Bakiak Batok; Permainan Sederhana Segudang Manfaat

Koropak.co.id, 04 July 2022 15:48:52
Penulis : Eris Kuswara
Bakiak Batok; Permainan Sederhana Segudang Manfaat


Koropak.co.id - Bogor tidak hanya terkenal dengan beragam kuliner dan wisata alamnya yang indah, tapi juga memiliki permainan yang seru untuk dimainkan. Namanya Bakiak Batok. Tak perlu uang banyak untuk membuat dan memainkan permainan tersebut. Bahan utamanya adalah batok atau tempurung kelapa yang sudah kering.

Batok itu dibelah dua, kemudian di setiap bagian tengahnya diberi lubang untuk memasukkan tali. Disarankan pakai tali yang lentur agar memudahkan pemain dalam menggunakannya. Bakiak batok biasanya dimainkan dengan menggunakan rintangan. 

Cara memainkannya terbilang sangat sederhana. Sebelum memulai permainan, bakiak batok akan dikaitkan pada jempol kaki layaknya ketika memakai sandal jepit. Lalu kedua tangan memegang tali secara seirama dan menariknya ketika kaki melangkah. 

Tapi, kendati tampak mudah, keseimbangan tubuh sangat diperlukan saat memainkan permainan bakiak batok. Dibutuhkan juga kekompakan antara gerak kaki dan tangan agar pemain bisa melangkah secara cepat dan sempurna.



Baca: Mengenang Ayang-ayang Gung dan Ucang-ucang Angge


Dalam permainannya, setiap pemain akan diadu laju dengan melewati jalan yang sudah diberi rintangan. Bagi pemain yang menyentuh tali rintangan pada saat berjalan, maka pemain tersebut dianggap gagal. Sementara bagi pemain yang paling cepat sampai ke garis akhir, dia dinyatakan pemenang.

Namun, seiring perkembangan zaman yang semakin maju, permainan bakiak batok kian jarang ditemukan. Sebagai upaya dalam melestarikan permainan tersebut, Kampung Budaya Sindang Barang, Bogor, bergerak untuk menghidupkan kembali bakiak batok. Salah satu caranya dengan menggelar perlombaan.

Diharapkan, dengan cara tersebut generasi muda turut melestarikan permainan batok kepala. Selain seru untuk dimainkan, bakiak batok kelapa memiliki beragam manfaat. Di antaranya melatih sensorik kasar anak-anak, melatih koordinasi tubuh, melatih kesabaran, hingga dapat melatih keseimbangan tubuh.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Komentar

Membaca Sejarah Tradisi Maen Pukulan, Silat Khas Betawi

Koropak.co.id, 06 August 2022 12:31:19

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Selain punya kerak telor, lenong, dan beragam seni budaya lainnya, Betawi juga ternyata memiliki silat khas yang bernama maen pukulan. Itu menjadi ajang bagi para jago silat atau yang terkenal dengan sebutan jawara untuk adu kekuatan. Siapa paling unggul, dia akan disegani masyarakat.

Maen pukulan merupakan permainan yang melibatkan kontak fisik, serang, dan membela dengan atau tanpa senjata. Main di sini juga menandakan adanya kesenangan, sehingga dengan kata lain, bagi orang Betawi ilmu bela diri itu awalnya adalah sebuah permainan dan bukan adu jago.

Antropolog Universitas Indonesia, Yasmin Zaki Shahab, memperkirakan, sejak abad ke-16, masyarakat setempat sudah mempertunjukan seni silat di berbagai acara penting, seperti pesta perkawinan hingga acara khitanan. 

Bagi orang Betawi juga silat tidak hanya sekadar seni bela diri, tapi menjadi suatu produk sosial hingga seni budaya yang mengakar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Hal senada disampaikan budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra. Menurutnya, ada ikatan yang erat antara budaya Betawi dan seni bela diri. Di masa lalu, ibadah salat dan silat sudah menjadi kewajiban bagi anak-anak Betawi.

"Maen pukulan ini pernah begitu menyatu dengan kehidupan masyarakat Betawi. Bahkan bisa dikatakan juga bahwa tradisi ini sudah mendarah daging bagi masyarakat Betawi, hingga tidak ada satupun orang Betawi yang sama sekali tidak maen pukulan," ucapnya.



Baca: Lenong, Seni Teater Khas Betawi yang Sarat Pesan Moral


Sayangnya, seiring perkembangan zaman, tradisi maen pukulan ini justru hampir punah. Itu lantaran tidak banyak anak muda yang ingin belajar seni bela diri. Selain itu, anak-anak Betawi pun sudah jarang berlatih maen pukulan sehabis belajar mengaji.

Beberapa literatur sejarah menyebutkan, cikal bakal dari tradisi maen pukulan ini berawal sejak Kerajaan Tarumanegara menguasai Sunda Kelapa (sekarang Jakarta) sekitar abad ke-5 s.d ke-7 Masehi.

Di masa lampau, pelabuhan Sunda Kelapa merupakan bagian penting. Tak heran, pelabuhan tersebut selalu mendapat perlindungan militer dari kerajaan. Selama menunggu pasukan datang, orang-orang di pelabuhan juga membutuhkan banyak orang jago yang direkrut dari daerah sekitar.

Pada 1618-an, diperkirakan sebanyak 6 ribu sampai 7 ribu prajurit yang ahli dalam bermain silat melindungi Jayakarta hingga memberikan pengaruhnya kepada masyarakat sekitar. Prajurit itu jugalah yang kemudian membentuk keluarga dan meneruskan ilmu bela dirinya.

Tak jarang, para jawara Betawi muncul bersamaan dengan masalah sosial yang terjadi pada masa itu. Meskipun mereka akan dielu-elukan sebagai pahlawan, namun tak sedikit juga jawara ini disebut sebagai bandit sosial.

G.J Nawi dalam bukunya "Maen Pukulan: Pencak Silat Khas Betawi (2016)", menyebutkan, meski memiliki nama maen pukulan, namun silat khas Betawi ini juga turut memuat beragam aspek, mulai dari aspek mental, spiritual, seni, bela diri hingga aspek olahraga yang menyatu dalam gerakan-gerakan khas pencak silat, baik itu bertahan maupun menyerang.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Lenong, Seni Teater Khas Betawi yang Sarat Pesan Moral

Koropak.co.id, 04 August 2022 12:21:41

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Mendengar kata lenong, ingatan kita pasti langsung ingat Betawi. Wajar saja. Itu lantaran beberapa tahun lalu, lenong pernah wara-wiri di televisi, dan memori kita masih merekam baik beberapa pemainnya.

Lenong yang merupakan teater tradisional dari Betawi memang sangat popular. Biasanya ditampilkan dalam berbagai acara hajatan dan perayaan-perayaan lainnya. Di dalamnya berisi cerita-cerita tentang kehidupan sehari-hari masyarakat yang dipadukan dengan unsur komedi.

Menariknya lagi, pertunjukan lenong ini biasa dilakukan secara cair. Antara pemain dan penonton bisa saling berinteraksi untuk mempengaruhi cerita dalam pertunjukannya. Dalam pertunjukannya, kesenian tradisional ini biasanya diiringi musik gambang, kromong, gong, kendang, kempor, suling, kecrek, serta alat musik dengan unsur Tionghoa, seperti tehyan, kongahyan, dan sukong. 

Untuk lakon atau ceritanya, pada umumnya mengandung pesan moral, yaitu menolong yang lemah, membenci kerakusan dan perbuatan tercela. 

Meskipun eksistensi teater tradisional satu ini kian hari semakin memudar, namun sampai dengan saat ini, lenong dianggap sebagai salah satu sandiwara komedi yang paling populer di lanskap kebudayaan Betawi.



Baca: Akulturasi Budaya Betawi-Tionghoa Melahirkan Gambang Kromong


Diceritakan, lenong mulai berkembang sejak akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20. Dikatakan bahwa kesenian teatrikal ini merupakan adaptasi masyarakat Betawi dari kesenian serupa seperti "komedi bangsawan" dan "teater stambul" yang sudah ada saat itu.

Seniman Betawi, Firman Muntaco, menyebutkan, lenong berkembang dari proses teaterisasi musik gambang kromong hingga berkembang sebagai tontonan dan sudah dikenal sejak 1920-an. Saat itu, lakon-lakon yang dibawakan dalam lenong, berkembang dari lawakan-lawakan tanpa alur cerita yang kemudian dirangkai hingga menjadi sebuah pertunjukan.

Awalnya, kesenian ini dipertunjukkan dengan mengamen dari kampung ke kampung. Bahkan, pertunjukannya kala itu diadakan di tempat terbuka tanpa panggung. Selanjutnya, pada saat pertunjukan berlangsung, salah seorang aktor atau aktris akan mengitari penonton sambil meminta sumbangan secara sukarela. 

Setelah itu, lenong mulai berkembang dan dipertunjukkan dalam acara-acara di panggung hajatan, seperti resepsi pernikahan sesuai dengan permintaan pelanggan. Barulah di awal kemerdekaan Indonesia, teater rakyat ini murni menjadi sebuah tontonan panggung.

Seiring berjalannya waktu, lenong semakin menjadi populer setelah pertunjukannya disiarkan di stasiun televisi, yang kala itu ditayangkan oleh TVRI mulai 1970-an. Tak hanya itu, kepopuleran kesenian itu juga turut membuat beberapa seniman lenong menjadi terkenal sejak saat itu, seperti Bokir, Nasir, Siti, dan Anen.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Enam Mainan Anak "Jadul" dari Karet Gelang

Koropak.co.id, 03 August 2022 15:14:18

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Kreativitas anak zaman dulu atau jadul memang tak diragukan lagi. Apapun bisa dijadikan mainan, termasuk karet gelang. Dengan segudang kreativitas yang dimilikinya, anak-anak zaman dulu berhasil menyulap benda murah meriah tersebut menjadi mainan yang mengasyikan hingga membuat ketagihan. Apa saja?

1. Lompat tali

Lompat tali menjadi salah satu permainan yang sering sekali dimainkan, terutama oleh anak-anak perempuan. Tali yang digunakan untuk permainan tersebut dari karet gelang yang dibuat simpul hingga memanjang dan cukup untuk melakukan permainan lompat tali. 

Untuk memperkuat tali agar bisa dimainkan, biasanya anak-anak menggunakan lebih dari satu karet gelang di setiap simpulnya. Permainan itu dijamin seru, karena harus melompat sesuai dengan batas tali yang dipasang, mulai dari sebatas mata kaki, dada, kepala hingga ke langit-langit.

2. Karetan

Ketajaman dalam melempar karet menjadi pertaruhan penting dalam permainan yang satu ini. Hal itu dikarenakan untuk memainkan permainan karetan adalah dengan cara melempar karet pada tancapan segitiga berganda (berisi 1 hingga 6 karet). 

Jika lemparan yang dihasilkan itu menyangkut pada tancapan, maka karet akan dikalikan sesuai deret yang ditentukan bandar. Akan tetapi jika lemparannya tak menyangkut, maka karet-karet itu menjadi milik bandar. Menariknya lagi, agar adil, pemeran bandar ini akan ditentukan secara bergantian.

3. Adu Ayam

Meskipun namanya adu ayam, namun dalam permainan ini tidak ada ayam sama sekali. Sebab, yang dibutuhkan untuk memainkan permainan ini adalah 1 karet gelang dan 2 sedotan. Untuk cara memainkannya, sedotan akan dilipat menjadi dua, lalu sangkutkan lipatan ke karet.



Baca: Empat Permainan Tradisional Sunda Berawal Ucing


Kemudian lakukan juga pada sedotan kedua dengan karet yang sama. Setelah karet mengikat antara 2 sedotan yang dilipat, selanjutnya putar sedotan ke arah yang berlawanan dan setelah putaran dirasa cukup, maka lepaskan benda tersebut ke lantai.

Elastisitas yang ada pada karet pun akan mengembalikan putaran yang telah dibuat sebelumnya, sehingga kedua sedotan pun akan bergerak berputar-putar layaknya seperti pertarungan ayam.

4. Pistol karet gelang

Umumnya, permainan yang satu ini dimainkan oleh anak laki-laki. Cara memainkan permainan ini pun terbilang cukup sederhana. 

Langkah pertama, bentuk tangan menyerupai pistol, lalu kaitkan satu sisi karet di tengah jari telunjuk dan tarik ke arah luar telapak tangan. Kemudian untuk ujung karet satunya lagi ditahan dengan kelingking, jari manis atau jari tengah. 

5. Adu Karet

Permainan yang satu ini juga sangat sederhana, untuk karet yang berhasil berada di atas karet lawan, maka dialah yang menjadi pemenangnya. 

Untuk mengarahkan karet, pemain bisa menggerakkannya dengan cara ditiup atau disentil dengan menggunakan jari. Sementara untuk pemain yang kalah, harus rela menyerahkan karet kepada lawannya.

6. Seni tangan

Untuk permainan satu ini, tentunya dibutuhkan trik dan keahlian khusus. Sebab, tidak semua anak juga bisa membuat kreasi tangan dari karet gelang ini. Biasanya, dari dua buah gelang itu akan dibentuk menyerupai rumah, bintang, pesawat, bintang, kuburan bahkan celana dalam.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Nilai Luhur dalam Tari Persembahan dari Riau

Koropak.co.id, 02 August 2022 15:37:22

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Riau - Selain ungkapan keindahan yang dituangkan dalam gerakan, seni tari juga  mengandung makna dan nilai estetik. Begitupun dalam "Tari Persembahan" atau tari makan sirih khas Melayu. Biasanya, tarian itu akan dibawakan oleh 5 sampai 8 orang penari perempuan. 

Gerakannya terbilang sederhana, bertumpu pada tangan dan kaki. Ada juga gerakan menunduk sambil merapatkan telapak tangan. Gerakan itu dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada para tamu yang datang.

Saat pertunjukan, salah satu penari akan membawa kotak yang berisi sirih, tamu yang dianggap agung diberi kesempatan pertama untuk mengambilnya sebagai bentuk penghormatan, lalu diikuti oleh tamu lainnya.

Bagi masyarakat Riau, sirih dinilai bukan hanya sekadar benda, tapi juga media perekat dalam pergaulan. Selain itu, melalui tarian, masyarakat Riau juga telah menunjukkan kesadaran bahwa manusia itu saling berhubungan satu sama lain. 



Baca: Tari Bosara, Cara Suku Bugis Sambut Tamu


Kesadaran sosial tersebut jugalah yang kemudian mampu menumbuhkan komunikasi yang baik, saling menghargai, dan menghormati terhadap sesama manusia. Tari persembahan biasanya dipentaskan dengan iringan musik Melayu yang bersumber dari perpaduan antara suara marwas, biola atau fill, gendang, gambus, hingga akordion. 

Dalam pertunjukannya, para penari mengenakan baju yang biasa dipakai mempelai perempuan, yaitu baju adat yang disebut juga dengan baju kurung teluk belanga. Pada bagian kepalanya terdapat mahkota yang dilengkapi hiasan-hiasan berbentuk bunga. Sedangkan di bagian bawah tubuh para penari, dibalut oleh kain songket berwarna cerah.

Dijelaskan, tarian asal Pekanbaru itu sejak awal memang dibuat untuk menyambut para tamu. Tari persembahan itu memiliki nilai-nilai luhur di dalamnya, mulai dari belajar disiplin dan sabar, sebagai sarana hiburan, pelestarian budaya, hingga memiliki nilai seni, olahraga dan kreativitas.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Kukui, Tembang Sakral Suku Dayak Agabag Kalimantan

Koropak.co.id, 01 August 2022 12:00:40

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Kalimantan Utara - Suku Dayak Agabag, salah satu suku etnis asli dari Kalimantan yang mendiami perbatasan antara Indonesia-Malaysia, tepatnya di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, punya tradisi unik. Namanya Kukui.

Kukui adalah tembang khas etnik yang menjadi peninggalan dari nenek moyang mereka. Tembang sakral khas Suku Dayak Agabag itu juga turut menjadi salah satu warisan budaya yang sampai dengan saat ini terus mereka lestarikan.

Kukui merupakan lagu puja dan puji atau syukur yang diberikan kepada leluhur, sekaligus penghargaan bagi alam semesta yang dilantunkan dengan menggunakan bahasa alam gaib. Oleh karena itu, masyarakat Suku Dayak Agabag percaya bahwa Kukui memiliki nilai yang sakral.

Tradisi tersebut pertama kalinya muncul pada masa Tabug atau zaman Ngayau (pertempuran). Biasanya, Kukui akan dilantunkan sebelum masyarakat Suku Dayak Agabag berangkat mengayau dan setelah sukses memenangi pertempuran.

Kemenangan saat pertempuran itu dikenal dengan sebutan "Amayung Da Ulu" atau "Ngayau/Tabug". Di sisi lain, Kukui yang dilantunkan saat berhasil memenangi pertempuran itu bertujuan sebagai ungkapan rasa syukur kepada akion atau leluhur Dayak Agabag.



Baca: Menelusuri Makna Mendalam dari Tradisi Lawang Sakepeng Suku Dayak Ngaju


Kukui juga menjadi spirit dan ritual dengan keyakinan teguh, langkah, dan semangat Suku Dayak Agabag dalam laga dan diberkahi arwah leluhur. Tak heran, kosa kata dalam Kukui berbeda dengan bahasa adat yang mudah dipahami.

Menariknya lagi, kukui yang dilantunkan saat berhasil memenangi pertempuran juga digelar dalam sebuah upacara kemenangan yang dalam istilah Dayak Agabag disebut "Belakan" atau "Belau". Tak hanya digunakan sebagai lambang syukur terhadap leluhur dikarenakan menang dalam pertempuran, Kukui juga turut dilantunkan dalam prosesi pemakaman warga Dayak Agabag. 

Kukui tersebut digunakan untuk mengantar roh ke tempat peristirahatan terakhirnya, yang dari dulu sampai dengan saat ini dilantukan setiap acara terakhir (amakan/ampid). 

Seiring perkembangan zaman dan meningkatnya tatanan kehidupan sosial, suku Dayak Agabag masih terus melestarikan tradisi Kukui tersebut yang tentunya kini disesuaikan dengan kondisi sekarang. 

Jika sebelumnya Kukui akrab dengan peperangan dan prosesi pemakaman, tembang sakral ini sekarang turut dilantunkan juga untuk mempererat persatuan dengan kerap ditampilkan dalam setiap kegiatan antar etnis serta turut dipersembahkan untuk penyambutan tamu dari luar suku Dayak Agabag.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Martandang, Cara Pria Batak Dekati Wanita Pujaan

Koropak.co.id, 31 July 2022 15:21:36

Fauziah Djayasastra


Koropak.co.id, Sumatera Utara - Dalam istilah Batak, seorang lelaki yang menjelang dewasa disebut Doli-doli Sampe Bunga. Sedangkan bagi perempuan disebut Namar Baju atau Boru-boru. Begitu beranjak dewasa, sudah pasti akan mengenal cinta (holong) dan pada masa tersebut lelaki akan mendatangi perempuan. Kegiatan itu dikenal dengan istilah martandang.

Martandang merupakan ajang pendekatan alias pdkt bagi masyarakat Batak zaman dahulu. Para lelaki akan mendatangi rumah gebetan untuk menyampaikan perasaan dengan berbalas pantun yang dikenal dengan istilah marundang undangan.

Secara harfiah, martandang adalah keluar kandang, melewat, atau berkunjung. Tradisi ini menjadi etika dalam bergaul antara Doli-doli dan Boru-boru. Umumnya, martandang ini dilakukan pada malam hari (telengkup periuk).

Dalam Sekelumit Mengenal Masyarakat Batak Toba dan Kebudayaannya yang dimuat Historia, E.H. Tambunan menyebut para pemuda yang mendatangi perempuannya dengan menyelinap di kolong rumah panggung atau lewat dinding rumah yang bersekat lepas.

Sumber lain menyebutkan, jika pasangan muda-mudi biasanya juga datang secara berkelompok, lalu menghabiskan malam dengan bersenda gurau di halaman balai desa.

Tidak semua perempuan bersedia menerima kedatangan si lelaki ke rumahnya, terutama jika sejak awal pihak perempuan ini tidak suka dengan lelaki tersebut. Biasanya, jika terjadi penolakan maka si perempuan dimarahi oleh ayah dan ibunya.

Jacob Cornelis Vergouwen, pegawai pemerintah yangpada 1927 sempat bermukim di Tapanuli Utara menyebut pemuda yang sudah ditolak tapi masih memaksa, akan diberi hukuman untuk menebus dosa. Bagi masyarakat Batak, sekali mengucapkan kata 'tidak' berarti 'tidak'.



Baca: Membangun Interaksi Sosial dalam Permainan Domikado


Dalam martandang ini, pihak lelaki diberi kesempatan untuk mengutarakan isi hatinya. Curahan hati itu dituangkan dalam bentuk sajak, irama, pepatah, atau peribahasa. Perempuan juga akan membalasnya dengan sajak dan irama dalam kesusastraan Batak.

Jika martandang sering dilakukan, maka kemungkinan besar benih-benih cinta di antara muda-mudi telah tumbuh. Jika sudah memantapkan pilihan,keduanya akan memberitahu orang tua mereka.

Selanjutnya, orang tua keduanya akan bertemu dan membicarakan perkawinan. Jika perempuan setuju, pihak lelaki akan memberikan cinderamata berupa kain panjang dan perempuan membalasnya dengan memberi sarung.

Bahkan, ada yang langsung tukar cincin. Hal itu disebut tanda burju yang dimaksudkan untuk mengikat kedua insan itu.

Pihak lelaki kemudian akan mendatangi si perempuan dan membawa uang yang disebut Mondondoni Tanda Burju dan dilanjutkan dengan orang tua lelaki menemui orang tua perempuan untukmenyepakati berapa mahar yang harus diberikan (Marhori Hori Ding Ding).

Namun kini, tradisi martandang sudah mulai dilupakan. Jika dilihat lebih jauh, martandang adalah suatu adat yang baik. Sebelum menikah dua orang berkenalan dahulu dengan cara yang baik dan sopan.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Tari Bosara, Cara Suku Bugis Sambut Tamu

Koropak.co.id, 31 July 2022 07:15:31

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Sulawesi Selatan - Tari Paduppa atau dikenal juga dengan sebutan tari Bosara merupakan tarian tradisional dari Sulawesi Selatan. Itu merupakan salah satu kearifan lokal yang di miliki suku Bugis-Makassar. Biasanya ditampilkan untuk menyambut tamu atau bisa disebut juga sebagai tari selamat datang dari suku Bugis.

Tari Bosara dibawakan dengan gerakan yang khas oleh para kaum perempuan. Dalam tariannya, terdapat gerakan menabur beras yang memiliki makna sebagai tanda penghormatan dan juga dipercaya sebagai penolak bala atau pengusir gangguan roh-roh halus.

Tarian tradisional ini diambil dari nama "Bosara", nama sebuah nampan khas suku Bugis. Bosara atau nampan yang digunakan dalam tarian ini memiliki bentuk yang khas, yakni mempunyai satu kaki sebagai penyangga nampan dan terbuat dari material besi.

Nampan yang digunakan itu juga turut dilengkapi dengan penutup yang biasanya disebut pattongko. Meskipun begitu, keduanya merupakan satu kesatuan. Jadi, saat tampil, bosara dan pattongko ini harus selalu dibawa.

Berdasarkan sejarahnya, tari Bosara ini diciptakan oleh seorang seniman bernama Andi Siti Nurhani Sapada yang lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1929 dan meninggal pada 8 Juli 2010 di usia ke-81 tahun di Makassar, Sulawesi Selatan.

Awalnya, tari Bosara ini digunakan untuk menjamu para tamu kerajaan, seperti dalam pesta, kedatangan tamu agung, atau perayaan pernikahan. Namun seiring berjalannya waktu,  pertunjukan tarian kebanggaan masyarakat Bugis ini turut ditampilkan untuk acara besar lainnya.



Baca: Tari Sirih Kuning, Perpaduan Budaya Betawi dan Tionghoa


Dalam pelaksanaannya, Bosara atau nampan tersebut nantinya akan diletakkan secara berjejer. Nampan itu juga akan diisi dengan aneka kue basah maupun kering khas Bugis seperti bolu peca, kue lapis, kue biji nangka, dan lainnya.

Tari Bosara ini dibawakan oleh penari perempuan dengan jumlah ganjil. Sedangkan untuk pakaian yang digunakannya adalah baju Bodo, sarung sutra, bando bunga, anting, gelang, dan kalung. 

Selanjutnya, untuk properti yang harus dibawa oleh penari adalah bosara berisi beras, bunga, dan benno atau makanan ringan dari biji jagung. Tarian ini juga diiringi alat musik berupa suling, gendang, kuik, dan kecapi.

Selain sebagai tarian pertunjukan, tari Bosara juga turut dijadikan sebagai sarana pendidikan, pergaulan,  berekspresi hingga pengembangan bakat.

Seiring berkembangnya zaman, fungsi Bosara juga kini telah berganti. Jika, dahulu Bosara digunakan sebagai wadah sajian bagi para tamu, kini Bosara digunakan oleh masyarakat setempat untuk memberikan undangan kepada seseorang.

Masyarakat setempat menilai bahwa Bosara dirasa lebih sopan untuk memberikan undangan, seperti halnya saat kita memberikan sajian makanan atau minuman untuk tamu.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Lima Budaya Jawa yang Terkenal Hingga Mancanegara

Koropak.co.id, 30 July 2022 07:19:06

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Suku Jawa merupakan yang terbanyak di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2010, jumlahnya mencapai 95.217.022 jiwa atau setara dengan 40,22 persen penduduk Indonesia. Populasinya bukan hanya menyebar di Pulau Jawa, tapi juga di pulau lain bahkan sampai ke luar negeri.

Tak heran, Suku Jawa mempunyai keanekaragaman budaya. Ada banyak kebudayaan Jawa yang sejak zaman dulu hingga sekarang masih dipertahankan, hingga dikenal sampai mancanegara. Apa saja? Berikut lima di antaranya:

1. Batik

Siapa yang tak kenal batik? Kain yang dilukis menggunakan lilin atau malam dan pewarna khusus itu telah menjadi ciri khas Indonesia. Dengan segala keunikan yang dimilikinya, batik telah ditetapkan sebagai Masterpiece of The Oral and Intangible Heritage of Humanity oleh UNESCO sejak 2 Oktober 2009. 

Bukan hanya jadi kebanggaan orang Indonesia, batik juga juga mendapat apresiasi dari masyarakat dunia. Tak sedikit orang asing yang sengaja datang ke negeri ini untuk mengoleksi batik. Bahkan, kini sudah ada banyak toko batik di luar negeri, seperti di Amerika Serikat, Singapura, dan Australia.

2. Gamelan

Sebagai salah satu alat musik khas Indonesia, gamelan selalu dijadikan musik pengiring baik dalam pagelaran wayang atau pun sendra tari. Siapa sangka, ternyata musik tradisional Indonesia ini dipelajari di beberapa universitas di luar negeri. 

Seperti pada 1983, Cambridge University di Inggris mendapatkan satu paket gamelan dari pemerintah Indonesia, lalu mereka membuat komunitas bernama Gamelan Duta Laras.

Ada juga di University of Minnesota, Lawrence University, The University of Melbourne, hingga Chikushi Jogakuen University yang menjadikan gamelan sebagai mata kuliah.



Baca: Tujuh Destinasi Wisata Budaya Indonesia yang Menarik Dikunjungi


3. Wayang Kulit

Wayang kulit juga termasuk salah satu budaya suku Jawa yang dikenal sampai keluar negeri. Wayang kulit ini  merupakan seni pertunjukan yang menggunakan figur berbahan kulit untuk merepresentasikan tokoh pewayangan. 

Wayang kulit ini dimainkan oleh seorang Dalang dan turut dipandu juga dengan musik gamelan serta sinden. Pada 2003, Wayang Kulit secara resmi diakui sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity asal Indonesia oleh UNESCO.

4. Kebaya

Kebaya merupakan sejenis pakaian bagian atas tradisional yang biasanya dikenakan oleh kaum wanita. Ia memiliki keunikan tersendiri mulai dari tampilan yang tampak klasik namun tetap berkelas. Tak jarang, kebaya juga seringkali digunakan oleh mempelai wanita dalam acara pernikahan.

5. Keris

Keris dikenal sebagai pusaka yang dipercaya memiliki kekuatan atau kesaktian oleh masyarakat zaman dahulu. Biasanya, pembuatan keris sendiri dilakukan oleh Mpu dengan cara ditempa dan diberi mantra. 

Salah satu keris dengan ceritanya yang begitu melegenda adalah keris buatan Mpu Gandring yang dimiliki oleh Ken Arok karena keris tersebut dapat membuatnya menjadi penguasa Kerajaan Singasari kala itu.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Pawai Obor, Tradisi Sambut Malam Tahun Baru Islam

Koropak.co.id, 29 July 2022 07:26:16

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan dalam menyambut Tahun Baru Islam. Salah satunya pawai obor. Kegiatan itu bukan sekadar jalan di malam hari sembari membawa obor, tapia da makna mendalam di baliknya.

Kumandang takbir, selawat hingga puji-pujian kepada Allah SWT yang dilakukan dalam tradisi tersebut merupakan ungkapan rasa syukur atas segala yang diterima. Bukan semata euphoria, tapi menebar nilai-nilai positif. 

Ada semangat gotong royong, mulai mempersiapkan segala kebutuhan untuk kegiatan, membuat obor bambu secara bersama-sama, hingga saling membantu saat pelaksanaan pawai obor sedang berlangsung. Belum lagi antusiasme masyarakat yang begitu semangat dalam mengikuti momen setahun sekali itu.

Di sisi lain, obor yang dibuat bersama-sama oleh masyarakat itu juga memiliki makna saling membantu. Pada awalnya obor yang dinyalakan itu hanya satu. Untuk menyalakan obor lain dilakukan dengan saling mengoper api dari satu obor ke obor lainnya. 

Begitu api sudah menyala semua, maka rasa hangat pun seolah memeluk erat para peserta pawai. Terlebih, pada saat pawai obor sudah mulai berjalan, rasa haru dan syukur pun pasti akan terasa campur aduk.



Baca: Pawai Obor 1 Muharram Diikuti Ratusan Santri


Meskipun pawai ini terkesan tradisional, tapi momen seperti ini selalu jadi hal yang dinanti masyarakat. Bahkan kini pawai obor juga banyak digelar di kota-kota besar seperti Jakarta, Bekasi, Tangerang dan lainnya.

Hijrah, selain berarti pindah, juga bermakna lain, yaitu keluar dari kegelapan atau kebodohan menuju cahaya atau ilmu. Ada perjuangan yang tak kenal lelah yang dilakukan Nabi Muhammad Shallalahu'alaihi wasallam dan para sahabat, sehingga Islam bisa berkembang seperti sekarang. 

Sesuai dengan namanya, makna hijrah ini bisa diterapkan dengan cara introspeksi diri. Dengan pergantian tahun baru Islam ini, umat harus senantiasa merenungi dan memperbaiki diri atas kesalahan-kesalahan di tahun sebelumnya.

Pawai obor juga bisa dijadikan sebagai representasi dari perjuangan Nabi Muhammad Shallalahu'alaihi wasallam dan para sahabat saat melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah dan berjuang menyebarkan agama Islam.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Tari Sirih Kuning, Perpaduan Budaya Betawi dan Tionghoa

Koropak.co.id, 28 July 2022 12:16:09

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Tak hanya dikenal sebagai Kota Metropolitan dan simbol modernisasi Indonesia, Jakarta juga memiliki banyak kesenian dan kebudayaan daerah. Salah satu kesenian yang kini sudah mulai terlupakan adalah Tari Sirih Kuning. 

Tarian itu sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda dan banyak dipentaskan di pinggiran kota Jakarta. Tari Sirih Kuning merupakan tarian khas Betawi yang berasal dari perpaduan antara budaya Betawi dan Tionghoa. 

Biasanya dipentaskan sebagai sarana hiburan, sekaligus penyambutan tamu yang hadir dalam suatu kegiatan tertentu. Juga ditampilkan dalam pernikahan, untuk mengiringi pengantin Betawi saat memasuki proses penyerahan Sirih Dare oleh mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan.

Menariknya, tari sirih kuning ternyata merupakan pengembangan dari tari khas Betawi lainnya, yakni Tari Cokek, sebuah tarian pergaulan khas Betawi yang sudah ada sejak dahulu.

Kemunculan Tari Sirih Kuning memang tak lepas dari keberadaan dan eksistensi tari cokek yang sudah ada terlebih dahulu. Tari Cokek merupakan tari pergaulan yang kala itu banyak dimainkan para cukong Tionghoa di Betawi. 

Tari Cokek biasanya dimainkan secara berpasangan antara penari cokek dengan tamu laki-laki. Penggunaan istilah cokek merujuk pada Bahasa Tionghoa, yakni cukin yang memiliki arti selendang dengan panjang kurang dari satu meter dan dipakai penari perempuan untuk menggaet pasangan.

Versi lainnya, Tari Cokek ini berasal dari nama seorang tuan tanah yang terkenal di kawasan Betawi bernama Tan Sio Kek. Kala itu, ia membuat sebuah pertunjukan tari yang ditampilkan oleh para penari wanita. 



Baca: Mengenal Sejarah dan Pola Gerakan Tari Topeng Betawi


Di setiap ada perayaan pesta rakyat, Tan Sio Kek akan mempersembahkan tarian tersebut untuk memeriahkan suasana. Sementara itu, dari awal kemunculannya, tarian ini diiringi dengan orkes gambang kromong.

Dalam perkembangannya, Tari Cokek ini dikemas agar lebih memiliki image positif di mata masyarakat. Maka dibuatlah Tari Cokek dengan musik iringan Sirih Kuning, yang kemudian lebih dikenal oleh masyarakat dengan nama Tari Sirih Kuning.

Seiring perjalanan, Tari Sirih Kuning digunakan untuk mengiringi pengantin Betawi dalam memasuki serangkaian prosesi adat lainnya, yakni penyerahan sirih dare dari mempelai pria ke pengantin wanita.

Meskipun nama dari tarian ini memiliki unsur warna "kuning", akan tetapi kostum tarian ini bisa beragam, mulai dari warna merah, hijau, dan juga kuning. Bahkan saat ini juga sudah banyak variasi kostum untuk tarian ini.

Selain itu, kostum yang digunakan para penari sirih kuning ini pada umumnya adalah baju tradisional Tionghoa. Para penari perempuan biasanya akan mengenakan kebaya sebagai atasannya, kemudian untuk penari laki-kali menggunakan baju longgar lengan panjang. 

Pengaruh budaya Tionghoa juga tampak pada aksesoris yang dikenakan para penari tari sirih kuning, seperti penggunaan tusuk konde ala Tionghoa, bunga hingga cadar hiasan kepala.

Uniknya lagi, beberapa hiasan aksesori itu ternyata memiliki simbol penanda status sosial dan kebahagiaan. Hal itu tampak dalam hiasan bunga yang digunakan para penari. Di bagian bawah penarinya juga dikenakan kain batik bermotif tanduk sebagai ciri khas dari Betawi.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Tujuh Destinasi Wisata Budaya Indonesia yang Menarik Dikunjungi

Koropak.co.id, 27 July 2022 07:15:02

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Indonesia punya banyak destinasi wisata budaya yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Setiap tempat itu punya ciri khas masing-masing, sehingga menjadikan Indonesia sebagai negara multikultur yang tak ada duanya di dunia.

Berikut kami rekomendasikan beberapa tempat wisata budaya di Indonesia yang menarik untuk dikunjungi:

1. Kampung Naga, Tasikmalaya

Apa kalian sanggup melewati hari tanpa gas dan listrik? Mungkin seperti itulah gambaran kehidupan yang dijalankan oleh masyarakat yang tinggal di Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Masyarakat di sana sampai saat ini masih berpegang teguh pada tradisi leluhurnya. 

Hal itu mereka lakukan sebagai upaya dalam melestarikan budaya dan lingkungan tempat tinggalnya. Destinasi wisata budaya Sunda yang asri ini sendiri terletak di bawah perbukitan dan setidaknya memiliki 110 rumah panggung yang tertata dengan rapi dan menawan.

2. Tanah Toraja, Sulawesi Selatan

Destinasi wisata budaya yang satu ini berada di Sulawesi Selatan, tepatnya di Toraja. Tanah Toraja merupakan desa wisata atau kampung halaman asli dari penduduk Suku Toraja yang menyimpan segudang kearifan lokal dan budaya. Bahkan dengan segudang kearifan lokalnya itu, Tanah Toraja pernah masuk sebagai calon warisan budaya dunia. 

Saat berkunjung ke sana, alangkah baiknya bagi Anda untuk menyimak upacara adat yang ada disana, seperti Rambu Solo' atau upacara pemakaman dan penghormatan bagi arwah menuju alam selanjut. Selain itu, disana Anda juga bisa melihat Rumah Tongkonan dan makam bangsawan di Gua Lemo.

3. Wae Rebo, Flores

Wae Rebo merupakan salah satu wisata budaya di Indonesia yang ada di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Wisata budaya ini juga memiliki julukan "Permukiman di atas awan" karena letaknya yang berada di 1.200 meter diatas permukaan laut, dan berlokasi tidak jauh dengan Kampung adat Gurusina. 

Wae Rebo sangat terkenal dengan gaya arsitektural tujuh rumah adatnya yang bernama Mbaru Niang. Bagi Anda yang berminat untuk berkunjung ke desa Wae Rebo, harus terlebih dahulu ke Ruteng lalu melanjutkan perjalanan ke desa Denge atau Dintor selama kurang lebih dua jam. Setelah itu, dilanjutkan dengan tracking selama 3 s.d 4 jam untuk menuju Desa Wae Rebo.



Baca: Empat Permainan Tradisional Sunda Berawal Ucing


4. Trunyan, Bali

Jika kalian berpikir Bali hanya terkenal dengan Pantai Kuta atau Ubud-nya, itu salah. Di sana, kalian juga bisa menemukan wisata budaya yang menarik untuk di kunjungi. Wisata budaya itu berada di Desa Trunyan yang berbeda dengan wisata budaya lainnya.

Di desa ini Anda akan dapat melihat upacara pemakaman yang tidak seperti biasanya. Dalam upacara pemakaman tersebut, jasad akan dibiarkan berada di atas tanah sampai membusuk. Namun, dengan adanya pohon gaharu yang tumbuh disana, masyarakat percaya bahwa pohon itu bisa membuatnya tidak berbau busuk.

5. Pulau Samosir, Sumatera Utara

Bagi wisatawan lokal maupun mancanegara, wisata budaya yang berada di Sumatera Utara ini sudah tidak asing lagi. Meskipun sudah terkenal, namun Danau Toba yang memukau di sana bukan satu-satunya alasan mengapa Pulau Samosir ini terkenal hingga ke mancanegara.

Alasan lainnya itu adalah Anda dapat melihat budaya Suku Batak saat mengunjungi secara langsung tempat wisata budayanya, seperti Makam Raja Tua Sidabutar dan Patung Sigale-Gale.

6. Desa Ratenggaro, Sumba

Destinasi budaya ini berada di Sumba. Desa Ratenggaro sendiri, jika diartikan satu per satu, berasal dari kata "rate" yang berarti kuburan dan "garo" yang merupakan nama suku paling awal yang menduduki wilayah tersebut.

Sementara itu, yang menjadi salah satu daya tarik di desa wisata budaya ini adalah rumah adat setinggi 12 meter. Selain itu juga disana banyak sekali kuburan yang dipercaya sudah ada sejak zaman Megalitikum. 

7. Lembah Baliem, Papua

Wisata budaya Indonesia yang satu ini berada di Papua. Di sana, ada upacara adat yang terkenal dengan nama Festival Lembah Baliem. Festival tersebut dipercaya oleh suku-suku setempat sebagai simbol atau lambang kesuburan dan kemakmuran.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Palembang Punya Tradisi Ngidang; Warisan Kesultanan

Koropak.co.id, 26 July 2022 15:14:41

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Sumatera Selatan - Apa yang tebersit dalam benak saat mendengar kata Palembang? Jika sontak ingat empek-empek, itu tidak salah. Tapi, Palembang juga punya banyak hal lain yang menarik untuk dibicarakan. Salah satunya tradisi Ngidang yang ada sejak Kesultanan Palembang Darussalam. 

Ngidang merupakan tradisi menghidangkan makanan dengan berbagai macam suguhan yang dimakan secara beramai-ramai. Itu dilakukan untuk menghormati dan memuliakan tamu atau dalam acara pernikahan, khitanan, syukuran hingga perayaan hari-hari keagamaan. 

Tradisi Ngidang menunjukkan bahwa dalam budaya melayu, menghormati dan memuliakan tamu menjadi sesuatu yang sangat dianjurkan. Dalam praktiknya, hadirin makan bersama-sama menggunakan tangan secara langsung sambil duduk bersila sesuai, dan semua lauk-pauk yang dihidangkan dipisahkan.



Baca: Pempek Palembang dan Akulturasi Budaya Kuliner Tionghoa


Hidangan yang disajikan dalam tradisi Ngidang ini disusun berdiri secara shaf yang kemudian dibagikan secara bergantian ke tempat makan. Cara itu dilakukan dengan tujuan untuk mempercepat kedatangan makanan di tempat acara serta meringankan beban pembawa makanan.

Biasanya, satu hidangan dalam tradisi Ngidang ini disajikan untuk delapan orang agar semuanya tetap bisa menjangkau sajian yang telah dihidangkan oleh penyelenggara acara. Adapun makanan-makanan yang disajikan di antaranya iwak atau lauk, pulur atau sayur, sambal, dan buah-buahan, serta nasi putih atau nasi minyak yang dihidangkan di dalam dulang yang diletakkan di tengah-tengah hidangan.

Namun, tradisi Ngidang sudah mulai jarang dilakukan masyarakat Palembang. Bahkan, generasi mudanya tidak begitu mengenal tradisi tersebut. Padahal, di dalamnya ada nilai luhur yang patut dipertahankan, yaitu gotong royong atau saling tolong menolong. 


Silakan tonton berbagai video menarik di sini: