Semula Pecel, Datang Orang Eropa Jadi Ada Perkedel

Koropak.co.id, 05 February 2022 15:38:43
Penulis : Admin


Koropak.co.id - Nusantara punya beragam jenis makanan. Jumlahnya tidak terhitung. Di satu daerah saja ada banyak makanan dengan rasa dan bentuk yang berbeda-beda. Bila dihitung satu per satu dan dari semua daerah digabungkan, entah akan ada berapa banyak jenis makanan di bumi pertiwi ini.

Apalagi, dari waktu ke waktu selalu ada jenis kuliner olahan baru. Kendati begitu, makanan-makanan jadul tetap disukai dan tak tergoyahkan. Pecel, misalnya. Sampai sekarang pecel masih ada dan banyak peminatnya.

Padahal, makanan kesukaan Presiden Soekarno ini sudah ada sejak Indonesia belum merdeka.

Murdjito Gardjito, ahli gastronomi UGM, seperti dilansir kompas, menjelaskan, berdasarkan sumber Babad Tanah Jawi, pecel yang berasal dari Yogyakarta ini pernah disuguhkan kepada Sunan Kalijaga saat bertemu dengan Ki Gede Pamanahan.

Saat bertemu dengan Sunan Kalijaga di pinggir sungai, Ki Gede menghidangkan sepiring sayuran, sambel pecel, nasi, dan lauk pauk lainnya. Sementara kata pecel sendiri berasal dari kata dipecel atau diperas dan dibuang airnya.

Sedangkan Babad Tanah Jawi adalah karya sastra berbentuk tembang dalam bahasa Jawa yang berisi tentang sejarah Pulau Jawa. Kitab itu menceritakan raja-raja di Pulau Jawa dari era Hindu-Buddha hingga Mataram Islam. 

Selain itu, ada pula disinggung tentang Nabi Adam dan nabi-nabi lainnya. Babad Tanah Jawi merupakan salah satu jenis Historiografi Tradisional dan menjadi salah satu sumber dalam merekonstruksi sejarah di Pulau Jawa.

Itu baru tentang sekilas sejarah pecel. Masih banyak jenis makanan lain yang usianya sudah ratusan tahun. Sejarawan Kuliner Universitas Padjadjaran, Fadly Rahman, seperti dilansir kompas, mengatakan, sejarah kuliner di Nusantara sudah ada dalam naskah-naskah dan prasasti Hindu-Buddha.



Baca : Serupa Tapi Tak Sama, Ini Perbedaan Gado-Gado, Karedok dan Pecel


Ia menambahkan, beberapa kuliner pada zaman Hindu-Buddha yang masih ada sampai sekarang di antaranya sambal, rawon dan dawet. Menurutnya, sejarah tumbuh kembang kuliner Nusantara sudah ada sejak datangnya berbagai pengaruh dari luar ke Nusantara.

Saat ajaran Islam masuk ke Nusantara, misalnya, terdapat beberapa negara yang turut berpengaruh membawa budaya kuliner asalnya, seperti dari Jazirah Arab dan India. Makanan seperti kari dan gulai diketahui merupakan makanan yang hadir setelah negara Jazirah Arab dan India menyebarkan ajaran Islam di Nusantara.

Bukan hanya itu. Kuliner di Indonesia juga ada yang merupakan hasil asimilasi budaya Eropa. Setelah orang Eropa datang ke Nusantara, jenis makanan di Nusantara semakin bertambah bayak. Semula hanya ada pecel dan semacamnya, setelah datang orang Eropa jadi ada perkedel, sop, dan bistik.

Ngomong-ngomong soal perkedel, beberapa waktu lalu sempat ramai soal kepanjangan dari perkedel. Banyak yang percaya bahwa perkedel adalah akronim dari persatuan kentang dan telur. Benarkah?

Sepintas tampak benar. Sama halnya seperti batagor yang merupakan akronim dari baso tahu goreng, atau colenak yang berarti dicocol enak, atau aci digoreng yang dikenal dengan cireng, atau cilok dari aci dicolok, atau ini nih, cari uang jalan kaki alias cuanki. Hehehe…

Warga +62 memang kreatif dalam soal begituan mah. Namun, khusus perkedel, sebenarnya itu berasal dari bahasa Belanda, yakni frikadel. Itu adalah makanan berbahan daging yang dicincang lalu dipadatkan dan digoreng. Sementara di kita, kebanyakan perkedel ini berbahan ketang.

Tidak hanya makanan, Eropa juga turut membawa pengaruh pada cara makan. Sebelumnya, budaya makan di Nusantara tidak menggunakan sendok dan garpu, juga tidak memakai meja. Namun, setelah datang orang Eropa perlahan cara makan di kita berubah.



Baca juga : Filosofi Cuanki dan Cari Uang Jalan Kaki


Komentar

Ada Sejak Zaman Berburu, Ini Dia Tarian Tertua di Pulau Timor

Koropak.co.id, 05 November 2022 16:38:31

Admin


Koropak.co.id - Nusa Tenggara Timur punya banyak seni budaya lawas nan menakjubkan. Salah satunya Tari Bonet, tarian tertua di Pulau Timor yang diyakini sudah ada sejak fase kehidupan berburu yang dilakukan masyarakat Suku Dawan, kelompok etnik yang mendiami Pulau Timor, terutama di wilayah barat.

Dilakukan secara berkelompok, tarian ini melambangkan semangat dan kebersamaan. Tari Bonet memiliki ciri khas, yakni bentuk formasi yang melingkar dan penggunaan puisi atau pantun dalam liriknya yang mengandung kekayaan khazanah sastra lisan Suku Dawan. 

Secara etimologi, Bonet sendiri berasal dari rangkaian kata dalam bahasa Dawan, yakni Na Bonet yang berarti mengepung, mengurung, mengelilingi atau melingkari. Sementara dalam konteks tari, Bonet bisa diartikan sebagai menari dengan posisi membentuk lingkaran.

Tarian yang erat dengan tradisi berburu masyarakat Dawan yang hidup nomaden secara komunal itu dilakukan sebagai bentuk suka cita telah memperoleh binatang buruan untuk keberlangsungan hidup mereka. 


Baca: Tari Bonet; Tarian Tertua dari NTT, Ada Sejak Zaman Prasejarah

https://www.koropak.co.id/18187/tari-bonet-tarian-tertua-dari-ntt-ada-sejak-zaman-prasejarah

Binatang hasil buruan itu dimasak dan dinikmati bersama, dan sebelum disantap akan digelar upacara penyucian roh binatang buruan serta ritual persembahan kepada dewa.

Pada saat melakukan perburuan, orang-orang Timor khususnya kaum laki-laki, akan melakukan taktik pengepungan dengan berkumpul mengelilingi binatang buruannya. Mereka menggunakan api untuk membakar semak belukar dan hutan. 

Ketika api membakar semak belukar, mereka akan menari-nari mengitari hutan sambil bersorak dan bersiul sembari berjaga-jaga apabila ada binatang yang ingin menghindarkan diri dari perburuan. Setelah memperoleh binatang buruan, mereka kembali ke tempat pemukiman dengan riang.

Lantas kaum perempuan keluar menjemput para pemburu sembari memukul bunyi-bunyian dan menari bersama-sama. Mereka juga saling bergandengan tangan dan menari berputar-putar dalam lingkaran.

Di tengah lingkaran, ada api unggun sebagai lambang atau simbol penolong masyarakat Suku Dawan. Sambil mengitari api, para pemburu mendendangkan syair atau pantun yang menuturkan perburuan.


Baca juga: Mengenal Aksara Lota Ende dan Keberadaannya Kini

https://koropak.co.id/18183/mengenal-aksara-lota-ende-dan-keberadaannya-kini

P

Sumpit, Cara Raja Pamerkan Gaya Hidup Mewah

Koropak.co.id, 01 November 2022 16:21:32

Admin


Koropak.co.id - Para penggemar mi pastinya sudah familiar dengan alat bantu yang satu ini: sumpit. Alat makan yang satu ini tersedia dalam berbagai bahan, mulai dari sumpit bambu atau yang sekali pakai, sumpit kayu, plastik hingga yang berbahan logam.

Namun, kendati sudah familiar, masih banyak orang yang belum tahu sejarahnya. Meskipun penduduk Asia, seperti Jepang, Korea Selatan, Vietnam, termasuk Indonesia sudah terbiasa menggunakan sumpit, alat ini ternyata disebut-sebut berasal dari Tiongkok.

Sumpit diduga sudah ada sejak zaman Neolitik, tepatnya sekitar 5.000 tahun Sebelum Masehi. Pendapat tersebut bermula dari ditemukannya dua ribu jenis benda arkeologi, dengan 42 jenis di antaranya berbentuk batang berukuran panjang 9,2 s.d. 18,5 sentimeter, dengan diameter 0,3 s.d. 0,9 sentimeter.

Benda yang diduga sumpit itu terbuat dari tulang binatang dan ditemukan di sebuah situs arkeologi Longqiuzhang, daerah Gaoyu, Provinsi Jiangsu, dalam kegiatan ekskavasi yang dilakukan selama 1993 s.d. 1995-an.

Menurut cerita, sumpit kayu pertama kalinya dibuat oleh pendiri Dinasti Xia, Da Yu pada 2011 s.d. 1600 tahun Sebelum Masehi. Kala itu, ia tengah bersiap untuk menghadapi banjir besar. Menjelang waktu makan, Da Yu pun mematahkan ranting dan menjadikannya sebagai alat makan.



Baca: Sumpit, Cara Raja Pamerkan Gaya Hidup Mewah


Ada juga kisah lainnya yang berasal dari masa Raja Zhou pada 1105 s.d. 1046. Saat itu, raja terakhir Dinasti Shang itu menggunakan sumpit gading untuk menyantap makanannya. Raja Zhou sengaja menggunakan sumpit gading untuk menggambarkan gaya hidup mewah dirinya bersama dengan keluarganya.

Sejak saat itu, sumpit akhirnya menjadi alat makan yang penting untuk digunakan bersamaan dengan mulai banyaknya makanan berbahan dasar tepung, seperti mi, dimsum, dan kue dadar yang dibuat.

Dalam bahasa Cina Klasik, sumpit disebut juga dengan zhu yang terdiri dari bambu dan memiliki karakter membantu. Setelah itu, sumpit pun akhirnya identik terbuat dari bambu. 

Dalam kebudayaan Cina, sumpit tidak hanya digunakan sebagai alat makan saja, melainkan juga dijadikan sebagai simbol budaya. Bahkan sumpit tersebut sering dijadikan sebagai hadiah pernikahan, tanda cinta pasangan, dan harapan bahagia bagi pengantin.

Pada masa Dinasti Song abad ke-14, penggunaan sumpit menyebar luas di daratan Cina. Hal itu dibuktikan dengan digunakannya sumpit dalam berbagai kesempatan jamuan dan makan sehari-hari.

Di sisi lain, sumpit sudah menjadi bagian penting dalam budaya tradisi komunal makan meja  bundar. Pada abad ke-7, sumpit mulai digunakan masyarakat Jepang hingga menyebar di masyarakat Korea.



Baca juga: Antara Sendok, Garpu dan Pisau, Mana yang Lebih Dulu?


Bongkar Masa Lalu Bakal Calon Presiden: Anies Baswedan

Koropak.co.id, 27 October 2022 20:12:38

Admin

 

Koropak.co.id - Pelaksanaan Pilpres 2024 masih terbilang jauh. Namun sejumlah nama sudah memenuhi ruang-ruang publik. Bukan cuma wara-wiri di televisi, tapi sudah pasang gaya di baliho yang menyasar hingga ke kampung. Satu di antaranya adalah Anies Baswedan.

Ketenaran pria kelahiran Kuningan, Jawa Barat, pada 7 Mei 1969, itu tak diragukan lagi. Beragam jabatan penting pernah diembannya. Yang paling anyar adalah menjadi Gubernur Jakarta. Sebelumnya, ia juga dipercaya menakhodai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 

Jauh sebelum meraih dua jabatan penting itu, Anies lama bergerak di dunia pendidikan. Ia memang lahir dan besar di tengah keluarga pendidik. Ayahnya, Rasyid Baswedan, pernah menjadi Wakil Rektor Universitas Islam Indonesia. Sedangkan ibunya, Aliyah, merupakan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta.

Tak heran, sejak kecil ia ditempa dengan pendidikan formal hingga melanglang buana ke negeri orang dan meraih gelar doktor. Jiwa kepemimpinannya sudah ditempa sejak SMP. Saat menimba ilmu di SMPN 5 Yogyakarta, Anies aktif di organisasi siswa dan dipercaya menjadi ketua panitia tutup tahun di sekolahnya. 

Begitupun saat duduk di bangku SMA. Pada 1985, saat mengikuti pelatihan kepemimpinan bersama 300 ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), Anies dipilih menjadi ketua OSIS seluruh Indonesia. 

Pun saat masih di SMA, pada 1987, Anies terpilih menjadi peserta program pertukaran pelajar siswa Indonesia - Amerika. Ia menimba ilmu dan mendapat banyak pengalaman selama satu tahun belajar di Negeri Paman Sam itu.

Usai melepas seragam putih abu, Anies masuk ke Fakultas Ekonomi di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Di kampus ini ia aktif dalam organisasi mahasiswa dan jiwa kepemimpinannya semakin terasa saat menjadi ketua Senat UGM pada 1992.

Beres kuliah di UGM, Anies mendapatkan beasiswa untuk kuliah S2 di University of Maryland Amerika Serikat, dan dengan program serupa meraih gelar doktor di Northern Illinois University, Amerika Serikat.

Lantaran tidak punya biaya untuk kembali ke Indonesia, usai menuntaskan gelar dokternya pada 2004, Anies sempat bekerja menjadi manajer riset sebuah asosiasi perusahaan elektronik di Chicago. 

Baginya, urusan penelitian memang bukan hal asing. Setelah menyelesaikan S1-nya di UGM, anak sulung tiga bersaudara itu menjadi peneliti dan koordinator proyek di Pusat Antar Universitas Studi Ekonomi UGM.

Begitupun sepulang dari Amerika. Aktivitas Anies tidak terlepas dengan penelitian, hingga pada 2005 menjadi Direktur Riset The Indonesian Institute, sebuah organisasi yang berfokus pada riset dan analisa kebijakan publik.



Baca: Begini Penilaian Gerindra-NasDem DKI Jakarta Soal Deklarasi Capres Anies Baswedan


Dua tahun kemudian, 2007, pada usianya yang masih 38 tahun, Anies dipercaya menjadi rektor Universitas Paramadina, sehingga saat itu menjadi rektor termuda di Indonesia. Salah satu gebrakannya di Universitas Paramadina adalah mengadakan mata kuliah antikorupsi, mulai teori sampai laporan investigasi tentang korupsi.

Kecerdasaannya bukan saja diakui di Indonesia, tapi juga di luar negeri. Pada 2008, majalah asal Amerika, Foreign Policy, memasukkan Anies ke dalam daftar 100 intelektual dunia, dan merupakan satu-satunya figur dari Indonesia dan Asia Tenggara.

Hal serupa dilakukan majalah Foresight yang terbit di Jepang pada April 2010. Anies terpilih sebagai satu dari 20 tokoh yang diprediksi akan mengubah dunia dalam 20 tahun ke depan. Di tahun yang sama, Royal Islamic Strategic Centre, Yordania, menempatkan Anies sebagai salah satu dari 500 orang di dunia yang dianggap sebagai muslim berpengaruh.

Suami Fery Farhati Ganis dan ayah empat anak itu mulai terjun ke dunia politik saat mengikuti konvensi calon Presiden dari Partai Demokrat pada 2013. Setahun kemudian, ia menjadi juru bicara pasangan Jokowi-JK pada Pilpres 2014.

Lantaran itu pula ia ditunjuk Presiden Jokowi untuk menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Namun, jabatannya itu hanya bertahan sekitar dua tahun. Pada Juli 2016, Anies harus melepas jabatannya, lantaran masuk dalam daftar menteri yang dirombak.

Kendati begitu, perjalanan politiknya tidak lantas terhenti. Anies bersama Sandiaga Uno maju dalam Pilgub DKI Jakarta, dan memang suara terbanyak. Pasangan tersebut dilantik pada 16 Oktober 2017 dan Anies merampungkan amanahnya pada 16 Oktober 2022.

Kini, hampir semua orang tahu siapa Anies Baswedan. Namun, bisa jadi belum banyak yang tahu tentang sepak terjangnya di masa lalu. Salah satunya adalah menjadi berkarya di TVRI Yogyakarta. Saat usianya masih 20 tahun, tepatnya pada 1989, ia menjadi pewawancara dalam program "Tanah Merdeka" yang menghadirkan tokoh-tokoh ternama.

Bukan hanya itu. Anies juga pernah menjalankan pekerjaan serupa, yakni menjadi presenter program "Save Our Nation" di Metro TV pada 2010. Di tahun yang sama, ia mendirikan Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar dan mengirimkan para pengajar muda berkualitas ke daerah-daerah terpencil.

Gerakan lainnya adalah menginisiasi program Indonesia Menyala dengan menggerakkan ratusan orang dan institusi untuk mengirimkan buku dan membentuk perpustakaan di daerah-daerah. Semangat gerakan itu adalah menyalakan Indonesia dengan ilmu-ilmu pengetahuan.

Kini, Anies Baswedan menjadi salah satu tokoh yang digadang-gadang menjadi bakal calon Presiden Indonesia. Selain dia, ada nama-nama lain yang punya peluang serupa, di antaranya Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo, Puan Maharani dan banyak tokoh lainnya.



Baca juga: Antara Goweser dan Empat Tahun Jabatan Anies Baswedan


Rahmah El Yunusiyah, Berjuang Demi Terang Martabat Perempuan

Koropak.co.id, 19 October 2022 17:09:53

Admin


Koropak.co.id - Perempuan yang satu ini memang tidak setenar Raden Ajeng Kartini yang disebut-sebut sebagai tokoh emansipasi wanita. Namun, kiprahnya dalam membebaskan kaum hawa dari belenggu kebodohan tak usah diragukan. Dunia sudah mengakuinya. Hingga sekarang mercusuar perjuangannya masih bersinar dan terus menebar cahaya ilmu.

Dia adalah Rahmah El Yunusiyah. Perempuan kelahiran Padang Panjang, Sumatra Barat, 29 Desember 1900, itu merupakan pendiri Diniyah Putri, pesantren khusus perempuan pertama di Indonesia. 

Sekolah tersebut dirintis Rahmah kala umurnya masih 23 tahun, tepatnya pada 1 November 1923, dan sampai saat ini masih beroperasi. Di kala negeri ini belum merdeka, saat penjajahan mencengkram sadis bumi pertiwi, Rahmah El Yunusiyah bergerak nyata dalam membebaskan kaum perempuan dari keterbelakangan. 

Di usianya yang masih muda, putri pasangan Muhammad Yunus dan Rafi’ah itu tumbuh menjadi perempuan muda yang berbahaya. Dikatakan berbahaya lantaran gerak-geriknya mengancam pemerintah kolonial, sehingga dijuluki ibu pasukan ekstrimis. Bukan saja di era kolonial Belanda, saat Jepang berkuasa pun sama. Prinsip dan perjuangan Rahmah El Yunusiyah tidak goyah.

Rahmah dengan tegas menolak tawaran bantuan dari kolonial Belanda, lantaran ogah didikte. Ia tidak mau sekolah yang didirikannya berada di bawah pengawasan Belanda dan organisasi manapun, karena ingin bebas dari kepentingan politik apapun.

Satu-satunya yang menjadi pijak gerakannya cuma ajaran Islam. Apapun yang dilakukan, termasuk membela Tanah Air, harus berlandaskan iman sebagai wujud pengabdian kepada Allah Subhanahu wata'ala.

Rahmah pun menolak peraturan Belanda tentang Ordonansi Sekolah Liar yang bertujuan membatasi pendidikan bagi pribumi. Ia menentang dan enggan mendaftarkan sekolahnya ke pemerintah kolonial. 

Akibatnya, ia dibawa ke pengadilan dan didenda seratus gulden. Sekolah Diniyah Putri miliknya juga digeledah, dan tiga gurunya dilarang mengajar. Namun, perlakuan kolonial itu tidak lantas memadamkan api perjuangannya.

Spektrum pergerakan Rahmah malah lebih luas. Bukan hanya bergerak di bidang pendidikan, ia juga terlibat dalam gerakan-gerakan yang mengancam kolonial. Dua di antaranya menjadi pelopor Tentara Keamanan Rakyat di Sumatra Barat dan Sabil Muslimat.

Ia juga aktif dalam Anggota Daerah Ibu yang bergerak di bidang sosial. Di saat masyarakat mengalami kesulitan lantaran dampak perang Asia Timur Raya melawan Sekutu, Rahmah bersama Anggota Daerah Ibu bergerak mengumpulkan makanan dan pakaian. Mereka mengumpulkan beras dan segala hal yang bisa diberikan kepada masyarakat.

Dalam kongres perempuan Indonesia di Batavia pada 1935, Rahmah El Yunusiyah yang mewakili Serikat Kaum Ibu Sumatra, nyaring menyuarakan penggunaan jilbab bagi kaum muslimah. Sikapnya tidak berubah. Di manapun berada, dia selalu memperjuangkan prinsip-prinsip hidup yang berlandaskan ajaran agama. 



Baca: Kisah Kartini yang Diyakini Sudah Mengenal Islam Sejak Kecil


Di masa penjajahan Jepang pun begitu. Ia berdiri paling depan dalam membela martabat kaum perempuan. Ia misalnya lantang menetang rumah prostitusi yang menjadikan perempuan-perempuan Indonesia sebagai pemuas berahi para tentara. Jepang akhirnya menutup semua rumah prostitusi di Sumatra Barat.

Lantaran sikapnya yang tidak kenal kompromi, saat terjadi Agresi Militer Belanda, Rahmah yang kala itu memimpin Tentara Keamanan Rakyat Padang Panjang ditangkap Belanda pada 7 Januari 1949.

Bahkan, Rahmah pun berseberangan sikap dengan Pemerintah Indonesia. Ia menentang Presiden Soekarno yang merangkul orang-orang Partai Komunis Indonesia. Rahmah lantas bergabung dengan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang didirikan Syafruddin Prawiranegara di Bukittinggi pada 1958.

Lantaran dianggap kelompok pemberontak, Pemerintah Republik Indonesia bergerak untuk menumpas PRRI. Kendati sempat masuk keluar hutan untuk menyelamatkan diri dari kejaran tentara Indonesia, Rahmah tertangkap pada Agustus 1961.

Padahal, sebelumnya pada Juni 1957, Rahmah diundang ke Universitas Al-Azhar Mesir dan diberi gelar Syekhah, setara dengan doktor honoris causa. Gelar kehormatan itu baru pertama kali diberikan Al-Azhar kepada seorang perempuan. 

Kedatangan Rahmah ke Al-Azhar mencatat sejarah baru di salah satu kampus tertua di dunia itu. Setelah sekitar 900 tahun berdiri, Al-Azhar tidak membuka ruang pendidikan bagi perempuan. 

Namun, sejak Imam Besar Al-Azhar, Abdurrahman Taj, pada 1956 berkunjung ke Padang Panjang dan melihat sekolah yang didirikan Rahmah, ia terinspirasi untuk melakukan hal yang sama di Al-Azhar. Lantas, sejak 1958, setelah ratusan tahun berdiri, Al-Azhar mulai membuka fakultas khusus perempuan.

Mercusuar perjuangan Rahmah bukan hanya menyinari Padang Panjang, tapi juga sampai ke negeri orang. Namun, derap perjuangan Rahmah El Yunusiyah terhenti setelah jantungnya tak lagi berdetak. 

Ia meninggal dunia pada 26 Februari 1969 dalam salah satu momen yang dirindukan setiap muslim. Rahmah mengembuskan napas terakhirnya saat berwudu menjelang salat Magrib. Jenazahnya dikebumikan di kompleks sekolah yang ia dirikan.

Sejarah boleh saja mencatat namanya tidak seharum Kartini, namun sepak terjang Rahmah El Yunusiyah dalam membebaskan kaum hawa dari belenggu kebodohan terasa nyata hingga sekarang. Saat ini Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang telah berkembang pesat dengan memiliki lima program pendidikan, mulai Taman Kanak-Kanak hingga sekolah tinggi.



Baca juga: Umar Kayam, Kolumnis Pemeran Sosok Bung Karno dalam Film "Pengkhianatan G30S/PKI"


Kartono, Sang Alif dengan Ilmu Kantong Bolong (#Habis)

Koropak.co.id, 14 October 2022 20:32:57

Admin


Koropak.co.id - Lama mengembara di Eropa dan bekerja di tempat-tempat bergengsi, Raden Mas Panji Sosrokartono pulang ke Tanah Air dan memilih jalan hidup yang berbeda. Putra Bupati Jepara Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, kelahiran 10 April 1877, itu meniti dunia yang bertolak belakang dengan kehidupan sebelumnya.

Selama di Eropa, kakak kandung Raden Ajeng Kartini itu berkarier di banyak tempat, mulai jadi wartawan The New York Herald, atase di kedutaan besar Perancis, hingga jadi penerjemah bahasa di Persatuan Bangsa-Bangsa.

Pada 1925, Sosrokartono pulang ke Tanah Air dan pada 1927 memilih tinggal di Bandung. Salah satu aktivitas yang dilakukannya di Kota Kembang adalah membuka Balai Darussalam. Di tempat itu, Sosrokartono menapaki jalan spiritual dan membuka praktik pengobatan.

Ia mengabdikan diri untuk menolong orang-orang sakit. Uniknya, cara pengobatannya tidak seperti yang dilakukan para dokter. Ia hanya menggunakan air putih sebagai obat untuk segala macam penyakit. Lantaran itu ia dikenal dengan sebutan dokter cai atau dokter air. Bukan hanya warga Bandung, pasien-pasiennya berasal dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk orang-orang Eropa.

Sejak membuka Balai Darussalam, Kartono memang menekuni dunia kebatinan. Gerak dan pemikirannya tercurah pada jalan spiritual. Salah satu aktivitasnya adalah menyulam huruf alif dalam selembar kain yang dianyam dengan benang.

Huruf alim itu dibuatnya tidak asal-asalan. Ia menyulamnya sambil tirakat, serta kainnya tidak boleh disampirkan begitu saja seperti menjemur pakaian. Dengan memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala, sulaman alif dan air putih itu digunakan untuk mengobati orang-orang.

Pemilihan huruf alif itu bukan tanpa alasan. Bagi Sosrokartono, huruf pertama dalam abjad bahasa Arab itu merupakan lambang tegak lurus yang mencerminkan kejujuran, keteguhan, kekukuhan, dan keyakinan kepada Allah Subhanahu wata'ala. Lantaran itulah ia dijuluki Sang Alif.



Baca: Petualangan Kho Ping Hoo, Tukang Obat Jadi Penulis Cerita Silat


Seadainya mau, Kartono bisa saja memilih jalan hidup yang dipenuhi kemewahan. Sebagai putra bangsawan dan punya kecerdasan di atas rata-rata, ia bisa mendapatkan kekayaan berlimpah dengan cara mudah. Tapi itu tidak dilakukannya. 

Salah satu yang menjadi spirit gerakannya adalah ilmu kantong bolong. Ia mencurahkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk membantu sesama tanpa memikirkan imbalan. Itu menjadi jalan pengabdiannya sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan.

Dalam tesis yang ditulis Minanur Rohman Mahrus Maulana pada 2017, dijelaskan, ajaran ilmu kantong bolong tidak membuka ruang mementingkan diri sendiri secara berlebihan. Setiap manusia dituntut selalu menolong sesama tanpa pamrih.

Inti dari ilmu kantong bolong adalah mengosongkan diri pribadi dari pamrih dalam menolong sesama manusia. Sosrokartono tidak hanya sadar bahwa Tuhanlah yang harus disembah, tapi juga meyakini bahwa seluruh jiwa raga dipersembahkan kepada Tuhan.

Mereka yang melakukan perbuatan tanpa pamrih akan dijauhkan dari rasa takut. Batinnya akan selalu merdeka. Jalan itulah yang dipilih Sosrokartono. Ia melakukan semuanya kosong dari pamrih, tidak mengharap suatu apapun, hanya menjalankan pengabdian kepada Allah Subhanahu wata'ala.

Tak heran, di akhir hidupnya ia tidak meninggalkan banyak harta. Salah satu "peninggalannya" cuma selembar kain bersulam huruf alif. Sosrokartono menghembuskan napas terakhirnya pada Jumat, 8 Februari 1952, di Bandung dan dikebumikan di Jawa Tengah, tepatnya di kompleks makam keluarga Sedomukti, Kudus.



Baca juga: Kala Ismail Marzuki Jadikan Musik Sebagai Alat Perjuangan


Kartono, dari Wartawan di Eropa Jadi Penerjemah PBB (#2)

Koropak.co.id, 07 October 2022 20:20:05

Admin


Koropak.co.id - Perundingan antara Jerman dan Perancis itu berlangsung sangat tertutup. Hanya pihak-pihak tertentu yang tahu, karena dilakukan di atas gerbong kereta api yang diparkir di tengah hutan. Seorangpun tidak ada yang boleh menyebarluaskan hasilnya. Siapa yang melanggar akan ditembak mati tanpa melalui proses pengadilan.

Ancaman itu tidak membuat nyali Raden Mas Panji Sosrokartono menjadi ciut. Putra ketiga bupati Jepara Adipati Ario Sosroningrat, yang juga kakak kandung Raden Ajeng Kartini itu mendapatkan informasi yang sangat rahasia tersebut. 

Kartono yang saat itu bekerja sebagai wartawan The New York Herald biro Eropa memperoleh kabar rahasia tentang Jerman yang menyerah kepada Perancis. Ia lantas memuatnya dalam surat kabar asal Amerika Serikat itu.

Lantaran berita tersebut, seperti ditulis Minanur Rohman Mahrus Maulana dalam tesisnya yang ditulis pada 2017, nama Sosrokartono semakin melejit dan mendapat apresiasi tinggi dari kalangan jurnalis internasional.

Bukan hanya para wartawan, banyak orang penting di Eropa yang mengapresiasi kecerdasan Sosrokartono. Itu di antaranya terbukti dengan dipilihnya Sosrokartono menjadi juru bahasa tunggal blok Sekutu pada tahun 1918. 

Sosrokartono memang punya kecerdasan dalam penguasaan banyak bahasa. Bukan satu dua atau tiga, ia mengusai puluhan bahasa asing, termasuk bahasa Slavia dan Rusia. Karena itulah ia ditunjuk menjadi juru bicara setelah melalui proses seleksi yang ketat.

Sebagai juru bicara, ia bertugas menjelaskan berbagai hal kepada banyak pihak. Namun, lantaran harus menyampaikan informasi sesuai dengan kepentingan Sekutu, nuraninya berontak. Apalagi, tidak semua informasi yang disebarluaskan itu benar. Sosrokartono mengundurkan diri. Ia memutuskan berhenti jadi juru bicara.



Baca: Ajip Rosidi, Sastrawan Sunda yang Serba Bisa


Tak lama setelah itu, pada 1919, Sosrokartono dipilih menjadi Atase pada kedutaan besar Perancis di ibukota kerajaan Belanda di Den Haag. Ia menjadi satu-satunya orang Jawa yang mendapatkan kedudukan tinggi di kedutaan tersebut.

Ia bertugas melakukan komunikasi dengan banyak pihak mewakili Pemerintah Perancis. Namun lantaran yang dilakukannya bukan untuk mewakili kepentingan bangsa Nusantara yang sedang dijajah Eropa, nurani Kartono kembali berontak. Ia mengundurkan diri sebagai atase kedutaan dan merencanakan pulang ke Tanah Air.

Namun, rencananya pulang ke Indonesia tidak bisa langsung dijalankan. Ia diangkat menjadi juru bahasa di Liga Bangsa-Bangsa yang berkedudukan di kota Genewa Swiss. Di tempat barunya itu, Sosrokartono mulai bergaul dengan diplomat-diplomat dan negarawan-negarawan dari banyak negara di dunia. 

Dibentuknya Liga Bangsa-Bangsa yang kemudian berganti nama jadi Persatuan Bangsa-Bangsa pada 1921 adalah untuk menciptakan perdamaian dunia. Namun, pada kenyataannya tidak begitu. Ada beberapa negara yang mendorong terjadinya perang, dan menjadikan PBB sebagai alat bagi negara-negara kuat untuk menguasai dunia.

Lagi-lagi, nurani Sosrokartono berontak. Kendati jabatannya sudah mapan, ia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai penerjemah di PBB. Setelah lama mengembara di negara-negara Eropa, Sosrokartono akhirnya pulang ke Tanah Air pada 1925.

Setelah menemui ibu dan saudara-saudaranya, termasuk ziarah ke makam ayahnya dan Kartini, Sosrokartono memutuskan tinggal di Bandung. Salah satu aktivitas yang dilakukannya di Kota Kembang itu adalah membuka Daroes Salam atau rumah yang damai. Di tempat itu, Sosrokartono menapaki jalan spiritual dan membuka praktik pengobatan.



Baca juga: Girang Saini K.M. Saat Puisi Pertama Dimuat dalam Majalah


Kartono, Si Jenius dari Timur Penguasa Puluhan Bahasa (#1)

Koropak.co.id, 01 October 2022 19:03:44

Admin


Koropak.co.id - KARTONO. Begitulah judul yang dibuat dalam sebuah tulisan pendek yang diunggah di salah media sosial. Saya lupa lagi nama akunnya. Tapi judulnya memang sependek itu. Semua ditulis dalam huruf kapital. Semula saya biasa saja saat melihat tulisan tersebut. Kurang tertarik untuk membacanya lebih lanjut, dan sempat mau menutupnya.

Tapi, saat membaca baris kelima yang menyebutkan bahwa beliau adalah kakak kandung Raden Ajeng Kartini, saya mulai tersenyum sendiri. Dikira bercanda, karena namanya cuma beda satu huruf. Ternyata oh ternyata, itu serius.

Setelah membaca tuntas tulisan pendek itu, seketika saya merasa bersalah, kenapa baru tahu sekarang. Ada beberapa informasi tentangnya, dan itu sangat luar biasa. Dua di antaranya adalah menguasai puluhan bahasa asing dan menjadi wartawan kala perang dunia pertama berkecamuk.

Lantaran tulisan itu terbilang pendek, saya langsung berselancar di media daring untuk mencari tahu lebih dalam. Dan ternyata benar, Kartono bukanlah sembarang orang. Nama lengkapnya adalah Raden Mas Panji Sosrokartono.

Ada banyak informasi tentang beliau yang layak diketahui banyak orang. Untuk itu, kami akan mengolahnya dalam video berseri, mulai silsilah keluarga sampai sepak terjangnya untuk kedaulatan bumi pertiwi.

Lahir pada 10 April 1877 di Mayong Jepara, Raden Mas Panji Sosrokartono merupakan anak ketiga dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara periode 1880 s.d. 1905. Dari pernikahan dengan istri keduanya, Ngasirah, bupati Sosroningrat punya delapan anak, dua di antaranya adalah Kartono dan Kartini.

Dalam tesis Minanur Rohman Mahrus Maulana yang ditulis pada 2017 dijelaskan, selain berasal dari keluarga bangsawan, Sosrokartono juga memiliki kecerdasan yang luar biasa. Pada usia delapan tahun, ia masuk sekolah rendah Belanda bernama ELS di Jepara.

Sebenarnya, sekolah tersebut khusus untuk anak-anak keturunan Belanda dan ada kuota terbatas untuk anak-anak bangsawan. Sosrokartono adalah salah satunya.

Tujuh tahun menimba ilmu di ELS, ia lulus dengan nilai bahasa Belanda yang baik, sehingga bisa melanjutkan sekolah di Hogere Burger School (HBS) di Semarang. Waktu itu HBS hanya ada di tiga tempat, yaitu di Batavia, Surabaya, dan Semarang. Sosrokartono beruntung bisa sekolah di sana.

Apalagi, selama sekolah di HBS Semarang, ia tinggal di keluarga Belanda, sehingga bisa belajar banyak hal, mulai menambah kekayaan khazanah bahasa hingga memahami cara hidup orang Belanda.

Setelah lima tahun sekolah di HBS Semarang, pada 1897 Sosrokartono lulus dengan nilai yang memuaskan. Karangannya dalam bahasa Jerman mendapat apresiasi bagus, bahkan melebihi siswa lain yang merupakan anak-anak Belanda.

Kecerdasan Sosrokartono membuat decak kagum banyak orang. Ia lantas disarankan untuk melanjutkan pendidikan ke Belanda. Semula pihak keluarga keberatan, namun akhirnya ia diizinkan berangkat ke sana saat usianya masih 20 tahunan.

Salah satu orang yang mendorongnya kuliah di Belanda adalah Ir. Heyning, seorang insinyur berkebangsaan Belanda. Ia pun menyarankan Sosrokartono untuk masuk Sekolah Tinggi Teknik di Delft Jurusan Pengairan. 



Baca: Girang Saini K.M. Saat Puisi Pertama Dimuat dalam Majalah


Saran itu bukan tanpa alasan. Setelah kelak menuntaskan kuliahnya, Sosrokartono diharapkan bisa membantu meningkatkan produksi pertanian di Jepara, termasuk mengatasi ancaman krisis air yang diperkirakan akan terjadi di wilayah tersebut.

Sosrokartono menuruti saran itu. Ia kuliah di bidang teknik sipil pengairan. Namun, keberadaannya di sana tak bertahan lama. Setelah dijalani, ia merasa kurang cocok dengan jurusan tersebut. Minat belajarnya lebih tertumpu pada sastra.

Setelah dua tahun menimba ilmu di Polytechnische School te Delft, ia memutuskan keluar dan memilih pindah ke Universitas Leiden, masuk Jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur. Pilihannya pada sastra itu sesuai dengan minatnya. Sejak sekolah di HBS Semarang, Sosrokartono memang unggul dalam bidang bahasa dan sastra.

Setelah lulus dari Universitas Leiden pada 1908, Sosrokartono meraih gelar Sarjana Bahasa dan Sastra Timur. Kendati sudah menyelesaikan agenda akademiknya, ia tidak langsung pulang ke Tanah Air. Ia masih ingin menimba pengalaman yang lebih banyak di bumi Eropa.

Salah satu aktivitasnya selama di sana adalah menjadi wartawan The New York Herald. Kemampuannya dalam berbahasa asing menjadi pintu masuk baginya bekerja di surat kabar yang bermarkas di Amerika Serikat itu.

Sosrokartono diketahui mengusai lebih dari 30 bahasa, dan sebagian orang Eropa memberinya julukan Si Jenius dari Timur. Untuk diterima di The New York Herald, ia harus melalui satu tes dengan memadatkan satu tulisan panjang menjadi berita pendek berjumlah kisaran 30 kata.

Berita itu harus ditulis dalam empat bahasa, yaitu Spanyol, Rusia, Perancis, dan Inggris. Sosrokartono berhasil menuntaskan tugas itu, dan membuatnya menjadi 27 kata hingga diterima jadi wartawan. Agar mempunyai akses luas selama liputan di medan perang, ia lantas diberi pangkat mayor.

Salah satu prestasi terbaik Sosrokartono saat menjadi wartawan adalah menyebarluaskan hasil perundingan antara Jerman dan Perancis. Padahal, perundingan itu sifatnya sangat rahasia. Jangankan isi kesepakatan, tempatnya pun sangat tertutup dan tidak banyak orang tahu.

Dalam perundingan yang dilakukan di atas gerbong kereta api itu diketahui bahwa Jerman menyerah kepada Perancis. Tidak dijelaskan dari mana dan bagaimana mendapatkan informasi tersebut, Sosrokartono menyiarkan hasil perundingan tersebut dalam The New York Herald.

Lantaran berita itu, nama Sosrokartono semakin melejit dan mendapat apresiasi tinggi dari kalangan jurnalis internasional.



Baca juga: Ajip Rosidi, Sastrawan Sunda yang Serba Bisa


Baubau Punya Benteng Terluas di Dunia, Campur Putih Telur

Koropak.co.id, 24 September 2022 16:48:18

Admin


Koropak.co.id - Jejak perjalanan panjang Nusantara terekam dalam banyak peninggalan. Salah satunya adalah Benteng Keraton Buton yang berada di Desa Wisata Limbo Wolio, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. Diperkirakan, benteng tersebut dibangun abad ke-16 pada masa Pemerintahan Sultan Buton ke III bernama La Sangaji atau Sultan Kaimuddin. 

Selain menjadi pembatas antara kompleks istana dengan perkampungan masyarakat, pada masanya benteng tersebut berfungsi sebagai pertahanan. Pada September 2006, Museum Rekor Indonesia dan Guiness Book Record menetapkan benteng tersebut sebagai benteng pertahanan terluas di dunia. Luasnya mencapai 23, 375 hektare dengan panjang keliling 2.740 meter. 

Uniknya, Benteng Keraton Buton dibangun dengan menggunakan susunan batuan karst yang direkatkan pakai campuran putih telur, pasir, dan kapur. Di dalamnya ada 12 pintu gerbang yang disebut lawa, ada 16 tempat meriam, memiliki 4 boka-boka atau bastion berbentuk bulat, batu tondo atau tembok keliling, parit, dan persenjataan lainnya.

Meriam yang berada di sana merupakan bekas persenjataan Kesultanan Buton peninggalan Portugis dan Belanda. Adapun lawa berfungsi sebagai penghubung keraton dengan kampung-kampung di sekelilingnya.

Kendati usianya sudah ratusan tahun dan lokasinya berada di puncak bukit dengan lereng terjal, benteng tersebut sampai sekarang masih terjaga dengan baik. Lantaran berada di ketinggian sekitar 100 mdpl, dari lokasi itu pengunjung bisa menikmati pemandangan kota Baubau dan hilir mudik kapal di Selat Buton.



Baca: Di Sana Ada Benteng Terluas di Dunia, di Baubau


Selain benteng, di kawasan tersebut juga terdapat beberapa situs sejarah, seperti kasulana tombi atau tiang bendera Kesultanan Buton, batu popaua yang berfungsi sebagai tempat pelantikan sultan, makam para raja dan sultan, baruga atau balai pertemuan, gudang peluru, dan jangkar kapal VOC.

Ada pula Masjid Agung Kesultanan Buton yang dibangun pada pemerintahan Sultan Buton VI, Lakilaponto atau Sultan Murhum Kaimuddin Khalifatul Khamis. Di dalamnya ada 17 anak tangga yang menandakan jumlah rakaat salat, kemudian bedug sepanjang 99 centimeter yang melambangkan asmaul husna, serta 33 pasak yang sesuai dengan jumlah tasbih.

Selain itu, ada pula rumah-rumah penduduk dengan arsitektur khas Buton yang dihuni oleh masyarakat setempat. Hal lain yang juga tak kalah menarik adalah tradisi atau budaya yang hingga saat ini masih lestari.

Salah satunya adalah pekande-kandea yang menjadi tradisi menyambut tamu. Dalam penyambutan itu, para tamu akan disuapi para gadis dengan makanan yang telah disediakan. Di masa kesultanan, selain sebagai penyambutan para prajurit yang pulang dari medan perang dengan kemenangannya, tradisi tersebut juga menjadi ajang pencarian jodoh.



Baca juga: Istana Maimun, Jejak Kejayaan Medan dan Legenda di Masa Lalu


Girang Saini K.M. Saat Puisi Pertama Dimuat dalam Majalah

Koropak.co.id, 16 September 2022 17:09:44

Admin

 

Koropak.co.id - Saini Karnamisastra atau dikenal dengan nama Saini K.M. merupakan penulis produktif yang telah membuat banyak karya. Selain menulis puisi dan naskah drama, ia juga membuat cerita pendek, novel, dan karya terjemahan. 

Siapa sangka, ternyata ia punya pengalaman menarik saat mulai menekuni dunia sastra. Pria kelahiran Sumedang, 16 Juni 1938, yang sudah jatuh cinta pada puisi sejak kecil itu, kegirangan ketika puisi pertamanya dimuat dalam majalah Siasat, 1960. 

Putra kedua dari sepuluh bersaudara itu terkejut dan girang saat menerima wesel yang berisi honor dari puisinya. Hal itu membuatnya semakin semangat berkarya. Bukan semata lantaran honornya, tapi apresiasi atas karyanya.

Setelah itu ia semakin produktif menulis. Ada banyak karya yang telah dibuatnya, mulai naskah drama hingga terjemahan. Pangeran Geusan Ulun, Pangeran Sunten Jaya, Ben Go Tun, Siapa Bilang Saya Godot, Restoran Anjing, Egon, Kerajaan Burung, dan Sebuah Rumah di Argentina adalah beberapa naskah drama yang dibuatnya di rentang waktu 1963 s.d. 1980.

Sedangkan Nyanyian Tanah Air (1968), Rumah Cermin (1979), Sepuluh Orang Utusan (1989), dan Mawar Merah (2001) merupakan kumpulan puisi yang dibuat Saini. Ia juga menulis cerita pendek Anting Perak (1967), dan novel Purbaya (1976). 



Baca: Girang Saini K.M. Saat Puisi Pertama Dimuat dalam Majalah


Ada pula karya terjemahan, seperti Percakapan dengan Stalin (1963, karya Milovan Djilas) dan Bulan di Luar Penjara (1965, karya Ho Tji Minh). Sementara karya nonfiksinya bisa dibaca dalam Beberapa Gagasan Teater (1981), Dramawan dan Karyanya (1985), Teater Modern dan Beberapa Masalahnya (1987), atau Puisi dan Beberapa Masalahnya (Penerbit ITB, 1993).

Selain produktif menulis, lulusan IKIP Bandung, jurusan Bahasa Inggris, itu dikenal sebagai pendiri Jurusan Teater di Akademi Seni Tari Indonesia atau sekarang Institut Seni Budaya Bandung, pada tahun 1978, dan menjadi dosen sampai direktur di perguruan tinggi tersebut.

Mulai 1988 sampai 1995 Saini bertugas sebagai Direktur Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, dan pernah menjadi anggota DPRD Jawa Barat.

Konsistensinya dalam dunia karya, ia telah mendapat banyak penghargaa. Pada 1973, ia mendapat hadiah sastra dari Dewan Kesenian Jakarta atas dramanya yang berjudul Pangeran Sunten Jaya, dan apresiasi serupa untuk beberapa karyanya. 

Selain itu, pada 1980 Saini mendapat hadiah sastra dari Badan Komunikasi Penghayatan Kesatuan Bangsa atas dramanya yang berjudul Sebuah Rumah di Argentina. Bukan hanya di Indonesia, di luar negeri juga ia mendapat apresiasi, di antaranya Hadiah Sastra Asia Tenggara 2001 (SEA Write Awards 2001) dari pemerintah Thailand atas karya Lima Orang Saksi.



Baca juga: Ajip Rosidi, Sastrawan Sunda yang Serba Bisa


Insiden di Balik Helm, Kapan Mulai Dipakai di Indonesia?

Koropak.co.id, 10 September 2022 16:24:27

Admin


Koropak.co.id - Inggris, 1935. Seorang perwira militer asal Britania Raya, Thomas Edward Laurence, mengalami kecelakaan lalu lintas. Saat melintasi jalan terjal dan menukik, lantaran terlalu kencang dan pandangannya sedikit terganggu, Laurence hampir menabrak anak-anak yang bermain di jalan. 

Sontak ia membanting setir, hingga motornya terpental cukup jauh. Akibat kecelakaan itu, Laurence menderita luka serius di bagian kepala hingga membuatnya koma dan meninggal dunia.

Lantaran kejadian itu, Huge Crains, dokter saraf yang menangani Laurence menyimpulkan ada yang tidak beres dengan perilaku pengendara sepeda motor di masa itu. Ia lantas memulai penelitian terkait dengan cedera kepala yang dialami pengendara motor hingga bagaimana upaya pencegahannya.

Setelah enam tahun melakukan pengkajian, Crains menerbitkan sebuah jurnal "Head Injuries in Motorcycle". Mulai dari sanalah seluruh konsep dan garis besar helm pertama mulai terbentuk.

Pada 1941-an, Crains merancang helm pertamanya yang terbuat dari material karet dan gabus. Selang beberapa tahun, profesor asal Carolina Selatan, Amerika Serikat, C. F. Lombard, melengkapi helm buatan Crains dengan cangkang berbahan keras di bagian dalamnya.

Sejumlah negara mulai menerapkan hukum menggunakan helm untuk pesepeda motor, termasuk di Indonesia. Penggunaan helm di Indonesia dimulai pada 1970-an yang digagas Kapolri, Jenderal Hoegeng Imam.



Baca: Tragedi Kelam Helm, Kapan Mulai Digunakan di Indonesia?


Sebelumnya, saat Kapolri Hoegeng menemani Presiden Soeharto berkunjung ke berbagai negara Eropa, ia merasa terkesan dengan ketertiban masyarakat di Eropa, khususnya dalam berlalu lintas. Ia mengamati para pemotor yang selalu menggunakan helm.

Dari kunjungannya itu, Hoegeng mendapatkan ide untuk menerapkan penggunaan helm di Indonesia. Terlebih, pada masa itu angka kecelakaan sepeda motor di Indonesia, khususnya di Jakarta, terbilang cukup tinggi. Angkanya mencapai 1.450 kecelakaan setiap bulannya.

Hoegeng bertekad, Polri harus segera melakukan langkah antisipatif dengan  menyesuaikan perkembangan zaman. Apalagi jumlah pemotor dari tahun ke tahunnya juga kian meningkat. Ia akhirnya membuat peraturan penggunaan helm di Indonesia dalam Maklumat Kapolri bertarikh 7 Agustus 1971.

Dalam maklumat itu ditegaskan, para pengendara sepeda motor wajib mengenakan helm. Ada sanksi bagi yang melanggar. Mereka yang tidak mematuhi aturan tersebut bakal dikurung tiga bulan atau dedenda sepuluh ribu rupiah.

Namun, aturan itu tidak serta merta diterima masyarakat. Mereka yang menolak berdalih ribet, tidak terbiasa, dan menyulitkan saat akan bepergian. Ada pula yang menggungat maklumat itu ke Mahkamah Agung. 

Gugatan itu di antaranya dilayangkan Asikin Kusumah Atmadja, seorang pakar hukum. Menurutnya, polisi tidak punya wewenang untuk membuat peraturan yang bersifat seperti undang-undang. Namun, Mahkamah Agung menolak gugatan tersebut, karena keselamatan masyarakat lebih utama.



Baca juga: Pelat Kendaraan; Sejak Kapan Dibuat dan Kenapa?


Makam Lemo Toraja, Lebih Tinggi Semakin Dekat dengan Tuhan

Koropak.co.id, 31 August 2022 16:18:50

Admin


Koropak.co.id - Ada 17 ribu lebih pulau di Indonesia yang dihuni sekitar 360 suku bangsa. Tak heran, di republik yang kini berusia 77 tahun ini terdapat beragam budaya dan tradisi yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lain. Tak terkecuali dalam urusan memerlakukan mayat.

Umumnya, mayat di kubur di dalam tanah, dengan atau tanpa peti, kemudian diberi batu nisan. Namun, di beberapa daerah tidak seperti itu. Di Bali, misalnya, ada upacara ngaben atau membakar jenazah yang dilakukan umat Hindu. Ngaben atau palebon merupakan ritual untuk mengembalikan roh leluhur ke tempat asalnya.

Di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, lain lagi. Di sana, tepatnya di Lemo, pemakaman dilakukan di tebing batu. Tradisi tersebut sudah berlangsung sejak 1650. Di tebing cadas itu ada sekitar 75 lubang yang dijadikan tempat pemakaman.

Jenazah disimpat dalam peti, kemudian peti itu dimasukkan ke dalam lubang batu di tebing tinggi yang sebelumnya sudah dipahat secara manual. Biasanya, satu lubang diisi oleh satu keluarga dan ditutup kayu.

Ada pula tao-tao atau patung pahat berbentuk manusia yang merupakan simbol orang yang meninggal. Namun, tidak semua lubang ada tao-tao, karena itu hanya diperuntukkan bagi kaum bangsawan dan ketua adat. Patung pahat itu berupa boneka kayu yang didandani lengkap dengan baju dan aksesori menyerupai almarhum.



Baca: Makam Lemo Toraja, Lebih Tinggi Semakin Dekat dengan Tuhan


Selain penghormatan kepada orang yang sudah tiada, masyarakat di sana percaya bahwa jika letak makamnya lebih tinggi maka yang telah meninggal dunia itu akan lebih dekat dengan Tuhan. Begitupun dengan pembuatan tao-tao yang diyakini sebagai bekal untuk menjalani kehidupan bersama dewa.

Sebagai wadah untuk menampung jiwa orang yang meninggal, tao-tao terbuat dari bahan tahan lama. Selain menggunakan kayu nangka, ada juga yang memakai bambu. Posisi tangan dari tao-tao itu ada yang menghadap ke atas dan ke bawah. Ada dua tafsir dari posisi tangan itu. Pertama, sebagai pembeda antara yang masih hidup dan yang sudah meninggal dunia. Kedua, ke atas berarti memohon, ke bawah artinya memberkati.

Selain sebagai situs yang sudah berusia lebih dari 3,5 abad, makam lemo ini merupakan destinasi wisata unik dan menarik untuk dikunjungi. Namun, ada perarturan yang harus dipatuhi saat berziarah ke kompleks pemakaman ini.

Salah satu aturannya pintu makam hanya boleh dibuka sebelum dan sesudah panen. Jika itu dilanggar, masyarakat di sana percaya akan terjadi petaka. Selain akan menyebabkan gagal panen, pelanggar bakal dikenakan sanksi berupa upacara penyembelihan beberapa ekor babi.



Baca juga: Rambu Solo, Upacara Pemakaman Unik dari Tana Toraja


Gulat Bob, Cara Warga Papua Tuntaskan Rebutan Wanita

Koropak.co.id, 27 August 2022 16:43:32

Admin


Koropak.co.id - Ada banyak tradisi unik di Indonesia. Satu di antaranya adalah Gulat Bob. Dinamakan begitu karena dimainkan di rawa atau bob, semacam lapang luas. Masyarakat Marind Anim yang hidup di daratan Kimaam, Papua, biasa melakukan seni tradisi tersebut.

Seni bukan sembarang seni, tapi ada semangat solusi di baliknya. Gulat Bob dimainkan untuk menyelesaikan suatu masalah yang berhubungan dengan masalah perempuan. Jika ada kekasih direbut lelaki lain, si pacar sebelumnya tidak terima hingga terjadi perselesihan. Para tetua adat lantas memanggil marga atau klan bersangkutan untuk menyelesaikannya dalam pertandingan Gulat Bob.

Menariknya, dalam pertandingan tersebut bukan hanya si pacar yang bergulat, tapi juga melibatkan marga atau klan bersangkutan yang akan menurunkan semua laki-lakinya yang dianggap mampu dan kuat.

Pertandingan dipimpin seorang wasit yang berasal dari marga berbeda, dan arena pertandingannya di luar kampung, tepatnya lapang rawa. Biasanya pertandingan tersebut dimainkan pada waktu sore hari.



Baca: Gulat Bob dari Kimaam Papua, Awalnya Karena Rebutan Wanita


Adapun alat yang digunakan dalam menghitung pertandingan ini adalah pelepah daun sagu. Apabila pihak sebelah kanan yang menang, maka wasit akan metik daun yang berada di sebelah kanan. Begitupun sebaliknya. Siapa yang paling banyak mendapatkan dahan daun, dia yang akan keluar sebagai juara dan berhak atas wanita tersebut.

Dulu, dalam pertandingan Gulat Bob ini, para peserta biasanya menggunakan pakaian tradisional, yaitu tempurung kelapa yang menutup kemaluan atau yang disebut dengan Kuabango. Seiring berjalannya waktu, pakaiannya diganti dengan celana karet.

Kini, pertandingan tersebut telah berubah menjadi suatu permainan masyarakat Kimaam, terkadang ditampilkan pada acara-acara tertentu. Salah satu ruh dalam permainan tersebut adalah melatih kemampuan seorang anak laki-laki menuju kedewasaan.



Baca juga: Sepak Sawut, Sepakbola Ekstrem dari Kalimantan Tengah