Berbagi Bubur Pedas, Tradisi Melayu Saat Berbuka Puasa

Koropak.co.id, 09 April 2022 12:41:16
Penulis : Eris Kuswara
Berbagi Bubur Pedas, Tradisi Melayu Saat Berbuka Puasa


Koropak.co.id - Masyarakat Kabupaten Langkat, Sumatera Utara (Sumut) memiliki menu berbuka puasa yang berbeda dengan kebanyakan orang. Bukan berbuka dengan makanan yang manis, mereka justru memilih menu makanan bercita rasa pedas.

Namanya Bubur Pedas. Ini merupakan tradisi berbuka puasa yang sudah dilakukan sejak zaman Kerajaan Deli. Bagi masyarakat Melayu, tradisi menyajikan bubur pedas ketika berbuka puasa itu memang sudah dikenal luas.

C Snouck Hurgornje dalam laporan 'Orang Aceh: Budaya, Masyarakat, dan Politik Kolonial' menuliskan, makanan yang biasanya dihidangkan untuk berbuka puasa adalah bubur (kanjil) yang terbuat dari beras dan berbagai sayuran yang diaduk rata. 

"Bubur ini dimasak oleh beberapa orangtua miskin di gampong yang nantinya akan mendapat bagian fitrah dari teungku atas jerih payahnya," tulisnya.

Dilansir dari berbagai sumber, berdasarkan sejarahnya, konon bubur pedas ini sudah ada sejak zaman Kesultanan Deli yang berdiri pada tahun 1632 Masehi di bekas wilayah Kerajaan Haru atau Aru. Wilayah Haru sendiri mendapatkan kemerdekaan dari Aceh pada tahun 1669 dengan nama Kesultanan Deli.

Pada awalnya, sajian ini merupakan makanan bagi keluarga kerajaan. Namun seiring dengan berjalannya waktu, keluarga Kesultanan Deli pun mengundang masyarakat untuk ikut menikmati sajian bubur pedas tersebut.

Tradisi inilah yang pada akhirnya menjadi wujud kebersamaan antara Kerajaan Melayu dengan rakyatnya. Bubur pedas juga seolah menjadi media bagi keluarga kerajaan untuk mengakrabkan diri dengan keadaan rakyatnya.

Di saat menyantap bubur pedas, biasanya sultan akan mendengarkan dan mengetahui keluh kesah permasalahan yang dihadapi rakyatnya. Oleh karena itulah Kesultanan Deli menjadikan bubur pedas ini sebagai makanan tradisi saat bulan Ramadan tiba.

Selain itu, ada versi lain yang menyebutkan bahwa dahulu bubur pedas dibuat karena banyaknya rakyat yang hidup dalam kesusahan. Oleh karena itulah, warga pun membuat banyak macam bahan agar bisa dimakan oleh banyak orang.

Oleh sebab itu jugalah pada saat bulan puasa tiba, bubur pedas ini biasanya akan disajikan di masjid-masjid secara gratis sebagai menu berbuka puasa. Bubur ini biasanya akan dimasak setelah salat zuhur secara bergotong royong.

Peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh, Fariani dalam artikelnya 'Bubur Pedas Makanan Khas Melayu di Bulan Ramadan' menuliskan, tradisi makan bubur pedas ini dapat membina kerjasama dan gotong royong antar umat Islam. Hal itu dikarenakan bubur ini juga dimasak dan dimakan bersama-sama, sehingga kebersamaan akan semakin terjaga.



Baca : Asyiknya Ramadan dengan Rampak Bedug Khas Banten


"Tidak sembarang orang bisa membuat bubur pedas. Biasanya hanya orang-orang sudah berumur saja yang biasa membuatnya. Sementara itu, untuk anak-anak muda Melayu, sudah jarang sekali yang bisa membuat bubur ini," tulisnya.

Sementara itu, Sartika dan Siti Wahidah dalam 'Analisis dan Kebermaknaan Bahan Bubur Pedas sebagai Warisan Kuliner Melayu Statbat dan Tanjung Balai' menyebutkan bahwa bubur pedas itu hanya dibuat saat Ramadan atau perayaan keluarga.

Hal ini dikarenakan cukup repot dalam pembuatannya dan bahan yang digunakan pun tidak sedikit. Di antaranya beberapa jenis kacang-kacangan, ikan, rempah-rempah dan daun-daunan. Apalagi makanan ini juga biasanya disajikan dalam jumlah yang banyak.

Dalam Ensiklopedi Makanan Tradisional Indonesia (Sumatera) dijelaskan bahwa resep dari bubur pedas tradisional biasanya dilengkapi bahan-bahan dari 44 macam daun kayu dari hutan. Dikarenakan sulit, sehingga muncul beberapa variasi dari bubur pedas.

Selain itu, dari makanannya, bubur pedas juga dibuat dengan menggunakan 40 jenis rempah dan daun-daunan yang berkhasiat bagi tubuh. Rempah-rempah yang digunakan itu diantaranya kunyit, temu kunci, temu hitam, jintan serai, temu mangga dan puluhan macam jenis rempah lainnya.

Nantinya semua rempah itu akan dicampurkan dengan bahan-bahan lain, seperti kentang, wortel dan tauge. Sementara untuk campuranya biasanya menggunakan potongan dada ayam serta udang segar.

Sementara untuk daun-daunan dari hutan itu akan ditumbuk hingga menjadi dedak dan dijemur. Setelah itu, daun-daun dan beberapa bahan lainnya dicampur ke dalam breuh (beras) dan dimasak bersama air hingga menjadi bubur.

Setelah jadi, Bubur pedas akan disajikan ke dalam wadah berupa cawan (mangkok) atau pinggan (piring). Biasanya masyarakat juga akan mengantri, bahkan sudah berkumpul ketika proses memasak makanan khas Melayu ini berlangsung.

Uniknya, bubur pedas ini dipercaya dapat menyegarkan badan setelah berpuasa selama seharian penuh. Hal itu dikarenakan bubur tersebut mengandung puluhan macam rempah-rempah yang dijadikan satu setelah diolah menjadi bubur pedas.

Apabila dicicipi, sebenarnya bubur pedas tak sesuai dengan namanya. Karena makanan ini sendiri sebenarnya tidak pedas, melainkan bercita rasa gurih bahkan sedikit manis. Sedangkan, agar rasa bubur pedas itu semakin nikmat, biasanya ditambah urap atau pun anyang.

Kuliner ini pun kini telah melintasi batas suku dan ras, artinya bubur pedas ini tidak hanya bisa dinikmati oleh masyarakat Melayu saja, akan tetapi juga berbagai macam suku yang ada di daerah Sumut atau Aceh yang menjadikannya sebagai makanan khas bulan Ramadan.*


Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini



Komentar

Keunikan Tradisi Walima, Peringatan Maulid Nabi di Gorontalo

Koropak.co.id, 28 September 2023 18:27:12

Serla Fadila


Koropak.co.id - Di balik cakrawala yang belum mencapai puncak, Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, telah memulai perayaan yang begitu meriah. 

Mereka, sejak pagi, sibuk mengisi momen bersejarah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang juga dikenal sebagai walima.

Tradisi walima di Gorontalo telah hadir sejak abad ke-17 saat Islam pertama kali menyentuh tanah Hulondalo. Perayaan ini berawal dengan "dikili," sebuah tradisi zikir yang dilaksanakan di masjid At-takwa, yang terletak di tengah Desa Bongo.

"Dikili," dalam bahasa Indonesia, berarti zikir. Dikili digunakan untuk mengungkapkan rasa syukur dan doa kepada Nabi Muhammad SAW atas kelahirannya. 

Ritual ini dimulai setelah salat Isya, dihentikan selama subuh, dan kemudian dilanjutkan dengan doa hingga jam 9 atau 10 pagi," jelas Yamin Nusi, Kasie Pemerintahan Kecamatan Batudaai Pantai.

Dalam dikili, selain doa dan pujian kepada Nabi Muhammad, juga disampaikan kisah kelahiran dan kenabian Muhammad SAW. Uniknya, naskah dikili asli tertulis dalam bahasa Arab Pegon, tulisan Arab tanpa harakat, namun dalam bahasa Gorontalo.

Namun, bagi sebagian warga muslim Gorontalo, membaca naskah dikili ini cukup sulit. Selain tidak memiliki harakat, bahasa Arab umumnya tidak memiliki huruf E, O, NG yang ada dalam bahasa Gorontalo. 



Baca: Lantunan Me'eraji dalam Menyambut Isra Miraj Masyarakat Muslim Gorontalo


Oleh karena itu, pelantun dikili biasanya adalah orang tua yang memiliki pengetahuan agama yang kuat. Tidak semua masjid memiliki pembaca dikili, sehingga sebagian diundang dari masjid lain bahkan dari kampung lain.

Selain dikili, warga Desa Bongo juga sibuk menyiapkan walima di tempat yang disebut tolangga, yang merupakan keranda tempat kue-kue tradisional ditempatkan. 

Namun, walima tidak hanya tentang makanan tradisional. Beberapa tambahan modern seperti kopi sachet, makanan ringan kemasan, mie instan, dan lainnya juga ikut menyemarakkan perayaan. Beberapa tolangga bahkan menambahkan brudeli, kue panggang berbentuk lingkaran dengan lubang di tengahnya.

Tolangga yang sudah disiapkan diarak dari rumah-rumah warga menuju masjid, tempat prosesi dikili berlangsung. Ini adalah momen penting dalam doa syukur warga atas lahirnya Nabi Muhammad SAW, yang telah berlangsung 14 abad yang lalu.

Desa Bongo telah menjadi pusat wisata religi di Gorontalo, dengan Festival Walima sebagai salah satu even pariwisata. Acara ini mencakup arakan tolangga ke masjid, yang merupakan momen penting yang harus diabadikan oleh pengunjung setiap tahun.

Walima di Desa Bongo bukan hanya peringatan religius, tetapi juga perayaan budaya yang unik dan kaya makna. 



Baca juga: Festival Seni Budaya Jaton ke-XVI Dongkrak Ekonomi Gorontalo


Tradisi Maulid Nabi di Betawi: Antara Meriahnya Ambengan dan Kelekatan Budaya

Koropak.co.id, 28 September 2023 12:03:53

Serla Fadila


Koropak.co.id - Momen peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan waktu yang dinantikan dan diisi oleh seluruh umat Muslim dengan berbagai perayaan budaya yang khas di berbagai daerah. 

Betawi, yang memiliki kedekatan erat dengan nilai-nilai Islam, tak ketinggalan dalam merayakan momentum bersejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Perayaan Maulid Nabi di Betawi bukanlah tradisi yang muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan bagian dari perjalanan panjang budaya ini yang masih tetap eksis hingga saat ini. 

Perayaan ini bukan sekadar suatu bentuk tradisi, melainkan juga menjadi wujud cinta dan syukur kepada Nabi Muhammad SAW.

Menurut Ketua Umum Forum Ulama Habaib (FUHAB) DKI Jakarta, tradisi peringatan Maulid Nabi di Betawi mengalami beberapa perubahan seiring berjalannya waktu. Dulu, tradisi ambengan dirayakan dengan meriah. 



Baca: Sekaten di Surakarta: Memperingati Maulid Nabi dengan Kearifan Budaya


Berbagai hidangan khas Betawi seperti opor ayam dan bandeng pesmol menjadi sajian yang paling dinantikan. Bahkan keluarga berada tak segan-segan menyajikan satu ekor ayam utuh.

Tidak hanya hidangan seperti opor ayam dan pesmol bandeng, berbagai macam lauk, sayur, dan buah-buahan seperti pisang turut menghiasi tradisi ambengan. Semuanya disajikan dengan minuman limun yang menggugah selera.

Meskipun tradisi ambengan mungkin telah mengalami perubahan, beberapa elemen penting dalam tradisi Betawi tidak boleh terlupakan. 

Salah satunya adalah pemberian minyak wangi saat pembacaan narasi asyrakal. Pada saat pembacaan Maulid Nabi Muhammad, peserta diberikan minyak wangi yang kemudian dioleskan pada tangan mereka. Kembang juga disiapkan di tengah-tengah peserta pembacaan untuk dibawa pulang dan digunakan saat mandi.

Tradisi ini, meskipun mengalami perubahan seiring berjalannya waktu, tetap mempertahankan esensinya yang kaya dan menyemarakkan perayaan Maulid Nabi dengan kelekatannya sendiri.



Baca juga: Libur Maulid Nabi Diundur, Inilah Tradisi Perayaannya


Tradisi 12 Rabiul Awal di Pacitan: Menyantap Nasi Suci Ulam Sari

Koropak.co.id, 28 September 2023 07:00:28

Serla Fadila


Koropak.co.id - Suasana suci peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw menyelimuti berbagai penjuru nusantara dengan keharuman budaya dan spiritualitas yang mendalam. 

Namun, di Pacitan, Jawa Timur, ada satu kuliner istimewa yang menghantarkan pesan mendalam tentang cinta kepada Rasulullah Saw yang dikenal dengan nama Nasi Suci Ulam Sari.

Dalam setiap butir nasi dan potongan ayam tunjung terdapat filosofi yang melintasi zaman. Seorang ahli kuliner bernama Chef Wira Hardiyansyah, mengungkapkan bahwa Nasi Suci Ulam Sari mengusung dua elemen kunci: nasi duduk dan ayam tunjung. Bahkan sejak masa pra-Islam di Indonesia, elemen-elemen ini telah ada.

"Kitab Ramayana saja sudah jauh sebelum Islam tiba di Nusantara telah menyinggung wudhuk/duduk," jelas Chef Wira. 

Uduk, yang berwarna putih dan harum, dipandang sebagai nasi suci yang mencerminkan kelahiran kembali seorang bayi. Inilah mengapa Sunan Kalijaga mengibaratkan wudhuk dengan wudu, sebuah simbolisme yang mengesankan.



Baca: Jejak Sejarah Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia


Sementara itu, ayam tunjung, yang direbus dengan teliti, disajikan secara utuh di atas Nasi Suci Ulam Sari. 

Nama "ayam tunjung" sendiri telah tertulis dalam catatan sejarah pra-Islam di Jawa, seperti yang tercatat dalam buku atlas walisongo yang menyebut agama "Kapitayan," agama asli Indonesia sebelum kedatangan Hindu. 

Tunjung, yang berarti mengayomi, dan nasi yang menjadi permohonan dalam tradisi Jawa, menyiratkan doa kepada Allah Swt untuk melindungi dan memberkati.

Kuliner istimewa ini umumnya disajikan pada malam 12 Rabiul Awal dalam bentuk tumpeng berbagai ukuran. 

Setiap kepala keluarga membawa hidangan ini ke masjid atau rumah tokoh masyarakat untuk bersama-sama menghormati dan menyantapnya. Sebuah perpaduan lezat antara budaya dan spiritualitas yang memikat hati.



Baca juga: Libur Maulid Nabi Diundur, Inilah Tradisi Perayaannya


Sekaten di Surakarta: Memperingati Maulid Nabi dengan Kearifan Budaya

Koropak.co.id, 27 September 2023 07:26:26

Serla Fadila


Koropak.co.id - Di balik bayang-bayang Pulau Jawa yang terkenal dengan kekayaan budaya dan tradisinya, terdapat sebuah perayaan tahunan yang telah menyatu dalam jantung kota Solo sejak abad ke-15. 

Namanya adalah Sekaten, sebuah tradisi yang menjelma menjadi upacara spektakuler yang memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Sejarah panjang Sekaten memiliki akar dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa, dan tokoh sentral di baliknya adalah Wali Sanga. Mereka, sembilan penyebar agama Islam di Pulau Jawa, menggunakan Sekaten sebagai media untuk menyebarkan ajaran Islam. 

Awalnya, Sekaten adalah kelanjutan dari upacara tradisional yang digelar oleh raja-raja Jawa sejak zaman Majapahit. 

Ini adalah bentuk upacara selamatan untuk menjaga keselamatan kerajaan. Namun, seiring berjalannya waktu, Sekaten berubah menjadi sarana penyebaran agama Islam, terutama di Jawa Tengah. Media utamanya adalah gamelan, alat musik yang sangat digemari oleh masyarakat Jawa.



Baca: Dari Yogyakarta ke Surakarta, Ada Pertemuan Jatisari


Gamelan menjadi jembatan yang menghubungkan Islam dengan seni. Pada awalnya, peringatan Maulid Nabi Muhammad menggunakan rebana, tetapi lambat laun, gamelan mengambil peran penting dalam melantunkan shalawat. 

Sekaten di Solo juga dikenal dengan pasar malam yang berlangsung selama sebulan penuh. Acara ini ditandai dengan pengarakan gamelan ke masjid. Sekaten berlangsung dari tanggal 5 hingga 12 Rabiul Awal, dengan gamelan yang terus menerus mengisi udara. 

Acara ini mencakup Tumplak Wajik, di mana lagu-lagu khas dimainkan dengan kentongan sebagai tanda dimulainya pembuatan gunungan. 

Puncak dari Sekaten adalah Grebeg Maulud, yang diadakan pada tanggal 12 Rabiul Awal. Acara ini menampilkan gunungan yang berisi berbagai jenis makanan dan sayuran, melambangkan kesejahteraan kerajaan. Setelah berdoa, gunungan ini dibagikan kepada masyarakat.

Meskipun sempat vakum selama dua tahun akibat pandemi Covid-19, Sekaten kini dibuka kembali. Dengan hati terbuka, Solo menyambut pengunjung yang ingin merasakan meriahnya tradisi yang kaya akan sejarah dan kearifan ini. 



Baca juga: Adang Sego, Tradisi Menanak Nasi Sewindu Sekali di Kasunan Surakarta


Larungan Rawa Pening: Ungkapan Syukur dan Warisan Budaya Sakral di Jawa Tengah

Koropak.co.id, 25 September 2023 15:08:39

Serla Fadila


Koropak.co.id - Tradisi Sedekah Rawa Pening, atau yang lebih dikenal dengan sebutan "Larungan," adalah salah satu warisan budaya yang kaya dan sakral yang dijunjung tinggi oleh masyarakat di sekitar Rawa Pening, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. 

Tradisi ini telah berlangsung turun temurun dan diadakan sekali setahun pada tanggal 21 Muharam. Dengan penuh kesadaran dan keyakinan, masyarakat setempat menjalankan acara ini sesuai dengan tradisi dan kondisi mereka.

Dilansir dari situs resmi kemendikbud, tradisi Sedekah Rawa Pening adalah ungkapan syukur dan tolak bala kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkah yang mereka terima dalam kehidupan sehari-hari. 

Masyarakat di daerah ini mayoritas bekerja sebagai nelayan dan petani, sehingga tradisi ini juga mengandung makna penghormatan kepada para leluhur mereka. Mereka berharap agar terhindar dari musibah dan bencana, serta memohon agar kehidupan dan pekerjaan mereka menjadi lebih baik.

Ritual Sedekah Rawa Pening dimulai dengan melarung nasi tumpeng dan sesaji ke tengah danau. Sebelumnya, ratusan warga berkumpul di rumah Lurah Desa Kebon Dowo, Kecamatan Banyu Biru, Ambarawa. 



Baca: Asal Jawa Tengah, Seblak Sudah Ada Sebelum Kemerdekaan?


Di sini, mereka menyiapkan dua nasi tumpeng raksasa dan berbagai sesaji yang akan dilarung ke tengah Danau Ambarawa. Sesaji ini mencakup lauk-pauk seperti daging ayam dan hasil bumi lainnya yang disumbangkan oleh warga.

Setelah sesepuh desa memberikan doa, dua nasi tumpeng dan sesaji tersebut diarak menuju tepi Danau Rawa Pening. Sebelum dilarung ke tengah danau, obor dinyalakan oleh sesepuh desa untuk menerangi prosesi larung. Satu tumpeng dilarung ke tengah danau, sementara tumpeng lainnya menjadi objek rebutan oleh warga.

Tradisi Larungan Rawa Pening ini tidak hanya menarik perhatian masyarakat setempat tetapi juga pendatang dari berbagai daerah. 

Ritual ini adalah bentuk penghargaan dan ungkapan syukur atas rezeki yang mereka terima, terutama bagi mereka yang mencari nafkah di sekitar Danau Rawa Pening. Mereka meyakini bahwa melalui prosesi larung ini, mereka akan terlindungi dari bencana dan musibah sepanjang tahun.

Tradisi Sedekah Rawa Pening bukan hanya menjadi sarana untuk merayakan budaya dan kearifan lokal, tetapi juga untuk mempererat persatuan dan kesatuan masyarakat. 

Ini adalah cara untuk menjaga tradisi budaya yang kaya dan sekaligus menjaga kelestarian Danau Rawa Pening. Ritual ini memberikan ketenangan dan harapan kepada nelayan, petani, dan masyarakat sekitar yang sangat bergantung pada Danau Rawa Pening dalam kehidupan mereka.



Baca juga: Teknologi Kriya Logam, Potret Warisan Budaya Dari Jawa Tengah


Istana Balla Lompoa, Jejak Langkah Kerajaan Gowa di Tengah Dekade

Koropak.co.id, 21 September 2023 11:02:49

Serla Fadila


Koropak.co.id - Tertatih di tengah perkembangan zaman, Istana Balla Lompoa berdiri sebagai monumen peninggalan agung Kerajaan Gowa yang tak lekang. 

Konstruksi klasik rumah panggung dengan semburat coklat, memberi kesan keabadian dengan keseluruhan terbuat dari kayu pilihan yang kuat menantang usia.

Saat mata tertuju, tampak usia istana yang menghampiri senja. Namun, semangat untuk menyimpan sejarah tetap terjaga dengan tulisan "Museum Istana Balla Lompoa" di bagian depannya. Meski menjadi museum, keramaian hanya terasa saat ada acara tertentu, atau tamu spesial datang mengunjungi.

Seperti diceritakan oleh Kepala Museum Balla Lompoa, A Makmum Bau Tayang, pada sebuah wawancara dengan Kompas, banyak cerita mistik yang mengitari bangunan ini, khususnya di lantai atas.

Penjuru Istana Balla Lompoa menyimpan harta karun sejarah Kerajaan Gowa. Di antaranya terdapat mahkota, bendera, tombak, dan pakaian raja. Bahkan naskah lontar, yang menceritakan kisah masa lalu, terjaga di sini.



Baca: Istana Dalam Loka Sumbawa dan Spirit Syariat Islam


Didirikan pada 1936 oleh Raja Gowa ke-31, Mangngi-mangngi Daeng Matutu, Balla Lompoa pernah menjadi rumah bagi dua penguasa, yaitu I Mangngi-mangngi Daeng Matutu dan Raja Gowa ke-32, Idjo Daeng Mattawang.

Sebelumnya, Andi Makkulau, raja sebelum Matutu, memilih kediamannya di Jalan Kumala Makassar sebagai istana. Istana ini, dengan konstruksi utama sebesar 60 x 40 meter dan ruang penerima tamu seluas 40 x 4,5 meter, merupakan bukti kecintaan mereka pada kayu ulin—bahan yang handal dalam menghadapi cuaca tropis.

Namun, paradoksnya, masyarakat lebih memilih untuk mengunjungi replika peninggalan Kerajaan Gowa di Museum La Galigo di Benteng Fort Rotterdam. Tantangan bagi pengelola Balla Lompoa adalah mengembalikan istana ke kejayaannya.

Keturunan Raja Gowa ke-32, A Kumala Idjo, mengungkapkan rencana untuk memberikan pengalaman wisata berbeda bagi pengunjung. Dia berharap para wisatawan dapat merasakan bagaimana menjadi tamu kerajaan dengan layanan khas zaman kerajaan di Istana Balla Lompoa.

Dalam era di mana modernitas menyapu semuanya, Balla Lompoa tetap berdiri, mengajak kita untuk mengenang dan menghargai jejak langkah nenek moyang kita di tanah Nusantara.



Baca juga: Benteng Fort Rotterdam, Saksi Bisu Kejayaan Kerajaan Gowa


Dalam Kilasan Budaya Bhatara Sri dan Ritual Sakral Pulau Dewata

Koropak.co.id, 21 September 2023 06:11:31

Serla Fadila


Koropak.co.id - Tanggal 22 September tahun ini adalah momen sakral perayaan Bhatara Sri. Sebuah kesempatan langka untuk merasakan keindahan dan keagungan tradisi. 

Memandang jauh ke masa lalu, ada jejak yang tertanam, dan hari ini menjadi peringatan bagi mereka: Hari Bhatara Sri. Sebuah lentera tradisi, bersinar dalam peradaban Hindu-Buddha di Bali, menceritakan tentang Bhatara Sri, dewi kemakmuran yang menyinari jalan masyarakat Bali menuju rejeki.

Sebuah wuku bernama Merakih, berpadu dengan Saptawara Sukra dan Pancawara Umanis, menjadi tanda waktunya untuk merenung dan memperingati. 

Dilansir dari goodnewsfromindonesia.id, menyelam ke dalam sejarah, Bhatara Sri dengan pesona kharismatiknya, tumbuh sebagai simbol kuasa dan keberkahan. Bagi masyarakat Bali Ia adalah pilar kehidupan, pelindung semesta, serta penyelaras antara alam dan umat manusia.

Setiap tatapan yang jatuh pada ritual upacara keagamaan Bali adalah refleksi penghormatan mendalam terhadap Bhatara Sri. Melalui tarian, musik, dan pujaan, masyarakat memuliakan-Nya. Simbol-simbol seperti tongkat, topi, dan pedang, menghiasi gambaran Bhatara Sri, mewakili keagungan dan kekuatan-Nya.

Berbagai epos dan mitos membentang di Bali, menuturkan kisah-kisah Bhatara Sri, dewi yang bagi sebagian orang bisa membawa hujan dan memimpin arus air. 

Dalam banyak upacara, Ia digambarkan bersanding dengan Dewi Sri, dewi keberuntungan, sebagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.



Baca: Sejarah Hari Raya Kuningan, Sudah Dirayakan Umat Hindu Sejak 1.200 Tahun Silam


Ritual dengan gamelan dan tarian tradisional adalah sajian utama. Setiap langkah, setiap gerakan tari, adalah doa yang dipanjatkan, semakin mendekatkan umat dengan Dewa. Setiap bunga, makanan, dan minuman yang dipersembahkan, adalah ungkapan syukur dan harapan.

Seiring derap tarian dan alunan musik, aroma bunga yang dibakar semakin menambah kentalnya atmosfer sakral. Setelah itu, tarian bersama pun dimulai, mendoakan kesejahteraan dan berharap keberkahan. 

Tidak jarang, pertunjukan wayang menjadi bagian dari persembahan, menuturkan kisah-kisah epik dalam rangkaian ritual yang dipimpin oleh pemuka agama di pura atau kuil.

Ritual Bhatara Sri, lebih dari sekedar upacara, adalah momen bagi umat Hindu untuk berkumpul, mengikat kembali tali persaudaraan, dan saling berbagi cerita serta pengalaman. 

Ritual ini adalah jembatan menuju masa lalu, mengingatkan akan kekuatan tradisi Hindu di Indonesia dan bagaimana ritual mampu menghubungkan manusia dengan Dewa.

Sebagai penutup, perayaan Bhatara Sri, yang juga menjadi bagian dari Nyepi, mengajarkan bahwa keberadaan dan pengaruh Bhatara Sri adalah takdir yang ditulis dalam emas dalam budaya Hindu di Indonesia. 

Melalui Bhatara Sri, tradisi dipelihara, hubungan spiritual diperkuat, dan ikatan batin dipererat, menciptakan harmoni di antara penganut.



Baca juga: Sambut Hari Nyepi, Umat Hindu Mataram Gelar Perang Api


Ritual Adat Baku Pukul Manyapu di Negeri Mamala

Koropak.co.id, 19 September 2023 15:30:34

Serla Fadila


Koropak.co.id - Telusuri jejak masa lalu di Negeri Mamala, tersemat sebuah tradisi adat yang menyimpan misteri dan simbolisme mendalam bernama Tradisi Adat Baku Pukul Manyapu. Ritual ini menceritakan latar belakang perjuangan dan keyakinan masyarakat Mamala di masa lalu.

Dilansir dari situs resmi Kemendikbud, ceritanya bermula saat warga Mamala menghadapi tantangan besar pasca-perang Kapahaa (1637-1646), suatu peristiwa tragis yang mengoyak bumi Maluku, kolonialis Belanda memerintahkan penduduk untuk merelokasi pemukimannya ke pesisir.

Tujuannya jelas supaya masyarakat dapat diawasi dengan lebih mudah oleh mereka. Memenuhi perintah itu, masyarakat Mamala membangun pemukiman baru, termasuk sebuah masjid yang menjadi pusat kehidupan rohani mereka. 

Namun, muncul masalah ketika masjid tersebut harus dibangun tanpa "Ping" atau paku dalam menyambung kayu-kayu bangunan. 

Seorang pemimpin rohani Mamala saat itu bernama Imam Tuni, beliau memainkan peran krusialnya dengan berpuasa guna mencari solusi. Dalam mimpinya ketika menjalankan puasa, beliau diberitahu untuk menggunakan minyak "Nyualaing Matetu" atau "Tasala", sejenis minyak yang ternyata memiliki kegunaan luar biasa. 



Baca: Lebih Dekat Dengan Ritual Adat Muang Jong


Ketika masjid lama di desa itu dibongkar, benar saja ditemukan potongan kain putih yang membasahi setiap sambungan kayu sebagai bukti otentik dari cerita rakyat ini.

Minyak ini, yang dihargai oleh masyarakat Ambon dan Maluku sebagai minyak Mamala. Dalam dunia medis, sentuhan minyak ajaib ini dipercaya ampuh sebagai obat patah tulang dan keseleo. 

Akhirnya, untuk menghormati penemuan dan keberhasilan ini, masyarakat Mamala merayakannya dengan Tradisi Adat Baku Pukul Manyapu setiap 7 Syawal, mengikuti hadits Nabi Muhammad SAW.

Dalam pelaksaannya, atraksi budaya “ Baku Pukul Manyapu “ atau yang sering disebut oleh masyarakat Morella dengan sebutan “ Palasa “ yang artinya saling memukul pada badan hingga mengeluarkan darah antara dua kelompok dengan sapu lidi dari pohon enau.



Baca juga: Atraksi Apen Bayeren Semarakkan Festival Danau Sentani Papua


Tari Caci, Simfoni Keberanian dari Tanah Manggarai

Koropak.co.id, 17 September 2023 15:24:19

Serla Fadila


Koropak.co.id - Dalam hening senja di Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, gemerlap semangat pejuang terpancar dari mata para penari yang tengah mempersiapkan diri. 

Di tengah gemuruh tepuk tangan memasuki arena Tarian Caci, sebuah tarian perang khas Manggarai yang bukan sekadar hiburan, namun juga simbol identitas dan kebanggaan masyarakat.

Dilansir dari kompasiana.com, sejarah mencatat bahwa Tarian Caci bukanlah hasil kreasi sesaat, melainkan sebuah peradaban yang tumbuh dan berkembang dari tradisi leluhur Manggarai. 

Dimulai dari ritual uji keberanian dan ketangkasan antar laki-laki, Tarian Caci menjadi kesenian yang kini dipersembahkan dengan musik, gerakan, dan syair.

Nama 'Caci' sendiri meresapi makna filosofis: 'ca' yang berarti 'satu' dan 'ci' yang artinya 'uji'. Maka, Caci menjadi arena bagi pemuda Manggarai untuk mengukir jejak keberanian, menunjukkan kemampuan dalam satu lawan satu, serta meraih gelar sebagai penari terbaik.



Baca: Mengenal Tari Suanggi, Tarian Mistis dan Magis dari Papua


Namun, jangan salah sangka. Meski terkesan penuh dengan kekerasan, Tarian Caci sejatinya sarat dengan nilai-nilai luhur. Di balik setiap cambukan dan teriakan, ada sportivitas, rasa hormat, serta pemahaman bahwa dendam bukanlah bagian dari permainan ini.

Penari Caci, dengan pecut (larik) dan perisai (nggiling) mereka, tampil perkasa dalam kostum tradisional—pakaian perang berwarna putih, sarung songke, dan topeng atau hiasan kepala (panggal) dari kulit kerbau. 

Kain songke yang dililitkan di pinggang mencerminkan identitas Manggarai, sementara hiasan kepala melindungi dari cambukan lawan.

Dalam setiap goresan luka yang tercipta dari cambuk, tersembunyi rasa bangga dan penghormatan. Bagi masyarakat Manggarai, luka tersebut bukanlah bekas dari pertempuran, melainkan tanda kehormatan dan maskulinitas.

Dari momen syukuran panen hingga upacara adat besar, Tarian Caci menjadi bagian yang tak terpisahkan. Melalui tarian ini, masyarakat Manggarai tidak hanya mengungkapkan kegembiraan, namun juga berbagi pesan tentang keberanian, persaudaraan, dan cinta kepada tanah leluhur. 

Sebuah tarian yang menjadi bukti bahwa tradisi dan modernitas bisa bersatu, dan mengajarkan kita tentang kekayaan budaya Indonesia.


Baca juga: Tari Seblang, Tarian Sakral Pemanggil Roh Leluhur dari Banyuwangi


Festival Lembah Baliem, Melodi Perang dan Cinta Kepada Tanah Leluhur

Koropak.co.id, 17 September 2023 11:11:37

Serla Fadila


Koropak.co.id - Pada saat senja menyapa bulan Juni tahun 1938, dari balik kaca pesawat yang membelah angkasa, mata Richard Archbold disambut dengan keindahan sebuah lembah tersembunyi di Lembah Baliem. 

Sebuah lembah yang dijuluki sebagai "Grand Baliem Valley", tempat dimana waktu seakan-akan berhenti dan sejarah memainkan nafasnya. Lembah yang ditinggali oleh Suku Dani, berada di ketinggian yang menawarkan kesejukan udara serta ditutupi dengan kabut mistis.

Namun, di balik keindahan panorama alam tersebut, tersimpan kisah-kisah heroik, romansa, dan dendam turun-temurun yang diceritakan melalui tradisi perang antar suku. 

Dilansir dari beritapapua.id, sebuah tarian kekuatan, keberanian, dan semangat yang disajikan oleh Suku Dani, Lani, dan Yali. Mereka berperang, bukan hanya karena perebutan kekuasaan atau egoisme, melainkan untuk menjaga keseimbangan kehidupan dan menghormati arwah leluhur mereka.



Baca: Atraksi Apen Bayeren Semarakkan Festival Danau Sentani Papua


Ditengah peradaban yang semakin modern, masyarakat Lembah Baliem masih menjunjung tinggi nilai-nilai luhur. Mereka memelihara mumi sebagai bentuk penghormatan kepada orang-orang yang telah memberikan kontribusi besar bagi komunitas mereka, dengan proses yang kental dengan nuansa spiritual dan alami.

Festival Lembah Baliem, yang dimulai pada tahun 1989, kini menjadi saksi bisu bagaimana ketiga suku tersebut menyatukan kekuatan mereka dalam sebuah perayaan. 

Diadakan setiap bulan Agustus, festival ini tidak hanya menjadi pertunjukan kekuatan, namun juga refleksi atas rasa cinta dan kebanggaan terhadap tanah leluhur.

Seperti sebuah sinfonia, kehidupan di Lembah Baliem adalah komposisi dari berbagai nada - dari ketegangan perang hingga keharmonisan festival. Sebuah melodi yang terus berkumandang, mengajak kita untuk memahami makna sejati dari keberagaman dan kekayaan budaya.



Baca juga: Tari Sajojo, Warisan Budaya Leluhur Papua Barat


Cerita Setiap Tetes Sopi Nusantara yang Bersaing dengan Sake dan Vodka

Koropak.co.id, 13 September 2023 15:15:05

Serla Fadila


Koropak.co.id - Sebuah aroma khas dan deretan botol di luar lapak pedagang, menyuguhkan gambaran tentang minuman tradisional yang mendapat tempat khusus di hati masyarakat NTT, Maluku, hingga Papua. 

Dilansir dari situs resmi indonesia.go.id, Sopi, atau yang lebih dikenal dengan nama 'zoopje' dari bahasa Belanda dan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tapestri budaya Indonesia.

Di sebuah kecamatan di Pulau Flores, Aimere, kabut pagi menyisir antara barisan pohon dan rumah penduduk. Di sini, aroma sopi "BM" atau Bakar Menyala, bisa dengan mudah tercium.

Sementara penduduk setempat tengah memastikan kualitas Sopi dengan menyulut api di atasnya, api menyala mengindikasikan bahwa Sopi telah memenuhi "sertifikasi" tradisional.

Sebagai informasi tambahan, ada beberapa daerah lain di NTT menyebut Sopi dengan nama Moke, perbedaan ini terdapat dari teknik penyulingan. Meski begitu, esensinya tetap sama yaitu sebagai cairan beralkohol yang disadap dari pohon lontar. 

Pelegalan Sopi bukan hanya menunjukkan komitmen pemerintah daerah terhadap pengembangan produk lokal, tetapi juga menempatkan Sopi sejajar dengan Sake dari Jepang atau Vodka dari Rusia. Sopi seakan mengajak dunia untuk merasakan keunikan dan kedalaman budaya Nusantara melalui setiap tegukannya.



Baca: Arak Bali, Dari WBTb Indonesia Hingga Jadi Suvenir KTT G20


Budaya minum Sopi yang berkembang di desa-desa di pegunungan menunjukkan bagaimana minuman ini, bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga sumber kehidupan. Sejarah mencatat bagaimana Sopi atau tuak, menjadi alternatif air minum ketika sumber air bersih langka.

Dalam perjalanan sejarahnya, Sopi memiliki kisah-kisah menarik yang terkait dengan ritual dan upacara adat. Ritual manulangi, upacara adat bagi masyarakat Lembata, adalah salah satu di antaranya. Dalam ritual ini, tuak digunakan sebagai simbol penghormatan bagi leluhur.

Dengan pelegalan Sopi, membuka peluang bagi tuak, minuman tradisional lainnya dari Sumatra Utara, untuk mendapat pengakuan yang sama. 

Tuak memiliki keterkaitan mendalam dengan budaya Suku Batak, baik sebagai sajian dalam upacara adat maupun sebagai minuman yang menghangatkan setelah beraktivitas.

Akan tetapi, seperti pedang bermata dua, konsumsi berlebihan tuak telah menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat. Namun dengan edukasi yang tepat, masyarakat bisa mendapatkan manfaat dari tuak tanpa harus menghadapi dampak buruknya.

Dengan memandang Sopi dan tuak bukan hanya sebagai minuman, tetapi sebagai bagian dari sejarah dan warisan budaya, kita diingatkan akan kekayaan dan keragaman Indonesia. Sebuah kekayaan yang harus dihargai, dilestarikan, dan diperkenalkan kepada generasi mendatang.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Mengungkap Makna Tarian Para Bidadari, Tari Kebagh Sumatera Selatan

Koropak.co.id, 13 September 2023 08:15:23

Yuli Riza


Koropak.co.id - Tari Kebagh, atau dikenal juga sebagai Tari Semban Bidodari, merupaka tarian dari daerah Besemah, Indonesia. Tarian ini merupakan salah satu tarian adat tertua yang berasal dari daerah Besemah, terutama dikenal di daerah Kota Pagar Alam, yang merupakan pusat daerah Besemah. 

Tarian ini konon sudah ada sejak zaman kejayaan Puyang Serunting Sakti pada abad ke-14 Masehi. Puyang Serunting Sakti dikenal sebagai sosok yang memiliki kekuatan dalam kata-katanya, dan apa yang ia ucapkan akan menjadi kenyataan. Karena itulah, ia sangat bijaksana dalam berbicara.

Sejarah tarian ini berhubungan dengan Puyang Serunting Sakti dan istrinya, Puyang Bidadari Bungsu. Saat suatu acara perkawinan yang dihadiri oleh keduanya, istrinya diminta untuk menari dengan syarat bahwa selendang miliknya yang telah dirampas oleh Puyang Serunting Sakti harus dikembalikan untuk digunakan saat menari. 

Istri Puyang Serunting Sakti yang memukau semua orang dengan kecantikan dan keahliannya menari akhirnya melayang ke kahyangan dan meninggalkan bumi, meninggalkan semua orang terpesona. Pada awalnya, tarian ini dikenal sebagai Tari Semban Bidodari, yang berarti selendang besar yang digunakan oleh seorang bidadari saat menari.



Baca: Tari Payung Minangkabau, Gambaran Kasih Sayang dan Perlindungan untuk Sang Kekasih


Meskipun pada awalnya tari ini dilarang oleh pemerintah kolonial Belanda hingga tahun 1900-an, masyarakat Besemah tetap melestarikannya dari generasi ke generasi. Tari Semban Bidodari atau Kebagh memiliki makna sakral, dan sebelum menarinya, para penari melakukan ritual dengan menaburkan beras kunyit sebagai bentuk penghormatan kepada sang bidadari yang akan menari. 

Tari ini hanya ditarikan oleh perempuan, dan tidak ada batasan jumlah penari. Tari ini biasanya ditarikan pada acara-acara khusus, terutama untuk menyambut tamu terhormat.

Pada tahun 1950-an, tari Semban Bidodari lebih dikenal dengan nama tari Kebagh, mengacu pada gerakan membuka tangan yang menyerupai sayap atau tangan yang terbentang. Nama ini dipilih oleh ketua adat Besemah pada saat itu. 

Kemudian pada 1952, tari Kebagh bahkan ditampilkan saat kunjungan Presiden RI, Ir. Soekarno, ke Kota Pagar Alam. Pada tahun 2002, tari ini dibakukan dan menjadi ciri khas tarian sambut di daerah Besemah, terutama Kota Pagar Alam. Sejak itu, tari Kebagh semakin dikenal dan diakui sebagai salah satu warisan budaya yang indah dari daerah Besemah, Sumatera Selatan.


Silakan tonton berbagai video menarik disini: