Affandi Koesoema, Maestro Terkenal di Kancah Internasional

Koropak.co.id, 05 March 2022 04:23:27
Penulis : Jihan Fauziah
Affandi Koesoema, Maestro Terkenal di Kancah Internasional

 

Koropak.co.id - Affandi Koesoema atau yang akrab dengan nama Affandi merupakan salah satu pelukis Indonesia yang terkenal hingga ke kancah internasional.

Pria kelahiran Cirebon, 18 Mei 1907 itu merupakan putra R. Koesoema, mantri ukur di pabrik gula Ciledug, Cirebon.

Latar belakang pendidikan Affandi cukup tinggi dibanding orang-orang segenerasinya. Affandi memperoleh pendidikan di Hollansch-Inlandsche School (HIS), Meer Uitgebreid Lager Orderwijs (MULO) atau setingkat SMP, dan setelahnya lulus dari Algemeene Middelbare School (AMS).

Kendati demikian, Affandi tidak suka membaca pun membutakan diri terhadap macam-macam teori. Tetapi dia menunjukkan kebolehannya lewat kerja dan karya nyata.

Sebelum menjadi pelukis, Affandi menjabat sebagai guru dan juga pernah melakoni usaha sobek karcis sekaligus pembuat reklame bioskop di Bandung.

Namun, bakat seni yang kental dalam diri Affandi telah mengalahkan disiplin ilmu lain. Pekerjaan-pekerjaan tersebut tidak lama digeluti karena Affandi berminat menekuni seni lukis.

Berkisar tahun 1930-an, Affandi bergabung dengan Lima Bandung, kelompok pelukis yang terdiri atas lima orang. Selain Affandi yang menjabat sebagai ketua, empat orang lainnya ialah Barli, Henrea Gunawan, Sudarso, serta Wahdi Sumanta. Dimana kelompok tersebut mempunyai andil cukup besar dalam perjalanan seni rupa di Indonesia.

Pada tahun 1943, Affandi menggelar pameran tunggal pertamanya di Gedung Poetra Djakarta. Dalam pameran itu, Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan Kyai Haji Mas Mansoer alias Empat Serangkai ikut serta sebagai Seksi Kebudayaan Poetra.

Sementara Affandi bertindak sebagai pelaksana dan S. Soedjojono sebagai penanggungjawab yang menjalin relasi dengan Bung Karno.

Memasuki kemerdekaan di tahun 1945, seni lukis dijadikan sarana sebagai penyampai pesan atau ajakan. Gerbong-gerbong kereta dipenuhi poster yang dibuat oleh para pelukis.

 


Baca : Sekilas tentang Raden Saleh, Maestro Seni Rupa Indonesia yang Mendunia

Saat itu, Affandi bertugas membuat poster dengan tokoh yang dirantai, namun rantai tersebut sudah putus. Poster itu adalah ide dari Soekarno. Affandi menjadikan pelukis Dullah sebagai model, dan mencantumkan tulisan "Bung, ajo, Bung!" atas usulan penyair Chairil Anwar.

Siang dan malam para pelukis bekerja ekstra memperbanyak poster-poster tersebut untuk kemudian disebarkan ke pelosok daerah.

Bakat melukisnya membuat dia meraih beasiswa kuliah melukis akademi yang didirikan Rabindranath Tagore di Santiniketan, India. Namun ketika dia sampai di India, Affandi ditolak dengan dalih dirinya tidak memerlukan pendidikan seni lukis lagi.

Alhasil, dana pendidikan yang diterimanya dialokasikan untuk pameran keliling di India. Affandi kemudian pulang ke Indonesia berkisar tahun 1950-an.

Dia langsung dicalonkan oleh PKI, sebagai wakil orang-orang tak berpartai, dalam pemilihan Konstituante. Dia terpilih dan masuk dalam Komisi Perikemanusiaan (semacam HAM) yang diketuai kawan dekatnya, Wikana.

Menurut Basuki Resobowo, sesama rekan pelukisnya, Affandi biasa diam atau kadang tertidur. Namun saat sidang komisi, Affandi kerap angkat bicara. Topik yang diusung Affandi ialah perikebinatangan, bukan perikemanusiaan.

Affandi merupakan pribadi yang rendah hati dan lukisan-lukisannya lekat dengan lingkungan, flora dan fauna. Dia merupakan pelukis yang menganut aliran ekspresionisme atau abstrak.

Affandi mengidolakan Sokrasana, tokoh wayang yang wajahnya tidak tampan tetapi sangat sakti. Affandi menganggap tokoh tersebut adalah representasi dirinya. Meskipun begitu, Departemen Pariwisata Pos dan Telekomunikasi (Deparpostel) telah mengabadikan potret wajahnya dalam prangko seri tokoh seni/artis Indonesia.

Affandi berpulang pada tahun 1990, di Yogyakarta. Semasa hidupnya, dia telah melahirkan lebih dari 2.000 karya yang telah dipamerkan, baik di Asia, Amerika, Australia, atau Eropa.

Pada tahun 1973, Fuad Hassan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ketika itu meresmikan Museum Affandi yang merupakan tempat tinggal sang maestro tersebut. Setahun berikutnya, dia meraih gelar Doctor Honoris Causa dari University of Singapore.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

Komentar

M. Husseyn Umar, Pengarang yang Juga Menulis Masalah Hukum

Koropak.co.id, 20 May 2022 07:43:21

Eris Kuswara


Koropak.co.id - M. Husseyn Umar tergolong pengarang tahun 1950-an yang telah banyak menulis puisi dan cerpen. Karya-karyanya dimuat dalam majalah-majalah terkemuka saat itu, seperti Mimbar Indonesia, Siasat, Pujangga Baru, Zenith, Indonesia, Kisah, dan Budaya. 

Di samping menulis sajak dan cerpen, Husseyn Umar sangat produktif menulis naskah sandiwara radio. Ia juga menulis ulasan pementasan drama, cerita pendek khusus untuk ruangan cerita minggu pagi, dan langensari. 

Pria kelahiran Medan, 21 Januari 1931, itu berlatar belakang agama Islam dan menempuh pendidikan formalnya dimulai sejak zaman Penjajahan Jepang. Ia mengikuti latihan pendidikan guru dan pegawai di Pangkalpinang.

Setelah tamat SMA bagian A (sastra) di Jakarta 1952, Husseyn Umar melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Hukum, Universitas Indonesia (UI) Jurusan Ilmu Pengetahuan Masyarakat dan lulus 1957. Saat itu gelar bagi lulusan Fakultas Hukum adalah Meester in de Rechten (Mr.).

Pada akhir 1940-an, Husseyn Umar yang masih berumur 17 tahun mulai menulis sejak dirinya masih menjadi pelajar SMA. Setelah lulus Fakultas Hukum, ia seakan-akan menghilang dari dunia sastra dikarenakan kesibukannya sebagai pegawai pemerintah. 

Namun, setelah pensiun sebagai pegawai, Husseyn Umar pada akhirnya kembali ke habitat lamanya. Dia juga rajin menghadiri acara-acara sastra. Pada 1960, Husseyn Umar tercatat pernah menjadi redaktur majalah Roman, menggantikan Nugroho Notosusanto. 

Dia juga mengasuh "Ruangan Mutu, Ilmu dan Seni" bersama Wiratmo Sukito dan Anas Ma'ruf di RRI Jakarta. Ketika masih berstatus sebagai mahasiswa, Husseyn Umar pernah menjadi anggota redaksi majalah Forum (majalah mahasiswa UI). 

Di samping itu, ada bukti-bukti peranan Husseyn Umar dalam kehidupan sastra, yaitu dengan adanya ulasan atau pendapat tentang karya-karyanya. Salah satunya dari Taufiq Ismail yang pernah mengemukakan pendapatnya tentang rubrik yang diasuh oleh M. Husseyn Umar di radio pada 1950-1960.

Taufiq Ismail juga turut mengulas cerpen "Rodi" karya Husseyn Umar yang ditulisnya pada 1956. Selain itu, ketika Husseyn menginjak usia 25 tahun, bakatnya sudah terlihat.

Sejak tamat kuliah, Husseyn Umar langsung meniti kariernya dan sibuk bekerja di pemerintahan, khususnya di Kementerian Pelayaran (yang kemudian diintegrasikan ke dalam Departemen Perhubungan). Kala itu ia tidak tampak lagi dalam kegiatan di kalangan sastrawan seperti ketika masih menjadi mahasiswa.



Baca: Petualangan Kho Ping Hoo, Tukang Obat Jadi Penulis Cerita Silat


Hubungannya dengan dunia sastra seolah-olah berhenti dan terputus. Karena sebagai pegawai, Husseyn Umar memiliki profesi yang selalu menanjak. Kepakarannya dalam masalah hukum kelautan berhasil mengantarkannya menjadi seorang pegawai. 

Ia pernah menduduki sekitar dua puluh jabatan penting dan tinggi, baik itu di pemerintahan maupun di BUMN. Di antaranya Asisten Utama Menteri Perhubungan Laut, Direktur Utama Perusahaan Maritim Negara, Direktur Utama PT PANN (Perusahaan Pembiyaan Perkapalan), dan Direktur Utama PT Pelni (perusahaan pelayaran). 

Tak hanya itu, ia juga mendapat kehormatan untuk bertugas di dalam hubungan negara Indonesia dengan dunia internasional, yaitu sebagai Atase Maritim dan Atase Perhubungan di Kedutaan Besar RI di Den Haag, Belanda (1969-1974). 

Dia juga pernah menjabat sebagai penasihat di organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCTAD) di Jeneva, Swiss (1986-1988). Selain itu, Husseyn Umar juga menjadi dosen dan konsultan di Jakarta.

Setelah pensiun, ia bersama Ajip Rosidi menjadi anggota Dewan Pendiri Yayasan PDS H.B. Jassin dan menyumbangkan peralatan kantor pada majalah Horison. 

Tercatat, karya-karya Husseyn Umar banyak tersebar di berbagai majalah sastra, diantaranya "Kalau Anak-Anakku Pulang Pakansi" (cerpen) dalam Kisah, No. 8, Th. III, Agustus 1954 "Semangat Bushido" (fragmen) dalam Kisah, No. 3, Th. II, Maret 1954 "Dimulai dari Nol" (Cerita Seorang Istri di Pagi Minggu) (cerpen) dalam Kisah, No. 6, Th. II, Juni 1954 Lereng Perjalanan dan Refleksi (Tiga Kumpulan Sajak), 2001. Jakarta: Pustaka Jaya. 

Sementara kumpulan cerpennya berjudul Lembah Kehidupan (2013), kumpulan puisinya Sepanjang Jalan 2013). Sajak-sajak dalam antologi tersebut ditulis pada rentang waktu 1948-1999 dan kurang lebih sepertiga jumlah sajaknya yang pernah dimuat dalam berbagai majalah terbitan tahun 1950-an.

Beberapa waktu sebelum dia meninggal, Husseyn Umar sempat menyiapkan naskah-naskah yang masih menunggu penerbit, yaitu "Pahlawan Pelajar" dan "Cerita dan Harapan" (kumpulan cerpen). Di samping menulis cerpen, puisi, dan naskah sandiwara radio, ia juga menulis masalah hukum dan pelayaran di berbagai seminar dan media massa. 

Bukunya tentang pelayaran yang sudah terbit diantaranya Perusahaan Muatan Kapal Laut, 1962, Jakarta: Jambatan; Peraturan Angkutan Laut dalam Deregulasi, 1992, Jakarta: Dian Rakyat; dan Hukum Maritim dan Masalah Pelayaran. 


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Herodotus, Sang Sejarawan Pertama Dunia

Koropak.co.id, 19 May 2022 08:15:01

Jihan Fauziah


Koropak.co.id - Herodotus (484 SM-425 SM) adalah orang Yunani pertama yang menulis narasi sejarah skala besar yang bertahan melalui perjalanan waktu yang panjang. Pada masa hidup Herodotus, penulisan sejarah dan prosa dalam bentuk apa pun masih merupakan sesuatu yang baru dan belum banyak diketahui khalayak.

Tulisan-tulisan paling awal dalam bentuk prosa adalah karya sekelompok intelektual Yunani dari kota-kota Ionia di Asia Kecil yang --dari sekitar 550 SM dan seterusnya-- menulis karya-karya tentang sains dan filsafat atau subjek-subjek sejarah.

Namun, pada masa awal ini masih terdapat sedikit perbedaan antara berbagai disiplin ilmu. Itulah sebab mengapa penulisan sejarah biasanya juga memasukkan unsur lain yang di masa sekarang akan dikategorikan sebagai antropologi, ekonomi, atau geografi.

Herodotus pun merupakan pewaris tradisi kuno ini. Dia sangat dipengaruhi oleh beberapa pendahulunya, seperti Hecataeus dari Miletus.

Meskipun dianggap sebagai Bapak Sejarah, tulisan Herodotus berisi lebih sebagai deskripsi tentang peristiwa baik yang dilihatnya sendiri atau mengumpulkan dari sumber yang dia anggap terpercaya.

Herodotus bepergian ke berbagai tempat untuk mengumpulkan informasi tangan pertama tentang berbagai peristiwa.

Herodotus menyatakan dalam bukunya bahwa banyak dari apa yang dia tulis adalah 'berdasarkan desas-desus yang bercampur dengan pengamatan saya sendiri.'

Dia juga menulis lebih lanjut, "Merupakan tugas saya untuk mengulangi apa yang dikatakan, tapi jangan pernah langsung percaya dengan apa yang saya tulis tanpa syarat, pernyataan ini berlaku untuk semua karya saya."



Baca: Go Tik Swan, Sang Pelopor Batik Indonesia


Sedikit yang diketahui tentang kehidupan Herodotus di luar apa yang dapat disimpulkan dari tulisan-tulisannya. Dia diperkirakan lahir pada tahun 484 SM atau mungkin beberapa tahun sebelumnya, di Halicarnassus, sebuah kota kecil Yunani di pesisir Asia Kecil.

Pada saat itu, Halicarnassus diperintah oleh Ratu Artemisia yang merupakan pengikut Raja Persia Xerxes dan telah berperang bersama dalam pertempuran laut Salemis. Sepeninggal Ratu Artemisia, cucunya yang bernama Lygdamis ganti memerintah. Dia merupakan seorang tiran sehingga tidak disukai oleh rakyatnya.

Herodotus berasal dari keluarga kaya dan mungkin masuk dalam kelompok aristokrat. Ketika masih sangat muda, keluarga Herodotus diusir dari kota oleh Lygdamis. Dia lantas tinggal selama delapan tahun di pulau Samos sambil mempelajari dialek Ionic yang digunakan untuk menulis karya-karyanya di masa depan.

Di kemudian hari diketahui Herodotus kembali ke Halicarnassus untuk ambil bagian dalam upaya penggulingan sang tiran.

Setelah Lygdamis digulingkan, Herodotus berniat tinggal di Halicarnassus namun ternyata tetap tidak diinginkan oleh penguasa baru, sehingga memaksanya sekali lagi meninggalkan kota kelahirannya tersebut.

Herodotus menghabiskan beberapa tahun masa mudanya dengan melakukan perjalanan secara ekstensif. Dia diperkirakan pernah mengunjungi Mesir setidaknya sekali, kemungkinan setelah tahun 455 SM.

Karya besar Herodotus diberi judul History menjadi karya dan fokus utama dalam kehidupannya. Karya lengkap tersebut tidak selesai disusun sampai tahun-tahun terakhir hidupnya, tetapi banyak bagian-bagian yang tidak diragukan telah ditulis jauh lebih awal.

Terdapat kemungkinan bahwa dia awalnya merencanakan History hanya berpusat pada serbuan Persia terhadap Yunani yang terjadi pada tahun 480, sebuah peristiwa yang terjadi ketika ia masih kanak-kanak.

Tetapi pada akhirnya tema History diperluas hingga mencakup seluruh sejarah hubungan antara dunia Yunani dan Persia dan kerajaan-kerajaan Asia lainnya. Atas tulisannya tersebut, Herodotus disebut sebagai sejarawan pertama.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Go Tik Swan, Sang Pelopor Batik Indonesia

Koropak.co.id, 15 May 2022 15:23:14

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Go Tik Swan atau yang lebih dikenal dengan nama K.R.T. Hardjonagoro merupakan seorang budayawan dan sastrawan Indonesia yang lahir pada 11 Mei 1931 dan meninggal dunia di usia 77 tahun, tepatnya 5 November 2008.

Tik Swan merupakan putra sulung dari keluarga Tionghoa yang termasuk priyayi Tionghoa di kota Solo (Surakarta). Dikarenakan kedua orangtuanya sibuk dengan pekerjaan mereka, Tik Swan diasuh oleh kakeknya dari pihak ibu, Tjan Khay Sing, seorang pengusaha batik di Solo. Kakeknya mempunyai empat tempat pembatikan: dua berada di Kratonan, satu di Ngapenan, dan satu lagi di Kestalan. Jumlah karyawannya mencapai seribu orang.

Tak heran, sejak kecil Tik Swan biasa bermain di antara para tukang cap, dengan anak-anak yang membersihkan malam dari kain dan mencucinya. Mereka juga yang membubuhkan warna coklat dari kulit pohon soga dan orang-orang yang menulisi kain dengan canting.

Tak hanya itu, ia juga senang mendengarkan mereka menembang dan mendongeng tentang Dewi Sri dan berbagai cerita tradisional Jawa. Mulai dari merekalah Tik Swan pun belajar mengenal macapat, pedalangan, gending, Hanacaraka, dan tarian Jawa.

Tidak jauh dari rumah kakeknya, tinggal Pangeran Hamidjojo, putra Paku Buwana X, seorang indolog lulusan Universitas Leiden yang merupakan penari Jawa klasik. Di rumah sang pangeran itu selalu diadakan latihan tari yang sejak awal sudah memesona Tik Swan. 

Setelah itu, Tik Swan pun dikirim untuk bersekolah di Neutrale Europesche Lagere School. Ia lantas belajar di MULO di Semarang. Setelah lulus dari VHO Voortgezet Hooger Onderwijs (VHO) di Semarang, orangtuanya menginginkan dirinya kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Namun, ia sudah telanjur sayang pada kebudayaan Jawa. Maka, ia diam-diam masuk jurusan Sastra Jawa di Fakultas Sastra UI. Di Fakultas Sastra, setidaknya ada dua pengajar yang dianggapnya berpengaruh besar terhadapnya. Mereka adalah Prof. Dr. Tjan Tjoe Siem, seorang ahli sastra Jawa lulusan Leiden yang berasal dari Solo dan Prof. Dr. R.M.Ng. Poerbatjaraka, seorang otodidak yang legendaris.



Baca: Elisha Orcarus Allasso, Sinden Cantik dengan Sejuta Talenta


Ketika belajar di Jakarta, Tik Swan sering berkunjung ke rumah Prof. Poerbatjaraka dan berlatih menari Jawa. Bahkan, dalam perayaan Dies Natalis Universitas Indonesia, ia bersama rombongannya diundang menari di istana. 

Tariannya pun sempat membuat Presiden Soekarno sangat terkesan, karena Tik Swan menari dengan sangat bagus. 

Ketika mengetahui bahwa keluarga Go Tik Swan Hardjono sudah secara turun-temurun mengusahakan batik, Soekarno menyarankan agar ia menciptakan "Batik Indonesia".

Tik Swan merasa tergugah, lalu pulang ke Solo untuk mendalami segala sesuatu tentang batik, termasuk juga mengenai sejarah dan falsafahnya.

Hubungannya yang akrab dengan keluarga keraton Solo memungkinkan Tik Swan Hardjono belajar langsung dari ibunda Susuhunan Paku Buwana XII yang memiliki pola-pola batik pusaka.

Pola-pola batik langka yang tadinya tidak dikenal umum maupun pola-pola tradisional lain berhasil digali dan dikembangkannya tanpa menghilangkan ciri dan maknanya yang hakiki.

Pola yang sudah dikembangkannya itu selanjutnya diberikan warna-warna baru yang cerah, bukan hanya warna coklat, biru, dan putih kekuningan seperti yang lazim dijumpai pada batik Solo-Yogya. Maka lahirlah batik yang disebut "Batik Indonesia".


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Leon Agusta, Guru yang Jatuh Cinta pada Sastra

Koropak.co.id, 14 May 2022 07:45:46

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Leon Agusta. Begitulah namanya dikenal di dunia sastra. Nama semula Ridwan Ilyas Sutan Badaro. Ia penulis produktif. Membuat puisi hingga cerita pendek. Pilihannya untuk menjadi penulis tidak salah.

Putra kedua dari empat bersaudara yang lahir pada 5 Agustus 1938 di Sigiran, Maninjau, Sumatera Barat, ini telah membuktikan tekadnya. Dalam keluarganya, hanya dia yang memilih jadi sastrawan. Saudara-saudaranya bekerja sebagai dosen dan teknisi. 

Sebenarnya Leon pernah menjadi pengajar. Ia alumnus sekolah pendidikan guru yang pada waktu itu masih bernama SGA di Payakumbuh. Setamat SGA, dia mengajar di Sekolah Guru B (SGB) mulai 1956 hingga 1964. Namun, pekerjaannya itu tidak sesuai dengan tuntutan jiwanya.

Ia lantas memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan menghabiskan waktunya dengan menulis. Selain menulis novel, cerita pendek, dan makalah, ia juga menerjemahkan drama dan berbagai tulisan. 

Pada tahun 1974, ia mendapat kesempatan tinggal di Malaysia selama tiga bulan atas undangan Study Club Bahasa dan Sastra Universitas Kebangsaan, Kuala Lumpur. Kemudian pada 1976, ia mengikuti International Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat. 

Selama beberapa bulan, sejak Januari 1977, ia berkeliling di beberapa kota pusat teater di Amerika Serikat dan Eropa Barat untuk mengenal kehidupan teater baru dengan grand dari The JDT 3rd Fund, New York.



Baca: Ike Supomo, Penulis yang Terkenal dengan Novel Kabut Sutra Ungu


Selain pernah menjadi seorang guru, ia juga pernah bekerja di night club selama beberapa bulan. Bahkan dia juga pernah menjadi seorng wartawan dan redaktur majalah Haluan, Padang. Selanjutnya pada tahun 1971-1974, ia memimpin Bengkel Teater Kota Padang. 

Karya-karyanya pernah dimuat di majalah Horison dan beberapa majalah kebudayaan yang terbit di Malaysia, seperti Dewan Sastra, Dewan Masyarakat, dan Dewan Bahasa. Menariknya, Leon sering dijuluki sebagai penyair berwajah sayu dengan puisi-puisinya yang melankolis. 

Menurutnya, nada melankolis pada sajak-sajaknya itu dipengaruhi oleh latar belakang kehidupannya. Kakaknya, anggota PRRI, meninggal dunia karena ditembak tentara, sedangkan ayahnya dibunuh oleh PRRI dan adik perempuannya diculik PRRI. Peristiwa tersebut membuatnya terpukul. 

Beberapa karyanya yang berhasil dimuat di antaranya Monumen Safari (1963), Lagu Senja dari Tenggara (kumpulan puisi, 1974), Catatan Putih (kumpulan puisi, 1975), Di Sudut-Sudut New York itu (novel, 1977), Di Bawah Bayangan Sang Kekasih (novel, 1978), Sebuah Episode (novelet) dan Kisah Kepergiannya (novel, 1979).

Selama menekuni dunia sastra, penulis produktif yang meninggal dunia pada 10 Desember 2015 ini mendapat banyak penghargaan. Satu di antaranya Honorary Fellow of Writing, The International Writing Program, Iowa City, Iowa, USA (1976).


Simak berbagai video menarik di sini:


Cerita di Balik Hari Perawat Internasional, Ada Sosok Florence Nightingale

Koropak.co.id, 12 May 2022 15:21:21

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Hari ini, 12 Mei, diperingati sebagai International Nurse Day atau Hari Perawat Internasional. Momentum ini dirayakan setiap tahun sebagai pengingat jasa para perawat yang berperan dalam menciptakan kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Juga untuk mengenang jasa Florence Nightingale, seorang perawat asal Inggris yang menjadi peletak dasar keperawatan modern yang lahir pada 12 Mei 1820. 

Berkat sosok Florence Nightingale yang menjadi pelopor ilmu keperawatan modern, tugas perawat menjadi lebih dihargai dan diperbaiki standarnya. Florence lahir di kota Florence, Italia. Namanya memang terinspirasi dari kota kelahirannya, meskipun ia berkebangsaan Inggris.

Ia merupakan anak bungsu yang lahir dari keluarga kaya raya, terpandang, dan memiliki lingkaran pertemanan di  kalangan atas. Sang ibu yang merupakan pengusaha cenderung bangga ketika berkumpul dengan teman sesama orang kaya. Ayahnya merupakan tuan tanah dan mempunyai perkebunan di daerah Embly Hampshire dan Lea Hurst Derbyshire.

Keluarganya pun memberikan bimbingan terbaik dalam hal pendidikan, khususnya dalam ilmu-ilmu sejarah, matematika, dan bahasa. Kondisi keluarganya juga cenderung nyaman dan tidak pernah merasa kesulitan dalam hal finansial.

Namun, Florence tidak terlena dengan keadaan. Bahkan, sejak kecil ia mulai menemukan minatnya yang jauh dari kesan mewah seperti tradisi keluarganya. Diketahui, sejak remaja ia sudah bercita-cita untuk bisa menjadi perawat meskipun ditentang keluarga.

Kendati sudah mendapatkan segalanya dari keluarga, ia lebih memilih mendengarkan suara hatinya. Saat diajak pergi liburan ke Jerman pada 1840-an, dia bertemu dengan para biarawati Lutheran di rumah sakit. Ia pun sangat mengagumi biarawati yang berjiwa sosial tinggi.

Oleh karena itu, ia segera mengungkapkan cita-citanya untuk menjadi perawat yang dia pikir itu merupakan tugas yang sangat mulia. Meski sudah bersemangat, ternyata keluarganya tidak merespons baik. Hal itu dikarenakan perawat bukan profesi yang dianggap pantas masuk ke daftar cita-cita.

Selain itu, dalam tradisi keluarganya juga sama sekali belum ada yang menjadi perawat. Hal tersebut membuatnya harus terus bernegosiasi dengan orangtuanya agar bisa menjadi perawat yang baik, dikarenakan ia juga memang senang membantu orang di tempat tinggalnya.



Baca: Lindungi Bumi dari Krisis Iklim Global, Begini Sejarah Earth Day


Pada 1845, ia mengunjungi sejumlah rumah sakit di Eropa dan tempat layanan kesehatan untuk mencari informasi tentang keperawatan. Sampailah pada 1853-an, terjadi perang Crimea di Inggris. Meski sempat diragukan, ternyata keahlian berhasil membuat banyak orang takjub.

Peristiwa perang Crimea dinilai sebagai langkah awal untuk memperbaiki sistem rumah sakit yang mempunyai standar lebih baik dalam hal lingkungan maupun medis. Ia juga turut menemukan fakta bahwa korban jiwa dalam perang itu tidak selalu karena peluru tembakan, tapi juga dikarenakan rumah sakit yang kurang menjaga kebersihan.

Saat militer Inggris sedang melawan pasukan Rusia pada perang Crimea, Florence menjadi seorang perawat sukarela di daerah Scutari, Inggris. Tujuannya membantu dokter. Namun, niat baiknya sempat diragukan oleh dokter.

Ketika peningkatan angka korban perang, dokter mulai kewalahan hingga pada akhirnya Florence mulai diterima dan diakui perannya dalam membantu dokter. Dengan kinerjanya yang cekatan dan koordinasi yang matang, ia mengupayakan perawatan bagi 12.000 pasien dalam waktu dan sarana yang benar-benar terbatas.

Keahliannya merawat pasien itu membuat banyak orang takjub. Di malam hari yang gelap gulita pun, ia sering menyempatkan diri untuk mengecek pasiennya hingga dirinya mendapat julukan The Lady with Lamp. Hal itu karena saat mengecek pasien di malam hari, ia sering membawa lampu minyak untuk penerangan.

Dikarenakan jasanya, pandangan masyarakat kepada perawat pun mulai membaik. Ia membersihkan lingkungan rumah sakit, seperti mengganti sprei, cuci tangan sebelum merawat pasien, mengatur sirkulasi udara dan menginisiasi pemasangan lonceng agar pasien bisa memanggil sendiri ketika membutuhkan perawat.

Ia juga turut mengadakan pelatihan untuk perawat lain demi peningkatan kompetensi agar lebih profesional. Pandangan masyarakat kepada perawat mulai membaik. Perawat dipandang merupakan pekerjaan yang baik dan bisa menarik minat wanita dari kalangan terhormat.

Lantaran jasanya itu, Florence dikenal banyak kalangan sebagai seorang penggagas standar dunia keperawatan modern. Dalam buku catatannya yang diterbitkan dengan judul "Notes on Nursing", ia memberi informasi lengkap mengenai ilmu keperawatan yang di kemudian hari menjadi sebuah panduan bagi sekolah keperawatan di dunia.

Sebelum meninggal dunia pada 1910, Florence juga memperoleh penghargaan The Order of Merit dikarenakan kegigihannya dalam menyuarakan betapa pentingnya sistem yang baik di rumah sakit.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Kala Ismail Marzuki Jadikan Musik Sebagai Alat Perjuangan

Koropak.co.id, 11 May 2022 15:11:10

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Gugur Bunga, Halo-Halo Bandung, Rayuan Pulau Kelapa, Juwita Malam, dan Indonesia Pusaka merupakan lima dari ratusan lagu yang diciptakan Ismali Marzuki. Telinga kita sangat akrab dengan lagu-lagu tersebut. Namun, bisa jadi kita belum sepenuhnya mengenal siapa Ismail Marzuki.

Lahir di Betawi, 11 Mei 1914, Ismail Marzuki tumbuh dewasa menjadi musisi andal. Ia menjadi perwujudan sempurna bahwa musik dapat dijadikan sebagai alat perjuangan. Lagu-lagunya terkenal berani, hingga mampu membakar semangat pejuang-pejuang kemerdekaan untuk melawan penjajah.

Sejak kecil Ismail memang ditempa musik secara konsisten. Ayahnya senang mendengarkan musik, bahkan memiliki "mesin ngomong" gramafon dan piringan hitam yang cukup banyak. Setiap musik diperdengarkan, Ismail senang bukan main. Bukan hanya mendengarkan, Ismail merasa tertantang untuk bermain musik.

Ia lantas belajar main musik secara autodidak. Ayahnya mendukung dengan membelikan alat-alat musik, seperti gitar hingga saxophone, kepada Ismail. Dukungan penuh itu membuat bakat Ismail kian terasah.

Ia mampu mengubah lagu demi lagu dari ragam genre. Jam terbangnya semakin meningkat, sehingga bisa diterima radio, film, sampai panggung Societeit, sebuah klub eksklusif pada masanya. Semula, Ismail menjadikan musik sebatas hobi yang menyenangkan. Namun, itu berubah kala Jepang masuk Indonesia. Ismail mengubah haluan musiknya menjadi alat perjuangan.



Baca: Mengenang Wafatnya Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia


Ahmad Naroth dalam buku Ketoprak Betawi (2000) mengungkapkan, setahun setelah Jepang menduduki Indonesia, barulah rakyat tahu bahwa penjajah baru lebih ganas. Ismail juga menyadarinya, dan dengan caranya sendiri ia melawan penjajah Jepang. Digubahnya Bisikan Tanah Air, menyusul Indonesia Tanah Pusaka. 

Lagu itu disiarkan secara luas melalui radio. Kemudian Sumitsu san, kepala Seidenbu (Badan Propaganda) melaporkan Ismail ke kempetai, sehingga Ismail dipanggil oleh polisi Militer Jepang untuk diinterogasi perihal lagu tersebut. Setelah diancam, Ismail pun dilepaskan.

Namun, Ismail semakin nekad dengan dibuatnya lagu perjuangan Gagah Perwira, bersama mars untuk membakar semangat kemerdekaan, khusus untuk Peta (Pembela Tanah Air). 

Ia tidak berjuang sendirian. Komponis heroik dan patriotis Cornel Simanjuntak juga menggubah Maju Tak Gentar dan Kusbini menghasilkan Bagimu Negeri. Pada Oktober 1944, Ismail menciptakan lagu yang menyatakan cinta kasihnya kepada tanah air, yaitu Rayuan Pulau Kelapa. 

Kiprahnya itulah yang membuat nama Ismail Marzuki melejit di antara pejuang-pejuang kemerdekaan. Tak heran, pada 2004, ia dianugerahi gelar sebagai pahlawan nasional. Sebelumnya, namanya lebih dulu diabadikan oleh Gubernur DKI Jakarta di era 1966-1977, Ali Sadikin, sebagai nama sebuah kompleks seni Taman Ismail Marzuki (TIM), sebuah tempat yang menjadi rendezvous seniman Jakarta.

Selama bermusik dalam rentang waktu sekitar 27 tahun, Ismail Marzuki telah menciptakan 250 lagu. Gema dari Ismail Marzuki juga tetap terus terdengar sekalipun ia telah meninggal dunia pada 25 Mei 1958.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Petualangan Kho Ping Hoo, Tukang Obat Jadi Penulis Cerita Silat

Koropak.co.id, 10 May 2022 15:07:19

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Namanya Kho Ping Hoo. Ia merupakan seorang penulis cerita silat yang lahir di Sragen, Jawa Tengah, 17 Agustus 1926 silam. Ia meninggal dunia pada 22 Juli 1994 dan dimakamkan di Solo. 

Bernama lengkap Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo, dia memiliki 13 orang anak dan dua di antaranya meninggal dunia di usia masih muda, dan memiliki 8 orang cucu. Meski Kho Ping Hoo beragama Kristen, anak-anaknya diberi kebebasan untuk memilih keyakinannya masing-masing.

Kho merupakan keturunan Cina berdarah Jawa, dari neneknya. Anak-anaknya bebas menentukan pilihannya sendiri. Bahkan, dalam hal beragama, anaknya ada yang beragama Islam, Kristen, dan penganut aliran kepercayaan.

Anak lelaki pertama, atau anak kedua dari 12 bersaudara, Kho memiliki ayah bernama Kho Kian Po, pendekar aliran Siau Liem Sie dan mewariskan ilmu silat kepadanya. Pada tahun-tahun krisis (1945), dengan modal cinta, ia menikah dengan Ong Ros Hwa, gadis Sragen kelahiran Yogya. 

Untuk pendidikan dasar yang ia tempuh yakni di HIS Zendings School dan hanya sampai kelas 1 MULO dan selanjutnya terhenti. Kho sempat kursus Tata Buku. Menginjak usia 14 tahun, Kho Ping Hoo sudah lepas dari bangku sekolah dan menjadi pelayan toko. 

Ketika Jepang masuk ke Solo, ia pindah ke Surabaya dan bekerja sebagai penjual obat. Kala itu, Kho menjajakan pil-pil ke toko-toko. Pada masa itu dia bergabung dan digembleng oleh Kaibotai, semacam hansip Jepang yang pendidikannya "sangat militer". 

Dari Surabaya, ia kembali lagi ke Sragen dan bergabung dalam Barisan Pemberontak Tionghoa (BPTH) yang ketika itu senantiasa kompak dengan Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI). Setelah dari Sragen, ia pindah ke Kudus. 

Pada tahun 1949, ia pindah ke Sragen lagi untuk membuka usaha rokok yang ilmunya diperolehnya ketika dirinya bekerja di Kudus. Pada tahun inilah mulai muncul berbagai cobaan yang menimpanya. Perusahaan rokoknya sudah berjalan, meskipun masih kecil. Akan tetapi, Aksi Polisionil II mulai meletus.

Belanda mengobrak-abrik segala yang dimilikinya. Kho harus mulai dari nol lagi. Ia pun  berangkat ke pengungsian di Solo dan selama dua tahun ia tinggal di sana. Ia lantas pindah ke Tasikmalaya dengan membawa dua orang anak, yang satu masih dalam kandungan. Di Tasikmalaya, keluarga Kho mempunyai semangat baru untuk memperbaiki nasib.



Baca: Gus Tf. Sakai, Sastrawan yang Sudah Aktif Menulis Sejak Kecil


Di Tasikmalaya inilah segalanya bermula. Pada tahap pertama, ia bekerja menjadi staf dari seorang anemer yang sedang membangun sebuah rumah sakit di Banjarnegara. Sedikit demi sedikit, kesuksesan pun berhasil diraihnya. Pada tahap akhir, ia telah menjadi Ketua Perusahaan Pengusaha Pengangkutan Truk (P3T) kawasan Priangan Timur, meskipun ia tidak pernah mempunyai truk dalam hidupnya. 

Sekitar tahun 1951-an, Kho Ping Hoo mulai menulis cerita. Namun, sebelum dikenal sebagai penulis cerita silat, Kho pun menulis cerita detektif, novel, dan cerpen yang dimuat dalam berbagai majalah seperti di Liberty, Star Weekly, dan Pancawarna.

Dengan menggunakan nama samaran Asmaraman, karya tulisannya berhasil menyerbu majalah-majalah terkenal waktu itu. Meski banyak tulisannya yang ditolak, akan tetapi cukup banyak pula yang dimuat. Majalah Star Weekly, Cermin, Pancawarna dan Liberty termasuk yang sering memuat hasil karya-karyanya. 

Yang menarik dari cerita-cerita yang ditulisnya ketika itu, tak tersirat sedikit pun warna "silat" di dalamnya. Yang nyata hanya cerita-cerita roman biasa. Pada 1959-an, ia baru menulis cerita silat dan di tahun itu juga di Tasik lahirlah majalah Teratai. Untuk melengkapi isi majalah, para penulis pun mengusulkan agar majalah juga diisi dengan cerita silat.

Pada saat itu diputuskanlah agar Kho Ping Hoo yang mengisinya, sehingga lahirlah cerita silat pertamanya "Pedang Pusaka Naga Putih". Karya itu sendiri lahir karena terpaksa, akan tetapi respons pembaca ternyata positif. Lantas, karyanya dimuat bersambung dalam majalah Selecta, Roman, dan Monalisa.

Waktu itu, pengarang cerita silat yang dikenal hanya Oei Kiem Tia (OKT), satu-satunya pengarang 'cerita silat' di Indonesia. Cerita yang terputus itu kemudian diambil oleh majalah di Jakarta, Analisa, dan dimuat mulai awal kisah lagi. Sambutan pembaca tampak semakin baik.



Baca: Gerson Poyk dan Khazanah Kesusastraan Indonesia


Minat Kho pada tulis-menulis sendiri muncul setelah bermukim di Tasikmalaya. Awalnya, dia sebagai koresponden harian Keng Po dan pernah membantu barisan Pikiran Rakyat, Bandung, pada tahun 1960-an. Setelah berganti-ganti pekerjaan, Kho mencoba menulis cerita dan mengurus sandiwara. Ia berperan sebagai pemain dan sutradara.

Dunia tulis-menulis lebih ditekuninya hingga dia berhasil menjadi kaya dari tulisan-tulisannya dalam bentuk buku saku cerita silat Tionghoa. Sebenarnya, dia sendiri tidak begitu mengerti bahasa Cina. Ia mempelajari sejarah Tiongkok, tapi bukan dari bahasa aslinya, melainkan dari buku-buku bahasa Inggris dan Belanda. Dua bahasa ini memang dikuasainya dengan baik, selain bahasa Indonesia.

Sementara bahasa daerah yang dikuasainya adalah bahasa Jawa dan Sunda. Selain sejarah Tiongkok, ia juga amat tertarik pada sejarah klasik Indonesia. Beberapa buku bertema sejarah terkenal adalah Badai Laut Selatan, yang terdiri atas puluhan jilid, akan tetapi yang paling populer adalah Darah Mengalir di Borobudur. Serial ini bahkan pernah disandiwararadiokan.

Tercatat, Kho Ping Hoo sudah menulis lebih dari 200 judul cerita silat, dan setiap judul terdiri atas puluhan seri. Beberapa karya Kho Ping Hoo yang terkenal antara lain, Patung Dewi Kwan Im (1960. Jakarta: Analisa), Pendekar Bodoh (1961, Tasikmalaya: Gema), Darah Mengalir di Borobudur (1961. Jakarta: Analisa) dan Badai Laut Selatan (1969. Solo: Gema).

Tak hanya itu, ia juga menggarap cerita dari dua sumber utama, yakni Cina dan Jawa. Diketahui, serial silat terpanjangnya adalah Kisah Keluarga Pulau Es (17 judul cerita, mulai "Bu Kek Siansu" sampai dengan "Pusaka Pulau Es").


Simak berbagai video menarik di sini:


Iwan Simatupang dan Angin Baru Kesusastraan Indonesia

Koropak.co.id, 09 May 2022 15:26:00

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Iwan Simatupang merupakan sastrawan tahun 1960-an yang menulis karya-karya bersifat inkonvensional. Dengan karya-karyanya itu ia dinilai pembawa angin baru dalam kesusastraan Indonesia.

Pria kelahiran Sibolga, Sumatera Utara, 18 Januari 1928, bernama lengkap Iwan Martua Dongan Simatupang. Ia merupakan anak yang cerdas dan dibesarkan dalam keluarga Islam. Ayahnya merupakan seorang haji yang mengajari Iwan membaca Al-Qur'an.

Sebagian masa kecil Iwan dilalui di Aceh. Pada masa remaja, ia tinggal di Sibolga. Ia sempat sekolah di Padang Sidempuan. Namun, pada 1948, Iwan berhenti dari sekolah dan masuk dalam pasukan yang ikut berperang melawan Belanda. 

Kala itu, dia menjadi komandan pasukan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP), memimpin organisasi Pemuda Indonesia di Sumatera Utara. Namun pada 1949 ia ditangkap dan kemudian dibebaskan di Medan.

Kesempatan setelah bebas dimanfaatkannya untuk menyelesaikan studinya di HBS bagian B sebagai extraneus. Setelah tamat dari HBS, ia melanjutkan Pendidikan ke Fakultas Kedokteran di Surabaya, 1953.

Iwan juga turut mempelajari berbagai ilmu lainnya, seperti filsafat, antropologi, sastra, dan agama. Di dalam memasalahkan agama, Iwan diketahui selalu terlibat dalam perdebatan sengit bersama dengan teman-temannya.

Sayangnya, Iwan tidak dapat menyelesaikan studinya di Fakultas Kedokteran, karena tidak tahan melihat darah dan memotong-motong mayat. Ia kemudian pindah ke Jakarta. Di sinilah ia mulai banyak membaca masalah-masalah kebudayaan. 

Lantas ia aktif menulis di antaranya di Mimbar Indonesia dan Siasat. Pada 1954, Iwan Simatupang memperoleh beasiswa ke Eropa untuk memperdalam pengetahuannya tentang kebudayaan. Ia memperdalam antropologi di Leiden (1956), drama di Amsterdam (1957), dan filsafat di Paris (1958).



Baca: Ketika Ismail Marahimin Berkarya dan Perang Berakhir


Pada November 1955, Iwan berkenalan dengan Corinne Imalda de Gaine (Corry), dan pada 2 Desember 1955 mereka menikah di Amsterdam. Iwan lantas memilih agama Katolik sebagai agamanya sampai akhir hayatnya.

Dari pernikahannya itu Iwan mepunyai dua orang anak, yaitu Ino Alda dan Ion Partibi. Setelah menyelesaikan studinya di Paris, akhir 1958-an Iwan Simatupang bersama istri dan anak-anaknya kembali ke Indonesia.

Pada 1960, Corry meninggal dunia akibat menderita penyakit tipus. Kematian Corry itu sangat memukul jiwanya. Kenangan atas kematian istrinya jugalah yang mendorong Iwan menulis novel Ziarah pada 1960, dan baru terbit sembilan tahun kemudian. 

Pada 1961 Iwan menulis naskah novel Merahnya Merah dan baru diterbitkan tahun 1968 oleh Penerbit Djambatan. Selanjutnya, 10 Juni 1961 Iwan menikah lagi dengan Dra. Tanneke Burki, hinggal mempunyai anak perempuan bernama Violeta. 

Namun, umur pernikahan mereka tidak panjang. Mereka bercerai pada 1964. Selain bekerja sebagai dosen pada beberapa perguruan tinggi, Iwan juga bekerja pada sebuah perusahaan mobil dan di media massa sebagai wartawan. 

Tempat tinggalnya tidak tetap. Dengan dua orang anaknya, ia bahkan pernah menyewa satu kamar Hotel Salak di Bogor. Pada waktu itu, ia sering diundang untuk berceramah di berbagai forum. Dikarenakan kegiatan fisiknya yang terlalu banyak, Iwan menderita penyakit lever dan meninggal dunia pada 4 Agustus 1970 di Jakarta.

Selama hidupnya, ia berhasil menerbitkan empat novel, yaitu Merahnya Merah (1968), Ziarah (1969), Kering (1969), dan Koong (1975). Ia mendapat penghargaan Hadiah Sastra Asia (SEA Write Award) dari Thailand atas karya novelnya Ziarah pada tahun 1977. 

Untuk novel Merahnya Merah (1968) berhasil mendapat hadiah sastra Nasional 1970 dan novelnya Kooong (1975) mendapat hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P dan K, 1975. 

Dua novelnya Ziarah (The Pilgrim, 1975) dan Kering (Drought,1978) diterjemahkan Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris. Sementara untuk cerpen-cerpennya, dikumpulkan dalam Tegak Lurus dengan Langit (1982), sedangkan puisi-puisinya dalam Ziarah Malam (1993).


Simak berbagai video menarik di sini:


Mengenang Wafatnya Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia

Koropak.co.id, 26 April 2022 15:09:51

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Hari ini, 26 April 1959 silam merupakan hari wafatnya Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, Ki Hajar Dewantara (KHD). 

Memiliki nama lengkap Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, pria yang kerap dipanggil Soewardi itu lahir di Pakualaman, 2 Mei 1889 dan meninggal dunia di Yogyakarta pada 26 April 1959 di usia 69 tahun. 

Dilansir dari berbagai sumber, Soewardi merupakan aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. 

Tak hanya itu saja, dia juga merupakan pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan layaknya seperti para priyayi maupun orang-orang Belanda. 

Seiring berjalannya waktu, tanggal kelahirannya pun kini diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional di Indonesia. Bahkan, bagian dari semboyan ciptaannya, yakni tut wuri handayani pun menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia. 



Baca : Ketika Ismail Marahimin Berkarya dan Perang Berakhir


Selain itu, namanya juga turut diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Kemudian, potret dirinya pun diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah edisi tahun 1998. 

Sementara itu, Soewardi pun dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang ke-2 oleh Presiden RI, Ir Soekarno pada 28 November 1959 berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959.

Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, dia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Terhitung, sejak berdirinya Boedi Oetomo (BO) tahun 1908, ia pun aktif di seksi propaganda bagi menyosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama Jawa) pada waktu itu mengenai betapa pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. 

Kongres pertama BO tersebut dilaksanakan di Yogyakarta yang juga diorganisasi olehnya.  Soewardi muda juga kala itu turut menjadi anggota organisasi Insulinde, suatu organisasi multietnik yang didominasi kaum Indo yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda, atas pengaruh Ernest Douwes Dekker (DD). Bahkan Soewardi turut ikut serta membangun Indische Partij bersama DD.*


Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini


Ketika Ismail Marahimin Berkarya dan Perang Berakhir

Koropak.co.id, 25 April 2022 15:10:07

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Ismail Marahimin merupakan seorang sastrawan kelahiran Medan, 25 April 1934 dan meninggal dunia pada 26 Desember 2008. 

Diketahui, untuk latar belakang pendidikan yang ditempuhnya yakni Sekolah Dasar (SD) di Medan, Pekanbaru, dan Binjei. Kemudian selanjutnya di SMP, SGA, PGSLP, dan IKIP di Medan dengan mengambil Jurusan Sastra Inggris (1964). 

Ismail Marahimin memiliki seorang istri bernama Hiang Marahimin dan tercatat pernah menjadi seorang wartawati senior majalah Femina. 

Dilansir dari berbagai sumber, pada tahun 1969-1971, ia memperdalam studi di University of Hawaii. Selain itu, dia juga pernah bekerja sebagai dosen IKIP Medan, kemudian pindah ke Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jakarta. 

Sebenarnya, pekerjaan sebagai pendidik tersebut sudah dimulainya ketika dirinya masih duduk di bangku perkuliahan di IKIP Medan, yaitu sebagai guru SMP. 

Di samping itu, ia juga pernah bekerja sebagai editor majalah pariwisata Indonesia Your Destination dan pernah aktif menulis berbagai artikel dalam harian Kompas dan majalah Tempo serta pernah juga bekerja pada majalah Eksekutif. 

Sebagai seorang sastrawan, nama Ismail Marahimin sendiri baru dikenal luas pada tahun 1977-an ketika Dewan Kesenian Jakarta mengumumkan karyanya, 'Dan Perang pun Usai' sebagai pemenang Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta. 

Menurut pengarangnya, novel tersebut sengaja ditulis untuk mengikuti sayembara tersebut. Novel Dan Perang pun Usai itu juga menjadi satu-satunya novel yang ditulisnya seperti dalam pernyataannya "Saya bukan orang yang tekun di bidang ini. Saya baru menulis kalau kebetulan lagi masa paceklik," kata Ismail Marahimin.

Novel Dan Perang pun Usai tersebut diterbitkan oleh Pustaka Jaya pada tahun 1979 dan beredar di pasaran tahun 1980. Selain itu, novel Dan Perang pun Usai juga turut berhasil meraih Hadiah Sastra Pegasus, hadiah sastra yang diberikan oleh Mobil Oil Corporation. 



Baca : Elisha Orcarus Allasso, Sinden Cantik dengan Sejuta Talenta


Penulisnya mendapatkan hadiah yang bersifat internasional berupa medali emas bergambarkan kuda terbang (Pegasus), uang 2.000 dollar AS, dan undangan untuk mengunjungi Amerika Serikat dalam rangka mempromosikan novelnya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. 

Tak hanya itu saja, novel Dan Perang pun Usai tersebut juga turut diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul And the War is Over oleh John H. Mc Glynn, lalu kemudian diterbitkan oleh Lousiana State University Press tahun 1986. 

Kehadiran Ismail Marahimin sebagai novelis cukup menarik perhatian kritikus sastra, antara lain Sapardi Djoko Damono yang mengatakan bahwa ketika Ismail Marahimin dinyatakan sebagai pemenang sayembara, usianya tidak kurang dari 43 tahun. 

Hal ini tentunya suatu pengecualian, sebab pada umumnya para penulis novel mulai menerbitkan buku pada usia yang masih sangat muda. 

Misalnya saja Novel pertama Merari Siregar yang terbit sebelum usianya mencapai 25 tahun. Kemudian novel pertama Ajip Rosidi yang terbit sebelum usianya 20 tahun, dan novel pertama Pramoedya Ananta Toer yang terbit ketika ia berusia 23 tahun. 

Munculnya novel Ismail Marahimin ketika usia penulisnya telah berusia 43 tahun ini pun membuktikan bahwa dalam dunia sastra orang tidak pernah terlambat untuk memulai sesuatu (Tempo, Tahun IX, Januari 1980). 

Sementara itu, Nugroho Notosusanto (Berita Mobil, 1984) mengungkapkan bahwa pada masa penjajahan Jepang di Indonesia, telah meninggalkan pengalaman yang tragis. Namun, para jurnalis dan sejarawan telah menerangkan dan menganalisis masa itu atau beberapa segi dari masa itu dengan pendekatan makro.

Sedangkan Ismail Marahimin dengan novelnya tersebut telah berhasil menyentuh kehidupan rakyat kecil di sekitarnya, sehingga menggambarkan kehidupan manusia yang sesungguhnya.*


Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini



Elisha Orcarus Allasso, Sinden Cantik dengan Sejuta Talenta

Koropak.co.id, 23 April 2022 19:23:10

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Namanya Elisha Orcarus Allasso atau biasa dipanggil Elisha. Ia merupakan seorang sinden yang berkiprah di dunia pertunjukan wayang kulit. 

Diketahui, Elisha kerap tampil dalam berbagai pertunjukan wayang Ki Seno Nugroho. Selain parasnya yang cantik, sebagai sinden, Elisha pintar dalam mencuri perhatian penonton dikarenakan talentanya yang luar biasa. 

Tak hanya pintar, Elisha juga memiliki suara khas seorang sinden Jawa yang bagus dan bernada tinggi. 

Elisha Orcarus Allasso, berasal dari daerah Lambelu, Sulawesi Tengah (Sulteng). Ibunya berdarah Minang dan Venezuela, sedangkan sang ayah berdarah Sulawesi dan Perancis. 

Kecintaanya pada dunia seni dan ketertarikanya pada wayang kulit, mengantarkan Elisha untuk mengambil kuliah di jurusan Pedalangan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Disana, ia mempelajari ilmu pedalangan dan pewayangan. Setelah lulus dari S1 jurusan Pedalangan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Elisha memutuskan untuk melanjutkan pendidikanya dengan mengambil S2 jurusan Psikologi di Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Sehingga, tercatat saat ini Elisha memiliki gelar Sarjana Seni (S.Sn) dan Magister Psikologi (M.Psi). Tak berhenti disana saja, Elisha juga melanjutkan studinya ke jenjang Doktor dengan mengambil S3 Kajian Seni Masyarakat.



Baca : Mengenal Suhu Dalang Jawa, Ki Manteb Sudarsono


Selain menjadi seorang sinden, ternyata Elisha juga pandai mendalang. Hal itu ditunjukannya dalam sebuah pementasan wayang yang digelar di 'Yabbiekayu Restaurant' yang berada di Jalan Parangtritis Nomor 8, Sewon, Bantul, Yogyakarta pada 27 September 2019 lalu dengan membawakan lakon 'Abimanyu Karma'.

Selain menyinden dan pandai mendalang, Elisha juga sangat cinta dan peduli terhadap anak-anak. Hal tersebut dapat terlihat dari channel YouTube-nya 'Elisha Orcarus'.

"Hai aku ini seorang Sinden bernama Elisha Orcarus yang berkiprah di dunia pertunjukan wayang kulit. Sinden itu penyanyi dalam karawitan jadi pasti dong aku suka nyanyi," kata Elisha.

Terbaru, Elisha Ocarus Allasso terlibat dalam iklan terbaru produk Tolak Linu dari PT. Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk yang mengusung konsep pewayangan sebagai tema utama pada media promosinya.

Elisha pun mengaku senang bisa terlibat dalam pembuatan iklan terbaru produk Tolak Linu. Pasalnya, ia juga memiliki misi yang sama dengan Sido Muncul, yakni ingin mempopulerkan wayang kepada generasi muda. 

"Kami memiliki frekuensi yang sama tentang budaya. Selain itu kami juga berpikir, jika dikemas dengan cara berbeda dan lebih entertaining, maka wayang klasik sekali pun akan bisa diterima oleh teman-teman generasi muda," ungkap Elisha.* 


Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini


Gus Tf. Sakai, Sastrawan yang Sudah Aktif Menulis Sejak Kecil

Koropak.co.id, 18 April 2022 15:43:26

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Gus Tf. Sakai merupakan sastrawan kelahiran 13 Agustus 1965 di Payakumbuh, Sumatera Barat. Diketahui, ia mengenyam pendidikan terakhirnya sebagai Sarjana Peternakan, Universitas Andalas tahun 1994. 

Dilansir dari berbagai sumber Gus Tf mulai aktif menulis sejak dirinya masih duduk di bangku SD atau tepatnya pada usia 12 tahun. Sajak pertamanya pun kala itu berhasil dimuat di majalah Hai. 

Selain itu, karyanya baik berupa puisi maupun cerpen kala itu juga banyak dimuat di berbagai media massa seperti Kompas, Republika, atau Media Indonesia hingga majalah Horison yang sering memuat puisi dan cerpennya. 

Gus Tf juga merupakan seorang penyair paling muda yang karyanya dimuat dalam buku Ketika Kata Ketika Warna (In Words In Colour) yang diterbitkan oleh Yayasan Ananda dalam rangka memperingati hari ulang tahun emas kemerdekaan Indonesia di dalam buku Karya 50 Penyair Indonesia dan Dari Hamzah Fansuri sampai ke Handayani. 

Sementara itu, untuk puisinya yang telah dipublikasikan juga tercatat lebih dari 150 buah yang ditulis sejak tahun 1980 sampai dengan sekarang. 

Ratusan cerpennya juga turut tersebar di berbagai media massa baik daerah maupun nasional. Empat kali juga cerpennya berhasil terpilih sebagai salah satu cerpen pilihan Kompas yang diterbitkan oleh Grasindo. 



Baca : Kisah Kartini yang Diyakini Sudah Mengenal Islam Sejak Kecil


Sejak tahun 1995, Gus Tf dikontrak oleh Grasindo. Tak hanya ity saja. Gus Tf juga sangat mencintai kampung halamannya, sehingga ia tidak bersedia meninggalkan Payakumbuh. Sehingga ia pun menolak berbagai tawaran untuk bekerja dan berkarya di luar tanah kelahirannya.

Bahkan ia juga beranggapan "menyerang dari dalam" adalah langkah terbaik apabila dibandingkan dengan keluar dari Payakumbuh. Sebagai sastrawan daerah, ia juga akan terus berkarya di daerah, namun tetap setia menyorot dan mengkritik perkembangan sastra di Indonesia. 

Tercatat, ia pernah menjadi pemenang pertama Sayembara Penulisan Puisi Direktorat Kesenian Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI tahun 1990, pemenang pertama Sayembara Penulisan Esai Pekan Budaya Minangkabau tahun 1993, Penghargaan dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional tahun 1993, Penghargaan dari Yayasan Lontar tahun 2001, Penghargaan dari Pusat Bahasa tahun 2002, dan Penghargaan dari Universitas Andalas tahun 2002. 

Sementara untuk karya yang sudah diterbitkan, diantaranya Segi Empat Patah Sisi (novel, 1990), Segitiga Lepas Kaki (novel, 1991), Ben (novel, 1991), Istana Ketirisan (kumpulan cerpen, 1996), Tiga Cinta, Ibu (novel, 2002), Sangkar Daging (kumpulan puisi, 1997) dan Tambo (kumpulan artikel budaya).

Kemudian ada juga Pembisik (kumpulan cerpen terpilih Republika), Dua Tengkorak Kepala (kumpulan cerpen terbaik Kompas), Gonjong I (antologi puisi, 1999), Antologi Puisi 1999 Sumatera Barat (1999), Sahayun (1994), Gonjong 2 (2001), Sebelas Kumpulan Cerpen Terbaik dari Sumatera Barat (2002), Akar Berpilin (2009, kumpulan sajak), dan Kaki yang Terhormat (2012, kumpulan cerpen.*


Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini