Asal Jawa Tengah, Seblak Sudah Ada Sebelum Kemerdekaan?

Koropak.co.id, 14 July 2022 15:07:11
Penulis : Eris Kuswara
Asal Jawa Tengah, Seblak Sudah Ada Sebelum Kemerdekaan?


Koropak.co.id - Siapa yang tak tahu seblak? Makanan yang disebut-sebut khas Bandung itu identik dengan rasa pedas dan aroma kencurnya yang kuat. Itu menjadi salah satu primadona bagi para pecinta kuliner pedas.

Konon, makanan yang sempat viral itu disebut-sebut sudah ada sejak Indonesia belum merdeka. Penganan tersebut mirip dengan makanan dari daerah Sumpiuh, Jawa Tengah. Tak heran, banyak yang menyebut bahwa seblak berasal Jawa Tengah.

Usut punya usut, hal itu  dilatarbelakangi kemiripan seblak dengan Krupuk Godog yang sudah populer sejak 1940-an. Sementara seblak baru populer belakangan ini. Alasan lainnya adalah karena cara pengolahan dari keduanya juga mirip, yakni dengan cara direbus.

Dalam Bahasa Sunda, seblak berasal dari kata "segak" atau "nyegak" yang artinya menyengat. Makna dari seblak ini pun ditujukan untuk bumbu cikur atau kencur yang menjadi penyedap masakannya.

Diceritakan, pembuatan makanan itu merupakan salah satu cara dalam menyelamatkan kerupuk yang tidak terlalu laku. Untuk membuatnya laku kembali, pedagang mencampurkan kerupuk dengan beberapa bahan lain, sehingga menjadi sebuah makanan yang bisa dinikmati oleh banyak orang.


Baca: Cara Membuat Aneka Seblak Rumahan


Biasanya, seblak terbuat dari campuran bumbu cikur atau kencur yang ditambah dengan aneka bahan lain, seperti kerupuk kuning kenyal, mie, makaroni, bakso aci, cabai dan lain-lain.

Kini, makanan yang memiliki citarasa gurih dan pedas ini pun sudah banyak berkembang, mulai dari bahan utama hingga pelengkapnya. Saat ini seblak sudah menjadi makanan yang digemari oleh berbagai kalangan masyarakat, terutama di Jawa Barat. 

Seiring dengan berkembangnya tren jajanan tradisional dan kaki lima, seblak sekarang tidak hanya dijajakan di gerobak, melainkan berkembang menjadi makanan yang modern dan berhasil menarik perhatian. 

Selain memiliki rasa yang pedas dan menyegarkan, makanan bertekstur kenyal ini juga memiliki beberapa variasi, baik dari segi rasa, bahan tambahan, hingga kemasan penjualan.

Tentu saja hal itu dilakukan untuk menarik minat dari para pembeli. Dengan bertambahnya varian rasa tersebut, para pecinta kuliner seblak dapat memilih menu yang sesuai dengan seleranya masing-masing.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Komentar

Dipakai Sejak Zaman Batu, Cobek dan Ulekan Tetap Eksis

Koropak.co.id, 06 August 2022 15:16:36

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Cobek dan ulekan menjadi alat masak yang umum ada di dapur orang Indonesia. Meskipun kini sudah banyak alat modern, namun cobek masih tetap eksis sampai sekarang. 

Istilah cobek sendiri merujuk pada sejenis mangkuk sebagai alas yang digunakan untuk kegiatan menumbuk atau mengulek. Sedangkan ulekan merujuk pada benda tumpul memanjang seperti pentungan yang dapat digenggam oleh tangan untuk menumbuk atau mengulek suatu bahan.

Diperkirakan, cobek dan ulekan termasuk dalam pasangan alat masak kuno yang sudah dipakai oleh manusia purba sejak 35.000 tahun sebelum masehi. Beberapa temuan arkeologi menunjukkan, benda-benda batu yang digunakan sebagai alat untuk menumbuk, seperti artefak batu yang ditemukan di Yunani dari 3200 s.d 2800 SM. Artefak yang ditemukan itu  menunjukkan alat untuk mengekstraksi atau menumbuk zat pigmen pewarna yang diambil dari batu-batuan.

Kini, cobek dan ulekan identik sebagai alat masak yang digunakan untuk menghaluskan bumbu dan bahan, meskipun sebenarnya dahulu cobek bukan hanya dijadikan sebagai alat penumbuk makanan. Tak hanya di Indonesia, alat penumbuk ini juga turut digunakan oleh manusia kuno di berbagai belahan dunia.



Baca: Sumpit, Cara Raja Pamerkan Gaya Hidup Mewah


Cobek dan ulekan memiliki bentuk dan ukuran yang beraneka ragam sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Seperti cobek kecil berdiameter 8 s.d. 13 centimeter dan biasanya digunakan untuk penyajian sambal secara perseorangan di rumah makan.

Kemudian ada juga yang berukuran sedang dengan berdiameter 15 s.d. 20 centimeter yang digunakan untuk penggunaan masakan rumah tangga. Sedangkan cobek berukuran besar dengan berdiameter 30 s.d. 40 centimeter dan agak datar, biasanya digunakan oleh penjual gado-gado atau warung makan yang menyajikan hidangan sambal yang dibuat dalam jumlah besar.

Di sisi lain, ulekan juga memiliki bentuk yang berbeda-beda, namun yang paling lazim adalah bulat panjang dangan cara menggenggam seperti menggenggam pistol. Akan tetapi ada juga ulekan berbentuk bulat sesuai genggaman tangan yang digunakan untuk menumbuk, hingga ada yang berbentuk silinder untuk menggiling. 

Meskipun memiliki bentuk sederhana, namun tidaklah mudah dalam membuat atau mencari cobek dan ulekan yang berkualitas. Cobek yang bagus itu terbuat dari batu asli dengan permukaannya yang dihaluskan secara perlahan. Sayangnya, untuk menekan biaya, produsen kerap membuat cobek dengan bahan semen.

Di Indonesia, biasanya bahan yang lazim digunakan untuk membuat cobek dan ulekan adalah batu alam, batu kali atau batu andesit. Beberapa daerah di Indonesia yang terkenal sebagai sentra pengrajin cobek dan ulekan batu, salah satunya di daerah Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Kampung Adat Urug, Tempat Bermukimnya Keturunan Prabu Siliwangi

Koropak.co.id, 05 August 2022 12:18:03

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Barat - Di tengah kemajuan teknologi yang menggempur berbagai sisi kehidupan, beberapa komunitas di Indonesia hingga saat ini masih memertahankan adat yang dari dulu sampai sekarang tak berubah. Seperti yang dilakukan masyarakat Kampung Adat Urug.

Kampung adat yang berada di Kampung Urug, Desa Kiara Pandak, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu merupakan sisa peradaban masa lampau yang memiliki sejarah panjang dan masih berpegang teguh kepada nilai-nilai tradisi.

Masyarakat yang tinggal di Kampung Urug menganggap bahwa mereka berasal dari keturunan Raja Kerajaan Padjadjaran Jawa Barat, Prabu Siliwangi. Hal itu dibuktikan dengan hasil pemeriksaan konstruksi bangunan rumah tradisional di Kampung Urug yang dilakukan oleh seorang ahli saat itu.

Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukannya, sang ahli menemukan sambungan kayu pada rumah tradisional itu memiliki kesamaan dengan sambungan kayu yang ada pada salah satu bangunan di Cirebon yang merupakan sisa-sisa peninggalan Kerajaan Padjadjaran.

Ada beberapa versi terkait asal-usul dari Kampung Urug. Namun, perbedaan versi tersebut bukan terletak pada siapa dan dari mana Ieluhur mereka, akan tetapi terletak pada masalah tujuan atau motivasi yang menjadi penyebab berdirinya Kampung Urug.

Selain itu, masyarakat setempat juga mengganggap leluhur Kampung Urug, Embah Dalem Batutulis atau dikenal juga sebagai Embah Buyut Rosa dari Bogor merupakan salah seorang keturunan Prabu Siliwangi. Akan tetapi, masyarakat sendiri tidak berani menyebut nama Embah Buyut Rosa dikarenakan takut terjadinya bencana. 



Baca: Karaeng Pattingalloang, Raja dari Makassar yang Terlupakan


Menurut masyarakat setempat, kata Urug yang dijadikan sebagai nama kampung berasal dari kata "Guru", namun diubah cara pembacaannya. Jika biasanya dimulai dari kiri, diubah dengan dibaca dari sebelah kanan, sehingga kata "Guru" berubah menjadi "Urug".

Pikukuh adat kepercayaan Kampung Urug, memercayai, kampung adat tersebut sudah berdiri sejak 450 tahun yang lalu. Hal itu dibuktikan dengan adanya sebuah mandala urug dengan masyarakatnya yang berpegang teguh pada adat istiadat serta suatu keteladanan kesundaan. 

Di sisi lain, berdasarkan cerita yang beredar di masyarakat, Kampung Urug ini sezaman dengan masa pemerintahan Prabu Nilakendra (1551-1569 M), seorang raja yang memiliki sifat alim, bijaksana dan banyak mengabdi pada hal-hal kegaiban.

Konon, sisa-sisa kegaibannya itu, seperti patilasan raja masih ada di Kampung Urug. Pada umumnya, patilasan sendiri disebut Kabuyutan atau mandala, suatu tempat yang jauh dari keramaian dan sering dijadikan sebagai tempat berkhalwat atau memuja Sang Maha Pencipta.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Ada Sejak Zaman Belanda, Hingga Kini Kue Lupis Masih Eksis

Koropak.co.id, 04 August 2022 07:16:54

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Bagi kalian penggemar jajanan tradisional, tentunya sudah tidak asing lagi dengan kudapan berbahan dasar beras ketan yang biasa disajikan bersama siraman gula merah dan parutan kelapa satu ini. Kue lupis namanya.

Bentuknya yang unik, ditambah cita rasanya yang melegenda, membuat kue lupis ini mampu bertahan di antara banyaknya jajanan baru yang tak terbendung.

Kue lupis merupakan jajanan tradisional khas Indonesia, khususnya di daerah Jawa. Panganan yang satu ini memiliki dua bentuk berbeda. Ada yang berbentuk segitiga dan bulat memanjang. Ia kerap ditemui di pasar tradisional atau di warung-warung. 

Kue lupis dibuat dari beras ketan yang dimasak lalu dibungkus dengan daun pisang. Dalam penyajiannya, biasanya kue ini akan ditaburi dengan parutan kelapa serta gula merah cair, sehingga membuat kue lupis pun memiliki cita rasa yang khas. 

Konon, kue lupis sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Menariknya lagi, kue ini diklaim menjadi penganan asal beberapa daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Lumajang, dan pulau Jawa lainnya. 



Baca: Cerita Tentang Rengginang Hingga Jadi Penghuni Ilegal Kaleng Kue


Kendati terbilang kue jadul, sampai dengan saat ini lupis masih bertahan dan tetap eksis bersama dengan kue basah tradisional lainnya. Biasanya, dijajakan di pasar-pasar di waktu pagi hari bersama dengan klepon, cenil, gemblong maupun lontong. 

Dikarenakan terbuat dari beras ketan dan memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi, kue lupis  ini cocok sekali untuk dijadikan sebagai menu sarapan atau makanan pembuka.

Seiring berjalannya waktu, kue lupis yang awalnya dibungkus dengan daun pisang, akhirnya diganti dengan plastik putih lantaran sulit ditemukannya daun pisang di kota-kota besar, seperti Jakarta. Ia pun turut mengalami inovasi dan perubahan untuk menarik perhatian masyarakat. Kini, kue lupis biasa disajikan bersama parutan keju sebagai pengganti parutan kelapa. 

Bukan sekadar jajanan, kue tradisional ini memiliki filosofi di balik pengolahannya yang terbilang cukup mudah. Masyarakat Jawa mempercayai bahwa kudapan berbahan utama ketan dan lengket apabila sudah matang dan di balik daun pisan sebagai bungkusnya itu memiliki makna rasa erat persaudaraan.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Mengenang Es Goyang, Jajanan Unik Era 90-an

Koropak.co.id, 03 August 2022 12:08:35

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Bagi anak-anak yang tumbuh di era 90-an, tentu sudah tak asing lagi dengan jajanan unik yang satu ini. Namanya es goyang. Disebut begitu karena untuk membuatnya harus menggoyang-goyangkan gerobak. 

Dalam pembuatannya, es goyang akan dicelupkan ke dalam coklat leleh saat membeku. Terkadang, topping juga dipakai saat coklat masih cair. Beberapa topping yang paling populer dan biasanya digunakan untuk es goyang adalah kacang tanah dan meses.

Diketahui, es goyang lahir dari keterbatasan untuk bisa menikmati es krim impor yang kala itu dibanderol dengan harga mahal. Untuk menyiasatinya, maka dibuatlah semacam es krim "lolipop" yang terbuat dari santan lalu dicampur dengan tepung hunkwe, gula pasir, dan perasa. 

Es goyang dijual dengan menggunakan gerobak yang didorong. Selain berfungsi sebagai tempat menaruh es, gerobak itu juga digunakan untuk membuat es.

Dalam gerobak itu juga di dalamnya dipasang semacam meja berbahan seng berbentuk persegi panjang. Pada seng itu terdapat lubang-lubang persegi panjang pipih yang ujungnya mengarah ke bagian dalam gerobak.



Baca: Rambut Nenek, Jajanan Unik Era 90-an yang Kini Langka


Selain itu, ada juga kotak penyimpan es goyang yang sudah jadi. Di bagian dalam gerobak pun terdapat wadah atau tempat meletakkan es batu bercampur garam mentah, yang berfungsi untuk memproses pembuatan es lilin. 

Garam mentah yang dicampur dengan es batu itu berfungsi untuk mempertahankan dan menurunkan suhu beku es batu. 

Cara membuat es goyang terbilang mudah. Langkah pertama, tuangkan bahan-bahan yang sudah dicampur untuk mencapai kekentalan tertentu ke dalam cetakan lalu didinginkan. Untuk membekukannya, penjual es goyang akan menggoyang-goyangkan gerobaknya. 

Dalam keadaan setengah jadi, bagian tengah es pun ditusuk dengan lidi atau batangan bambu yang dibungkus kertas untuk pegangan. 

Setelah itu, gerobak kembali digoyang-goyangkan serta digerakkan naik turun selama beberapa kali, agar adonan es membeku secara merata. Setelah mengeras dan membeku, jika ingin lebih nikmat, bisa celupkan es goyang yang sudah jadi ke dalam kuah coklat lalu taburi kacang.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Sumpit, Cara Raja Pamerkan Gaya Hidup Mewah

Koropak.co.id, 02 August 2022 07:05:56

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Para penggemar mi pastinya sudah familiar dengan alat makan yang satu ini: sumpit. Alat makan itu tersedia dalam berbagai variasi, mulai dari sumpit bambu atau yang sekali pakai, sumpit kayu, plastik hingga yang berbahan logam.

Namun, kendati sudah familiar, masih banyak orang yang belum tahu sejarah sumpit. Meskipun penduduk Asia, seperti Jepang, Korea Selatan, Vietnam, termasuk Indonesia sudah terbiasa menggunakan sumpit, tapi alat untuk menyiap makanan berupa batangan yang terbuat dari kayu dan sebagainya itu disebut-sebut berasal dari Tiongkok.

Sumpit diduga sudah ada sejak zaman Neolitik, tepatnya sekitar 5000 tahun Sebelum Masehi. Pendapat tersebut bermula dari ditemukannya dua ribu jenis benda arkeologi, dengan 42 jenis di antaranya berbentuk batang berukuran panjang 9,2 s.d. 18,5 sentimeter, dengan diameter 0,3 s.d. 0,9 sentimeter.

Benda yang diduga sumpit itu terbuat dari tulang binatang dan ditemukan di sebuah situs arkeologi Longqiuzhang, daerah Gaoyu, Provinsi Jiangsu, dalam kegiatan ekskavasi yang dilakukan selama 1993 s.d. 1995-an.

Menurut legenda, sumpit kayu pertama kalinya dibuat oleh pendiri Dinasti Xia, Da Yu pada 2011 s.d. 1600 tahun Sebelum Masehi. Kala itu, ia tengah bersiap untuk menghadapi banjir besar. Menjelang waktu makan, Da Yu pun mematahkan ranting dan menjadikannya sebagai alat makan.



Baca: Antara Sendok, Garpu dan Pisau, Mana yang Lebih Dulu?


Ada juga kisah lainnya yang berasal dari masa Raja Zhou (1105 s.d. 1046). Saat itu, raja terakhir Dinasti Shang itu menggunakan sumpit gading untuk menyantap makanannya. Raja Zhou sengaja menggunakan sumpit gading untuk menggambarkan gaya hidup mewah dirinya bersama dengan keluarganya.

Sejak saat itu, sumpit akhirnya menjadi alat makan yang penting untuk digunakan bersamaan dengan mulai banyaknya makanan berbahan dasar tepung, seperti mi, dimsum, dan kue dadar yang dibuat. 

Dalam bahasa Cina Klasik, sumpit disebut juga dengan zhu yang terdiri dari bambu dan memiliki karakter membantu. Setelah itu, sumpit pun akhirnya identik terbuat dari bambu. 

Dalam kebudayaan Cina, sumpit tidak hanya digunakan sebagai alat makan saja, melainkan juga dijadikan sebagai simbol budaya. Bahkan sumpit tersebut sering dijadikan sebagai hadiah pernikahan, tanda cinta pasangan, dan harapan bahagia bagi pengantin.

Pada masa Dinasti Song abad ke-14, penggunaan sumpit menyebar luas di daratan Cina. Hal itu dibuktikan dengan digunakannya sumpit dalam berbagai kesempatan jamuan dan makan sehari-hari. 

Di sisi lain , sumpit sudah menjadi bagian penting dalam budaya tradisi komunal makan meja bundar. Kemudian pada abad ke-7, sumpit mulai digunakan masyarakat Jepang dan turut menyebar juga di masyarakat Korea.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Mi Glosor, dari Sukabumi Populer di Bogor

Koropak.co.id, 31 July 2022 12:18:28

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Barat - Ada banyak makanan yang terkenal dari Bogor. Salah satunya Mi Glosor. Namun, jika melihat sejarah perjalanannya, kudapan yang dikenal dengan tekstur kenyalnya itu bukan berasal dari Bogor.

Asal kata glosor pada mi tersebut berasal dari bahasa Sunda yang memiliki arti ngaglosor atau meluncur turun. Bentuk yang lurus dan tekstur yang licin itulah yang kemudian membuat mi tersebut dinamakan mi glosor.

Biasanya, kuliner khas Bogor itu terbuat dari bahan baku tepung aci atau tepung tapioka. Mi glosor dengan cita rasanya yang unik dan kuat ini terkenal sebagai jajanan yang merajai jalanan daerah berjuluk Kota Hujan itu. Warnanya kuning menyala berasal dari rempah-rempah kunyit sebagai bahan utamanya.

Rasanya tak perlu diragukan lagi. Jajanan tersebut dikenal memiliki perpaduan cita rasa antara pedas, asin, dan gurih yang menjadikannya nikmat disantap khususnya saat berbuka puasa.



Baca: Dari Bakmi, Lahirlah Mie Ayam


Meskipun kuliner yang satu ini terkenal di Bogor, namun ternyata mi glosor awalnya dari Sukabumi. Sejak 1990-an, makanan tersebut menjadi jajanan wajib warga setempat, terlebih saat memasuki bulan suci Ramadan.

Diceritakan, sekitar 1966-an, seorang pembuat mi glosor dari kota Sukabumi pindah ke daerah Pancasan Bogor. Akan tetapi, mi yang satu ini justru mulai diproduksi untuk masyarakat Bogor pada 1970-an.

Cara membuatnya terbilang cukup singkat. Hanya memerlukan waktu satu jam, mulai dari proses awal hingga menjadikan mie glosor yang siap olah. Awalnya, mi glosor terbuat dari bahan baku sagu aren yang berasal dari berbagai kota di Jawa Barat, seperti dari kota Bandung, Garut, Banten, hingga Cianjur.

Sagu terlebih dahulu diayak hingga halus. Setelah itu, dicampur sesuai resep hingga menjadi adonan, lalu dimasak hingga menjadi mi glosor siap jadi.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Bedak Kecantikan, dari Kotoran Buaya Hingga Gandum

Koropak.co.id, 30 July 2022 15:12:00

Fauziah Djayasastra


Koropak.co.id, Jakarta - Bedak jadi bagian tak terpisahkan dari kecantikan. Mulanya, bedak bukan semata-mata digunakan untuk keindahan, melainkan lebih identik dari sisi spiritual. Bedak yang ditaburkan ke seluruh tubuh dipercaya dapat menjauhkan dari roh halus.

Pada masa itu, orang Timur akan menggunakannya pada acara khusus, seperti pernikahan dan pertemuan lain. Baru pada saat Ratu Cleopatra menggunakannya sebagai lapisan dasar kosmetik, bedak jadi punya nilai estetik.

Selain menaruh perhatian pada parfum, Cleopatra juga sangat peduli dengan bedak. Dia menggunakan berbagai macam bahan, di antaranya ialah kotoran buaya yang diolah menjadi serbuk halus.

Umumnya, bangsa Mesir membuat bedak dari campuran kapur dan tanah liat, namun mereka juga menambahkan sedikit timah putih. Penggunaan timah putih ini tak hanya popular di dunia Timur, tetapi juga di Barat.

Sebelumnya, orang Sumeria menggunakan bunga ochre kuning sebagai bahan bedak yang kemudian mereka namai dengan nama golden clay atau face bloom.

Orang Mesopotamia kemudian meneruskan kebiasaan tersebut dengan menambahkan sedikit modifikasi, seperti ochre merah atau daun pacar (henna).

Sedangkan orang-orang Timur Juah (Cina, Jepang, dan sekitarnya) biasanya menggunakan tepung beras. Baru kemudian artis di era Dinasti Tang memanfaatkan bedak dari bahan mutiara. Hal tersebut dilanjutkan oleh Kaisar Dowager dari Dinasti Chang.



Baca: Simpan Tempat Sampah pada Sejarahnya


Kemudian, bangsa Yunani, Romawi, dan juga Eropa membuat bedak dari gandum. Walau bedak sudah meluas, dia terbatas untuk kalangan atas dan bangsawan.

Penggunaan beras untuk pembuatan bedak membuat persediaan beras menurun pada abad 15. Kendati demikian, hal tersebut tak menjadi alasan untuk berhenti bersolek. Bahkan pada abad berikutnya, beras dan terigu menempati posisi utama dalam dunia mode di Inggris, Prancis, dan Spanyol.

Namun pada akhir abad 18, bedak mulai kehilangan pamornya akibat campur tangan penguasa setempat. Hanya saja, memasuki abad ke-20 bedak kembali meraih popularitasnya.

Bedak yang kita saksikan dewasa ini lahir di Prancis, terbuat dari bahan talk tanpa kandungan timah putih. Anthony Overton meluncurkan bedak untuk orang Afro-Amerika dengan merk High Brown Brand.

Tahun 1923, perusahaan Laughton & Sons meluncurkan wadah bedak dengan spons-nya. Selang beberapa waktu, Hollywood Max Factor merilis bedak Pan Cake yang bisa digunakan sehari-hari. Pada 194, Helena Rubinstein meluncurkan bedak dengan merk serupa dengan namanya.

Perusahaan Johnson & Johnson yang mulanya tak sengaja terjun ke dunia bedak, mendulang kesuksesan lewat bedak bayi. Bedak terus dikonsumsi dan diproduksi, sehingga pada akhir 1920-an perempuan Amerika tercatat menggunakan 4.000 ton bedak per tahun.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Silika Gel dan Perannya dalam Perang Dunia

Koropak.co.id, 29 July 2022 12:07:26

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Benda yang satu ini biasanya sering kita temukan dalam kemasan kotak sepatu, tas, atau botol minuman. Di bagian depan bungkusnya terdapat tulisan "Do Not Eat" atau "Tidak Boleh Dimakan". Namanya silika gel.

Terbuat dari natrium silikat, silika gel bentuknya putih kecil seperti permen, dengan butiran halus mirip sebesar manik-manik kecil di dalamnya. Kendati disebut gel, bentuknya berupa butiran-butiran padat. Ia memiliki pori dan bisa menyerap kelembapan di sekitarnya, sehingga membuatnya bisa mengawetkan berbagai macam benda.

Sebagai pengering, silika gel memiliki ukuran pori rata-rata 2,4 nanometer dan memiliki afinitas yang kuat untuk molekul air. Tak heran, lantaran sifatnya yang bisa menyerap kelembapan, silikel gel sering digunakan dalam setiap pengiriman barang-barang yang disimpan dalam kotak.

Meskipun tergolong produk yang tidak berbahaya, namun menurut Food and Drug Administration (FDA) Amerika atau badan yang mengawasi peredaran obat dan makanan, silika gel tidak boleh dimakan dikarenakan sifatnya yang mudah menyerap berbagai zat di sekitarnya.



Baca: Rambat Sejarah Minyak Rambut


Jika benda yang satu ini sampai tertelan, bisa menyebabkan mata menjadi kering, iritasi pada tenggorokan atau selaput lendir lainnya, hingga dapat menimbulkan rasa yang tidak nyaman di perut.

Di balik sifatnya yang seperti itu, silika gel punya peran dalam perang dunia. Pada Perang Dunia I, silika gel digunakan untuk adsorpsi gas dan uap dalam masker gas. Kemudian pada 1918, Profesor Kimia dari Johns Hopkins University, Walter A. Partick, mematenkan produksi silika gel.

Pada Perang Dunia II, silika gel memiliki peranan yang sangat penting dalam menjaga penicilin tetap kering hingga melindungi perlengkapan militer dari kerusakan akibat kelembapan.

Saat itu, silika gel juga digunakan sebagai katalis peretak untuk produksi gasolin dengan nilai oktan tinggi sekaligus dipakai sebagai tambahan katalis dalam produksi butadiene dan ethanol.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Kediri, dari Wanita Mandul Hingga Kota Tertua di Indonesia

Koropak.co.id, 27 July 2022 15:19:55

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Timur - Kediri merupakan salah satu kota tertua di Indonesia. Usianya sudah ribuan tahun. Berpijak pada Prasasti Kwak yang dibuat tahun 801 Saka atau 27 Juli 879 Masehi, salah satu kota di Jawa Timur itu sudah berusia 1.143 tahun.

Kendati sudah akrab di telinga, namun tak sedikit yang belum tahu asal-usul nama Kediri. Ada beberapa versi terkait hal itu. Versi pertama menyebutkan, Kediri berasal dari kata kedi yang berarti mandul atau wanita yang tidak datang bulan.

Versi lainnya berpendapat, arti kedi berdasarkan kamus Jawa Kuno Wojo Wasito adalah orang kebiri bidan atau dukun. 

Ada pula cerita dalam lakon wayang, Sang Arjuno sempat menyamar sebagai guru tari di negara Wirata bernama "Kedi Wrakantolo". Apabila dihubungkan dengan nama tokoh Dewi Kilisuci yang bertapa di Gua Selongmangleng, maka kedi akan mengacu pada arti suci atau wadad.

Pendapat lainnya, kediri berasal dari kata diri yang berarti adeg, andhiri, menghadiri atau menjadi raja dalam bahasa Jawa Jumenengan. Selain itu, nama Kediri banyak tercatat dalam literatur kuno, seperti Paraton, Negara Kertagama, serta pada prasasti kuno.

Ada beberapa prasasti juga yang menyebutkan nama Kediri, salah satunya adalah Prasasti Ceker. Di dalam Prasasti Ceker itu tertulis, "Sri Maharaja Masuk Ri Siminaniring Bhuwi Kadiri" yang jika diartikan adalah "raja telah kembali".



Baca: Hidupkan Lagi Sejarah Kediri-Bali Melalui Pagelaran Puri Klungkungan


Diketahui, zaman dahulu, kawasan Kediri merupakan Kerajaan Medang yang saat itu dipimpin oleh Prabu Airlangga, seorang sosok religius. Di masa tuanya, ia ingin menjadi seorang pertapa. Diceritakan, tanah yang terkena air dari kendi berubah menjadi sungai yang kini dikenal dengan Sungai Brantas. Kerajaan Medang pun terbagi menjadi dua wilayah yang dibatasi Sungai Brantas. 

Prabu Airlangga menyerahkan kedua bagian dari Kerajaan Medang yang dibatasi Sungai Brantas kepada kedua putranya, dengan bagian sebelah timur diserahkan kepada Raden Jayengrana yang diberi nama Kerajaan Jenggala. Sedangkan bagian barat sungai diberikan kepada Raden Jayanagara yang diberi nama Kerajaan Kadiri atau yang kini dikenal dengan nama Kediri.

Berdasarkan artefak arkeologi yang ditemukan pada 2007, diketahui daerah sekitar Kediri menjadi lokasi dari Kerajaan Kediri, sebuah kerajaan Hindu pada abad ke-11. 

Berdasarkan Serat Calon Arang, pada awalnya Kediri merupakan pemukiman perkotaan yang dimulai ketika Airlangga memindahkan pusat pemerintahan kerajaannya dari Kahuripan ke Dahanapura (Kota Api) yang selanjutnya lebih dikenal sebagai Daha. 

Sepeninggal Raja Airlangga, wilayah Medang dibagi menjadi dua, yakni wilayah Panjalu di bagian barat dan Janggala di bagian timur. Sedangkan Daha sendiri menjadi pusat pemerintahan dari Kerajaan Panjalu yang oleh sebagian penulis disebut sebagai Kerajaan Kadiri atau Kediri dan Kahuripan menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Jenggala. 

Dalam memperingati Hari Jadi Kota Kediri, biasanya setiap tahunnya diadakan ritual adat yang disakralkan, yakni Manusuk Sima. Itu adalah napak tilas sebuah peristiwa tentang sejarah berdirinya Kota Kediri.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Simpan Tempat Sampah pada Sejarahnya

Koropak.co.id, 26 July 2022 19:16:03

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Hingga saat ini sampah masih menjadi masalah yang sulit diurai. Hari ini dibersihkan, esok lusa sudah menumpuk lagi. Mirisnya, masih banyak masyarakat yang enggan buang sampah pada tempatnya. Di mana ada tempat kosong, di sana mereka buang sampah. Sulit diatur. Perilaku seperti itu mirip warga Inggris pada tahun 1350-an.

Ada sejarah panjang soal penanganan sampah ini. Pada masa manusia purba, kebanyakan limbah yang dihasilkan kala itu berasal dari pembakaran, seperti kayu, tulang, dan sisa sayuran. Bagian yang masih bisa dimakan biasanya digunakan untuk memberi makan hewan. Sisanya diletakkan begitu saja, dibiarkan membusuk di tanah.

Pada abad pertengahan, masyarakat di Eropa memiliki kebiasaan membuang sampah ke jalan-jalan. Akibatnya, sampah-sampah membusuk hingga menyebabkan bau menyengat serta mengundang tikus dan hama lainnya mendekat.

Dampak lainnya, sampah yang menumpuk membuat pasokan air terkontaminasi, dan berperan dalam memfasilitasi penyebaran penyakit. Untuk mencegah kondisi tersebut semakin meluas, sekitar 1350-an, Inggris akhirnya mengesahkan undang-undang  tentang kewajiban masyarakat memiliki halaman depan yang bersih.

Namun, undang-undang tersebut tidak diindahkan masyarakat. Sebagian besar sampah yang menumpuk dibakar di luar rumah dibiarkan di tepi-tepi jalan.



Baca: Rambat Sejarah Minyak Rambut


Selanjutnya pada 1354-an, Raja Edward III memerintahkan para pembersih Inggris untuk mengambil semua sampah dari jalan-jalan dan gang-gang serta membuangnya seminggu sekali. Mereka menjadi cikal bakal dari tukang sampah atau petugas kebersihan.

Solusi dan sistem pembersihan limbah pun akhirnya muncul. Dibuat tempat buang sampah dari logam, kayu, atau bahkan ember. Tempat sampah pertama itu digunakan untuk menyimpan abu dari limbah yang terbakar. Tempat sampah itu biasanya dikosongkan setiap minggu dan penduduk ditagih bayaran.

Pada 1885-an, insinerator atau alat untuk membakar limbah dibangun di New York, Amerika Serikat. Sekitar 20 tahun kemudian, setidaknya hampir 200 insinerator sampah akhirnya dibangun di seluruh Amerika.

Setelah itu, pada 1897, truk-truk sampah pertama yang memiliki mesin penggerak dibuat Thornycroft Steam Wagon and Carriage Company oleh Chiswick District Council menggantikan gerobak tradisional dan pengangkut sampah gerobak manual.

Modifikasi terus dilakukan membawa tempat sampah besar secara cepat dan efisien. Semua sampah yang dikumpulkan pada umumnya akan diangkut menggunakan truk sampah untuk dibawa ke insinerator, tempat pembuangan, atau penghancur sampah. 


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Bubur Kampiun Khas Minang; Pelipur Trauma Perang

Koropak.co.id, 26 July 2022 07:15:25

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Sumatera Barat - Kuliner khas Minang satu ini identik dengan bulan Ramadan. Namanya Bubur Kampiun. Bubur khas Sumatera Barat itu merupakan makanan manis yang mirip dengan kolak. 

Bedanya, bubur kampiun terbuat dari campuran beberapa jenis bubur dan makanan, di antaranya ketan putih yang dikukus, bubur putih atau bubur sumsum, bubur ketan hitam, kolak pisang atau ubi, lupis, bubur kacang hijau atau kacang padi dan bubur conde atau candil.

Saat Ramadan, makanan ini sangat mudah sekali dicari untuk menu berbuka puasa, namun sangat jarang ditemukan hari-hari biasa. 

Bubur khas wilayah Minangkabau Daratan (Darek), tepatnya dari daerah Bukittinggi ini sering disebut juga dengan Bubua Kampiun yang berdasarkan sejarahnya berasal dari kata "Champion atau Juara".

Diceritakan, pada 1960-an, Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia kala itu menggelar "Lomba Kreasi Membuat Bubur" yang dilaksanakan di Desa Jambuair, Banuhampu, Bukittinggi. 

Saat itu, seorang nenek bernama Amai Zona datang terlambat ke lomba tanpa persiapan apapun. Dalam lomba tersebut, Nenek Amai mencampurkan beberapa jenis buburnya yang tidak habis dijual saat pagi hari. 

Siapa sangka, Nenek Amai justru berhasil memenangkan lomba tersebut. Kemudian ketika ditanya panitia, apa nama bubur kreasi buatannya itu, Nenek Amai pun dengan spontan menjawabnya "Bubur Kampiun", berasal dari kata "champion" yang berarti "juara".

Perlombaan yang digelar di Desa Jambuair saat itu juga adalah sebagai salah satu upaya dalam menghilangkan trauma yang dialami masyarakat Bukittinggi setelah perang revolusi yang terjadi sekitar 1958 s.d. 1951-an.



Baca: Bubur Sumsum dan Pahitnya Kehidupan Rakyat Zaman Penjajahan


Kala itu Kolonial Belanda menyerbu ibu kota Bukittinggi, membuat perang yang berkepanjangan. Pusat pemerintahan darurat Republik Indonesia yang awalnya berada di Bukittinggi harus bergeser ke pedalaman Sumatera Barat, tepatnya wilayah Hambalan. Kondisi itulah yang menyisakan trauma bagi masyarakat Bukittinggi.

Kembali ke bubur kampiun, di beberapa daerah dilakukan beberapa variasi, seperti penggunaan lupis ketan putih sebagai pengganti nasi ketan atau juga penggunaan bubur delima sebagai pengganti bubur conde. 

Selain itu, dikarenakan teknik pengerjaan dan pembuatannya yang terbilang cukup sulit, membuat sebagian pedagangnya tidak menyajikan bubur conde dalam campuran bubur kampiun buatannya.

Biasanya, pedagang bubur kampiun memasak berbagai campuran bubur sejak dini hari. Semua bahannya akan dimasak secara bersamaan di panci yang berbeda-beda. Oleh karena itu, untuk membuat bubur kampiun komplet, setidaknya diperlukan enam jenis bahan yang dimasak dalam enam panci diatas enam tungku secara bersamaan.

Pembuatannya terbilang cukup sulit. Semua bahan dimasak hampir bersamaan dengan masing-masing diolah dipanci dan di atas tungku yang berbeda. Pengaturan waktu pun harus diperhatikan sebaik mungkin.

Dalam mempersiapkan komponen-komponen bubur kampiun ini juga dituntut harus memiliki keterampilan khusus. Setidaknya pembuat bubur kampiun harus pandai dalam mengatur waktu di saat keenam jenis bahan dimasak secara bersamaan. 

Selain dijadikan menu berbuka puasa, bubur kampiun ini juga turut dihidangkan sebagai menu sarapan hingga menjadi hidangan saat pesta pernikahan adat Minangkabau digelar.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Karaeng Pattingalloang, Raja dari Makassar yang Terlupakan

Koropak.co.id, 24 July 2022 15:12:52

Fauziah Djayasastra


Koropak.co.id, Sulawesi Selatan - Makassar memainkan peran penting dalam jejak sejarah rempah di Indonesia. Di masa lalu, Makassar jadi pelabuhan yang amat ramai. Dari seluruh catatan sejarah rempah, ada satu nama yang terkenal di kalangan orang-orang Eropa, tetapi luput dari pengetahuan orang awam, yakni Karaeng Pattingalloang (1600-1654). 

Karaeng Pattingalloang tersohor sebab kecakapannya terkait ilmu pengetahuan. Ia merupakan putra dari Raja Tallo VII Karaeng Matoaya. Pattingalloang punya nama lengkap I Mangangada'-cina I Daeng I Ba'le Karaeng Pattingalloang Sultan Mahmud Tumenanga ri Bontobiraeng.

Semasa hidup, Pattingalloang selalu membuat orang Eropa berdecak kagum akan kefasihannya berbahasa asing dan kegemarannya mengoleksi benda unik.

Benda-benda unik yang pernah dipesan Pattingalloang adalah dua bola dunia, dua buah teropong, serta peta dunia berukuran besar. Benda-benda tersebut dipesan langsung dari Benua Biru.



Baca: M. Husseyn Umar, Pengarang yang Juga Menulis Masalah Hukum


Sejak berusia delapan belas tahun, Pattingalloang meminta orang-orang Inggris mengirimkan penemuan-penemuan terbaru terkait teknologi perkapalan.

Talenta memimpin dan punya pengetahuan yang luas, menjadikan Pattingalloang diberi tanggung jawab mengurus daerah Ujung Tanah, Makassar, sejak usia muda. Jabatan itu dia emban sebelum menjabat sebagai Raja Tallo.

Pada usia 39 tahun, Pattingalloang dilantik menjadi Raja Tallo sekaligus menjabat sebagai Perdana Menteri Kesultanan Gowa mendampingi Sultan Malikussaid. Bahkan, dia menjadi mangkubumi Kerajaan Makassar untuk tiga raja; Sultan Alauddin, Sultan Malikussaid, dan Sultan Hasanuddin.

Bagi orang Eropa, nama Pattingalloang jauh lebih dikenal dibanding nama raja-raja lain. Di dalam literature asing, dia punya julukan sebagai Bapak Makassar.

Julukan tersebut bukan saja lahir karena dia sering berinteraksi dengan orang asing, tetapi semangat belajar yang luar biasa tidak lazim ditemukan dalam diri orang Indonesia pada masa itu.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini: