Martin Aleida, Sastrawan Saksi Kekejaman Militer Orde Baru

Koropak.co.id, 08 June 2022 12:10:21
Penulis : Eris Kuswara
Martin Aleida, Sastrawan Saksi Kekejaman Militer Orde Baru


Koropak.co.id - Memiliki nama asli Nurlan, Martin Aleida dikenal sebagai seorang sastrawan yang juga menjalani profesi wartawan. Pria kelahiran Tanjung Balai, Sumatera Utara, 31 Desember 1943, itu dikenal sebagai sastrawan setelah menghasilkan berbagai karya yang fenomenal, mulai dari cerita pendek (cerpen) hingga novel.

Menikah dengan wanita asal Solo, Sri Sulasmi dan dikarunia 4 orang anak, Martin terlahir dari keluarga yang taat beragama, bahkan sang ayah merupakan seorang haji. Sejak kecil Martin sudah akrab dengan dunia sastra.

Setelah lulus SMA, Martin tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Sastra, Universitas Sumatera Utara, namun sayangnya tidak tamat. Pada 1982-an ia juga pernah menempuh pendidikan di Georgetown University, Washington DC, Amerika Serikat.

Pada 1963, Martin memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Ia aktif berkesenian, bahkan setahun kemudian ia ikut bermain di Gedung Kesenian Jakarta dan PGRI. Kala itu ia bermain dengan membawakan naskah 'Si Nandang' yang diambil dari cerita rakyat dan ditulis oleh Ebrahim Hamid. 

Setelah itu, ia pun terjun ke dunia jurnalistik dengan menjadi wartawan. Sayangnya pekerjaannya itu hanya bertahan selama satu tahun. Setelah itu ia bekerja serabutan. Memasuki usia 22 tahun, pada Januari 1965, Martin kembali bekerja sebagai wartawan di 'Harian Rakjat'.

Di tempat barunya ini, ia ditugaskan untuk menjadi wartawan istana dengan meliputi kegiatan Presiden Soekarno. Ia bertugas selama 7 bulan untuk meliput orang nomor satu di Indonesia sebelum memutuskan keluar pada Juli 1965.



Baca: Linus Suryadi dan Cara Kreatifnya Perkaya Khazanah Sastra Indonesia


Siapa sangka bahwa profesi yang digeluti itulah yang mengantarkannya mendekam di balik jeruji besi. Kala itu, tepatnya pada awal 1966, Martin bersama enam rekannya ditangkap dan dibawa ke Markas Komando Distrik Militer 0501, Jakarta Pusat.

Ia bersama dengan enam rekannya itu ditangkap dan dipenjara di Kamp Konsentrasi, karena majalah Zaman Baru diterbitkan oleh Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) yang berafiliasi kepada Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sejak saat itu ia mengubah namanya dari awalnya bernama Nurlan berubah menjadi Martin Aleida. Diketahui, nama Martin merupakan wujud penghargaan terhadap kegemaran ayahnya yang bercerita tentang tokoh Martin Luther King. 

Sementara nama Aleida, diibaratkan semacam kata seru sebagai penanda kekaguman yang sering digunakan di kalangan penduduk Melayu di pesisir Sumatera Timur.

Dengan menggunakan nama pena Martin Aleida, tepatnya pada 14 Januari 1971, ia bergabung dengan majalah Tempo yang kala itu baru berdiri hingga bertahan selama 13 tahun. Pada 1984, ia pun menjadi wartawan mingguan olahraga Bola. 

Saat itu Martin meyakini bahwa olahraga mampu memberikan kesempatan yang luas bagi seorang penulis dalam mengasah dan mempertajam kepekaan pada detail dan gerak yang membuat bidang kehidupan menjadi begitu dinamis.

Berakhirnya kekuasaan Orde Baru pada 1998, ia pun menulis cerita-cerita pendek sebagai kesaksian terhadap ketidakadilan dan kekejaman kekuasaan Orde Baru. Tokoh-tokoh dalam cerita yang dibuatnya itu adalah mereka yang dikucilkan oleh kekuasaan.

Selama terjun di bidang penulisan, Martin berhasil menciptakan buku kumpulan cerita pendek mulai dari Malam kelabu, Ilyana, dan Aku (1998) Perempuan Depan Kaca (2000), Leontin Dewangga (2003), Dendam Perempuan (2006), dan Langit Pertama Langit Kedua (2013). 

Tak hanya cerpen, Martin juga turut menghasilkan novel meliputi Layang-Layang Itu Tidak Lagi Mengepak Tinggi-Tinggi (1999), Jamangilak Tak Pernah Menangis (2003), dan Mati Baik-Baik Kawan (2009).


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Komentar

Mengenang Tati Saleh, Srikandi Jaipong Sunda Era 70-an

Koropak.co.id, 24 November 2022 12:11:11

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Raden Siti Hatijah atau yang lebih dikenal dengan nama Tati Saleh merupakan seorang seniman tari Sunda yang namanya sangat populer di era 1970-an. 

Wanita kelahiran Jakarta, 24 Juli 1944 ini menjalani hidupnya sebagai seorang juru kawih, juru tembang, penari, srikandi jaipong, pemain film, hingga penggubah tari jaipong.

Tati Saleh merupakan anak dari pasangan Abdullah Saleh (Ayah), seorang seniman yang juga berprofesi sebagai Kepala Kebudayaan Ciamis, dan Tjarwita Djuariah (Ibu), seorang pengajar seni tari dan tembang.

Bakat menari yang dikuasai Tati Saleh sendiri didapatkannya dengan belajar dari sang ayah dan juga kepada Raden Enoch Atmadibrata, Ono Lesmana, dan tokoh tari Sunda, Raden Cece Somantri.

Berbicara mengenai latar pendidikannya, Tati Saleh menempuh pendidikan formalnya saat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang ditempuhnya di Ciamis, tempat asalnya. Sedangkan untuk Sekolah Lanjutan Atas (SLA) ditempuhnya di Konservatori Karawitan (KOKAR) Bandung (sekarang SMK Negeri 10 Bandung). 

Diketahui, kemampuan olah vokal Tati Saleh sendiri sudah mulai terasah sejak ia berusia 4 tahun. Uniknya lagi, kemampuan tersebut pada awalnya didapatkan tidak karena dididik secara khusus. 

Kemampuan Tati Saleh dalam melantunkan tembang Cianjuran itu justru didapatkannya dengan mencuri dengar tatkala ayah dan saudara-saudaranya berlatih. Demikian halnya dengan kemampuan menari yang dimiliki Tati Saleh. Gerakan dasar tari tradisional yang dikuasainya itu ternyata berasal dari mengintip orang latihan. 

Mulai dari gerakan Giler panon atau lirikan mata, godeg atau menggerakkan kepala, ngalungkeun soder atau melempar selendang, dan keupat atau berlenggang bisa diperagakan Tati kecil dengan cekatan. Bakat alam itulah yang kemudian diasah oleh ayahnya, Abdulllah Saleh.

Sementara itu, kiprah seni Tati Saleh sendiri dimulai sejak usianya masih belia. Di usianya yang masih belia itu, ia sudah berhasil menjadi bintang panggung. 



Baca: Mengenang Suyadi, Sosok Pencipta Tokoh "Si Unyil"


Bahkan Tati Saleh masih duduk di kelas I SMP pada 1959-an, ia sudah dipercaya untuk membawakan kidung dalam menyambut Presiden Pakistan, Ayub Khan yang berkunjung ke Bandung.

Melihat bakat emas yang dimiliki sang anak, ayahnya pun memilih untuk mengirinkan ke sekolah karawitan dibandingkan sekolah umum setelah lulus SMP.

Setelah melalui proses pematangan, Tati Saleh pun akhirnya berhasil menjadi seorang seniman serba bisa, menyanyi, menari, sekaligus juga menjadi artis. Bahkan namanya pun tak hanya terkenal di tatar Sunda saja, melainkan di seluruh Indonesia. 

Di sisi lain, kemampuan olah vokal Tati Saleh juga memiliki ciri khasnya tersendiri, yakni karakter suaranya yang unik, hingga bisa mencapai empat setengah oktaf. Menariknya lagi seniman Tan Deseng sampai mensejajarkan kemampuan vokal yang dimiliki Tati Saleh dengan biduanita Barat, Katerinna Valente.

Sedangkan di bidang seni tari, Tati Saleh dan beberapa rekannya juga berhasil menggubah beberapa Seni Ibing Jaipongan seperti Lindeuk Japati, Rineka Sari, Mega Sutra di Konservatori Karawitan (Kokar). 

Pada 1960-an, Tati Saleh bersama Indrawati Lukman, Irawati Durban, Tien Sapartinah dan Bulantrisna Jelantik pun dikenal sebagai penari istana. 

Seniwati Sunda yang sering melawat ke luar negeri mewakili Indonesia dan Jawa Barat itu juga memiliki falsafah hidup yang dalam menjalani segala sesuatu termasuk menekuni profesi harus dijalani secara tuntas. 

Pada 9 Februari 2006, Tati Saleh meninggal dunia di usianya yang ke-61 tahun di Rumah Sakit (RS) Immanuel Bandung akibat penyakit komplikasi luka lambung, vertigo dan terdeteksi penyakit diabetes. Ia pun dimakamkan di taman pemakaman keluarga di Ciamis, Jawa Barat.

Srikandi Jaipongan Sunda di era 70-an itu pun pergi meninggalkan suami tercintanya Maman Sulaeman dan tiga orang anak yaitu Mutia Purnamawati, Budi Laksana dan Lia Mulyati Agustina. 


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Des Alwi, Anak Angkat Bung Hatta dan Sutan Sjahrir yang Dijuluki Pelobi Tingkat Tinggi

Koropak.co.id, 17 November 2022 07:17:41

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Des Alwi Abubakar atau yang lebih dikenal dengan nama Des Alwi merupakan seorang sejarawan, diplomat, penulis, sekaligus advokat kelahiran Banda Neira, sebuah pulau yang terbesar dari Kepulauan Banda di Maluku pada 17 November 1927. 

Des Alwi juga merupakan anak angkat dari Wakil Presiden Pertama Indonesia Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir. Diketahui, awal pertemuan Des Alwi dengan Bung Hatta sapaan akrab Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir terjadi pada saat kedua tokoh tersebut sedang dalam masa pengasingan internal Banda Neira. 

Dalam pertemuan pertamanya, Des Alwi saat itu masih berusia 8 tahun dan duduk di kelas dua Europeesche Lagere School (ELS). Kala itu, Des Alwi juga mengetahui bahwa kedua tokoh itu adalah orang-orang yang diasingkan karena tampak dari wajah mereka yang pucat.

Pertemuan sekilas yang terkenang di dalam ingatan Des Alwi dengan tokoh nasional itu membuatnya menjadi sering bermain ke rumah pengasingan Bung Hatta dan Sjahrir. 

Di sisi lain, kedua tokoh nasional yang sedang dalam masa pengasingan di Banda Neira oleh pemerintah kolonial Belanda itu menyusul dua tokoh lainnya, yakni Ciptomangunkusumo dan Iwa Kusuma Sumantri. 

Menariknya lagi, selama masa pengasingan itu, putra dari pasangan Aboebakar dan Halijah itu pun diangkat sebagai anak angkat oleh kedua tokoh tersebut. Setelah enam tahun berlalu atau tepatnya pada 1942-an, Bung Hatta dan Sjahrir kembali diasingkan ke Sumedang Jawa Barat.

Keduanya diasingkan kembali setelah menjalani pengasingan di Banda Neira dan meluangkan waktunya untuk mengajar anak-anak di pulau itu. Saat itu Ambon juga telah jatuh ke tangan Jepang dan kapal terbang Amerika Catalina terbang ke Banda untuk menjemput dua tawanan tersebut. 

Pada 31 Januari 1942, Bung Hatta dan Sjahrir akhirnya terbang ke Surabaya dengan membawa tiga orang anak keturunan Baadila, yakni Mimi, Lili, dan Ali. Alwi yang kala itu berusia 14 tahun itu juga turut tiba di Ambon. Di sana ia mendengar ada kapal Jepang yang akan ke Surabaya. 

Dengan berbekal kenekatan, Alwi pun memberanikan diri dengan menghadap komandan marinir Jepang yang menguasai seluruh Ambon. Sang komandan yang sedang minum teh kala itu membaca nama "Hatta" di surat jalan yang ditunjukkan Alwi. 

Namun sang komandan itu mengira Hatta merupakan nama Jepang, sehingga ia pun memberikan izin dan akhirnya bisa berangkat ke Surabaya. Sementara itu, selama tinggal di Jawa Alwi sempat bersekolah di sekolah teknik Instituut voor Electrotechnische Vak Opleiding (IVEVO) di Salemba. 

Kemudian setelah lulus pada 1945, Bung Hatta lalu menyekolahkannya di sekolah Radio di Surabaya. Saat itu Alwi sendiri tidak mengetahui apa yang dipikirkan oleh Bung Hatta ketika memasukkannya ke sekolah teknik radio.



Baca: Ditetapkan Sebagai Pahlawan Nasional, Begini Perjuangan dr. Raden Rubini Natawisastra


Barulah kemudian dia menyadari bahwa radio ternyata begitu penting untuk bisa mengetahui semua perkembangan di dunia luar. Oleh karena itulah, pada zaman pendudukan Jepang ia pun kerap berurusan dengan radio. 

Bahkan tatkala Sjahrir harus pindah rumah ke Jalan Maluku Nomor 19, Alwi jugalah yang mengurus kepindahan radio ilegal milik Sjahrir secara diam-diam dengan cara naik delman pada siang hari bolong. Selain itu, di usianya yang menginjak 16 tahun, ia sudah bisa membuat radio gelap untuk memantau siaran radio asing.

Tak hanya ikut Bung Hatta dan Sjahrir, Alwi juga mengaku pernah ikut keponakan Sjahrir, Djohan Sjahroezah yang pernah tinggal di sekitar Paneleh, Surabaya hingga sempat ditawari masuk Angkatan Laut Kekaisaran Jepang atau Kaigun meskipun dia tidak mau menerimanya.

Selain itu juga, Des Alwi merupakan salah satu orang yang mula-mula mendengar kabar menyerahnya tentara Jepang pada Sekutu di ruang depan Studio Jakarta pada 15 Agustus 1945 siang. Diketahui saat itu, Kaisar Jepang tengah berpidato dan menyinggung penyerahan tanpa syarat terhadap Sekutu.   

Setelah kemerdekaan Indonesia, Des Alwi sendiri sempat dikirim belajar di Regent Street Polytechnic dan British of Technology London sambil praktik kerja di BBC pada 1947. Kemudian dua tahun berselang, ia sempat menjadi salah satu staf delegasi Indonesia di Konferensi Meja Bundar (KMB) yang membantu Kolonel Simatupang dan Mayor M.T. Haryono.

Selanjutnya pada masa konfrontasi antara Indonesia-Malaysia yang terjadi pada 1965 s.d 1975-an, ia bertugas sebagai Dinas Diplomatik yang terlibat dalam Operasi Khusus Tim Penyelesaian Konfrontasi tersebut. Mulai dari sanalah ia berhasil menjadi perantara "sulit" dalam ketegangan antara Indonesia-Malaysia.

Selain menjadi seorang diplomat, Alwi juga merupakan sejarawan yang menulis buku-buku sejarah seperti Sejarah Maluku: Banda Naira, Ternate, Tidore, dan Ambon dan Ternate dan Tidore: Masa Lalu Penuh Gejolak.  

Diangkatnya Des Alwi menjadi anak angkat Bung Hatta dan Sjahrir juga membuatnya tumbuh menjadi seorang anak yang mewarisi kepandaian, keahlian, serta kecerdikan dari kedua tokoh itu khususnya dalam hal diplomasi. 

Bahkan, Des Alwi sampai mendapat julukan sebagai pelobi tingkat tinggi dan ia juga pernah beberapa kali menjadi Atase di banyak kedutaan besar, seperti KBRI Bern, KBRI Austria, dan KBRI Filipina hingga tergabung ke dalam Tim Penyelesaian Konfrontasi Indonesia-Malaysia.

Pada 12 November 2010, Des Alwi meninggal dunia di Jakarta dan ia pun dimakamkan di tanah kelahirannya, Banda Neira.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Ditetapkan Sebagai Pahlawan Nasional, Begini Perjuangan dr. Raden Rubini Natawisastra

Koropak.co.id, 11 November 2022 15:28:53

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Presiden Ir H Joko Widodo mengumumkan keputusan penganugerahan gelar pahlawan nasional, nomor 96/TK/Tahun 2022, di Istana Negara, Jakarta, Senin 7 November 2022 lalu. 

"Hari ini pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada tokoh-tokoh yang telah memberikan kontribusi besar kepada bangsa dan negara," kata Jokowi selepas seremoni.

Ada lima tokoh yang mendapatkan gelar pahlawan nasional, satu di antaranya adalah dr. Raden Rubini Natawisastra. 

dr. Raden Rubini Natawisastra dikenal sebagai seorang dokter yang aktif dalam pergerakan dan perjuangan Indonesia dalam merebut kemerdekaan. Kendati begitu, dokter kelahiran Bandung 31 Agustus 1906 tersebut lebih dikenal di Kalimantan Barat.

Rubini adalah sosok yang intelek. Riwayat pendidikannya brilian. Ia merupakan lulusan School Tot Opleiding Van Inlandsche Artsen (STOVIA) atau Sekolah Kedokteran Bumiputra dan Nederlands Indische Artsen School (NIAS).

Selama berkarier sebagai dokter, Rubini menaruh perhatian yang besar terhadap kesehatan ibu dan anak. Ia membuka klinik kedokteran dan kebidanan di Pontianak. 

Wasilah klinik yang dibukanya itu, Rubini menjalankan misi untuk menekan angka kematian ibu dan anak dalam proses persalinan yang pada masa itu kerap terjadi di dukun beranak. 



Baca: Perjuangan Abdul Rivai Menentang Belanda, Dari Dokter Jadi Wartawan


Ada yang menarik dari klinik pahlawan yang satu ini. Layanan kesehatan yang diberikannya itu dibayar seikhlasnya sesuai dengan kemampuan pasien. 

Bahkan tak jarang juga tidak ada tarif yang dibayarkan alias gratis. 

Tak hanya di kota Pontianak, Rubini juga berusaha memberi layanan kesehatan kepada masyarakat di pelosok. Spirit kemanusiaan dengan bayaran semampunya diberikannya juga di tempat lain.

Rubini punya agenda khusus. Yaitu, sebagai dokter keliling yang berkunjung dan memberi pelayanan di beberapa desa dengan menggunakan perahu menyusuri sungai. 

Tak hanya di bidang kedokteran, Rubini juga aktif berkiprah sebagai aktivis kemerdekaan. Pergerakan Rubini dilakukan melalui Partai Indonesia Raya (Parindra). 

Ia turut masuk ke dalam struktur kepengurusan Parindra cabang Kalimantan Barat pada 1939-an. Bersama Parindra, Rubini berhasil menyusun aneka program yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat.

Selain dr. Raden Rubini Natawisastra, empat tokoh lainnya yang mendapat gelar pahlawan nasional diantaranya Dr. dr. H. R. Soeharto, KGPAA Paku Alam VIII, H. Salahuddin bin Talabuddin, dan K.H. Ahmad Sanusi.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Mengenang Kisah Pilu Arie Hanggara dan Kekerasan Pada Anak

Koropak.co.id, 08 November 2022 12:07:44

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Hari ini, tepatnya 8 November 1984 silam, seorang bocah yang masih duduk di bangku kelas 1 Sekolah Dasar (SD), Arie Hanggara meninggal dunia di tangan orang tuanya sendiri. 

Bocah itu menjadi korban kekerasan yang dilakukan orang tuanya hingga membuatnya harus meregang nyawa di usianya yang masih sangat kecil. Sehingga tak ayal, peristiwa pilu tersebut mengundang banyak sekali simpati dari masyarakat Indonesia.

Hingga kini, peristiwa pilu yang dialami Arie Hanggara juga masih diingat masyarakat Indonesia sampai sering diangkat dan dijadikan referensi jika ada kasus serupa yakni ketika seorang anak menjadi korban kekerasan oleh orangtuanya sendiri. 

Tragedi ini mendapat perhatian besar dari media massa hingga membuat insan perfilman mengabadikannya lewat film berjudul "Arie Hanggara (1985)" yang diproduksi oleh PT Tobali Indah Film dan cukup sukses dalam pemasarannya. 

Arie Hanggara. Bocah kelahiran Bogor 21 Desember 1977 itu merupakan anak kedua dari pasangan Machtino Eddiwan dan Dahlia Nasution. Namun hubungan rumah tangga orang tua Arie sudah tidak utuh hingga membuat Arie dibawa oleh ayahnya, Machtino Eddiwan ke rumah selingkuhannya, Santi. 

Kendati Machitno dan Santi belum resmi menikah, akan tetapi mereka sudah hidup bersama. Bahkan Santi acap kali disebut sebagai ibu tiri Arie. Bocah berusia 6 tahun saat itu bersekolah di Perguruan Cikini, Jakarta Pusat. 

Berdasarkan penuturan dari guru-gurunya, Arie dikenal sebagai seorang siswa periang dan pandai bergaul dengan teman-teman sebayanya. Namun, ibu tiri Arie, Santi, justru menganggap bahwa anak kandung pasangan Machtino dan Dahlia tersebut sebagai anak yang nakal dan sulit diatur.

Kesal dengan perbuatan yang dilakukan Arie, ayahnya dan Santi pun seringkali menyiksa Arie. Hampir setiap hari Arie menerima perlakuan kasar dari orang tuanya itu, mulai dari dipukul, ditendang, ditampar, dan berbagai aksi kekerasan fisik lainnya.

Meskipun Arie kerap mendapatkan kekerasan dari orang tuanya, ia tidak pernah memperlihatkan jika dirinya mengalami tekanan mental. Dengan banyaknya luka lebam di tubuh Arie, membuat gurunya sering bertanya-tanya, akan tetapi Arie seringkali mengaku jika luka di tubuhnya diakibatkan jatuh dan berbagai alasan lainnya.

Tanggal 8 November 1984-an pun menjadi hari terakhir Arie hidup di dunia, dan rentetan penyiksaan yang dilakukan orang tuanya dari siang hingga malam hari itu dengan puncaknya kepala Arie dibenturkan tembok dan tidak diperbolehkan makan dan minum menjadi hukuman terakhir baginya.

 


Baca: Mengenang Suyadi, Sosok Pencipta Tokoh "Si Unyil"


Arie Hanggara meninggal setelah tidak kuat lagi menahan rasa sakit akibat siksaan yang dilakukan ayahnya. Saat itu Arie ditemukan sudah tidak bernyawa ketika ayahnya terbangun dan hendak ke kamar mandi. Sang ayah mendapati Arie sudah dalam kondisi terkapar dan langsung membawanya ke rumah sakit. 

Namun nahas, nyawa Arie tak terselamatkan dan anak malang itu meninggal dunia saat di perjalanan. Kabar ini tentunya menjadi duka yang mendalam bagi seluruh masyarakat Indonesia, karena bocah kelas 1 SD itu harus tewas di tangan orang tuanya sendiri.

Diketahui, jenazah Arie dipenuhi 40 luka yang menyebar ke seluruh bagian tubuhnya, diantaranya di punggung, pinggang, pantat, dada, tengkuk, luka serius yang menyebar di kedua lengan, dan lainnya. Arie Hanggara dimakamkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan dengan di samping kanan dan kiri nisannya, terdapat tulisan "Maafkan Papa" dan "Maafkan Mama".

Tak ayal, peristiwa pilu yang dialami Arie Hanggara hingga membuatnya harus meregang nyawa mengundang banyak simpati dari masyarakat Indonesia. Tak hanya mengundang perhatian masyarakat, kematian Arie Hanggara kala itu menjadi kabar utama hampir di semua media massa. 

Setelah menjalani rekontruksi dan proses persidangan, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pun akhirnya menjatuhkan vonis hukuman 5 tahun penjara kepada Ayah Arie Hanggara, Machtino Eddiwan. Sementara, Santi divonis 2 tahun penjara dikarenakan hanya membantu penganiayaan yang dilakukan oleh Eddiwan. 

Perhatian masyarakat yang begitu besar atas peristiwa nahas yang dialami Arie Hanggara juga membuat insan perfilman nasional mengangkat kasus ini ke layar lebar pada awal 1985-an dengan judul Arie Hanggara yang diproduksi oleh PT Tobali Indah Film.

Tak hanya itu saja, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Nugroho Notosusanto berniat untuk memasang patung Arie Hanggara di depan kantor kementeriannya dengan maksud agar peristiwa itu tidak terulang kembali. 

Namun setelah pihak keluarga memprotes, terutama ibu kandungnya, pada akhirnya batal untuk dipasang. Ibu Kandung Arie menganggap patung tersebut hanya akan mengabadikan luka. Sementara itu, pada 2004, ayah Arie, Machtino Eddiwan meninggal dunia.

Apa yang dialami Arie Hanggara tentunya merupakan contoh pilu kekerasan pada anak yang masih sering terjadi di Indonesia. Oleh karena itu, sudah seharusnya para orang tua untuk peduli dengan keselamatan sang anak ketika rumah tangganya sedang tidak baik-baik saja.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Agus Noor, Sastrawan Serbabisa yang Banyak Menulis Sindiran Sosial-Politik

Koropak.co.id, 05 November 2022 12:26:42

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Agus Noor merupakan sastrawan yang sejak muda telah berkecimpung di dunia sastra dengan menulis karya-karya puisi dan prosa. Pria kelahiran Tegal, 26 Juni 1968 itu juga dikenal sebagai penulis naskah program Sentilan Sentilun Metro TV.

Diketahui, program Sentilan Sentilun Metro TV tersebut diadopsi dari naskah monolognya, "Matinya Sang Kritikus" yang sebelumnya telah dipentaskan di sejumlah kota oleh Butet Kertaradjasa. 

Dibesarkan di Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Agus Noor memiliki latar belakang pendidikan Jurusan Teater, Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta. Kendati berlatar belakang pendidikan teater, ia justru lebih aktif dalam menulis. 

Oleh karena itulah, Agus Noor pun dikenal juga sebagai cerpenis, penulis prosa, dan naskah panggung dengan gaya parodi yang terkadang satir. Lahir pada 1968, Agus Noor pun merasakan pengalaman berkarya yang berbeda-beda di setiap era pemerintahan, yang dimulai dari Orde Baru. 

Diketahui kala itu, tekanan-tekanan vertikal dalam menyatakan kritik dan pendapat begitu terasa, terlebih lagi saat itu ia juga aktif dalam pergerakan mahasiswa. Kendati demikian, hal tersebut justru membuatnya semakin bergairah untuk menulis. 

Sehingga mulai dari situlah lahir karya-karya satir sosial-politiknya. Salah satunya adalah buku Bapak Presiden yang Terhormat (1998), yang pada saat itu disensor dengan diberikan judul berbeda, yaitu Peang.

Agus Noor mengungkapkan bahwa untuk menjadi seorang penulis yang bertahan dalam karier, maka seseorang itu harus menjadikan menulis sebagai sesuatu yang ia pilih. Setelah memilih, seseorang itu juga harus mengetahui tujuannya menulis. 



Baca: Lebih Dekat dengan Sang Pemikir Islam Cak Nur


Seolah tak cukup menjadi penulis serbabisa, personel Teater Gandrik ini juga menjadi creative director untuk banyak pertunjukan musik dan teater. Bahkan bersama Butet Kartaredjasa dan Djaduk Ferianto, ia menggagas Indonesia Kita, komunitas yang menggelar berbagai pertunjukannya dengan tujuan mengedukasi publik tentang pluralisme dalam Indonesia. 

Bersama dengan Ayu Utami, Agus Noor menulis naskah Sidang Susila untuk merefleksikan dan mengkritik Rancangan Undang Undang (RUU) Anti-Pornografi. Selain menulis prosa, ia juga turut menulis cerpen. Berbagai karya cerpennya pun berhasil dimuat, yakni dalam Antologi Ambang (1992), Pagelaran (1993), dan Lukisan Matahari (1994). 

Sementara untuk karya cerpen-cerpennya yang terhimpun dalam antologi bersama, meliputi Lampor (Cerpen Pilihan Kompas, 1994), Jalan Asmaradana (Cerpen Pilihan Kompas, 2005), Kitab Cerpen Horison Sastra Indonesia (Majalah Horison dan The Ford Foundation, 2002), dan Dari Pemburu ke Tapuetik (Majelis Sastra Asia Tenggara dan Pusat Bahasa, 2005).

Sedangkan untuk buku-buku kumpulan cerpennya yang sudah terbit diantaranya, Memorabilia (Yayasan untuk Indonesia, 1999), Bapak Presiden yang Terhormat (Pustaka Pelajar, 2000), Selingkuh Itu Indah (Galang Press, 2001), Rendezvous: Kisah Cinta yang Tak Setia (Galang Press, 2004), dan Potongan Cerita di Kartu Pos (Penerbit Buku Kompas, 2006).

Kemudian, ada juga Sebungkus Nasi dari Tuhan, Sepasang Mata Penari Telanjang, Matinya Toekang Kritik (Lamalera, 2006), Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia (Bentang, 2010), dan Cerita Buat Para Kekasih (Gramedia Pustaka Utama, 2015). 

Tak berhenti sampai disana saja, cerpen-cerpen hasil karyanya juga pernah dimasukkan oleh Korie Layun Rampan sebagai sastrawan angkatan 2000, dan buku terbaru yang disusun berjudul Cerpen-cerpen Terbaik Indonesia, merangkum tentang penerbitan cerpen dari Idrus hingga Seno Gumira Ajidarma.

Berbagai karya pun telah berhasil ditorehkannya selama menjadi penulis, diantaranya Juara I Penulisan Cerpen pada Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) (1991), Cerpenis terbaik pada Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) IV (1992) dan masih banyak lagi yang lainnya.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Lebih Dekat dengan Sang Pemikir Islam Cak Nur

Koropak.co.id, 02 November 2022 15:10:08

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Prof. Dr. Nurcholish Madjid, M.A. atau yang lebih populer dipanggil Cak Nur ini merupakan budayawan, cendikiawan, sekaligus pemikir Islam yang pada masa mudanya dikenal juga sebagai aktifis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Pria kelahiran Jombang, 17 Maret 1939 itu juga menjadi satu-satunya tokoh yang pernah menjabat sebagai ketua Umum HMI selama dua periode. Tak hanya itu saja, baik ide dan gagasannya tentang sekularisasi dan pluralisme pernah menimbulkan kontroversi hingga mendapat banyak perhatian dari berbagai kalangan masyarakat. 

Cak Nur dibesarkan di lingkungan keluarga kiai terpandang di Dusun Mojoanyar, Mojokerto, Jawa Timur. Bahkan ayahnya, KH Abdul Madjid, dikenal sebagai pendukung Masyumi. Sedangkan ibunya, Fatonah, merupakan putri dari Kiai Abdullah Sadjad Kediri.

Cak Nur pun mewarisi darah intelektualisme dan aktivisme dua organisasi besar Islam di Indonesia, yaitu Masyumi yang modernis dan Nahdlatul Ulama (NU) yang tradisionalis dari kedua orang tuanya.

Setelah melewati pendidikan di berbagai pesantren, mulai dari Pesantren Darul Ulum Rejoso di Jombang hingga Pesantren Gontor di Ponorogo, Cak Nur pun memutuskan untuk menempuh studi kesarjanaan dengan mengambil Fakultas Sastra dan Kebudayaan Islam di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta (1961-1968). 

Selama masa kuliah, Cak Nur aktif dengan menjadi Ketua Umum di HMI dan juga merumuskan Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI, yang kemudian menjadi buku pegangan ideologis HMI. 

Diketahui, alasannya dalam merumuskan NDP itu dikarenakan organisasi mahasiswa seperti Central Gerakan Actie Mahasiswa (CGMI) yang beraliran komunis dan juga Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) memiliki buku pegangan ideologis. Cak Nur menulis NDP itu tatkala ia sedang melanjutkan kuliahnya di Amerika Serikat. 

Saat itu ia berkesempatan untuk melakukan perjalanan keliling Timur Tengah, dan dari pengalamannya dengan melihat kondisi Islam secara global itulah yang membuatnya tergerak untuk menulis NDP yang kemudian hari menjadi buku pegangan ideologis HMI dan membuatnya terpilih menjadi Ketua Umum HMI selama dua periode. 

Kemudian setelah itu, ia menjalani studi doktoral di Universitas Chicago, Amerika Serikat (1978-1984), dengan disertasi tentang filsafat dan kalam Ibnu Taimiyah. Di sisi lain, Cak Nur juga pernah berjasa dalam krisis kepemimpinan yang dialami bangsa Indonesia pada 1998-an. 

Cak Nur juga ternyata merupakan orang yang sering dimintai nasehat oleh Presiden Soeharto mengenai kerusuhan dan krisis negara. Kemudian atas saran Cak Nur, pada akhirnya Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya untuk menghindari permasalahan yang lebih parah lagi.

Tercatat, ia juga menjadi salah satu pendiri Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang berusaha dalam mewujudkan tata pemerintahan yang baik di Indonesia secara berkelanjutan.



Baca: Cak Nun, Budayawan Asal Jombang yang Progresif


Sejumlah pekerjaan pun pernah dijalani Cak Nur, mulai dari mengajar di IAIN Syarif Hidayatullah (1972-1976), dosen pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah (1985-sekarang) peneliti pada LIPI (1978-sekarang), guru besar tamu pada Universitas McGill, Montreal, Canada (1991-1992), hingga Fellow dalam Eisenhower Fellowship bersama istri (1990). 

Selain itu, ia juga banyak menulis makalah-makalah yang diterbitkan dalam berbagai majalah, surat kabar dan buku suntingan, dan beberapa diantaranya berbahasa Inggris seperti Khazanah Intelektual Islam (Jakarta, Bulan Bintang/Obor, 1984) dan Islam, Kemodernan dan Keindonesiaan suntingan Agus Edy Santoso (Bandung, Mizan, 1988).

Tak berhenti sampai disana saja, Cak Nur juga dianggap sebagai salah satu tokoh pembaruan pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia yang dikenal dengan konsep pluralismenya yang mengakomodasi keberagaman atau kebhinnekaan keyakinan di Indonesia. 

Menurutnya, keyakinan adalah hak primordial setiap manusia dan keyakinan meyakini keberadaan Tuhan adalah keyakinan yang mendasar. Cak Nur juga mendukung konsep kebebasan dalam beragama, namun kebebasan dalam menjalankan agama tertentu itu harus disertai juga dengan tanggung jawab penuh atas apa yang dipilih.

Sebagai tokoh pembaruan dan cendikiawan Muslim Indonesia seperti halnya K.H Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Cak Nur sering mengutarakan gagasan-gagasan yang dianggap kontroversial terutama gagasan tentang pembaruan Islam di Indonesia. 

Akan tetapi, ide dan gagasan Cak Nur tentang pluralisme itu tidak sepenuhnya diterima dengan baik di kalangan masyarakat Islam Indonesia. 

Tercatat, gagasan mantan rektor Universitas Paramadina ini yang paling kontroversial adalah saat ia mengungkapkan gagasan "Islam Yes, Partai Islam No?" yang ditanggapinya dengan polemik berkepanjangan sejak dicetuskan pada 1960-an. Nama Cak Nur sempat mencuat ketika ia disebut-sebut sebagai kandidat terkuat calon presiden di Pemilu 2004. 

Namun, keputusannya sebagai capres independen yang terlalu dini dan menyatakan bersedia mengikuti Konvensi Calon Presiden Partai Golkar lalu kemudian mengundurkan diri, telah memerosotkan peluangnya untuk meraih kursi orang nomor satu se-Indonesia itu.

Pada 25 Agustus 2005, Cak Nur meninggal dunia akibat penyakit sirosis hati yang dideritanya. Ia pun dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata karena dianggap telah banyak berjasa kepada negara sebagai penerima Bintang Mahaputera. 

Semasa hidupnya, selain menjabat sebagai rektor, Cak Nur juga aktif menjadi pembicara dalam seminar internasional Islam di dalam maupun luar negeri.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Mengenang Suyadi, Sosok Pencipta Tokoh "Si Unyil"

Koropak.co.id, 30 October 2022 15:05:28

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Drs Suyadi atau Raden Soejadi atau yang lebih dikenal dengan sosok "Pak Raden" ini merupakan sosok pencipta boneka ikonik "Si Unyil" dan juga beberapa tokoh lainnya. 

Pria kelahiran Puger, Jember, Jawa Timur, 28 November 1932 ini merupakan anak ketujuh dari sembilan bersaudara. Sosok Pak Raden yang melekat pada dirinya ini terkenal dengan aksesoris khasnya yaitu mengenakan beskap hitam, blangkon, kumis tebal palsu, serta tongkat kayu.

Sejak kecil. Suyadi sangat hobi dalam menggambar dengan menggunakan arang atau kapur di halaman rumahnya. Dengan menggambar, ia juga bahkan merasa menemukan dunianya. Sehingga, tak jarang juga tembok rumahnya pun dipenuhi dengan gambar yang dibuat oleh Suyadi. 

Siapa sangka, hobi menggambarnya itulah yang kemudian mengantarkannya masuk ke Fakultas Seni Rupa di Institut Teknik Bandung (ITB) Bandung dari 1952 s.d 1960-an. Selanjutnya pada 1961 s.d 1963-an, Suyadi meneruskan pendidikannya dengan belajar animasi di Prancis.

Saat masih menjadi mahasiswa, Suyadi telah menciptakan berbagai karya berupa buku cerita anak bergambar serta film pendek animasi. keistimewaan Suyadi sendiri ternyata bukan hanya membuat ilustrasi saja, namun ia juga memiliki kemampuan dalam membuat ceritanya sendiri. 

Keahliannya dalam hal animasi makin terasah semakin membuatnya mencintai dunia seni yang kemudian kelak akan membuatnya terkenal dan namanya dikenang di Indonesia. Kembali dari Perancis, Suyadi kemudian menjadi staf pengajar di jurusan Seni Rupa dari 1965 s.d 1975-an.

Tak hanya itu saja, ia juga mengajar khusus animasi di Institut Kesenian Jakarta. Memasuki 1980-an, Suyadi kemudian menciptakan tokoh "Si Unyil" yang terkenal sampai dengan sekarang. 

Diketahui, kata "Unyil" yang dijadikan nama untuk tokoh tersebut sebenarnya berasal dari kata "Mungil" yang artinya kecil. Bersamaan dengan itu, ia juga turut menciptakan tokoh Pak Raden yang dikenal sebagai tokoh antagonis dalam serial Sandiwara boneka Si Unyil yang ditayangkan di TVRI kala itu.

Ia juga turut menjadi pengisi suara dari tokoh Pak Raden yang kemudian membuatnya dikenal dengan nama Pak Raden. Selain menciptakan boneka tokoh si Unyil dan Pak Raden, Suyadi juga menciptakan tokoh karakter lainnya yaitu Pak Ogah dan Bu Bariah. 

Selain menjadi pengisi suara Pak Raden, ia juga saat itu berperan sebagai Art director dalam serial Si Unyil di TVRI. Serial sandiwara boneka Si Unyil yang tayang setiap hari Minggu itu pun banyak digemari oleh orang-orang di Indonesia khususnya anak-anak pada 1981-an yang di produksi oleh PPFN hingga 1993-an.

Menariknya, sampai dengan sekarang acara Si Unyil masih terus tayang di televisi dan banyak memberikan informasi yang bersifat edukasi. Selain menggambar atau melukis, Suyadi juga hobi mendalang, mendongeng, membuat ilustrasi buku-buku anak, dan membuat boneka. 



Baca: Perjuangan Abdul Rivai Menentang Belanda, Dari Dokter Jadi Wartawan


Bahkan ia juga dikenal rajin dalam membuat sketsa diatas kertas. Namun tak pernah terbesit dalam dirinya untuk memamerkan sketsanya kepada publik. Sehingga sketsa yang dibuatnya itu pun ia biarkan berserakan di rumahnya. Alih-alih memiliki keluarga, ternyata Suyadi justru lebih memilih hidup membujang.

Sejumlah penghargaan di bidang pustaka pun berhasil ia dapatkan dari 1970-an s.d sekarang. Seperti, dianugerahi penghargaan Ganesha Widya Jasa Utama, karena jasa dan prestasi yang menonjol sebagai Pelopor Bidang Industri Kreatif Klaster Animasi dan Tokoh Animator di tingkat nasional. 

Penghargaan itu diterimanya pada peringatan 92 tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia di Aula Barat ITB. Kemudian pada 2008 yang lalu, ia juga masih sempat mengeluarkan buku anak-anak yang diberi judul "Petruk Jadi Raja".

Pada 30 Oktober 2015, Suyadi meninggal dunia di Rumah Sakit Pelni Petamburan akibat penyakit Sendi atau Osteoarthritis yang ia derita.

Jenazahnya pun dimakamkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan, sehari setelahnya atau tepatnya pada Sabtu, 31 Oktober 2015. Semasa hidupnya, ia pernah terlibat dalam film Malu-Malu Mau (1988) dan sinetron Saras 008.

Selama hidupnya juga Suyadi terus memperjuangkan hak cipta dari boneka Si Unyil dikarenakan hak cipta dari Boneka tersebut dipegang oleh PPFN yang memproduksi Serial Si Unyil ketika itu. Karena sebenarnya pemegang hak cipta dari boneka itu adalah dirinya.

Mengenai hak cipta tersebut, pada 14 Desember 1995, Suyadi pun membuat kesepakatan penyerahan hak cipta atas nama Suyadi kepada Perusahaan Umum Produksi Film Negara (PPFN). 

Dalam perjanjiannya itu, terdapat kesepakatan kedua belah pihak mengenai hak cipta Si Unyil yang berlaku selama lima tahun terhitung sejak ditandatanganinya perjanjian tersebut.

Akan tetapi, PPFN menganggap bahwa perjanjian penyerahan hak cipta itu tetap pada PPFN untuk selamanya. Pasalnya Suyadi bahkan tak pernah mendapatkan royalti dari boneka yang ia ciptakan, dan hal itu jugalah yang membuat kehidupannya memprihatinkan.

Di sisi hidupnya, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di rumahnya dengan menghibur warga sekitar terutama anak-anak di jalan Petamburan II Nomor 27, Tanah Abang Jakarta Pusat dan hingga akhir hayatnya, ia terus berharap agar hak cipta Tokoh Si Unyil kembali kepadanya. 


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Perjuangan Abdul Rivai Menentang Belanda, Dari Dokter Jadi Wartawan

Koropak.co.id, 27 October 2022 12:15:01

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Namanya Abdul Rivai. Meski namanya tidak setenar Tirto Adhi Suryo atau Mas Marco Kartodikromo, namun sepak terjangnya justru memiliki arti penting di masa-masa awal pergerakan rakyat Indonesia dalam menentang kolonialisme.

Abdul Rivai lahir di Palembayan, Bengkulu, 13 Agustus 1871. Ia memiliki seorang ayah yang berprofesi sebagai guru di Sekolah Melayu bernama Abdul Karim. Sedangkan ibunya merupakan anak dari keturunan raja-raja di Muko-Muko, Bengkulu. 

Rivai sendiri tumbuh di alam politik etis. Tercatat pada 1894-an, ia berhasil menamatkan pendidikannya di sekolah dokter Jawa (STOVIA) dan diketahui pernah bekerja di Medan, Sumatra Utara.

Pengkaji geopolitik Global Future Institute, Hendrajit dalam "Tragedi Dokter Abdul Rivai Sosok Anomali di Era Politik Etis Belanda", menyebutkan bahwa saat belajar di STOVIA maupun setelah lulus menjadi seorang dokter, putra asli Minangkabau itu ternyata sama sekali belum memahami akar yang menyebabkan terjadinya kontradiksi sosial dan diskriminasi rasial.

"Sebagai pemuda yang dasarnya ambisius, waktu ini Rivai memandang bahwa gelar kesarjanaan dari Eropa merupakan sarana kemajuan profesional dan sosial. Sehingga hal tersebut pun memungkinkan bisa naik dari status rakyat kolonial menjadi warga Belanda," katanya. 

Akan tetapi setelah lulus menjadi dokter, justru Rivai harus mulai meraih kekecewaan. Ternyata gaji yang didapatkannya saat itu, hanya setengah dari gaji pada umumnya teman-teman sejawatnya sesama dokter asli Belanda. Sementara posisinya juga ditempatkan dalam posisi rendahan.

Namun pada saat itu, Rivai sendiri belum menangkap akar penyebab dari gejala diskriminasi sosial ekonomi yang dialaminya. Bukannya melawan ketidakadilan, Rivai malah memutuskan untuk menjadi orang Belanda. Bahkan sejak Maret 1895-an, Rivai mulai berpakaian model Barat setelan jas dan dasi agar dipandang setara dengan Belanda.

Setelah itu, Rivai pun melanjutkan studi kedokterannya di Universitas Utrecht, Belanda. Kemudian sekitar 3 tahun setelah lulus, ia bertugas di Medan. Di Belanda, Rivai juga mulai melihat adanya perbedaan karakteristik antara orang Belanda di tanah jajahan dengan di Eropa.

Terutama saat dirinya mulai merintis karier di bidang kewartawanan dengan mendirikan Pewarta Wolanda yang terbit pada 1899 dan 1990 atau Bintang Hindia Belanda yang terbit pada 1902, wawasan yang dimilikinya pun semakin luas.

Ia menilai bahwa ternyata orang-orang Belanda yang pada awalnya diidealkannya sebagai simbol orang-orang modern dan berpengetahuan luas dalam ilmu dan teknologi, ternyata sebagian besar yang ada di Nusantara justru materialistik, eksploitatif dan diskriminatif.

Maka setelah menginjakkan kakinya di Belanda, Rivai memutuskan untuk bertemu dengan para profesor, politisi dan intelektual Belanda yang memperlakukannya dengan penuh hormat. 



Baca: Mengenang Djamin Gintings, Pahlawan Nasional dari Tanah Karo


Selanjutnya juga saat bertemu dengan para mahasiswa, Rivai melihat interaksi yang baik antara orang Belanda dan Indonesia tanpa mengalami diskriminasi etnis atau ras, seperti halnya yang terjadi di Hindia Belanda.

Di sisi lain, Rivai juga dikenal sebagai salah satu lapis pertama kaum nasionalis Indonesia, namun ia masih berangan bahwa orang Belanda yang tercerahkan bisa menggantikan sejawatnya di tanah jajahan. 

Dengan kata lain, Rivai masih yakin bahwa solusi terbaik adalah eratnya ikatan antara Hindia Belanda dan Belanda dalam kesetaraan, saling mengapresiasi dan saling respek satu sama lain.

Rivai juga telah lama memiliki dorongan yang kuat untuk aktif di bidang jurnalisme, dan hal ini terjadi saat dirinya meneruskan studi di Belanda. Tak hanya itu saja, hal itu jugalah yang menyadarkan dirinya tentang adanya ketidakadilan yang dialami oleh orang Pribumi.

Akan tetapi, dalam reportase tulisannya, Rivai jarang menyinggung atau menyorot praktik perburuhan yang eksploitatif yang ketika itu sangat intens dipraktikkan di beberapa wilayah perkebunan di Deli, Sumatra Utara.

Sebab Rivai kala itu memandang bahwa demoralisasi di Hindia Belanda bukan akibat kolonialisme, melainkan karena adanya keterbelakangan pikiran dan tradisi. Oleh karena itulah, bagi Rivai, solusi untuk menyembuhkan penyakitnya adalah pendidikan modern.

Ternyata, pandangan Rivai inilah yang mengilhami para dokter Jawa yang sezaman dengannya, seperti Dokter Wahidin Sudirohusodo yang kelak bersama Dokter Sutomo mendirikan organisasi sosial kebudayaan Budi Utomo.

Setelah lulus dari Universitas Amsterdam pada 1908-an, Rivai selanjutnya mendapatkan gelar doktor dari Universitas Ghent di Belgia. Di sisi lain, ia juga sempat bekerja di laboratorium Universitas Amsterdam dan  Inggris untuk mempelajari penyakit mata.

Akan tetapi setelah kembali ke tanah air, impian Rivai tak sesuai harapan. Meski jadi dokter praktik pribadi dengan penghasilan yang membuatnya kaya raya, berbaur dengan kalangan pedagang China, Arab dan Eropa, namun ia merasa tetap ada yang kurang.

Ia menyadari bahwa semua bayangan idealnya selama di Eropa hanya khayalan belaka, dan di Hindia Belanda, tanah jajahan Belanda, asal-usul dan reputasi Rivai justru tiada guna sama sekali.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Mengenang Djamin Gintings, Pahlawan Nasional dari Tanah Karo

Koropak.co.id, 23 October 2022 16:04:36

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Letnan Jenderal TNI (Purn.) Djamin Ginting Suka atau yang lebih dikenal dengan nama Jamin Gintings merupakan seorang pejuang kemerdekaan Indonesia yang berasal dari Tanah Karo, Sumatra Utara. 

Pada 7 November 2014, Presiden Indonesia, Ir H Joko Widodo atau Jokowi akhirnya secara resmi mengangkat pria kelahiran 12 Januari 1921 tersebut sebagai "Pahlawan Nasional Indonesia".

Jamin Gintings sendiri dilahirkan di desa Suka, Kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo, Sumatra Utara. Jamin Gintings merupakan anak dari pasangan Lantak Ginting Suka (ayah) dan Tindang Br Tarigan (ibu). 

Jamin Gintings menikah dengan seorang wanita bernama Likas Tarigan. Dari hasil pernikahannya, mereka pun dikaruniai lima orang anak bernama Riemenda Jamin Gintings, Riahna Jamin Gintings, Sertamin Jamin Gintings, Serianna Jamin Gintings, dan Enderia Pengarapen Jamin Gintings. 

Di sisi lain, Jamin Gintings sendiri ternyata memiliki tekad yang kuat, terutama dalam hal pendidikan. Ia pun mengenyam pendidikan dasar di Kabanjahe, yang kemudian dilanjutkan dengan menempuh pendidikan menengahnya di Medan. 

Namun sayangnya, Jamin Gintings tidak dapat menyelesaikan sekolahnya, karena pada saat itu Jepang telah berkuasa di Indonesia dan berhasil mengalahkan Belanda pada 1942. Setelah putus dari pendidikan menengahnya, Jamin Gintings sempat bekerja sebagai kerani di sebuah kantor dagang Jepang di Kesawan, Medan. 

Akan tetapi, akibat adanya tekanan Jepang pada orang Karo setelah terjadi peristiwa Aron, ia kemudian pindah ke Kabanjahe dan bekerja dengan menjual air tebu Berastagi. Selanjutnya pada akhir 1943-an, Jamin Gintings memutuskan untuk mendaftar dan mengikuti pendidikan calon perwira Gyugun di Siborong-Borong. 

Selama tiga bulan, ia mengikuti pelatihan militer hingga berhasil menjadi perwira Gyugun dengan pangkat Letnan. Setelah kekalahan Jepang, ia bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Kabanjahe yang dibentuk oleh pemerintah Indonesia. 

Pasukan BKR yang ia pimpin kemudian berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan mengikuti kebijakan pemerintah pusat pada 5 Oktober 1945. Dalam catatan sejarahnya, pasukan yang dipimpin Jamin Gintings sendiri sempat melucuti senjata pasukan Jepang di Tiga Panah.

Tak hanya itu saja, pasukannya juga turut terlibat kontak senjata dengan pasukan Inggris yang mencoba masuk melalui Brastagi. Meskipun kala itu sempat tersedak, namun dengan dibantu Pasukan Tama Ginting pasukan Inggris pun dapat dipukul mundur. 

Tak berhenti sampai disana saja, Jamin Gintings pernah terlibat dengan banyak peperangan saat dirinya menjadi Komandan Resimen I Divisi X di Tanah Karo, Langkat, Deli Serdang dan Aceh Tengah. 

Di wilayah yang kerap terjadi kontak senjata antara pasukannya dengan pasukan Belanda, ia juga pernah terlibat pertempuran Titi Bambu pada 21 Agustus 1947 dan pertempuran Mardinding pada 28 Desember 1948. 

Selanjutnya, saat gerakan PRRI menyatakan perlawanan, Divisi Bukit Barisan tengah kala itu dipimpin oleh Kolonel Maludin Simbolon, dan Jamin Gintings sebagai kepala stafnya. 



Baca: Djamaluddin Adinegoro, Pelopor Pers Indonesia


Akan tetapi, sejak 27 Desember 1956 s.d 4 Januari 1961, Pemerintah pusat mendaulat Jamin Gintings sebagai panglima menggantikan Simbolon yang terpaksa mengundurkan diri ke Tapanuli, kawasan basis Batak Toba. 

Meski bertugas di daerah, Jamin Gintings termasuk panglima yang menonjol dan berhasil membawa kariernya melaju ke ibu kota. Sehingga pada 1962-an, Menteri Panglima Angkatan Darat (AD) kala itu, Letjen Ahmad Yani menariknya ke Jakarta untuk mengisi pos asisten II bidang operasi dan latihan. 

Tercatat, Jamin Gintings merupakan satu dari dua orang yang dekat dengan Nasution selain Sokowati yang kemudian dipilih oleh Ahmad Yani menjadi asistennya. Alasan dipilihnya Jamin Gintings sendiri dikarenakan loyalitasnya terhadap Presiden Soekarno. 

Memasuki masa Orde Baru, posisi Jamin Gintings di Staf Umum AD resmi digantikan oleh Soemitro. Tak hanya di bidang militer, ia juga sempat berkarier di bidang politik dan mencatatkan posisinya sebagai anggota DPR dari Golongan Karya (Golkar) pada 1971 s.d 1976. 

Kemudian pada 22 Maret 1972-an, pemerintah juga menunjuk Jamin Gintings sebagai Duta Besar Berkuasa Penuh Indonesia di Kanada berpangkat letnan jenderal. Jabatan tersebut diketahui menjadi jabatan nonmiliter pertama yang berhasil diemban Jamin Gintings setelah 30 tahun berkecimpung di dunia militer. 

Saat menjabat sebagai Duta Besar Berkuasa Penuh Indonesia di Kanada, Jamin Gintings jatuh sakit akibat serangan darah tinggi. Jamin Gintings pun meninggal di Ottawa dalam usianya yang ke-53 tahun pada 24 Oktober 1974. 

Semasa hidupnya, Jamin Gintings ternyata berhasil menulis beberapa buku. Salah satunya adalah buku berjudul "Bukit Kadir", yang mengisahkan perjuangannya di daerah Karo sampai ke perbatasan Aceh dalam melawan Hindia Belanda. 

Diketahui, dalam buku itu juga diceritakan, salah seorang anggotanya, bernama Kadir, gugur di sebuah perbukitan di Tanah Karo dalam suatu pertempuran yang sengit melawan pasukan Belanda. Bukit itu juga sekarang dikenal dengan nama Bukit Kadir.

Jenazah Jamin Gintings pun dipulangkan ke Indonesia, kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Utama Kalibata, Jakarta Selatan. Tiga hari setelah pemakamannya atau tepatnya pada 28 Oktober 1974, Presiden Soeharto menganugerahkan penghargaan Bintang Mahaputra Utama atas semua jasa-jasanya kepada negara. 

Pada 2011, Museum Letnan Jenderal Jamin Gintings juga dibangun di Desa Suka, Kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo, Sumatra Utara dan diresmikan secara langsung oleh Menteri Pertahanan RI, Purnomo Yusgiantoro pada 17 September 2013. 

Selain itu juga, nama Jamin Gintings turut diabadikan sebagai nama jalan yang membentang dari Padang Bulan, Medan sampai Kabanjahe, Tanah Karo sepanjang 80 kilometer. Kemudian pada 7 November 2014, Presiden Jokowi menganugerahi gelar sebagai pahlawan nasional untuk Jamin Gintings.

Terbaru, pada 28 Juni 2022, Wali Kota Medan, Bobby Nasution juga turut meresmikan Patung Letjen Jamin Gintings, di titik KM nol Jalan Jamin Gintings, Kota Medan.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Berkenalan dengan Dalang Milenial Rizki Rahma Nurwahyuni

Koropak.co.id, 23 October 2022 15:15:23

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Saat ini, banyak yang beranggapan bahwa generasi muda zaman sekarang, cenderung hidup "kebarat-baratan", tidak menghargai budayanya sendiri, hingga melupakan warisan nenek moyang bangsa Indonesia, menjadi stigma yang beredar di masyarakat.

Namun stigma yang menggeneralisasikan bahwa generasi muda saat ini lupa dengan budayanya sendiri berhasil dipatahkan oleh anak muda dari Bantul, Yogyakarta. Namanya Rizki Rahma Nurwahyuni.

Sosok yang akrab disapa Rahma ini justru bertindak sebaliknya. Pasalnya, Rahma sendiri turut andil dalam pelestarian seni dan budaya.

Bagi para penikmat seni, khususnya Wayang di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mungkin sudah tidak asing lagi dengan sosok Rahma yang menjadi dalang perempuan di usianya yang masih muda.

"Buah Jatuh Tak Jauh dari Pohonnya", ungkapan itu sangat cocok untuk menggambarkan Rahma. Ya, ternyata darah seni yang dimiliki Rahma sendiri turun dari keluarganya. Pasalnya, Rahma lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga seniman. 

Diketahui, Simbah atau kakeknya merupakan seorang seniman ketoprak. Sedangkan ayahnya, dikenal sebagai seorang dalang yang telah melanglang buana dari satu pertunjukan ke pertunjukan lainnya.

Sejak kecil, Rahma sendiri mengaku bahwa orang taunya mengenalkannya pada kesenian, khususnya kesenian Jawa, seperti wayang, ketoprak, menari. Semua kesenian yang dikenalkan orang tuanya itu pun langsung 'dibabat' olehnya.

Berangkat dari sanalah, lantas Rahma pun mengikuti kejuaraan dalang cilik sekitar 2004. Sejak saat itulah, perjalanannya sebagai dalang pun dimulai. Di sisi lain, keinginannya untuk menekuni dunia pedalangan datang dari diri sendiri. 

Karena, keluarganya tidak memaksa dan hanya memberikan dukungan kepadanya. Hasilnya, Rahma pun selalu semangat dan terus mengasah kemampuannya. Hingga pada akhirnya, kelihaiannya menjadi seorang dalang itu, dimanfaatkannya untuk meraih sebanyak-banyaknya pengalaman.



Baca: Elisha Orcarus Allasso, Sinden Cantik dengan Sejuta Talenta


Seperti saat masih duduk di bangku SMA, Rahma ikut dalam pertukaran pelajar dan dikirim ke Makassar. Disana secara khusus, Rahma mempersembahkan pertunjukkan wayang. 

Tak berhenti sampai di sana saja, Rahma juga membawa branding sebagai "dalang perempuan" ketika mengikuti dimas diajeng, hingga pemilihan Putri Indonesia DIY. 

Meski dunia pedalangan itu sudah ia kenal sejak kecil, namun hal tersebut tak lantas membuat Rahma memilih pendidikan ke jalur seni. Ia juga tak meraih gelar sarjana seni, namun sarjana pendidikan kimia di FMIPA UNY.

Karena bagi Rahma, ketika ia menguasai disiplin ilmu lain di luar seni, hal itu akan memperkaya wawasannya dalam berkesenian. 

Dara yang juga menekuni seni tari ini juga berharap suatu saat ia bisa memberikan sumbangsih kepada Indonesia, baik melalui dunia pedalangan, maupun ilmu kimia yang ia pelajari di perguruan tinggi.

Seiring berjalannya waktu, sampai dengan sekarang, Rahma masih aktif menjadi seorang dalang, kendati tidak sesering dahulu. Karena baginya, dalang sendiri merupakan hobi, bukan pekerjaan.

Rahma tentunya menjadi sosok yang bisa menjadi dalang perempuan di tengah dominasi laki-laki. Ia juga membuktikan bahwa tak hanya laki-laki saja yang bisa menjadi dalang, tapi perempuan juga mampu melakukannya.

Selama menjadi dalang, Rahma mengaku tak ada suara-suara negatif yang sampai ke telinganya. Justru sebaliknya, banyak orang yang bangga karena ada perempuan yang berani dalam melestarikan budaya.

"Pengennya anak-anak muda ikut melestarikan kesenian. Jadi, untuk generasi muda, yuk bareng-bareng melestarikan seni dan budaya!," ajak Rahma dengan semangat.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Profil Philip Pullman, Novelis Ternama dari Britania Raya

Koropak.co.id, 19 October 2022 15:11:28

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Sir Philip Pullman, CBE, FRSL atau dikenal dengan nama Philip Pullman, merupakan seorang novelis kelahiran Britania Raya sekaligus penulis buku terlaris berbahasa Inggris.

Pria kelahiran 19 Oktober 1946-an itu juga menuliskan trilogi novel, His Dark Materials, dan biografi fiksi Jesus, The Good Man Jesus and the Scoundrel Christ.

Philip juga merupakan penulis fantasi dan fiksi dewasa muda Inggris yang terkenal. Bahkan, buku pertama dalam seri, Northern Lights, berhasil menerima Medali Carnegie, hingga diadaptasi menjadi film berjudul "The Golden Compass".

Alfred, Ayahnya Philip, adalah seorang pilot Royal Air Force. Namun pada 1953, sang ayah tewas dalam kecelakaan pesawat. Selanjutnya pada 1968-an, Philip berhasil lulus dari Exeter College, Oxford dan setelah itu ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Bishop Kirk di Summertown, Oxford Utara.



Baca: Franz Wilhelm Junghuhn dan Kecintaannya Pada Wilayah Priangan


Pada 1970-an, Philip resmi menikahi seorang wanita bernama Judith Speller. Sebagai penulis ternama, Philip pun berhasil menjadi salah satu dari "50 penulis Inggris terbesar sejak 1945" sebagaimana disebutkan The Times pada 2008.

Tak berhenti sampai disana saja, dalam jajak pendapat pada 2004 oleh BBC, Philip juga dinobatkan sebagai orang paling berpengaruh ke-11 dalam budaya Inggris. Ia juga bahkan telah dianugerahi gelar Tahun Baru 2019 atas dedikasinya pada sastra. 

Selain itu, Northern Lights, volume pertama dari Dark Papers-nya, berhasik memenangkan Medali Carnegie 1995 dari Library Association sebagai buku anak-anak bahasa Inggris terbaik. 

Kemudian pada ulang tahunnya yang ke-70, Philip juga masuk dalam 10 besar oleh dewan redaksi yang memilihnya secara terbuka untuk karya yang paling dicintai sepanjang masa. Selain itu juga, karya tulisannya pun sangat dipuji oleh kritikus budaya Novelist Christopher Hitchens.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Umar Kayam, Kolumnis Pemeran Sosok Bung Karno dalam Film "Pengkhianatan G30S/PKI"

Koropak.co.id, 16 October 2022 15:36:37

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Umar Kayam merupakan seorang sosiolog, novelis, cerpenis, budayawan sekaligus juga guru besar di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (1988-1997-pensiun). 

Pria kelahiran Ngawi 30 April 1932 itu memiliki seorang ayah yang bekerja sebagai guru di Hollands Islands School (HIS) bernama Sastrosoekoso. 

Nama Umar Kayam diberikan sang ayah dengan harapan agar ia kelak bisa menjadi manusia seperti Omar Khayam, seorang sufi, filsuf, ahli perbintangan, ahli matematika, dan pujangga kenamaan asal Persia yang hidup pada abad ke-12.

Semasa kecilnya, Umar sendiri sudah akrab dengan dunia membaca. Ia juga sudah terbiasa dengan bacaan-bacaan dongeng dan pelajaran yang terkait dengan bahasa Belanda. Bahkan saat ia duduk di MULO (setingkat dengan SMP), Umar sudah akrab dengan novel Gone with the Wind dan yang lainnya. 

Kemudian saat masuk bangku SMA, Umar bersama dua temannya saat itu, Nugroho Notosusanto dan Daoed Joesoef (keduanya menjadi Menteri Pendidikan) mengelola majalah dinding untuk mengeksplorasi karya-karyanya. 

Diketahui, karya Umar berupa cerpen Bunga Anyelir menjadi karya pertamanya yang dimuat di majalah di Jakarta. Setelah lulus SMA, ia melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi dan berhasil lulus sebagai sarjana muda di Fakultas Pedagogik Universitas Gadjah Mada (1955).

Umar juga termasuk orang yang banyak melakukan terobosan dalam banyak bidang kehidupan yang melibatkan dirinya. Salah satunya saat ia masih menjadi mahasiswa di Universitas Gadjah Mada, Umar dikenal sebagai salah seorang pelopor terbentuknya kehidupan teater kampus.

Tak berhenti sampai disana saja, umar juga dikenal sebagai perintis Universitaria di RRI Nusantara II Yogyakarta yang menyajikan berbagai informasi kegiatan mahasiswa. Bahkan ia juga mendirikan majalah minggu dan berbagai kegiatan yang lain, terutama yang berkaitan dengan kebudayaan. 

Setelah lulus dari Universitas Gadjah Mada, Umar kembali melanjutkan pendidikannya dan berhasil meraih gelar M.A. dari Universitas New York, Amerika Serikat (1963), dan gelar Ph.D. dari Universitas Cornell, Amerika Serikat (1965). 

Pria yang juga merupakan seorang priyayi bergelar raden mas itu menikah dengan seorang redaktur majalah Ayahbunda bernama Yus Kayam. Dari hasil pernikahannya, mereka pun dikaruniai dua orang anak. 

Ada kisah menarik dari Umar Kayam. Diceritakan pada suatu waktu, Umar mendapatkan nama "Kiwati" sepulangnya ia dari sebuah perjalanan di Irian Jaya. Ternyata tidak mudah juga untuk mendapat nama baru tersebut.



Baca: Franz Wilhelm Junghuhn dan Kecintaannya Pada Wilayah Priangan


Konon, saat itu Umar harus menerobos kelangkang tiga perempuan untuk bisa diangkat sebagai anak pungut Pak Buram dari suku Asmat di pedalaman Irian Jaya yang usianya enam tahun lebih muda darinya. Selain itu juga, banyak temannya yang memanggil nama Umar Kayam dengan sebutan Uka.

Tercatat, berbagai jabatan pernah dirasakannya, mulai dari Direktur Jenderal Radio, Televisi, dan Film Departemen Penerangan RI (1966-1969), Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1969-1972), Diektur Pusat Latihan Ilmu-ilmu Sosial Universitas Hasanudin, Ujungpandang (1975-1976), anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS), dan dosen Universitas Indonesia.

Kemudian juga pernah menjadi dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, senior fellow pada East-West Centre, Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat (1973), Ketua Dewan Film Nasional (1978-1979), Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, hingga anggota Akademi Jakarta (1988-seumur hidup).

Saat menjabat sebagai Dirjen Radio dan Televisi, Umar dikenal sebagai tokoh yang membuat kehidupan perfilman menjadi semarak. Selanjutnya saat menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1969-1972), ia  mempelopori pertemuan antara kesenian modern dengan kesenian tradisional. 

Tak hanya itu saja, saat menjadi dosen di almamaternya, ia berhasil mengembangkan studi sosiologis mengenai sastra, memperkenalkan metode grounded dengan pendekatan kultural untuk penelitian sosial, memberikan inspirasi bagi munculnya karya-karya seni kreatif yang baru, baik itu di bidang sastra, seni rupa, maupun seni pertunjukan, mendirikan pasar seni di kampus, dan lain sebagainya.

Meski sibuk di bidang akademis dan birokrasi, ternyata darah seni Umar tidak luntur begitu saja. Berbagai cerpen, esai, dan juga novel berhasil diciptakannya, seperti Seribu Kunang di Manhattan. 

Ia juga bahkan berhasil menciptakan dua novelet yang dibukukan menjadi satu, yakni Bawuk dan Sri Sumarah. Umar Kayam pun akhirnya tutup usia pada 16 Maret 2002 setelah menderita patah tulang paha pangkal kiri. 

Semasa hidupnya, Umar juga menjadi seorang kolumnis di berbagai media massa yang dikenal dengan ciri khas tulisannya yang berbau renungan, akan tetapi tidak mengajak pembacanya berpikir berat.

Sementara di bidang perfilman, Umar sendiri pernah menulis beberapa skenario film, di antaranya Jalur Penang dan Bulu-Bulu Cendrawasih, yang difilmkan pada 1978-an. 

Ia juga pernah memerankan satu pemain dalam film Karmila yang disutradarai oleh Ami Priyono, pernah berperan juga sebagai Pak Bei dalam sinetron Canting (yang diangkat dari novel Arswendo Atmowiloto), serta memerankan sosok Bung Karno dalam film Pengkhianatan G30S/PKI yang disutradari Arifin C Noor.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini: