Lebih Dekat dengan HTR, Pendiri FLP

Koropak.co.id, 10 April 2022 07:15:45
Penulis : Eris Kuswara
Lebih Dekat dengan HTR, Pendiri FLP


Koropak.co.id - Helvy Tiana Rosa merupakan seorang cerpenis kelahiran Medan, 2 April 1970 dari pasangan Amin Usman dan Maria Eri Susianti. 

Kakak dari Asmanadia ini dikenal sebagai pendiri Forum Lingkar Pena (FLP), sebuah forum penulis muda yang beranggotakan lebih 5.000 orang penulis yang tersebar di lebih dari 125 kota di Indonesia dan mancanegara. 

Istri dari Tomi Satryatomo serta ibu dari Abdurahman Faiz dan Nadya Paramitha ini juga merupakan pendiri dan pengelola "Rumah baCA dan Hasilkan karYA" (Rumah Cahaya) yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. 

Dilansir dari berbagai sumber, untuk pendidikan yang pernah ditempuhnya adalah Jurusan Arab, Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI) dan yang terakhir ia berhasil memperoleh gelar magister dari Jurusan Ilmu Susastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia.

Di samping sebagai cerpenis, Helvy juga bekerja sebagai dosen di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta, Ketua Majelis Penulis Forum Lingkar Pena, Direktur Lingkar Pena Publishing House, Dewan Pertimbangan Perbukuan Balai Pustaka, dan Anggota Ahli Majelis Sastra Asia Tenggara. 

Tak hanya itu saja, dia juga pernah menjadi redaktur dan pemimpin redaksi majalah Annida (1991-2001), sekretaris DPH Dewan Kesenian Jakarta (2003) dan Anggota Komite Sastra DKJ (2003-2006). Tak ketinggalan, ia juga merupakan pendiri dan penggiat Woman Literacy Foundation.

Selain menulis cerpen, Helvy juga menulis sajak, novel, dan esai serta aktif di dunia teater. Bahkan dia adalah pendiri dari Teater Bening, sebuah teater kampus di FSUI yang seluruh anggotanya adalah perempuan. 

Teater ini sendiri diketahui pernah pentas di Gedung Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Auditorium Fakultas Sastra UI, serta keliling Jawa dan Sumatera. Helvy juga turut menulis naskah drama dan salah satu naskah dramanya yang sudah terbit berjudul Tanah Perempuan (Lapena, 2007).

Sejak tahun 1996 sampai dengan saat ini, sudah lebih dari 40 bukunya yang telah diterbitkan. Bahkan, cerpen-cerpennya juga turut diterjemahkan dalam bahasa Inggris, Jepang, Arab, Swedia, Jerman, dan Prancis. Pada tahun 1998, ia diundang untuk mengikuti Program Penulisan Cerpen yang diadakan Majelis Sastra Asia Tenggara.



Baca : Hamid Jabbar, Sang Penyair Zikir dan Dangdut


Tercatat, Helvy sudah aktif menulis sejak tahun 1979-an. Karya cerpennya yang telah diterbitkan dalam bentuk kumpulan cerpen, diantaranya Bukavu (Kumpulan Cerpen, Lingkar Pena Publishing House 2008), Lelaki Kabut dan Boneka/ Dolls and The Man of Mist dan Kumpulan Cerpen Dwi Bahasa (Syaamil, 2002).

Kemudian juga Titian Pelangi, Kumpulan Cerpen (Mizan, 2000), Hari-Hari Cinta Tiara, Kumpulan Cerpen (Mizan, 2000), Manusia-Manusia Langit, Kumpulan Cerpen (Syaamil, 2000), Nyanyian Perjalanan, Kumpulan Cerpen (Syaamil, 1999), Hingga Batu Bicara, Kumpulan Cerpen (Syaamil, 1999).

Selanjutnya, ada juga Sebab Sastra yang Merenggutku dari Pasrah, Kumpulan Cerpen (Gunung Jati, 1999), Ketika Mas Gagah Pergi, Kumpulan Cerpen (Pustaka Annida, 1997. Cet II dan seterusnya diterbitkan oleh Syaamil).

Selain itu, cerpen-cerpennya juga turut dimuat di dalam antologi cerpen, diantaranya Perempuan Bermata Lembut ( Antologi Cerpen Bersama, FBA Press 2005), Ketika Cinta Menemukanmu (Antologi Cerpen Bersama, GIP 2005), Dokumen Jibril (Antologi Cerpen Bersama, Republika 2005) dan Dari Pemburu ke Teurapeutik (Antologi Cerpen Bersama, Pusat Bahasa 2004) dan masih banyak lagi karya lainnya.

Sedangkan untuk karyanya yang erupa antologi puisi bersama, yakni Sajadah Kata (Antologi Puisi Bersama, Syaamil, 2002), Graffiti Gratitude (Antologi Puisi Bersama, Angkasa, 2001). Sementara yang berupa naskah drama, yakni Tanah Perempuan, naskah Drama (Lapena, 2007) dan yang berupa novel, diantaranya Akira no Seisen/ Akira: Muslim wa tashiwa, Novel (Syaamil, 2000) dan Kembara Kasih, Novel (Pustaka Annida, 1999) dan lainnya.

Sementara untuk karyanya yang berupa cerita anak, antara lain 1001 Kisah Luar Biasa dari Orang-orang Biasa (Penerbit Anak Saleh 2004), Pangeranku, Cerita Anak (Syaamil, 2000). Kemudian yang berupa tulisan lainnya, antara lain Risalah Cinta Untukmu (LPPH, 2007), Menulis Bisa Bikin Kaya! (MVP 2006), Leksikon Sastra Jakarta (DKJ dan Penerbit Bentang Budaya, 2003) dan masih banyak lagi karya yang lainnya.

Selama berkarir, Helvy juga sering diundang untuk berbicara dalam berbagai forum sastra dan budaya di dalam dan luar negeri, seperti Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, Hong Kong, Jepang, Mesir hingga Amerika Serikat. 

Ia juga pernah memenangkan berbagai perlombaan menulis tingkat nasional, termasuk juga sebuah lomba esai berhadiah Rp 100 juta (2007). Namun menurutnya yang paling berkesan adalah ketika karyanya 'Fisabilillah" menjadi Juara Lomba Cipta Puisi Yayasan Iqra, tingkat nasional (1992), dengan HB Jassin sebagai Ketua Dewan Juri. 

Tak berhenti disana saja, karyanya "Jaring-Jaring Merah" terpilih sebagai salah satu cerpen terbaik Majalah Sastra Horison dalam satu dekade (1990-2000) serta Lelaki Kabut dan Boneka mendapat Pena Award Forum Lingkar Pena sebagai Kumpulan Cerpen Terpuji (2002). 

Untuk beberapa penghargaan lain yang pernah diperolehnya, antara lain sebagai Tokoh Perbukuan IBF Award (2006), Tokoh Sastra Eramuslim Award (2006), Ikon Perempuan Indonesia versi Majalah Gatra (2007), Wanita Indonesia Inspiratif versi Tabloid Wanita Indonesia (2008) dan lainnya.*


Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini



Komentar

Kisah Mia Dunphy, Jatuh Hati Pada Suku Dayak Taman Kapuas

Koropak.co.id, 31 January 2023 15:12:00

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Kalimantan Barat - Kebudayaan Indonesia yang beranekaragam tak jarang membuat wisatawan khususnya wisatawan mancanegara tertarik untuk mengenal dan mempelajarinya. Seperti halnya yang dilakukan Mahasiswi Asal Australia, Mia Dunphy.

Mia Dunphy mengaku sangat kaum dan jatuh hati saat mempelajari kearifan lokal, kehidupan adat istiadat, dan budaya masyarakat Suku Dayak Taman Kapuas di Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar).

"Masyarakat Suku Dayak Taman Kapuas sangat ramah, dan masih memegang teguh kearifan lokal, baik itu adat maupun budayanya. Hal itulah yang membuat saya jatuh hati," kata Mia Dunphy, di Desa Sayut, Kecamatan Putussibau Selatan, Kapuas Hulu, Senin 30 Januari 2023.

Selama kurun waktu 6 bulan, Mahasiswi kelahiran Dorroughby, New South Wales, Australia itu juga telah melakukan penelitian studi S3 PhD, dari University of Melbourne di Australia tentang perdagangan dan panen sarang burung walet di gua alami serta rumah walet di Kapuas Hulu khususnya di Desa Sayut.

"Saya memilih Desa Sayut dikarenakan orang-orangnya memiliki sejarah, yaitu masih bekerja di gua alami sampai dengan sekarang. Selain itu, sejak pertama tiba di Desa Sayut, saya disambut hangat penuh rasa kekeluargaan oleh masyarakat Suku Dayak Taman Kapuas," ungkapnya.

Mia Dunphy menuturkan bahwa hampir setiap harinya warga di Desa Sayut mengundangnya untuk datang ke rumah, bahkan setiap hari juga dirinya bermain bersama anak-anak.

"Semua orang di Sayut adalah keluarga saya, dan disinilah saya sangat jatuh hati. Karena mereka juga menganggap aku keluarga hingga aku mendapatkan nama dalam status sosial tertinggi (Samagat). Masyarakat memberiku nama 'Kasien'," tuturnya.

Mahasiswi S3 University of Melbourne Australia itu juga menyampaikan jika dirinya tidak akan pernah melupakan kebaikan orang Dayak Taman Kapuas di Desa Sayut selama penelitian. Bahkan ia juga mengaku akan datang kembali dan jika menikah ia berkeinginan memakai Adat Perkawinan Suku Dayak Taman Kapuas.



Baca: Franz Wilhelm Junghuhn dan Kecintaannya Pada Wilayah Priangan


"Rasanya saya tidak mau pulang dari disini (Desa Sayut), karena saya punya banyak kenangan yang tidak terlupakan disini. Disini saya melakukan beragam aktivitas bersama mereka, mulai dari berkebun, berladang, kegiatan sosial, hingga ikut acara adat seperti upacara adat kematian, upacara adat perkawinan," ucapnya.

Selain itu, masyarakat Desa Sayut, kata Mia, sangat antusias ketika dirinya hadir dan selalu membantunya, terutama dalam penelitian yang dilakukannya. Mia juga mengaku sangat sedih jika harus meninggalkan Desa Sayut. Oleh karena itulah, dirinya berkeinginan untuk kembali lagi mengunjungi masyarakat Suku Dayak Taman Kapuas.

"Sejak saya tinggal di Sayut, saya mencoba belajar bahasa Taman. Saya juga sudah tahu beberapa kata-kata, dan orang Sayut sangat suka ketika saya bisa bahasa Dayak Taman. Saya berpikir belajar bahasa lokal itu sangat penting. Karena saya sudah menjadi bagian dari mereka, saya berkeinginan jika menikah nanti menggunakan adat istiadat orang Dayak Taman Kapuas di Desa Sayut," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Adat Suku Dayak Taman Kapuas Desa Sayut, Abdias Suligantingan Nyokan mengungkapkan bahwa masyarakat memberikan nama untuk Mia Dunphy yakni Kasien, salah satu nama kalangan Semagat yang memiliki derajat sosial tertinggi di kalangan Suku Dayak Taman Kapuas.

Menurutnya, Kasien (Mia) sejak pertama kali menginjakkan kaki di Desa Sayut, telah menunjukkan sikap yang sangat baik, mampu beradaptasi dengan cepat, dan membaur dengan masyarakat di Desa Sayut.

"Dia mempunyai hati yang baik, kemana pun dan siapa pun yang bertemu dengannya dia sapa. Terlebih dia juga sangat fasih berbahasa Indonesia dan sudah beberapa bahasa Suku Dayak Taman diketahuinya. Sehingga hal itu mempermudah dia untuk beradaptasi dan berinteraksi dengan kami," ujar Abdias.

Abdias pun berharap gadis Australia tersebut tidak melupakan masyarakat Suku Dayak Taman Kapuas Desa Sayut, sebab banyak hal positif juga yang dilakukan Kasien (Mia) di Desa Sayut.

"Kami berharap Kasien tidak akan pernah melupakan kami, karena banyak kenangan untuk kami. Semoga Kasien bisa kembali lagi ke sini, karena dia juga adalah keluarga kami," harapnya.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Diajukan Jadi Pahlawan Nasional, Ini Profil Kiai Bisri Syansuri

Koropak.co.id, 29 January 2023 12:19:54

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa menyatakan dukungannya terhadap pengajuan sosok K.H. M. Bisri Syansuri sebagai sosok pahlawan nasional pada akhir Januari 2023. 

Khofifah menilai bahwa Kiai Bisri Syansuri sebagai sosok pejuang yang telah banyak berkontribusi bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bahkan menurutnya, Kiai Bisri Syansuri juga sangat berjasa terutama dalam resolusi jihad serta upaya memajukan pendidikan di Indonesia.

"Kiai Bisri memiliki jasa yang besar dalam perjuangan bangsa. Terutama saat resolusi jihad dan juga dalam upaya memajukan pendidikan pada kaum perempuan," kata Khofifah dalam kegiatan Haul K.H. M Bisri Syansuri ke-44, Nyai Hj. Nur Khodijah ke-74 dan Harlah Pondok Pesantren (PP) Mambaul Ma'arif Denanyar, Jombang belum lama ini.

Kepada dzuriyah Denanyar, Khofifah pun secara khusus menyampaikan bahwa proses pengajuan KH. M. Bisri Syansuri untuk menjadi pahlawan nasional agar dimaksimalkan pemenuhan persyaratannya.

Terlepas dari hal itu, mungkin sebagian dari kalian masih ada yang belum mengetahui banyak tentang sosok KH. M. Bisri Syansuri yang diusulkan Khofifah untuk menjadi Pahlawan Nasional. Lantas, siapakah Kiai Bisri Syansuri ini? 

Semasa hidupnya, Kiai Bisri Syansuri dikenal sebagai seorang ulama sekaligus tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang juga aktif di ranah politik. Kiai Bisri Syansuri lahir di Pati pada 18 September 1886 dan merupakan kakek dari Presiden Indonesia keempat, Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan nama Gus Dur. 

Kiai Bisri Syansuri wafat di usia 93 tahun di Jombang pada 25 April 1980 silam. Sebagai seorang ulama, Kiai Bisri Syansuri juga banyak berkecimpung di dunia pendidikan. Berdasarkan data dari laman resmi Pengurus Cabang NU Tulungagung, mencatatkan bahwa Kiai Bisri Syansuri merupakan pendiri Pondok Pesantren Denanyar, Jombang.



Baca: Ditetapkan Sebagai Pahlawan Nasional, Begini Perjuangan dr. Raden Rubini Natawisastra


Selain itu ia juga dikenal luas karena pengetahuannya yang sangat mumpuni mengenai fikih agama Islam. Sehingga tidak mengherankan sekali pengetahuan fikih yang dimiliki Kiai Bisri Syansuri begitu mantap. Sementara itu, sejak muda, ia gemar belajar kemana-mana. 

Tercatat, ia pernah menimba ilmu kepada KH Abdul Salam di Kajen, KH Fathurrahman bin Ghazali di Sarang Rembang, KH Kholil di Bangkalan, dan KH Hasyim Asy'arie di Tebu Ireng, Jombang.

Kemudian setelah itu, Kiai Bisri Syansuri pun melanjutkan pendidikannya ke Mekkah serta menjadi murid sejumlah ulama besar disana, seperti Syekh Muhammad Baqir dan Syekh Muhammad Sa'id Yaman. 

Sepulangnya dari Mekkah, Kiai Bisri Syansuri memutuskan untuk menetap di Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang lalu mendirikan pondok pesantrennya sendiri yang diberi nama Pondok Pesantren Mambaul Ma'arif pada 1917-an.

Selain aktif di dunia pendidikan, Kiai Bisri Syansuri juga ikut terlibat di bidang perjuangan, politik, dan pemerintahan. Seperti, pernah menjabat sebagai Kepala Staf Markas Oelama Djawa Timur (MODT) pada masa pendudukan Jepang. 

Selanjutnya setelah Indonesia merdeka, ia pernah bergabung dengan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), mewakili Masyumi. Tak berhenti sampai disana saja, Kiai Bisri Syansuri juga pernah menjadi pengurus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dengan menjadi ketua Majelis Syuro. Selain itu juga, ia pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) hingga 1980-an.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Berkenalan dengan Nova Sania, Gadis Cilik Berbakat dari Ciamis Manis

Koropak.co.id, 27 January 2023 15:06:57

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Barat - Nova Sania Namanya. Siapa sangka kecintaannya terhadap dunia modelling dan seni tari berhasil mengantarkannya meraih segudang prestasi, baik tingkat daerah hingga tingkat nasional.

Bocah yang akrab di sapa Neneng ini merupakan anak dari pasangan Nanang Sutendi (Ayah) dan Titing Sariningsih (Ibu). Gadis cilik kelahiran 10 Januari 2013 itu masih duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar (SD) Medanglayang 1, Panumbangan, Kabupaten Ciamis. 

Neneng yang kini berusia 9 tahun itu saat ini berada di bawah naungan Agency Demode Artist Management pimpinan Deny Suarghany ST. Neneng yang bercita-cita ingin menjadi seorang dokter itu terus berusaha untuk bisa menjadi anak yang membanggakan baik untuk orang tua maupun orang lain.

Neneng mengaku memutuskan untuk menekuni dunia modelling dan seni tari karena mendapatkan dukungan penuh dari kedua orangtuanya. Bahkan selain bercita-cita menjadi dokter, ia juga berkeinginan untuk bisa menjadi orang sukses, pemain sinetron dan bintang iklan.



Baca: Karina Aliya Afandi dan Kecintaannya Pada Kebudayaan Indonesia


Tercatat, berbagai prestasi yang pernah diraihnya dalam bidang seni tari diantaranya meraih Juara Pertama Tari Jaipong Disanggar Galuh Pakuan 2018 dan 2019, Juara berbakat Got Talent 2022 Tingkat nasional. Sementara di bidang modelling dan lainnya, Neneng berhasil meraih Juara Pertama Ekspresi dan Gaya yang dilaksanakan di Mayasari Tasikmalaya.

Selanjutnya Neneng juga berhasil menjadi Juara Pertama Icon model Jabar Ramayana di Garut 2022, Juara Pertama Fotogenic Ramayana di Garut 2022, Juara The Best Ghothic Award dan Juara Pertama The Best Foto Model di Hotel Horison Bandung 2022, serta Juara Pertama Model Busana Muslim kreasi 2023.

Pimpinan Agency Demode Artist Management, Deny Suarghany ST. juga mengaku bangga dengan anak didiknya. Ia menilai bahwa Nova merupakan model yang mempunyai potensi dan tidak pernah lelah untuk mengikuti proses.

"Nova tertarik menekuni dunia model itu sekitar 1 tahun yang lalu. sementara untuk hobi menarinya itu sudah ditekuninya sejak usianya masih kecil. Selain itu ia juga bercita-cita ingin menjadi model profesional dan penari yang go internasional agar bisa membanggakan kedua orangtua yang selalu mendukung kariernya tanpa kenal lelah," ungkapnya.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Kisah Perjalanan Hidup Nana Krip dan Sersan Prambors

Koropak.co.id, 22 January 2023 12:14:47

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Nana Krip dikenal sebagai seorang pelawak, aktor, dan penyiar radio dengan ciri khas logat bahasa Betawi-nya yang sangat kental saat tampil melawak. Pria kelahiran Cicalengka, Jawa Barat, 22 Januari 1946 ini juga merupakan salah satu pengisi acara sekaligus personel Sersan Prambors yang populer pada 1980-an. 

Diketahui, Serius Santai Prambors atau yang lebih dikenal dengan Sersan Prambors, adalah acara pengganti Warkop Prambors. Dalam perjalanannya, Sersan Prambors yang dikomandoi oleh Sys NS dan Muklis Gumilang itu pada akhirnya berhasil menarik personel acara Bahana Jokes di Radio Bahana untuk bergabung.

Ketiga personel acara Bahana Jokes di Radio Bahana yang diajak untuk bergabung itu diantaranya Krisna Purwana, Pepeng, dan Nana Krip. Awalnya, Sersan sendiri dibuat untuk bersaing dengan program "Bahana Jokes" pada hari dan jam yang sama. 

Namun setelah mengudara selama satu tahun, sebagian anggota Sersan semakin berkibar menjadi pengisi acara off-air, baik itu sebagai MC maupun pelawak sebagaimana halnya Warkop yang menjadi pendahulu. Tak lama kemudian, mereka berhasil melakukan rekaman kaset bertajuk Serius Santai, dan dilanjutkan dengan film-film mereka, salah satunya Film Anunya Kamu (1986).

Kembali lagi ke Nana Krip, pria yang memiliki nama lahir Rachmana ini memulai kariernya sebagai pelawak sejak masih berusia muda. Bahkan pada 1978-an, Nana Krip berhasil menjadi juara tiga Lomba Lawak Mahasiswa 1978. Sementara dua orang sahabatnya, Pepeng dan Krisna Purwana, terpilih menjadi juara satu dan dua.



Baca: Mengenang Mendiang Nano Riantiarno, Pendiri Teater Koma


Setelah itu, ia kemudian memutuskan untuk berkarier menjadi penyiar radio di Bahana FM. Saat itu, Nana Krip bersama dengan Pepeng dan Krisna Purwana membawakan program humor Bahana Jokes di stasiun radio tersebut. Tak hanya itu saja, mereka bertiga juga sempat membentuk sebuah orkes lawak, bernama Gerak Musik Seloroh atau disingkat dengan singkatan GMSelo.

Beberapa tahun kemudian atau tepatnya pada 1984-an, Nana Krip beserta dengan Pepeng dan Krisna berhasil diboyong oleh Muchlis Gumilang dan Sys NS untuk siaran di Prambors. 

Pada akhirnya, mereka berlima pun mengisi acara radio Sersan Prambors yang dirancang sebagai pengganti acara Warkop Prambors yang telah melepaskan diri dan bertransformasi menjadi Warkop DKI.

Bersama dengan Sersan Prambors, Nana Krip juga turut bermain di dalam film Anunya Kamu (1986) dan Sama-Sama Enak (1987). Sementara itu, di masa tuanya, ia sering tampil sebagai pelawak tunggal di berbagai acara stand up comedy baik itu secara on air, off air dan juga di stasiun televisi, seperti pada acara Stand Up Comedy Show Metro TV.

Pada 20 Februari 2019, Nana Krip meninggal dunia di usia 73 tahun di Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ) Cempaka Putih, setelah berjuang melawan penyakit yang dideritanya yakni komplikasi penyakit paru-paru.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Mengenang Mendiang Nano Riantiarno, Pendiri Teater Koma

Koropak.co.id, 21 January 2023 07:17:45

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Dunia hiburan tanah air kembali dirundung duka. Aktor sekaligus penulis dan sutradara, Nobertus Riantiarno atau yang lebih dikenal dengan nama Nano Riantiarno dikabarkan meninggal dunia pada Jumat 20 Januari 2023.

Kabar meninggalnya Nano Riantiarno yang juga merupakan pendiri Teater Koma itu disampaikan melalui akun Instagram resmi @teaterkoma. Nano meninggal dunia di usia 73 tahun.

"Telah berpulang ke rumah Bapa di Surga, suami, ayah, kakak, guru kami tercinta, Norbertus Riantiarno, di rumah beliau, para pagi hari, Jumat, 20 Januari 2023 pukul 06.58 WIB," tulis akun Instagram @teaterkoma, Jumat (20/1).

Saat ini, jenazah Nano Riantiarno disemayamkan di rumah duka yang berada di Sanggar Teater Koma tepatnya di Jalan Cempaka Nomor 15, Jakarta Selatan. Rencananya, jenazah Nano Riantiarno akan dimakamkan di Taman Makam Giri Tama, Tonjong, Bogor, pada Sabtu 21 Januari 2023.

Sebagai informasi, semasa hidupnya Nano Riantiarno dikenal sebagai seorang aktor, penulis, sutradara, wartawan, dan tokoh teater Indonesia. Pria kelahiran Kota Cirebon, Jawa Barat, 6 Juni 1949 ini sudah aktif berteater sejak masih duduk di bangku sekolah itu juga merupakan pendiri Teater Koma yang didirikannya pada 1977-an. 

Nano memiliki seorang istri yang merupakan aktris Indonesia bernama Ratna Riantiarno. Tercatat, Nano sudah aktif dalam dunia teater sejak 1965 di kota kelahirannya, Cirebon. Setelah lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) pada 1967, ia pun memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di Akademi Teater Nasional Indonesia. 

Kemudian pada 1971, Nano masuk ke Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara di Jakarta. Setelah itu, Nano bergabung dengan Teguh Karya, salah seorang dermawan yang ikut mendirikan Teater Populer pada 1968. Berselang beberapa tahun kemudian atau tepatnya pada 1 Maret 1977, ia mendirikan Teater Koma yang masih aktif berkegiatan sampai saat ini.



Baca: Mengenang Sandiah "Ibu Kasur", Sang Tokoh Pendidikan Indonesia


Diketahui sampai dengan 2006, kelompok teater ini sudah menggelar sekitar 111 produksi panggung dan televisi. Selanjutnya, ia pertama kali menjadi sutradara dalam film CEMENG 2005 (The Last Primadona) yang diproduksi oleh Dewan Film Nasional Indonesia pada 1995.

Semasa hidupnya, Nano banyak menulis skenario film dan televisi. Bahkan karya skenarionya berjudul Jakarta Jakarta, berhasil meraih Piala Citra pada Festival Film Indonesia di Ujung Pandang, 1978. Ada juga karya sinetronnya berjudul Karina berhasil meraih Piala Vidia pada Festival Film Indonesia di Jakarta, 1987.

Nano yang sudah sejak lama berkecimpung di dunia hiburan Indonesia berhasil menelurkan banyak sekali karya diantaranya Trilogi Opera Kecoa: Bom Waktu, Opera Julini, (drama) - Maha Tari, Yogyakarta, Percintaan Senjat, novel. - Majalah Kartini, Cermin Merah, novel - Grasindo (2004), dan Opera Primadona, drama - Pustaka Kartini.

Selanjutnya ada Semar Gugat, drama - Pustaka Bentang, Cinta Yang Serakah, drama - Pustaka Bentang, Opera Ikan Asin, drama - Pustaka Jaya, Teguh Karya dan Teater Populer - Sinar Harapan, Menyentuh Teater: Tanya Jawab Seputar Teater Kita, panduan teater bagi para pekerja seni pertunjukan - Sampurna (2003), dan masih banyak lagi karya yang lainnya.

Tidak hanya terkenal di Indonesia, nama Nano Riantiarno juga terkenal hingga ke mancanegara. Terbukti, ia sempat menyutradarai film Sampek Engtay di Singapura pada 2001 dengan pekerja dan para pemainnya yang berasal dari Singapura.

Nano juga berhasil menjadi salah satu pendiri Asia Art Net, AAN (1998), sebuah organisasi seni pertunjukan yang beranggotakan sutradara-sutradara Asia. Terakhir, ia menjabat sebagai artistic founder dan evaluator dari Lembaga Pendidikan Seni Pertunjukan Practice Performing Arts School (PPAS) di Singapura.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Mengenang Sandiah "Ibu Kasur", Sang Tokoh Pendidikan Indonesia

Koropak.co.id, 17 January 2023 12:10:38

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Sandiah atau yang lebih dikenal dengan julukan Ibu Kasur ini merupakan seorang seniman sekaligus tokoh pendidikan Indonesia. Wanita kelahiran Jakarta 16 Januari 1926 itu juga dikenal sebagai pembawa acara "Taman Indria" yang tayang di TVRI.

Sandiah menempuh pendidikan di sekolah Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Ia menikah dengan seorang pria bernama Soerjono yang juga dijuluki dengan nama Pak Kasur pada 29 Juli 1946 di Yogyakarta.

Dari hasil pernikahannya, mereka pun dikaruniai lima orang anak bernama Sursantio, Suryaningdiah, Suryo Prabowo, Suryo Prasojo, dan Suryo Pranoto. Sandiah mengembuskan nafas terakhirnya di usia 76 tahun dan meninggal dunia pada 22 Oktober 2002.

Bergabungnya Sandiah dengan Pramuka Indonesia, menjadi awal pertemuannya dengan sang suami Pak Kasur. Diketahui bahwa sejatinya nama kasur yang melekat pada dirinya merupakan panggilan "Kak Soer" yang merujuk pada sapaan akrab sang suami, Soerjono sewaktu masih muda.

Hal itulah yang membuat Sandiah pun dikenal dengan nama Ibu Kasur. Terdorong oleh dedikasinya terhadap dunia pendidikan anak-anak yang berkembang di Sekolah Menengah Pertama (SMP), Ibu Kasur dan sang suami pun lantas membuka sebuah sekolah pendidikan awal yang mereka namakan "TK Mini".

Sekolah tersebut dibuka di rumah mereka sendiri pada 1965-an. Sekolah ini jugalah yang menjadi dasar bagi pengabdian seumur hidup Ibu Kasur dan Pak Kasur terhadap dunia pendidikan pemuda Indonesia.

Bahkan, TK Mini yang didirikan keduanya itu juga sukses melahirkan beberapa lulusan terkenal seperti Presiden Kelima Indonesia sekaligus Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri, Guruh Soekarnoputra, Hayono Isman, dan Ateng.



Baca: Mengenang Abdul Hamid, Sosok Pak Ogah dengan Kalimat Ikoniknya "Cepek Dulu Dong"


Setelah Pak Kasur meninggal dunia pada 1992-an, lembaga pendidikan anak tersebut pun berubah menjadi TK Mini Pak Kasur yang mempunyai beberapa cabang di Jakarta. Bahkan sepeninggalan sang suami, Ibu Kasur memperluas program pendidikannya hingga ke seluruh Indonesia sebagai pembawa acara program anak-anak di Radio Republik Indonesia (RRI).

Selain itu, ia juga menjabat sebagai ketua Yayasan Setia Balita yang mendirikan empat cabang taman kanak-kanak secara nasional pada 1990-an. Tak berhenti sampai disana saja, Ibu Kasur juga turut mengedit majalah anak-anak, memproduksi film anak-anak, bahkan membuat puluhan lagu anak-anak.

Uniknya lagi, pada komposisi pendek lagu-lagu khas Kasur, mereka mengecualikan huruf "r" untuk membuat lagu bagi anak-anak yang mudah diingat dan diucapkan. Atas prestasinya sebagai pendidik yang kreatif dan berdedikasi, Ibu Kasur pun dianugerahi Penghargaan Presiden dalam kegiatan Hari Anak Nasional pada 1988.

Selain dikenal sebagai seorang pengajar dan pembawa acara, Ibu Kasur juga terkenal sebagai seniman yang menciptakan lagu untuk anak-anak. Tercatat sebanyak 150 lagu anak-anak Kasur dikenal oleh anak muda di seluruh Indonesia hingga kini, seperti lagu berjudul "Kucingku" atau "Bertepuk Tangan".  

Sementara sebagai seorang penulis, Ibu Kasur berhasil menerbitkan sebuah buku berjudul "Air Mata Sang Pohon Purba". Atas jasanya di bidang pendidikan anak-anak, Ia pun diganjar sejumlah penghargaan seperti Bintang Budaya Para Dharma (1992), penghargaan dari Presiden dalam rangka hari Anak Nasional (1988), Centro Culture Italiano Premio Adelaide Ristori Anno II dari pemerintah Italia (1976), dan penghargaan pembawa acara anak-anak legendaris di televisi.

Ibu Kasur meninggal dunia di usia 76 tahun akibat penyakit stroke pada 22 Oktober 2002. Ibu Kasur dimakamkan di Desa Kaliori, Kalibagor, Banyumas, Jawa Tengah tepat di samping makam Pak Kasur.

Selain itu, pada 16 Januari 2022 lalu, Google Doodle pernah menampilkan sosok Sandiah Ibu Kasur, dengan tampilan seorang perempuan mengenakan baju warna merah muda bermotif bunga. Pada Google Doodle itu juga terdapat tulisan "Sandiah Ibu Kasur's 96th Birthday" yang mengartikan hari tersebut adalah hari kelahiran Ibu Kasur.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Djenar Maesa Ayu, Seniman yang Angkat Tema Dunia Perempuan dan Seksualitas

Koropak.co.id, 14 January 2023 15:18:16

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Siapa yang menyangka bahwa dunia tulis menulis berhasil mengantarkan Djenar Maesa Ayu atau yang lebih akrab disapa Nai atau Djenar menjadi sosok seniman tersohor. Tak hanya dikenal sebagai penulis, Nai juga menjadi seorang aktivis perempuan sekaligus artis film.

Bisa dikatakan wanita kelahiran Jakarta, 14 Januari 1973 itu merupakan salah satu seniman wanita Indonesia yang cukup menonjol. Karya-karya cerpennya yang bernuansa feminin juga semakin membuat namanya diperhitungkan dan dikenal masyarakat. Bahkan namanya pun semakin melambung saat dia terjun ke dunia film.

Djenar terlahir dari keluarga seniman. Ayahnya, Sjumandjaya, merupakan seorang sutradara film, sedangkan ibunya, Toeti Kirana, adalah aktris terkenal era 1970-an. Djenar juga memiliki dua orang anak bernama Banyu Bening dan Btari Maharani.

Ia mengawali kariernya sebagai penulis cerita pendek (cerpen) yang kemudian menulis novel. Djenar mulai menggeluti bidang tulis menulis dengan menemui sejumlah sastrawan yang dijadikannya sebagai guru. Sebut saja Budi Darma, Seno Gumira Ajidarma, dan Sutardji Calzoum Bachri.

Meskipun hasil karyanya banyak mendapat kritikan dan pujian karena dianggap kontroversi. Namun baginya, hal tersebut tidak memengaruhi kreativitasnya, dan tetap menulis apa yang ingin diekspresikannya. Salah satu ciri khas dari karyanya adalah pada temanya yang mengangkat dunia perempuan dan seksualitas.

Seperti karya pertamanya berupa cerpen berjudul "Lintah" (2002) bertemakan feminisme yang dimuat di Kompas. Keberaniannya menulis karya bertema feminisme dianggap sebagai kelanjutan dari kebangkitan perempuan pengarang era 2000-an itu. Tak jarang juga setiap karyanya yang terbit selalu disertai kontroversi.

Kendati demikian ia tetap tak segan untuk memasukan sejumlah tema-tema krusial seksualitas berikut dengan idiom dan frasanya. Seperti hubungan tak lazim dalam dunia seks, hingga sejumlah tema pemberontakan perempuan yang selama ini masih jarang dijamah penulis lain.

Karya-karya Djenar juga banyak yang mendobrak tabu dan tak jarang pula dinilai vulgar. Namun di sisi lain, banyak yang menilai karyanya itu mencerahkan. Djenar juga termasuk penulis wanita yang produktif.



Baca: Chistine Ay Tjoe, Seniman Lukis yang Punya Sensibilitas Estetik


Pasalnya, hanya dalam kurun waktu tujuh tahun, ia berhasil menggarap 4 buku dengan tiga di antaranya masuk sebagai shortlist anugerah sastra tahunan Khatulistiwa Literary Award pada 2002, 2004 dan 2006. Bahkan setiap buku karyanya juga selalu masuk dalam deretan daftar buku bestseller.

Berbagai karyanya terutama cerpen pun tersebar di berbagai media massa Indonesia, seperti Kompas, The Jakarta Post, Republika, Koran Tempo, Majalah Cosmopolitan, dan Lampung Post.

Sementara itu, buku pertama hasil karya Djenar berupa kumpulan cerpen berjudul "Mereka Bilang, Saya Monyet!" (2004). Buku tersebut telah dicetak ulang sebanyak delapan kali dan berhasil masuk dalam sepuluh buku terbaik Khatulistiwa Literary Award 2003. Tak hanya itu saja, buku itu juga diterbitkan dalam bahasa Inggris.

Selanjutnya Kumpulan cerpen "Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu)" juga mendapat penghargaan lima besar Khatulistiwa Literary Award 2004. Kemudian karya cerpennya "Waktu Nayla" mendapat predikat Cerpen Terbaik Kompas 2003, yang dibukukan bersama cerpen "Asmoro" dalam antologi cerpen pilihan Kompas.

Tak berhenti sampai disana, Cerpen "Menyusu Ayah" menjadi Cerpen Terbaik 2003 versi Jurnal Perempuan dan diterjemahkan oleh Richard Oh. ke dalam bahasa Inggris dengan judul "Suckling Father" untuk dimuat dalam Jurnal Perempuan versi bahasa Inggris khusus edisi karya terbaik.

Selain berkarya sebagai penulis, wanita yang kini berusia 49 tahun itu juga pernah bekerja untuk televisi. Tercatat, Djenar pernah mengikuti kursus membuat film sebelum mulai menyutradarai film pertamanya. Dalam pembuatan filmnya, ia tidak hanya menjadi sutradara, terkadang ia juga bekerja sebagai produser, penulis dan pemain.

Pada 2009, Djenar menyutradarai film yang kedua berjudul "SAIA" sekaligus menulis skenario dan bermain dalam film tersebut. Djernar juga membintangi film "Boneka dari Indiana" (1990), "Koper" (2006), "Anak-Anak Borobudur" (2007), "Cinta Setaman" (2008), "Dikejar Setan" (2009), "Melodi" (2010), dan "Purple Love" (2011).

Djenar pun turut menjadi sutradara film "Mereka Bilang, Saya Monyet", serta sutradara TV dalam acara "Fenomena" (TransTV, 2006) dan "Silat Lidah" (AnTV, 2007). Djenar berhasil mendapat Piala Citra untuk Sutradara Terbaik dalam film Mereka Bilang, Saya Monyet!.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Chistine Ay Tjoe, Seniman Lukis yang Punya Sensibilitas Estetik

Koropak.co.id, 10 January 2023 15:11:28

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Dunia seni rupa Asia Tenggara tentunya mengenal benar karya-karya Christine Ay Tjoe. Bagaimana tidak, gaya estetiknya yang khas dalam setiap karyanya itu rupanya berhasil mencuri perhatian banyak galeri dan kolektor seni rupa kontemporer. 

Christine Ay Tjoe juga dikenal sebagai seorang seniman yang memiliki sensibilitas estetik yang diolah dari perasaan terdalamnya. Oleh karena itulah, setiap karya yang diciptakannya terasa sangat personal, orisinil, dan sama sekali tak dipengaruhi tren seni rupa terkini. 

Pasalnya, Christine Ay Tjoe hanya percaya kepada dirinya sendiri. Karena, baginya kanvas itu merupakan penyembuh luka-luka hidupnya. Christine lahir di Bandung, 27 September 1973 dan berasal dari keluarga yang sederhana. 

Seniman asal Bandung yang berkarya dalam bidang seni lukis juga merupakan lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain,  Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1997-an. Sebelum aktif berkarya sebagai seniman, Christine awalnya meniti karier sebagai asisten perencang busana.

Pada 2004, Christine berhasil menerima beasiswa di Stiftung Kuenstlerdorf, Schoeppingen, Jerman. Selanjutnya pada 2007, ia mendapatkan penghargaan sebagai pemenang lima besar Philips Morris Indonesia Art Award.

Setahun kemudian atau tepatnya pada 2008, ia berhasil mendapatkan penghargaan atas penampilannya sebagai pemeran tunggal Interiority of Hope di Galeri Emitan di Surabaya. Di tahun yang sama, Christine menjadi artist residensi di STPI, Singapura.



Baca: Kisah Heru Susilarto, Seniman Keris Muntilan dari Lereng Merapi


Kemudian pada 2009, ia juga berhasil mendapatkan penghargaan SCMP Art Futures Prize Winner di Hongkong Art Fair. Lalu di tahun 2015, Christine mendapatkan penghargaan Prudential Eye Awards. Berbicara mengenai karyanya, lukisan kontemporer hasil karya Chistine memperoleh apresiasi yang tinggi di mancanegara.  

Bahkan pada 2007, karyanya berjudul "Small Flies and Other Wings" yang dipajang di balai lelang Phillips Hongkong sampai dihargai sebesar 11,7 Dollar Hongkong. Diketahui, karyanya itu menggambarkan kehidupan dan kematian yang divisualisasikan oleh sekumpulan lalat.

Sementara itu, berbagai karya yang diciptakan Christine itu mulai dipamerkan pada 1999-an dalam pameran bersama "Biasahaja'99, Graphic Art Exhibition" yang dilaksanakan di Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta. Lalu pada 2001, Karya Christine berhasil dipamerkan di luar negeri untuk pertama kalinya ketika mengikuti "Art Singapore" di Singapura. 

Di tahun yang sama, Christine juga mengadakan pameran tunggal untuk pertama kalinya dengan judul "Buka Untuk Melihat" yang dilaksanakan di Redpoint Gallery, Bandung. Setelah itu, berbagai pameran tunggal pun telah dilaksanakannya, diantaranya "At The Day of German Unity" di German Embassy, Jakarta (2002), "Reach Me" di Cemeti Art House, Yogyakarta dan "Aku/Kau/Uak" di Edwin's Gallery, Jakarta (2003).

Lalu ada "Eksekusi Ego" di Edwin's Gallery, Jakarta (2006), "Silent Supper" di Ark Galerie, Jakarta (2007), "Wall Prison (part two)" di Scope Miami Art Fair, Miami dan "Interiority of Hope" di Emmitan CA Gallery, Surabaya (2008), "Panorama Without Distance" di Hong Kong Art Fair, Hong Kong Convention & Exhibition Centre dan "Eating Excess" di Singapore Tyler Print Institute, Singapore (2009).

Ada juga "Lama Sabahktani Club" di Lawangwangi Art & Science Estate, Bandung dan "Symmetrical Sanctuary" di Sigi Art Gallery, Jakarta (2010), "Perfect Imperfection" di SongEun ArtSpace Seoul, Korea (2015), BLACK, KCALB, BLACK, KCALB di White Cube London, Inggris, dan "The Black Side" di Ota Fine Arts, Shanghai, China (2018), dan "Spinning in the Desert" di White Cube Hong Kong, (2021).


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Kisah Heru Susilarto, Seniman Keris Muntilan dari Lereng Merapi

Koropak.co.id, 06 January 2023 12:07:36

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Siapa yang tak mengenal senjata tradisional satu ini. Keris namanya. Senjata tradisional yang menjadi Warisan Budaya Takbenda (WBTb) UNESCO ini sangat populer baik di Pulau Jawa, maupun di beberapa daerah di Indonesia. Pasalnya, beberapa daerah di Nusantara juga memiliki keris dengan ciri khasnya masing-masing.

Konon selain dijadikan sebagai senjata, keris juga menjadi identitas status sosial serta pelengkap ritual adat. Namun seiring berjalannya waktu, kini keris itu juga berfungsi sebagai benda seni yang dijadikan sebagai koleksi oleh para pencintanya.

Empu, menjadi gelar yang diberikan kepada orang-orang yang membuat keris. Namun untuk membuatnya, tentunya diperlukan keahlian yang tinggi dan mengenal seluk beluk dari sebuah keris. Saat ini, bisa dikatakan memang pembuat keris tidaklah banyak. 

Akan tetapi, ada empu pengrajin keris yang sampai dengan sekarang masih terus melestarikan kerajinan seni tempa logam ini. Heru Susilarto namanya. Atau para pencinta keris biasa memanggilnya dengan sebutan "Heru Nglawisan", seniman pengrajin keris yang berasal dari Kota Magelang. 

Sesuai dengan nama panggilannya, ia sehari-harinya menggarap keris di rumahnya yang berada di Dusun Nglawisan, Desa Tamanagung, Kecamatan Muntilan. Mungkin bagi Anda yang mengetahui sejarahnya, biasanya pembuat keris merupakan keturunan dari empu-empu di zaman dahulu.

Namun tidak dengan Heru, ia justru bukanlah keturunan kerajaan atau empu terdahulu. Semua keahliannya dalam membuat keris itu benar-benar didapatkan dan dipelajarinya secara otodidak. Diketahui, minatnya pada keris itu tidak terlepas dari kecintaannya terhadap karya seni dan barang antik.

Proses yang cukup panjang dari awal hingga akhir harus dilewati dalam pembuatan keris. Mulai dari penempaan hingga penggarapan bentuknya, setiap tahap ini dilakukan oleh orang yang berbeda-beda. Akan tetapi Heru tidak melakukan penempaannya sendiri dan menyerahkannya kepada orang lain. 

Meskipun begitu, Heru tetap menguasai teknik penempaan dari awal hingga akhir. Kemudian dalam pemilihan materialnya, Heru juga berusaha untuk memanfaatkan berbagai material yang ada di sekitar. Misalnya untuk bahan nikel, heru bisa mengambilnya dari knalpot yang sudah tak terpakai.



Baca: Kisah Wawan Gunawan, Perajin Terompet Pencak


Karena baginya kualitasnya itu tak jauh berbeda dan semuanya tergantung dari keahlian penempa. Lalu, untuk alat-alat yang heru gunakan juga sudah modern. Sementara itu, hal lain yang membedakan empu yang satu ini dengan yang lainnya yaitu Heru lebih mengandalkan rasionalitas ketika membuat keris. 

Segala tahap pembuatan keris tidak lepas dari hal-hal yang ilmiah, misalnya dari segi sudut pandang ilmu fisika atau kimia, dalam konteks metalurgi yang juga berpadu dengan nilai-nilai seni. Heru juga tidak melakukan berbagai anjuran yang berbau mistis atau klenik.

Karena dalam pandangannya, yang menjadi daya tarik utama keris itu adalah nilai seninya sebagai kerajinan tempa logam. Meskipun begitu, ia sendiri tetap menghargai tradisi kuno tersebut hanya sebagai hasil budaya di masa lalu, akan tetapi tidak untuk menerapkannya. 

Sesuai dengan kepercayaannya, Heru juga tidak menerima pesanan keris yang memiliki motif makhluk bernyawa secara penuh. Menariknya lagi, dalam pembuatan sebilah keris, Heru mengerjakannya sesuai dengan suasana hati. Ia menganggap itu sangat penting dilakukan terutama ketika membuat karya seni seperti keris.

Apabila ia memaksakan pembuatannya ketika suasana hati tidak baik, maka hasilnya pun tak akan menjadi maksimal. Sehingga, pelanggan pun tidak bisa menentukan waktu untuk keris pesanannya selesai, dan semuanya tergantung kepada sang empu.

Setidaknya bagi pembeli yang hendak memesan, harus menyiapkan uang sebesar Rp10 juta untuk keris tanpa rangka dengan uang muka sebesar 50 persen yang harus diserahkan di awal. Tercatat sejak 1997-an sampai dengan sekarang, sudah ada ratusan keris yang berhasil dibuatnya. 

Bahkan untuk pembelinya juga berasal dari berbagai kalangan dan wilayah di seluruh Indonesia. Tak jarang, Heru juga menerima pesanan dari luar negeri. Selain itu, ia juga bisa membuatkan sertifikat bagi pemesan yang menginginkannya sebagai tanda kepemilikan.

Profesi pembuat keris ini memanglah tergolong unik dan langka. Harapan besar Heru, setidaknya setiap daerah itu harus memiliki masing-masing empu. Sebagai warisan budaya tak benda dunia, menurutnya, generasi muda harus bisa lebih mengenal keris agar kerajinan ini bisa dikenal oleh generasi selanjutnya.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Mengenang Abdul Hamid, Sosok Pak Ogah dengan Kalimat Ikoniknya "Cepek Dulu Dong"

Koropak.co.id, 30 December 2022 07:02:52

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Dunia hiburan Tanah Air kini tengah diselimuti kabar duka. Salah satu pengisi suara legendaris Indonesia, Abdul Hamid atau yang dikenal dengan karakter "Pak Ogah" meninggal dunia pada Rabu 28 Desember 2022 lalu. 

Diketahui, karakter tersebut melekat pada Abdul Hamid karena semasa hidupnya ia menjadi pengisi suara karakter Pak Ogah dalam serial "Si Unyil". 

Sebelum tutup usia, Pak Ogah memang tengah menderita sakit stroke, dan beberapa bulan terakhir kondisi kesehatannya mulai menurun. Bahkan, sebulan terakhir Pak Ogah kehilangan nafsu makan hingga membuat tubuhnya semakin lemah.

kabar kepergian Pak Ogah disampaikan langsung oleh sang istri, Yuyun Widayanti. Yuyun menceritakan bahwa sang suami harus berjuang melawan penyakit yang dideritanya selama empat tahun terakhir. Selain penyumbatan darah pada otak, Pak Ogah juga mengidap penyakit maag, darah tinggi, dan terdeteksi batu ginjal. 

Pak Ogah pun sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit (RS) Kartika Husada selama 18 hari. Namun sayangnya, ia tidak mau makan, bahkan enggan untuk kontrol. Akibatnya kondisi tubuhnya semakin lemah dan meninggal dunia sekitar pukul 19.30 WIB pada Rabu 28 Desember 2022.

Kabar kepergian Pak Ogah ini pun menyita perhatian netizen hingga banyak dari mereka mencari tahu tentang kehidupan Pak Ogah.



Baca: Mengenang Suyadi, Sosok Pencipta Tokoh "Si Unyil"


Bernama lengkap Abdul Hamid, pria kelahiran 3 Desember 1948 ini terkenal sebagai pengisi suara Pak Ogah dalam serial "Si Unyil", acara televisi yang diproduksi oleh Perum Produksi Film Negara (PPFN). 

Sebagai pengisi suara Pak Ogah, Abdul Hamid pun dikenal dengan beberapa kalimatnya yang ikonik, seperti "cepek dulu dong" atau "ogah ah". Tak hanya itu saja, ia juga semakin beken melalui boneka berkepala plontos yang dibuat semirip mungkin dengan perawakan dirinya. 

Menariknya lagi, tokoh Pak Ogah ini tidak pernah diganti meskipun stasiun televisi yang menayangkan acara Si Unyil berbeda-beda. Dalam serial Si Unyil, karakter Pak Ogah dikenal sebagai orang yang pemalas, tak punya pekerjaan, dan sering mondar mandir di kampung Unyil. 

Pak Ogah yang memiliki kepala plontos ini juga sering nongkrong di pos ronda. Abdul Hamid menjadi pengisi suara Pak Ogah sejak serial Si Unyil pertama kali dirilis. Seiring berjalannya waktu, Pak Ogah pun bertansformasi menjadi tokoh ikonik yang kebiasaannya meminta uang Cepek alias Rp100 ke orang-orang. 

Karakter Pak Ogah yang konyol itu juga begitu berkesan dan diingat khususnya oleh anak-anak generasi 90-an. Tak berhenti sampai disana saja, sosok karakter Pak Ogah juga begitu melekat dengan Abdul Hamid, sampai membuat dirinya tetap dipanggil Pak Ogah di kehidupan nyata hingga saat ini.

Sebelum dikenal sebagai Pak Ogah, Abdul Hamid juga mengisi sejumlah suara dalam serial yang sama, seperti penjahat dan Engkong Meilani. Diketahui juga, sebelum menjadi pengisi suara Pak Ogah, Abdul Hamid memulai kariernya di dunia hiburan sebagai kru dan bekerja di belakang layar.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Mengenang Ersa Siregar, Wartawan RCTI yang Tewas dalam Konflik Senjata di Aceh

Koropak.co.id, 29 December 2022 15:12:39

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Hari ini, 19 tahun yang lalu atau tepatnya pada 29 Desember 2003 silam, Sori Ersa Siregar atau Ersa Siregar, jurnalis atau wartawan Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) tewas saat bertugas meliput konflik bersenjata yang terjadi di Aceh. 

Pria yang akrab disapa Bang Ersa itu tewas tertembak dalam kontak senjata antara Tentara Nasional Indonesia (TNI) dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di daerah Langsa, Kecamatan Simpang Ulim, Aceh Timur, setelah sebelumnya disandera pada 23 Juni 2003 silam.

Ersa Siregar meninggal dunia akibat dua tembakan di leher yang tembus hingga ke tangan kanan dan dada yang tembus ke punggung. Jenazah Ersa Siregar pun kemudian disemayamkan di Rumah Sakit Angkatan Darat Kesrem Liliwangsa, Lhokseumawe, Aceh Utara.

Sebelum ditemukan tewas, Ersa Siregar dan juru kameranya Ferry Santoro dilaporkan hilang dan diculik oleh GAM pada Juni 2003 dan pada 2 Juli 2003. Ersa dan juru kameranya menjadi tawanan GAM di daerah Langsa, Aceh Timur yang dikenal sebagai salah satu daerah yang menjadi basis GAM.

Selama 6 bulan Ersa Siregar ditawan oleh GAM hingga pada akhirnya tewas ketika terjadi operasi penyelamatan terhadap dirinya. Diceritakan saat itu, penyerbuan TNI ke markas GAM justru membuat dirinya tertembak dan meninggal pada 29 Desember 2003. Ia pun menjadi salah satu korban dari konflik bersenjata di Aceh.

Diketahui, Ersa Siregar lahir di Brastagi, Sumatra Utara, 4 Desember 1951. Sebagai seorang wartawan, Ersa Siregar dikenal sebagai pribadi yang ulet dan tekun dalam bekerja. Ersa Siregar merupakan anak pertama dari sepuluh bersaudara pasangan Baginda Madjid Siregar (ayah) dan Nurmia Boru Harahap (ibu).



Baca: Mengenang Munir dan Misteri Kematiannya


Setelah lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) di Medan, Ersa Siregar memutuskan untuk kemudian merantau ke Jakarta. Di Jakarta, ia sempat berkuliah di sebuah akademi perbankan hingga sempat belajar jurnalistik. Sambil menempuh pendidikan di perguruan tinggi, Ersa Siregar mengisi kesibukannya juga dengan bekerja.

Pria yang telah bergabung dengan RCTI sejak 1993-an itu juga dikenal sebagai pribadi yang humoris, tegas dan tak kenal lelah. Dalam dunia pers Indonesia, tentunya pengalaman yang dimiliki Ersa Siregar sebagai reporter senior sudah tak perlu diragukan lagi. 

Sebelum peristiwa penyanderaan yang dilakukan GAM, hingga pada akhirnya ditemukan sudah tewas, pria yang telah dikenal menjadi wartawan sejak 1987-an ini pernah ditugaskan ke sejumlah negara untuk meliput berbagai kegiatan penting. 

Sehingga, tidak mengherankan sekali jika Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pernah memberikan penghargaan Udin Award 2003 kepada Ersa atas segala dedikasi yang telah diberikan kepadanya.

Sebelum bekerja untuk stasiun televisi RCTI, Ersa Siregar pernah berkarier di TVRI sejak 1978 dan pernah menjadi pembaca berita di program Dunia Dalam Berita (1978-1993). Selain itu, Ersa Siregar pernah berkarier di PT Fresda, PT Satmarindo, hingga tercatat pernah menjadi wartawan di Majalah Suasana dan Majalah Keluarga.

Saat pertama kalinya bergabung dengan RCTI, Ersa Siregar bertanggung jawab menjadi translator serta produser. Setelah itu, ia kemudian menjabat sebagai koordinator daerah (Korda), koordinator bidang (korbid), serta koordinator liputan hingga tewas pada 29 Desember 2003 silam.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Abdi Setiawan, Perupa yang Padukan Seni Lukis dan Patung di Setiap Karyanya

Koropak.co.id, 28 December 2022 12:16:52

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Bagi pencinta seni kontemporer, tentunya sudah tidak asing dengan sosok seniman yang satu ini. Namanya Abdi Setiawan. Pria kelahiran Sicincin, Pariaman, Sumatra Barat, 29 Desember 1971 ini dikenal sebagai seorang seniman kontemporer Indonesia yang beraktivitas sebagai pematung dan pelukis.

Abdi Setiawan pernah menempuh pendidikan tinggi dengan mengambil jurusan seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta (1993-2003). Saat ini, Abdi Setiawan tergabung dalam Sakato Art Community atau Komunitas Seni Sakato di Yogyakarta. 

Dalam setiap karya yang dibuatnya, Abdi sering mengangkat figur-figur manusia. Sebagai perupa yang memadukan seni lukis dan seni patung, Abdi juga sering melakukan pameran atau eksebisi baik di dalam maupun di luar negeri. 

Kebanyakan, hasil karyanya itu dibeli oleh kolektor dari Italia. Abdi Setiawan diketahui telah aktif mengikuti pameran sejak dirinya menempuh pendidikan tingginya di jurusan Seni Kriya, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang ditamatkannya pada 2003. 

Pada 2004, IFI-LIP Yogyakarta pun menjadi lokasi pertama kalinya Abdi Setiawan menggelar pameran tunggalnya bertajuk "Gairah Malam". 

Dalam pameran tunggalnya itu, karya patung yang ditampilkan ingin secara utuh menggambarkan serangkaian cerita, dengan patung-patung seukuran tubuh manusia dalam simulasi ruang tamu di rumah bordil. Gaya pameran tunggal dengan konsep seperti itu pun menjadi salah satu ciri khasnya.



Baca: Kisah Wawan Gunawan, Perajin Terompet Pencak


Seperti halnya juga pameran tunggal Abdi yang digelar di Red base Art Gallery, Ciputra World Lantai 12 Jakarta, pada 30 Oktober s.d 30 November 2014. Di pameran itu, Abdi ingin berbicara tentang kekerasan, khususnya yang terjadi pada anak-anak atau bahkan yang dilakukan oleh anak-anak. 

Mereka yang pada umumnya identik dengan citra manis dan polos, namun bisa jadi berbeda dikarenakan mereka juga bagian dari cerminan dunia orang dewasa. Tak hanya pameran tunggal, Abdi juga sering mengikuti pameran bersama seperti pameran karya mahasiswa ISI-IKJ bertajuk "Dialog Dua Kota I" yang dilaksanakan di Taman Ismail Marzuki pada 1996.

Kemudian ada juga "Festival Kesenian Yogyakarta XV" (2003), A "Jakarta Biennale #14: Maximum City" (2011), "Yogyakarta-5 Artists from Indonesia", Marc Straus Gallery, di New York, Amerika Serikat (2012), "Ekspansi: Pameran Besar Patung Kontemporer" di Galeri Nasional Indonesia (2011), "Bakaba #6" (2017), dan lainnya. 

Pada salah satu pameran bersama bertajuk "What's in yourpocket?" yang dilaksanakan di Purna Budaya (sekarang menjadi PKKH UGM), Kurator, Nudrin Ichsan menyebutkan karya Abdi Setiawan bisa dikenali sebagai patung yang sifat monolith-nya tidak terasa dikarenakan tidak adanya kesatuan bentuk material. 

Abdi juga dengan lugasnya menggabungkan material nyata dengan material manusia kayu buatannya yang artifisial. Tercatat hingga 2019, Abdi sudah puluhan kali mengadakan pameran bersama, dan lima kali pameran tunggal. 


Silakan tonton berbagai video menarik di sini: