28 tahun untuk menyelesaikan patung GWK, membuat pembangunan patung ini pun berlangsung dalam empat era kepemimpinan presiden Indonesia. Sementara itu, untuk ide awal membangun patung GWK sendiri muncul pada 1989-an saat I Nyoman Nuarta bertemu dengan dua menteri di zaman Presiden Soeharto, yakni Joop Ave dan IB Sujana, serta Gubernur Bali, Ida Bagus Oka.

Pada awal 1990-an, rencana pembangunan yang dipresentasikan disetujui oleh Presiden Soeharto. Sehingga pada 1997-an, dilakukan peletakan batu pertama pembangunan Cultural Park GWK di Bukit Ungasan Jimbaran. Saat itu, pembuatan keping-keping GWK melibatkan sekitar 120 seniman.

Sedangkan untuk lokasi tempat dibangunnya Cultural Park GWK sendiri merupakan bekas lahan penambangan kapur liar yang sudah tidak produktif lagi dan ditinggalkan dalam keadaan yang kurang baik. Sayangnya, dalam pembangunannya I Nyoman Nuarta mengalami krisis ekonomi dan minimnya anggaran hingga membuatnya harus menjual 80 persen kepemilikan modalnya.

Namun setelah mendapatkan suntikan dana, pada 2013, Patung GWK secara resmi mulai dibangun kembali dan baru rampung pada di era Presiden Jokowi pada Agustus 2018. Dengan tingginya yang mencapai 121 meter, membuat Patung GWK ini dapat terlihat dari Pantai Kuta Sanur, Nusa Dua, hingga Tanah Lot.

Tak hanya itu saja, Selain tempat berdirinya patung, GWK juga menjadi sebuah taman wisata di Jimbaran, Kabupaten Badung, Bali yang berada di ketinggian 146 meter di atas permukaan tanah atau 263 meter di atas permukaan laut. Di taman wisata tersebut juga ada area terbuka seluas 4.000 meter persegi yang disebut dengan "Lotus Pond".

Terbuat dari campuran tembaga dan baja seberat 4.000 ton dengan tinggi 75 meter dan lebar 60 meter. membuat Patung GWK  menjadi patung tembaga terbesar di dunia yang dikerjakan dengan hanya menggunakan teknik pengelasan dan peralatan sederhana. 

Pasalnya, ada 754 modul yang dilas dan dirangkai oleh para seniman untuk membentuk patung GWK secara utuh. Selain merupakan wujud dari Dewa Wisnu, Patung GWK ini juga menjadi simbol dari misi penyelamatan lingkungan dan dunia. 


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Menguak Sejarah Car Free Day, Di Indonesia Digelar Pada 2007

Koropak.co.id, 21 September 2022 15:17:04

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - World Car Free Day atau Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) merupakan salah satu hari penting internasional yang diperingati setiap 22 September. HBKB sendiri diperingati dengan tujuan untuk mengajak masyarakat di seluruh dunia untuk tidak menggunakan kendaraan bermotor selama satu hari.

Dalam perayaannya, masyarakat pun bisa berjalan kaki atau menggunakan transportasi bebas polusi, seperti sepeda, skateboard, sepatu roda, skuter atau mulai menggunakan transportasi umum bagi mereka yang perlu melakukan perjalanan jauh. Lantas, bagaimana sejarah awalnya?

Berbicara mengenai sejarahnya, peringatan HBKB sendiri sebenarnya sudah dimulai sejak 1950-an, tepatnya pada saat berbagai kalangan melakukan aksi protes terhadap penggunaan kendaraan bermotor khususnya mobil. Pasalnya, kendaraan bermotor khususnya mobil kala itu memberikan dampak buruk bagi lingkungan. 

ketika mobil dianggap sebagai gangguan lingkungan kota yang menyebabkan polusi. Banyak orang yang melakukan protes atas kondisi tersebut karena dinilai merusak lingkungan.

Pada 1956-an, Belanda dan Belgia pun untuk pertama kalinya mengadakan Car Free Sundays untuk mengurangi pemakaian kendaraan bermotor dalam satu hari. Selanjutnya pada 1990-an, banyak kota di Eropa juga mulai mengadakan Car Free Project.



Baca: Dari Hutan Belantara, Lapangan Banteng Jakarta Beberapa Kali Ganti Nama


Kemudian pada 1993-an, Asosiasi Transportasi Lingkungan Inggris mengadakan Car Free Day atau hari bebas kendaraan dan proyek ini diikuti beberapa negara di dunia mulai dari Italia, Prancis, Spanyol, dan Amerika Selatan. 

Kepopuleran Car Free Day pun semakin meningkat. Bahkan pada 2000, Hari Bebas Kendaraan bermotor juga hadir di Amerika Selatan dengan Car Free Program terluasnya yang diadakan di Bogota, Columbia. Tak berhenti sampai disana saja, pada 22 September 2000, European Car Free Day juga turut diadakan.  

Sejak saat itulah, Hari Bebas Kendaraan Bermotor menjadi acara tahunan di 46 negara dan 2.000 kota di seluruh dunia, termasuk juga di Jakarta, Indonesia yang mulai ikut menyelenggarakan Car Free Day pada September 2007.

Saat Car Free Day berlangsung, jalan utama ibu kota pun akan ditutup dan digunakan untuk berbagai aktivitas olahraga, seperti berjalan-jalan, jogging, atau bersepeda.

Diketahui, di Indonesia, Car Free Day pertama kalinya diadakan di sepanjang jalan dari Bundaran Senayan, Monumen Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia, hingga Monumen Nasional, Jakarta Pusat.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Peradaban Nenek Moyang Indonesia yang Sejalan dengan Prinsip Sustainable Development

Koropak.co.id, 21 September 2022 07:09:15

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Indonesia merupakan negara yang memiliki ragam suku, bahasa serta karakter yang berbeda-beda di setiap daerah tempat tinggal penduduknya. Namun sejarah menyatakan bahwa sebagian besar penduduk Indonesia tergolong dalam ras Austronesia atau rumpun Melayu. 

Diketahui, persebaran nenek moyang Indonesia sendiri diperkirakan berasal dari wilayah Selatan Tibet. Teori ini pun dikenal sebagai teori Yunnan. Teori ini menyatakan bahwa asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunnan, wilayah yang berada di Tiongkok Selatan.

Teori ini juga bahkan didukung oleh pernyataan Mohammad Ali yang berpendapat bahwa bangsa Indonesia berasal dari Mongol yang terdesak oleh bangsa yang lebih kuat, sehingga mereka melakukan migrasi ke Selatan.

Tak hanya itu saja, R H Geldern dan J H C Kern juga turut mendukung teori ini dengan bukti adanya kapak tua di wilayah bangsa Nusantara yang memiliki kemiripan dengan kapak tua yang ada di Asia Tengah. Sehingga dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penduduk Asia Tengah melakukan migrasi ke kepulauan Nusantara.

Namun, ada juga teori lainnya dan dikenal Teori Nusantara yang menjelaskan bahwa asal usul nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Indonesia itu sendiri. Teori ini dilandasi oleh beberapa argumen, salah satunya menyebutkan bahwa Bangsa Melayu merupakan bangsa yang berperadaban tinggi. 

Peradaban itu sendiri tentunya tidak mungkin bisa dicapai apabila tidak melalui proses perkembangan dari kebudayaan sebelumnya. Teori ini pun diperkuat dengan dukungan Muhammad Yamin, Gorys Keraf, dan J Crawford.

Teori Nusantara juga didukung dengan adanya kesamaan antara bahasa Melayu dengan bahasa Kamboja yang dinilai merupakan suatu kebetulan. Kemudian, penemuan Homo soloensis dan Homo wajakensis di Pulau Jawa memberikan tanda bahwa ada peluang bangsa Melayu merupakan keturunan manusia kuno yang berasal dari Jawa. 

Di sisi lain, ada teori lain yang menyatakan bahwa manusia Indonesia berasal dari Afrika dan teori ini pun dikenal dengan Teori Out of Africa. Teori ini tercipta berdasarkan kajian ilmu genetika melalui penelitian DNA mitokondria gen wanita dan gen pria. Mereka juga diketahui bermigrasi dari Afrika hingga ke wilayah Australia. 

Teori Out of Africa ini juga menyebutkan bahwa manusia Afrika melakukan perpindahan dari Afrika menuju Asia Barat sekitar 50.000 s.d 70.000 tahun yang lalu. Dalam teori ini, disebutkan bahwa sekitar 70.000 tahun yang lalu, bumi memasuki akhir dari zaman glasial ketika permukaan air laut menjadi lebih dangkal karena disebabkan oleh air yang masih berbentuk gletser. 



Baca: Zaman Glasial dan Interglasial; Awal Mula Kehidupan


Pada masa itulah, memungkinkan manusia dapat menyeberangi lautan hanya dengan menggunakan perahu yang masih sederhana. Bahkan berdasarkan pernyataan seorang ahli dari Amerika Serikat, Max Ingman, manusia modern yang ada saat ini berasal dari Afrika, antara kurun waktu 100 s.d 200 ribu tahun lalu. 

Terakhir ada Teori Out of Taiwan yang menyebutkan bahwa asal-usul bangsa Indonesia berasal dari Taiwan, dan bukan dari Daratan China. Teori ini juga bahkan didukung oleh Harry Truman Simanjuntak.

Menurut pendekatan linguistik, dari keseluruhan bahasa yang dipergunakan suku-suku di Nusantara itu memiliki rumpun yang sama, yaitu rumpun Austronesia, dan rumpun tersebut dikenal dengan rumpun Taiwan. Rumpun itu juga digunakan oleh leluhur bangsa Indonesia yang menetap di Pulau Formosa.

Terlepas dari semua teori yang beredar tersebut, peradaban nenek moyang bangsa Indonesia memiliki kesamaan dengan prinsip-prinsip sustainable development saat ini, yakni memanfaatkan sumber daya alam sebaik mungkin sehingga tidak ada pemborosan dan tidak merusak lingkungan. 

Manusia zaman dahulu terkenal hidup secara berpindah-pindah atau nomaden dikarenakan kemampuan mereka dalam memanfaatkan sumber daya alam masih sangat terbatas. Mereka juga memiliki dua ciri khas pola hunian, yakni kedekatan dengan sumber air dan kehidupan di alam terbuka. 

Namun dalam perkembangan selanjutnya, manusia mulai hidup semi nomaden dengan cara tinggal di dalam gua. Mereka terkadang menetap di gua-gua alam, lalu berpindah lagi apabila persediaan makanan disekitar tempat tinggalnya telah habis. 

Biasanya, pemilihan gua sebagai tempat tinggalnya dipengaruhi dua faktor, yakni kondisi di sekitar yang tidak terlalu lembap dan dekat dengan sumber air, serta faktor ketersediaan sumber makanan. 

Selain gua, manusia juga turut memanfaatkan bentukan alam seperti lembah sungai dan kawasan karst pantai. Pada masa itu, mereka juga menjadikan gua sebagai tempat tinggal untuk menghindari dari serangan hewan buas. Memasuki zaman praaksara, manusia pun hidup dalam tiga periode, yaitu masa berburu dan meramu, masa bercocok tanam, dan masa perundagian.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini: