Rambu Solo, Upacara Pemakaman Unik dari Tana Toraja

Koropak.co.id, 11 February 2022 16:02:22
Penulis : Eris Kuswara
Rambu Solo, Upacara Pemakaman Unik dari Tana Toraja

 

Koropak.co.id - Tana Toraja merupakan salah satu daerah yang paling populer di Sulawesi Selatan karena memiliki daya tarik tersendiri bagi sejumlah wisatawan yang datang. Di daerah itu, kalian dapat menikmati kebudayaan khas suku Toraja yang berada di pegunungan dengan kebudayaan khas Austronesia asli.

Diketahui, nuansa budaya yang kental, unik dan berbeda ini tersaji di Tana Toraja, seperti rumah adat Tongkonan, upacara pemakaman Rambu Solo, Pekuburan Batu Lemo, Pekuburan Bayi Kambira dan Pekuburan Gua Londa.

Berdasarkan mitosnya, nenek moyang asli orang Toraja sendiri merupakan orang yang turun langsung dari surga dengan menggunakan tangga. Di mana tangga tersebut berfungsi sebagai media komunikasi kepada Puang Matua (Tuhan menurut kepercayaan Toraja).

Salah satu tradisi Tana Toraja yang menarik untuk dibahas adalah Rambu Solo, atau sebuah upacara pemakaman. Dalam upacara Rambu Solo ini, penduduk Toraja percaya tanpa adanya upacara ritual ini, maka arwah orang yang telah meninggal akan memberikan kesialan bagi keluarga yang ditinggalkannya.

Dilansir dari berbagai sumber, upacara pemakaman Rambu Solo sendiri merupakan serangkaian kegiatan yang rumit terkait dengan ikatan adat dan tradisi setempat serta memerlukan biaya yang tidak sedikit. Bahkan untuk persiapannya pun memakan waktu hingga berbulan-bulan lamanya.

Selagi menunggu kesiapan upacara, jasadnya akan dibungkus menggunakan kain yang kemudian disimpan di dalam rumah leluhur atau tongkonan. Biasanya puncak pemakaman Rambu Solo ini sendiri akan berlangsung pada bulan Juli dan Agustus.

 

 


Baca : Melihat Cara Negara Memajukan Budaya Matrilineal Minangkabau

Di saat itulah, orang Toraja yang sedang merantau di seluruh Indonesia pun akan pulang kampung untuk mengikuti serangkaian kegiatan upacara adat tersebut. Selain itu, sejumlah wisatawan lokal hingga mancanegara yang berkunjung disana pun bisa ikut menyaksikan tradisi adat Tana Toraja ini.

Dalam kepercayaan penduduk Tana Toraja (Aluk To Dolo), mereka memiliki prinsip jika semakin tinggi tempat jenazah diletakkan, maka akan semakin cepat pula rohnya menuju ke Nirwana. Selain itu juga, jika yang meninggal dari kalangan bangsawan, maka diharuskan untuk memotong kerbau yang berjumlah 24 hingga 100 ekor sebagai Ma’tinggoro atau kurban.

Tak hanya itu saja, ada juga yang memotong kerbau belang yang terkenal memiliki harga yang sangat mahal. Upacara pemotongan kerbau ini pun merupakan salah satu tradisi khas Tana Toraja dengan menebas leher kerbau dalam sekali ayunan dengan menggunakan sebilah parang.

Kerbau itu pun nantinya akan terkapar tak bernyawa setelah beberapa waktu. Penduduk Tana Toraja ini juga hidup dalam komunitas kecil, yang di mana bagi mereka yang sudah menikah akan meninggalkan orang tuanya dan membangun kehidupan di tempat lain.

Meskipun begitu, anak tersebut sendiri diketahui tetap mengikuti garis keturunan orang tua dan mendiami satu rumah adat yang disebut sebagai Tongkonan. Tongkonan ini nantinya akan dibagi berdasarkan tingkatan strata sosial yang berbeda sesuai peran dalam masyarakat.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 

Komentar

Permainan Lurah-Lurahan dan Simbol Kehidupan Bermasyarakat di Desa

Koropak.co.id, 02 February 2023 12:20:42

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Permainan tradisional yang dikenal dengan nama lurah-lurahan ini pada dasarnya merupakan simbol kehidupan bermasyarakat di desa. Pasalnya, terdapat seorang pemimpin dan banyak rakyat yang disimbolkan dengan lidi pelepah daun kelapa.

Biasanya, seorang kepala desa atau lurah memiliki kekuasaan yang besar. Sedangkan rakyat atau masyarakat digambarkan sama. Selain itu, lurah juga bisa memerintah atau menolong rakyatnya yang mengalami kesulitan dengan mudah.

Akan tetapi, sesama rakyat akan kesulitan karena memiliki keterbatasan kemampuan dalam membantu sesamanya. Di sisi lain, lurah juga memiliki fasilitas yang memadai untuk membantu warganya yang sedang mengalami kesulitan.

Berbicara mengenai permainan lurah-lurahan, permainan tradisional ini termasuk ke dalam salah satu dolanan yang memakai alat, yaitu menggunakan lidi yang mudah diperoleh atau dalam istilah bahasa Jawa-nya sering disebut dengan biting.

Selain lidi, juga menggunakan kapur atau sejenisnya untuk menggaris kotak sebagai pembatas permainan. Permainan ini biasanya dimainkan oleh kelompok anak-anak Sekolah Dasar (SD) dengan rentan usia 7 s.d 12 tahun, baik itu laki-laki, perempuan, atau pun campuran.

Jenis permainan ini tidak banyak menguras tenaga, karena permainan lurah-lurahan hanya perlu membutuhkan ketekunan dan kesabaran. Sehingga permainan ini pun bersifat santai sebagai penghilang rasa lelah dan bisa dimainkan di waktu senggang, baik itu pagi, siang, atau sore hari.



Baca: Balogo, Permainan Khas Suku Banjar yang Mengandung Nilai Budi Pekerti


Namun kebanyakan anak-anak memainkan permainan ini pada siang hari karena permainan lurah-lurahan memerlukan cahaya yang terang. Seperti halnya dolanan lain yang tidak banyak membutuhkan tempat yang luas, permainan lurah-lurahan juga hanya membutuhkan tempat terbatas, minimal 1 meter persegi.

Sementara itu, untuk cara bermainnya sendiri dimulai dengan menyebarkan kumpulan lidi ke tanah atau lantai. Usahakan lidi menyebar dengan teratur, sehingga lidi yang disebar itu mudah diambil. Untuk lidi yang melewati garis pembatas atau sebagian besar bagian lidinya melewati garis pembatas, maka lidi tersebut juga dinyatakan keluar.

Setelah itu, pemain akan mengambil lidi satu per satu, dan lidi yang lain juga tidak boleh ada yang bergerak. Akan tetapi jika ada lidi yang lain bergerak karena tersentuh lidi yang diambil pemain, maka permainan akan selesai dan pemain yang lain pun akan mengatakan "Mil" sebagai tanda permainan berhenti dan ganti giliran dengan pemain yang lain.

Selain itu, setiap lidi yang berhasil diambil pemain juga akan diberi nilai 5, sedangkan untuk lidi lurah atau yang paling panjang akan diberi nilai 15. Selain itu juga, Lurah dapat menolong lidi yang lain dengan cara mencongkel menggunakan kepala lurah.

Permainan akan dilanjutkan terus menerus hingga ada salah satu pemain yang berhasil mendapatkan nilai batas. Biasanya untuk batas nilai antara 200 s.d 500 poin. Kemudian untuk pemain yang telah melampaui nilai dinamakan mendhem 1, 2, dan seterusnya.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Kala Patung Menari dalam Sang Hyang Grodog Nusa Lembongan Bali

Koropak.co.id, 01 February 2023 15:15:22

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Bali - Bali seolah tidak pernah kehabisan karya seni dan budaya yang menjadi warisan leluhurnya. Bahkan setiap daerah di Bali juga memiliki budaya yang unik dan menarik. Salah satunya adalah tarian sakral sang hyang grodog dari Nusa Lembongan, Kabupaten Klungkung.

Ni Wayan Juli Artiningsih dalam Jurnal Agama Hindu berjudul "Religiusitas Sesolahan Sanghyang Grodog pada Upacara Pengaci Sakral di Lembongan" menyebutkan ada tiga jenis seni tari Bali, yakni tari wali, tari bebali, dan tari balih-balihan. 

Diketahui, tari wali merupakan jenis tarian yang dipertunjukkan pada kegiatan upacara adat dan agama Hindu di Bali. Salah satu jenis tari wali itu adalah tari sang hyang.

Alasan tari sang hyang dikenal sebagai tarian sakral, karena tariannya digerakkan oleh roh atau kekuatan gaib, seperti bidadari kahyangan, monyet, babi hutan, dan binatang lainnya. 

Selain itu, Bali juga memiliki beragam jenis tari sang hyang, dan salah satunya yang terkenal adalah tari sang hyang grodog yang berasal dari Nusa Lembongan. Lantas, apa keunikan dan makna dari tarian sakral ini?

Tari sang hyang grodog ini ternyata berbeda dari tari sang hyang lain di Bali. Pasalnya, penari yang mementaskan tariannya itu bukanlah manusia. Akan tetapi sebuah patung yang menyimbolkan Sang Hyang atau masyarakat lokal menyebutnya dengan gegulak.

Biasanya gegulak ini terbuat dari bambu dan kayu dengan keunikannya yang terletak pada roda kayu sang hyang yang akan digerakkan, bersamaan dengan iringan Gending Sang Hyang. Selain itu, suara gerakan roda kayu dengan tanah itu juga pada akhirnya melahirkan istilah "Grodog".

Adapun keunikan lain dari tari sang hyang grodog ini adalah patung Sang Hyang yang berjumlah 23 simbol. Masing-masing Sang Hyang itu akan mewakili simbol kesuburan, religius, gotong-royong, legenda desa, pelestarian alam, keperkasaan atau kekuataan, dan keanekaragaman satwa.



Baca: Mengenal Tarian Kontemporer di Indonesia


Tari sang hyang grodog ini juga dipentaskan sebagai ritual pengaci desa untuk penyomia desa. Diketahui maksud dari nyomia desa sendiri adalah menolak bala atau menetralisir unsur-unsur negatif menjadi positif. Selain itu, tarian ini juga dipercaya masyarakat bisa mencegah datangnya musibah, seperti kekeringan atau penyakit menular. 

Pada zaman dahulu, kedua bencana ini paling sering menyusahkan warga. Di sisi lain, masyarakat Lembongan juga sangat menantikan ritual ini dikarenakan berfungsi sebagai penolak bala, tarian ini juga dijadikan sebagai hiburan, baik untuk warga maupun wisatawan.

Pementasan tari sang hyang grodog biasanya dilaksanakan pada sasih Karo atau bulan kedua selama sebelas hari. Waktu ini sengaja dipilih karena purnama Karo dianggap bulan yang paling terang dibandingkan bulan purnama lain. 

Untuk lokasi pementasannya berada di catus pata atau perempatan desa, dan digelar pada malam pertama yang diawali dengan sang hyang sampat yang dimaknai pembersihan atau kesucian.

Tari sang hyang grodog juga dilaksanakan sebagai bentuk terima kasih warga Lembongan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas segala karunia-Nya. 

Di sisi lain, tarian ini juga sejalan dengan konsep Tri Hita Karana, yakni kesuburan dan kesejahteraan dalam kehidupan manusia di dunia akan tercapai dengan menjaga hubungan manusia dengan Tuhan-Nya, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam sekitarnya.

Ungkapan terima kasih itu pun tergambar dalam 23 simbol Sang Hyang. Kemudian penggunaan objek binatang atau roh lain sebagai Sang Hyang juga bukan bermaksud menyembah hal tersebut. 

Objek itu sendiri hanya dijadikan sebagai simbol untuk mengucapkan terima kasih kepada Tuhan. Seiring berjalannya waktu, hingga kini tari sang hyang grodog dari Nusa Lembongan ini masih dilestarikan.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Kebo Kinul, Tarian Panen Padi Khas Sukoharjo Tetap Lestari Hingga Kini

Koropak.co.id, 31 January 2023 12:20:11

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Tengah - Tahukah kamu? Daerah eks Karesidenan Surakarta memiliki berbagai tradisi budaya yang unik. Menariknya lagi, produk budaya dari masyarakat di wilayah tersebut juga hingga kini masih banyak yang terus dilestarikan.

Sebut saja tradisi budaya yang ada di masyarakat Kabupaten Sukoharjo. Diketahui, masyarakat yang tinggal di daerah yang berada di selatan Kota Surakarta ini sangat lekat sekali dengan kehidupan agraria.

Dimana sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani sejak zaman dulu sampai dengan sekarang. Dari kegiatan bercocok tanam itulah, pada akhirnya melahirkan kesenian yang hadir di tengah-tengah masyarakat. Salah satunya adalah tarian Kebo Kinul, yang sangat erat dengan penggambaran mengenai kehidupan masyarakat agraris di Sukoharjo.

Berdasarkan sejarahnya, tari Kebo Kinul kerap dipentaskan ketika panen raya di masa lampau sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat yang terus dilimpahkan kepada masyarakat. Sehingga hasil panen pun bisa melimpah dan berkelanjutan tanpa adanya gangguan.

Awal mula kelahiran tarian tradisional ini sendiri berasal dari Desa Genengsari, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo. Menurut penuturan dari seniman Kebo Kinul, kemungkinan tarian khas Sukoharjo ini lahir di tengah masyarakat pada 1950-an.

Sementara itu, mengenai lakon atau cerita dari tarian ini juga secara spesifiknya menceritakan mengenai kehidupan masyarakat di desa tersebut. Konon pada suatu masa, masyarakat di Desa Genengsari mengalami suatu kondisi yang membuat hasil pertaniannya menjadi buruk dengan sebab yang belum jelas.

Hingga pada akhirnya ditemukan bahwa yang menjadi penyebabnya adalah sang Kebo Kinul, sosok yang menjadi penjaga dari tanaman-tanaman di desa yang keberadaannya merasa tidak dihargai karena keserakahan manusia. Bersama dengan hama, ia pun memutuskan untuk merusak tanaman warga.

Dikarenakan peristiwa itulah, tokoh masyarakat yang bernama Kyai Pethuk pun harus turun tangan dan melakukan negosiasi dengan Kebo Kinul. Meskipun awalnya memang tidak berjalan lancar, akan tetapi sang kyai pun pada akhirnya meminta kepada Tuhan dan mengeluarkan keris pusakanya hingga membuat Kebo Kinul pun tunduk. 



Baca: Cintai Alam Semesta dengan Tari Buyung


Kendati berhasil ditundukan, namun Kebo Kinul meminta syarat agar diberikan sesajen dan warga harus melakukan selamatan saat panen tiba. Sejak saat itulah, Kebo Kinul pun menjadi sahabat bagi para petani dalam menjaga tanamannya agar tetap subur.

Seiring berjalannya waktu, tarian dari kebo kinul pun secara perlahan semakin berkembang menjadi hiburan dari masyarakat yang diturunkan dari generasi ke generasi dan tetap lestari sampai dengan saat ini.

Diketahui bahwa sebenarnya ada dua versi dari tarian ini. Versi pertama, sebagai pementasan ketika upacara bersih desa yang digelar oleh masyarakat Genengsari. Sementara versi kedua, ada juga yang menjadikannya sebagai permainan anak-anak.

Penamaan kebo kinul sendiri berasal dari kata "Kebo" yang berarti kerbau, hewan yang menjadi pembantu petani ketika bercocok tanam hingga menjadi lambang kesuburan panen, sementara kinul berasal dari kata "Kinthul" yang berarti menyertai.

Dalam pertunjukannya, tarian ini akan diperankan oleh seorang penari yang menggunakan kostum jerami layaknya orang-orangan sawah. Seiring dengan perkembangan tari kebo kinul yang terus mengikuti zaman, mulai dari riasan, busana, gerakan, hingga bagaimana pertunjukannya tidaklah mengubah pakem asli yang menjadi khas dari tarian ini.

Meskipun ada berbagai kreasi mengenai tarian ini yang ditambahkan di masa sekarang. Seperti dengan menambahkan tembang atau geguritan bersama dengan penampilan tarinya serta lantunan doa-doa.

Tarian ini juga ternyata sudah pernah dipentaskan hingga ke luar negeri. mulai dari Swiss, Belanda, Perancis, hingga Jerman. Bahkan sejak 2020, tari Kebo Kinul ini juga sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dari Sukoharjo.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Dari Hadiah Sri Paku Alam V, Kris of Knaud Jadi Keris Tertua di Dunia

Koropak.co.id, 29 January 2023 15:05:03

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Keris dikenal sebagai benda pusaka yang menjadi bagian dari warisan budaya Nusantara yang masih dilestarikan sampai dengan sekarang. Tak hanya di Jawa, setiap daerah di Indonesia juga memiliki ragam keris yang berbeda-beda. Namun, tahukah kalian keris tertua di dunia?

Diceritakan pada zaman kerajaan yang terjadi ratusan tahun silam, senjata tradisional ini digunakan untuk keperluan berperang. Keris memiliki bentuk yang runcing dan tajam, dengan bilahnya yang berkelok-kelok dan juga terdapat serat-serat lapisan logam.

Dilansir dari laman kebudayaaan.kemdikbud.go.id, keris tersebar di wilayah kekuasaan Majapahit yang meliputi wilayah Pulau Jawa, Madura, Nusa Tenggara, Sumatra, Pesisir Kalimantan, Sulawesi, Semenanjung Malaya, Thailand Selatan, hingga Filipina Selatan.

Tercatat pada 2005, United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) juga telah mengakui keris sebagai Warisan Budaya Dunia Non-Bendawi Manusia. Sementara itu, jika menilik dari asal-usulnya, keris tertua di dunia berasal dari Indonesia dan dikenal dengan nama Kris of Knaud atau Keris Knaud. 

Meskipun berasal dari bumi Nusantara, namun benda pusaka ini tidak disimpan di Indonesia, melainkan di Belanda. Diketahui, Kris of Knaud tercatat sebagai keris tertua di dunia berdasarkan angka tahun saka 1264 atau 1342 Masehi yang terukir di bilah kerisnya. Selain itu, terdapat juga ukiran tokoh Ramayana di permukaan bilah.

Sejak 2003, Kris of Knaud ini dipamerkan di Tropenmuseum, Royal Tropical Institute, Amsterdam, Belanda. Keris tersebut merupakan milik keluarga Knaud yang dihadiahkan oleh Sri Paku Alam V dari Kadipaten Pakualaman Yogyakarta untuk Charles Knaud. Sebelumnya pada 1903, Kris of Knaud dinyatakan hilang.

Akan tetapi setelah 100 tahun kemudian, keris ini berhasil ditemukan dan masih dipegang keluarga Knaud. Konon diceritakan bahwa Charles Knaud (1840-1897) merupakan seorang dokter asal Belanda pada abad ke-19 di Keraton Yogyakarta yang sangat menyukai mistisme Jawa.



Baca: Menguak Asal Usul Keris, Senjata Tradisional Warisan Budaya Indonesia


Suatu waktu, Putra Sri Paku Alam V diduga terkena ilmu hitam atau guna-guna. Pada akhirnya Knaud pun dipercaya oleh Sri Paku Alam V untuk merawat putranya. Tak disangka setelah beberapa lama kemudian, putra dari Sri Paku Alam V berhasil disembuhkan.

Sehingga, sebagai bentuk terima kasihnya kepada Knaud, Sri Paku Alam V memberikan koleksi keris tertuanya sebagai penghargaan dikarenakan telah berhasil menyelamatkan nyawa putranya. Nah, keris hadiah dari Sri Paku Alam V inilah yang diberi nama Kris of Knaud.

Setelah kematian Charles Knaud, pasca Perang Dunia II, keluarganya pun mengubur keris tersebut di kebun mereka selama masa pendudukan Jepang. Selanjutnya saat terjadi Revolusi Nasional Indonesia, mengharuskan mereka pulang ke Belanda dan Kris of Knaud pun ikut dibawa dan disimpan di brankas keluarga Knaud.

Pada abad ke-19, foto Kris of Knaud sempat dikoleksi Bataviaasch Museum of Arts and Archaeology. Kemudian pada 1920-an, Kepala Dinas Arkeologi di Hindia Belanda, N.J. Krom sampai menyediakan tempat khusus untuk keris tersebut yakni di ruang Hindoe-Javaansche Kunst.

Saat itu, Kurator Royal Tropical Institute, David van Duuren bertanya kepada keturunan Knaud yang bernama Kurht Knaud mengenai keris langka yang dimiliki keluarganya. Melalui perizinan dari berbagai pihak, Kurht pun meminjamkan Kris of Knaud kepada Royal Tropical Institute untuk dipamerkan.

Bisa dikatakan bahwa Kris of Knaud ini tergolong merupakan jenis keris Buddha yang sudah ada sejak masa pra-Kadiri-Singasari. Ciri khas dari keris Buddha sendiri adalah sederhana dan tidak berpamor. 

Lalu dari ukiran keris Buddha itu juga mirip dengan gambar belati di candi-candi Jawa sebelum abad ke-11. Maka, pantas saja Kris of Knaud ini disebut sebagai keris tertua di dunia.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Krobongan, Kamar Kosong di Rumah Jawa Dipersembahkan untuk Dewi Sri

Koropak.co.id, 28 January 2023 15:04:34

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Masyarakat Jawa kuno memiliki hunian tradisional berupa rumah panggung yang didalamnya terdiri dari beberapa ruangan dengan fungsi masing-masing. Kemudian di bagian tengahnya, terdapat sebuah kamar yang dianggap sakral yang dinamakan krobongan atau pasren.

Biasanya krobongan dihiasi gorden, kasur, bantal, sajen, dan berbagai perlengkapan lainnya namun tidak dipakai untuk tidur. Kamar tersebut sengaja dibiarkan kosong guna dipersembahkan kepada Dewi Sri, sang dewi padi dalam mitologi Jawa.

Para petani Jawa kuno menjadikan krobongan sebagai tempat sakral yang khusus untuk melakukan pemujaan, pembakaran kemenyan, dan peletakan sajen. Mereka percaya agar usahanya berjalan lancar, maka perlu disediakannya tempat khusus untuk menghormati sang dewi padi di dalam rumah.

Di samping itu, bagi para pengantin baru, kamar tersebut digunakan untuk malam pertama. Akan tetapi, terkadang juga dikosongkan untuk menghormati penyatuan dewa-dewi cinta asmara perkawinan Jawa, yakni Dewa Kamajaya dan Dewi Kama Ratih.

Selain untuk persembahan, pada umumnya krobongan juga digunakan sebagai tempat penyimpanan senjata atau harta pusaka. Konon pada zaman dahulu krobongan ini hanya terdapat di rumah para priyayi, raja, serta pangeran Keraton Surakarta dan Yogyakarta.

Namun seiring berjalannya waktu, masyarakat biasa pun memiliki krobongan di dalam rumahnya. Akan tetapi, cukup sulit juga untuk menemukan krobongan di rumah-rumah orang Jawa zaman sekarang. Bahkan kini rumah tradisional saja hampir tidak ada, dan hanya keraton saja yang masih melestarikan krobongan. 

Alasannya dikarenakan kebanyakan masyarakat Jawa saat ini menganggap krobongan tidak relevan lagi. Di samping itu, banyak juga warga Jawa yang sukses merenovasi rumah keluarga mereka menjadi lebih modern.

Lantas siapakah Dewi Sri? 

Para petani Jawa sangat menghormati Dewi Sri sebagai pemberi kebahagiaan, kesuburan padi, dan keharmonisan rumah tangga. Bahkan sebagian masyarakat kadang kala memanggilnya sebagai Mbok Sri saking dekatnya dengan kehidupan mereka. Pasalnya dia jugalah yang dianggap berperan penting dalam keberhasilan pertanian orang Jawa kuno.

Rahmanu Widayat dalam buku "Sejarah Wayang Purwa" menuliskan, Dewi Sri merupakan saudara Raden Sadana dan putri kandung Prabu Srimahapunggung, Raja Pertama Kerajaan mitologis Purwacarita atau yang dikenal juga dengan nama Medang Kamulan.



Baca: Laliq Ugal; Cara Masyarakat Dayak Meminta Kesuburan Pada Lahan Baru Ditanami


Konon ketika beranjak dewasa, Sadana yang hendak dikawinkan menolak dan memilih untuk meninggalkan kerajaan. Mendengar kepergian saudaranya itu, Dewi Sri pun memutuskan untuk pergi menyusul Sadana. Perjalanan Dewi Padi ini ternyata diikuti sesosok raksasa yang terus menggodanya. Selama perjalanan itulah, Dewi Sri menemui banyak petani dan memberikan pesan-pesan terkait pertanian.

Selain itu, diceritakan dalam Sekar Budaya Nusantara, Dewi Sri juga pernah dikutuk ayahnya menjadi seekor ular sawah. Namun, ia berhasil berubah lagi menjadi manusia. Terlepas dari semua cerita itu, Dewi Sri memang sangat terkenal sebagai dewi padi dalam mitologi Jawa kuno. Sehingga tidak mengherankan jika kehormatannya begitu tinggi di hati petani Jawa. 

Hal Itulah yang pada akhirnya mendorong mereka untuk memperlakukan padi dengan rapi dan cukup hati-hati, mulai dari memotong, sampai dengan menyimpannya. Di lumbung padi juga, pada umumnya para petani akan meletakkan kaca dan minyak wangi untuk Dewi Sri yang mungkin akan datang.

Ketika baru sampai di lumbung, padi juga akan diperlakukan dengan sopan dan hormat. Hal ini dipercaya bisa mendatangkan keberkahan serta kecukupan hingga musim berikutnya. Sebab, semua perlakuan tak baik terhadap beras atau padi nantinya akan sangat melukai hati mereka.

Kemudian selama musim panen, Dewi Sri akan lebih dimuliakan dan para petani kerap mengadakan tradisi berupa upacara metik padi, seren taun, kenduri, dan lainnya. Biasanya acara itu disertai pesta dan pertunjukan wayang lakon Sri Sadono atau Sri Mulih.

Sementara itu, berbicara mengenai rumah tradisional Jawa kuno yang diwarisi secara turun temurun, dari waktu ke waktu telah mengalami perubahan. Pada sejumlah relief di Candi Borobudur, rumah tersebut berbentuk rumah panggung dengan kolong di bawah lantai rumahnya yang digunakan para wanita untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Sementara untuk sekarang, tidak ada lagi rumah Jawa kuno yang memiliki kolong. Tanahnya jugq sudah ditinggikan 20 s.d 40 sentimeter dengan atapnya yang bermacam-ragam, misalnya joglo atau limasan. Didalam rumah Jawa kuno itu terdapat sejumlah ruangan, yakni pendhapa, dalem, pringgitan, gandhok, dan harta pusaka. 

Di rumah joglo para bangsawan Yogyakarta, pada umumnya krobongan ini berisi bermacam benda sakral. Meskipun berbeda dengan para petani, namun benda-benda tersebut tetap melambangkan kesuburan dan kebahagiaan rumah tangga.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Mengenal Ronggeng Bugis, Tari Komedi Khas Cirebon

Koropak.co.id, 28 January 2023 07:12:04

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Barat - Tari Ronggeng Bugis atau yang biasa disebut juga dengan tari Telik Sandi, merupakan tari tradisional khas Cirebon, Jawa Barat. Tari Ronggeng Bugis juga dikenal sebagai pergelaran tari komedi yang dimainkan oleh penari laki-laki yang menggunakan busana perempuan.

Menariknya, busana perempuan yang digunakan para penari laki-laki itu adalah busana mirip badut, sehingga mengundang gelak tawa orang yang melihat pertunjukannya. Meskipun dinamakan tari Ronggeng Bugis, namun tarian tradisional ini bukan berasal dari Bugis, Sulawesi Selatan, melainkan berasal dari Cirebon, Jawa Barat.

Berdasarkan sejarahnya, diceritakan pada saat daerah Cirebon terbebas dari kekuasaan Kerajaan Maharaja Pakuan Pajajaran, Sunan Gunung Jati pun menyatakan kemerdekaan lalu membentuk sebuah kelompok yang dinamakan Pasukan Telik Sandi.

Pasukan Telik Sandi yang dibentuk Sunan Gunung Jati itu pun bertugas melakukan kegiatan spionase di wilayah Pajajaran untuk mengetahui deklarasi kewenangan penuh negara Islam di Cirebon yang memiliki keunikan tari Nusantara. Diketahui, saat itu Kerajaan Cirebon dibantu oleh pasukan Bugis yang ada di Cirebon.

Dengan menyamar sebagai ronggeng yang biasanya adalah wanita ini, akan tetapi kala itu digantikan oleh pria yang berdandan layaknya seorang penari wanita. Berawal dari penyamaran yang dilakukan oleh para pasukan yang bermacam-macam jenisnya itu, berhasil membawa kemenangan bagi misi pasukan Sunan Gunung Jati.

Namun seiring berjalannya waktu, tarian ini pada akhirnya beralih fungsi menjadi seni pertunjukan bagi masyarakat. Biasanya, dalam pementasan Ronggeng Bugis, akan diiringi gamelan atau waditra yang terdiri dari kelenang, gong kecil, kendang kecil, kecrek, dan saron.

Sementara itu, untuk busana yang dipakai para penari yang semuanya laki-laki ini, biasanya menggunakan kebaya dengan warna menyolok dan terang. Kemudian ditambah sanggul kecil yang ditempelkan di belakang kepala pada posisi miring.



Baca: Tari Remo; Khas Jombang yang Terlahir dari Seniman Jalanan


Tak ketinggalan juga para penari akan bermake up mencolok dan gambar bibir yang miring. Sehingga perpaduan seluruh hiasan yang digunakan pada penari pun akan memunculkan kesan lucu yang mengundang tawa.

Uniknya lagi, tata rias dan pakaian yang digunakan para penari juga tidak selamanya baku, dan semuanya dapat berubah-ubah sesuai dengan bayangan kesan yang akan mengundang gelak tawa penonton. Selanjutnya, untuk jumlah penari pada satu pementasan Tari Ronggeng Bugis ini tidak ditentukan secara khusus.

Akan tetapi biasanya rata-rata penari Ronggeng Bugis berjumlah sebanyak empat s.d sembilan orang penari, dan jumlah penarinya itu juga akan disesuaikan dengan luas arena pertunjukkan. Pasalnya tarian tersebut rata-rata memerlukan arena yang cukup luas.

Alasannya dikarenakan dalam pertunjukkannya, para penari akan melakukan gerakan lincah dan atraktif. Untuk atraksi tariannya akan dimulai dengan munculnya seorang penari yang memperagakan gerakan lucu. Selain itu, untuk gerakan tarian yang dibawakannya juga beritmik pelan dan gemulai.

Setelah itu, muncul enam penari lain secara beriringan melakukan gerakan tari yang sama, berlenggang-lenggok dengan berbagai gerakan hingga masuk ke gerakan selanjutnya yang mengandung cerita lucu. Berbagai gerakan lucu tersebut biasanya akan berlangsung sepuluh hingga lima belas menit.

Kelucuan pertunjukan Tari Ronggeng Bugis ini tentunya tidak terbatas pada gerakan saja, melainkan juga memanfaatkan hiasan yang dikenakan. Seperti, sanggul salah seorang penari copot lalu sanggul itu dilemparkan ke arah pemain gamelan, dan lain sebagainya.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Berkenalan dengan Suku-Suku Tionghoa di Indonesia

Koropak.co.id, 26 January 2023 12:13:03

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Masyarakat Tionghoa merupakan salah satu etnis di bumi Nusantara dan sudah memiliki hubungan yang sejak lama dengan masyarakat Indonesia. Entah itu tujuannya hanya untuk singgah berdagang, atau yang bekerja di tanah air. Hingga pada akhirnya mereka pun bisa menyatu di tengah kehidupan masyarakat lokal di Indonesia.

Bahkan, tidak sedikit juga dari mereka yang memutuskan untuk menetap di Indonesia. Selain itu, ada juga yang melakukan perkawinan dengan penduduk lokal. Sehingga, muncullah dari generasi ke generasi mereka yang menjadi salah satu bagian dari masyarakat yang baru.

Namun, apakah kalian sudah mengetahui jika sebenarnya orang-orang Tionghoa ini memiliki suku-suku atau sub etnisnya tersendiri yang berbeda-beda di setiap daerah di Indonesia? Berikut beberapa suku-suku Tionghoa yang ada di daerah Indonesia sebagaimana dilansir dari laman GNFI;

1. Hokkien

Suku Hokkien ini tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, dan menjadi salah satu suku Tionghoa terbesar di Indonesia. Suku Hokkien berasal dari daerah tenggara Cina daratan, atau tepatnya di Provinsi Fujian.

Untuk persebaran orang-orang Hokkien di Indonesia sendiri bisa kita temui di daerah Medan, Pekanbaru, Jambi, Palembang, Bengkulu, Jakarta, Surabaya, Bali, Kutai, Banjarmasin, Makassar, Kendari, Manado, hingga Maluku.

2. Hakka

Suku Hakka atau yang kerap disebut juga sebagai Suku Khek ini kerap menggunakan bahasa Hakka. Suku Hakka berasal dari daerah pegunungan Guangxi, Fujian, dan Guangdong. Jika di Tiongkok, orang-orang ini kerap dianggap sebagai suku yang berpindah-pindah dikarenakan mereka sering sekali merantau.

Di Indonesia, kita bisa menjumpai orang-orang Tionghoa keturunan Hakka di daerah Bangka Belitung, Batam, Lampung, Aceh, Sumatra Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku, hingga Papua.



Baca: Tay Kak Sie, Klenteng Tua Penuh Nilai Filosofis Tionghoa di Semarang


3. Tiochiu Atau Teochew

Di daerah asalnya Cina, masyarakat Suku Tiochiu terkenal sebagai etnis yang kerap merantau ke luar tanah Tiongkok. Sebenarnya Suku Tiochiu ini berasal dari Fujian, namun dikarenakan populasinya yang terlalu banyak, mereka pun pindah ke pesisir Guangdong. Dengan dialek Tiochiu, bahasa mereka pun terpengaruh antara Kanton dan Hakka.

Sementara itu, keturunan suku Tiochiu sendiri banyak yang bermukim di daerah Kalimantan Barat seperti di Pontianak dan Ketapang. Kemudian ada juga yang bermukim di Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Jawa, Riau, Jambi, serta Sumatra Selatan.

4. Kanton

Orang-orang dari Suku Kanton ini berasal dari Guangzhou. Dari segi bahasa, mereka kerap sekali menggunakan Bahasa Kanton atau Konghu yang menjadi salah satu bahasa dari Cina yang banyak dituturkan orang-orang di seluruh dunia. Di Indonesia, masyarakat Tionghoa bersuku Kanton ini bisa dijumpai di daerah Manado, Makassar, Medan, dan Jakarta.

5. Hainan

Mungkin kita sering mendengar kata "Hainan" ini sebagai salah satu menu makanan. Akan tetapi sebenarnya Hainan sendiri merupakan salah satu suku dari Tiongkok. Sesuai dengan namanya, mereka berasal dari Pulau Hainan yang berada di daerah selatan Cina yang dekat dengan Vietnam dan berbatasan langsung dengan Laut Cina Selatan.

Di Indonesia, orang-orang Hainan bisa ditemui di daerah Manado, Batam, dan Pekanbaru. Di sisi lain, sebenarnya juga masih ada lagi etnis Tionghoa lain yang tinggal di Indonesia, seperti suku Hokchia, Hui, hingga Henghwa. Namun bisa dikatakan sebaran dari suku-suku itu tidak terlalu banyak.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Tanean Lanjhang, Perlambang Ikatan Kekeluargaan yang Kuat Masyarakat Madura

Koropak.co.id, 25 January 2023 12:10:07

Eris Kuswara

 

Koropak.co.id, Jawa Timur - Suku Madura dikenal sebagai suku yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kekerabatan. Di mana biasanya keluarga besar yang terdiri dari beberapa keluarga, akan tinggal secara berdekatan dalam satu pemukiman yang disebut dengan "Tanean Lanjhang".

Tanean Lanjhang berasal dari bahasa Madura yakni kata "Tanean" yang berarti "halaman" dan "Lanjhang" yang berarti "panjang". Sedangkan dalam bahasa Indonesia, Tanean Lanjhang memiliki makna halaman yang panjang.

Sementara itu, bagi masyarakat Madura, Tanean Lanjhang sendiri bukan hanya sekadar rumah adat Madura yang terdiri dari satu rumah saja. Hal itu dikarenakan, Tanean Lanjhang ini merujuk pada pemukiman yang terdiri dari 2 s.d 10 rumah, di mana rumah tersebut akan ditinggali oleh beberapa keluarga yang masih berada dalam satu ikatan keluarga.

Biasanya, satu Tanean Lanjhang akan terdiri dari beberapa komponen, yaitu rumah induk, langgar (masjid/musala), lumbung, dapur, dan halaman (Tanean). Selain itu, rumah pada Tanean Lanjhang juga akan berjejer dari timur ke barat serta menghadap ke arah utara atau selatan.

Kemudian untuk yang tinggal di Tanean Lanjhang ini adalah keluarga batih yang di dalamnya itu terdiri dari orang tua, anak, cucu, cicit, dan seterusnya. Sekilas, bangunan pada Tanean Lanjhang mengadopsi gaya arsitektur rumah Joglo. Hal tersebut bisa terlihat dari bentuk bangunannya yang melebar dan memiliki atap menjulang berbentuk limas.

Berdasarkan data dari Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud, setidaknya ada beberapa bentuk atap dari Tanean Lanjhang, di antaranya atap berbentuk limas dengan bagian ujung atap yang polos (Tegon), dan atap berbentuk limas dengan hiasan tanduk di kedua ujungnya sehingga membuatnya mirip kapal atau naga (Bhangsal).

Selanjutnya, atap dengan bentuk seperti burung dara yang sedang mengepakkan sayap (Jikar Empu), atap rumah yang hanya memiliki satu sisi (Sa lip lap), dan atap rumah yang memiliki dua sisi (Da lip lap).

Sama halnya dengan rumah adat tradisional pada umumnya, rumah adat Madura ini juga terdiri dari beberapa bagian atau komponen, mulai dari langghar atau langgar (musala), roma tongghuh (rumah induk), Tanean (halaman), dan dapur.

Tak hanya terkenal menjunjung tinggi nilai kekerabatan, masyarakat Madura juga dikenal sangat agamis yang dimana mayoritas penduduknya beragama Islam. Oleh karena itulah, setiap Tanean Lanjhang pun wajib memiliki satu langghar atau langgar (musala) sebagai tempat beribadah.



Baca: Karapauw Kame, Rumah Pendewasaan Bagi Remaja Suku Kamoro Papua


Pada umumnya, posisi langghar pada Tanean Lanjhang sendiri berada di sebelah barat dan menghadap ke timur. Langghar ini juga tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, melainkan juga sebagai tempat menerima tamu laki-laki, dan tempat bermusyawarah.

Sementara untuk Roma Tongghuh atau rumah induk, biasanya dibangun di sebelah Utara dari Tanean Lanjhang dan menghadap ke selatan. Rumah induk ini umumnya akan ditinggali oleh anggota keluarga tertua dalam keluarga besar di satu Tanean Lanjhang.

Selain itu, rumah induk juga memiliki ciri khas yang bisa membedakannya dengan rumah anggota keluarga lainnya. Diketahui, ciri yang paling mudah dilihat adalah ornamen jengger ayam pada rumah induk dan ukuran rumahnya yang lebih besar dan mewah dibandingkan dengan rumah lainnya.

Selanjutnya untuk halaman atau Tanean, biasanya akan berada di bagian tengah dari pemukiman keluarga atau Tanean Lanjhang dengan bentuknya yang memanjang. Halaman ini juga memiliki fungsi sebagai tempat bersosialisasi bagi para anggota keluarga. 

Bukan hanya itu saja, halaman juga berfungsi sebagai tempat berlangsungnya berbagai aktivitas keluarga, seperti tempat bermain anak, upacara adat, menjemur hasil bumi dan berbagai kegiatan lainnya. Terakhir, untuk dapur pada Tanean Lanjhang akan terletak di samping atau di belakang rumah, akan tetapi bisa juga berada di samping kandang ternak.

Selain memiliki fungsi utama sebagai tempat mengolah makanan, dapur itu juga berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan hasil panen. Untuk ukuran dari dapur sendiri biasanya tidak terlalu besar dan disesuaikan dengan kebutuhan dari keluarga itu.

Tanean Lanjhang ini bukan hanya menjadi rumah adat Madura yang disusun berderet, akan tetapi dibalik itu semua tersimpan makna filosofis di dalamnya. Mulai dari pengurutan rumah dari timur ke barat, melambangkan urutan usia penghuni rumah dari yang tertua sampai dengan yang termuda.

Tanean Lanjhang yang hanya memiliki satu pintu masuk berhiaskan ukiran khas Madura dengan warna hijau dan merah juga bermakna sebagai kesetiaan dan perjuangan. 

Jika dilihat secara garis besar, Tanean Lanjhang ini melambangkan budaya masyarakat Madura yang memiliki ikatan kekeluargaan yang kuat serta religius. Dimana hal itu tergambar jelas pada susunan rumah di Tanean Lanjhang yang ditambah dengan adanya musala sebagai tempat beribadah.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Cintai Alam Semesta dengan Tari Buyung

Koropak.co.id, 24 January 2023 15:24:10

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Barat - Tari tradisional yang berkembang di Indonesia, menjadi suatu perwujudan budaya dari suatu daerah tertentu. Tari-tarian tradisional yang berkembang juga tidak hanya digelar sebagai acara hiburan saja, akan tetapi juga sebagai persembahan upacara, menyambut tamu penting, dan lain sebagainya. 

Provinsi Jawa Barat memiliki tari-tarian tradisional yang beragam. Salah satunya adalah Tari Buyung yang berasal dari Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Bahkan pemerintah juga sudah mengakuinya sebagai tarian tradisional khas Kabupaten Kuningan.

Tarian yang sudah ada sejak zaman dahulu ini dipercaya sebagai salah satu warisan budaya masyarakat Kuningan, Jawa Barat. Biasanya, Tari Buyung ditampilkan dalam perayaan upacara adat Seren Taun. Upacara tersebut digelar sebagai ungkapan rasa syukur kepada sang pencipta karena telah memberikan hasil panen yang melimpah.

Berdasarkan catatan sejarahnya, Tari Buyung tercipta hasil kreasi Emilia Djatikusumah yang merupakan istri dari sesepuh adat yang Pangeran Djatikusumah sejak 1969-an. Tarian ini tercipta karena melihat kebiasaan para wanita yang mengambil air dengan buyung. Tari Buyung pertama kalinya diperkenalkan dalam sebuah pagelaran pada 1970-an. 

Tari Buyung juga memiliki makna untuk mengajak manusia agar lebih mencintai alam semesta. Salah satunya bersyukur atas pemberian air yang melimpah. Diketahui, buyung sendiri merupakan alat yang terbuat dari logam atau tanah liat. Buyung telah digunakan oleh wanita zaman dahulu untuk mengambil air. 

Untuk air yang diambik para wanita tersebut berasal dari danau, mata air, sungai, hingga sumber air lainnya. Konon, gerak lembut dan nuansa pada saat bulan purnama, menjadi dasar terciptanya tarian ini.



Baca: Tari Remo; Khas Jombang yang Terlahir dari Seniman Jalanan


Tari Buyung ini juga seolah mengisahkan para gadis desa yang mandi bersama, lalu mengambil air dari pancuran Ciereng dengan menggunakan buyung. Selain itu, setiap gerakan tari Buyung juga mengandung makna yang tersirat. 

Seperti gerakan penari saat bersimpuh di bawah, menggambarkan bagaimana masyarakat memohon kepada Sang Pencipta alam semesta agar diberikan perlindungan. Lalu ada gerakan penari saat buyung diangkat dari kepala untuk mengambil air, yang bermakna bahwa air adalah sumber kehidupan. 

Pasalnya, di manapun manusia tinggal, maka di sana jugalah manusia pasti akan membutuhkan air. Selanjutnya ada gerakan saat naik ke atas kendi sambil membawa buyung di kepala.

Seperti "Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung", gerakan membawa buyung di atas kepala yang memerlukan keseimbangan ini bermakna bahwa dalam setiap kehidupan itu diperlukan keseimbangan antara perasaan dan juga pikiran.

Terakhir, ada gerakan saat penari bergandengan sejajar yang dilakukan dengan bergandengan tangan lalu diikuti langkah yang seirama. Makna dari gerakan ini adalah setiap masyarakat harus bisa saling bertoleransi, tidak membeda-bedakan agama, suku, maupun ras.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Pendatang di Kalimantan, Ikutilah Kepuhunan

Koropak.co.id, 23 January 2023 15:17:47

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Saat berkunjung ke daerah kalimantan, biasanya para pendatang akan diberi nasehat untuk menjaga perilakunya agar tidak kepuhunan. Diketahui, kepuhunan sendiri merupakan kepercayaan yang diwariskan sejak zaman nenek moyang dan masih melekat di masyarakat sampai dengan saat ini.

Hingga kini, cerita tentang kepuhunan di Kalimantan juga masih menyebar dari mulut ke mulut, dan cerita yang menyebar itu berasal dari orang yang pernah mengalaminya. Biasanya, kepuhunan sendiri akan dikaitkan dengan sikap pendatang saat diberi atau ditawari minuman oleh penduduk setempat. 

Lantas, apa itu sebenarnya kepuhunan? 

Dilansir dari laman warisanbudaya.kemdikbud.go.id, kapuhunan atau disebut juga dengan kapohonan, merupakan kepercayaan masyarakat akan sebuah malapetaka yang akan terjadi saat melihat orang lain makan atau minum, kemudian tidak ikut menyantapnya. 

Dipercaya, hal ini harus dilakukan terutama saat melihat orang makan dan pemilik makanan akan mengangkat wadah hidangannya sambil menawarkan untuk turut bersantap. 

Hal yang dimaksud dalam hal ini adalah merasakan makanan yang dimakan orang yang dilihat, atau sekedar menyentuhkan jari ke makanan itu lalu menyentuhkan jari tersebut ke leher. 



Baca: Upacara Mekotek, Tradisi Penolak Bala Warisan Nenek Moyang Desa Munggu


Dalam bahasa setempat juga dikenal dengan istilah tapen, yaitu jika seseorang memiliki niat dalam hati untuk makan atau minum sesuatu, namun tidak dilaksanakan. Oleh karena itulah, maksud dari tradisi kepuhunan agar keinginan yang disimpan harus segera dilaksanakan. 

Sementara itu, kapuhunan ini akan terjadi jika seseorang menginginkan suatu makanan atau minuman tapi tak terpenuhi, atau tepatnya ketika seseorang ditawari makanan atau minuman oleh orang lain, namun tidak diindahkannya. 

Dilansir dari laman Kompas, berdasarkan penuturan warga Landasan Ulin, Banjarbaru Yuliyana menuturkan, jika masih dalam keadaan kenyang, maka sebaiknya seseorang itu menyentuh atau bajapai makanan tersebut atau bisa juga mencicipi sedikit saja untuk menghindari kapuhunan. 

Siti Maryam, warga lainnya yang paham dengan kebiasaan di masyarakat setempat, menyatakan bahwa memang biasanya kapuhunan identik dikarenakan rasa yang tak terpenuhi, menunda, atau mengabaikan tawaran makanan atau minuman. Jika seseorang tidak sedang berselera, maka bisa mencicipi barang sedikit atau bejapai.

Lantas bagaimana jika terlanjur dan terjadi kapuhunan, seperti tertimpa musibah kecil, maka dianjurkan untuk menyegerakan makan atau minum sesuai dengan yang dikehendaki sebelumnya.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Suku Sasak dan Tradisi "Kawin Lari" yang Unik

Koropak.co.id, 22 January 2023 07:06:45

Eris Kuswara


Koropak.co.id, NTB - Suku Sasak dikenal sebagai suku asli yang mendiami Pulau Lombok. Suku ini juga diduga berasal dari Jawa dan Bali. Namun diperkirakan ras Melayu sendiri telah mendiami Lombok sejak 4.000 tahun lalu. 

Dikarenakan asimilasi budaya yang datang dari Jawa dan Bali, membuat kebudayaan Sasak dan masyarakat Lombok ini pada umumnya memiliki kemiripan dengan Jawa dan Bali. Selain itu, Lombok juga tercatat dalam kitab Negarakertagama, sebuah kitab yang memuat tentang kekuasaan dan pemerintahan kerajaan Majapahit. 

Dalam kitab itu, Lombok disebutkan sebagai Lombok Mirah Sasak Adi, dan kata-kata tersebut bermakna kejujuran adalah permata kehidupan nyata yang baik atau utama. Makna dan filosofi inilah yang pada akhirnya selalu diterapkan para leluhur masyarakat Lombok, sebagai bentuk kearifan lokal yang harus senantiasa dijaga dan dilestarikan oleh semua generasi. 

Diceritakan pada abad ke-6, Lombok berhasil ditaklukkan oleh kerajaan Gelgel dari Bali hingga dikuasai dalam kurun waktu yang cukup lama. Berawal dari penaklukan inilah, budaya Bali pun mulai mempengaruhi budaya lokal masyarakat Lombok. 

Pengaruh budaya Bali tersebut dapat dilihat dari bahasa, busana, dan beberapa kesenian yang bercorak Bali di Lombok. Seperti di daerah Mataram dan Lombok Barat, ada beberapa pura besar yang hingga kini masih aktif digunakan oleh masyarakat Hindu di Lombok. 

Kemudian sekitar abad ke-16, Lombok berada dalam kekuasaan Kerajaan Majapahit dan membuat budaya Hindu Jawa pun pada akhirnya turut mempengaruhi budaya suku Sasak yang merupakan penduduk asli Pulau Lombok. Selanjutnya, di akhir abad ke-16 s.d abad ke-17, Lombok mulai banyak dipengaruhi oleh budaya Jawa Islam melalui dakwah yang dilakukan oleh Sunan Giri. 

Hal inilah yang secara tidak langsung juga turut menyebabkan perubahan agama Suku Sasak, dari yang sebelumnya beragama Hindu menjadi beragaman Islam. Sementara itu, ada salah satu tradisi unik yang dimiliki suku Sasak yang berhubungan dengan pernikahan. Namanya tradisi kawin lari. 



Baca: Dari Suku Sasak untuk Rumah Adat


Alasan tradisi itu disebut kawin lari, dikarenakan dalam tradisi pernikahan Suku Sasak ini akan didahului dengan konsep "penculikan" anak gadis oleh laki-laki yang menginginkannya. Diketahui, tindakan itu pun disebut dengan merarik. 

Merarik sendiri menunjukkan kejantanan seorang laki-laki karena telah berani mengambil anak gadis orang tanpa izin. Sehingga sang laki-laki pun harus berani bertanggung jawab terhadap keselamatan dan kebutuhan sang gadis selama masa "penculikan". 

Dalam kurun waktu tiga hari, pihak laki-laki harus sudah mengabarkan penculikan itu. Sementara selama masa proses "penculikan" berlangsung, sang gadis akan dibawa ke rumah calon suami atau saudaranya dan proses ini dikenal dengan istilah bersejati. 

Menariknya lagi, jika dalam waktu tiga hari pihak laki-laki belum memberitahukan kabar penculikan kepada keluarga perempuan, maka ia diharuskan membayar denda terlambat salabar. Denda tersebut nantinya akan diserahkan pada saat upacara pernikahan berlangsung. 

Pihak laki-laki biasanya akan mengirim utusan atau bersela bor kepada pihak perempuan yang dipimpin oleh seorang Pembayun atau pemuka adat. Puncak upacara adat perkawinan suku Sasak disebut Sorong Serah Aji Krame, berupa penyerahan sejumlah mas kawin yang disebut saji krama. 

Perkawinan tersebut pun dianggap sah jika Sorong Serah Aji Krama telah dilaksanakan. Kemudian setelah itu, pengantin laki-laki dan perempuan akan di arak berkeliling kampung sebagai bentuk raksa suka cita dan proses ini oelh masyarakat setempat disebut dengan nyongkolan.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Mengenal Ritual Erpangir Ku Lau, Cara Leluhur Mengusir Roh Jahat

Koropak.co.id, 20 January 2023 15:09:55

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Sumatra Utara - Suku Karo yang mendiami wilayah Provinsi Sumatra Utara memiliki tradisi yang diajarkan para leluhur dan dilaksanakan secara turun temurun. Salah satunya adalah Ritual Erpangir Ku Lau.

Ritual Erpangir Ku Lau merupakan tradisi warisan leluhur secara turun temurun yang dilaksanakan masyarakat suku Karo Sumatra Utara, tepatnya di Kuta Gugung, Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo. Diketahui, Suku Karo sendiri merupakan sub suku Batak yang memiliki peradaban dan pengetahuan yang tinggi. 

Masyarakat suku Karo juga dikenal sebagai suku yang pintar dalam meramu obat-obatan dari tumbuhan secara tradisional dan masih tetap teguh dalam melestarikan budaya dari para leluhur sampai dengan saat ini.

Diketahui, masuknya pengaruh agama membuat tradisi ini jarang ditemui di masyarakat Karo. Meskipun begitu, masih banyak juga yang melakukan ritual ini secara sembunyi-sembunyi karena sifatnya yang dikeramatkan.

Dilansir dari laman karokab.go.id, Erpangir Ku Lau adalah upacara mandi pangir untuk mengusir atau menyucikan diri dari pengaruh roh jahat. Erpangir memiliki arti mandi, sedangkan Ku Lau berasal dari kata Maba Ku Lau, yang berarti membawa anak turun mandi.

Berdasarkan sejarahnya, ritual Erpangir Ku Lau ini sudah ada sejak lama dan dilaksanakan setiap generasi. Selain untuk mengusir roh jahat, ritual ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit, menolak bala, dan mengatasi berbagai masalah.



Baca: Upacara Rakut Sitelu, Cara Suku Karo Merawat Kekerabatan


Menurut kepercayaan suku Karo, Erpangir Ku Lau sekaligus cara berdoa kepada Tuhan. Jadi, ritual ini harus dilaksanakan minimal satu kali setiap tahunnya dan jika tidak dilaksanakan, masyarakat pun meyakini akan terjadi sebuah malapetaka.

Dalam pelaksanaannya, Erpangir Ku Lau digelar tidak seperti upacara adat yang meriah karena hanya dilaksanakan dalam satu hari dengan hidangan sederhana. Kemudian untuk pemandiannya menggunakan beberapa jenis pangir atau ramuan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.

Awalnya, ritual Erpangir Ku Lau menggunakan 11 jenis rimo, diantaranya rimo mukur, rimo peraga, rimo malem, rimo gawang, rimo kayu, rimo kejaren, rimo kuku arimo, rimo manis, rimo nipis, rimo kersik, dan rimo Bali. Namun, dikarenakan sebagian besarnya sulit ditemui, maka lima jenis rimo saja sudah sah. 

Namun yang paling penting dan harus ada pada ritual yaitu rimo mukur atau jeruk purut yang disakralkan oleh suku Karo. Sementara itu, untuk beberapa jenis pangir yang sering dipakai dalam ritual, diantaranya pangir selamsam untuk mimpi buruk, yang terdiri dari rimo mukur atau jeruk puruk, baja atau getah kayu besi, dan mangkuk putih.

Kemudian ada pangir sitengah, yang terdiri dari empat jenis rimo dan biasanya dilakukan di Lau Sirang, di mana air mengalir terbelah menjadi dua aliran. Lalu, ada Pangir sintua atau agung, yang terdiri dari penguras, tujuh jenis rimo, dan wajan. Dalam pelaksanaannya di Lau Sirang, akan diiringi Erkata Gendang atau alat musik Karo.

Dilansir dari jurnal berjudul "Ritual Erpangir Ku Lau pada Etnis Karo di Desa Kuta Gugung, Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo", terdapat beberapa nilai yang terkandung pada ritual Erpangir Ku Lau diantaranya nilai sosial dan ekonomi, serta berorientasu pada lingkungan.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini: