Asal Usul Lontong Balap, Kuliner Khas Surabaya yang Melegenda

Koropak.co.id, 15 February 2022 15:14:22
Penulis : Eris Kuswara
Asal Usul Lontong Balap, Kuliner Khas Surabaya yang Melegenda

 

Koropak.co.id - Lontong balap merupakan makanan khas Indonesia yang menjadi ciri khas dari Kota Surabaya di Jawa Timur. Makanan ini sendiri terdiri dari lontong, tauge, tahu goreng, lentho, bawang goreng, kecap dan sambal.

Biasanya, lontong balap ini didominasi oleh tauge. Berdasarkan sejarahnya, menurut cerita zaman dahulu, lontong balap tersebut masih dijual dalam gentong-gentong yang berat dan dipikul ke seluruh kota.

Dilansir dari indonesiakaya.com, gentong-gentong yang berat itulah yang menyebabkan para penjual lontong balap ini seraya memikul harus berjalan secara cepat, sehingga menimbulkan kesan mereka sedang berpacu (dalam bahasa Jawa balapan).

Namun seiring dengan perkembangan zaman, kini lontong balap tersebut lebih sering dijual dalam kereta dorong, meskipun demikian nama lontong balap sendiri tetap tidak berubah.

Sementara itu, dilansir dari idntimes.com, ada beberapa versi terkait asal usul dari lontong balap. Salah satu versinya menyebutkan bahwa pada zaman dahulu para penjual lontong balap tersebut harus adu cepat untuk sampai ke tempat tujuan dan mendapatkan pembeli.

Sedangkan untuk versi lainnya mengatakan, pada zaman dahulu lontong balap tidak dijual dengan gerobak dorong. Penjualnya saat itu memakai gentong berukuran besar dan berat untuk menampung kuah dan bahan-bahan lainnya.

 

 


Baca : Kue Kamir Pemalang Ternyata Awalnya Berasal dari Arab

 

Dikarenakan gentong itu berat, maka penjualnya pun harus berjalan cepat seperti orang balapan. Cita rasa lontong balap ini sendiri diketahui sangat menyegarkan dengan perpaduan rasa manis, asin, dan gurih. Selain itu, kuah lontong balapnya juga bening tak bersantan. Sehingga rasanya pun ringan dan tidak membuat eneg sama sekali.

Setiap penjual lontong balap juga ternyata mempunyai ciri khasnya masing-masing dan itu tergantung dari bumbu, kuah, dan lentho. Tak hanya sebagai bahan terpenting, membuat lentho juga cukup rumit.

Sebelum digoreng, lentho itu dibuat dari kacang yang direndam selama semalaman, lalu dibersihkan dan ditumbuk. Setelah itu, lentho tersebut kemudian dibumbui garam, kencur, daun jeruk, bawang putih, bawang merah dan ketumbar.

Bagi yang menyukai pedas, tentunya bisa menambahkan sambal petis yang menjadi ciri khas dari lontong balap. Sebagai pelengkap, kalian juga bisa menikmatinya dengan kerupuk, sate kerang, dan es degan.

Kalian sendiri bisa menemukan beragam warung lontong balap enak ini di Surabaya, seperti lontong balap Rajawali, lontong balap Pak Gendut, lontong balap Pak H. Woko, dan masih banyak lagi yang lainnya. Tentunya selain enak, harga lontong balap ini juga sangat ramah di kantong.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 

Komentar

Penetapan EYD dan Sejarah Panjang Bahasa Indonesia

Koropak.co.id, 17 August 2022 12:17:04

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Bahasa Indonesia tidak terlepas dari perkembangan ejaannya. Beberapa ratus tahun lalu belum disebut bahasa Indonesia seperti saat ini, melainkan bahasa Melayu. Pada masa kerajaan Sriwijaya ada beberapa prasasti yang bertuliskan bahasa Melayu Kuno dengan memakai huruf Pallawa (India) yang banyak dipengaruhi bahasa Sanskerta, seperti halnya bahasa Jawa Kuno dan bahasa juga saat itu belum menggunakan huruf Latin. 

Bahasa Melayu Kuno kemudian berkembang di berbagai tempat di Indonesia, terutama pada masa Hindu dan masa awal kedatangan Islam atau abad ke-13. Saat itu, pedagang-pedagang Melayu yang berkekeliling di Indonesia memakai bahasa Melayu sebagai lingua franca, yakni bahasa komunikasi dalam perdagangan, pengajaran agama, serta hubungan antarnegara dalam bidang ekonomi dan politik.

Lingua franca secara tidak langsung merata hingga berkembang di kota-kota pelabuhan yang menjadi pusat lalu lintas perdagangan. Kala itu, banyak juga pedagang asing yang berusaha untuk menguasai bahasa Melayu untuk kepentingan mereka. 

Bahasa Melayu mengalami penulisannya dengan huruf Arab yang juga berkembang menjadi huruf Arab-Melayu. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya karya sastra dan buku agama yang ditulis dengan huruf Arab-Melayu pada masa itu. 

Huruf ini jugalah yang pada akhirnya dijadikan sebagai ejaan resmi bahasa Melayu sebelum mulai digunakannya huruf Latin atau huruf Romawi untuk penulisan bahasa Melayu, meskipun masih secara sangat terbatas. 

Ejaan latin untuk bahasa Melayu itu mulai ditulis oleh Pigafetta, yang kemudian dilanjutkan oleh de Houtman, Casper Wiltens, Sebastianus Dancaert, dan Joannes Roman. Setelah tiga abad kemudian ejaan ini baru mendapat perhatian dengan ditetapkannya Ejaan Van Ophuijsen pada 1901 yang merupakan ejaan Lama "warisan" Belanda. 

Keinginan untuk menyempurnakan ejaan Van Ophuijsen itu terdengar dalam Kongres Bahasa Indonesia I di Solo pada 1938-an yang sembilan tahun kemudian terwujud dalam sebuah Putusan Menteri Pengadjaran Pendidikan dan Kebudajaan, tentang perubahan ejaan baru pada 15 April 1947.



Baca: Cikal Bakal Bahasa Indonesia, Bahasa Melayu Dipakai di Asia Tenggara


Nama ejaan tersebut diambil dari sang perumusnya bernama Charles van Ophuijsen, seorang ahli bahasa berkebangsaan Belanda. Dalam menyusun Ejaan van Ophuijsen itu, Charles van Ophuijsen yang juga dikenal sebagai profesor bahasa Melayu di Universitas Leiden Belanda tersebut tak bergerak sendirian. 

Sebagaimana ditulis Sudaryanto dalam Ejaan van Ophuijsen (1901-1947) pada Iklan Tempo Doeloe dan Kebermaknaannya, dalam upaya pengembangan Bahasa Indonesia van Ophuijsen, Charles dibantu Engku Nawawi dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Setelah sempurna, ejaan itu pun mulai diberlakukan pada 1901-an.

Sementara itu, untuk ciri yang terdapat pada Ejaan van Ophuijsen di antaranya penggunaan huruf "oe" yang dibaca "u", serta penggunaan huruf "j" yang dibaca "y". Meskipun ejaan ini sudah lama tidak diberlakukan, namun hingga saat ini kita masih bisa menemukan ejaan tersebut di nama-nama orang Indonesia. 

Selanjutnya, perkembangan yang ada juga turut menghasilkan konsep ejaan bersama yang diberi nama Ejaan Melindo atau Ejaan Melayu-Indonesia. Sayangnya, pada 1962-an, rencana untuk meresmikan ejaan tersebut mengalami kegagalan dikarenakan adanya konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia.

Pada 1966-an, Lembaga Bahasa dan Kesusastraan (LBK) membentuk panitia yang kala itu diketuai oleh Anton M. Moeliono untuk mengusulkan konsep baru pengganti konsep Melindo. Setelah adanya berbagai penyesuaian dan beberapa kali seminar, pada akhirnya konsep LBKA pun menjadi konsep bersama Indonesia-Malaysia serta menjadi sistem baru yang menghasilkan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). 

Pada 16 Agustus 1972, EYD itu akhirnya diresmikan dan diberlakukan sebagaimana dimaklumkan oleh Presiden Soeharto dalam pidato kenegaraannya pada 16 Agustus 1972. Dalam pidatonya, Presiden Soeharto mengemukakan bahwa penggunaan ejaan baru itu dilakukan secara bertahap dan tidak perlu menimbulkan beban anggaran tambahan.

Lalu, pada 26 November 2015, EYD diganti menjadi Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) dengan alasan perubahannya dikarenakan adanya kemajuan zaman dan teknologi. Selain itu, penggantiannya ditujukan untuk memantapkan fungsi dari bahasa Indonesia. PUEBI yang diberlakukan itu meliputi penggunaan huruf, pengunaan kata, penggunaan tanda baca, serta penggunaan kata serapan.

Seiring dengan berkembangnya zaman dan pertumbuhan masyarakat, saat ini  banyak Bahasa Indonesia yang juga berasal dari kata serapan, sehingga Bahasa Indonesia menjadi lebih kaya sekaligus menjadi sumber ilmu.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Sebelum Merah Putih Berkibar Bebas di Langit Indonesia

Koropak.co.id, 16 August 2022 15:15:41

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Janji kemerdekaan itu sudah diucapkan sejak 7 September 1944. Perdana Menteri Jepang saat itu, Kuniaki Koiso, mengiming-imingi hadiah kemerdekaan bagi Indonesia bila Jepang menang dalam Perang Asia Timur Raya. 

Kabar itu disambut Ir. Soekarno dengan memimpin rapat pada 12 September 1944. Dalam rapat itu dibahas soal pengaturan pemakaian bendera dan lagu kebangsaan yang sama di seluruh Indonesia. Lalu dibentuk panitia bendera kebangsaan merah putih diketuai Ki Hajar Dewantara dan panitia lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dikomandani Soekarno.

Untuk membuat bendera, kainnya diambil di gudang yang berada di jalan Pintu Air kemudian diantarkan ke jalan Pegangsaan Nomor 56 Jakarta. Kain itu lantas dijahit jadi bendera oleh Fatmawati, istri Soekarno.

Bendera Merah Putih yang pertama kali dikibarkan saat proklamasi kemerdekaan, 17 Agustus 1945, memiliki panjang 300 centimeter dengan lebar 200 centimeter. Bendera tersebut terbuat dari bahan katun halus atau setara dengan jenis primissima untuk batik tulis halus.

Pada 4 Januari 1946, Presiden, Wakil Presiden, dan para menteri pindah ke Yogyakarta, karena keamanan di Jakarta tidak terjamin. Bendera Pusaka juga turut dibawa dan dikibarkan di Gedung Agung.



Baca: Detik-Detik Saat Naskah Proklamasi Diketik


Ketika Yogyakarta dikuasai Belanda pada 19 Desember 1948, Soekarno menitipkan Bendera Pusaka kepada ajudannya, Husein Mutahar. Agar bendera tidak disita Belanda, Husein melepaskan benang jahitan sehingga bagian merah dan putihnya terpisah.

Pada pertengahan Juni 1949, Husein menyatukan kembali bendera pusaka dengan mengikuti lubang jahitannnya satu persatu. Bendera pusaka itu dikirim kepada Presiden Soekarno, dan pada 17 Agustus 1949, bendera pusaka kembali dikibarkan di halaman depan Gedung Agung.

Sejak 1958, bendera tersebut ditetapkan sebagai Bendera Pusaka dan selalu dikibarkan setiap 17 Agustus dalam upacara kemerdekaan di Istana Merdeka. Namun, lantaran kondisinya sudah rapuh, sejak 17 Agustus 1968, bendera pusaka tidak lagi dikibarkan dan diganti dengan duplikat.

Jauh sebelum Indonesia merdeka, bendera Merah Putih sebenarnya sudah dipakai kerajaan Majapahit. Bendera tersebut menjadi lambang kebesaran kerajaan. Selain kerajaan Majapahit, kerajaan Kediri lebih dulu memakai panji-panji berwarna merah putih. 

Sisingamangaraja IX dari Batak juga memakai merah dan putih untuk bendera perang. Bahkan, pedang kembar pusaka raja-raja Sisingamangaraja I-XII turut memakai warna merah menyala dan putih.

Selain itu, ketika perang di Aceh berlangsung, pejuang-pejuang menggunakan umbul-umbul warna merah putih dengan gambar pedang, bulan sabit, matahari dan bintang serta beberapa ayat yang diambil dari Al-Qur'an. Dalam Perang Jawa, Pangeran Diponegoro juga menggunakan panji berwarna merah dan putih bersama pasukannya yang berjuang melawan Belanda.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Detik-Detik Saat Naskah Proklamasi Diketik

Koropak.co.id, 16 August 2022 12:09:54

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Jalan panjang telah ditempuh bangsa ini untuk mencapai satu titik yang paling dirindukan: proklamasi kemerdekaan. Bukan hanya harta dan tenaga, nyawapun dikorbankan agar bangs aini terbebas dari cengkraman penjajah. Hingga datanglah masa yang paling ditugggu itu.

Ir. Soekarno didamping Mohammad Hatta membacakan proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, di Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta Pusat. Ada banyak peristiwa yang terjadi sebelum proklamasi itu menggema di bumi Nusantara.

Salah satu peristiwa itu adalah dijatuhkannya bom atom di kota Hiroshima, Jepang, pada 6 Agustus 1945, dan Kota Nakasaki pada 9 Agustus 1945. Bom atom itu dijatuhkan sekutu agar Jepang menyerah. Penjatuhan bom atom itu sekaligus menjadi penanda berakhirnya Perang Dunia II. 

Pada momentum kekosongan kekuasaan itu, para pemuda mendesak Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaannya. Namun, desakan itu menimbulkan perbedaan pendapat dengan golongan tua. 

Bahkan, pada saat itu Soekarno juga menolak permintaan deklarasi kemerdekaan, karena menunggu keputusan dari pihak Jepang yang telah berjanji untuk memberikan kemerdekaan Indonesia pada 24 Agustus 1945.

Perbedaan pendapat itu memaksa golongan muda untuk menculik dan mengamankan Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok, Karawang, dengan tujuan agar tidak terpengaruh oleh Jepang pada 16 Agustus 1945. 

Di sana, golongan muda dan golongan tua yang diwakili Achmad Soebardjo melakukan perundingan hingga mencapai sebuah kesepakatan. Pada akhirnya, Achmad berjanji bahwa proklamasi kemerdekaan akan diumumkan pada keesokan harinya, yakni 17 Agustus 1945.

Setelah itu, Soekarno dan Hatta dibawa kembali ke Jakarta. Setibanya di Jakarta, mereka singgah di rumah Kepala Penghubung Angkatan Laut dan Angkatan Darat tentara Kekaisaran Jepang, Laksamana Muda Tadashi Maeda di jalan Miyokodori yang sekarang bernama jalan Imam Bonjol nomor 1.

Di rumah Laksamana Maeda itulah ketiganya merumuskan teks proklamasi. Rumah tersebut dipilih karena dianggap aman dari ancaman militer Jepang. Selanjutnya, Soekarno menulis rumusan teks proklamasi yang kemudian diketik ulang oleh Sayuti Melik dengan beberapa perubahan penulisan.



Baca: Ada Semangat Patriotisme, Monas Bukan Sekadar Tugu


Soekarno menuliskan satu kalimat pembuka pada secarik kertas yang berbunyi, "Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia". Kalimat itu diambil Soekarno dari rancangan pembukaan Undang-Undang Dasar yang dihasilkan pada 22 Juni 1945.

Lalu Mohammad Hatta menambahkan kalimat kedua pada teks proklamasi itu. Ia menilai, harus ada pelengkapnya yang menegaskan bagaimana cara menyelenggarakan revolusi nasional. Dengan dasar gagasan itulah, Mohammad Hatta kemudian menulis kalimat, "Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya".

Setelah teks proklamasi disusun, pertemuan di rumah Laksamana Maeda diakhiri dengan pengumuman dari Bung Karno yang mengatakan bahwa pembacaan teks proklamasi akan dilaksanakan pada pukul 10.00 WIB di halaman rumahnya, di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta. 

Awalnya, pembacaan teks proklamasi kemerdekaan akan dilakukan di Lapangan Ikada. Akan tetapi, dikarenakan khawatir dapat menimbulkan bentrokan dengan pasukan Jepang yang terus berpatroli di sekitar Lapangan Ikada, rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56 pun akhirnya dipilih sebagai tempat pembacaan teks proklamasi.

Bung Hatta juga saat itu sempat berpesan kepada para pemuda yang bekerja pada pers dan kantor-kantor berita, untuk memperbanyak naskah proklamasi dan menyebarkannya ke seluruh dunia. Di sisi lain, bendera yang dijahit dengan tangan oleh Fatmawati Soekarno sudah disiapkan untuk dikibarkan sebagai penanda kemerdekaan Indonesia.

Hari yang dinantikan itu akhirnya terwujud. Jumat, 17 Agustus 1945, pukul 10.00 WIB teks Proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan Soekarno didampingi Mohammad Hatta. Kemudian dilanjutkan pengibaran bendera Merah Putih oleh Latief Hendraningrat, S. Suhud, dan Trimurti. 


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Kue Putu, Kudapan Manis Khas Jawa yang Awalnya Ditemukan di Cina

Koropak.co.id, 15 August 2022 12:11:05

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Timur - Kue putu merupakan salah satu jenis kue tradisional yang keberadaannya sudah cukup lekat di telinga masyarakat Nusantara. 

Biasanya, para pedagang kue putu ini menjajakannya dengan cara dipikul atau menggunakan sepeda yang dilengkapi kotak kayu berisi bahan-bahan kue, termasuk alat masaknya. Ia punya suara ciri khas yang berasal dari uap untuk memasaknya.

Para penjual kue putu biasa menjajakan dagangannya pada malam hari. Jika pedagang lain menjajakan makanannya dengan cara berteriak atau menyebutkan nama dagangannya, lain halnya dengan penjual kue putu. Mereka tak perlu berteriak, cukup dengan suara uap berdesis yang bahkan bisa didengar dari kejauhan.

Tak heran, orang-orang yang ingin membeli kue putu tak perlu khawatir akan terlewatkan, sebab dari kejauhan juga suara khas dari kue putu itu sudah terdengar. Selain itu, pedagang kue putu akan menaruh lilin kecil di atas kotak kayu yang dibawanya sebagai penerangan.

Pada dasarnya, kue putu merupakan kue  berwarna hijau dengan teksturnya yang padat namun juga lembut dan berhamburan saat dimakan.

Ada satu hal yang paling enak dari kue putu ini, yaitu di bagian tengahnya terdapat lelehan gula merah, sehingga ketika dimakan, gue merah yang masih hangat itu akan terasa manis ketika menyentuh lidah. Tak hanya itu saja, kue putu juga turut disajikan lengkap dengan parutan kelapa putih. 



Baca: Ada Sejak Zaman Belanda, Hingga Kini Kue Lupis Masih Eksis


Siapa sangka, ternyata kue putu sudah dibuat sejak masa Dinasti Ming, pada 1368-1644.

Konon, dahulu kue ini dikenal dengan nama xianroe xiao long atau kue dari tepung beras yang diisi kacang hijau. Kue putu klasik di Cina dimasak dengan cara dicetak dalam bambu kemudian dikukus hingga matang. Memiliki tekstur yang sangat lembut, membuat banyak orang menyukai kue tersebut. Bahkan Kaisar Dinasti Ming maupun masyarakat juga kerap menjadikan kue ini sebagai kudapan.

Sementara di Indonesia, banyak yang mempercayai bahwa dahulu penulisan kue putu sendiri adalah Puthu, seperti halnya dari naskah sastra lama, Serat Centhuni pada 1814 di masa kerajaan Mataram. 

Disebutkan, konon dahulu ada seorang Ki Bayi Panurta yang meminta para santrinya untuk menyiapkan makanan pagi dan meminta untuk ditambahkan makanan pendamping berupa serabi dan puthu.

Jika saat ini kue tersebut sering dijadikan pada malam hari, dulu kue putu justru biasanya disajikan di pagi hari. Seiring perkembangan zaman, kue putu yang awalnya menggunakan kacang hijau diganti dengan gula jawa. 

Banyak yang mempercayai bahwa kue putu berasal dari daerah Jawa Timur. Kendati demikian, kue tradisional ini juga bisa ditemui di kota-kota besar. Ada kemungkinan bahwa keberadaan kue putu di luar Jawa Timur dikarenakan adanya perpindahan orang Jawa Timur yang merantau ke kota-kota besar hingga mulai menjadikan kue putu sebagai salah satu jenis mata pencahariannya.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Istana Maimun, Jejak Kejayaan Medan dan Legenda di Masa Lalu

Koropak.co.id, 12 August 2022 07:07:21

Fauziah Djayasastra


Koropak.co.id, Sumatra Utara - Keberadaan bangunan, baik museum ataupun peninggalan sejarah lain, bisa jadi gerbang pengetahuan untuk memahami perjuangan dan jati diri bangsa. Seperti pada keberadaan Istana Maimun di Medan, Sumatra Utara.

Istana Maimun, kini kerap ditulis Istana Maimoon, tak jauh dari pusat Kota Medan dan lekat kaitannya dengan sejarah Kesultanan Deli. Istana itu mulai dibangun oleh Sultan Mahmoed Al Rasyid Perkasa Alamsyah pada 26 Agustus 1888, kemudian rampung pada 18 Mei 1891.

Memakan waktu selama tiga tahun, istana itu dirancang oleh arsitek asal Belanda bernama Majoor Theodoor van Erp dengan gaya arsitektur Mughal. Istana tersebut berdiri kokoh nan megah di atas lahan seluas 2.772 meter persegi dengan total 30 ruangan.

Bangunan dua lantai ini terbagi menjadi tiga bagian, yakni bangunan induk, sayap kiri, serta sayap kanan. Jika diperhatikan, bangunan ini memadukan beberapa unsur budaya India, Italia, Melayu bercorak Islam, dan juga Spanyol, sehingga terkesan unik dan menarik.

Pengaruh Eropa bisa dilihat dari lampu gantung pada setiap ruangan, gaya jendela dan pintu, serta furnitur seperti kursi, lemari, dan juga meja. Corak Islam bisa dilihat dari bentuk lengkung (arcade) pada bagian atap yang menyerupai perahu terbalik atau lengkung Persia. Corak tersebut kerap dijumpai di bangunan Timur Tengah.



Baca: Rentak Kudo, Tarian Sakral Masyarakat Petani Kerinci Jambi


Ada pula prasasti berbahan marmer dengan tulisan Belanda yang kian membuat keindahan Istana Maimun menjadi tak terelakan. Kendati saat ini sudah berusia sekitar 131 tahun, namun sisi historis dan estetika dari bangunan ini seakan tak pernah lekang oleh perubahan zaman.

Di sisi Istana Maimun, terdapat rumah bergaya adat Karo. Bangunan itu merupakan tempat benda keramat Meriam Puntung berada. Keberadaan meriam tersebut tak lepas dari legenda. Konon, Meriam Puntung adalah jelmaan Mambang Khayali, adik Putri Hijau dari Kerajaan Deli Tua.

Mambang berubah menjadi meriam ketika mempertahankan istana dari serangan Raja Aceh. Kala itu Putri Hijau telah menolak pinangannya. Panasnya laras akibat digunakan untuk menembak terus-menerus, meriam itu pecah dan terbelah dua.

Diketahui, ujung meriam itu terhempas dan jatuh di Kampung Sukanalu, Tanah Karo. Sedangkan sisa pecahannya disimpan di dalam bangunan tersebut. Baik istana maupun bangunan kecil di sebelahnya, menyimpan jejak-jejak sejarah Kesultanan Deli yang bisa ditelusuri ketika berkunjung ke Kota Medan.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Menelusuri Perjalanan Panjang Sejarah Kopi di Bumi Nusantara

Koropak.co.id, 11 August 2022 07:13:48

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Siapa yang tak akrab dengan kopi? Kini, kedai atau kafe kopi menjamur di mana-mana. Bukan hanya di kota, tapi sudah merangsek ke desa-desa. Nongkrong di kafe telah menjadi budaya baru di kalangan anak muda.

Sebenarnya, sejak lama kopi telah menjadi salah satu komoditas yang dibudidayakan lebih dari 50 negara di dunia. Ada dua jenis pohon kopi yang dikenal secara umum, yaitu robusta dan arabika. Di Indonesia, biji kopi yang tumbuh hanya ada tiga jenis, yaitu arabika, robusta, dan liberika.

Sejak dulu, kopi berperan penting bagi pertumbuhan perekonomian masyarakat di bumi Nusantara. Hingga kini, dalam ekspor kopi, Indonesia menempati peringkat keempat terbesar di dunia setelah Brazil, Vietnam, dan Kolombia. 

Dulu, masuknya kopi ke Nusantara tak lepas dari peran kolonial Belanda. Sejarah penyebaran kopi di Nusantara dimulai pada 1696-an. Saat itu, Gubernur Belanda di Malabar, India, mengirim bibit kopi Yaman atau kopi arabika kepada Gubernur Belanda di Batavia (sekarang Jakarta). 

Namun, bibit pertama itu gagal tumbuh dikarenakan Batavia kala itu dilanda banjir. Kemudian pada 1711-an, bibit kopi berhasil tumbuh hingga dilakukan pengeksporan pertama dari Jawa ke Eropa melalui VOC.



Baca: Kopi Lokal Menembus Pasar Global


Setelah sukses di Batavia, Pemerintahan Kolonial Belanda memperluas produksi kopinya di beberapa daerah di Indonesia, seperti di daerah Preanger, Jawa Barat, Sumatra Utara, Aceh, Bali, Sulawesi, hingga Papua.

Sayangnya, memasuki 1878-an, menjadi masa buruk bagi tanaman kopi. Di masa itu, tanaman kopi diserang penyakit karat daun atau hemileia vastatrix yang tersebar hampir di seluruh perkebunan kopi. 

Pada 1920, perusahan-perusahaan kecil di Indonesia mulai menanam kopi sebagai komoditas utamanya. Lalu, pada 1950-an, perkebunan di Jawa dinasionalisasi pada hari kemerdekaan dan direvitalisasi dengan varietas baru kopi arabika. 

Varietas itu diadopsi oleh perusahaan-perusahaan kecil melalui pemerintah atau berbagai program pengembangan masyarakat. Kini, lebih dari 90 persen kopi arabika Indonesia dikembangkan oleh perusahaan kecil, terutama di daerah Sumatra Utara. 

Seiring berjalannya waktu, kopi tersebut bertransformasi menjadi salah satu komoditas terbesar di negeri ini. Ada beberapa jenis kopi Nusantara yang dikenal sebagai Indonesia Specialty Coffee, di antaranya kopi Aceh Gayo, kopi Sumatera Mandailing, kopi Lintong, kopi Toraja, kopi Lampung, dan kopi Luwak.


Silahkan tonton berbagai vidio menarik disini:


Sempat Dibubarkan Belanda, PSHT Punya Komisariat di Eropa

Koropak.co.id, 10 August 2022 12:07:43

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Nama PSHT atau Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) belakangan ini mendadak jadi perbincangan. Penyebabnya adalah lantaran insiden antara warga dengan anggota perguruan silat PSHT pada 7 Agustus 2022, di Jalan Sudanco Supriadi, Sukun, Kota Malang, Jawa Timur.

Menilik pada perjalannya, ternyata PSHT merupakan salah satu organisasi silat tertua di Indonesia. Didirikan oleh Ki Hadjar Hardjo Oetama pada 1922-an, perguruan itu sebelumnya bernama Setia Hati Pencak Sport Club (SH PSC).

Pada zaman Belanda, kelompok tersebut dicurigai oleh pemerintah kolonial sebagai gerakan perlawanan, sehingga dibubarkan. Ki Hadjar Hardjo dibuang ke Jember, Cipinang, hingga Padangpanjang, Sumatra Barat. 

Sepulangnya dari pengasingan, ia kembali mengaktifkan SH PSC dengan mengganti nama "pencak" menjadi "pemuda" sebagai siasat agar tidak dibubarkan Belanda. Pada 1942, nama SH PSC kemudian diubah menjadi Setia Hati Terate.

Perubahan nama itu dilakukan atas usulan dari Soeratno Soerengpati, seorang tokoh pergerakan Indonesia. Akan tetapi, saat itu SH Terate baru bersifat perguruan, bukan organisasi. Lantas, pada 1948, perguruan SH Terate diubah menjadi organisasi Persaudaraan Setia Hari Terate yang dipimpin oleh Soetomo Mengkoedjojo. 



Baca: Hikayat Pencak Silat Sudah Ada Sejak Abad VIII


Perubahan itu dilakukan berdasarkan hasil konferensi yang diadakan di rumah Ki Hadjar Hardjo, di desa Pelangbango, Madiun, Jawa Timur. Tak hanya menjadi organisasi, PSHT juga melebarkan sayapnya dengan mendirikan sebuah yayasan, membentuk banyak cabang, kampus hingga membangun padepokan sebagai pusat kegiatannya yang saat ini sudah tersebar se-Indonesia. 

Bukan hanya di Indonesia, PSHT juga mendirikan beberapa cabangnya di luar negeri, seperti di Malaysia, Belanda, Timor Leste, Hongkong, Rusia, Jepang, hingga Prancis.

Tujuan didirikannya PSHT adalah untuk mendidik manusia, khususnya para anggotanya, agar berbudi luhur, mengetahui mana yang benar dan salah, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta memayu hayuning bawana.

Suwardi Endraswara dalam bukunya "Ilmu Jiwa Jawa" menyebutkan, memayu hayuning bawana merupakan upaya dalam melindungi keselamatan dunia, baik itu secara lahir maupun batin. Selain itu, orang Jawa juga merasa berkewajiban untuk memegang filosofi ini untuk memperindah keindahan dunia.

Tercatat, hingga saat ini, PSHT sudah memiliki anggota sekitar 7 juta orang, memiliki cabang di 236 daerah di Indonesia, 10 komisariat di perguruan tinggi, dan 10 komisariat luar negeri di Korea Selatan, Jepang, Belgia, Prancis, Malaysia, Belanda, Rusia, Timor Leste, dan China.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Dadiah, Yoghurt Minang Dibuat Pakai Bambu

Koropak.co.id, 08 August 2022 12:29:00

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Sumatra Barat - Pernah mendengar makanan bernama ampiang dadiah? Belum? Bagaimana dengan yoghurt? Pasti sering, kan? Padahal, keduanya memiliki kesamaan, cuma memang kalau ampiang dadiah kurang begitu dipopulerkan.

Bagi orang Minang, ampiang dadiah sudah menjadi bagian dari kehidupan. Sudah ada sejak dulu. Dalam bahasa Minang, ampiang berarti berdekatan dan dadiah adalah susu yang dikentalkan atau difermentasi.

Dadiah berbahan susu kerbau yang difermentasi dalam batang bambu. Proses fermentasi yang dilakukan itu, membuat susu kerbau memiliki cita rasa asam yang khas layaknya yoghurt. Saat proses fermentasi dilakukan, susu kerbau dimasukkan ke dalam wadah bambu berukuran 15 s.d. 30 cm, kemudian ditutup dengan daun pisang atau daun waru. 

Proses fermentasi dadiah akan mencapai hasil maksimal setelah didiamkan selama dua malam di dalam tabung bambu. Dadiah itu juga dikatakan masih layak dan sehat untuk dikonsumsi sampai rentang waktu selama satu minggu sejak mulai difermentasikan.



Baca: Ada Sejak Zaman Belanda, Hingga Kini Kue Lupis Masih Eksis


Dadiah adalah kuliner tradisional dari daerah Darek di ranah Minang, seperti Bukit Tinggi, Tanah Datar, dan Padang Panjang. Dulu, itu merupakan makanan favorit pengganti lauk atau dijadikan makanan sampingan.

Dadiah merupakan makanan favorit, dan sajiannya tak dapat dilepaskan dengan ampiang atau emping beras. Adanya campuran ampiang, dadiah, kuah gula merah cair, serutan kelapa, dan serutan es pun akan terasa segar dan nikmat untuk disantap. 

Ampiang adalah beras ketan yang ditumbuk pipih. Uniknya, proses pemipihan ampiang dilakukan saat beras ketan masih dalam kondisi panas setelah direbus kering. Di Sumatra Barat, ampiang merupakan hidangan rumahan yang ada di Batipuh Baruah, Kecamatan Batipuh, Kabupaten Tanah Datar atau tepatnya berada di Jorong Ladang Laweh dan sekitarnya.

Merupakan dua makanan yang berbeda, ampiang dadiah menjadi perpaduan kudapan yang sangat cocok untuk disantap.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Benteng Fort Rotterdam, Saksi Bisu Kejayaan Kerajaan Gowa

Koropak.co.id, 07 August 2022 12:11:14

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Sulsel - Provinsi Sulawesi Selatan terkenal menyimpan banyak tempat bersejarah, salah satunya Benteng Fort Rotterdam. Berdiri sekitar abad ke-13 atau pada 1545-an, benteng tersebut didirikan seorang raja di Kerajaan Gowa, I Manrigu Daeng Bonto Karaeng Lalikung.

Di awal pendiriannya, benteng itu hanya terbuat dari tanah. Namun pada abad ke-14, mulai direnovasi dengan ciri arsitekturnya yang berbentuk seperti penyu. Hewan yang hidup di darat dan di air itu melambangkan Kerajaan Gowa yang mampu berjaya di darat juga di air

Sebelum dikenal dengan nama Benteng Fort Rotterdam, benteng itu bernama Benteng Ujung Pandang. Namun, setelah diserang Belanda, benteng tersebut diambi alih kolonial dan namanya diganti.

Perubahan nama tersebut seiring dengan ditandatanganinya surat perjanjian penyerahan benteng oleh Kerajaan Gowa kepada Pemerintahan Belanda yang dilakukan oleh Cornelis Spleeman. Ia sengaja memberi nama benteng itu dengan nama Fort Rotterdam, dengan alasan untuk mengenang kampung halamannya di Belanda.



Baca: Kediri Dari Wanita Mandul Hinggga Kota Tertua Di Indonesia


Sejak beralih kepemilikan, Benteng Fort Rotterdam dijadikan sebagai pusat pemerintahan kolonial Belanda. Kala itu, benteng tersebut dijadikan tempat untuk menyimpan berbagai macam rempah-rempah yang kemudian diekspor ke Belanda. 

Benteng itu juga dijadikan tempat untuk mengawasi kedatangan musuh dari luar, sekaligus markas VOC. Sekitar 200 tahun lamanya benteng tersebut menjadi pusat pemerintahan Belanda. Pada 1937-an, kepemilikan benteng Fort Rotterdam dialihkan ke Fort Rotterdam foundations. 

Kemudian, sejak 23 mei 1940, bangunan itu menjadi tempat bersejarah. Bahkan kini di sekitar kompleks benteng sudah dibangun Muousiem La Galigo, yang di dalamnya memuat berbagai peninggalan Kerajaan Gowa.


Silahkan tonton berbagai Video menarik disini:


Dipakai Sejak Zaman Batu, Cobek dan Ulekan Tetap Eksis

Koropak.co.id, 06 August 2022 15:16:36

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Cobek dan ulekan menjadi alat masak yang umum ada di dapur orang Indonesia. Meskipun kini sudah banyak alat modern, namun cobek masih tetap eksis sampai sekarang. 

Istilah cobek sendiri merujuk pada sejenis mangkuk sebagai alas yang digunakan untuk kegiatan menumbuk atau mengulek. Sedangkan ulekan merujuk pada benda tumpul memanjang seperti pentungan yang dapat digenggam oleh tangan untuk menumbuk atau mengulek suatu bahan.

Diperkirakan, cobek dan ulekan termasuk dalam pasangan alat masak kuno yang sudah dipakai oleh manusia purba sejak 35.000 tahun sebelum masehi. Beberapa temuan arkeologi menunjukkan, benda-benda batu yang digunakan sebagai alat untuk menumbuk, seperti artefak batu yang ditemukan di Yunani dari 3200 s.d 2800 SM. Artefak yang ditemukan itu  menunjukkan alat untuk mengekstraksi atau menumbuk zat pigmen pewarna yang diambil dari batu-batuan.

Kini, cobek dan ulekan identik sebagai alat masak yang digunakan untuk menghaluskan bumbu dan bahan, meskipun sebenarnya dahulu cobek bukan hanya dijadikan sebagai alat penumbuk makanan. Tak hanya di Indonesia, alat penumbuk ini juga turut digunakan oleh manusia kuno di berbagai belahan dunia.



Baca: Sumpit, Cara Raja Pamerkan Gaya Hidup Mewah


Cobek dan ulekan memiliki bentuk dan ukuran yang beraneka ragam sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Seperti cobek kecil berdiameter 8 s.d. 13 centimeter dan biasanya digunakan untuk penyajian sambal secara perseorangan di rumah makan.

Kemudian ada juga yang berukuran sedang dengan berdiameter 15 s.d. 20 centimeter yang digunakan untuk penggunaan masakan rumah tangga. Sedangkan cobek berukuran besar dengan berdiameter 30 s.d. 40 centimeter dan agak datar, biasanya digunakan oleh penjual gado-gado atau warung makan yang menyajikan hidangan sambal yang dibuat dalam jumlah besar.

Di sisi lain, ulekan juga memiliki bentuk yang berbeda-beda, namun yang paling lazim adalah bulat panjang dangan cara menggenggam seperti menggenggam pistol. Akan tetapi ada juga ulekan berbentuk bulat sesuai genggaman tangan yang digunakan untuk menumbuk, hingga ada yang berbentuk silinder untuk menggiling. 

Meskipun memiliki bentuk sederhana, namun tidaklah mudah dalam membuat atau mencari cobek dan ulekan yang berkualitas. Cobek yang bagus itu terbuat dari batu asli dengan permukaannya yang dihaluskan secara perlahan. Sayangnya, untuk menekan biaya, produsen kerap membuat cobek dengan bahan semen.

Di Indonesia, biasanya bahan yang lazim digunakan untuk membuat cobek dan ulekan adalah batu alam, batu kali atau batu andesit. Beberapa daerah di Indonesia yang terkenal sebagai sentra pengrajin cobek dan ulekan batu, salah satunya di daerah Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Kampung Adat Urug, Tempat Bermukimnya Keturunan Prabu Siliwangi

Koropak.co.id, 05 August 2022 12:18:03

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Barat - Di tengah kemajuan teknologi yang menggempur berbagai sisi kehidupan, beberapa komunitas di Indonesia hingga saat ini masih memertahankan adat yang dari dulu sampai sekarang tak berubah. Seperti yang dilakukan masyarakat Kampung Adat Urug.

Kampung adat yang berada di Kampung Urug, Desa Kiara Pandak, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu merupakan sisa peradaban masa lampau yang memiliki sejarah panjang dan masih berpegang teguh kepada nilai-nilai tradisi.

Masyarakat yang tinggal di Kampung Urug menganggap bahwa mereka berasal dari keturunan Raja Kerajaan Padjadjaran Jawa Barat, Prabu Siliwangi. Hal itu dibuktikan dengan hasil pemeriksaan konstruksi bangunan rumah tradisional di Kampung Urug yang dilakukan oleh seorang ahli saat itu.

Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukannya, sang ahli menemukan sambungan kayu pada rumah tradisional itu memiliki kesamaan dengan sambungan kayu yang ada pada salah satu bangunan di Cirebon yang merupakan sisa-sisa peninggalan Kerajaan Padjadjaran.

Ada beberapa versi terkait asal-usul dari Kampung Urug. Namun, perbedaan versi tersebut bukan terletak pada siapa dan dari mana Ieluhur mereka, akan tetapi terletak pada masalah tujuan atau motivasi yang menjadi penyebab berdirinya Kampung Urug.

Selain itu, masyarakat setempat juga mengganggap leluhur Kampung Urug, Embah Dalem Batutulis atau dikenal juga sebagai Embah Buyut Rosa dari Bogor merupakan salah seorang keturunan Prabu Siliwangi. Akan tetapi, masyarakat sendiri tidak berani menyebut nama Embah Buyut Rosa dikarenakan takut terjadinya bencana. 



Baca: Karaeng Pattingalloang, Raja dari Makassar yang Terlupakan


Menurut masyarakat setempat, kata Urug yang dijadikan sebagai nama kampung berasal dari kata "Guru", namun diubah cara pembacaannya. Jika biasanya dimulai dari kiri, diubah dengan dibaca dari sebelah kanan, sehingga kata "Guru" berubah menjadi "Urug".

Pikukuh adat kepercayaan Kampung Urug, memercayai, kampung adat tersebut sudah berdiri sejak 450 tahun yang lalu. Hal itu dibuktikan dengan adanya sebuah mandala urug dengan masyarakatnya yang berpegang teguh pada adat istiadat serta suatu keteladanan kesundaan. 

Di sisi lain, berdasarkan cerita yang beredar di masyarakat, Kampung Urug ini sezaman dengan masa pemerintahan Prabu Nilakendra (1551-1569 M), seorang raja yang memiliki sifat alim, bijaksana dan banyak mengabdi pada hal-hal kegaiban.

Konon, sisa-sisa kegaibannya itu, seperti patilasan raja masih ada di Kampung Urug. Pada umumnya, patilasan sendiri disebut Kabuyutan atau mandala, suatu tempat yang jauh dari keramaian dan sering dijadikan sebagai tempat berkhalwat atau memuja Sang Maha Pencipta.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Ada Sejak Zaman Belanda, Hingga Kini Kue Lupis Masih Eksis

Koropak.co.id, 04 August 2022 07:16:54

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Bagi kalian penggemar jajanan tradisional, tentunya sudah tidak asing lagi dengan kudapan berbahan dasar beras ketan yang biasa disajikan bersama siraman gula merah dan parutan kelapa satu ini. Kue lupis namanya.

Bentuknya yang unik, ditambah cita rasanya yang melegenda, membuat kue lupis ini mampu bertahan di antara banyaknya jajanan baru yang tak terbendung.

Kue lupis merupakan jajanan tradisional khas Indonesia, khususnya di daerah Jawa. Panganan yang satu ini memiliki dua bentuk berbeda. Ada yang berbentuk segitiga dan bulat memanjang. Ia kerap ditemui di pasar tradisional atau di warung-warung. 

Kue lupis dibuat dari beras ketan yang dimasak lalu dibungkus dengan daun pisang. Dalam penyajiannya, biasanya kue ini akan ditaburi dengan parutan kelapa serta gula merah cair, sehingga membuat kue lupis pun memiliki cita rasa yang khas. 

Konon, kue lupis sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Menariknya lagi, kue ini diklaim menjadi penganan asal beberapa daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Lumajang, dan pulau Jawa lainnya. 



Baca: Cerita Tentang Rengginang Hingga Jadi Penghuni Ilegal Kaleng Kue


Kendati terbilang kue jadul, sampai dengan saat ini lupis masih bertahan dan tetap eksis bersama dengan kue basah tradisional lainnya. Biasanya, dijajakan di pasar-pasar di waktu pagi hari bersama dengan klepon, cenil, gemblong maupun lontong. 

Dikarenakan terbuat dari beras ketan dan memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi, kue lupis  ini cocok sekali untuk dijadikan sebagai menu sarapan atau makanan pembuka.

Seiring berjalannya waktu, kue lupis yang awalnya dibungkus dengan daun pisang, akhirnya diganti dengan plastik putih lantaran sulit ditemukannya daun pisang di kota-kota besar, seperti Jakarta. Ia pun turut mengalami inovasi dan perubahan untuk menarik perhatian masyarakat. Kini, kue lupis biasa disajikan bersama parutan keju sebagai pengganti parutan kelapa. 

Bukan sekadar jajanan, kue tradisional ini memiliki filosofi di balik pengolahannya yang terbilang cukup mudah. Masyarakat Jawa mempercayai bahwa kudapan berbahan utama ketan dan lengket apabila sudah matang dan di balik daun pisan sebagai bungkusnya itu memiliki makna rasa erat persaudaraan.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini: