Agung Hujatnika, Kurator Seni Rupa Bergelar Doktor

Koropak.co.id, 15 June 2022 12:02:05
Penulis : Eris Kuswara
Agung Hujatnika, Kurator Seni Rupa Bergelar Doktor


Koropak.co.id - Agung Hujatnikajennong atau lebih dikenal dengan nama Agung Hujatnika alias A.H. merupakan pengarang sekaligus kurator seni rupa yang mendapatkan gelar Doktor dalam bidang seni di Fakultas Seni dan Desain, Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2012.

Pria kelahiran Tasikmalaya, 1976, itu sudah aktif dalam dunia seni sebagai kurator, pengamat, pengajar, penulis, dan juga peneliti sejak 1997. Di awal kariernya, Agung Hujatnika mengkuratori pameran tunggal Jajang Supriyadi bertajuk 'Between Walls and Doors' yang dilaksanakan di Galeri Barak, Bandung.

Berawal dari sana, Agung Hujatnika menjadi kurator berbagai pameran dan kegiatan seni, seperti OK Video - Jakarta Video Festival (2003, and 'SUB/VERSION', 2005) dan Bandung New Emergence pada 2006, 2008 dan 2010. Ia juga telah menangani kurasi berbagai pameran besar, baik di tingkat nasional maupun internasional. 

Termasuk menangani Paviliun Indonesia pada 57th Venice Biennale, Venesia (2017), Not a Dead End. Indonesia Encounters the Arab Region, Jogja Biennale, Yogyakarta (2013), dan Exquisite Corpse, Paviliun Bandung pada 9th Shanghai Biennale, Shanghai (2012).



Baca: Asrul Sani, Sastrawan yang Masuk Gelanggang Politik


Hujatnika juga turut menjadi kurator sejumlah pameran tunggal yang diadakan oleh seniman kontemporer kenamaan Indonesia, seperti Agus Suwage, Ade Darmawan, Handiwirman Saputra, dan Jompet Kuswidananto.

Pada 2017, bersama dengan Charles Esche, Hujatnika mengkurasi Art Turns, World Turns, pameran perdana the Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN). Sejak 1999 s.d. 2000, ia menjadi asisten kurator di Soemardja Gallery, ITB. Di ITB juga, ia turut menjadi pengajar mulai dari 2001 s.d. 2012. 

Dalam tulisannya bertajuk "Interpretasi Tehadap Seni Rupa", ia mengungkapkan bahwa  kritik seni rupa adalah sebuah disiplin ilmu. Oleh karena itu, dalam mengamati dan menilai sebuah karya seni perlu menggunakan metode tertentu.

Salah satunya metode yang dikemukakan Edmund Burke Feldman: karya seni dapat dinilai melalui empat tahapan, yaitu deskripsi, analisis formal, interprestasi, dan penilaian.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Komentar

Djamaluddin Adinegoro, Pelopor Pers Indonesia

Koropak.co.id, 27 June 2022 15:36:50

Fauziah Djayasastra


Koropak.co.id - Sosok yang satu ini namanya lebih akrab dengan profesi wartawan dibanding sastrawan. Padahal, ia merupakan penulis angkatan Balai Pustaka. Dia adalah Djamaluddin Adinegoro: perintis Pers di Indonesia.

Sebenarnya Adinegoro bukan nama asli. Dia lahir sebagai Djamaluddin gelar Datuk Maradjo Sutan dan merupakan adik Muhammad Yamin. Mereka bersaudara satu bapak, tapi beda ibu.

Ayah mereka bernama Usman gelar Baginda Chatib dan ibu Adinegoro bernama Sadarijah, sementara ibu Muhammad Yamin bernama Rohimah. Adinegoro kemudian menikah dengan Alidas yang berasal dari Sumatra Barat.

Pria kelahiran Sumatera Barat, 14 Agustus 1904 itu memakai nama Adinegoro lantaran tidak diperbolehkan menulis saat mengenyam pendidikan di STOVIA (1918-1925). Padahal minatnya di bidang kepenulisan amat menggebu-gebu.

Sejak menggunakan nama samaran, dia leluasa menulis dan mempublikasikan tulisannya tanpa seorang pun tahu bahwa Adinegoro adalah dirinya. Namun kemudian nama itu lebih melekat daripada nama aslinya.



Baca: Budi Riyanto, Kartunis yang Berkarya di Dunia Film


Selain di STOVIA, Adinegoro juga memperdalam pengetahuan tentang jurnalistik, geografi, kartografi, serta geopolitik di Jerman dan Belanda (1926-1930). Pengalaman tersebut menempanya menjadi wartawan.

Adinegoro memulai kariernya sebagai wartawan majalah Caya Hindia. Setiap minggu tulisannya tentang masalah luar negeri terbit di majalah tersebut. Dia juga merangkap sebagai wartawan lepas di surat kabar Pewarta Deli (Medan), Bintang Timur, dan Panji Pustaka (Batavia).

Sekembalinya dari Jerman, Adinegoro memimpin majalah Panji Pustaka pada 1931. Namun hanya bertahan enam bulan, sebelum akhirnya dia memimpin surat kabar Pewarta Deli (1932-1942).

Selain dua surat kabar itu, dia juga sempat memimpin Sumatra Shimbun, Mimbar Indonesia (1948-1950), Yayasan Pers Biro Indonesia (1951).

Namanya juga tercatat sebagai pekerja di Kantor Berita Nasional (kini LKBN Antara). Hingga akhir hayatnya, Adinegoro mengabdi di kantor berita tersebut.

Semasa hidupnya, Adinegoro turut mendirikan Perguruan Tinggi Jurnalistik di Jakarta serta Fakultas Publisistik dan Jurnalistik Universitas Padjadjaran. Di samping itu, aktif menulis buku. Dua novelnya yang terkenal berjudul Asmara Jaya dan Darah Muda, keduanya sama-sama ditulis tahun 1928.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Girang Saini K.M. Saat Puisi Pertama Dimuat dalam Majalah

Koropak.co.id, 17 June 2022 15:37:08

Eris Kuswara

 

Koropak.co.id - Saini Karnamisastra atau dikenal dengan nama Saini K.M. merupakan penulis produktif yang telah membuat banyak karya. Selain menulis puisi dan naskah drama, ia juga membuat cerita pendek, novel, dan karya terjemahan. 

Siapa sangka, ternyata ia punya pengalaman menarik saat mulai menekuni dunia sastra. Pria kelahiran Sumedang, 16 Juni 1938, yang sudah jatuh cinta pada puisi sejak kecil itu, kegirangan ketika puisi pertamanya dimuat dalam majalah Siasat, 1960. 

Putra kedua dari sepuluh bersaudara itu terkejut dan girang saat menerima wesel yang berisi honor dari puisinya. Hal itu membuatnya semakin semangat berkarya. Bukan lantaran honornya, tapi apresiasi atas karyanya.

Setelah itu ia semakin produktif menulis. Ada banyak karya yang telah dibuatnya, mulai naskah drama hingga terjemahan. Pangeran Geusan Ulun, Pangeran Sunten Jaya, Ben Go Tun, Siapa Bilang Saya Godot, Restoran Anjing, Egon, Kerajaan Burung, dan Sebuah Rumah di Argentina adalah beberapa naskah drama yang dibuatnya di rentang waktu 1963 s.d. 1980.

Sedangkan Nyanyian Tanah Air (1968), Rumah Cermin (1979), Sepuluh Orang Utusan (1989), dan Mawar Merah (2001) merupakan kumpulan puisi yang dibuat Saini. Ia juga menulis cerita pendek Anting Perak (1967), dan novel Purbaya (1976). 



Baca: Budi Riyanto, Kartunis yang Berkarya di Dunia Film


Ada pula karya terjemahan, seperti Percakapan dengan Stalin (1963, karya Milovan Djilas) dan Bulan di Luar Penjara (1965, karya Ho Tji Minh). Sementara karya nonfiksinya bisa dibaca dalam Beberapa Gagasan Teater (1981), Dramawan dan Karyanya (1985), Teater Modern dan Beberapa Masalahnya (1987), atau Puisi dan Beberapa Masalahnya (Penerbit ITB, 1993).

Diganjar Banyak Penghargaan

Selain produktif menulis, lulusan IKIP Bandung, jurusan Bahasa Inggris, itu dikenal sebagai pendiri Jurusan Teater di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung tahun 1978, dan menjadi dosen Akademi Seni Tari Indonesia, Bandung, sampai menjadi rektor perguruan tinggi tersebut hingga tahun 1987.

Mulai 1988 hingga 1995 Saini bertugas sebagai Direktur Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (kini Departemen Pendidikan Nasional) hingga tahun 1999. Ia juga pernah menjadi anggota DPRD Jawa Barat.

Sebelumnya, pada 1973, ia mendapat hadiah sastra dari Dewan Kesenian Jakarta atas dramanya yang berjudul Pangeran Sunten Jaya, dan apresiasi serupa untuk beberapa karyanya. Selain itu, pada 1980 Saini mendapat hadiah sastra dari Badan Komunikasi Penghayatan Kesatuan Bangsa atas dramanya yang berjudul Sebuah Rumah di Argentina. 

Bukan hanya di Indonesia, di luar negeri juga mendapat apresiasi serupa. Pada 2001, misalnya, Saini menerima penghargaan Hadiah Sastra Asia Tenggara 2001 (SEA Write Awards 2001) dari pemerintah Thailand atas karyanya Lima Orang Saksi (2001).


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Budi Riyanto, Kartunis yang Berkarya di Dunia Film

Koropak.co.id, 16 June 2022 12:12:38

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Budi Riyanto, pria kelahiran Bandung, merupakan seorang kartunis jempolan. Setelah menekuni dunia seni kartun, namanya jadi ada tambahan Karung: Budi Riyanto Karung. Bukan karung sembarang karung. Bukan karung wadah menyimpan barang. 

Karung yang disandangnya merupakan akronim dari kartunis Bandung. Kelompok tersebut dibentuk di Bandung pada 16 Januari 1985 oleh beberapa dosen dan mahasiswa  Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung.

Bakatnya sebagai seorang kartunis itu sudah nampak sejak Budi masih kecil. Ia senang menggambar dengan menggoreskan paku di pintu rumahnya. Kala itu, ia sering menggambar gambar kesukaannya, yakni tokoh Gatot Kaca.

Pria yang akrab juga disapa Kang Budi ini juga menggeluti bidang artistik di beberapa produksi film layar lebar. Ia terlibat dalam beberapa film Indonesia sebagai penata artistic, dan terkadang jadi pemeran pembantu.

Sebagai penata artistik, ia pernah terlibat dalam film Yuni (2021), 6,9 Detik (2019), Mooncake Story (2016), 12 Menit: Kemenangan untuk Selamanya (2014), Seputih Cinta Melati (2014), Gending Sriwijaya (2013), Badai di Ujung Negeri (2011), dan Love Story (2011).



Baca: Linus Suryadi dan Cara Kreatifnya Perkaya Khazanah Sastra Indonesia


Ada juga film King (2009), Jermal (2008), Di Bawah Pohon (2008), 9 Naga (2006), Denias, Senandung di Atas Awan (2006), Mencari Madonna (2005), Rindu Kami Padamu (2004), dan Aku Ingin Menciummu Sekali Saja (2002).

Sedangkan dalam film Denias, Senandung di Atas Awan, selain menjadi penata artistik, Budi juga terlibat sebagai pemeran pembantu.

Pada 2005, Budi berhasil meraih penghargaan sebagai penata artistik terpuji untuk film Rindu Kami Padamu dalam Festival Film Bandung. Berselang satu tahun, ia meraih penghargaan sebagai artistik terpuji untuk film Denias, Senandung di Atas Awan.

Kemudian, pada Festival Film Indonesia 2008, ia berhasil menyabet penghargaan sebagai penata artistik terbaik (piala citra) untuk film Di Bawah Pohon. Pada 2013, Budi Riyanto masuk nominasi sebagai penata artistik terpuji untuk film Gending Sriwijaya dalam Festival Film Bandung. 

Selanjutnya pada 2017, ia kembali masuk nominasi dalam Festival Film Bandung sebagai penata artistik terpuji untuk film Mooncake Story. Terakhir pada 2021, Budi Riyanto masuk nominasi tata artistik terbaik (piala citra) untuk film berjudul Yuni dalam Festival Film Indonesia.

Dalam dunia kartun yang telah melambungkan namanya, Budi telah membuat banyak karya, di antaranya Aden Endul, Juara Balap Karung, Thomas Savery, Balap Embe, Miceun Tipi dan lain-lain.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Asrul Sani, Sastrawan yang Masuk Gelanggang Politik

Koropak.co.id, 12 June 2022 12:13:49

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Lahir di Rao, Sumatera Barat, 10 Juni 1926, Asrul Sani dikenal sebagai sastrawan Indonesia yang masuk dalam kelompok Sastrawan Angkatan '45. Bersama dengan Chairil Anwar dan Rivai Apin, ia disebut-sebut sebagai trio pembaharu puisi Indonesia. 

Ayah Asrul Sani, Sultan Marah Sani Syair Alamsyah, merupakan kepala adat Minangkabau. Sedangkan ibunya, Nuraini binti Itam Nasution, merupakan seorang keturunan Mandailing.

Pada 1936, Asrul Sani memulai pendidikan formalnya dengan masuk sekolah di Holland Inlandsche School atau sekolah dasar bentukan pemerintah kolonial Belanda di Bukit Tinggi. 

Setelah lulus, ia melanjutkan sekolahnya ke SMP Taman Siswa, Jakarta, pada 1942-an. Setelah itu, Asrul Sani melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Kedokteran Hewan di Bogor. Namun, dikarenakan minatnya akan dunia sastra yang tinggi, ia sempat pindah ke Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI).

Dengan adanya dukungan beasiswa Lembaga Kebudayaan Indonesia-Belanda, Asrul Sani akhirnya mengikuti pertukaran ke Akademi Seni Drama, Amsterdam pada 1952-an, meskipun pada akhirnya kembali melanjutkan kuliah kedokteran hewan hingga dapat memperoleh gelar dokter hewan pada 1955. 

Setelah berhasil meraih gelar dokter hewan, Asrul kembali mengejar hasratnya akan seni sastra. Ia memutuskan untuk melanjutkan kuliah dramaturgi dan sinematografi di South California University, Los Angeles, Amerika Serikat (1956), lalu membantu Sticusa di Amsterdam (1957-1958).

Berbicara mengenai sepak terjangnya dalam dunia sastra, Asrul Sani tergolong pelopor sastra Angkatan '45. Kariernya semakin naik ketika bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin menerbitkan buku kumpulan puisi bertajuk 'Tiga Menguak Takdir'.



Baca: Martin Aleida, Sastrawan Saksi Kekejaman Militer Orde Baru


Di sisi lain, ia juga pernah menjabat Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslim Indonesia (Lesbumi), dan Direktur Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI). Pernah juga menjadi Anggota Badan Sensor Film (BSF), Pengurus Pusat Nahdatul Ulama (NU), dan Anggota DPR-MPR (wakil seniman) mulai dari 1966 hingga 1982.

Selain sastrawan, Asrul Sani juga sempat masuk dunia politik. Sejak 1966 hingga 1971, ia duduk di parlemen mewakili Partai Nahdlatul Ulama. Setelah itu berlanjut hingga 1982-an dengan mewakili Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Dengan segudang karya yang dihasilkannya, Asrul Sani dianggap sebagai sosok terpenting dalam sejarah kebudayaan modern di Indonesia. Pada tahun 2000-an, ia menerima penghargaan Bintang Mahaputra dari Pemerintah Indonesia.

Ada banyak karya yang telah dibuatnya, seperti Tiga Menguak Takdir (kumpulan sajak bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin, 1950), Dari Suatu Masa dari Suatu Tempat (kumpulan cerpen, 1972) dan Mantera (kumpulan sajak, 1975). Ada juga Mahkamah (drama, 1988), Jenderal Nagabonar (skenario film, 1988) dan Surat-Surat Kepercayaan (kumpulan esai, 1997).

Di dunia film, berbagai karya yang dihasilkannya meliputi Titian Serambut Dibelah Tudjuh (1959), Pagar Kawat Berduri (1963), Apa Jang Kau Tjari, Palupi? (1970), Jembatan Merah (1973), Salah Asuhan (1974), Bulan di Atas Kuburan (1976), Kemelut Hidup (1978) dan Di Bawah Lindungan Ka'bah (1981).

Selain mendapatkan penghargaan di bidang seni dan budaya, Asrul Sani juga telah banyak menorehkan  prestasi di bidang perfilman tanah air seperti meraih Piala Citra Film "Kuberikan Segalanya" (1992), Piala Citra Film "Istana Kecantikan" (1988), Piala Antemas dan Piala Bing Slamet (1985), Anugerah Seni (1969) dan Bintang Mahaputra dari Pemerintah RI (2000).


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Sekilas Tentang Saadah Alim, Pengarang Wanita Pertama di Indonesia

Koropak.co.id, 11 June 2022 15:12:30

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Padang, 9 Juni 1897. Seorang anak terlahir ke dunia. Namanya Saadah Alim. Di kemudian hari, ia dikenal sebagai penulis kelompok Pujangga Baru yang dalam setiap karya tulisnya sering menggunakan nama samaran Aida S.A. 

Ia merupakan pengarang perempuan pertama di Indonesia yang secara lantang berani menentang adat. Saadah berhasil menyumbangkan pemikiran dan karyanya yang bagus untuk generasi muda pada zamannya.

Aktivitas menulisnya sudah dimulai sejak 1920-an, tapi karya-karyanya baru diterbitkan pada 1940-an. Tak hanya terjun di dunia penulisan, Saadah Alim juga terjun ke dunia jurnalistik dengan menerbitkan sebuah majalah perempuan 'Suara Perempuan'. 



Baca: Martin Aleida, Sastrawan Saksi Kekejaman Militer Orde Baru


Di majalah itu ia menjadi pemimpin redaksi sekaligus penulis. Di dalamnya berisi karya-karya berbahasa Indonesia dan Belanda. Dengan diterbitkannya majalah tersebut, kala itu ia berharap akan memberi kesempatan bagi kaum perempuan untuk berkarya.

Ia juga menjadi pembantu tetap majalah Bintang Timur sejak 1924-an. Selanjutnya pada 1930-an, Saadah Alim dipercaya untuk memimpin majalah Krekot's Magazine yang kemudian dijadikan sebagai lampiran harian Bintang Timur. 

Mulai dari 1924 hingga 1940-an, dia menjadi pembantu tetap majalah dan harian Bintang Hindia, Panji Pustaka, Pustaka Timur, Het Dagblad, dan Volkscourant.

Tak hanya membuat cerpen dan drama, Saadah Alim juga turut menulis terjemahan karya asing, seperti Angin Timur dan Angin Barat (karya Pearl S. Buck, 1941), Marga Hendak Tegak Sendiri (karya Freddy Haggers, 1949), Jacob si Luruh Hati (karya Maryat, 1949), hingga Zuleika Menyingsingkan Lengan Bajunya (karya Riesco).

Sedangkan untuk kumpulan cerpen yang berhasil ditulisnya adalah Taman Penghibur Hati (1941) dan sebuah drama bertajuk Pembalasannya (1940) yang diterbitkan Balai Pustaka. Saadah meninggal dunia pada 18 Agustus 1968, di rumahnya di Jalan Salemba Tengah 14, Jakarta Pusat.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Nugroho Notosusanto, Sejarawan yang Lekat dengan Dunia Militer

Koropak.co.id, 10 June 2022 19:12:26

Fauziah Djayasastra


Koropak.co.id - Salah satu figur sejarawan yang turut menjadi nadi dalam perjalanan bangsa Indonesia adalah Nugroho Notosusanto. Dia merupakan penulis cerpen sekaligus sejarawan militer dan menjabat guru besar Universitas Indonesia.

Pria bernama lengkap Brigjen TNI (Purn.) Prof. Dr. Raden Panji Nugroho Notosusanto ini lahir pada 15 Juni 1930 di tengah keluarga bangsawan Jawa Tengah. Ayahnya bernama R.P. Notosusanto merupakan ahli hukum Islam fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada sekaligus salah satu pendiri UGM.

Kakak Nugroho adalah pensiunan Patih Rembang, sementara kakak tertua ayahnya adalah pensiunan Bupati rembang. Pangkat patih dan juga bupati merupakan jabatan yang sulit diraih rakyat pribumi pada waktu itu.

Nugroho adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Sejak belia dia telah menunjukkan sisi nasionalismenya. 

Selama masa Revolusi Nasional, rentang tahun 1945 s.d. 1949, dia terlibat aktif sebagai anggota Tentara Pelajar dan bekerja di pengintaian. Walau ingin tetap berada di dunia militer, Nugroho tetap menuruti ayahnya untuk melanjutkan pendidikan sehingga mendaftar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Selama tahun 1950-an, dia menulis secara intensif serta aktif dalam kelompok akademis dan juga politik hingga akhirnya lulus dengan gelar sejarah di tahun 1960. Di tahun yang sama, dia menikah dengan Irma Savitri Ramelan (Lilik), perempuan yang dikenalnya lewat gerakan mahasiswa sekaligus keponakan ibu B.J. Habibie.



Baca: Membedah Kisah Rosidi, Penyintas Kamp Konsentrasi Eks PKI


Kariernya di bidang militer cukup mentereng, dimulai dari Tentara Pelajar (TP) dan TKR Yogyakarta. Sejak tahun 1964, dia menjabat sebagai Kepala Pusat Sejarah ABRI dan menjadi anggota Badan Pertimbangan Perintis Kemerdekaan.

Sesuai SK Panglima AD No. Kep. 1994/12/67, tahun 1967 Nugroho mendapat pangkat tituler, sesuai tugas dan jabatannya di Angkatan Darat. Pangkat terakhir yang didapatnya adalah Brigadir Jenderal, pangkat tertinggi yang mungkin dapat diraihnya pada saat itu.

Selain dalam kemiliteran, Nugroho juga berkarier di bidang pendidikan menduduki jabatan sebagai Rektor Universitas Indonesia. Bahkan, dia sempat menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI dalam Kabinaet IV.

Nugroho juga tercatat sebagai penulis yang produktif. Disamping menulis sastra dan jurnal ilmiah, dia juga tekun menulis buku-buku yang dominan merupakan lintasan sejarah Indonesia serta perjuangan militer.

Pengetahuannya sebagai sejarawan dan wawasannya di dunia kepenulisan diketahui membuat Nugroho dimintai ABRI dan Orde baru untuk menulis sejarah sesuai 'versi mereka'. Ketika diangkat sebagai Menteri Pendidikan tahun 1984, Nugroho menggunakan kesempatan tersebut untuk menulis ulang kurikulum sejarah dengan menekankan peranan historis militer.

Nugroho pun tercatat sebagai salah satu penulis skenario film Pengkhianatan G30S/PKI dan mewajibnkan film tersebut untuk diputar di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Sayangnya, baru 2 tahun menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Nugroho berpulang pada suatu hari di bulan Ramadan, tahun 1985.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Yogyakarta, 8 Juni 1921, Soeharto Lahir

Koropak.co.id, 08 June 2022 15:44:55

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Sosok yang satu ini dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perjalanan sejarah kepemimpinan di Indonesia: Soeharto. Pria kelahiran 8 Juni 1921, di Kemusuk, Yogyakarta, itu berasal dari keluarga petani. Orangtuanya adalah Kertosudiro dan Sukirah.

Keluarganya termasuk kurang beruntung secara ekonomi. Saat menghadapi masalah ekonomi yang sulit, Soeharto yang kala itu baru berusia 40 hari terpaksa dititipkan kepada kakak perempuan Kertosudiro.

Semasa kecilnya, Soeharto berpindah-pindah tempat tinggal. Menumpang di tempat saudaranya. Namun, ia memiliki minat yang kuat pada Pendidikan. Tak heran, pada 1941, dia terpilih sebagai prajurit teladan di Sekolah Bintara, Gombong, Jawa Tengah.

Dengan ketekunan dan semangat pantang menyerah dalam belajar, pada 5 Oktober 1945, Soeharto resmi menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI). 

Berkarier di dunia militer, Soeharto menempati sejumlah jabatan penting, seperti berpangkat Sersan Tentara KNIL, Komandan PETA, Komandan resimen dengan pangkat Mayor, hingga menjadi Komandan Batalyon dengan berpangkat Letnan Kolonel.

Siapa sangka, takdir mengantarkannya menjadi Presiden terlama yang memimpin Indonesia, yakni 32 tahun. Sebelum menjadi Presiden, Soeharto merupakan pemimpin militer pada masa pendudukan Jepang dan Belanda, dengan pangkat terakhirnya Mayor Jenderal. 

Di dunia Internasional, khususnya di Dunia Barat, Soeharto sangat populer dengan julukan "The Smiling General" atau "Sang Jenderal yang Tersenyum". Hal itu dikarenakan raut muka Soeharto yang tampak selalu tersenyum. Meski begitu, ia juga sering disebut sebagai diktator.



Baca: 12 Maret 1967; Peristiwa Bergantinya Kepemimpinan dari Soekarno ke Soeharto


Pada 26 Desember 1947-an, Soeharto menikah dengan seorang wanita anak pegawai Mangkunegaran di Solo bernama Siti Hartinah. Dari hasil pernikahannya itu, mereka dikaruniai enam putra dan putri, yaitu Siti Hardiyanti Hastuti, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Herijadi, Hutomo Mandala Putra, dan Siti Hutami Endang Adiningsih.

Di masanya, ia sempat menjadi Pengawal Panglima Besar Sudirman dan Panglima Mandala (Pembebasan Irian Barat). Soeharto juga memimpin pasukan untuk merebut kembali Yogyakarta yang sempat dikuasai Belanda pada 1949.

Pasca terjadinya pemberontakan Gerakan 30 September atau yang lebih dikenal dengan G30S/PKI, situasi Indonesia pun memanas. Untuk meredam situasi yang tengah memanas itu, MPRS pun melakukan sidang istimewa pada Maret 1967.

Dalam sidang itu, Soeharto ditunjuk sebagai pejabat Presiden. Setahun kemudian atau tepatnya pada Maret 1968, ia resmi menjabat sebagai Presiden kedua Indonesia.

Menjabat sebagai presiden hingga 32 tahun lamanya, Soeharto pun dianggap berhasil dalam menjaga stabilitas negara hingga membuatnya dijuluki sebagai 'Bapak Pembangunan'. Namun stabilitas yang selama itu digaungkan pun akhirnya goyah, seiring dengan krisis ekonomi yang terjadi pada 1998-an. Krisis itu menjadi titik awal dituntutnya Soeharto untuk mundur dari jabatannya sebagai Presiden.

Tuntutan itu melahirkan aksi demonstrasi besar-besaran yang dilakukan mahasiswa hingga pada akhirnya menyebabkan kerusuhan di Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan daerah lainnya di Indonesia. Mahasiswa menuntut Soeharto untuk segera lengser dari kekuasaannya. 

Semakin memanasnya krisis yang terjadi kala itu juga memicu terjadinya tragedi berdarah. Salah satu yang terkenal dan menjadi catatan kelam sejarah Indonesia hingga saat ini adalah 'Tragedi Trisakti'.

Pada Kamis, 21 Mei 1998, Soeharto akhirnya melepaskan jabatannya sebagai Presiden. Peristiwa saat Presiden Soeharto lengser dari jabatannya pun juga menjadi momen lahirnya 'Hari Reformasi'.

Seiring berjalannya waktu, kesehatan Soeharto pun menurun. Setelah menjalani perawatan selama 24 hari di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan. Soeharto dinyatakan meninggal dunia pada Minggu, 27 Januari 2006, pukul 13.10 WIB dalam usia 87 tahun. Ia dimakamkan di Astana Giribangun, Karanganyar, Jawa Tengah.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Martin Aleida, Sastrawan Saksi Kekejaman Militer Orde Baru

Koropak.co.id, 08 June 2022 12:10:21

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Memiliki nama asli Nurlan, Martin Aleida dikenal sebagai seorang sastrawan yang juga menjalani profesi wartawan. Pria kelahiran Tanjung Balai, Sumatera Utara, 31 Desember 1943, itu dikenal sebagai sastrawan setelah menghasilkan berbagai karya yang fenomenal, mulai dari cerita pendek (cerpen) hingga novel.

Menikah dengan wanita asal Solo, Sri Sulasmi dan dikarunia 4 orang anak, Martin terlahir dari keluarga yang taat beragama, bahkan sang ayah merupakan seorang haji. Sejak kecil Martin sudah akrab dengan dunia sastra.

Setelah lulus SMA, Martin tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Sastra, Universitas Sumatera Utara, namun sayangnya tidak tamat. Pada 1982-an ia juga pernah menempuh pendidikan di Georgetown University, Washington DC, Amerika Serikat.

Pada 1963, Martin memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Ia aktif berkesenian, bahkan setahun kemudian ia ikut bermain di Gedung Kesenian Jakarta dan PGRI. Kala itu ia bermain dengan membawakan naskah 'Si Nandang' yang diambil dari cerita rakyat dan ditulis oleh Ebrahim Hamid. 

Setelah itu, ia pun terjun ke dunia jurnalistik dengan menjadi wartawan. Sayangnya pekerjaannya itu hanya bertahan selama satu tahun. Setelah itu ia bekerja serabutan. Memasuki usia 22 tahun, pada Januari 1965, Martin kembali bekerja sebagai wartawan di 'Harian Rakjat'.

Di tempat barunya ini, ia ditugaskan untuk menjadi wartawan istana dengan meliputi kegiatan Presiden Soekarno. Ia bertugas selama 7 bulan untuk meliput orang nomor satu di Indonesia sebelum memutuskan keluar pada Juli 1965.



Baca: Linus Suryadi dan Cara Kreatifnya Perkaya Khazanah Sastra Indonesia


Siapa sangka bahwa profesi yang digeluti itulah yang mengantarkannya mendekam di balik jeruji besi. Kala itu, tepatnya pada awal 1966, Martin bersama enam rekannya ditangkap dan dibawa ke Markas Komando Distrik Militer 0501, Jakarta Pusat.

Ia bersama dengan enam rekannya itu ditangkap dan dipenjara di Kamp Konsentrasi, karena majalah Zaman Baru diterbitkan oleh Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) yang berafiliasi kepada Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sejak saat itu ia mengubah namanya dari awalnya bernama Nurlan berubah menjadi Martin Aleida. Diketahui, nama Martin merupakan wujud penghargaan terhadap kegemaran ayahnya yang bercerita tentang tokoh Martin Luther King. 

Sementara nama Aleida, diibaratkan semacam kata seru sebagai penanda kekaguman yang sering digunakan di kalangan penduduk Melayu di pesisir Sumatera Timur.

Dengan menggunakan nama pena Martin Aleida, tepatnya pada 14 Januari 1971, ia bergabung dengan majalah Tempo yang kala itu baru berdiri hingga bertahan selama 13 tahun. Pada 1984, ia pun menjadi wartawan mingguan olahraga Bola. 

Saat itu Martin meyakini bahwa olahraga mampu memberikan kesempatan yang luas bagi seorang penulis dalam mengasah dan mempertajam kepekaan pada detail dan gerak yang membuat bidang kehidupan menjadi begitu dinamis.

Berakhirnya kekuasaan Orde Baru pada 1998, ia pun menulis cerita-cerita pendek sebagai kesaksian terhadap ketidakadilan dan kekejaman kekuasaan Orde Baru. Tokoh-tokoh dalam cerita yang dibuatnya itu adalah mereka yang dikucilkan oleh kekuasaan.

Selama terjun di bidang penulisan, Martin berhasil menciptakan buku kumpulan cerita pendek mulai dari Malam kelabu, Ilyana, dan Aku (1998) Perempuan Depan Kaca (2000), Leontin Dewangga (2003), Dendam Perempuan (2006), dan Langit Pertama Langit Kedua (2013). 

Tak hanya cerpen, Martin juga turut menghasilkan novel meliputi Layang-Layang Itu Tidak Lagi Mengepak Tinggi-Tinggi (1999), Jamangilak Tak Pernah Menangis (2003), dan Mati Baik-Baik Kawan (2009).


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Medy Loekito, Sastrawati Pertama Penggugat Sastra Porno

Koropak.co.id, 03 June 2022 12:08:02

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Memiliki nama lahir Medijanti Loekito, wanita kelahiran Surabaya, 21 Juli 1962, dikenal sebagai seorang penyair yang sudah mulai menulis sejak 1978. Karya tulisnya berupa puisi, cerpen dan artikelnya tersebar di berbagai media cetak Indonesia hingga mancanegara. 

Penyair yang lebih dikenal dengan nama Medy Loekito tersebut kini bermukim di Jakarta. Ia juga terkenal sebagai penyair wanita dengan karya puisi-puisi pendeknya yang sederhana. Medy merupakan sastrawati pertama yang menggugat peran dan fungsi sastra porno bagi pendidikan dan masa depan bangsa Indonesia.

Selain menulis, ia juga turut menyunting dan memberi pengantar pada 'Dua Tengkorak Kepala' dalam kumpulan cerpen Motinggo Busye. Kemudian 'Dalam Kemarau' pada kumpulan puisi Dharmadi hingga kumpulan sajak TS Pinang.

Di sisi lain, Medy Loekito juga aktif dalam dunia cyber Indonesia, bahkan sempat menerbitkan sebuah buku berjudul 'Cyberpuitika' pada 2002.



Baca: Leon Agusta, Guru yang Jatuh Cinta pada Sastra


Medy Loekito berhasil meraih sejumlah prestasi dan penghargaan. Salah satunya adalah karya puisi berjudul 'Malam Bukit' mampu masuk sebagai semi-finalis dalam North American Open Poetry Contest (The International Library of Poetry, USA, 2000).

Tak hanya menulis, Medy juga aktif dalam organisasi kepengarangan, seperti menjadi angota Dewan Pendiri Komunitas Sastra Indonesia, anggota Dewan Pendiri Organisasi Pembina Seni hingga mengasuh Rumah Sastra Pulo Asem.

Tercatat, beberapa puisi hasil karya Medy Loekito merupakan hasil dari meditasi yang dilakukannya dalam upaya memahami dan memberikan makna pada penghayatan kehidupannya. Kini, Medy tercatat sebagai executive secretary di Shimizu Corp., sebuah perusahaan kontraktor Jepang. 

Karya puisi Medy Loekito yang pada umumnya pendek seperti 'haiku Jepang' berhasil mendapatkan banyak perhatian dari sesama penyair dan pemerhati sastra. Puisi-puisinya termuat dalam antologi Festival Puisi Indonesia XIV (PPIA, Surabaya, 1994), Trotoar (Roda Roda Budaya, Tangerang, 1996), Jakarta dan editor Sutardji Calzoum Bachri (Kompas, Jakarta, 2001).


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Linus Suryadi dan Cara Kreatifnya Perkaya Khazanah Sastra Indonesia

Koropak.co.id, 31 May 2022 15:14:13

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Linus Suryadi Agustinus atau Linus Suryadi AG lebih dikenal dengan nama Linus Suryadi. Lahir pada 3 Maret 1951, di Desa Kadisobo, Trimulyo, Sleman, Yogyakarta, Linus berasal dari keluarga petani dan merupakan anak kedua dari sepuluh bersaudara.

Linus terkenal sebagai seorang penyair dengan karya prosanya yang fenomenal bertajuk "Pengakuan Pariyem", 1981. Ia mampu memberikan corak yang khas, khususnya untuk karya prosa lirik, salah satu bentuk karya sastra yang sangat jarang ditulis oleh pengarang lain dalam sejarah sastra Indonesia.

Berbicara mengenai latar belakang pendidikannya, Linus menempuh pendidikan dasar di desanya lalu dilanjutkan dengan bersekolah di SMP Kanisius, Sleman Yogyakarta. Pada 1968-an, ia melanjutkan pendidikan di SMA Marsudi Luhur. Namun, ia memutuskan pindah ke SMA I BOPKRI Kotabaru, Yogjakarta, mengambil Jurusan Pasti Alam dan tamat pada 1970-an.

Setelah lulus SMA, Ia kemudian berkuliah di ABA dengan mengambil jurusan Bahasa Inggris, tapi tidak tamat. Setelah itu ia melanjutkan kuliah di IKIP Sanata Dharma, mengambil jurusan yang sama. Lagi-lagi dia tidak menamatkan kuliahnya dan belajar secara autodidak.

Perjalanan kariernya sebagai penyair dimulai pada 1970-an . Ia produktif menulis puisi dan esai. Untuk mengembangkan kemampuannya, ia bergabung dengan Persada Studi Klub (PSK) asuhan penyair asal Sumba, Umbu Landu Paranggi, di mingguan Pelopor Yogya.



Baca: Mahbub Djunaidi, Sosok Bersahaja Penuh Talenta


Selama hidup di Yogyakarta, Linus banyak bergaul dengan para sastrawan, budayawan dan kaum cendikiawan. Selain itu, ia juga pernah menjadi redaktur kebudayaan di harian Berita Nasional (1979-1986) dan pernah menjabat sebagai anggota Dewan Kesenian Yogyakarta selama tiga periode (1979-1996).

Selain sebagai sastrawan, Linus juga banyak terlibat dengan berbagai aktivitas kesenian dan kebudayaan, seperti dengan menjadi juri lomba atau menulis puisi. Baginya, pengalaman menulis merupakan hal yang berharga. 

Berkat keberhasilannya dalam menulis itu jugalah yang membuat dirinya mampu memperdalam lebih banyak ilmu. Salah satunya, dia pernah mengikuti International Writing Program, Universitas IOWA, AS pada 1982.

Di sisi lain, keberhasilan Linus dalam berkarya juga turut memperkaya khazanah kesusastraan Indonesia modern. Tercatat, ia pernah mendapat penghargaan dari Pusat Bahasa Pada 1994. Linus juga termasuk sebagai seorang pengarang yang tekun dalam melakukan penelitian sebelum menciptakan karyanya.

Diketahui, novel "Pengakuan Pariyem" merupakan hasil pengamatan dan penelitian Linus terhadap kehidupan priyayi Jawa. Ia merasa tergerak untuk meneliti keris yang menjadi senjata tradisional priyayi Jawa.

Sehubungan dengan penelitiannya tentang keris, Linus turut mengoleksi 60 buah keris dari berbagai zaman dan bentuk, serta pusaka para leluhur Jawa yang semuanya dirawat dengan baik. Linus meninggal dunia pada 30 Juli 1999. Sebelumnya ia menderita stroke dan gagal ginjal.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Mahbub Djunaidi, Sosok Bersahaja Penuh Talenta

Koropak.co.id, 30 May 2022 08:16:00

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Lahir di Jakarta, 27 Juli 1933, Mahbub Djunaidi dikenal sebagai tokoh pers, politisi, kolumnis, dan agamawan. Ia merupakan anak pertama dari 13 bersaudara. Ayahnya, H. Djunaidi merupakan seorang kiai, sekaligus Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dan juga Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Pemilihan Umum (Pemilu) 1995. 

Selain aktif aktif menulis cerita pendek, sajak, dan novel, suami dari Asnawi itu merupakan Ketua Umum pertama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Saat kondisi di Jakarta tengah bergejolak, Mahbub kecil beserta keluarganya  memutuskan untuk pindah ke Solo. 

Selama di Solo, ia bersekolah di Madrasah Mambaul Ulum hingga kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia namun tidak tamat. Di usia remaja, Mahbub mulai tertarik dengan bidang keorganisasian dan politik. Di usianya yang baru menginjak 19 tahun, Mahbub menjadi anggota Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI) . 

Kariernya dalam bidang keorganisasian terus mengalami peningkatan. Hal itu dibuktikannya dengan berhasil menjabat Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada 1960 s.d. 1967-an.



Baca: Mengenang Roestam Effendi, Sastrawan dan Tokoh Pergerakan


Pada periode 1970-1979 dan 1984-1989, Mahbub diangkat menjadi Wakil Sekjen Nahdlatul Ulama, sekaligus Wakil Ketua I PBNU. Tak hanya itu, ia juga berhasil menjadi anggota DPR pada periode 1977 s.d. 1982.

Tak hanya bergerak di bidang politik, Mahbub juga aktif di bidang jurnalistik dengan menjadi Pemimpin Redaksi Duta Masyarakat, surat kabar di bawah naungan Nahdlatul Ulama (1960-1970) hingga pernah menjadi Wakil Ketua PWI Pusat (1963) dan Ketua Umum PWI Pusat (1965).

Berbicara mengenai ketertarikannya pada bidang sastra, sebenarnya minat dia dalam bidang itu sudah muncul ketika Mahbub masih kecil. Sejak kecil ia sudah mulai menulis cerita pendek dan sajak.

Pada 1948-an, tepatnya ketika dirinya duduk di bangku SMP, berbagai karyanya kala itu sudah dimuat dalam majalah anak-anak terbitan Balai Pustaka, yakni 'Sahabat'. Bahkan, ketika dirinya masih di bangku SMA, karya syairnya sudah dimuat dalam majalah 'Pemuda Masyarakat' dan 'Siasat' asuhan Rosihan Anwar.

Sejak saat itu Mahbub semakin aktif menulis cerita pendek dan sajak sampai dengan 1958-an. Berbagai cerita pendek berhasil diciptakan dan dimuat dalam banyak majalah, mulai dari 'Kalau Sore-sore', 'Lahirnya Seorang Petani', 'Manisku Mau Ke Mana?' hingga 'Lagu dalam Kisah'.

Berkat minatnya dalam dunia  sastra itu, Mahbub meraih berbagai penghargaan. Salah satunya penghargaan DKJ untuk novelnya 'Dari Hari ke Hari'. Di akhir hayatnya, Mahbub memilih fokus bersastra dan menjadi kolumnis. Ia meninggal dunia pada 1 Oktober 1995.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Mengenang Roestam Effendi, Sastrawan dan Tokoh Pergerakan

Koropak.co.id, 24 May 2022 07:21:36

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Roestam Effendi merupakan sastrawan Indonesia asal Minangkabau, sekaligus tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ia lahir pada 13 Mei 1903 dari pasangan Soelaiman Effendi dan Siti Sawiah.

Kehadirannya dalam khazanah sastra Indonesia dinilai penting. Semangat perlawanan terhadap kolonial ia tuangkan dalam sajak dan drama yang bersifat metaforik, dan menjadi pembaharu dalam gaya. 

Roestam merupakan tamatan Sekolah Raja (Kweekschool) Bukittinggi. Lalu melanjutkan sekolah di Hogere Kweekschool voor Indlanse Onderwijzers (Sekolah Guru Tinggi untuk Guru Bumiputra) di Bandung. Pada tahun 1926, ia pergi ke Belanda untuk melanjutkan pendidikan Hoofdakte. 

Sebelum pergi ke Belanda, Roestam sempat beberapa lama menjadi kepala sekolah di Adabiah, Padang. Sebelum di Adabiah, ia pernah diangkat menjadi Waarnemend hoofd pada sekolah tingkatan HIS di Siak Sri Indrapura. Namun ia menolak pengangkatan tersebut.

Ia pun kemudian mendirikan sekolah partikelir yang diberi nama "Adabiah". Sebagai kepala sekolah, ia merasa memiliki kemerdekaan untuk berbuat. Ketika menjadi kepala sekolah, ia juga terjun ke dunia politik dan aktif menulis.



Baca: M. Husseyn Umar, Pengarang yang Juga Menulis Masalah Hukum


Selama 19 tahun lamanya (1928 s.d. 1947) ia menetap di Belanda, dan bergabung dengan Partai Komunis Belanda (Communistische Party Nederland atau CPN) dan selama 14 tahun lamanya (1933 s.d. 1946) Roestam menjadi satu-satunya orang Hindia Belanda yang pernah menjadi anggota Majelis Rendah (Tweede Kamer) mewakili partai tersebut.

Sejak masih duduk di bangku sekolah, Roestam ternyata sudah banyak menaruh minatnya pada masalah kebudayaan, hingga bercita-cita ingin memperbaharui dunia sandiwara yang saat itu lebih bersifat komedi stambul.

Di dalam dunia sastra, keseriusannya untuk mengembangkan sastra Melayu diperlihatkan dengan kegigihannya dalam mempelajari hasil-hasil kesusastraan Melayu, seperti hikayat, syair, dan pantun. Pada masa awal kepengarangannya, Roestam sering menggunakan nama-nama samara, seperti Rantai Emas, Rahasia Emas, dan Rangkayo Elok.

Berbagai karya telah dibuat, seperti Revolusi Nasional (Juli, 1947), Sedikit Penjelasan Tentang Soal-Soal Trotskysme (April, 1947), Soal-Soal di Sekitar Krisis Kapitalis (Mei, 1947), Soal-Soal Mengenai Sistem Kapitalis (December 1947) dan Pidato-Pidato Tentang Soal-Soal Negara Demokrasi dan Diktatur Proletar (April, 1948).

Roestam Effendi meninggal dunia pada 24 Mei 1979. 


Silakan tonton berbagai video menarik lainnya di sini: