Hikayat Nasi Liwet, Kuliner Indonesia sebagai Upaya Berhemat

Koropak.co.id, 20 June 2022 07:30:25
Penulis : Fauziah Djayasastra
Hikayat Nasi Liwet, Kuliner Indonesia sebagai Upaya Berhemat


Koropak.co.id - Kuliner berbahan utama nasi sudah banyak sekali di Indonesia, salah satunya adalah nasi liwet. Umumnya, nasi liwet disajikan dengan aneka lauk pauk semacam daging ayam, sayur-mayur, sambal, ikan asin, dan kerupuk.

Nasi liwet banyak dijumpai di wilayah Jawa, seperti Solo atau Surakarta, dan tentu saja di tanah Sunda. Walau lebih identik sebagai makanan khas Sunda, lengkap dengan jengkol dan petai sebagai lalapannya, nasi liwet sejatinya makanan khas asal Jawa.

Dalam buku Kuliner Surakarta: Mencipta Rasa Penuh Nuansa garapan Murdjati Gardjito, dkk, nasi liwet bukan berasal dari kaum keraton atau bangsawan. Melainkan tercipta dari masyarakat yang bermukim di Desa Menuran, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo.

Sekitar tahun 1934, masyarakat desa tersebut mencoba berjualan nasi liwet ke wilayah Solo dan Surakarta. Itulah sebabnya nasi liwet dikenal oleh para bangsawan dan keraton.

Sementara nasi liwet khas Sunda lahir dari kalangan masyarakat petani. Mereka biasa membekali diri dengan makanan untuk sarapan dan makan siang. Oleh karenanya, nasi liwet dipilih sebagai cara untuk berhemat. 



Baca: Cerita Tentang Rengginang Hingga Jadi Penghuni Ilegal Kaleng Kue


Dikatakan hemat, sebab nasi liwet tidak hanya berupa nasi, melainkan sudah berikut campuran rempah dan ditambahkan ikan asin di dalamnya. Orang Sunda biasa membawanya dalam wadah semacam panci bernama kastrol yang ditutup rapat. Tujuannya tentu saja untuk menjaga nasi liwet tetap hangat.

Kalaupun ingin dihangatkan, kastrol bisa langsung ditaruh di atas pembakaran. Biasanya, liwet dinikmati dengan alas daun pisang. Ini membuat nasi liwet menjadi lebih beraroma dan terasa nikmat.

Nasi liwet biasa disajikan dalam acara kumpul-kumpul dengan teman, sesekali juga muncul dalam acara selamatan atau peringatan Maulid Nabi. Bahkan, nasi liwet juga hadir dalam upacara adat Wilujeng Jawa, seperti dalam midodareni pernikahan. 

Kini, nasi liwet banyak dilirik untuk dijadikan usaha skala rumahan atau menu andalan di sejumlah restoran modern.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Komentar

Peringatan 51 Tahun HUT KORPRI 2022, Begini Sejarah Berdirinya

Koropak.co.id, 29 November 2022 07:17:09

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Tanggal 29 November diperingati sebagai Hari Koprs Pegawai Republik Indonesia (KORPRI). Diketahui, KORPRI sendiri merupakan wadah untuk menghimpun seluruh Pegawai Republik Indonesia. 

Tercatat, anggota KORPRI terdiri dari Pegawai Negeri Sipil (PNS), pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Miliki Daerah (BUMD), perusahaan dan pemerintah desa. 

Sejarah berdirinya KORPRI berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 82 Tahun 1971 tentang KORPRI dan diperkuat juga dengan Keppres Nomor 24 Tahun 2010 tentang Anggaran Dasar KORPRI. Tahun ini, KORPRI pun berusia ke-51 tahun terhitung sejak berdirinya pada 1971-an. 

Lantas, bagaimana sejarah awal berdirinya Hari KORPRI ini?

Berdasarkan sejarahnya, awal mula diperingatinya Hari KORPRI ini sejak masa kolonial Belanda. Pada masa itu, hampir sebagian besar pegawai pemerintahan Hindia Belanda itu merupakan kaum bumi putera yang kedudukannya ditempatkan di kelas bawah. 

Akan tetapi saat peralihan kekuasaan, seluruh mantan pegawai pemerintahan Hindia Belanda pun bekerja di pemerintahan Jepang yang berkedudukan sebagai pegawai pemerintah. Hingga pada akhirnya Pasukan Jepang berhasil dipukul mundur oleh sekutu.

Indonesia pun kemudian memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Setelah Indonesia merdeka, seluruh pegawai pemerintah Jepang itu dijadikan sebagai Pegawai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 



Baca: Korpri Berkontribusi, Melayani, dan Mempersatukan Bangsa di Tengah Pandemi


Selanjutnya, setelah pengakuan kedaulatan RI yang terjadi pada 27 Desember 1949-an, seluruh pegawai RI, pegawai RI non Kolaborator, dan pegawai pemerintah Belanda digabungkan menjadi Pegawai RI Serikat. 

Hingga pada akhirnya di tanggal 29 November 1971-an, Presiden Soeharto menetapkan pendirian KORPRI dengan membuat Kepres yang didalamnya memaparkan bahwa KORPRI merupakan satu-satunya wadah atau organisasi untuk menghimpun serta membina semua pegawai RI yang ada di luar kedinasan sesuai dengan Pasal 2 ayat 2.

Namun sayangnya, setelah resmi terbentuk, KORPRI justru dijadikan sebagai salah satu alat kekuasaan dan alat politik untuk melindungi pemerintah pada masa Orde Baru. 

Hal itu sebagai tertuang dalam Undang-Undang (UU) Nomor 3 Tahun 1975 yang didalamnya membahas tentang Partai Politik serta Golongan Karya. Setelah era Reformasi, KORPRI menjadi organisasi yang netral dan tidak berpihak terhadap partai politik tertentu.

Tahun ini, dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Korps Pegawai Republik Indonesia atau HUT KORPRI Tahun 2022 yang ke-51 tahun, pemerintah secara resmi telah merilis tema dan logo peringatannya. Untuk tema HUT KORPRI 2022 adalah "KORPRI Melayani, Berkontribusi, dan Berinovasi untuk Negeri". 

Tema tersebut memiliki makna sebagai harapan bagi para anggota KORPRI agar tetap bersemangat dalam bekerja dan berkontribusi melayani kepentingan publik serta mewujudkan fungsinya sebagai perekat persatuan bangsa dan sebagai prasyarat pembangunan nasional.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Berawal dari Kerajaan Kanjuruhan, Lahirlah Kabupaten Malang

Koropak.co.id, 28 November 2022 15:09:59

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Timur - Era kerajaan Hindu-Buddha secara teori mulai terdengar sejak awal Masehi hingga abad ke-16. Temuan sejumlah prasasti yang ada di Jawa Timur, seolah menjadi bagian dari catatan sejarah perkembangan peradaban yang ada di bumi Nusantara. 

Diketahui, prasasti tersebut juga menunjukkan eksistensi dari kerajaan besar di Jawa Timur. Salah satu kerajaan bercorak Hindu-Buddha itu adalah Kerajaan Kanjuruhan. 

Kerajaan Kanjuruhan sendiri diyakini menjadi Kerajaan Hindu-Buddha tertua di Jawa Timur. Bahkan, kerajaan ini diperkirakan muncul sekitar akhir abad ke-7 hingga pertengahan abad ke-8.

Berdasarkan catatan sejarahnya, umur dari Kerajaan Kanjuruhan yang berada di Malang, Jawa Timur itu bahkan sama dengan Kerajaan Tarumanegara yang ada di Jawa Barat. Bukti dari keberadaan Kerajaan Kanjuruhan bisa ditemukan pada prasasti Dinoyo pada 682 Saka atau 760 Masehi. 

Prasasti Dinoyo merupakan bagian dari peninggalan Kerajaan Kanjuruhan yang diidentifikasi berdiri pada abad 6 dan 7 Masehi. Disebutkan dalam prasasti itu, bahwa raja dari Kerajaan Kanjuruhan yang paling terkenal adalah Gajayana. 

Sayangnya, kerajaan ini tidak lama berkembang setelah berhasil ditaklukkan oleh Mataram. Saat ini, peninggalan Kerajaan Kanjuruhan sendiri yang bisa dijumpai adalah Candi Badut dan Candi Karangbesuki yang berada di Malang.

Disebutkan juga bahwa raja-raja yang memimpin kerajaan Kanjuruhan pada masanya yaitu Raja Dewasimha, Sang Liswa yang pada akhirnya mendapat gelar Gajayana. Di masa kepemimpinan Gajayana inilah, Kerajaan Kanjuruhan mengalami masa kejayaannya. 

Bahkan, kekuasaan kerajaan itu meliputi lereng timur dan barat Gunung Kawi, hingga ke sisi barat kekuasaannya yang mencapai area Pegunungan Tengger Semeru. Setelah Raja Gajayana meninggal, Kerajaan Kanjuruhan selanjutnya dipimpin oleh Pangeran Jananiya yang tidak lain merupakan menantu dari Gajayana.

Secara turun-temurun Kerajaan Kanjuruhan itu diperintah oleh raja-raja dari keturunan Raja Dewa Singha yang semua rajanya terkenal akan kebijaksanaan, keadilan, serta kemurahan hatinya. Oleh karena itulah raja-raja tersebut sangat dicintai Rakyat Kanjuruhan.

Sementara itu, para ahli menduga bahwa Kerajaan Kanjuruhan erat hubungannya dengan Kerajaan Kalingga (Holing) yang berada di Jawa Tengah. Bahkan menurut berita dari Tiongkok sekitar 742 s.d 755 masehi, Raja Kiyen yang saat itu berkuasa memindahkan ibu kota Holing ke Jawa Timur. 


Kemunculan Kerajaan Kanjuruhan juga diketahui dari Prasasti Dinoyo bertuliskan huruf Kawi dengan bahasa Sanskerta yang berangka tahun 760 masehi. Di dalam Prasasti Dinoyo itu diceritakan bahwa Kerajaan Kanjuruhan awalnya diperintah oleh Raja Dewashimha. 

Akan tetapi setelah meninggal dunia, ia pun kemudian digantikan oleh putranya bernama Limwa atau yang dikenal sebagai Gajayana. Gajayana sendiri memiliki seorang putri bernama Uttajana yang menikah dengan Jananiya.



Baca: Sejarah Kawasan Pecinan Dari Magelang hingga Malang


Dari Prasasti Dinoyo itu jugalah diketahui bahwa Raja Gajayana yang beragama Siwa memerintah kerajaannya dengan adil, sehingga membuat ia dicintai oleh rakyatnya. Di bawah kekuasaannya jugalah, Kerajaan Kanjuruhan mencapai puncak keemasannya. 

Kerajaan Kanjuruhan mengalami perkembangan yang pesat dalam berbagai bidang mulai dari bidang pemerintahan, sosial, ekonomi, hingga seni budaya. Kemudian untuk wilayah kekuasaannya juga meliputi daerah Malang, lereng timur dan barat Gunung Kawi, serta ke utara hingga pesisir laut Jawa. 

Selama masa pemerintahan Gajayana jugalah, peperangan, pencurian, dan perampokan jarang terjadi dikarenakan sang raja selalu bertindak tegas sesuai hukum. Pada masa pemerintahannya, Raja Gajayana juga membuat sebuah tempat suci pemujaan yang sangat bagus untuk memuliakan Resi Agastya. 

Selain itu, ia juga turut membangun arca sang Resi Agastya dari batu hitam yang sangat elok. Bersamaan dengan pentasbihan bangunan suci itu, Raja Gajayana menganugerahkan sebidang tanah, sapi, kerbau, serta budak laki-laki dan perempuan sebagai penjaga kepada para pendeta. 

Setelah Gajayana mangkat, kekuasaan pun jatuh ke tangan putrinya, Uttajana yang menikah dengan Pangeran Jananiya dari Paradeh. Meskipun begitu, semua raja Kerajaan Kanjuruhan terkenal akan kebijaksanaan dan kemurahan hatinya. 

Namun sayangnya keberadaan Kerajaan Kanjuruhan tidak bertahan lama. Pada awal abad ke-10, ketika Rakai Watukura dari Mataram Kuno berkuasa, Kerajaan Kanjuruhan jatuh dan berada dalam kekuasaannya. 

Setelah itu, para penguasa Kerajaan Kanjuruhan pun menjadi raja bawahan dengan gelar Rakyan Kanuruhan atau bangsawan penguasa tempat tertentu.

Pada masa itu, wilayah kekuasaan dari Kanuruhan tersebar cukup luas meliputi daerah Landungsari di barat hingga Pakis di timur serta dari Polowijen di utara hingga Turen di selatan. 

Wilayah dari Kanjuruhan dan Kanuruhan ini jugalah yang kemudian menjadi kewukuan Tumapel, Kerajaan Singhasari hingga menjadi wilayah Malang raya saat ini. 

Para ahli sejarah pun pada akhirnya memandang, munculnya Kerajaan Kanjuruhan tersebut sebagai tonggak awal pertumbuhan pusat pemerintahan yang sampai saat ini telah berkembang menjadi Kota Malang. Kemudian tahun penemuan prasati pada abad ke-7 juga dipakai sebagai Hari jadi Kabupaten Malang. 

Adapun untuk nama Raja Gajayana, Kerajaan Kanjuruhan banyak digunakan sebagai simbol-simbol kemegahan bangunan di Kabupaten dan Kota Malang. Seperti di Kabupaten Malang, terdapat sebuah stadion yang diberi nama Stadion Kanjuruhan. Sedangkan di Kota Malang terdapat Stadion Gajayana.

 

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Alasan Orang Indonesia Suka Serba Gorengan

Koropak.co.id, 27 November 2022 12:10:40

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Hampir kebanyakan orang Indonesia saat ini menyukai gorengan atau makanan berminyak. Bahkan bisa dikatakan, gorengan tersebut tidak pernah absen menjadi camilan baik itu teman secangkir kopi atau segelas teh manis hangat.

Selain itu, jika kalian berkeliling rumah makan di berbagai penjuru Nusantara, pastinya menu makanan yang digoreng selalu saja menjadi menu utamanya. Mulai dari ayam goreng, ikan goreng, Cumi goreng, udang goreng, bakso goreng, tempe dan tahu goreng, hingga selevel sayur kol pun digoreng.

Tapi tahukah kalian bahwa sebenarnya cara memasak makanan dengan cara menggoreng itu ternyata bukanlah karakter asli masakan orang Nusantara?

Berdasarkan sejarahnya, geliat makanan yang digoreng tersebut ternyata baru muncul di bumi Nusantara sejak 200 tahun terakhir. Lantas, seperti apa perjalanannya? 

Dilansir dari laman Historia, teknik memasak makanan dengan cara menggoreng itu sebenarnya berasal dari kebudayaan Tionghoa. Bahkan untuk kuali dan alat penggorengannya pun dibawa oleh orang-orang Tionghoa ke Nusantara.

Thomas Holmann dalam bukunya "The Land of the Five Flavors: a Cultural History of Chinese Cuisine" menyebutkan bahwa menggoreng merupakan salah satu teknik memasak yang sudah lama dikenal oleh orang Tionghoa, termasuk didalamnya teknik Stir-Fry atau Jian Chao dan Deep Fry atau Zha.

Hal itu pun turut diaminkan juga oleh pakar kuliner Nusantara, William Wongso dan Kevin Soemantri yang saat itu diinterview oleh Jurnalis Vice. Mereka mengatakan bahwa yang menjadi pembeda saat awal-awal teknik tersebut masuk ke Nusantara hanyalah jenis minyak yang dipakainya.

Jika orang Tiongkok menggunakan minyak babi saat menggoreng makanan, lain halnya dengan orang Indonesia yang menggunakan minyak kelapa yang saat itu juga masih banyak diproduksi oleh industri rumahan.

Teknik menggoreng Jian Chao sendiri dikenal dengan teknik menumis makanan di atas sedikit minyak dengan api yang bersuhu tinggi. Sedangkan Zha merupakan teknik mencelupkan makanan ke dalam genangan minyak goreng, sama halnya saat menggoreng kudapan.



Baca: Menguak Asal Mula Sate Madura dan Kisah Arya Panoleh


Sebelum teknik menggoreng tersebut diadopsi oleh orang-orang Nusantara, awalnya mereka memasak makanan dengan cara mengeringkan, memanggang, merebus, mengasinkan, dan mengukus atau diasap. Hal ini pun tercatat di dalam prasasti-prasasti Jawa Kuno maupun Bali kuno. 

Seperti dalam prasasti Rukam yang ditemukan di Temanggung dari abad ke-10 yang menyebutkan bahwa hidangan makanan, daging, dan ikan pada saat itu dimasak dengan cara dipanggang dan diasinkan. Lalu, apa yang menjadi alasan orang Indonesia menyukai mengoreng makanan hingga menyantap gorengan?

Diketahui, alasan pertamanya dikarenakan melimpahnya bahan baku berupa minyak kelapa sawit. Jauh sebelum Industri kelapa sawit menjamur seperti saat ini, orang-orang Nusantara pada masa itu masih memproduksi minyak kelapa secara tradisional.

Dikatakan bahwa makanan bergoreng sudah beredar di masyarakat Indonesia sejak abad ke-19. Hal itu sebagaimana dicatatkan dalam Serat Centhini (1814) yang menyebutkan bahwa pada saat itu hidangan makanan untuk sajian upacara pernikahan di Keraton Surakarta cukup beragam mulai dari makanan yang dibakar, dikukus, diasap hingga digoreng.

Selanjutnya, Peneliti LIPI, Rucianawati mengatakan bahwa budidaya minyak kelapa sendiri telah berkembang sejak awal abad ke-20. Jika pada masa itu orang-orang Nusantara masih memproduksi secara tradisional, maka pengusaha Eropa dan Tionghoa sudah menghasilkan minyak kelapa dengan mesin modern.

Hal ini turut diperkuat dalam catatan Justus van Maurik, seorang pengusaha Kolonial yang melawat ke Jawa pada abad ke-19. Saat itu, ia menyaksikan sudah banyaknya pedagang berseliweran dan warung kecil di pinggir jalan yang menghidangkan berbagai sajian makanan, termasuk ikan goreng dan ikan asap.

Sementara untuk alasan kedua, dikarenakan memang rata-rata makanan berminyak itu enak dan gurih. Penulis dan editor Boga dalam laman vice, Kevin Soemantri juga mengatakan bahwa makanan yang bisa dibilang enak adalah makanan yang memainkan sebanyak mungkin pancaindra. 

Dengan memakai indikator ini, gorengan pun menjadi makanan yang menang banyak dikarenakan dia minimal berhasil memainkan tiga indra lewat suara atau bunyi "kriuk", rasanya yang guring, dan teksturnya yang garing.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Akulturasi Budaya Indonesia-Cina, Lahirlah Wedang Ronde

Koropak.co.id, 26 November 2022 12:11:09

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Kudapan hangat yang bisa menaikkan suhu tubuh tentunya sangat cocok sekali untuk menenami suasana di musim hujan yang terjadi beberapa hari ini. 

Tentunya, ada banyak sekali pilihan makanan atau minuman yang bisa dikonsumsi saat musim hujan, dengan citarasanya yang nikmat. Salah satunya adalah "Wedang Ronde".

Dengan ciri khas rasanya yang manis, kenyal, dan hangat, membuat kudapan yang satu ini sangat cocok sekali untuk disantap saat udara dingin seperti sekarang.

Selain itu, rasa manis yang berasal gula merah dan tekstur kenyal dari bola-bola ketan pada kudapan ini sangat cocok dan pas di lidah. Belum lagi sensasi hangat dari kuah jahenya yang semakin menambah cita rasa di udara yang dingin saat musim hujan.

Lantas, bagaimana sejarah atau asal usul dari wedang ronde ini?

Berdasarkan sejarahnya, wedang ronde pertama kalinya populer di daerah Jawa Tengah seperti di Solo, Salatiga dan Yogyakarta. Sehingga saat Anda berkunjung daerah-daerah tersebut, Anda akan dapat dengan mudah menemukan penjual Wedang Ronde.

Kata wedang berasal dalam bahasa Jawa, yang berarti minuman hangat. Sedangkan Ronde sendiri menyadur dari bahasa belanda yaitu Rond atau Rondje (jamak) yang berarti bulat.



Baca: Wedang Uwuh Memang Ampuh, dari Yogyakarta ke Banyak Negara


Kendati pertama kalinya populer di Jawa, akan tetapi sebenarnya wedang ronde merupakan salah satu hasil pencampuran budaya Indonesia dan Tiongkok. Sementara itu, di Tiongkok sendiri nama kudapan yang satu ini disebut dengan Tangyuan.

Diceritakan bahwa konon pada zaman dahulu kala, ketika Indonesia masih disebut sebagai Nusantara, para pedagang memperkenalkan minuman hangat ini. Kemudian setelah itu, masyarakat Nusantara pun mulai berinovasi dengan membuat minuman dengan berbahan dasar jahe yang masih banyak ditemukan di daerah Jawa. 

Oleh karena itulah, kuah Wedang Ronde pun sangat khas dengan perpaduan gula jawa dan jahenya. Sedangkan di Tiongkok sendiri ternyata terdapat sejarah mengenai asal usul Tangyuan. 

Dilansir dari laman Wikipedia, diceritakan pada masa Dinasti Han, hiduplah seorang dayang kerajaan bernama Yuanxiao. Saat itu, Yuanxiao sangat ingin bertemu dengan kedua orangtuanya namun dilarang oleh pihak kerajaan.

Hingga pada akhirnya seorang menteri yang mengetahui hal itu dan ingin menolong Yuanxiao dengan cara menyuruhnya membuat Tangyuan sebanyak mungkin. Pada akhirnya, dayang itu pun berhasil membuat Tangyuan sebagai persembahan para dewa yang biasa dirayakan saat festival lampion atau Dongzhi Festival. 

Sehingga, sejak saat itulah Tangyuan semakin dikenal dan menjadi cemilan populer masyarakat Tiongkok. Sementara untuk wedang ronde, biasanya dibuat dari bahan dasar ketan putih, tepung tapioka, dan garam untuk adonan bulatnya yang kenyal. 

Sedangkan untuk isian adonan bulat yang kenyal pada wedang ronde itu hanya berupa kacang tanah, gula Jawa dan sedikit gula pasir. Kemudian untuk kuahnya, terdapat jahe, gula Jawa dan daun pandan.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


82 Tahun Lalu, Serial Kartun Woody Woodpecker Mulai Ditayangkan

Koropak.co.id, 25 November 2022 15:18:19

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Hari ini, tepatnya 25 November 1940 silam, serial animasi berjudul Woody Woodpecker resmi ditayangkan untuk pertama kalinya. Diketahui, orang yang bertanggung jawab atas ketenaran Woody Woodpecker sendiri adalah Walter Lantz dan George Pal yang keduanya merupakan teman baik.

Menariknya, setelah tayang pertama kali pada 25 November 1940, serial animasi ini sempat berada di nomor 46 dalam daftar TV Guide dari 50 Karakter Kartun Terbesar Sepanjang Masa pada 2002 dan 2003. 

Tak hanya itu saja, setahun berikutnya atau tepatnya pada 2004, Woody Woodpecker juga berada di urutan ke-25 dalam daftar The 50 Greatest Movie Animals versi Animal Planet.

Dengan ketenaran yang dimilikinya itu jugalah membuat karakter ini telah direferensikan dan dipalsukan di banyak program televisi dunia. Mulai dari The Simpsons, American Dad!, South Park, The Fairly OddParents, Family Guy, Seinfeld, Robot Chicken, Three's Company, hingga Flash Toons. 

Di sisi lain, Woody Woodpecker juga merupakan maskot resmi dari Universal Studios. Tercatat, pada 1998 dan 1999-an, Woody juga bahkan muncul di Tim Formula Satu Williams. Kemudian di tahun 2000, ia resmi menjadi maskot Tim Balap Motor Honda. 

Sementara dari 1982 s.d 1996, balon Woody Woodpecker sudah menjadi bahan pokok Parade Hari Thanksgiving Macy. Di Brasil, Woody menjadi karakter kartun ikonik dan sangat populer. Woody juga pertama kalinya muncul dalam film pendek, Knock Knock bersama Andy Panda dan ayahnya. 

Debut Woody Woodpacker juga merupakan awal dari karier besarnya. Sejak saat itu jugalah, Walter Lantz terus membuat Woody hingga muncul di film dan film pendek baru untuk Universal. Sementara itu, Shamus Culhane mengubah Woody secara signifikan serta memberi Woody desain ulang ikoniknya. 



Baca: Kartun dari Masa ke Masa, Sejak Kapan Mulai Dibuat?


Bahkan Shamus juga memberi Woody ciri-ciri yang lebih jelas hingga membantu dengan kuat dalam membangun sifat Woody sebagai penggemar makanan besar. Hal tersebut berubah ketika veteran Disney, Dick Lundy mengambil kursi direktur. 

Kemudian di era 50-an, atas perintah Universal, Woody pun akhirnya "dilunakkan" menjadi karakter yang lebih heroik. Meskipun begitu, apapun yang terjadi Woody Woodpecker sendiri merupakan ikon kartun sepanjang zaman, dan tidak ada yang bisa melupakan gaya khas saat sang burung pelatuk itu tertawa.

Nama Woody Woodpecker juga sampai diabadikan dalam Hollywood Walk of Fame. Selain beragam penghargaan yang didapatkannya, kartun ini juga memiliki hal-hal menarik yang berbeda dari karakter kartun lainnya. 

Ya, Woody pernah menjadi bintang dari sejumlah seri buku komik yang diterbitkan di seluruh dunia. Seperti pada 1942-an, Woody Woodpecker pertama kalinya muncul bersama Andy Panda dan Oswald the Rabbit dalam New Funnies. 

Pada akhirnya, Woody pun behrasil menjadi bintang New Funnies yang mengarah ke komik solo Woody Woodpecker, yaitu Walter Lantz Woody Woodpecker. 

Selain komik, Woody juga tampil dalam beberapa video game, diantaranya Woody Woodpecker Racing (2000), Woody Woodpecker in Crazy Castle 5 (2002), dan Woody Woodpecker In Waterfools (2010).


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Sejarah Hari Guru Nasional dan Momen Terbentuk Organisasi PGRI

Koropak.co.id, 25 November 2022 07:14:32

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Tanggal 25 November setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Berdasarkan sejarahnya, Hari Guru Nasional sendiri mulai ditetapkan pada 1994-an. 

Di sisi lain, sejarah Hari Guru Nasional ini juga ternyata tidak terlepas dari momen terbentuknya organisasi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). 

Namun jika ditelisik lebih jauh lagi, sejarah perjuangan guru sendiri sudah dimulai sejak masa Hindia Belanda dengan munculnya Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) pada 1912-an.

Selain itu, Peringatan Hari Guru Nasional ini ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Kepres RI) Nomor 78 Tahun 1994, dan dalam aturan tersebut diputuskan bahwa tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional.

Dilansir dari laman pgri.or.id, organisasi perjuangan guru-guru pribumi pada zaman Belanda dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) berdiri pada 1912-an. Pada masa itu, organisasi tersebut bersifat unitaristik yang anggotanya terdiri dari para guru bantu, guru desa, kepala sekolah, dan penilik sekolah.

Dengan memiliki latar pendidikan yang berbeda-beda, pada umumnya mereka bertugas di Sekolah Desa dan Sekolah Rakyat Angka Dua. Dalam perjalanannya, tentu tidak mudah bagi PGHB untuk memperjuangkan nasib para anggotanya yang memiliki pangkat, status sosial, dan latar belakang pendidikan yang berbeda.

Namun sejalan dengan keadaan itu, berkembang juga organisasi guru baru lainnya di samping organisasi guru yang bercorak keagamaan dan kebangsaan. Organisasi guru baru itu diantaranya, Persatuan Guru Bantu (PGB), Perserikatan Guru Desa (PGD), Persatuan Guru Ambachtsschool (PGAS), Perserikatan Normaalschool (PNS), dan Hogere Kweekschool Bond (HKSB).

Kemudian ada juga organisasi lainnya seperti Christelijke Onderwijs Vereneging (COV), Katolieke Onderwijsbond (KOB), Vereneging Van Muloleerkrachten (VVM), dan Nederlands Indische Onderwijs Genootschap (NIOG) yang didalamnya beranggotakan semua guru tanpa membedakan golongan agama.

Seiring berjalannya waktu, kesadaran kebangsaan dan semangat perjuangan yang sejak lama tumbuh itu jugalah yang pada akhirnya mendorong para guru pribumi untuk memperjuangkan persamaan hak dan posisinya dengan pihak Belanda.

Hasilnya, Kepala HIS yang dulunya selalu dijabat oleh orang Belanda, akhirnya satu per satu pindah ke tangan orang Indonesia. Di sisi lain, semangat perjuangan mereka juga semakin berkobar dan memuncak pada kesadaran dan cita-cita kemerdekaan.

Bahkan saat itu perjuangan guru juga tidak lagi sebagai perjuangan perbaikan nasib dan kesamaan hak dan posisinya dengan Belanda, akan tetapi juga telah memuncak menjadi perjuangan nasional dengan teriakan "Merdeka".



Baca: Hari Guru Nasional 2020, Bangkitkan Semangat Wujudkan Merdeka Belajar


Selanjutnya pada 1932-an, nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) resmi diubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Perubahan nama ini pun mengejutkan pemerintah Belanda, dikarenakan kata "Indonesia" yang mencerminkan semangat kebangsaan yang sangat tidak disenangi oleh Belanda.

Sebaliknya, kata "Indonesia" ini justru sangat didambakan oleh guru dan bangsa Indonesia. Memasuki masa pendudukan Jepang, segala organisasi pun dilarang dan sekolah ditutup. Akibatnya Persatuan Guru Indonesia (PGI) tidak dapat lagi melakukan aktivitasnya.

Pada 24 s.d 25 November 1945, semangat proklamasi 17 Agustus 1945 menjiwai kaum guru untuk terlaksananya penyelenggaraan Kongres Guru Indonesia di Surakarta. 

Melalui kongres ini jugalah, segala organisasi dan kelompok guru yang didasarkan atas perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama, dan suku, sepakat untuk dihapuskan. 

Di dalam kongres ini jugalah, pada 25 November 1945 atau tepatnya 100 hari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) secara resmi didirikan.

Dengan semangat memekik "Merdeka" yang bertalu-talu, dan di tengah bau mesin pemboman tentara Inggris atas studio Radio Republik Indonesia (RRI) Surakarta, mereka pun secara serentak bersatu untuk mengisi kemerdekaan dengan tiga tujuan.

Ketiga tujuan itu diantaranya mempertahankan dan menyempurnakan Republik Indonesia, mempertinggi tingkat pendidikan dan pengajaran sesuai dasar-dasar kerakyatan, dan membela hak dan nasib khususnya guru dan umumnya para buruh.

Sejak Kongres Guru Indonesia itulah, semua guru Indonesia menyatakan bahwa dirinya bersatu di dalam satu wadah yakni PGRI. Jiwa pengabdian, tekad perjuangan, dan semangat persatuan dan kesatuan PGRI yang dimiliki secara historis juga terus dipupuk dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan NKRI.

Sedangkan dalam rona dan dinamika politik yang sangat dinamis, PGRI juga tetap setia dalam pengabdiannya sebagai organisasi perjuangan, organisasi profesi, dan organisasi ketenagakerjaan yang bersifat unitaristik, dan independen.

Oleh karena itulah, sebagai penghormatan kepada guru, Pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 78 Tahun 1994, menetapkan hari lahirnya PGRI pada 25 November sebagai Hari Guru Nasional, dan diperingati setiap tahun.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Kuah Beulangong, Makanan Khas Aceh Besar yang Identik dengan Hari Raya Islam

Koropak.co.id, 23 November 2022 12:16:50

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Aceh - Berbicara mengenai kuliner khas Aceh, terkenal akan ciri khas rempahnya yang kaya dalam setiap masakannya. Di sisi lain, Aceh juga memiliki sejumlah hidangan yang dibuat menggunakan perpaduan rempah dan metode memasak yang beragam sehingga menghasilkan cita rasa yang lezat dan unik.

Berdasarkan catatan dari buku Masakan Aceh, diketahui ciri khas dari makanan Aceh yaitu dalam setiap masakannya seringkali memakai belimbing sayur untuk olahan ikan laut guna memberi rasa segar dan mengurangi aroma amis ikan. 

Tak ketinggalan juga campuran rempah seperti cengkeh, lawang, kapulaga, pala, kayu manis hingga akar manis juga sering digunakan untuk menambah kelezatan pada setiap kuliner daerah berjuluk Serambi Mekkah ini.

Salah satunya adalah kuah beulangong. Kuliner tradisional yang berasal dari Aceh Besar ini merupakan makanan khas Aceh berupa gulai yang di dalamnya berisi daging kambing dan nangka muda. 

Biasanya, makanan khas yang satu ini hanya disajikan di bulan Ramadan yakni dijadikan sebagai makanan untuk berbuka puasa. Di sisi lain, kuah beulangong juga menjadi masakan wajib dalam setiap hari raya Islam, seperti Maulid Nabi Muhammad Salallahu 'Alaihi Wassalam, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, serta Tahun Baru Islam. 

Menariknya lagi, kuliner khas masyarakat Aceh Besar ini juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada 2008 silam.

Kuah beulangong sendiri berasal dari kata belanga yang berarti kuali besar. Dimana, proses memasak dari kuah beulangong ini menggunakan kuali besar. 

 


Baca: Memek Khas Aceh Jadi WBTb Indonesia, Cocok Untuk Buka Puasa


Kemudian untuk bumbu-bumbu atau rempah-rempah yang digunakan dalam pembuatan kuah beulangong ini terdiri dari kemiri, kunyit, kayu manis, kapulaga, dan lainnya. Sementara itu, berdasarkan kepercayaan adat setempat, proses masak kuah beulangong ini hanya boleh dilakukan oleh laki-laki.

Selanjutnya, untuk cara mengaduk dari makanan khas Aceh ini juga tergolong istimewa, yaitu dengan cara diaduk secara berlawanan dari arah jarum jam sambil bersalawat.

Lantas bagaimana dengan sejarahnya? Diceritakan pada zaman dahulu, para petani yang tinggal di Aceh Besar menyebut makanan ini dengan sebutan kuah blang. Dalam bahasa Aceh, blang sendiri berarti dari sawah. 

Sesuai dengan sebutannya, mereka memasak kuah blang itu di tengah sawah dengan menggunakan periuk tanah. Sedangkan, apinya sendiri berasal dari jerami padi yang dibakar. Bagi masyarakat Aceh Besar, kuah beulangong merupakan menu utama dalam setiap kenduri. 

Sehingga bisa dikatakan juga sebuah kenduri tidak akan lengkap rasanya jika tidak ada kuah beulangong. Masakan khas Aceh yang menggunakan daging kambing atau lembu ini biasanya dimasak dengan bumbu kari. Setelah itu, makanan ini diberi campuran isi kuah berupa nangka muda, pisang muda, atau hati pohon pisang. 

Dalam sejarahnya, masyarakat Aceh memadukan daun kari dari pedagang India dengan rempah-rempah Nusantara. Uniknya lagi, ternyata kuah beulangong juga pernah menggunakan biji ganja dalam daftar rempahnya. 

Kala itu, biji ganja yang dihaluskan dapat membuat daging menjadi lebih empuk dan juga sebagai penyedap rasa. Biji ganja itu juga dipercaya dapat berfungsi sebagai bahan pengawet alami.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Sejarah Peringatan Hari Perhubungan Darat Nasional

Koropak.co.id, 22 November 2022 15:01:56

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Hari ini, tanggal 22 November diperingati sebagai Hari Perhubungan Darat Nasional. Diketahui, Peringatan Hari Perhubungan Darat Nasional ini dikomandoi Kementerian Perhubungan Republik Indonesia (Kemenhub RI).

Tujuan diperingatinya Hari Perhubungan Darat Nasional ini, adalah sebagai momentum dalam meningkatkan kualitas pelayanan perhubungan darat, yang mencakup transportasi, infrastruktur, pelayanan, hingga fasilitas bagi pejalan kaki. 

Selain itu, kemajuan di bidang transportasi darat juga merupakan suatu keniscayaan. Terlebih lagi ketika terjadinya ledakan jumlah kendaraan setiap tahunnya hingga kemacetan di kota-kota besar.

Sementara itu, di sisi lain, transportasi darat ini harus bertransformasi untuk bisa menjadi andalan masyarakat. Oleh karena itulah, melalui momentum peringatan Hari Perhubungan Darat Nasional ini, diharapkan kualitas dan kuantitas transportasi bisa terus meningkat.

Lantas, bagaimana sejarah dari Hari Perhubungan Darat ini?

Berdasarkan sejarahnya, peringatan Hari Perhubungan Darat ini berawal dari ketetapan pemerintah yang digagas oleh Kementerian Perhubungan pada 1971-an. Kala itu, pemerintah sendiri menetapkan peringatan Hari Perhubungan Darat Nasional dengan membawa misi pembangunan transportasi lintas darat untuk menjadi akses pilihan utama.



Baca: Menelusuri Sejarah Panjang Kementerian Perhubungan


Transportasi lalu lintas darat sendiri meliputi angkutan umum, kereta api, jalan raya dan jalur pedestrian dengan jumlah transportasi daratnya yang memang lebih banyak dibandingkan dengan transportasi laut dan udara.

Selain itu, saat ini kemacetan menjadi salah satu pekerjaan rumah yang harus diselesaikan negara. Bahkan di kota-kota besar, salah satunya seperti Jakarta, kemacetan seakan sudah menjadi pemandangan yang biasa. 

Padahal, kemacetan ini merupakan sebuah masalah yang seharusnya menjadi sorotan dalam peringatan Hari Perhubungan Darat Nasional. Karena sejatinya, kemacetan itu juga dapat menimbulkan permasalahan lainnya, salah satunya terkait masalah lingkungan atau polusi udara. 

Melalui peringatan Hari Perhubungan Darat Nasional ini, diharapkan negara bisa segera mendapatkan solusi dari masalah yang ada. Sementara itu, Kementerian Perhubungan melalui laman resminya dephub.go.id, merilis tema Hari Perhubungan Darat 2022.

Mengusung tema "Bangkit Maju Bersama", diharapkan tema yang diambil tersebut dapat mendorong sektor transportasi agar bisa bangkit lebih cepat setelah masa pandemi Covid-19. Karena, transportasi sendiri menjadi salah satu sektor yang terdampak akibat badai Covid 19.

Kendati upaya pemulihan dalam industri transportasi mulai menunjukkan hasil yang positif, namun hingga saat ini masih ada sejumlah permasalahan yang harus diatasi seperti peningkatan konektivitas, keselamatan transportasi, dan integrasi antar moda di seluruh Indonesia.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Hari Televisi Sedunia Sebagai Simbol Komunikasi dan Globalisasi

Koropak.co.id, 21 November 2022 12:09:30

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Hari ini, Tanggal 21 November diperingati sebagai World Television Day atau Hari Televisi Sedunia. Peringatan Hari Televisi Sedunia itu dilakukan sebagai upaya untuk menyoroti betapa pentingnya televisi sebagai sesuatu yang melampaui alat elektronik. 

Diketahui sejak penemuannya, televisi sudah menjadi salah satu sumber hiburan yang paling vital. Melalui peringatannya ini, televisi juga dijadikan sebagai simbol komunikasi dan globalisasi. 

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), televisi diartikan sebagai sistem penyiaran gambar yang disertai dengan bunyi atau suara melalui kabel dengan menggunakan alat yang mengubah gambar dan suara menjadi gelombang listrik serta mengubahnya kembali menjadi berkas gambar yang dapat dilihat dan suara yang dapat didengar.

Di sisi lain, kelahiran televisi juga dianggap sebagai ledakan besar dalam industri media dan komunikasi. Meskipun Farnsworth dianggap sebagai orang yang telah menemukan TV elektronik pertama, akan tetapi John Logie Baird yang seringkali dipuji dikarenakan ia mendemonstrasikan sistem televisi langsung pertama di dunia.

Di Indonesia sendiri, industri televisi dimulai sejak 4 Agustus 1962, yang bertepatan juga dengan berlangsungnya pembukaan pesta olahraga se-Asia IV atau ASEAN Games yang berlangsung di Senayan.

Selain itu, sejak ditemukannya pada 1927-an, televisi memiliki sejarah panjang dalam perjalanannya, mulai dari hanya sekedar televisi kuno hingga televisi digital secanggih seperti sekarang. 

Berangkat dari perjalanan sejarah televisi itulah, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencetuskan Hari Televisi Sedunia sebagai peringatan penemuan penting televisi pada 1996-an.

Hari Televisi Sedunia juga bukan sekadar perayaan televisi sebagai alat komunikasi semata, melainkan juga tentang filosofi yang dikandungnya. Pasalnya, televisi juga memiliki dampak dan peran besar di dunia dalam pengambilan keputusan sekaligus menjadi duta besar untuk industri hiburan.

Sejarah Hari Televisi Sedunia sendiri berawal saat Majelis Umum PBB mendeklarasikan Hari Televisi Sedunia yang ditetapkan pada tanggal 21 November untuk diperingati setiap tahunnya. Penetapan tersebut juga berdasarkan Resolusi 51/205 tertanggal 17 Desember 1996.

Di satu sisi, penetapan Hari Televisi Sedunia pada 21 November juga dilakukan sebagai pengakuan atas meningkatnya dampak televisi terhadap pengambilan keputusan dengan membawa perhatian dunia pada konflik dan ancaman terhadap perdamaian dan keamanan.



Baca: Sejarah Baru, Yuk Sambut Revolusi Televisi Digital


Televisi juga memiliki peran potensial dalam mempertajam fokus pada isu-isu besar lainnya, termasuk terkait dengan masalah ekonomi dan sosial. Berawal pada 21 s.d 22 November 1996, PBB secara resmi mengadakan Forum Televisi Dunia pertama.

Dimana dalam forum tersebut, tokoh-tokoh media terkemuka di dunia saling bertemu di bawah naungan PBB untuk membahas semakin pentingnya televisi di dunia yang terus berkembang. Hal itulah yang menyebabkan Majelis Umum PBB pada akhirnya memutuskan untuk memproklamasikan tanggal 21 November sebagai Hari Televisi Sedunia.

Dengan demikian, televisi pun diakui sebagai alat utama dalam menginformasikan, menyalurkan dan mempengaruhi opini publik. Sebab, dampak dan kehadiran televisi serta pengaruhnya terhadap politik dunia sendiri memang tidak dapat disangkal.

Bahkan seiring berjalannya waktu, hingga kini televisi terus menjadi salah satu sumber konsumsi video terbesar di dunia. Kendati ukuran layarnya telah berubah, dan orang-orang membuat, memposting, streaming, dan mengonsumsi konten di berbagai platform, namun jumlah rumah tangga dengan perangkat televisi di seluruh dunia masih terus meningkat. 

Interaksi inilah yang secara tidak langsung menciptakan peluang besar untuk meningkatkan kesadaran tentang masalah penting yang dihadapi komunitas manusia dan planet bumi.

Sementara itu, terkait sejarah ditemukannya televisi berawal pada 1927-an. Saat itu ada seorang penemu bernama Philo Taylor Farnsworth berusia 21 tahun menemukan televisi elektronik pertama di dunia. 

Diketahui, asal mula di balik penemuannya tersebut adalah ketika ia yang masih duduk di sekolah menengah mencetuskan sebuah ide untuk membuat sistem yang dapat menangkap gambar bergerak, mengubahnya menjadi kode, dan memindahkan gambar tersebut dengan gelombang radio ke perangkat yang berbeda. 

Menariknya, bertahun-tahun ia lebih maju dari sistem televisi mekanis dikarenakan strukturnya menangkap gambar bergerak dengan menggunakan seberkas elektron. Hingga pada akhirnya dia berhasil menciptakan televisi elektronik pertama di dunia dan setelah itu alat televisi terus dikembangkan.

Selanjutnya pada 1928-an, siaran stasiun televisi mekanikal pertama di dunia dibuat oleh W3XK Charles Francsi Jenkins. Kemudian setelahnya, jaringan berita modern CNN didirikan oleh Ted Turner di Atlanta Georgia pada 1980-an. Hingga pada akhirnya, televisi pun terus mengalami perkembangan. 


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Kisah Heroik Rakyat Bali Mengusir Penjajah

Koropak.co.id, 20 November 2022 08:04:11

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Bali - Tanggal 20 November 1946 atau tepatnya 76 tahun silam menjadi peristiwa bersejarah bagi bangsa Indonesia terutama masyarakat Bali. Di tanggal itu terjadi peristiwa pertempuran habis-habisan yang dilakukan pasukan Resimen Sunda Kecil yang dipimpin Kepala Divisi Kolonel I Gusti Ngurah Rai melawan Belanda.

Peristiwa yang dikenal dengan nama "Puputan Margarana" itu berpusat di Desa Marga Dauh Puri, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan Bali. Akibat peristiwa itu jugalah menjadikan I Gusti Ngurah Rai sebagai tokoh Puputan Margarana. 

Diketahui dalam bahasa Bali, "Puputan" berarti perang yang dilaksanakan sampai mati atau sampai dengan titik darah penghabisan. Sementara untuk Margarana sendiri mengacu pada tempat pertempuran berlangsung. 

Dalam pertempuran itu, Pasukan TKR di wilayah ini bertempur dengan habis habisan untuk mengusir Pasukan Belanda yang kembali datang ke bumi Nusantara setelah kekalahan Jepang. Pasukan Belanda kembali ke tanah air untuk menguasai kembali wilayahnya yang direbut Jepang pada Perang Dunia II.

Akibat pertempuran tersebut, seluruh pasukan termasuk I Gusti Ngurah Rai gugur hingga peristiwa itu pun dikenang sebagai salah-satu Puputan pada era awal kemerdekaan dan mengakibatkan Belanda sukses dalam mendirikan Negara Indonesia Timur (NIT).

Lantas, apa yang menjadi latar belakang hingga kronologi ternjadi Puputan Margarana ini?

Dilansir dari situs Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klungkung, saat itu Pasukan Belanda berambisi untuk kembali menguasai kembali wilayahnya yang direbut oleh Jepang dan membuat Negara Indonesia Timur (NIT). 

Namun sayangnya, I Gusti Ngurah Rai sendiri menolak rencana Belanda tersebut. Bahkan, I Gusti Ngurah Rai juga sampai menegaskan bahwa selama Pasukan Belanda masih berada di Bali, maka pejuang dan rakyat Bali akan terus melakukan perlawanan.

Di sisi lain, berdasarkan Perjanjian Linggarjati 15 November 1946, Belanda sendiri hanya mengakui kekuasaan de facto Indonesia pada wilayah Jawa, Madura dan Sumatra. Akibatnya, pengakuan secara de facto ini jugalah yang memunculkan rasa kekecewaan dalam hati rakyat Bali yang belum diakui secara de facto sebagai wilayah Indonesia.



Baca: Sejarah 15 November, Perundingan Linggarjati Ditandatangani


Kemudian pada 18 November 1946, markas pertahanan atau militer Belanda di Tabanan, Bali diserang secara habis-habisan. Hal inilah yang membuat Belanda menjadi murka hingga mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengepung Bali, khususnya daerah Tabanan. 

Pada masa itu, Belanda mengirimkan pasukan Gajah Merah, Anjing Hitam, Singa, Polisi Negara, hingga Polisi Perintis. Tak hanya itu saja, Belanda juga turut mengirimkan tiga pesawat pemburu miliknya dan pasukan yang dikirim Belanda tersebut mulai melakukan serangan pada 20 November 1946 pukul 05.30 WITA.

Pasukan kiriman Belanda itu menembaki area pasukan warga Bali. Dikarenakan kekuatan persenjataan yang dimiliki pasukan warga Bali yang tergolong minim, akibatnya mereka pun belum bisa melakukan aksi balas serangan kepada pasukan Belanda.

Selanjutnya sekitar pukul 09.00 WITA, pasukan Belanda yang berjumlah sekitar 20 orang mulai mendekat dari arah barat laut. Namun beberapa saat kemudian terdengarlah suara tembakan hingga membuat 17 orang pasukan Belanda tewas tertembak oleh pasukan Ciung Wanara yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Rai. 

Setelah mengetahui jika pasukan yang dikirimkannya itu mati, Belanda pun melakukan aksi serangan dari berbagai arah. Namun sayangnya, upaya yang dilakukan beberapa kali itu justru mengalami kegagalan dikarenakan pasukan Ciung Wanara berhasil melakukan aksi serangan balik. 

Tak hanya itu saja, Belanda juga sempat menghentikan aksi serangannya selama satu jam, lalu beberapa saat kemudian kembali menyerang dengan mengirimkan banyak pasukan serta pesawat terbang pengintai sekitar pukul 11.30 WITA. Lagi-lagi, serangan yang dilakukan Belanda kala itu kembali berhasil dihentikan oleh pasukan Ciung Wanara. 

Di dalam pertempuran sengit yang terjadi saat itu, semua anggota pasukan I Gusti Ngurah Rai juga bertekad tidak akan mundur sampai titik darah penghabisan. Mulai dari sinilah pasukan I Gusti Ngurah Rai pun mengadakan "Puputan" atau yang berarti perang habis-habisan yang berlangsung di Desa Margarana.

Akibatnya, pasukan I Gusti Ngurah Rai yang berjumlah 96 orang itu semuanya gugur, termasuk pimpinannya I Gusti Ngurah Rai sendiri. Sebaliknya, di pihak Belanda setidaknya ada lebih kurang 400 orang yang tewas akibat pertempuran habis-habisan itu. 

Sehingga, untuk mengenang peristiwa yang terjadi pada 20 November 1946 atau yang dikenal dengan perang Puputan Margarana, kini pada bekas arena pertempuran itu didirikan sebuah Tugu Pahlawan Taman Pujaan Bangsa.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Menguak Asal Mula Sate Madura dan Kisah Arya Panoleh

Koropak.co.id, 20 November 2022 12:14:11

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Timur - Sudah tidak mengherankan lagi jika kuliner khas Indonesia selalu kaya akan rempah-rempah untuk mendukung kelezatan dari kulinernya. Sehingga, hal itu pun membuat kuliner Indonesia menjadi terkenal hingga ke mancanegara.

Tak hanya terkenal dengan rendangnya, sate juga menjadi salah satu kuliner khas Indonesia yang sudah mendunia. Jenis kuliner yang satu ini biasanya terbuat dari daging yang ditusuk lalu dibakar. 

Di Indonesia sendiri memiliki beraneka ragam jenis sate yang berasal dari setiap daerah dengan ciri khasnya masing-masing. Salah satunya yang populer adalah "Sate Ayam Madura".

Pastinya siapa sih yang tidak suka dengan Sate Ayam Madura? Diketahui, hampir seluruh masyarakat Indonesia tentunya sudah pernah mencicipi sate khas Madura ini. Biasanya, jenis sate yang satu ini banyak di jual di setiap sudut kota manapun di Indonesia bahkan hingga pelosok pedesaan. 

Ya, sesuai dengan namanya, sate ayam ini sendiri berasal dari Madura, Jawa Timur. Sate ini terdiri dari daging ayam yang ditusuk, lalu dibakar di atas bara api yang kemudian dicampur dengan bumbu kacang hingga membuatnya memiliki rasa yang manis dan legit. 

Berpadu juga dengan rasanya yang lezat dan gurih, tidak mengherankan sekali jika sate ayam Madura ini menjadi favorit banyak orang. Selain menggunakan daging ayam sebagai bahan utama, penjual Sate Madura biasanya tak hanya menjual sate ayam saja.

Para penjual Sate Madura juga ada yang menggunakan daging kambing dengan bumbu saus kacang yang tak kalah nikmatnya. Untuk warung atau gerobak sate yang juga menjual sate kambing ini biasanya akan ditandai dengan digantungnya bagian kaki belakang si kambing.



Baca: Nikmati Sensasi Gurihnya Sate Buntel Khas Solo


Lalu, bagaimana dengan asal mula terciptanya sate ayam Madura sendiri?

Diketahui, sate sendiri memang sudah sangat melekat pada masyarakat Madura. Sebab, terdapat juga filosofi dari Sate Madura yaitu "menyatukan setiap elemen dan disatukan menjadi sebuah kesatuan". Di sisi lain, sate yang terkenal hingga se-antero Nusantara ini ternyata memiliki banyak cerita mengenai asal usulnya.

Berdasarkan sejarahnya, konon asal mula Sate Madura ini berawal dari kisah sang penguasa di Sumenep, Jawa Timur bernama Arya Panoleh yang berkunjung ke rumah kakaknya, sang penguasa Ponorogo, Batara Katong. 

Saat bertemu dengan sang kakak, Arya Panoleh saat itu menggunakan pakaian warok serba hitam dan kaos bergaris-garis ciri khas orang Madura. Kemudian di tempat kakaknya, Arya Panoleh pun disuguhi makanan dengan bahan dasar daging berbumbu yang ditusuk lidi. 

Akan tetapi Arya Panoleh justru menolak karena rasanya yang tidak sesuai dengan lidahnya. Setelah Batara Katong bercerita jika makanan tersebut biasa dimakan oleh para pendekar di Ponorogo, pada akhirnya Arya Panoleh ingin memakan sate itu. 

Dikarenakan kenikmatannya itulah, Arya Panoleh pun selanjutnya mengubah makanan ini dengan menyesuaikan kebudayaan dan kesukaan masyarakat Madura yang hingga pada akhirnya tersebar ke seluruh daratan Pulau Madura dan Indonesia.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Tak Lekang Zaman, Kapitan Jadi Pemukiman Masyarakat Tionghoa Kuno di Palembang

Koropak.co.id, 19 November 2022 12:18:05

Eris Kuswara

 

Koropak.co.id, Sumatra Selatan - Palembang disebut-sebut sebagai kota tertua di Indonesia. Usianya sudah 13 abad. Berdiri sejak 16 Juni 682. 

Bukti usia dari kota berjuluk Pempek tersebut sudah berabad lamanya itu ditunjukkan oleh prasasti Kedudukan Bukit. Bukti itu menunjukkan bahwa kota ini sudah mengalami serangkaian peristiwa bersejarah yang bermacam-macam. 

Satu dari sekian bukti sejarah itu adalah keberadaan orang Tionghoa. Kedatangan bangsa Tionghoa ke Palembang tersebut untuk berdagang. Ini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. 

Mengapa bangsa Tionghoa itu bisa mudah masuk ke kota tersebut? 

Alasannya karena Palembang juga terkenal dengan keterbukaannya akan pendatang. Selain itu, pelabuhannya juga sangat terkenal sebagai pusat perdagangan di bumi Nusantara.

Sementara itu, berbicara mengenai masalah masyarakat Tionghoa, diketahui sampai dengan saat ini masyarakat keturunannya pun sangat umum ditemui di Palembang. 

Bahkan, mereka juga menyatu dan melebur dalam kelompok masyarakat hingga pada akhirnya ada juga yang melakukan pernikahan dengan warga lokal disana.

Di sisi lain, peninggalan sejarah terkait jejak kedatangan bangsa Tionghoa di Palembang juga cukup banyak ditemui. Akan tetapi ada salah satu aset sejarah yang menjadi sebuah penanda dari bermukimnya masyarakat Tionghoa di Palembang, yaitu Kampung Kapitan.

Kampung Kapitan berlokasi di Jalan KH Azhari atau tepatnya berada di tepian Sungai Musi, dekat dengan Benteng Kuto Besak. Menariknya lagi, sampai dengan sekarang Kampung Kapitan itu masih terus berdiri dan masih dihuni masyarakat Tionghoa meskipun statusnya juga telah menjadi cagar budaya.

Berdasarkan catatan sejarahnya, ternyata kampung ini jugalah yang menjadi tempat persinggahan para pedagang apabila ke Palembang. Tercatat, pendiri awal dari kampung tersebut adalah Lioang Taow Ming, seorang tokoh masyarakat Tionghoa yang cukup terpandang kala itu. 

Lioang Taow Ming merupakan kepala kantor cabang dari lembaga perdagangan Cina yang memang diutus oleh pemerintah Dinasti Mingu untuk melakukan perdagangan di Palembang. 

Diceritakan suatu ketika, ia diangkat oleh Belanda sebagai perwira untuk mengatur wilayah tujuh Ulu dan daerah di sekitarnya. 



Baca: Berkunjung ke Kampung Adat Sijunjung, Pahami Aturannya


Kemudian setelah itu jabatannya pun diwariskan kepada penerusnya, Tjoa Kie Tjuan dengan pangkat mayor. Setelah itu berlanjut ke Tjoa Han Him yang bertitel kapiten atau kapitan. 

Mulai dari sinilah penamaan 'kapitan' sebagai nama kampung pun mulai dipakai. Hal itu dikarenakan pada saat itu terdapat tiga rumah perwira yang menghuni kawasan ini.

Kampung Kapitan sendiri diperkirakan berdiri pada 1644 atau sejak zaman kedatangan Belanda ke Indonesia, mereka sudah menetap di sana. Pemukiman masyarakat Tionghoa ini terdiri atas bangunan-bangunan tua dengan gaya arsitektur pecinan lawas. 

Jika dilihat secara ukuran, kawasan kampung ini memiliki luas total 165,9 × 85,6 meter. Selanjutnya, dari aspek kebudayaan, pemukiman ini juga merupakan hasil akulturasi antara budaya Tionghoa dan Palembang. Unsur Tionghoa itu sendiri bisa dilihat dari isian rumah beserta terasnya. 

Sementara untuk pengaruh budaya Palembang bisa tercermin dari bentuk rumahnya dengan gaya rumah limas khas Sumatra Selatan. Tak hanya itu, sentuhan gaya eropa juga turut terlihat pada rupa bangunan. Uniknya, kendati sudah lama berdiri, namun bangunan yang tersisa masih bisa dimanfaatkan sebagai tempat tinggal. 

Dulu, bahan utama yang digunakan untuk membuat rumah ini adalah kayu, namun seiring berkembangnya zaman, pemilihan material beton pun mulai dipakai untuk rumah. Meskipun begitu, gaya klasik dari penggunaan bahan kayu tersebut masih bisa dilihat pada bangunan di Kampung Kapitan ini.

Selain itu juga ada beberapa bangunan dengan arsitektur rumah panggung dan tiga bangunan bekas tempat tinggal perwira yang menjadi daya tarik utama dari kampung itu. Tak ketinggalan juga di bagian tengah perkampungan, ada sebuah area terbuka yang memiliki pagoda.

Saat ini, rumah Kapitan sendiri masih dihuni oleh keturunannya pada bangunan utama. Sedangkan pada bangunan lain, telah menjadi tempat untuk barang-barang peninggalan. Di sisi lain, saat ini kampung tersebut juga dikelola oleh keturunan ke-14 dari Tjoa Han Him.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini: