Menentang Keraton Sumedang Larang

Koropak.co.id, 18 January 2022 15:37:32
Penulis : Admin


Koropak.co.id - Nama Sumedang Larang sudah terpatri kuat jauh sebelum Republik Indonesia berdiri. Nama bukan sembarang nama. Di baliknya ada kebesaran wilayah,adab dan kewibawaan para pemimpinnya. Dari semula Tembong Agung yang didirikan Prabu Guru Aji Putih, kemudian diubah menjadi Kerajaan Sumedang Larang saat estafet kepemimpinan dipegang Batara Tuntang Buana atau Prabu Tajimalela yang tak lain putra Prabu Guru Aji Putih.

Sebelum mendirikan Kerajaan Sumedang Larang, Prabu Tajimalela berkelana mencari tempat sepi untuk mempelajari elmu kasumedangan. Ada banyak tempat yang didatangi. Hingga ia sampai di Gunung Mandala Sakti dan memperdalam ilmu di sana. Saking hebatnya ilmu Batara Tuntang Buana, gunung yang terbelah disatukan lagi atau disimpaykeun, sehingga namanya dikenal Gunung Simpay.

Setelah turun gurun, Batara Tuntang Buana mendirikan kerajaan Sumedang Larang. Secara etimologis, Su berarti bagus, medang sama dengan luas, dan larang jarang bandingannya. Sumedang Larang berarti tanah luas bagus yang jarang tandingannya. Adapun menurut legenda masyarakat, Sumedang berasal dari rangkaian ingsun medal, ingsun madangan. Artinya kaula Lahir( bijil )kaula nyaangan, atau aku lahir aku memberi penerangan.

Kerajaan Sumedang Larang semakin berkibar di saat kepemimpinan Raden Angkawijaya atau Prabu Geusan Ulun. Saat Kerajaan Sunda Padjadjaran runtuh, Prabu Geusan Ulun memproklamirkan Kerajaan Sumedang Larang merupakan penerus dari Kerajaan Sunda Padjadjaran. Iapun menyatakan diri sebagai penguasanya, dan membawahi 44 penguasa daerah yang terdiri dari 26 kandaga lante atau kepala wilayah dan 18 umbul.



Baca : Pancang Juang Rukun Wargi Sumedang; Maju Hayu, Teu Luas Mundur


Namun, sejarah kebesaran Kerajaan Sumedang Larang itu kini seakan dibiaskan dan tengah dikerdilkan dengan kemunculan Keraton Sumedang Larang. Rukun Wargi Sumedang (RWS), organisasi resmi yang menaungi para trah Pangeran Sumedang, menetang Keraton Sumedang Larang. 

Penentangan itu disampaikan seusai pelantikan Majelis Luhur dan Pengurus Rukun Wargi Sumedang Puseur, di Gunung Manglayang, akhir Oktober 2021.

Para keturunan sah Sumedang yang tergabung dalam Rukun Wargi Sumedang menilai, keberadaan Keraton Sumedang Larang sangat meresahkan. Selain bisa membelokkan sejarah, juga bakal menghancurkan tatanan yang sudah dibangun sejak ratusan tahun.

Untuk itu, mereka tidak tinggal diam. Berbagai upaya dilakukan untuk mengembalikan nama baik Kerajaan Sumedang Larang. Apalagi, beberapa pengurus Keraton Sumedang Larang disinyalir oknum orang orangnya melakukan pelanggaran fatal dalam menjalankan ketentuan hukum positif yang diwariskan oleh para leluhur dalam bahasa norma yaitu AMANAH.

Ketua Umum Rukun Wargi Sumedang Pusat, Rd Dani R. Soeriakoesoemah, membeberkan alasan kenapa ia dan rekan-rekannya menentang Keraton Sumedang Larang.

Dani menegaskan, pembentukan Keraton Sumedang Larang adalah kesalahan yang harus segera diluruskan. Jika dibiarkan, itu bisa menjadi dosa yang turun-temurun, karena orang-orang yang tahu dan paham sejarahnya diam saja.

Ia mengaku sudah berkirim surat kepada bupati Sumedang, namun tidak mendapatkan respons seperti yang diharapkan. Rukun Wargi Sumedang dan masyarakat yang peduli terhadap sejarah dan jati diri bangsa akan terus berjuang sampai yang salah menjadi benar.



Baca juga : 54 Raja-Sultan Nusantara Akan Berkumpul di Sumedang


Komentar

Koropak Culture: Langkah Sederhana Merajut Peradaban Nusantara

Koropak.co.id, 15 April 2022 15:40:11

Admin


Koropak.co.id - Narasi tentang kebesaran Nusantara di masa lalu telah diulas banyak kalangan. Terdapat beragam kajian yang bermuara pada betapa bangsa ini telah membangun peradaban yang mengagumkan.

Dalam laman Kamus Besar Bahasa Indonesia Kemendikbud, peradaban diartikan sebagai kemajuan lahir batin atau hal yang menyangkut sopan santun, budi bahasa, dan kebudayaan suatu bangsa. Sedangkan Nusantara adalah sebutan atau nama bagi seluruh wilayah Kepulauan Indonesia.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia punya potensi besar untuk menjadi negara mandiri dan diperhitungkan dunia. Kita punya sekitar 17.508 pulau yang dihuni lebih dari 360 suku bangsa. 

Bukan hanya sumber daya alam yang melimpah, kita juga kaya dengan keragaman budaya. Dari Sabang sampai Merauke ada beragam budaya yang sarat dengan makna dan falsafah hidup. 

Ada sekitar 1.239 warisan takbenda yang dimiliki Indonesia. Budaya-budaya takbenda itu meliputi adat istiadat, tradisi lisan, kerajinan, perayaan, pengetahuan alam, hingga seni pertunjukan.

Sejatinya, semua itu menjadi spirit untuk membangun Indonesia saat ini dan nanti sebagai bangsa kuat yang tidak mudah didikte negara lain. Terlebih, jumlah penduduk Indonesia masuk lima besar terbanyak di dunia. 

Pada 31 Desember 2021, jumlah penduduk Indonesia tercatat lebih dari 273 juta jiwa. Mayoritasnya beragama Islam. Kendati begitu, kerukunan umat beragama di Indonesia tetap terjaga baik. Adapun munculnya riak-riak perselisihan yang disebabkan perbedaan, itu bakal menjadi bekal perjalanan menuju ke kedewasaan.

Sejatinya, jejak-jejak perjalanan panjang itu menjadi pijakan dalam menapaki masa depan Indonesia yang lebih baik. Ada banyak peninggalan yang menjadi bukti betapa Nusantara tidak bisa dipandang sebelah mata.

Salah satu contohnya adalah lukisan dinding gua di kawasan karst Maros, Sulawesi Selatan. Lukisan sepanjang 4,5 meter itu diperkirakan sudah berusia 44 ribu tahun dan merupakan lukisan bercerita tertua yang ada di dunia.

Bukan hanya di Sulawesi, lukisan yang berusia puluhan ribu tahun juga ditemukan di Kalimantan. Lukisan yang terlihat seperti gambar sapi itu diperkirakan berusia sekitar 40 ribu tahun.



Baca : Hikayat Pencak Silat Sudah Ada Sejak Abad VIII


Mengagumkan. Lukisan yang mengisahkan tentang perburuan babi, kerbau, dan sapi itu menjadi bukti bahwa manusia purba di bumi Nusantara sudah memiliki kecerdasan mengekspresikan bahasa verbal seputar aktivitas sehari-hari.

Ada satu lagi bukti betapa hebatnya nenek moyang kita dalam membangun peradaban, yakni situs Gunung Padang. Situs merupakan lokasi yang berada di darat atau di air yang mengandung benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, atau struktur cagar budaya sebagai bukti hasil kegiatan atau kejadian pada masa lalu.

Situs Gunung Padang yang berada di daerah Cianjur, Jawa Barat, ini diperkirakan pertama kali dibangun pada 8000 Sebelum Masehi. Usianya lebih tua dibanding Piramida di Mesir. Sejak 2014, situs tersebut sudah ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya berperingkat nasional. 

Beberapa bukti mengagumkan itu sejatinya menjadi kebanggaan dan membuat kita lebih percaya diri dalam membangun peradaban yang lebih baik. Apalagi, saat ini sudah ditunjang oleh beragam kemajuan teknologi.

Namun, perkembangan teknologi informasi jangan sampai membuat kita menjadi manusia-manusia terasing. Semangat kebersamaan, saling menghargai dan tolong menolong yang sudah lama mengakar jangan sampai tercerabut.

Para pendahulu telah mengajarkan bagaimana seharusnya menjalani hidup. Pesan-pesan kebaikan dikemas melalui berbagai macam cara yang di antaranya tertuang dalam naskah dan prasasti.

Bicara tentang naskah, pada 2013 tercatat ada 10.613 naskah Nusantara yang disimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Diperkirakan, bangsa Indonesia sudah mengenal aksara pada abad ke-4. Itu dibuktikan dengan ditemukannya Prasasti Yupa beraksara Pallawa milik Kerajaan Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur.

Banyaknya naskah dan prasasti itu, termasuk situs dan berbagai peninggalan lainnya, merupakan salah satu bukti bahwa Indonesia memiliki jejak peradaban yang panjang. Koropak Culture hadir untuk menyajikan beragam kebaikan di masa lalu serta harapan pada masa kini dan nanti. 

Ikhtiar ini merupakan langkah sederhana kami dalam Merajut Peradaban Nusantara yang diharapkan menjadi penguat jati diri, sekaligus tameng untuk menangkal upaya yang merusak kepribadian bangsa.


Baca juga : Mengungkap Jejak Pemukiman Orang Asing di Nusantara



Kelatnas Perisai Diri, Mengukir Prestasi Mengasah Pekerti

Koropak.co.id, 19 March 2022 14:30:17

Admin


Koropak.co.id - Pakde. Begitulah Keluarga Silat Nasional (Kelatnas) Perisai Diri memanggilnya. Akrab juga disapa Pak Dirdjo. Nama lengkapnya adalah Raden Mas Soebandiman Dirdjoatmodjo. Pria asal Yogyakarta yang lahir pada 8 Januari 1913 itu merupakan pendiri dan guru besar Perisai Diri.    

Setelah mengembara ke banyak tempat untuk belajar bela diri, pada 1936 Pak Dirdjo mendirikan perguruan silat yang bernama Eka Kalbu. Kendati sudah punya perguruan, ia tidak lantas berhenti belajar ilmu bela diri.

Dalam perjalanannya, ia bertemu Yap Kie San yang merupakan seorang pendekar Tionghoa beraliran Shaolinshi. Pak Dirdjo berguru padanya selama 14 tahun. Setelah merasa yakin, dengan bekal ilmunya ia mendirikan Perisai Diri pada 2 Juli 1955.

Perlahan namun pasti, Perisai Diri semakin berkembang. Bukan hanya di Jawa Timur, tapi juga menyebar ke daerah-daerah lain di Indonesia. Kendati Pak Dirdjo sudah meninggal dunia, tepatnya 9 Mei 1983, Perisai Diri tidak berhenti bergerak. Murid-murid Pak Dirdjo tetap semangat menyebarluaskan Perisai Diri ke berbagai daerah.

Penyebaran Perisai Diri di berbagai daerah pintu masuknya berbeda-beda. Di Tasikmalaya, misalnya. Di salah satu daerah di Jawa Barat ini, Perisai Diri awal mulanya ditampilkan dalam acara samen atau kenaikan kelas sekolah dasar. 



Baca : Hikayat Pencak Silat, Sudah Ada Sejak Abad VIII


Setelah tampil dalam acara itu, masyarakat mulai banyak yang suka dan ingin ikut latihan Perisai Diri. Ibarat gelinding bola salju, dari waktu ke waktu Perisai Diri di Tasikmalaya semakin besar. Masyarakat banyak yang minat bergabung.

Terlebih, sejak tahun 1990-an, Perisai Diri mulai masuk ke sekolah-sekolah di Tasikmalaya. Membentuk ranting-ranting. Bukan hanya untuk belajar bela diri, tapi juga mengembangkan prestasi para siswa.

Selain mendalami ilmu bela diri untuk prestasi, di Keluarga Silat Nasional Perisai Diri juga mengasah budi pekerti. Kendati sudah punya ilmu bela diri, para anggota dilarang keras untuk sombong. 

Ada lima janji Keluarga Silat Nasional Perisai Diri, satu di antaranya adalah memupuk rasa kasih sayang. Janji itu harus mengkristal dalam diri, sehingga budi pekerti tetap terjaga. Akhlak yang baik tetap harus dinomorsatukan. Tidak mentang-mentang jago silat, lalu seenaknya zalim pada orang lain.

Kendati begitu, tidak lantas anggota Kelatnas Perisai Diri mudah mengalah atau menyerah saat dizalimi orang lain. Sesuai motto Perisai Diri, Pandai Silat Tanpa Cedera, menjaga dan mempertahankan harga diri tetap diutamakan.

Hingga saat ini, Perisai Diri telah menyebar di banyak tempat. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga punya komisariat di negara lain, seperti Amerika Serikat, Jerman, Inggris, Australia, Belanda, Singapura, Jepang, dan Swiss.



Baca juga : Virtual Pencak Silat Nusantara,10 Medali Buat Kelatnas Perisai Diri Kota Tasikmalaya


Mengulas Jejak Pemukiman Orang Asing di Nusantara

Koropak.co.id, 20 February 2022 13:10:29

Admin


Koropak.co.id - Sejak berabad-abad lamanya, tanah Jawa tidak hanya dihuni oleh penduduk asli, tapi juga turut ditempati para pendatang dari luar. Mereka membentuk kelompok masyarakat hingga terbentuk bermacam komunitas etnis.

Olivier Johannes Raap dalam bukunya "Kota Di Djawa Tempo Doeloe" menuliskan, pada umumnya para pendatang menjajal peruntungan dengan berdagang atau bekerja. Anggota keluarga hingga teman dari tempat asal mereka yang sudah terlebih dahulu bermukim kerap dijadikan sebagai batu loncatan. Itu menyebabkan adanya bidang usaha atau pekerjaan tertentu yang didominasi satu etnis.

Semua pemukiman etnis itu memiliki sejarah dan orientasi tersendiri yang berkaitan dengan keadaan politik dan ekonomi pada zamannya. Di masa VOC sekitar abad ke-17 hingga 18, banyak kampung pendatang dari luar Jawa.

VOC memanfaatkan hal itu dengan melakukan perekrutan pasukan bersenjata dimana-mana mulai dari Bugis, Ambon, Bali, Melayu dan lainnya. Selain di Batavia, mereka juga turut mendirikan pemukiman yang dijadikan sebagai kampung militer sebagai zona pertahanan tambahan.

Seperti di Surabaya dan Semarang, Kampung Melayu saat itu didirikan dekat dengan Pelabuhan. Oleh karena itulah kampung tersebut lebih dikenal dengan julukannya sebagai Kampung Pelaut dan Pedagang.

Sejak abad ke-19 dalam undang-undang administratif kolonial Hindia Belanda, sebagian masyarakat diklasifikasikan sebagai "Orang Timur Asing". Contohnya seperti pecinan yang masuk dalam kampung etnis Timur Asing.

Selain orang Tionghoa, di Nusantara juga terdapat imigran dari Arab, India, Jepang dan negara Asia lainnya. Tercatat, beberapa koloni Arab itu juga tersebar di berbagai kota di Jawa. Mulai dari tahun 1870 pada saat Terusan Suez dibuka, banyak kapal dari Eropa ke Timur melalui Semenanjung Arab bermigrasi dengan skala besar. Di Nusantara, mereka pun menikah dengan wanita pribumi dan menetap di perkampungan Arab.



Baca : Mengungkap Jejak Pemukiman Orang Asing di Nusantara


Selain itu, terdapat juga kelompok warga Asia lainnya, yaitu orang Armenia yang berdekatan dengan orang Eropa dari sisi kebudayaan dan etnis. Dalam undang-undang kolonial, mereka dianggap sebagai Orang Eropa.

Dalam persepsi orang pribumi, mereka mengatakan bahwa semua orang berkulit putih disebut dengan londo. Akan tetapi, selain orang Belanda, ternyata di Hindia Belanda juga banyak pendatang dari Eropa Asing dan yang paling besar adalah orang Jerman.

Kemudian diikuti oleh orang Inggris, Austria, Belgia, Swiss, Italia, Perancis, Denmark dan Rusia. Mereka tidak tinggal berkelompok, tapi membaur di lingkungan Eropa bersama dengan orang Belanda.

Terkait kedatangan orang Tionghoa ke tanah Jawa, terutama pada masa VOC, tidak sedikit orang Tionghoa yang menjadi kuli. Selain berdagang, banyak di antara mereka yang menjadi tukang atau bertani. Secara keseluruhan, jumlah mereka terbilang banyak. 

Hal itu membuat kompeni khawatir, sehingga dibuatlah aturan yang dikhususkan bagi pendatang dari Tionghoa. Mereka yang sudah tinggal sepuluh tahun tapi belum memiliki izin tetap akan dideportasi ke negara asalnya.

Aturan lain yang dibuat VOC adalah orang Cina dilarang menjual barang-barang Eropa atau Amerika secara langsung. Mereka hanya diperbolehkan menjadi calo. Jadi perantara antara pedagang Eropa dengan pribumi. 

Namun, seiring berjalannya waktu, keadaan perlahan berubah. Orang-orang Cina mulai menguasai sektor perdagangan. Hal itu membuat waswas kolonial Belanda, sehingga muncul sentimen antiCina dan membuat gerakan memecah belah etnis-etnis yang ada di Nusantara.

Salah satu gerakan yang paling kentara adalah membagi masyarakat ke dalam tiga kelompok rasial, yakni Eropa, Timur Asing, dan pribumi. Cina dan Arab dikategorikan sebagai masyarakat dari Timur Asing.



Baca juga : Tiba di Nusantara, VOC Dirikan Pemukiman Eropa Hingga Balai Kota


Cerita Presiden Indonesia yang Tak Tembus Ditembak

Koropak.co.id, 19 February 2022 17:03:33

Admin

 

Koropak.co.id - Urusan pergaiban di Indonesia sudah berlangsung sejak lama. Bisa dibilang menjadi bagian dari perjalanan bangsa. Hampir segala urusan kerap dikaitkan dengan hal mistik. Nyaris semua persoalan selalu dihubung-hubungkan dengan dunia gaib. Bukan hanya soal asmara atau usaha, perihal jabatan dan kekuasaanpun tak lepas dari dunia supranatural.

Tak heran, banyak pihak yang menduga kalau tongkat komando yang selalu dibawa Presiden Soekarno memiliki kekuatan gaib. Bahkan, Presiden Kuba, Fidel Castro, sempat melontarkan keheranannya kepada Bung Karno terkait tongkat tersebut. 

Dengan nada bercanda, Castro bertanya apakah tongkat itu memiliki kesaktian seperti yang punya kepala Suku Indian? Bung Karno tertawa mendengar pertanyaan itu. Dalam beberapa kesempatan, Bung Karno menegaskan, tongkatnya tidak memiliki kesaktian apapun.

Presiden pertama Indonesia itu memang lekat dengan tongkat komandonya. Hampir di setiap kesempatan selalu dibawa. Bukan hanya di dalam negeri, saat bertugas ke luar negeri pun sama. Saat ditanya wartawan perihal tongkat berukuran sekitar 45 centimeter itu, Bung Karno mengaku itu hanya bagian dari penampilan. 

Namun, tidak sedikit orang yang menduga kalau Bung Karno punya kekuatan supranatural. Hal itu muncul setelah ia selamat dari beberapa kali upaya pembunuhan. Kolonel (Purn) H.W. Sriyono, seperti diberitakan cnnindonesia, menceritakan tentang upaya-upaya pembunuhan Sang Proklamator.

Mantan ajudan Bung Karno itu mengisahkan pelemparan granat di Sekolah Dasar Cikini. Kala itu Bung Karno sedang mengunjungi sekolah tempat Megawati, anaknya, menimba ilmu. Kendati Bung Karno selamat malah sedikitpun tidak terluka, granat yang meledak itu melukai anak-anak, bahkan ada korban meninggal dunia.



Baca : Sejarah Hari Ini; Peringatan Surat Perintah 11 Maret Supersemar


Upaya pembunuhan lainnya adalah saat Bung Karno salat Idul Adha pada 14 Mei 1962. Ia ditembak dari jarak dekat oleh orang yang ada di bagian belakang. Kendati peluru melesat dari jarak sekitar enam meter, Bung Karno selamat.

Kendati upaya pembunuhan itu dilakukan penembak jitu alias sniper, tembakannya meleset. Sanusi, penembak jitu itu, mengaku penglihatannya mendadak kabur saat akan menembak. Hal itu terjadi karena sosok Bung Karno tampak bergeser-geser, berpindah-pindah dari satu sisi ke sisi lain. 

Bung Karno juga diceritakan selamat dari tembakan brutal dan lemparan bom. Kala itu, suasana Jakarta masih genting. Namun, Bung Karno harus berangkat ke satu tempat. Sebelum berangkat, ia menepuk mobilnya sebanyak tiga kali. Entah apa maksud Bung Karno menepuk mobil itu. Satu hal yang pasti, ia selamat dari serangan tembakan yang pelurunya tidak bisa menembus mobil.

Bukan hanya Bung Karno, Soeharto pun sama. Ia dikabarkan tidak mempan ditembak. Itu terjadi saat serangan umum 1 Maret 1949 kala Yogyakarta diduduki Belanda. Soeharto yang saat itu berpangkat Letkol memimpin serangan umum tersebut.

Dalam buku "Pak Harto Untold Sories" karya Mahpudi cs, staf Letkol Soeharto yang bernama Soerjono menceritakan tentang keberanian Pak Harto dalam menumpas tentara Belanda. Soerjono mengatakan, Pak Harto selalu berada di barisan depan saat menyerang atau diserang Belanda. Sedikitpun tidak ada rasa takut. Pak Harto seperti tidak mempan ditembak.



Baca juga : Tanggal Ini, Tujuh Media Era Soeharto Dibredel


Asal-usul Kutangmu yang Belum Kau Tahu

Koropak.co.id, 18 February 2022 12:34:35

Admin


Koropak.co.id - Kutang dan beha sudah sangat menyatu dengan lidah orang Indonesia. Kita sangat terbiasa menyebut dua nama itu ketimbang bra atau istilah lainnya. Di balik kutang yang berfungsi sebagai penyangga payudara itu ternyata ada jasa Don Lopez, seorang bangsawan berdarah Spanyol-Perancis.

Informasi tentang hal itu dideskripsikan dalam novel "Pangeran Dipenogoro: Menggagas Ratu Adil" karya Remy Sylado, seperti ditulis tirto.id. Saat itu, Don Lopez yang sedang memantau pembangunan Jalan Raya Pos Anyer - Panurukan melihat para pekerja wanita bertelanjang dada. Bagian bawah ditutup, tapi yang bagian atas dibiarkan terbuka, sehingga dua gunung kembarnya terlihat jelas.

Melihat hal itu, Don Lopez merasa risih. Ia lantas menyodorkan kain kepada salah seorang perempuan sambil berkata, "Coutant! Coutant!" yang berarti tutup bagian berharga itu. Ucapan coutant yang dilontarkan beberapa kali itu oleh orang kita terdengar kutang.

Syahdan, sampai sekarang kata itu masih dipakai, dan sudah diakui sebagai satu padanan bahasa Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kutang diartikan sebagai pakaian dalam wanita untuk menutupi payudara.

Selain kutang, orang kita juga terbiasa memakai istilah BH yang merupakan singkatan dari bahasa Belanda 'Buste Houder' yang berarti penyangga payudara. Ada juga sebagian yang menyebut bra, asal kata brassiere dari bahasa Perancis.

Apapun istilahnya, kutang atau BH diperkirakan sudah ada sejak zaman Yunani kuno. Kaum hawa di masa itu menggunakan kain dari wol atau linen yang diikat ke punggung untuk membungkus payudara mereka.



Baca : Sejarah Kutangmu yang Belum Kau Tahu


Seiring perkembangan zaman, model bra dari masa ke masa mulai berkembang. Bentuk, bahan, dan motifnya jug semakin beragam. Pada tahun 1889, Herminie Cadolle asal Perancis, membuat korset yang dengan menambahkan tali pada bagian atas untuk menopang bahu, dan bagian bawah berfungsi sebagai korset untuk pinggang. Pada 1905, bagian atas dari korset tersebut dijual secara terpisah.

Dari tahun ke tahun, industri kutang terus berkembang. Ada beragam merek yang dijual di pasaran dengan beragam modifikasi. Namun, ada fenomena yang berbeda antara dulu dan sekarang.

Di masa lalu, kaum hawa di beberapa daerah di Nusantara sudah terbiasa tidak memakai kutang. Layaknya lelaki, perempuan juga biasa bertelanjang dada. Bukan sedang memamerkan erotisme, tapi kebiasaan di waktu itu memang begitu. Saking biasanya, para lelaki yang melihatnya pun biasa saja. 

Beda halnya dengan sekarang. Jangankan bertelanjang dada, perempuan yang keluar rumah atau memerlihatkan foto yang hanya memakai kutang, penilaiannya sudah lain. Mereka yang berpenampilan seperti itu pasti dicap binal atau perempuan nakal.

Ada perbedaan mendasar antara dulu dan sekarang. Dulu, perempuan yang bertelanjang dada dianggap biasa lantaran banyak sebab. Salah satunya keterbatasan akses mendapatkan kain yang pada waktu itu dianggap barang mewah. Tidak semua orang bisa mendapatkannya dengan mudah.

Pola pikir masyarakat waktu itupun belum berkembang. Informasi tentang ilmu pengetahuan dan yang lainnya tidak sederas sekarang. Tak heran, sistem nilai budaya yang memasyarakat pada masa itu sangat terbatas. 

Sementara sekarang, segalanya mudah didapat. Derap industri dan ilmu pengetahuan terus berkembang pesat. Orang-orang sudah akrab dengan beragam informasi hingga paham tentang konsep salah benar atau baik buruk.



Baca juga : Istilah Bra dari Masa ke Masa di Indonesia


Sontoloyo! Bajingan, Berjiwa Mulia di Hadapan Tuhan

Koropak.co.id, 13 February 2022 14:10:25

Admin


Koropak.co.id - Bajingan! Umpatan seperti itu pasti sudah sering mampir ke telinga kita. Nada dan maksudnya terdengar tidak bersahabat. Orang yang mengucapkan kata itu biasanya sedang kesal atau marah. Untuk melampiaskan kekecewaannya itu dilontarkanlah bajingan dengan penekanan nada yang tegas. Bajingan!

Merujuk pada kamus besar Bahasa Indonesia, bajingan memiliki arti penjahat atau kurang ajar. Padahal, pada awal mulanya arti kata bajingan itu tidak seburuk sekarang. Dito Ardhi Firmansyah, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta, membuat karya tulis Konstruksi Makna Kata Bajingan, pada 2018.

Dijelaskan, pada zaman dulu bajingan adalah sebutan untuk penarik gerobak sapi yang dipakai mengangkut orang atau barang. Dulu, gerobak sapi merupakan alat transportasi utama yang lazim digunakan masyarakat.

Sumber lain menyebutkan, gerobak sapi sudah digunakan pada kekuasaan Mataram Islam di Indonesia, abad ke-16 masehi. Gerobak itu dipakai untuk menarik hasil panen dan atau orang yang ingin menumpang. 

Terlebih, di era pemerintahan Hindia-Belanda, masyarakat kelas bawah tidak bisa naik transportasi mewah, sehingga gerobak sapi jadi pilihannya. Para tahun 1900 awal sampai 1940-an, gerobak yang ditarik sapi atau kerbau merupakan alat transportasi utama.

Untuk pergi dagang atau bekerja, masyarakat Yogyakarta waktu itu kerap baik gerobak sapi yang penarik atau sopirnya disebut bajingan. Namun, karena jumlahnya masih sedikit dan jalannya lamban, masyarakat kerap mengeluh. Mereka harus menunggu lumayan lama untuk bisa naik gerobak sapi.



Baca : Ragam Kosa Kata Turis Zaman Belanda


Lantaran kesal menunggu, mereka kerap berucap, "Bajingan kok suwe tekone" yang artinya bajingan kok lama datangnya. Atau keluhan lain, seperti "Bajingan gaweane suwe, sih!" yang artinya bajingan lambat jalannya, sih. 

Diduga, dari sanalah mulai terjadi pergeseran makna bajingan dari semula penarik gerobak sapi menjadi umpatan yang terdengar tidak sopan dan cenderung kasar.

Selain bajingan, ada beberapa kata atau umpatan yang sebelumnya bermakna positif berubah jadi negatif lantaran berbagai sebab. Sontoloyo, misalnya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sontoloyo berarti konyol, tidak beres, atau bodoh. Nadanya cenderung memaki atau berupa makian.

Padahal, awalnya sontoloyo ini merupakan sebutan untuk penggembala bebek. Lantas, kenapa sekarang sontoloyo jadi berkesan negatif? Begini ceritanya. Mas sontoloyo yang menggembala bebek itu kan kerjanya sendirian. Sementara jumlah bebek yang digembalanya terbilang banyak.

Biasanya, bebek-bebek itu berada di barisan depan, sedangkan mas sontoloyo di belakang. Lantaran jumlahnya banyak, bebek-bebek itu kadang masuk ke pekarangan atau sawah orang lain, sehingga merusak tanaman. 

Tak jarang juga bebek-bebek itu membuat pengendara harus sabar menunggu sampai semua bebek bisa menyeberang jalan. Saat menunggu itulah atau ketika bebek-bebek itu merusak tanaman, pengendara atau pemilik sawah yang tanamannya rusak karena bebek kerap mengomel, oalah dasar sontoloyo.



Baca juga : Ketika Generasi Digital Akan Memimpin Dinasti Mataram



Beda Gaya Presiden Indonesia, Ada yang Dipercaya Berkekuatan Mistis

Koropak.co.id, 12 February 2022 12:56:08

Admin


Koropak.co.id - Sejak menyatakan diri sebagai negara merdeka, hingga saat ini Indonesia sudah dipimpin tujuh Presiden. Estafet kepemimpinan terus bergulir dengan segala dinamikanya. Dari Soekarno diganti Soeharto melalui Supersemar, dan kini berada di pundak Joko Widodo.

Ketujuh Presiden itu masing-masing punya ciri khas sendiri. Soekarno, misalnya. Presiden Indonesia pertama itu lekat dengan tongkat komandonya. Kendati belum diketahui pasti siapa pembuatnya, tongkat itu seakan telah menyatu dengan diri Bung Karno.

Hampir di setiap kesempatan selalu dibawa. Bukan hanya di dalam negeri, saat bertugas ke luar negeri pun sama. Tongkat berukuran sekitar 45 centimeter itu kerap menemani. Saat ditanya wartawan, Bung Karno mengaku tongkat itu dibawa-bawa sebagai bagian dari penampilan. 

Namun, ada yang menduga itu bukan tongkat biasa. Tongkat itu memiliki kekuatan mistis. Bahkan, Presiden Kuba, Fidel Castro, sempat melontarkan keheranannya kepada Bung Karno terkait tongkat tersebut. 

Dengan nada bercanda, Castro bertanya apakah tongkat itu memiliki kesaktian seperti yang punya kepala Suku Indian? Bung Karno tertawa mendengar pertanyaan itu. Dalam beberapa kesempatan, Bung Karno menegaskan, tongkatnya tidak memiliki kesaktian apapun.

Selain tongkat, penampilan Bung Karno juga identik dengan setelan jas yang dilengkapi tanda kepangkatan dan simbol militer, plus peci hitam. Wibawa kepemimpinan Bung Karno tampak sangat kuat dengan penampilan seperti itu.

Lain Soekarno, lain Soeharto. Selama menjadi Presiden, Bung Karno tidak pernah menggunakan pakaian adat atau simbol-simbol budaya tertentu. Alasannya, ia adalah Presiden seluruh Indonesia, bukan presidennya orang Jawa atau yang lainnya. 

Hal itu berbeda dengan Presiden Soeharto. Dalam beberapa kesempatan, Pak Harto pernah memakai pakaian adat suku tertentu. Saat berkunjung ke Sumetera Utara pada 19 Oktober 1986, Soeharto yang didampingi Ibu Tien mengenakan pakaian khas Batak, yaitu Ulos Ragi Idub dan topi Sortali.

Bahkan, pakaian khas Melayu yang bernama Teluk Belangga menjadi salah satu pakaian kenegaraan. Siti Hediati Hariyadi, anak keempat Soeharto, menyebutkan kalau ayahnya memiliki empat pakaian kenegaraan. 



Baca : 12 Maret 1967; Peristiwa Bergantinya Kepemimpinan dari Soekarno ke Soeharto


Selain Teluk Belangga, Soeharto biasa menggunakan Langedarjan yang merupakan pakaian khas Yogyakarta. Dua seragam lainnya adalah seragam militer plus tongkat komando dan setelan internasional berupa jas yang dilengkapi kopiah hitam.   

Kebiasaan memakai peci hitam ini berlanjut ke Presiden berikutnya, yakni BJ Habibie. Tidak banyak cerita tentang gaya pakaian pria kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, ini. Ia hanya menjabat Presiden selama satu tahun. Selama menjabat itu ia kerap terlihat memakai setelan jas resmi dan kemeja batik, plus kopiah hitam dan kacamata.

Begitupun dengan Abdurrahman Wahid atau Gusdur yang menjadi Presiden Indonesia dari 1999 sampai 2001. Gaya berpakaiannya tidak banyak berubah dengan sebelum menjadi Presiden. 

Namun, sebagai orang yang lahir dan besar dari kalangan pesantren, Gusdur tidak pernah melupakan sarung. Saat menjabat Presiden pun begitu. Kendati harus memakai pakain formal, seperti jas plus dasi, dalam acara-acara santai ia suka mengenakan kaos dan sarung. 

Bahkan, tidak jarang ia lebih senang memakai celana pendek. Tak heran, saat dirinya menyapa para pendukungnya yang berkumpul di depan Istana Merdeka, Gusdur keluar hanya memakai celana pendek dan kaos kerah berkancing dua.

Presiden berikutnya, Megawati, yang tak lain putri dari Presiden Soekarno. Selama menjadi presiden kelima, perempuan bernama lengkap Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri itu lebih sering memakai kebaya yang dipadukan dengan selendang bermacam motif.

Adapun penampilan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kerap terlihat rapi dengan setelan jas plus peci hitamnya. Di luar acara kenegaraan pun, pria yang akrab disapa SBY itu selalu memerhatikan penampilannya. Selain memakai batik, ia juga biasa mengenakan kemeja berwarna biru. Bukan hanya pakaian, cara dan gaya bicaranya pun tampak diatur sedemikian rupa, sehingga wibawanya selalu terjaga.

Gaya SBY yang seperti itu bertolak belakang dengan Presiden Joko Widodo. Dalam beberapa kesempatan, Presiden ketujuh itu sering mengenakan kemeja putih yang dilipat, dan tak jarang pakai jaket plus sepatu kets. Gaya bicaranya pun tampak tidak direka-reka dan sering bercanda jika sedang diwawancara wartawan.

Satu lagi yang menjadi ciri khas Jokowi dalam penampilannya adalah cincin yang dipasang di jari manisnya. Dikabarkan, itu merupakan cincin kawin seharga Rp24 ribu yang dipakai Jokowi saat meminang Iriana.



Baca juga : Melihat Ragam Budaya dan Kerajinan Indonesia di Finance Track Presidensi G20


Iket Sunda Bukan Sekadar Penghias Kepala

Koropak.co.id, 08 February 2022 17:07:29

Admin


Koropak.co.id - Indonesia punya banyak budaya yang dibalut dengan beragam pakaian. Di Jawa Barat, misalnya, ada iket yang bukan saja berguna sebagai penghias kepala, tapi juga punya filosofi mendalam.

Di daerah lainpun sama. Di Jawa Timur atau Jawa Tengah ada penutup kepala yang diberi nama blangkon. Sementara di Bali, penutup kepalanya disebut Udeng. Masing-masing memiliki falsafah dan sudah melalui perjalanan budaya yang teramat panjang.

Kali ini kita akan fokus membahas iketnya orang Sunda. Selain digunakan sebagai kelengkapan pakaian pria, iket Sunda memiliki nilai estetis yang tinggi, banyak ragamnya, dan mengandung falsafah mendalam. 

Bagi orang Sunda, iket bukan sekadar penghias kepala. Secara filosofis, iket memiliki arti sauyunan dalam satu kesatuan hidup. Ibaratnya lidi, jika dibentuk menjadi satu ikatan sapu, maka lidi tersebut akan mampu membersihkan apapun.

Begitu juga dengan manusia. Jika bergerak sendiri-sendiri, pasti akan menjadi berat ketika menghadapi suatu masalah. Tapi akan berbeda cerita bila dilakukan secara bersama-sama. Diperlukan kebersamaan yang diikat dalam semangat gotong royong. Iket itu juga menandakan agar pemakaiannya tidak ingkah atau lepas dari jati diri Kasundaan. 

Sebagai generasi muda, sudah menjadi kewajiban kita untuk terus melestarikan kebudayaan dan jati diri bangsa. Apalagi, iket ini bukan lahir kemarin sore. Iket telah menemani perjalanan urang Sunda sejak dulu. 

Berpijak pada perjalanannya, iket Sunda terbagi menjadi lima rupa atau bentuk. Pertama, rupa iket bihari atau masa lampau yang sampai sekarang masih dipakai oleh masyarakat kampung adat.



Baca : Falsafah Iket Sunda dan Jenisnya


Kedua, iket kiwari atau masa kini. Pembuatan iket yang satu ini dimulai sekitar awal tahun 2000. Dimotori oleh para pelaku seni, budayawan, serta komunitas kreatif yang peduli terhadap budaya Sunda.

Bentuk ketiga adalah iket praktis atau iket panganteur. Disebut praktis lantaran iket yang satu ini sudah dijahit, sehingga mudah memakainya. Sedangkan rupa keempat dan kelima adalah iket wanoja dan iket kolaborasi.

Iket wanoja, sesuai namanya, adalah iket yang dipakai oleh perempuan. Dalam Bahasa Sunda, wanoja berarti perempuan. Iket yang satu ini mulai dikenalkan pada 2011 oleh Komunitas Iket Sunda, dan sampai sekarang masih dilakukan pengembangan model.

Adapun iket kolaborasi adalah iket yang dimodifikasi untuk kebutuhan khusus, seperti untuk pertunjukan atau ditambah logo tertentu. Kendati dilakukan berbagai modifikasi, termasuk dalam penggunaan jenis kainnya, filosofi dalam iket Sunda tetap dipertahankan.

Selain merupakan identitas budaya dan menambah estetika penampilan, satu hal yang paling penting dari iket Sunda adalah filosofinya, yaitu mengikat hawa nafsu dalam diri, sehingga bisa menjadi manusia seutuhnya. Iket harus menjadi pengikat hawa nafsu untuk menjadi manusia yang baik.

Iket bukan hanya selembar kain yang dipakai untuk memperindah penampilan pria, tapi merupakan perwujudan dari budaya Sunda yang di dalamnya terkandung filosofi tentang ketuhanan dan nilai-nilai kebenaran.



Baca juga : Kabayan, Totopong dan Blankon Sunda


Semula Pecel, Datang Orang Eropa Jadi Ada Perkedel

Koropak.co.id, 05 February 2022 15:38:43

Admin


Koropak.co.id - Nusantara punya beragam jenis makanan. Jumlahnya tidak terhitung. Di satu daerah saja ada banyak makanan dengan rasa dan bentuk yang berbeda-beda. Bila dihitung satu per satu dan dari semua daerah digabungkan, entah akan ada berapa banyak jenis makanan di bumi pertiwi ini.

Apalagi, dari waktu ke waktu selalu ada jenis kuliner olahan baru. Kendati begitu, makanan-makanan jadul tetap disukai dan tak tergoyahkan. Pecel, misalnya. Sampai sekarang pecel masih ada dan banyak peminatnya.

Padahal, makanan kesukaan Presiden Soekarno ini sudah ada sejak Indonesia belum merdeka.

Murdjito Gardjito, ahli gastronomi UGM, seperti dilansir kompas, menjelaskan, berdasarkan sumber Babad Tanah Jawi, pecel yang berasal dari Yogyakarta ini pernah disuguhkan kepada Sunan Kalijaga saat bertemu dengan Ki Gede Pamanahan.

Saat bertemu dengan Sunan Kalijaga di pinggir sungai, Ki Gede menghidangkan sepiring sayuran, sambel pecel, nasi, dan lauk pauk lainnya. Sementara kata pecel sendiri berasal dari kata dipecel atau diperas dan dibuang airnya.

Sedangkan Babad Tanah Jawi adalah karya sastra berbentuk tembang dalam bahasa Jawa yang berisi tentang sejarah Pulau Jawa. Kitab itu menceritakan raja-raja di Pulau Jawa dari era Hindu-Buddha hingga Mataram Islam. 

Selain itu, ada pula disinggung tentang Nabi Adam dan nabi-nabi lainnya. Babad Tanah Jawi merupakan salah satu jenis Historiografi Tradisional dan menjadi salah satu sumber dalam merekonstruksi sejarah di Pulau Jawa.

Itu baru tentang sekilas sejarah pecel. Masih banyak jenis makanan lain yang usianya sudah ratusan tahun. Sejarawan Kuliner Universitas Padjadjaran, Fadly Rahman, seperti dilansir kompas, mengatakan, sejarah kuliner di Nusantara sudah ada dalam naskah-naskah dan prasasti Hindu-Buddha.



Baca : Serupa Tapi Tak Sama, Ini Perbedaan Gado-Gado, Karedok dan Pecel


Ia menambahkan, beberapa kuliner pada zaman Hindu-Buddha yang masih ada sampai sekarang di antaranya sambal, rawon dan dawet. Menurutnya, sejarah tumbuh kembang kuliner Nusantara sudah ada sejak datangnya berbagai pengaruh dari luar ke Nusantara.

Saat ajaran Islam masuk ke Nusantara, misalnya, terdapat beberapa negara yang turut berpengaruh membawa budaya kuliner asalnya, seperti dari Jazirah Arab dan India. Makanan seperti kari dan gulai diketahui merupakan makanan yang hadir setelah negara Jazirah Arab dan India menyebarkan ajaran Islam di Nusantara.

Bukan hanya itu. Kuliner di Indonesia juga ada yang merupakan hasil asimilasi budaya Eropa. Setelah orang Eropa datang ke Nusantara, jenis makanan di Nusantara semakin bertambah bayak. Semula hanya ada pecel dan semacamnya, setelah datang orang Eropa jadi ada perkedel, sop, dan bistik.

Ngomong-ngomong soal perkedel, beberapa waktu lalu sempat ramai soal kepanjangan dari perkedel. Banyak yang percaya bahwa perkedel adalah akronim dari persatuan kentang dan telur. Benarkah?

Sepintas tampak benar. Sama halnya seperti batagor yang merupakan akronim dari baso tahu goreng, atau colenak yang berarti dicocol enak, atau aci digoreng yang dikenal dengan cireng, atau cilok dari aci dicolok, atau ini nih, cari uang jalan kaki alias cuanki. Hehehe…

Warga +62 memang kreatif dalam soal begituan mah. Namun, khusus perkedel, sebenarnya itu berasal dari bahasa Belanda, yakni frikadel. Itu adalah makanan berbahan daging yang dicincang lalu dipadatkan dan digoreng. Sementara di kita, kebanyakan perkedel ini berbahan ketang.

Tidak hanya makanan, Eropa juga turut membawa pengaruh pada cara makan. Sebelumnya, budaya makan di Nusantara tidak menggunakan sendok dan garpu, juga tidak memakai meja. Namun, setelah datang orang Eropa perlahan cara makan di kita berubah.



Baca juga : Filosofi Cuanki dan Cari Uang Jalan Kaki


Kisah Penindasan di Balik Nikmat Nasi Padang

Koropak.co.id, 02 February 2022 13:05:39

Admin


Koropak.co.id - Nasi Padang sudah sangat akrab di telinga kita. Makanan asal Sumatera Barat itu telah mendapat tempat luas di hati masyarakat Indonesia. Hampir semua orang menyukainya. Kalau kamu, lauk apa yang paling suka? Rendang? Ayam pop? Gulai kepala kakap? Atau lebih suka telur dadar seperti saya? Hehehe…

Duh, kok mendadak ngiler begini ya. Jadi terbayang betapa nikmatnya makan nasi padang dengan telur dadar yang disiram bumbu rendang. Apalagi kalau dicampur daging cincang yang kuahnya merah berlemak. Tambuah ciek, Da! Sambalnya banyakin yaaa. Hihihihi…

Tapi tahukah kamu, di balik nikmatnya nasi Padang, terbentang sejarah panjang yang tidak sembarang. Berdasarkan penelusuran, ada dua versi tentang sejarah nasi padang ini. Versi pertama, seperti ditulis greatnesia, restoran Padang sudah ada sejak sebelum Indonesia menyatakan merdeka.

Suryadi Sunuri, dosen dan peneliti dari Universitas Leiden, menyebutkan, ada surat kabar yang terbit pada tahun 1937 menulis frasa Padangsch-Resrtaurant. Rumah makan yang menyajikan masakan Padang itu milik Ismael Naim. 

Sedangkan versi kedua memuat tentang penindasan terhadap warga Minang. Setelah pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Barat berakhir, tepatnya tahun 1961, banyak warga Minang yang merasa diperlakukan diskriminatif oleh Pemerintah. 

Mereka disebut orang kalah, dihina, diwajibkan melapor, sehingga seakan jadi tawanan di daerah sendiri. Perlakuan sewenang-wenang itu mendorong banyak warga Minangkabau yang merantau ke luar pulau. Banyak di antara mereka yang berwirausaha dengan  membuka warung nasi Padang.

Profesor Gusti Asnan, sejarawan Minangkabau di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, seperti dilansir bbcindonesia.com, menjelaskan, tindakan Pemerintah yang keras dan cenderung menindas mendorong orang Minangkabau di perantauan berusaha mengganti identitas mereka.



Baca : Obama, Indonesia dan Nasi Goreng


Salah satunya mengganti nama diri dari khas Minangkabau menjadi kejawa-jawaan. Mereka tidak lagi memakai istilah-istilah Minang, seperti "lapau nasi", "kedai nasi", "los lambuang", atau "karan". Hal itu menjadi satu ikhtiar bertahan hidup di kampung orang. 

Bagi warga Minang, bertahan dalam kondisi tidak nyaman bukanlah perkara baru. Mental mereka sudah tertempa sejak lama. Jangan kira restoran Padang dulu dan sekarang sama saja. Saat ini, nasi Padang dijajakan di tempat permanen, bahkan banyak yang bangunannya terlihat mewah. Dulu tidak begitu. Nasi padang dijual di bawah tenda. 

Perjalanan panjang telah membuat nasi Padang menjadi salah satu brand paling kuat dalam dunia kuliner. Restoran Padang ada di mana-mana. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga di luar negeri. Bahkan, salah satu menunya, yaitu rendang, pernah diakui sebagai makanan paling enak di dunia. Keren, kan?

Eh, apakah kamu penasaran kenapa nasi Padang yang dibungkus porsinya lebih banyak dibanding makan di tempat? Nah, jawabannya ada dua versi juga. Versi pertama adalah sebagai bentuk penghargaan penjual kepada pembeli. Dengan dibungkus, penjual tidak perlu mencuci gelas dan piring kotor, termasuk mengelap meja. Sebagai gantinya, nasi diberi dobel. 

Sedangkan versi kedua terkait dengan kepedulian pemilik warung nasi kepada pembeli. Ia sengaja memberikan porsi nasi bungkus yang lebih besar agar bisa dinikmati bersama keluarga di rumah.

Atau kamu punya versi lain kenapa nasi Padang yang dibungkus porsinya lebih besar dibanding makan di tempat? Boleh tulis di kolom komentar, ya. Hehehe



Baca juga : Ada Sejak Zaman Belanda, Sensasi Gurih Nasi Jamblang Tak Terkalahkan


Sabar Seperti Minum Teh, Pahit Hidup Berubah Manis

Koropak.co.id, 31 January 2022 16:27:18

Admin

 

Koropak.co.id - Minum teh sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat dunia. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga negara-negara lain. Tanaman Camellia ini memang unik. Aromanya yang khas telah mengumpulkan banyak cerita dan peradaban hingga berabad-abad.

Dinasti Han dalam sejarah Tiongkok, memosisikan tradisi minum teh menjadi sesuatu yang sangat sakral. Minum teh menjadi bagian penting bagi inspirasi sang pempimpin menentukan kebijakan.

Di Inggris juga demikian. Tradisi dalam kerajaan Inggris menjadikan minum teh menjadi sesuatu yang penting. Bahkan, kabarnya Ratu Elizabeth II punya tiga jenis teh favorit.

Tradisi minum teh masih lestari di Jepang hingga sekarang. Kendati dikenal sebagai negara maju dan modern, namun tradisi inimasih menjadi bagian penting dari pergaulan masyarakat di negara Matahari Terbit ini.

Upacara minum teh di Jepang ini dinamakan sado yang berarti jalan teh. Ini menjadi tradisi penting bagi masyarakat Jepang saat menjamu tamu, tak terkecuali tamu-tamu kenegaraan.

Tradisi minum teh di Jepang ini unik. Ada etika dan adab yang harus dipatuhi. Etika itu terkait dengan persiapan Sado, kemudian pelaksanaan Sado, dan terakhir setelah Sado dilaksanakan. Semua tahapan ini menjadi bagian penting dalam tradisi minum teh di Jepang.

Etika dalam persiapan Sado di antaranya melepas semua aksesoris atau pershiasan yang dipakai, membawa sumpit dan kain, memakai pakain yang sopan dan kaos kaki, mencuci tangan, dan terakhir masuk ke ruangan khusus minum teh.

Demikian minum teh di Jepang yang serba tertib dan penuh dengan nilai-nilai filosofi. Budaya yang sangat indah di tengah perkembangan zaman dan derasnya pergaulan globalisasi yang tak terbendung. 

Selain di Jepang, tradisi minum teh juga ada di Indonesia. Dengan beragam budayanya, daerah-daerah Nusantara memiliki keunikan dan kekhasan saat menyajikan teh.

Di Jawa Tengah, misalnya, ada Teh Poci. Tradisi minum teh wangi melati di dalam poci dan di tambah dengan gula batu ini menjadi suguhan khusus masyarakat Jawa Tengah, seperti di daerah Slawi, Tegal, Brebes dan Pemalang.



Baca : Tradisi Minum Teh di Surakarta, Dari bangsawan Hingga Rakyat Biasa


Ada yang unik dari tradisi Teh Poci ini. Penikmat teh ini hanya dibolehkan menambahkan gula batu, tetapi tidak boleh mengaduknya. Ternyata itu punya filosofi dalam. Bahwa hidup ini memang pahit pada awalnya, tapi jika ingin bersabar maka kita akan mendapatkan manisnya.

Persis seperti gula yang dimasukkan ke dalam teh. Masukkan saja gula batunya, dan tidak perlu diaduk. Perlahan, gula itu akan mencair dan membuat teh menjadi manis. Hanya perlu menunggu sebentar. Sabar, hidup pasti akan terasa manis.

Di Sunda juga ada tradisi ngeteh. Namanya Nyaneut. Itu akronim dari Nyai Haneut atau Cai Haneut yang berarti air hangat. Tradisi minum teh ini tak sembarangan. Sebelum meminum teh, para penikmatnya ini harus memutar gelas teh di telapak tangan sebanyak dua kali, lalu kemudian, aroma teh harus dihirup sekira 3 tiga kali. Saat menikmati teh, para penikmatnya telah merasasakan lima pancaindera melalui teh yang tersaji.

Sementara di Betawi ada Nyahi. Menurut kisah masyarakat Betawi, kata "Nyahi" berasal dari budaya Arab, dari kata "Syahi" yang artinya teh. Nyahi dilakukan bersama keluarga, relasi, teman dekat, dan sahabat. Biasa dilakukan saat pagi, sore, dan malam. Di kala berkumpul menikmati waktu.

Ada pula Patehan di Keraton Yogyakarta. Tradisi ini tidak bisa dilakukan oleh siapa saja. Hanya boleh dilakukan oleh lingkungan keraton. Lebih unik dalam tradisi di Yogyakarta ini, karena tradisi ini tidak lakukan sembarangan.

Sebelum melakukan Patehan, akan ada lima pria dan lima perempuan berpakaian adat Jawa. Mereka yang berpakaian khusus khas Keraton Yogyakarta ini meracik teh dengan sedemikian rupa dan kemudian menyajikan untuk raja dan keluarga keraton atau tamu keraton.

Tapi jangan salah, Bangsawan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat di masa lalu ternyata pernah memiliki perkebunan teh di Ngampel, Boyolali dan budidaya tanaman teh yang dijajal kaum aristokrat itu diberi nama Madusita. Fakta tersebut terekam dalam Serat Biwadha Nata. 

Di Surakarta Solo juga ada tradisi ngeteh. Keraton Solo memiliki peranan dalam mengembangkan usaha perkebunan teh dan membentuk budaya ngeteh di tanah Jawa. Hingga saat ini teh juga berhasil menjadi komoditas yang dijual di berbagai tempat, mulai dari angkringan pinggir jalan hingga restoran mewah kelas satu.

Untuk memperkuat kultur ngeteh, pada Oktober 2012 lalu sempat digelar Festival Teh Internasional di Kota Solo. Acara tersebut digelar di sepanjang koridor Ngarsapura yang menghadirkan 1.000-an penjual teh. Kota Solo dipilih sebagai tuan rumah Festival Teh Internasional pertama karena dianggap sebagai etalase teh di Indonesia.

Sampai saat ini, teh berhasil menjadi salah satu ikon kuliner di Kota Solo yang sangat populer. Tiap angkringan di Kota Solo juga memiliki resep dan cara meracik teh yang berbeda-beda. Hingga munculah budaya mencampur atau mengoplos teh yang diklaim hanya ada di Kota Solo.



Baca juga : Teh Poci dan Tradisi Moci di Tegal


Raden Saleh, Perupa Pertama dari Jawa yang Kuasai Eropa

Koropak.co.id, 28 January 2022 15:45:33

Admin


Koropak.co.id - Nama Raden Saleh, lengkapnya Raden Saleh Sjarief Bustaman, mungkin tidak diketahui banyak orang. Bisa jadi, ketika disebutkan namanya, orang-orang mengira ia hanya orang biasa. Padahal, di dunia seni rupa, Raden Saleh sangat populer. Ketokohan dan karya-karyanya memiliki posisi penting dalam perkembangan seni rupa Indonesia. 

Karya-karyanya banyak dikoleksi oleh penimat seni seluruh dunia. Ia harum, dan mengharumkan bangsa Indonesia. Raden Saleh merupakan bumiputra Jawa pertama yang mendapatkan privilese atau hak istimewa untuk belajar melukis di Eropa. Ia menghabiskan 25 tahun masa hidupnya di Eropa, seperti Belanda, Jerman, Prancis, Italia, dan Inggris.

Selain menjadi seorang pelukis, Raden Saleh juga dikenal sebagai kolektor dokumen etnografi dan arkeologi, arsitek, paleontolog, perancang pertamanan, pendiri berbagai taman marga satwa, serta perancang busana.

Pria yang dilahirkan sekitar tahun 1811 di Terboyo, Semarang, itu merupakan keluarga Jawa ningrat keturunan Arab. Dikarenakan ayahnya yang meninggal pada usia muda, Raden Saleh dididik oleh pamannya yang ketika itu menjabat sebagai Bupati Semarang, Raden Adipati Sura-adimanggala. 

Di rumah pamannya itulah minat Raden Saleh kepada kesenian mulai tumbuh. Pada tahun 1819, Gubernur Jenderal van der Capellen mengajak Raden Saleh muda ke Bogor dan diantarkan kepada Professor Caspar Georg Carl Reinwardt untuk kemudian dititipkan kepada pelukis Auguste Antoine Joseph Payen.

Teknik melukisnya yang baik itu, membuatnya kemudian tergabung bersama Payen dalam tugas penelitian Professor Reinwardt sepanjang 1819-1822. 

Sementara itu, akibat meletusnya Perang Jawa pada tahun 1825 yang di mana pamannya ditangkap pemerintah kolonial Belanda, Raden Saleh pun memutuskan untuk tidak kembali ke Semarang.

Raden Saleh kemudian tinggal di Cianjur setelah diterima pada dinas administrasi rendah pemerintah kolonial Belanda. Ia yang tumbuh mendambakan hidup di tengah peradaban Eropa, pada tahun 1829 berkesempatan mewujudkan mimpinya setelah menerima tawaran berangkat ke Belanda untuk bekerja pada Jean Baptiste de Linge, sekretaris keuangan pemerintahan kolonial Belanda.



Baca : Sekilas Tentang Raden Saleh, Maestro Seni Rupa Indonesia yang Mendunia


Setibanya di Antwerpen, Raja Belanda kalau itu menyetujui beasiswa untuk Raden Saleh selama 2 tahun, yang kemudian selama beberapa kali diperpanjang. Di Den Haag, Raden Saleh mulai belajar pada Cornelius Kruseman (1797-1857), pelukis potret dan lukisan sejarah, serta Andreas Schelfhout (1787-1870), pelukis pemandangan alam.

Ia juga kemudian pindah dari satu kota ke kota lain di Eropa, seperti Duesseldorf, Frankfurt, Berlin, Dresden, Coburg, dan berakhir di Paris yang di mana dia meraih pencapaian tertingginya ketika lukisannya Berburu Rusa di Jawa diikutsertakan pada Pameran Salon tahun 1847 dan dibeli oleh Raja Louis Phillippe.

Pada tahun 1851, Raden Saleh kembali ke Jawa dan sempat kembali berkunjung ke Eropa pada tahun 1870. Sepanjang kariernya, Raden Saleh mengerjakan karya lukisan potret, pemandangan alam, dan tema-tema romantik seperti perburuan binatang, badai di lautan, dan bencana alam. Karya-karyanya juga turut menyangkut kehidupan manusia dan binatang yang bergulat dalam tragedi. 

Meskipun berada dalam bingkai Romantisisme, namun tema-tema karya dari lukisannya itu sendiri bervariasi, dramatis, dan mempunyai elan vital yang tinggi. 

Kendati begitu, Raden Saleh ternyata belum sadar sepenuhnya untuk berjuang menciptakan seni lukis Indonesia. Akan tetapi, dorongan hidup yang diungkapkan tema-temanya itu sangat inspiratif bagi seluruh lapisan masyarakat. 

Terlebih lagi bagi kaum terpelajar pribumi yang sedang bangkit nasionalismenya. Satu-satunya lukisan historis yang diciptakannya sekaligus merupakan karya utama dari Raden Saleh adalah Penangkapan Pangeran Diponegoro (1857).  Sedangkan karya lainnya yang sering disinggung dalam literatur adalah Banjir di Jawa (1862) yang terinspirasi dari Rakit Medusa (1818) karya Theodore Gericault.

Tak hanya itu, karya-karya Raden Saleh ternyata turut dikoleksi oleh kolektor dan museum terpandang di Eropa hingga Amerika, seperti Museum Louvre di Perancis, Rijksmuseum di Belanda, dan Smithsonian American Art Museum di Amerika Serikat. 

Galeri Nasional Indonesia juga turut memiliki koleksi beberapa karya Raden Saleh, salah satunya adalah Kapal Karam Dilanda Badai

Semasa hidupnya, Raden Saleh juga memiliki beberapa murid, di antaranya Raden Salikin yang merupakan putra dari saudara sepupu lelakinya, Raden Koesomadibrata dan Raden Mangkoe Mihardjo, keduanya merupakan anak muda Sunda keturunan bangsawan. Raden Saleh tutup usia di Bogor pada 23 April 1880.



Baca juga : I Nyoman Masriadi, Seniman Bali dengan Berbagai Karya Fenomenalnya