Unik! Tujuh Kebiasaan Masyarakat Inggris di Era Ratu Victoria

Koropak.co.id, 26 February 2022 19:47:59
Penulis : Eris Kuswara
Unik! Tujuh Kebiasaan Masyarakat Inggris di Era Ratu Victoria

 

Koropak.co.id - Era Victoria merupakan masa yang merujuk kepada abad ke-19 Britania Raya. Pada saat itu Inggris dipimpin oleh seorang ratu bernama Victoria yang berkuasa mulai dari tahun 1837 hingga 1901-an.

Diketahui, Era Victoria ini juga dikenal sebagai salah satu masa kejayaan Inggris. Di masa ini, berbagai inovasi yang bermanfaat untuk berbagai segi kehidupan, seperti ekonomi, teknologi, kesehatan, maupun budaya mulai bermunculan.

Kendati demikian, bukan berarti juga era Victoria adalah masa yang sempurna. Sebab di era ini, masyarakat Inggris ternyata memiliki beberapa budaya atau kebiasaan yang jika dilakukan di masa sekarang akan membuat geleng-geleng kepala.

Apa saja kebiasaan tersebut?

1. Waktu bertamu yang cukup ketat

Di era Victoria ini, seorang wanita yang sedang berada di rumah diharuskan untuk bersiap menerima tamu mulai dari pukul 15.00 hingga 18.00 waktu setempat. Begitu juga orang yang ingin bertamu, mereka pun hanya bisa datang di jam tersebut. Selain itu, orang-orang yang boleh bertamu hanyalah anggota keluarga saja.

Kemudian jika ada orang yang bertamu diluar jam tersebut, maka dia akan dianggap tidak memiliki sopan santun. Tak hanya itu saja, jika saat sedang bertamu dan ada tamu lain yang datang, maka tamu pertama diharapkan untuk segera beranjak dari rumah dan memberi kesempatan kepada tamu yang baru saja datang.

2. Menggunakan bahan-bahan berbahaya dalam produk kecantikannya

Ammonia, merkuri, tembaga, hingga arsenik merupakan beberapa zat berbahaya yang dapat ditemukan dalam produk kecantikan di era Victoria. Cara mengaplikasikan produk ini pun beragam. Ada yang dioleskan ke wajah, digunakan untuk mencuci muka, bahkan ada juga sebuah produk berupa pil dengan kandungan arsenik yang konon berfungsi menghilangkan kerutan di wajah.

3. Mengadakan pesta untuk membuka mumi

Pada era Victoria, orang-orang kaya di Inggris ternyata sangat terobsesi dengan keberadaan mumi asal Mesir yang pada saat itu sedang populer. Sehingga, banyak kolektor yang membeli mumi sebagai cinderamata pada saat mereka berkunjung ke Mesir dan menggunakannya untuk berbagai macam hal.

Salah satu hal yang mereka lakukan adalah dengan mengadakan pesta untuk membuka mumi tersebut. Dalam pesta itu, orang-orang akan berdiri mengelilingi mumi dan menyaksikan saat perban dari mumi tersebut mulai dilepas. Tidak jarang juga mereka mengambil foto bersama mumi tersebut setelah prosesi pelepasan perban.

4. Mengambil foto orang yang baru saja meninggal

Pada era tersebut, dunia fotografi memang belum begitu maju dan masyarakat Victoria juga masih memiliki banyak urusan yang lebih penting dibandingkan harus mengambil foto keluarga bersama, akan tetapi bukan berarti mereka tidak menginginkannya.

 

 


Baca : Tentang Ratu Inggris Victoria 


Orang-orang di era Victoria ini pada umumnya menyesal tidak berfoto bersama setelah ada anggota keluarga tersebut yang meninggal. Sehingga, hal inilah yang membuat sesi foto bersama orang yang baru saja meninggal menjadi yang cukup populer di era ini.

Namun, untuk membuat fotonya lebih enak dilihat, anggota keluarga dan fotografer akan mengatur cara agar jenazah terlihat seolah-olah masih hidup. Salah satu caranya adalah dengan mendudukkan jenazah tersebut di kursi dan menggunakan semacam tongkat untuk menahan kepala jenazah agar tidak tertunduk.

5. Menjadikan pencuri mayat sebagai profesi

Berkembang pesatnya dunia medis di era ini, membuat permintaan akan mayat atau kadaver menjadi sangat tinggi. Sayangnya, hukum pada saat itu hanya memperbolehkan sekolah kedokteran saja yang bisa mengambil mayat dari kriminal yang mendapatkan hukuman mati.

Sehingga, hal ini pun semakin menjadi masalah setelah Inggris memberlakukan hukum yang membuat jumlah kriminal dengan hukuman mati menurun. Akibatnya, tindakan pencurian mayat pun menjadi salah satu pekerjaan yang sangat menjanjikan pada era itu. Bahkan, semakin segar mayatnya, maka harganya pun akan semakin mahal.

6. Menaruh bel di atas makam orang yang baru saja meninggal

Salah satu ketakutan masyarakat di era Victoria yang cukup populer adalah dikubur hidup-hidup karena dianggap sudah meninggal. Hal itu disebabkan oleh ada banyaknya rumor mengenai kasus seseorang yang sudah dinyatakan meninggal oleh dokter, akan tetapi ternyata hidup kembali.

Dengan demikian, untuk solusi yang ditawarkan pada era itu adalah mendesain peti mati sedemikian rupa, sehingga orang yang telah terkubur dapat memberi tahu orang diluar jika ternyata dirinya masih hidup yakni dengan menggantung bel di atas makam tersebut.

Bel itu pun kemudian akan diikat dengan tali yang ujungnya di taruh ke tangan jenazah yang akan dikubur. Selain itu, peti mati juga akan diberi lubang agar tali yang akan dipegangkan ke jenazah dapat masuk.

7. Tunawisma menyewa tempat tidur yang berbentuk seperti peti mati

Saat musim dingin datang, para tunawisma pun tentunya akan kesulitan dalam mencari tempat tinggal yang hangat. Pemerintah Inggris pun pada saat itu tidak menyediakan penginapan gratis bagi orang-orang tersebut. Sehingga, opsi terakhir mereka adalah dengan menyewa sebuah "tempat tidur" di Burne Street Hostel, London.

Meskipun disebut sebagai hotel, namun tempat tersebut lebih cocok disebut sebagai penampungan. Di sana, tunawisma juga bisa menyewa "tempat tidur" yang sebenarnya hanyalah kotak kayu berbentuk seperti peti mati. Sementara itu, untuk menjaga kehangatannya, mereka juga akan diberi terpal sebagai selimut.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 

Komentar

Sejarah Minuman Keras, Ada yang Terbuat dari Air Beras

Koropak.co.id, 29 June 2022 15:16:14

Fauziah Djayasastra


Koropak.co.id - Baru-baru ini, promo minuman keras (miras) gratis berbalut unsur SARA yang dikeluarkan oleh perusahaan ternama menuai polemik. Kendati dilarang agama dan mendapat sanksi norma, tentu masih banyak yang senang mengonsumsinya.

Jika dilirik jauh ke belakang, minuman keras juga punya catatan sejarah tersendiri. Minuman ini termasuk sebagai minuman tertua yang telah dikenal sejak ribuan tahun silam.

Kelahiran minuman keras (jenis bir) tidak dapat dipisahkan dari sektor pertanian, tepatnya berkisar pada 10.000 SM ketika orang-orang sedang belajar membuat roti. Walau sebuah penelitian di Iran menemukan jika wadah yang digunakan untuk makanan fermentasi itu berasal dari tahun 6.500 SM.

Bir bukan satu-satunya minuman beralkohol. Kala itu, alkohol sudah ditemukan dan menyebar ke berbagai belahan dunia saat itu. Di permukiman Neolitik Jiahu, Cina, ditemukan sebuah kapal berisi minuman fermentasi dari beras, anggur, madu, dan buah hawthorn.

Sedangkan penyebutan kata bir dan cara pembuatannya secara tertulis ada pada catatan bangsa Sumeria, sekitar 4.000 SM. Kini catatan tersebut ada di Museum Louvre, Paris.



Baca: Susur Sejarah Candi Borobudur; Sempat Ramai Gara-gara Tiket


Orang Sumeria menyebut bir dengan nama Sikaru, diproduksi melalui penyulingan dengan pengawasan dari kuil serta istana yang saat itu masih berkuasa. Minuman bir tersebut lantas direbus dengan tambahan madu atau bisa juga kurma, serta roti fermentasi.

Produksi bir merupakan kombinasi antara manajemen dengan pertanian guna mendapat surplus bahan baku berupa biji-bijian. Sebanyak 40 persen hasil panen biji-bijian digunakan untuk pembuatan bir, sedangkan sisanya dimanfaatkan untuk konsumsi.

Mulanya, bir diproduksi untuk digunakan dalam ritual keagamaan atau persembahan kepada dewa. Namun seiring berkembangnya waktu, bir juga diyakini dapat menyembuhkan atau sebagai obat.

Dalam dokumen Papirus Ebers dari tahun 1550 SM, sembelit dapat diobati dengan setengah bawang yang dimasukkan ke dalam bir. Selain itu, gangguan pencernaan dengan mengombinasikan bir dengan buah zaitun yang dihancurkan.

Saat itu, bir juga digunakan untuk mengurangi nyeri akibat persalinan dan diyakini sebagai minuman yang menyehatkan. Sekitar 2.300 SM, bir digunakan sebagai mas kawin.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Hikayat Sekoteng, Berawal dari Cina dan Terkenal di Jawa

Koropak.co.id, 29 June 2022 12:50:54

Fauziah Djayasastra


Koropak.co.id - Bila tubuh dilanda cuaca dingin, sekoteng bisa jadi penawarnya. Minuman yang terbuat dari rebusan gula merah, jahe, dan yang lainnya itu memang enak diseruput saat kulit mengkerut lantaran kedinginan.

Dikenal sebagai minuman khas Jawa Tengah, sekoteng sebenarnya berasal dari Cina. Nama sekoteng diketahui berasal dari Bahasa Hokkian, su ko thung atau si guo tang yang artinya sup empat buah-buahan. Sedangkan telinga orang Indonesia, su ko thung terdengar berbeda, sehingga dilafalkan menjadi sekoteng.

Dalam Bahasa Jawa, sekoteng merupakan singkatan nyokot weteng yang artinya menggigit perut. Entah merujuk ke mana maksud penamaan makanan dalam Bahasa Jawa ini.

Menurut cerita, sekoteng telah dikonsumsi sejak era Kaisar Qin Shi Huang (Dinasti Qin, 221 SM s.d. 206 SM). Kaisar merasa setelah mendapat ramuan itu, kehangatan tubuhnya terjaga, pencernaan baik, serta kesehatan meningkat.



Baca: Muasal Keripik Kentang, Tercipta Karena Komplain


Di negeri asalnya, isian sekoteng terdiri dari empat buah yang dikeringkan, yakni biji jail, kacang amandel, kelengkeng, dan biji teratai. Kemudian sekoteng ini dimodifikasi dan disesuaikan dengan biji-bijian yang ada di Indonesia. 

Bahan yang biasanya menjadi isian sekoteng Jawa adalah kacang tanah, kacang hijau, pacar Cina, serta potongan roti tawar. Bahkan ada juga yang memasukkan kolang-kaling ke dalam minuman ini. Isiannya yang banyak membuat minuman ini bisa mengenyangkan perut.

Rasanya juga beragam; gurih, manis, dan sensasi pedas dari jahe berpadu satu. Sangat cocok dinikmati saat cuaca dingin guna menghangatkan tubuh.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


28 Juni 1944; Tragedi Mandor Berdarah di Kalimantan Barat

Koropak.co.id, 28 June 2022 07:18:24

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Hari ini, tepat 78 tahun yang lalu, tragedi kemanusiaan terburuk menimpa warga Kalimantan Barat. Pada 28 Juni 1944, terjadi "Tragedi Mandor Berdarah". Tentara Angkatan Laut Kekaisaran Jepang melakukan pembantaian massal tanpa batas etnis dan ras di Pontianak. 

Pembantaian itu dilatarbelakangi desas-desus yang terdengar oleh pihak polisi rahasia Kaigun atau Tokkeitai. Kala itu mereka mendengar akan ada pemberontakan melawan Jepang. Rakyat saat itu sangat membenci Jepang. 

Tragedi itu terjadi di daerah Mandor, Kabupaten Landak. Sebelum terjadinya pemberontakan di Kalimantan Barat, Pada 1943 pemberontakan awalnya terjadi di Kalimantan Selatan. Sebagai upaya pencegahan agar pemberontakan tak pecah di Kalimantan Barat, Jepang melakukan penangkapan beberapa tokoh penting.

Setelah ditangkap, mereka ditahan di markas Tokkeitai. Jepang lantas menggelar Konferensi Nissinkai pada 24 Mei 1944 yang berubah menjadi penangkapan besar-besaran. Kala itu, para tokoh berserta kerabat dan keluarga yang diduga terlibat turut dijemput. Puncaknya terjadi pada 28 Juni 1944.

Mereka yang ditangkap wajahnya ditutup dan digiring ke tempat yang tak diketahui. Di sana mereka dihabisi dengan menggunakan pedang dan berondong tembakan. Akibat peristiwa itu, jumlah korban mencapai kurang lebih 21.037 orang. Jepang menolak jumlah korban akibat tragedi tersebut. Mereka menyebut hanya ada 1.000 korban.



Baca: 23 Mei 1997, Mengenang Tragedi Jumat Kelabu di Banjarmasin


Penangkapan dan pembantaian itu diyakini hanya merupakan tuduhan yang dilakukan Jepang untuk meredam pergerakan. Jepang tidak suka dengan para pemberontak yang ada di Kalimantan Barat. Saat itu Jepang ingin menguasai sumber daya alam yang ada di bumi Kalimantan Barat. 

Sebelum terjadinya peristiwa Mandor, tentara-tentara Jepang melakukan pendobrakan pintu-pintu rumah masyarakat sebagai upaya menakut-nakuti mereka agar tak berani melakukan pemberontakan. Peristiwa itu pun disebut dengan Cap Kapak.

Waktu itu, sebenarnya Jepang sudah menyusun rencana genosida untuk memberangus semangat perlawanan rakyat Kalimantan Barat kala itu.  Di sebuah koran harian Jepang diungkap, rencana yang disusun tentara Negeri Matahari Terbit itu untuk membungkam kelompok pembangkang kebijakan politik perang Jepang yang ada di Kalimantan Barat.

Belakangan diketahui, pinggiran Kota Mandor menjadi salah satu tempat korban genosida Jepang yang dikubur secara massal. Sejak 1973, Pemerintah Daerah Kalimantan Barat membangun sebuah monument, dan tanggal 28 Juni diperingati sebagai Hari Berkabung Kalimantan Barat.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Baleendah Tak Lagi Indah Setelah Jadi Ibu Kota

Koropak.co.id, 27 June 2022 12:51:38

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Apa yang terlintas di benak saat disebut Baleendah? Jika sontak teringat banjir, Anda tak salah. Faktanya memang begitu. Daerah yang kini menjadi salah satu nama kecamatan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, itu merupakan daerah langganan banjir. Sama seperti Dayeuh Kolot.

Dulu, pada tahun 70-an, hampir 90 persen wilayah Baleendah merupakan daerah pesawahan. Artinya, masih sedikit penduduk yang bermukim di sana. Namun, bencana mulai datang sejak daerah tersebut dijadikan ibu kota Kabupaten Bandung pada kisaran 1980. Semula di Jalan Balonggede, dipindahkan ke Baleendah.

Baleendah berubah. Bahkan perubahan yang terjadi kala itu juga berdampak besar bagi tata ruang wilayah. Mulai dari jaringan ruas jalan, kantor bupati dan gedung DPRD, gedung Kejaksaan Negeri dan Pengadilan Negeri, hingga berbagai perumahan umum, tempat ibadah, dan sekolah dibangun di wilayah tersebut. 

Namun, pemindahan ibukota ke Baleendah tidak ditunjang dengan riset dan studi kelayakan yang mendalam. Akibatnya, banjir besar yang disebabkan luapan sungai Citarum melanda Baleendah sekitar 1986-an.



Baca: Asal Usul Dayeuhkolot, Daerah Rawan Banjir di Kabupaten Bandung


Kerugian yang cukup banyak akibat banjir besar itu akhirnya mulai menyadarkan para petinggi kabupaten kala itu. Agar risiko banjir besar tak terulang kembali, ibu kota Kabupaten Bandung dipindahkan lagi ke Soreang yang merupakan daerah relatif tinggi dan bebas banjir.

Syahdan, gedung DPRD yang baru selesai dibangun di Baleendah kala itu akhirnya menjadi sia-sia dan terbengkalai. Meskipun begitu, gedung tersebut beralih fungsi dan kini dijadikan Rumah Sakit Umum Al Ihsan.

Kendati Baleendah sudah bukan lagi menjadi ibu kota kabupaten, tapi masalahnya tetap sama. Banjir kerap datang menerjang. Apalagi, daerah tersebut kini berkembang menjadi kecamatan yang padat penduduk. Berbagai perumahan juga terus dibangun di wilayah itu dan membuat laju pertambahan penduduk terus meningkat.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


27 Juni 1947; Semula Guru, Jenderal Soedirman Jadi Panglima Besar

Koropak.co.id, 27 June 2022 07:44:57

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Tanggal 27 Juni 1947 menjadi hari bersejarah bagi bangsa Indonesia. Jenderal Soedirman diangkat sebagai Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia (TNI) pertama oleh Presiden RI, Ir. Soekarno, di Yogyakarta.

Pengangkatan itu tentu menjadi prestasi tersendiri bagi Soedirman. Terlahir dari pasangan rakyat biasa, yakni Karsid Kartawiraji dan Siyem, di Purbalingga, pada 24 Januari 1916, ia menjelma menjadi salah satu sosok penting bagi republik ini.

Masa kecilnya kumpul bersama pamannya Cokrosunaryo yang merupakan seorang priyayi. Di sekolah ia terbilang sangat aktif, khususnya dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, seperti program kepanduan yang dijalankan organisasi Islam Muhammadiyah. 

Saat dirinya bersekolah tingkat menengah, jiwa kepemimpinan dan berorganisasinya mulai terlihat. Pada 1936 setelah berhenti kuliah keguruan, Soedirman menjadi seorang guru, dan kemudian dipercaya menakhodai Sekolah Dasar Muhammadiyah.

Selain menjadi kepala sekolah, ia juga turut aktif dalam kegiatan Muhammadiyah lainnya, seperti dipercaya memimpin Pemuda Muhammadiyah. Saat Jepang menduduki Hindia Belanda, tepatnya pada 1942, semangat Soedirman untuk mengajar tidak surut.



Baca: Yogyakarta, 8 Juni 1921, Soeharto Lahir


Namun, setelah dua tahun Jepang menduduki Hindia Belanda, Soedirman bergabung dengan Tentara Pembela Tanah Air (PETA) pada 1944. Salah satu peristiwa penting dan bersejarah yang akan selalu dikenang oleh bangsa Indonesia adalah bagaimana Jenderal Soedirman bersama pasukannya berhasil membuat Belanda tidak bisa kembali menguasai Indonesia melalui strategi 'Perang Gerilya'.

Perlawanan Soedirman beserta pasukannya semakin memperkuat kedudukan bangsa Indonesia dan membuat Belanda tidak memandang rendah kekuatan tentara Indonesia. Dalam perang gerilya tersebut, Jenderal Soedirman membuat strategi perang wilayah yang diorganisir pusat komando yang tersembunyi. 

Berkat siasat yang dibuatnya itu, wilayah Yogyakarta pada akhirnya kembali dikuasai oleh Indonesia. Selama perang gerilya tersebut, Soedirman bersama pasukannya berjalan dan  berpindah-pindah tempat. 

Mereka berjalan melewati sungai, gunung, lembah, dan hutan. Sepanjang perjalanan, mereka melakukan penyerangan ke pos Belanda. Terbukti, strategi perang gerilya yang diterapkan Jenderal Soedirman pun berhasil memecah konsentrasi pasukan Belanda. 

Saat itu Belanda kewalahan, dikarenakan penyerangan yang dilakukan Jenderal Soedirman dan pasukannya itu secara tiba-tiba dan cepat. Taktik itu akhirnya berhasil membuat tentara dan rakyat bersatu untuk menguasai keadaan dan medan pertempuran.

Pada 1 Maret 1949 menjadi puncak perlawanan rakyat Indonesia terhadap Belanda. Dilakukan secara serentak di semua wilayah Indonesia, tentara dan rakyat akhirnya berhasil memukul mundur Belanda dari Indonesia.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Pelat Kendaraan; Sejak Kapan Dibuat dan Kenapa?

Koropak.co.id, 26 June 2022 07:17:43

Fauziah Djayasastra


Koropak.co.id - Pelat kendaraan warna putih kabarnya akan mulai diberlakukan pada bulan Juni. Hal tersebut ditujukan untuk memudahkan kamera ETLE ketika menyorot angka yang tertera dalam pelat. Namun pernahkah kamu memikirkan bagaimana sejarah pelat kendaraan bermula?

Menurut laman akseleran.co.id, adalah polisi Paris yang pertama kali mengenalkannya pada tahun 1893. Saat itu pelat diberlakukan untuk memudahkan proses identifikasi kendaraan yang secara kuantitas kian meningkat, terutama saat mengusut suatu kasus kejahatan dan kecelakaan.

Akan tetapi, cikal bakal pelat kendaraan di Indonesia dimulai pada tahun 1811. Saat itu, Inggris yang berhasil merebut Batavia dari Belanda mengirim kapal perang berjumlah 150 kapal, terdiri atas 26 batalion yang ditandai dengan kode A-Z. Sementara jumlah pasukan mencapai 15.000 orang.

Saat menempati Batavia, Inggris menetapkan peraturan berkendara, setiap kereta kuda ditandai plakat dengan kode alfabet (sesuai identitas batalion) disertai 5 digit angka. Namun kode A juga dapat menunjukkan Annex atau C berarti Cargo atau pengangkut barang. 



Baca: 14 Juni; Hari Donor Darah Sedunia dan Awal Mulanya


Kode alfabet yang berada di awal pelat adalah identitas batalion yang berhasil menaklukkan daerah-daerah di Indonesia. Seperti misalnya Batavia (sekarang Jakarta) yang punya plat nomor B. Kode tersebut tidak diambil dari awal nama kota, melainkan dari batalion yang berhasil menguasainya.

Begitu juga dengan Surabaya yang punya kode L. Hal tersebut menunjukkan jika dulunya daerah tersebut ditaklukkan oleh batalion L.

Lalu, bagaimana jika dua batalion berhasil menguasai daerah yang sama? Kode dalam pelat kendaraan pun otomatis terdapat dua huruf, sebut saja Yogyakarta yang punya plat AB. Itu dikarenakan dulunya dikuasai oleh batalion A dan B.

Meski Belanda kembali merebut Hindia dari Inggris pada tahun 1816, tetapi penomoran kendaraan ini tetap diberlakukan hingga saat ini. Bahkan aturan ini berkembang dan diberlakukan juga di negara lain seperti Eropa, Amerika Serikat (1903), dan New York (1909).


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Muasal Keripik Kentang, Tercipta Karena Komplain

Koropak.co.id, 25 June 2022 12:08:14

Fauziah Djayasastra


Koropak.co.id - Saat ini keripik kentang merupakan salah satu makanan favorit yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat dunia. Namun siapa nyana jika camilan ini tercipta karena tak sengaja. Dilansir dari Enchanted Learning, keripik kentang pertama lahir pada musim panas 1853, lewat tangan koki bernama George Crum. Dia merupakan koki berdarah Afrika-Amerika yang bekerja di Moon Lake Lodge, Saratoga Springs, New York.

Crum biasa membuat menu kentang goreng tebal yang biasa dimakan menggunakan garpu. Suatu hari, ada pelanggan yang mengeluh kentang goreng buatannya terlalu tebal. Untuk mengatasinya, Crum membuat kentang goreng yang lebih tipis dari sebelumnya. Namun pelanggan tersebut masih saja komplain. Kesal karena lagi-lagi diprotes, Crum kemudian membuat kentang dengan potongan setipis kertas.

Tindakan Crum bukan ditujukan untuk menyenangkan pelanggan tersebut, tetapi ternyata pelanggan justru sangat menyukai menu tersebut. Crum kemudian menambahkan keripik tersebut ke menu Moon Lake Lodge dan dinamai dengan Saratoga Chips.



Baca: Legenda Kue Bandros, Kreatifnya Orang Sunda Olah Makanan


Namun saat itu keripik kentang menjadi menu khusus yang hanya ada di restoran. Menjelang akhir abad 19, keripik kentang mulai muncul di took bahan makanan.

Orang pertama yang menjual keripik kentang bernama William Tappendon dari Cleveland, Ohio. Pada 1895, William Tappendon mulai memproduksi keripik kentang dan mengirimkannya ke toko lokal. Hingga akhirnya William menyulap garasinya sebagai pabrik keripik kentang pertama.

Pembuatan keripik kentang saat itu memakan waktu yang lama karena kentang harus dikupas dan diiris menggunakan tangan. Baru pada tahun 1920, muncul mesin mekanik pengupas kentang. Saat itulah keripik kentang begitu melejit di pasaran.

Terlebih pada 1926, Laura Scudder yang juga punya pabrik keripik kentang di Monterey Park California menemukan kantong kertas lilin (wax paper) yang digunakan untuk mengemas keripik. Kemasan itu mampu menjaga keripik tetap renyah. Alhasil, keripik kentang kian popular di pasaran.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Legenda Kue Bandros, Kreatifnya Orang Sunda Olah Makanan

Koropak.co.id, 22 June 2022 12:24:53

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Bandros. Nama dan bentuknya pasti sudah menempel kuat di ingatan. Begitupun dengan rasanya. Bukan hanya orang dewasa, anak-anak kecil juga sudah tahu kudapan yang terbuat dari tepung beras dan kelapa, plus bahan tambahan lainnya itu.

Meskipun terbilang sebagai jajanan jadul alias ada sejak zaman dulu, sampai dengan sekarang kue bandros masih mudah didapatkan. Masih banyak pedagang yang menjajakannya, keliling di pemukiman warga atau di pasar-pasar.

Citarasanya melegenda. Kita bisa membayangkan rasanya bandros meski tidak menyantapnya. Gurih dan lembut di mulut. Bila ditambah gula pasir, rasanya menjadi unik. Rasa asin dan manis bercampur di lidah, memberikan rasa yang sederhana tapi membuat bahagia.

Sekilas, bentuk kue bandros terlihat seperti pukis, karena memang dicetak pada cetakan yang serupa. Cetakannya berbentuk setengah lingkaran, berjejer cukup banyak. Kendati begitu, keduanya memiliki rasa berbeda. 



Baca: Asal Usul Kue Balok, Warisan Pendudukan Belanda di Bumi Pasundan


Menilik sejarahnya, kue bandros sudah ada sejak pemerintahan Hindia Belanda, tepatnya pada 1900-an. Saat itu mereka datang dengan memperkenalkan tepung di daerah Priangan dan kota Bandung.

Dulu, tepung terigu hanya digunakan oleh kalangan bangsawan. Oleh karena itulah, masyarakat kalangan bawah pun berusaha memutar otak agar mereka bisa menikmati olahan tepung dengan harga yang terjangkau. 

Dari sana mulailah dibuat olahan makanan dengan bahan tepung beras, yang ternyata justru menjadi salah satu makanan pokok orang Sunda kala itu. Sejak itulah muncul kue bandros dengan bahan tepung beras.

Kini, banyak orang yang membuat kue bandros dengan banyak varian rasa. Bukan hanya menawarkan rasa manis, asin, atau manis asin, tapi juga ada yang memberikan beragam toping, sehingga jadi lebih banyak pilihan rasa. Sebut saja misalnya bandros rasa keju, cokelat, susu dan lain-lain.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Asal Usul Dayeuhkolot, Daerah Rawan Banjir di Kabupaten Bandung

Koropak.co.id, 22 June 2022 07:20:40

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Saat mendengar nama Dayeuhkolot, hal pertama yang terlintas dari pikiran kita mungkin banjir. Bisa jadi begitu. Tak salah memang, karena daerah yang di cekungan Bandung serta dilewati aliran sungai Citarum, itu membuatnya rawan banjir.

Setiap tahunnya, wilayah yang masuk pemerintahan Kabupaten Bandung itu selalu banjir. Saat musim penghujan yang sangat tinggi, bencana banjir di Dayeuhkolot tak bisa dielak. Tak hanya itu, pendangkalan yang terjadi di sungai Citarum turut memperparah banjir di sana.

Sebelum dikenal sebagai daerah langganan banjir, Dayeuhkolot memiliki sejarah yang panjang. Berjarak sekitar 18 kilometer dari Soreang, Ibukota Kabupaten Bandung, Dayeuhkolot berada di tengah jalur yang menghubungkan antara Kota Bandung menuju Baleendah dan Banjaran.

Daerah itu awalnya bernama karapyak yang berarti rakit penyeberangan yang terbuat dari batang-batang bambu. Saat itu merupakan pusat pemerintahan kolonial Hindia Belanda yang berlangsung hingga 1810-an, di bawah kepemimpinan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Willem Daendels.

Sampai 1810-an, Karapyak pun menjadi tempat kedudukan bagi para bupati Bandung. Bupati Bandung yang memimpin saat itu adalah R.A. Wiranatakusumah II dengan masa jabatan mulai 1794 s.d. 1829-an.

Dengan alasan ada daerah yang lebih berprospek untuk dikembangkan, Daendels memindahkan pusat pemerintahan kabupaten dari Karapyak ke tepi sungai Cikapundung. 



Baca: Pertumpahan Darah di Balik Awal Mula Gunungkidul


Akibatnya, Karapyak menjadi kota yang perlahan ditinggalkan. Semua hal yang berhubungan dengan pemerintahan hingga perekonomian juga turut beralih ke daerah yang baru.

Setelah itu, orang-orang menyebut Karapyak sebagai kota tua atau kota lama. Mulai dari sana, daerah Karapyak saat ini disebut sebagai Dayeuhkolot yang berasal dari dua kata dalam bahasa Sunda yakni dayeuh yang berarti kota, dan kolot yang berarti tua.

Dan kini, Dayeuhkolot dikenal sebagai daerah banjir. Pemerintah tidak tinggal diam. Berbagai cara dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut. Pada 2020, misalnya, pemerintah membuat sodetan Cisangkuy hingga membangun terowongan air Nanjung. Setahun berikutnya, 2021, pemerintah juga membuat Kolam Retensi Andir.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Ragam Makanan Indonesia Berawal Bak, Ada Bakmoy yang Terdengar Asing

Koropak.co.id, 21 June 2022 12:15:39

Fauziah Djayasastra


Koropak.co.id - Ada banyak makanan di sekitar kita yang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari, tapi bisa jadi tidak tahu bagaimana asal-usulnya. Bakso, misalnya. Siapa tidak tahu makanan berbentuk bulat itu? Bukan hanya orang dewasa, anak-anak kecil juga sudah akrab dengannya.

Kendati begitu, belum banyak orang tahu atau mungkin juga tidak mencari tahu dari mana bakso berasal. Begitupun dengan bakmi atau makanan lainnya yang berawal bak. Ya, makanan berawal bak.

Kedatangan para pedagang dan pendatang dari berbagai negara ke Indonesia menghasilkan saling silang budaya, termasuk antara Indonesia dan Cina yang juga memengaruhi dunia kuliner. Salah satunya makanan berawalan kata bak-, yang dalam Bahasa Cina kata itu merujuk pada bahan pembuatannya yang berarti daging babi. Namun, makanan itu kemudian disesuaikan dengan masyarakat Indonesia melalui proses modifikasi. 

Lantas, apa saja kuliner hasil akulturasi tersebut?

1. Bakso

Siapa nyana jika makanan sejuta umat ini berasal dari Cina? Resep aslinya sendiri memanfaatkan daging babi. Namun bukan berarti semua bakso berbahan babi atau celeng. Masyarakat Indonesia telah memodifikasinya, sehingga sesuai dengan norma agama serta adat istiadat yang ada di Indonesia. Alhasil, dewasa ini bakso berbahan utama daging sapi giling. Bahkan bakso telah bervariasi dengan bahan ayam, ikan, maupun dipadukan dengan aneka seafood lain.

2. Bakwan

Gorengan yang sekarang terkenal dengan campuran aneka sayur kol dan wortel yang berpadu dengan tepung itu begitu disukai semua kalangan. Banyak juga yang mengkombinasikan bakwan dengan jagung dan juga udang.

Tapi jika menilik pada sejarah, agaknya penggunaan nama bakwan terbilang salah kaprah. Bagaimana tidak, bakwan sendiri merupakan nama lain bakso. Dalam Bahasa Cina, bakwan berarti daging bulat, serupa bakso. Namun, apalah arti sebuah nama.

3. Bakmoy

Namanya mungkin terdengar agak asing bagi orang awam, namun kuliner ini merupakan hasil perkawinan silang antara Cina dan Jawa. Bakmoy sendiri berasal dari kata Ban Mui yang komposisinya juga jelas menggunakan daging babi, dengan campuran daging ayam dan daging sapi.

Kabarnya, pencetus makanan ini adalah pria keturuan Tionghoa yang merantau ke Yogyakarta lalu menikah dengan perempuan Bali. Suatu saat, pria itu merindukan makanan Cina dan meminta istrinya memasak bakmoy.

Istrinya memasak bakmoy dengan mencampurkan ragam rempah ke dalam bakmoy buatannya. Akhirnya resep ini menyebar dan dimodifikasi oleh masyarakat Yogyakarta.



Baca: Sejarah Bakpia Yogyakarta, Hasil Akulturasi Perpaduan Dua Budaya


4. Bakpia

Bakpia yang identik dengan Yogyakarta itu asalnya bernama Tou Luk Pia yang artinya kacang hijau. Namun pada awalnya, orang Cina menggunakan daging sebagai isiannya. Kini, bakpia telah dimodifikasi menjadi beragam rasa dan varian.

5. Bakcang

Bakcang atau bacang kerap terdapat di kantin-kantin rumah sakit. Makanan berbahan beras dengan isian daging dan dibungkus daun bambu ini punya sejarah panjang. Bakcang wajib ada dalam perayaan pesta air bagi masyarakat Tionghoa.

Namun karena makanan ini hasil akulturasi dan telah dimodifikasi, bakcang tidak digunakan sebagai sesembahan oleh masyarakat Indonesia.

6. Bakpao

Makanan yang mirip dengan roti ini berbahan dasar tepung dan isian daging. Umumnya berbentuk bulat atau di bagian atasnya berbentuk menyerupai bunga. Konon resep ini pertama ditemukan oleh seorang ahli militer bernama Zhuge Liang. Kini, bakpao telah dimodifikasi dengan ragam varian isian seperti kacang atau cokelat. Mantap jika dinikmati selagi masih hangat.

7. Bakmi

Terakhir, ada bakmi yang kini banyak dijual, baik oleh pedagang kaki lima hingga restoran bintang lima. Bakmi berasal dari Cina dan dikabarkan tercipta pada masa Dinasti Han Timur. Kuliner ini lantas memengaruhi negara-negara tetangga sampai Indonesia.

Berbahan mie dengan daging, kuliner ini konon lambang umur panjang serta kemakmuran hidup. Namun sekarang, banyak yang memadukan bakmi dengan toping seafood.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Hikayat Nasi Liwet, Kuliner Indonesia sebagai Upaya Berhemat

Koropak.co.id, 20 June 2022 07:30:25

Fauziah Djayasastra


Koropak.co.id - Kuliner berbahan utama nasi sudah banyak sekali di Indonesia, salah satunya adalah nasi liwet. Umumnya, nasi liwet disajikan dengan aneka lauk pauk semacam daging ayam, sayur-mayur, sambal, ikan asin, dan kerupuk.

Nasi liwet banyak dijumpai di wilayah Jawa, seperti Solo atau Surakarta, dan tentu saja di tanah Sunda. Walau lebih identik sebagai makanan khas Sunda, lengkap dengan jengkol dan petai sebagai lalapannya, nasi liwet sejatinya makanan khas asal Jawa.

Dalam buku Kuliner Surakarta: Mencipta Rasa Penuh Nuansa garapan Murdjati Gardjito, dkk, nasi liwet bukan berasal dari kaum keraton atau bangsawan. Melainkan tercipta dari masyarakat yang bermukim di Desa Menuran, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo.

Sekitar tahun 1934, masyarakat desa tersebut mencoba berjualan nasi liwet ke wilayah Solo dan Surakarta. Itulah sebabnya nasi liwet dikenal oleh para bangsawan dan keraton.

Sementara nasi liwet khas Sunda lahir dari kalangan masyarakat petani. Mereka biasa membekali diri dengan makanan untuk sarapan dan makan siang. Oleh karenanya, nasi liwet dipilih sebagai cara untuk berhemat. 



Baca: Cerita Tentang Rengginang Hingga Jadi Penghuni Ilegal Kaleng Kue


Dikatakan hemat, sebab nasi liwet tidak hanya berupa nasi, melainkan sudah berikut campuran rempah dan ditambahkan ikan asin di dalamnya. Orang Sunda biasa membawanya dalam wadah semacam panci bernama kastrol yang ditutup rapat. Tujuannya tentu saja untuk menjaga nasi liwet tetap hangat.

Kalaupun ingin dihangatkan, kastrol bisa langsung ditaruh di atas pembakaran. Biasanya, liwet dinikmati dengan alas daun pisang. Ini membuat nasi liwet menjadi lebih beraroma dan terasa nikmat.

Nasi liwet biasa disajikan dalam acara kumpul-kumpul dengan teman, sesekali juga muncul dalam acara selamatan atau peringatan Maulid Nabi. Bahkan, nasi liwet juga hadir dalam upacara adat Wilujeng Jawa, seperti dalam midodareni pernikahan. 

Kini, nasi liwet banyak dilirik untuk dijadikan usaha skala rumahan atau menu andalan di sejumlah restoran modern.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Cerita Tentang Rengginang Hingga Jadi Penghuni Ilegal Kaleng Kue

Koropak.co.id, 14 June 2022 15:09:16

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Lebaran tiba, rengginang pun meraja. Cemilan kriuk berbentuk bulat itu hampir dipastikan ada di setiap rumah saat Hari Raya Idul Fitri. Entah apa alasannya, tapi yang pasti selalu tersaji di meja tamu atau ruang keluarga.

Rengginang merupakan sejenis kerupuk tebal dari beras ketan yang dibentuk bulat lalu dikeringkan dengan cara dijemur di bawah terik matahari. Setelah kering, rengginang digoreng dalam minyak panas.

Berbeda dari jenis kerupuk lain yang pada umumnya terbuat dari adonan bahan yang dihaluskan, seperti tepung tapioka atau tumbukan biji melinjo, rengginang tidak begitu. Bahan rengginang tidak dihancurkan, sehingga membuat bentuk butiran ketannya masih terlihat.

Berbicara mengenai asal-usul rengginang sendiri masih menjadi perdebatan. Meskipun banyak yang menganggap bahwa rengginang berasal dari Betawi, bahkan ada yang mengatakan juga dari Jawa, namun sebenarnya camilan renyah ini berasal dari Jawa Barat dan Banten.

Banyak yang menduga bahwa rengginang tidak sengaja dibuat. Konon, pada awalnya masyarakat Jawa Barat kala itu ingin membuat tape ketan. Akan tetapi, dikarenakan raginya kosong ditambah lagi beras ketan pun sudah terlanjur dikukus, maka dijemurlah beras ketan tersebut hingga pada akhirnya dijadikannya sebagai kerupuk.



Baca: Dibuat dari Ketidaksengajaan, Batagor Jadi Makanan Favorit


Tak hanya di Jawa Barat, rengginang pun menyebar ke daerah lain di Indonesia. Seperti di Sumatera Barat, rengginang dikenal dengan nama 'batiah' dan menjadi ciri khas Payakumbuh.

Tak hanya menggunakan beras ketan putih, rengginang pun bisa dibuat dari beras ketan hitam. Perlu diketahui juga bahwa rengginang harus menggunakan beras ketan dan bukan beras biasa. Selain itu, jika menggunakan nasi sisa yang dikeringkan, maka biasanya akan disebut rangining.

Untuk membuat cita rasa rengginang ini semakin lezat, rengginang pun akan ditambahkan bumbu penyedap atau pemanis yang asin dan biasanya juga akan diberi bumbu terasi atau kencur.

Sementara untuk rengginang yang manis biasanya akan dibumbui dengan gula kawung atau gula merah. Di balik cita rasanya yang gurih dan renyah, ternyata rengginang juga memiliki filosofi yang menarik. 

Rengginang dianggap sebagai simbol persatuan dikarenakan camilan tradisional ini terbuat dari butiran beras ketan yang saling menempel. Bisa diartikan bahwa rengginang memiliki simbol saling menyatu dan tak mudah terpecah belah.

Namun, entah sejak kapan rengginang menjadi penghuni ilegal bekas kaleng kue. Banyak tamu yang tertipu saat membuka tutup kaleng. Dikira kue, ternyata di dalamnya ada rengginang. Meski sedikit kecewa, tetap saja rengginangnya diambil, karena memang rasanya tidak mengecewakan.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini: