Gulat Bob, Cara Warga Papua Tuntaskan Rebutan Wanita

Koropak.co.id, 27 August 2022 16:43:32
Penulis : Admin


Koropak.co.id - Ada banyak tradisi unik di Indonesia. Satu di antaranya adalah Gulat Bob. Dinamakan begitu karena dimainkan di rawa atau bob, semacam lapang luas. Masyarakat Marind Anim yang hidup di daratan Kimaam, Papua, biasa melakukan seni tradisi tersebut.

Seni bukan sembarang seni, tapi ada semangat solusi di baliknya. Gulat Bob dimainkan untuk menyelesaikan suatu masalah yang berhubungan dengan masalah perempuan. Jika ada kekasih direbut lelaki lain, si pacar sebelumnya tidak terima hingga terjadi perselesihan. Para tetua adat lantas memanggil marga atau klan bersangkutan untuk menyelesaikannya dalam pertandingan Gulat Bob.

Menariknya, dalam pertandingan tersebut bukan hanya si pacar yang bergulat, tapi juga melibatkan marga atau klan bersangkutan yang akan menurunkan semua laki-lakinya yang dianggap mampu dan kuat.

Pertandingan dipimpin seorang wasit yang berasal dari marga berbeda, dan arena pertandingannya di luar kampung, tepatnya lapang rawa. Biasanya pertandingan tersebut dimainkan pada waktu sore hari.



Baca: Gulat Bob dari Kimaam Papua, Awalnya Karena Rebutan Wanita


Adapun alat yang digunakan dalam menghitung pertandingan ini adalah pelepah daun sagu. Apabila pihak sebelah kanan yang menang, maka wasit akan metik daun yang berada di sebelah kanan. Begitupun sebaliknya. Siapa yang paling banyak mendapatkan dahan daun, dia yang akan keluar sebagai juara dan berhak atas wanita tersebut.

Dulu, dalam pertandingan Gulat Bob ini, para peserta biasanya menggunakan pakaian tradisional, yaitu tempurung kelapa yang menutup kemaluan atau yang disebut dengan Kuabango. Seiring berjalannya waktu, pakaiannya diganti dengan celana karet.

Kini, pertandingan tersebut telah berubah menjadi suatu permainan masyarakat Kimaam, terkadang ditampilkan pada acara-acara tertentu. Salah satu ruh dalam permainan tersebut adalah melatih kemampuan seorang anak laki-laki menuju kedewasaan.



Baca juga: Sepak Sawut, Sepakbola Ekstrem dari Kalimantan Tengah


Komentar

Kerak Telor, Makanan Khas Betawi Dijual Orang Garut

Koropak.co.id, 27 January 2023 16:15:39

Admin


Koropak.co.id - Berpeci merah, menjual kerak telor, gaya bicaranya Jakarta punya, siapapun pasti akan menyangka kalau lelaki yang satu ini adalah orang Betawi. Salah. Dugaan itu salah. Kendati menjual makanan khas Betawi, pria bernama Usep ini orang asgar alias asli Garut.

Ia sudah lebih dari sepuluh tahun melakoni usahanya ini. Dagang dari satu tempat ke tempat lain. Di mana ada keramaian, di sana ada pedagang kerak telor. Begitulah Usep dan rekan-rekannya. Dia tidak sendirian memang. Ada puluhan orang yang menjalani usaha serupa. Semuanya orang Garut.

Kebanyakan orang menyangka kalau penjual kerak telor itu dari Jakarta, karena memang makanan tersebut Betawi punya. Di bagian depan pikulannya dipasang spanduk bertuliskan huruf besar: KERAK TELOR khas BETAWI.

Di mana ada keramaian, di situ ada penjual kerak telor. Seperti itulah mereka. Di tempat asalnya, setiap ada Pekan Raya Jakarta, misalnya, pasti ada pedagang kerak telor. Bukan hanya di ibu kota, mereka biasa "menyerbu" daerah-daerah lain yang menggelar acara tahunan, seperti festival atau pameran. Para penjual kerak telor dari Garut pasti ada di sana. 

Usep mengaku sudah menjual kerak telor sejak 2012. Kali ini ia bersama sepuluh rekannya berjualan di area Masjid Al Jabbar, Bandung. Tak lama sejak masjid tersebut diresmikan dan banyak orang datang ke sana, radar usaha Usep bergerak cepat.

Ia segera merapat ke Masjid Al Jabbar, menyewa mobil untuk bawa pikulan, mencoba peruntungan menjual kerak telor. Jika sedang bagus, dalam sehari ia bisa menjual lebih dari 50 kerak telor. Harga satunya antara Rp20.000 sampai Rp25.000, tergantung telur yang dipilih. 



Baca: Awalnya Dibuat Tak Sengaja, Begini Sejarah Kerak Telor


Jika harganya Rp20.000 lalu dikali 50 porsi, berarti omzetnya mencapai Rp1 juta. Bila melihat bahan-bahan yang digunakan, seperti telur, ketan, dan kelapa sangrai, untungnya bisa berlipat-lipat dari modal yang dikeluarkan. Apalagi dimasaknya cuma pakai arang, tanpa gas dan minyak goreng.

Tak heran, para pedagang kerak telor tidak pernah absen jika ada keramaian berjadwal, seperti pameran-pameran atau festival. Mereka sengaja berangkat dari Garut, meninggalkan pekerjaan harian untuk meraup untung dari kerak telor. Bila sedang tidak ada pameran, mereka kembali ke rutinitas semula, seperti bertani, menjadi buruh dan lainnya.

Ditilik dari sejarahnya, perjalanan kerak telor tidaklah sependek penggalan. Ada cerita panjang yang menyertainya. Dulu, makanan yang satu ini dibuat tanpa sengaja. Masyarakat Betawi mencoba mengolah beragam makanan berbahan kepala. 

Waktu itu di Betawi atau Batavia memang banyak kelapa. Dari percobaan itu, jadilah kerak telor. Bukan hanya warga pribumi, orang Belanda pun suka. Hanya kalangan elite yang bisa menikmati kerak telor.

Namun, seiring perjalanan waktu, terutama setelah dijual untuk masyarakat umum, kerak telor bisa disantap oleh beragam kalangan. Siapapun bisa menikmatinya dengan harga yang relatif terjangkau. Bukan cuma rasanya yang unik, dalam satu porsi kerak telor ini ada fragmen sejarah kuliner dari Betawi yang sudah terkenal ke seantero negeri.



Baca juga: Mi Juhi, Kuliner Khas Betawi yang Keberadaannya Kini Semakin Langka


Menapaki Sunyi di Astana Gede Kawali; Muara Dua Agama

Koropak.co.id, 24 January 2023 15:27:34

Admin


Koropak.co.id - Hari sudah siang saat kami tiba di tempat yang berada di Dusun Indrayasa, Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, ini. Seorang penjaga tiket baru keluar dari musala, usai melaksanakan salat Zuhur. Sepi, tak ada pengunjung lain di sini. Hanya kami berdua. 

Lantaran teramat sepi, peraduan sepatu dengan batu terdengar sangat jelas. Setiap langkah kaki seakan menambah harmoni alami, mengiringi suara ragam binatang dan gesekan dedaunan yang jatuh dihempas angin.

Tempat ini namanya Astana Gede Kawali, sebuah situs yang menjadi salah satu bukti keberadaan Kerajaan Galuh. Astana berarti makam, dan gede artinya besar. Selain ada makam berukuran besar, di sini juga tempat disemayamkannya para pembesar atau orang-orang berpengaruh pada zamannya.

Tidak jauh dari pintu masuk, di sebelah kanan ada Batu Pangeunteungan yang merupakan tempat disemayamkannya abu jasad Dewi Citra Resmi atau putri Diah Pitaloka yang belapati pada peristiwa Bubat, sekitar tahun 1357.

Ada juga Batu Panyandungan, tempat disemayamkannya abu jasad Prabu Lingga Buana dan Batu Panyandaan Sang Hyang Lingga Bingba tempatnya abu jasad Prameswari Dewi Laralingsing. Keduanya gugur di palagan Bubat.

Bukan hanya tempat pemakaman abu jasad yang merupakan ritualnya agama Hindu, di sini juga ada makam dua tokoh penyebar agama Islam, yaitu Adipati Singacala dan Pangeran Usman.

Mereka adalah utusan Kesultanan Cirebon yang ditugaskan untuk menyebarkan agama Islam di bekas Kerajaan Galuh ini. Sumber lain menyebutkan, Adipati Singacala merupakan Raja Kawali pada 1663 s.d. 1718 Masehi dan keturunan Sultan Cirebon.

Ditilik dari beragamnya peninggalan arkeologi, tempat ini merupakan kawasan yang dihuni manusia pada tiga zaman, mulai prasejarah, Hindu, dan Islam. Sebagai pusat ritual, Astana Gede Kawali menjadi muaranya dua agama pada eranya masing-masing.

Pada masanya, Astana Gede diyakini sebagai pusat Kerajaan Galuh. Itu terlihat dari banyaknya peninggalan, seperti enam batu prasasti dengan tulisan Sunda Kuno. Ada pula cetakan telapak tangan dan kaki Prabu Niskala Wastukencana yang merupakan salah seorang raja Galuh.



Baca: Legenda Selat Sunda dan Gunung Krakatau, Konon Tercipta Karena Raja Marah


Selain itu, ada juga Batu Korsi atau Palinggih yang merupakan tempat penobatan para raja Sunda Galuh di Kawali. Raja terakhir yang dinobatkan di batu ini adalah Prabu Siliwangi sewaktu menerima takhta Kerajaan Galuh Pakuan pada tahun 1482.

Ada kesenangan dan ketenangan tersendiri saat berkunjung ke tempat ini. Senang lantaran mendapat pengetahuan baru tentang penggalan dari peradaban Nusantara, dan tenang karena suasana alamnya begitu sunyi. Tempat ini cocok dijadikan tempat menyepi, menghindar dari bisingnya kehidupan kota yang melulu mengagungkan materi.

Tidak banyak orang yang suka merapat ke sini. Di setiap harinya pengunjung yang datang bisa dihitung jari. Bahkan, tak jarang tidak ada pengunjung seorang pun. Padahal, tiket masuknya teramat murah, yakni Rp2.500.

Kendati begitu, kebersihannya selalu terjaga. Ada lima orang juru pelihara yang setiap hari membersihkan tempat seluas lima hektare ini. Salah satunya adalah Yaya Setia, juru pelihara yang ditugaskan Balai Pelestarian Cagar Budaya Serang, Banten

Yaya menyebutkan, hingga saat ini masih ada akademisi yang melakukan penelitian di Astana Gede untuk terus mencari tapak-tapak yang belum tersingkap. Penelitian seperti itu sudah dilakukan sejak Belanda berkoloni di Nusantara.

Selain prasasti-prasasti, di tempat ini juga ada satu area bernama Cikawali yang dipercaya sebagai mata air keramat dan tempat mandi keluarga keraton. Sebelumnya, bentuk kolam ini tampak seperti kuali atau tempat penggorengan.

Namun, sejak 2018 bentuknya jadi berubah. Pemerintah daerah melakukan penataan dengan memasang batu-batu di sekeliling kolam dengan tujuan agar tidak terjadi pengikisan tanah. Di momen-momen tertentu, seperti Syawal, banyak orang berziarah ke Cikawali.

Sebagian masyarakat percaya bahwa air Cikawali bisa membersihkan tubuh dari aura negatif. Tak heran, ada beberapa kebiasaan yang pernah dilakukan di sana, seperti melempar koin ke kolam atau membuang celana dalam yang dipakai setelah mandi di sana. Mereka yang melakukan itu meyakini akan terhindar dari sial.

Yaya Setia, juru pelihara Astana Gede Kawali, mengingatkan masyarakat yang datang ke tempat ini untuk tidak melakukan hal-hal di luar nalar yang menjurus pada kemusyrikan. Sebagai tempat yang sarat dengan sejarah perjalanan bangsa, keberadaan Astana Gede Kawali sejatinya menjadi pengingat diri tentang kebesaran Nusantara yang tidak dimiliki entitas lain di dunia.



Baca juga: Wisata Religi Astana Gede Kawali


Cerita Fir'aun dalam Naskah Ulama Gentur: Tukang Bangunan Jadi Raja

Koropak.co.id, 18 January 2023 17:30:04

Admin


Koropak.co.id - Nama Pesantren Gentur, Cianjur, Jawa Barat, sudah tidak asing lagi di telinga para pencari ilmu agama. Kemasyhuran Pondok Pesantren yang didirikan KH Ahmad Syathibi atau dikenal dengan Mama Gentur itu telah melintasi batas-batas teritorial.

Selain terkenal dengan keluhuran ilmu para gurunya, Pesantren Gentur juga produktif melahirkan karya-karya tulis sebagai media dakwah. Semasa hidupnya, Mama Gentur mengarang banyak kitab berbahasa Arab dan Sunda, seperti "Sirojul Munir", "Fathiyah", "Muntijatu Lathif", "Nadzom Ajurumiyah" dan banyak lagi yang lainnya.

Naskah lain yang juga ada kaitannya dengan Gentur adalah "Maslaku Al-'Irfan Fi Sirati Sayyidina Muss Wafir'awn" yang dikarang oleh Aang Haji Son Haji, seorang ulama di Pesantren Picung, Gentur, Cianjur, yang juga keturunan Mama Gentur.

Tia Rizki Setiawati, Titin Nurhayati Ma'mun, dan Hazbini, dalam tulisannya yang berjudul "Kisah Fir'aun dan Nabi Musa pada Naskah Maslaku Al-'Irfan Fi Sirati Sayyidina Musa Wafir'awn, menyebutkan, naskah itu ditulis menggunakan aksara Pegon berbahasa Sunda.

Di dalamnya menceritakan asal-usul Fir'aun menjadi sosok yang jahat, Fir'aun menjadi raja di Mesir, lahirnya Nabi Musa, Nabi Musa menerima wahyu, Nabi Musa mengalahkan Fir'aun, hingga Nabi Musa bersama Bani Israil menyerang Palestina karena di Palestina pada saat itu begitu banyak pemuja berhala.

Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari naskah tersebut. Kisah Nabi Musa dan Fir'aun itu dapat dijadikan pedoman hidup umat Islam terkait perbuatan zalim yang sangat dibenci Allah Subhanahu wata'ala.

Tia dan kawan-kawan menyebutkan, cerita dalam naskah "Maslaku Al-'Irfan Fi Sirati Sayyidina Musa Wafir'awn" mengalami transformasi dari teks sumber utamanya. Terdapat perbedaan antara naskah dengan Al-Qur'an.

Perbedaan itu misalnya tentang perjalanan hidup Fir'aun yang pernah menjadi tukang bangunan, pedagang di pasar, pencuri, penjaga makam, kepala preman, dan menteri luar negeri urusan ahli perang Mesir. Dalam Al-Qur'an, cerita seperti itu tidak ada.

Cerita lain yang tidak ada di Al-Qur'an tapi dikisahkan dalam naskah tersebut adalah asal-usul Fir'aun yang terlahir dari pasangan suami istri yang bekerja sebagai penggembala. Kendati telah lama menikah, mereka tidak memiliki anak, sehingga ayah Fir'aun yang bernama Mashab iri kepada seekor sapi yang sedang melahirkan.



Baca: Kejarlah Doa Saat Hujan Turun, Ini Doa yang Diajarkan Nabi


Perbedaan tersebut dapat terjadi karena adanya peran aktif pengarang naskah yang memberi tanggapan atas apa yang dibacanya. Penulis naskah menambahkan asal usul Fir'aun sebagai awal mula menerangkan satu kisah, dan itu lumrah terjadi dalam budaya Sunda. 

Apabila bercerita, orang Sunda selalu mengawalinya dengan kisah asal usul. Istilahnya malapah gedang. Tak heran, penulis naskah mengemas cerita dengan gaya kisahan lokal agar mudah dicerna dan para pembaca bisa menangkap makna yang ingin disampaikan penulis.

Kendati begitu, bukan berarti cerita dalam naskah Maslaku Al-'Irfan itu sepenuhnya berbeda dengan Al-Qur'an. Ada banyak segmen yang selaras dengan Kitab Suci umat Islam itu. Beberapa di antaranya adalah cerita tentang Fir'aun yang mengecam semua bayi dan anak laki-laki harus dibunuh. 

Dalam Surat Al-A'raf ayat 141 Allah berfirman, "Dan (ingatlah hai Bani Israil), ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir'aun) dan kaumnya, yang mengazab kamu dengan azab yang sangat jahat, yaitu mereka membunuh anak-anak lelakimu dan membiarkan hidup wanita-wanitamu. Dan pada yang demikian itu cobaan yang besar dari Tuhanmu."

Persamaan lainnya adalah soal dihanyutkannya Nabi Musa ke sungai Nil agar selamat dari kekejaman Fir'aun dan kaumnya. Termasuk cerita tentang Nabi Musa yang memukulkan tongkat ke Laut Merah hingga terbelah dan menenggelamkan Fir'aun dengan pasukannya.

Pengarang Maslaku Al-'Irfan menjadikan kisah Nabi Musa dan Fir'aun sebagai representasi sifat manusia yang diridai dan yang dilaknat Allah Subhanahu wata'ala, tentang kehidupan yang selalu ada sisi baik dan jahat.

"Likuli Musa Fir'aun, Satiap Aya Aksi Sok Aya Reaksi". Setiap ada kejahatan, di situ pasti ada kebajikan; setiap ada seorang yang jahat, pasti ada penumpasnya. Begitulah kutipan yang ada dalam naskah "Maslaku Al-'Irfan Fi Sirati Sayyidina Musa Wafir'awn".

Kisah Nabi Musa dan Fir’aun semestinya dijadikan pelajaran dan pedoman hidup umat Islam, meyakini bahwa perbuatan zalim atau jahat sangat dibenci Allah Subhanahu wata'ala.



Baca juga: Mengungkap Pecenongan, Naskah Kuno Betawi dari Abad ke-19


7 Kisah Luhung Gunung Galunggung, Galung Agung

Koropak.co.id, 16 January 2023 18:27:49

Admin


Koropak.co.id - Nama Galunggung sudah tidak asing lagi di telinga banyak orang. Kini lebih dikenal sebagai tempat wisata yang menawarkan beragam tempat rekreasi, mulai pemandian air panas hingga area perkemahan. Sejatinya, itu bukan sebatas nama gunung atau sekadar tempat rekreasi. 

Di baliknya terbentang sejarah panjang yang mengakar hingga sekarang. Galunggung merupakan bagian penting dari perjalanan manusia Sunda. Ada banyak kisah luhung yang membuat Gunung Galunggung hingga kini oleh sebagian orang masih dijunjung sebagai tempat agung.

Berikut ini tujuh kisah luhung seputar Galunggung Agung, mulai tutur tentang kabuyutan hingga cerita seputar letusannya yang terjadi pada 1982.

1. Kabuyutan 

Kisah luhung itu bermula dari sebuah tempat bernama Kabuyutan Galunggung. Pada masa itu, Kabuyutan merupakan tempat mempelajari ilmu agama, melaksanakan ritual keagamaan hingga menulis naskah. Kabuyutan Galunggung berperan penting dalam membangun peradaban manusia di kala itu.

Dalam Carita Parahyangan, sebuah naskah Sunda kuno yang menceritakan sejarah Tanah Sunda, pendirian kabuyutan tidak bisa dilakukan sembarang orang, tapi harus oleh seorang raja.

Adapun istilah Kabuyutan itu disebut dalam naskah kuno yang diberi nama "Amanat Galunggung". Naskah yang ditulis dalam daun lontar dan nipah itu dibuat oleh Prabu Darmasiksa, raja Sunda Galuh yang bertakhta pada 1175 s.d. 1297. 

2. Amanat Galunggung

Amanat Galunggung yang dituangkan dalam enam lembar tulisan itu berisi nasihat-nasihat dan pegangan hidup masyarakat. Salah satu penggalan amanat yang terkenal adalah ungkapan hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke atau ada dahulu ada sekarang, bila tak ada dahulu tak akan ada sekarang.

Amanat lainnya adalah petuah tentang perlunya kewaspadaan akan kemungkinan direbutnya kejayaan bangsa sendiri oleh orang asing. Untuk itu harus tetap menuruti nasihan orang tua, melaksanakan ajaran yang membuat parit pertahanan agar unggul perang.

Hal lain yang diingatkan adalah jangan merasa diri yang paling benar, paling jujur, dan paling lurus. Selain itu, jangan membunuh yang tak berdosa, jangan merampas hak orang lain, dan jangan menyakiti orang yang tidak bersalah.



Baca: Warna Warni Air Terjun Gunung Galunggung


3. Galung Agung

Berdasarkan cerita para sepuh dahulu, Galunggung berarti juga Galung Agung atau tempat adu ilmu para orang agung atau raja-raja. Galunggung merupakan kawah candradimuka atau tempat penggemblengan diri para calon pemimpin.

Satu hikayat menerangkan tentang betapa tingginya ilmu seorang resi di Galunggung, sehingga membuat penasaran para pembesar dari tempat lain. Mereka penasaran dengan kabar itu dan sengaja datang ke Galunggung untuk membuktikannya. Ternyata benar, Resi Galunggung terbukti berilmu tinggi.

Para raja akhirnya mengirimkan anak-anaknya untuk belajar di Galunggung. Bukan hanya belajar ilmu-ilmu ragawi, tapi juga memperdalam adab. Itu penting dilakukan, karena apa artinya berilmu tinggi kalau tidak punya tata krama.

4. Restu Galunggung

Sejak dulu, kebesaran Galunggung sudah mengakar dan memancarkan pengaruh yang besar. Sebagai bagian dari pusat peradaban, kabuyutan di masa itu mempunyai kekuasaan mengabhiseka para raja Sunda. Mereka baru dianggap sah menjadi raja bila mendapat restu atau persetujuan dari Resi Galunggung.

Berasal dari bahasa Sansekerta, secara umum abhiseka berarti memandikan atau menyucikan suatu hal yang bersifat kedewaan. Dalam praktiknya, itu merupakan ritual keagamaan dengan mempersembahkan sesajen berupa air yang disiramkan ke arca dewa atau ke lingga dan yoni.

Kebesaran Galunggung itu tertulis dalam Amanat Galunggung yang di antaranya berisi tentang, siapa saja yang dapat menduduki Galunggung, ia akan beroleh kesaktian, unggul perang, berjaya, dan bisa mewariskan kekayaan sampai turun-temurun.

5. Menjadi Kerajaan

Sebelum menjadi bagian dari Kabupaten Tasikmalaya seperti sekarang, Galunggung merupakan kabuyutan atau kebataraan yang dipimpin Batara Semplakwaja, Batara Kuncung Putih, Batara Kawindu, Batara Wastuhayu, dan Batari Hyang Janapati. 

Dalam laman jabarprov.go.id dijelaskan, saat Batari Hyang memimpin, pada 21 Agustus 1111, kabuyutan diubah menjadi kerajaan dengan nama Kerajaan Galunggung. Penguasa pertamanya Dewi Citrawati atau Batari Hyang Janapati. Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya Prasasti Geger Hanjuang di Desa Linggawangi, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya.



Baca: Memory of Galunggung, Memorabilia Ganasnya Letusan Galunggung


Titimangsa 21 Agustus 1111 itu sempat dijadikan tonggak Hari Jadi Kabupaten Tasikmalaya dan sudah berjalan selama puluhan tahun. Tapi kini, hal itu sudah diluruskan. Setelah dilakukan kajian mendalam, Hari Jadi Kabupaten Tasikmalaya lebih tepat pada 26 Juli 1632, sesuai piagam Sultan Mataram yang mengangkat Ngabehi Wirawangsa sebagai Mantri Agung Bupati Sukapura.

6. Empat Kali Meletus

Berdasarkan catatan sejarah, Galunggung pernah meletus sebanyak empat kali, yakni pada 1822, 1894, 1918, dan 1982. Letusan yang terakhir itu hingga kini masih terekam jelas dalam benak banyak orang. Terlebih, bencana itu berlangsung selama sembilan bulan, tepatnya hingga 8 Januari 1983. 

Pada 5 April 1982, Gunung Galunggung meletus, memuntahkan lahar panas disertai dentuman dan cahaya kilat yang mengerikan. Di satu waktu, abu vulkanik mengudara dengan ketinggian lebih dari 30 kilometer. 

Seketika, Tasikmalaya menjadi kota mati. Rutinitas harian mendadak terhenti. Perkantoran, sekolah, hingga pusat-pusat perdagangan terpaksa tutup, dan puluhan ribu orang mengungsi. Abu vulkanik dari letusan Gunung Galunggung membuat banyak wilayah menjadi gelap. 

Atap-atap rumah dipenuhi abu. Jarak pandang pun sangat terbatas, hingga orang-orang jadi susah saling mengenali. Bukan hanya di darat yang terkena dampak, di udara pun sama. Pesawat British Airways dan Singapore Airlines harus mendarat darurat di Jakarta lantaran mengalami kerusakan mesin.

Aa, Saksi Hidup mengatakan, waktu itu sudah tidak mengharapkan kalau melihat situasi seperti itu. Tanah berguncang, gunung bergemuruh. Makanya tidak berharap, kecuali istighfar. Meminta perlindungan kepada Allah SWT. Tidak berharap bisa panjang umur. Panik. Hanya bisa istighfar.

"Dari sini ke sana juga orang tidak kelihatan. Istri juga tertukar kalau tidak bergandengan tangan. Jangankan di sini, di Tasik (kota) juga sama. Gelap. Tidak terlihat orang, anak, atau saudara. Gelap. Suara gunung bergemuruh. Batu-batu terasa jatuh di depan mata saking bergemuruh," katanya. 

7. Kubah Lava

Sebelum meletus, atmosfer alam di area Gunung Galunggung memerlihatkan aktivitas berbeda. Air di kolam-kolam sering bergelombang dan pepohonan di sekitar kubah lava tampak menguning kering. Kubah lava yang juga disebut gunung jadi itu terbentuk setelah letusan Gunung Galunggung pada 1918.



Baca juga: Danau Kawah Galunggung, Keindahan Sisa Letusan 37 Tahun lalu


Pesan di Balik Nyalin Situs Samida; Jejak Putra Prabu Siliwangi

Koropak.co.id, 11 January 2023 14:05:18

Admin


Koropak.co.id - Aroma wewangian yang khas itu menyusup pelan di antara sepi dan khidmatnya upacara Nyalin di Situs Samida yang berada di Dusun Cibulakan, Desa Sirnajaya, Kecamatan Rajadesa, Kabupaten Ciamis, Senin, 9 Januari 2023.

Puluhan mata tertuju kepada empat orang yang duduk di bawah saung bertirai putih. Mereka adalah juru kunci dan pemelihara tempat yang dipercaya sebagai pusat peradaban yang dibangun Guru Gantangan, salah seorang putra Prabu Siliwangi.

Wawa Koswara, sang juru kunci atau kuncen Situs Samida, tampak hati-hati mencuci dan memberi wewangian pada benda-benda pusaka yang diyakini sudah berusia ratusan tahun. Satu per satu, benda-benda itu dibuka untuk dimandikan, kemudian diganti kain pembungkusnya. Itulah prosesi nyalin atau mengganti kain.

Ada banyak jenis benda pusaka yang disimpan dalam dua kotak berukuran besar itu. Selain pedang dan keris, ada juga trisula, arca, poci, keramik-keramik kecil dan barang-barang lainnya yang diperlakukan dengan sangat hati-hati. Puluhan benda pusaka itu sementara ini disimpan di rumah juru kunci.

Upacara Nyalin ini rutin digelar setiap tahun, tepatnya pada Senin Kliwon bulan Jumadil Akhir. Sebelum prosesi nyalin dilakukan, sang kuncen dan para penjaga lainnya mengambil air dari pancuran Cibarani yang diyakini sebagai tempat mandi keluarga raja.

Abdul Haris, budayawan setempat, mengatakan, ritual ini digelar bukan untuk migusti atau mempertuhan benda-benda pusaka, tapi mupusti atau merawat barang-barang para pendahulu Rajadesa.



Baca: Pesan di Balik Nyalin Situs Samida, Jejak Putra Prabu Siliwangi


Menurutnya, upacara nyalin ini bukan sekadar ritual tahunan, hanya mencuci dan mengganti kain pembungkus benda-benda pusaka. Ada makna mendalam yang mesti dijadikan pedoman dan selalu dilakukan para penerus zaman.

Haris menjelaskan, keberadaan Rajadesa tidak terlepas dari peran Guru Gantangan yang merupakan salah seorang putra Prabu Siliwangi. Setelah terusir dari Kerajaan Pajajaran lantaran mempunyai kekurangan fisik, Guru Gantangan berkelana ke banyak tempat hingga akhirnya bermukim di bukit Samida.

Awalnya sepi sedikit penghuni, di bawah kendali Guru Gantangan bukit Samida berkembang menjadi ramai dan menjadi pusat peradaban di kala itu. Prabu Siliwangi akhirnya menobatkan Guru Gantangan sebagai raja Samida dengan gelar Prabu Sirnaraja.

Masyarakat meyakini, Samida merupakan cikal bakal berdirinya Rajadesa yang kini menjadi nama kecamatan. Di kawasan ini banyak ditemukan pecahan keramik dan kerak besi yang menegaskan bahwa Samida dan sekitarnya merupakan pemukiman kuno, yakni di era Prabu Sirnaraja.

Kini, tepatnya sejak 2021, Pemerintah Kabupaten Ciamis telah menetapkan Situs Samida sebagai cagar budaya peringkat kabupaten. Tinggalan arkeologis yang terdapat di Samida antara lain struktur batu melingkar yang disebut teras batu Samida dan pagempungan yang merupakan susunan batu andesit berbentuk lengkung.

Berdasarkan kajian, struktur batu di Situs Samida ini memiliki persamaan tipologi bentuk dengan struktur yang terdapat di puncak Bukit Badigul, Pakuan Pajajaran.



Baca juga: Sebanyak 1.117 Situs Sejarah dan Budaya Teridentifikasi di Ciamis


Meracik Obat Antimiskin dari Serat Rajabrana: 7 Syarat

Koropak.co.id, 07 January 2023 19:16:27

Admin


Koropak.co.id - Menjadi kaya banyak harta benda merupakan ambisi kebanyakan orang. Segala cara dilakukan agar menjadi si raja kaya. Bermacam upaya ditempuh demi merengkuh harta bergelimang. Malah banyak yang nekat melakukan cara-cara kotor untuk mendapatkannya. Tak mengapa melabrak norma dan aturan asalkan bisa disebut sultan.

Sebenarnya tak harus seperti itu juga. Masih banyak hal positif yang bisa dilakukan agar bisa memiliki banyak harta. Dalam Serat Rajabrana, salah satu karya sasta Jawa yang berisi kearifan lokal, dijabarkan petuah-petuah untuk menjadi orang yang kaya raya.

Sumarsih, dalam tulisannya yang dimuat di laman ugm.ac.id, memaparkan tujuh cara yang bisa dilakukan untuk menjadi kaya. Sebagai karya sastra Jawa yang berisi kearifan lokal, Serat Rajabrana layak dijadikan contoh pembentukan karakter generasi saat ini. Sejatinya, karya sastra mengemban fungsi menggerakkan pembaca untuk bersikap dan bergerak melakukan sesuatu.

Dalam Serat Rajabrana disebutkan tujuh cara untuk mendapatkan kekayaan melalui cara yang semestinya. Pertama, senang mengurangi makan minum. Dua, tidak boros dalam menggunakan uang dan barang. Tiga, bekerja yang menghasilkan. Empat, menabung penghasilan. Lima, menggunakan waktu dengan teratur. Enam, telaten. Tujuh, selalu berhati-hati agar tidak rugi dan menjauhkan diri dari perbuatan dosa.

Ketujuh cara itu harus dilakukan terus-menerus disertai kemauan yang keras dan pantang menyerah. Sebagai makhluk berakal, setiap orang punya kemampuan untuk berpikir dan berusaha untuk menjadi kaya. 

Selain tujuh cara yang disebutkan tadi, ada hal-hal lain yang juga mesti dilakukan, di antaranya gemi, rigen atau cekatan dan banyak akal, hati-hati dalam bertindak, tidak suka berutang, dan mugen atau tekun dalam melakukan pekerjaan. Setiap tugas dikerjakan sampai tuntas tanpa lalai atau berpaling ke pekerjaan lain.



Baca: Lebih Dekat dengan Prosa Cerita Melayu


Gemi, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti hemat. Lebih luasnya, seperti yang ditulis dalam Serat Rajabrana, selain pandai menyimpan penghasilan, sikap gemi tercermin dalam perilaku tidak menggunakan harta untuk keperluan mubazir, serta menerima apa adanya dan sederhana. 

Ada pula hal lain yang harus diperhatikan agar tidak celaka atau jatuh miskin. Selain jangan sombong dan merasa kaya, watak yang harus dijauhi adalah suka mencela atau menghina sesama. Adapun yang harus dikedepankan adalah saling mencintai dan mengasihi seluruh makhluk.

Petuah lain yang ditulis dalam Serat Rajabrana itu terkait hal-hal yang menimbulkan keuntungan dan kerugian. Ditegaskan, munculnya keberuntungan itu lantaran usaha dan mampu mengendalikan hati.

Selain itu, kalau melakukan pekerjaan harus serius dan terpusat pada yang dikerjakan, kalau menolong harus disertai pengorbanan sesuai kemampuan, serta kalau berteman mesti selalu rukun dan sejalan.

Lantas apa yang disebut kaya? Dalam Serat Rajabrana, yang disebut orang kaya adalah mereka yang memiliki harta kekayaan yang bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga, tidak punya utang, dan memiliki rumah yang pantas untuk menerima tamu dengan baik.

Orang kaya harus sangat berhati-hati, karena kekayaan yang dimilikinya bisa menjadi pintu masuknya celaka. Orang kaya harus mempunyai tujuan mulia, seperti hemat tapi tidak kikir, memberi tanpa boros, menolong tanpa merendahkan, dan tetap berperilaku sederhana.



Baca juga: Mengenal Aksara Lota Ende dan Keberadaannya Kini


Pesan Tiga Kiai dalam Reuni Alumni Al-Manshuriyyah Cibodas

Koropak.co.id, 29 December 2022 19:10:11

Admin


Koropak.co.id - Usia pondok pesantren yang satu ini sudah lebih dari satu abad. Tak heran, dari Pondok Pesantren Al-Manshuriyyah yang berdiri sejak 1918 ini telah melahirkan banyak alim ulama yang tersebar di sejumlah daerah.

Tiga di antaranya adalah K.H. Eros Rosikin pimpinan Pondok Pesantren Al-Ikhwan Karawang, K.H. Syarif Hidayatullah pengasuh Pondok Pesantren Al-I'tihad Pagerageung, dan K.H. Ade Purnama Alam dari Karawang.

Ketiga kiai tersebut hadir dan memberikan tausiah dalam silaturahmi akbar dan temu alumni Pondok Pesantren Al-Manshuriyyah, Senin, 1 Agustus 2022. Turut hadir para alumus dari berbagai daerah, dan banyak di antara mereka yang mengaku pangling karena baru datang lagi ke pesantren setelah puluhan tahun lalu keluar dari pondok.

Ada kehangatan dalam temu alumni yang digelar di kompleks pesantren yang berada di Kampung Cibodas, Desa Mekarwangi, Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat ini. Ada banyak ilmu yang disampaikan para penceramah.

Dalam tausiahnya, K.H. Eros Rosikin memaparkan tentang rida Allah Subhanahu wata'ala. Menurutnya, setiap muslim pasti berharap mendapat rida Allah, namun tak sedikit yang tidak tahu apa dan bagaimana mendapatnya rida-NYA.

"Rida Allah itu di mana adanya? Ternyata setelah dipelajari, rida Allah, definisinya adalah hati merasa bahagia tatkala menerima nasib yang kurang baik. Ketika datang bencana, ketika sakit, rugi dalam usaha, hati tetap bahagia. Itu maqam rida. Mana kala seseorang sudah berada di dalam level rida, di manapun berada selalu bahagia," katanya.

"Jadi pedagang, bahagia. Jadi petani, bahagia. Jadi kiai, bahagia. Begitu kalau sudah mencapai level rida. Lalu yang jadi pertanyaan, di mana adanya Rida Allah? Ternyata adanya dalam sidik dan makrifat. Di sana adanya (rida Allah)," tambahnya.

Kiai Eros menegaskan, rida Allah tidak akan bisa diraih kalau seseorang tidak sidik atau tidak benar. Sidik berarti menerima dan menjalankan setiap hukum Allah. Sidik itu berarti benar; benar dalam syariat, benar dalam tarekat, benar dalam hakikat.

Ia lantas mencontohkan seorang copet yang berdalih melakukan perbuatannya itu lantaran untuk menafkahi keluarga. Alasan itu tidak bisa diterima, dan pasti tidak akan mendatangkan rida Allah, karena tidak memenuhi syarat benar. 

Menurutnya, perlu usaha yang sungguh-sungguh untuk bisa mendapatkan rida Allah. Salat tidak bisa hanya asal salat, ibadah yang lain tidak bisa hanya asal ibadah. Semua harus bermuara kepada Allah. Hati hanya tertuju kepada Allah, sehingga rida-NYA bisa diraih. Syaratnya adalah menjadi orang yang benar dan makrifat. 



Baca: Wapres RI, Ma'ruf Amin Resmikan 1.004 BLK Komunitas di Ponpes Cipasung Tasikmalaya


"Mudah-mudahan kita benar-benar mendapat rida Allah Subhanahu wata'ala. Pulang dari sini mendapat rida Allah. Syaratnya, pertama, jadi orang yang benar. Benar dalam syariat, benar dalam tarekat, dan benar dalam hakikat. Dua, jadi orang yang makrifat. Insya Allah, pulang ke rumah masing-masing membawa rida Allah Subhanahu wata'ala," harapnya.

Sementara itu, K.H. Ade Purnama Alam, mengingatkan jemaah tentang hakikat tauhid. Tidak ada yang boleh disembah selain Allah Subhanahu wata’ala; Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi. Tidak ada yang berhak dipuja dan dipuji selain Allah.

Begitupun dalam urusan rezeki. Bukan bertani yang membuat orang jadi kaya, bukan pula karena dagang orang punya banyak harta, tapi semua karena Allah Subhanahu wata'ala. Hanya Allah yang memberi harta, karena IA yang mempunyai segala kekayaan.

"Dalam Al-Qur'an dijelaskan, sembahlah Allah dan jangan mempersekutukanNYA. Bagaimana tafsirnya? Tegasnya, beribadah itu harus bertauhid. Lahirnya bertauhid, batinnya bertauhid, ruhaninya juga bertauhid. Lahirnya bertauhid, ucapkan Allah, kita harus selalu ingat Allah dalam segala urusan. Mau bekerja, awali dengan Bismillah. Setelahnya, ucapkan Alhamdulillah. Itu tauhid. Kita zikir ke Allah," tuturnya.

Pesan senada disampaikan K.H. Syarif Hidayatullah. Pimpinan Pondok Pesantren Al-I'tihad Pagerageung itu menekankan tentang pentingnya meminta maaf kepada manusia agar selalu mendapat rida Allah Subhanahu wata’ala.

Menurutnya, rezeki seorang hamba akan terhalang oleh kesalahan atau dosanya kepada sesama manusia. Selama belum meminta maaf, maka itu akan menjadi penghalang rezeki, baik rezeki dunia atau rezeki batin. Sering-sering beristigfar adalah kuncinya.

Hal lain yang tak kalah penting adalah selalu memerhatikan makanan yang masuk ke dalam perut. Semua yang dimakan dan diminum harus dipastikan halal. Jangan ada barang haram yang dimakan atau dipakai, sehingga tidak ada hijab atau penghalang turunnya rida Allah Subhanahu wata’ala.

"Ingat! Dosa itu menjadi penghalang rezeki: rezeki dunia, rezeki batin. (Dosa) Jadi penghalang. Susah mencari rezeki halal, dapatnya yang haram, gara-gara punya dosa tidak diampuni Allah lantaran belum beristigfar," ujarnya. 

"Kalau yang dimakan barang riba, ingat perkataan para ulama, setiap yang masuk ke dalam perut, timbul dari hati. Kelakuan hati tergantung apa yang dimakan. Kalau yang dimakan halal, hati akan baik. Kalau yang dimakan barang riba, hati akan jelek," tambahnya.

"Bagaimana hati yang baik? Satu, terus-menerus eling. Kalau sedang punya uang tidak ingat (Allah), ketika tidak punya uang baru ingat. Hati seperti itu tidak sehat. Punya uang, orang tua tak punya, tapi tidak mau memberi, itu tidak punya hati. Terus-menerus eling. Sedang punya uang eling, tidak punya uang juga eling. Di masjid eling, di luar masjid juga eling," lanjutnya.



Baca juga: Kiai Abun dan Kiai Juhadi, Jadi Wajah Baru Pimpin PWNU Jabar Lima Tahun Kedepan


Lembar Perjalanan SMK Riyadul Hikmah Salopa, Semula Majelis Taklim

Koropak.co.id, 27 December 2022 17:00:42

Admin


Koropak.co.id - Mimpi itu telah terpatri lebih dari tiga dekade lalu. Tidak punya latar belakang pendidikan, tapi punya keinginan besar untuk mendirikan lembaga pendidikan, terutama di bidang keagamaan. Ia adalah Hadidjan, seorang wiraswasta warga Kampung Jamupu, Desa Mandalawangi, Kecamatan Salopa, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Langkah awal yang dilakukan Hadidjan adalah merintis majelis taklim dengan nama Riyadul Hasanah. Di tempatnya yang terkenal dengan sebutan pabrik sereh itu, ia rutin mengadakan pengajian bulanan dan pekanan. Selain penceramah setempat, ada juga dari pesantren-pesantren besar, seperti Pondok Pesantren Baitul Hikmah dan Sukahideung.

Tak ada rotan, akar pun jadi. Tak punya bekal ilmu agama, maka undang para kiai. Begitulah yang dilakukan Hadidjan. Kecintaannya pada ilmu dibuktikan dengan merintis majelis taklim, dan itu menjadi baktinya pada agama.

Seiring berjalannya waktu, Majelis Taklim Riyadul Hasanah berganti nama menjadi Riyadul Hikmah. Penggantian nama itu berdasarkan masukan dari pengasuh Pondok Pesantren Baitul Hikmah atau Haurkoneng, K.H. Saepudin Zuhri (Alm).

Dari semula majelis taklim, kemudian berkembang menjadi lembaga pendidikan formal. Awalnya mendirikan Raudhatul Atfhal pada 2005, lalu empat tahun kemudian merintis sekolah menengah kejuruan atau SMK pada 2009.

Bukan hal yang mudah untuk membuka SMK. Saat itu hanya punya modal keinginan dan tekad untuk turut serta mencerdaskan anak bangsa. Jangankan gedung atau ruang kelas, gurunya juga belum ada.

Namun, lantaran didasari niat yang tulus, yakin ada jalan keluar. Seperti kata pepatah lama, di mana ada kemauan pasti akan ada jalan. Begitupun yang diyakini Dede, putra bungsu tujuh bersaudara dari pasangan Hadidjan dan Hadi'ah.

Di tengah waktu yang sangat terbatas, Dede terus berupaya untuk mendirikan SMK.

Di saat sekolah lain sudah melaksanakan kegiatan belajar mengajar, Dede belum mendapatkan satupun calon siswa. Untuk itu ia bergerilya ke RT-RT mencari anak-anak yang ingin melanjutkan pendidikan. Akhirnya dapatlah tujuh orang yang berminat sekolah.



Baca: SMK Muhammadiyah Kawali Jadi Tuan Rumah Lomba Memanah


Sekali gerilya dapat tujuh anak, tapi itu juga belum pasti jadi daftar atau tidak. Sementara jumlah minimal yang dibutuhkan sebanyak 30 orang. Dede lantas turun lagi ke RT-RT untuk memenuhi jumlah yang disyaratkan, dan akhirnya dapat.

Suami dari Elis Idah Saidah itu akhirnya mendapatkan 30 calon siswa, namun di saat pendaftaran yang hadir hanya 17 orang. Tapi, sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang. Jangankan 17 orang, meski hanya lima orang pun, tekadnya untuk membuka SMK tetap menyala.

Maka, jadilah rintisan SMK pada 2009 dengan nama SMK Al-Huda 2 Salopa. Lantaran belum punya kelas, untuk belajar mengajar dilakukan di salah satu ruang Raudhatul Atfhal. Dari tiga ruang RA, satu kelas dipakai untuk SMK.

Setahun berjalan, setelah didirikan yayasan pada 2010, SMK Al-Huda 2 Salopa berganti nama menjadi SMK Riyadul Hikmah. Dari tahun ke tahun sekolah mengalami perkembangan. Semula hanya punya satu jurusan, yakni Teknik Komputer dan Jaringan, kini sudah ada jurusan Administrasi Perkantoran dan Teknik Kendaraan Ringan.

Jika di awal pendirian harus bergerilya untuk mencari calon siswa, kini mereka datang sendiri. Bukan hanya di sekitar sekolah, siswanya ada juga yang dari luar daerah, seperti Bandung, Bogor, dan Pangandaran. Jumlah keseluruhannya kini tercatat ada 250 siswa.

Tak lantas puas, Yayasan Riyadul Hikmah terus bergerak. Selain mendirikan SMP Islam Terpadu pada 2015, dua tahun berselang, tepatnya pada 2017 mulai mengembangkan pondok pesantren. Selain itu, pada 2021 kemarin, SMK Riyadul ditetapkan sebagai SMK Pusat Keunggulan.

Soal prestasi, SMK dan SMP IT Riyadul Hikmah juga bersinar dalam kepramukaan dan olahraga. Berbagai piala pramuka berhasil diraih, seperti juara umum Ekspresi tingkat Jawa Barat dan juara umum Wide Games 2019 tingkat wilayah 12 dan 13. 

Di bidang olahraga juga sama. Terlebih, SMK Riyadul Hikmah ditunjuk sebagai sekolah olahraga untuk wilayah Tasik Timur. Voli dan petanque merupakan dua cabang olahraga yang dijagokan di sekolah yang berada di Kampung Jamupu, Desa Mandalawangi, Salopa, Kabupaten Tasikmalaya ini.



Baca juga: MSCC SMK Manangga Pratama Berikan Pengalaman Berorganisasi


Dulu Semula Iseng, Kini Makepung Jadi Aset Pariwisata

Koropak.co.id, 24 December 2022 20:22:44

Admin


Koropak.co.id - Bali punya banyak tradisi unik dan menarik yang memiliki nilai-nilai luhur. Satu di antaranya adalah makepung. Dalam bahasa setempat, makepung berarti kejar-kejaran. Dalam praktiknya memang seperti itu. 

Tradisi yang berasal dari Kabupaten Jembrana itu merupakan balapan kerbau yang dilakukan masyarakat petani, dan sudah berlangsung secara turun-temurun. Sebagian besar mata pencaharian masyarakat Jembrana memang petani. 

Tradisi makepung terinspirasi dari tahapan mengolah sawah. Sebelum bisa ditanami, sawah harus melalui proses mengemburkan tanah untuk menjadi lumpur yang dikenal dengan istilah membajak.

Di Jembrana, kegiatan membajak umumnya menggunakan kerbau dan dilakukan secara bergotong-royong, sehingga satu petak sawah bisa dibajak oleh beberapa pasang kerbau. Dari kegiatan itulah muncul ide para petani untuk mengadu kebolehan kerbaunya dalam hal menarik lampit.

Selain sebagai sarana hiburan dan pengisi waktu luang, makepung juga menjadi olahraga gaya petani Bali lawas. Tradisi itu untuk memupuk semangat dan kegigihan dalam berjuang demi meraih sebuah impian.

Tradisi yang sudah ada sejak 1920-an itu berawal dari sebuah permainan iseng yang dilakukan para petani saat membajak sawah. Seiring berjalannya waktu, para petani mengubah kegiatan tersebut menjadi tradisi lomba balap kerbau yang dilakukan di arena sawah.



Baca: Makepung, Tradisi Balap Kerbau yang Berawal dari Iseng


Para petani mengadakan semacam lomba adu cepat di atas cikar-cikar atau pedati sebagai pengangkut hasil panen. Pedati itu ditarik sepasang kerbau yang penuh dengan muatan padi hasil panen raya dari sebidang tanah yang mereka garap. 

Ternyata, kegiatan itu memberikan dampak yang positif bagi para petani hingga kerbau yang mengangkut pedati. Akhirnya, lomba adu cikar pengangkut padi itu berkembang menjadi atraksi pakepungan.

Makepung lantas bertransformasi menjadi salah satu agenda tahunan, misalnya ada Makepung Gubernur Cup dan Jembrana Cup. Ratusan peserta dari berbagai kalangan turut memeriahkan kegiatan tersebut.

Selain merupakan salah satu tradisi khas dan kegemaran masyarakat Kabupaten Jembrana, makepung telah menjadi aset pariwisata yang potensial untuk dilestarikan dan dikembangkan. Hal lain yang juga penting adalah mencegah terjadinya alih fungsi lahan pertanian dengan dalih pembangunan.

Kini, Makepung telah menjadi salah satu atraksi budaya yang paling menarik dan banyak ditonton oleh wisatawan, termasuk para turis asing. Bukan hanya diikuti oleh para petani, tapi juga ada pegawai dan pengusaha yang turut menjadi peserta atau sebatas pendukung.



Baca juga: Tradisi Ngerebeg Bali Ditetapkan Jadi WBTb Indonesia


Napak Tilas Karier Cemerlang Anak Petani Bertabur Bintang

Koropak.co.id, 20 December 2022 15:50:47

Admin


Koropak.co.id - Presiden Joko Widodo resmi melantik Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Yudo Margono menjadi Panglima TNI, menggantikan Jenderal Andhika Perkasa yang memasuki masa pensiun. Pelantikan itu dilangsungkan di Istana Negara, Jakarta, Senin, 19 Desember 2022.

Sebelum sampai pada posisinya yang sekarang, Yudo telah melalui beragam rintangan. Perjalanan hidup pria kelahiran Madiun, 26 November 1965, itu penuh perjuangan dan sarat inspirasi. Tak mudah baginya untuk menapaki puncak karier militer.

Lahir dari keluarga sederhana membuatnya harus berusaha gigih agar bisa mewujudkan cita-citanya menjadi tentara. Ia tak mau membebani dan menuntut banyak materi dari orang tuanya yang bekerja sebagai petani.

Setelah lulus dari SMAN 1 Mejayan Madiun, ia berangkat ke Surabaya dengan bekal seadanya. Keberangkatannya ke Kota Pahlawan itu bukan tanpa alasan. Ia bersama teman-temannya ingin daftar ke Akademi Angkatan Laut. 

Lantaran tidak punya saudara di Surabaya dan tak memiliki uang lebih untuk menyewa penginapan, Yudo memilih masjid sebagai tempat istirahat setelah lelah mengikuti seleksi di Akademi Angkatan Laut. 

Usahanya tidak sia-sia. Dari 12 temannya yang mendaftar ke Akabri, hanya Yudo yang diterima. Perjalanan karier militernya pun dimulai. Setelah lulus dari Akademi Angkatan Laut pada 1988, ia ditugaskan di Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) sebagai Asisten Perwira Divisi Senjata Artileri Rudal di KRI Wilhelmus Zakaria Johannes-332.

Setelah itu, Yudo ditunjuk menjadi Kepala Departemen Operasi KRI Ki Hajar Dewantara-364 dan Perwira Pelaksana KRI Fatahillah-361. Karier militernya terus bersinar. Ia dipercaya menjadi nakhoda di beberapa Kapal Perang Republik Indonesia, seperti Komandan KRI Pandrong-801, Komandan KRI Sutanto-877, dan Komandan KRI Ahmad Yani-351. 

Lama bertugas di kapal perang, pada 2004 s.d. 2008 Yudo ditunjuk menjadi Komandan Pangkalan Angkatan Laut Tual. Jabatan serupa diembannya di Pangkalan Angkatan Laut Sorong pada 2008 s.d. 2010.

Yudo rupanya ditakdirkan untuk tidak jauh dengan tongkat komando. Sepanjang perjalanan kariernya, ia beberapa kali dipercaya menjadi komandan, di antaranya Komandan Satuan Kapal Cepat Komando Armada Timur (2010 s.d. 2011), Komandan Komando Latihan Komando Armada Barat (2012 s.d. 2014), Komandan Pangkalan Utama Angkatan Laut I Belawan (2015 s.d. 2016) dan Panglima Komando Lintas Laut Militer pada 2017 s.d. 2018.



Baca: Presiden Jokowi Resmi Lantik Jenderal Andika Perkasa Sebagai Panglima TNI


Yudo lantas dipercaya menjadi Panglima Komando Armada I (2018 s.d. 2019) dan Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan I (2019 s.d. 2020). Kariernya semakin cemerlang dengan diamanahi jabatan Kepala Staf Angkatan Laut pada 2020.

Nasib baik suami Veronica Yulis Prihayati dan ayah tiga anak ini tak berhenti sampai sana. Pada Senin, 19 Desember 2022, Laksamana TNI Yudo Margono dipercaya menjadi Panglima TNI, menggantikan Jenderal Andhika Perkasa yang memasuki masa pensiun.

Selama perjalanan kariernya, Yudo telah mendapatkan banyak penghargaan, baik dari dalam maupun luar negeri. Pada 2018, misalnya, ia memperoleh Bintang Jalasena Nararya yang merupakan tanda kehormatan dari Pemerintah Republik Indonesia kepada seorang prajurit yang berjasa untuk kemajuan dan pembangunan TNI Angkatan Laut.

Dua tahun kemudian, 2020, ia mendapatkan Bintang Dharma, Bintang Jalasena Utama, Bintang Kartika Eka Paksi Utama, dan Bintang Swa Bhuwana Paksa Utama. Pada 2022, Yudo mendapat penghargaan dari Pemerintah Singapura berupa Pingat Jasa Gemilang, karena berhasil meningkatkan hubungan dan kerja sama TNI Angkatan Laut dengan Republic of Singapore Navy.

Di tahun yang sama, Yudo mendapatkan bintang kehormatan "Member of a knight of the order of Australia" dari Pemerintah Australia. Penghargaan itu diberikan atas kontribusinya dalam meningkatkan kerja sama militer, khususnya Angkatan Laut, dalam menjaga stabilitas perdamaian dan keamanan.

Jika ada peribahasa kacang lupa sama kulitnya, Yudo Margono bukan bagian dari itu. Kendati sudah menjadi orang nomor satu di TNI Angkatan Laut, ia masih bersilaturahmi kepada masyarakat di kampung halamannya. 

Seperti yang dilakukannya pada Sabtu, 22 Oktober 2022. Ia datang tidak dengan tangan kosong, tapi membawa paket sembako untuk dibagikan kepada warga Desa Garon, Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun, Jawa Timur.

Di tengah kesibukan melakoni banyak aktivitas, ia selalu meluangkan waktu untuk berkumpul dan bercengkrama bersama istri dan anak-anaknya. Perhatiannya kepada keluarga besar TNI Angkatan Laut pun sangat besar.

Hal itu, misalnya, diperlihatkan saat berkunjung ke Manado pada pertengahan September lalu. Ia bersama istrinya menyempatkan waktu berkunjung ke rumah salah seorang prajurit. Kunjungan seperti itu dilakukan bukan tanpa maksud. Ia menegaskan tentang pentingnya membina keluarga, karena merupakan bagian tak terpisahkan dalam membangun integritas dan ketangguhan prajurit.



Baca juga: Sah, Jenderal Dudung Abdurachman Resmi Jabat KSAD TNI


Sampah, Kapan Tak Lagi Jadi Masalah?

Koropak.co.id, 15 December 2022 19:10:02

Admin


Koropak.co.id - Wajah Kota Tasikmalaya hari ini masih dikotori oleh timbunan sampah yang menumpuk di banyak tempat. Hingga kini, persoalan tersebut belum bisa ditangani dengan baik. Di waktu-waktu tertentu, beberapa tempat pembuangan sampah sementara, termasuk di trotoar dan badan jalan, kerap dipenuhi beragam limbah rumah tangga.

Selain tidak elok dipandang, tumpukan sampah seperti ini menimbulkan bau tak sedap dan rentan menyebarkan penyakit. Pemerintah Kota Tasikmalaya dituntut serius menangani masalah sampah. Masyarakat menunggu gebrakan pemerintah untuk menuntaskan persoalan menahun tersebut.

Tanggung jawab itu kini ada di pundak Cheka Virgowansyah. Sejak 14 November 2022, pria kelahiran Palembang, 19 September 1979, itu dilantik sebagai Penjabat Wali Kota Tasikmalaya, menggantikan Muhammad Yusuf yang telah habis masa jabatannya.

Sebagai penjabat wali kota, Cheka memikul empat tanggung jawab pokok, yaitu memimpin urusan pemerintahan, menjalankan tugas sebagai ketua satgas Covid-19, memfasilitasi pelaksanaan Pemilu, serta bersama masyarakat memelihara ketentraman dan ketertiban.

Semua tanggung jawab itu tidak akan bisa terlaksana dengan baik jika tidak ada sinergi dengan semua elemen masyarakat, termasuk dalam menangani masalah sampah. Cheka mengaku telah melakukan berbagai upaya, di antaranya berkumpul dengan para camat dan lurah untuk merumuskan solusi terbaik dalam mengatasi persoalan tersebut.

Cheka menegaskan, beragam persoalan yang terjadi di kota ini bisa diatasi bila pemerintah bersama setiap elemen masyarakat saling bersinergi dan berkontribusi sesuai kemampuan masing-masing.



Baca: Volume Sampah di Kota Tasikmalaya Terus Meningkat


Begitupun dalam menangani masalah sampah. Peran serta masyarakat sangat dibutuhkan, minimal berkontribusi dengan membuang sampah pada tempatnya. Seberapa keraspun usaha pemerintah dalam mengatasi persoalan tersebut, hasilnya tidak akan maksimal bila masih banyak masyarakat yang membuang sampah sembarangan. 

Kurang dari sebulan sejak menjadi penjabat wali kota, Cheka mengaku telah melakukan berbagai upaya untuk menangani sampah, di antaranya membuat gerakan memungut sampah dan memasang CCTV di beberapa tempat pembuangan sampah sementara.

Pemasangan CCTV itu dimaksudkan untuk memantau kondisi sampah di tempat pembuangan sampah sementara. Jika ada penumpukan, petugas kebersihan segera bergerak untuk mengangkut sampah-sampah tersebut, sehingga penanganannya menjadi lebih cepat. 

Cheka mengajak masyarakat untuk tidak membuang sampah di sembarang tempat, seperti di trotoar atau badan jalan, karena selain akan menjadi kumuh dan merampas hak orang lain, juga bakal membuat penanganan masalah tak tampak hasil.

Sampah akan selalu menjadi masalah jika gerak pemerintah tidak gesit dan minim inovasi, serta kebiasaan masyarakat yang suka membuang sampah sembarangan tidak diubah.



Baca juga: Kesadaran Terhadap Sampah Perlu Ditingkatkan


Menilik Perjalanan Panjang Batik Tasik

Koropak.co.id, 14 December 2022 17:11:51

Admin


Koropak.co.id - Baju-baju batik ini tampak eksotik dengan perpaduan warna dan bermacam motif yang artistik. Sepintas tampak sama dengan batik pada umumnya, namun jika lebih ditilik lagi ada perbedaan mendasar dalam Batik Tasik ini. Selain coraknya yang beragam, warnanya juga tampak dominan cerah.

Sebelum menjadi cantik seperti ini, ada proses lama yang mesti ditempuh, mulai penulisan, perendaman hingga penjemuran. Begitupun dengan eksistensinya. Batik Tasik tidak ujug-ujug punya nama. Perjalanan panjang telah dilalui salah satu produk unggulan Kota Tasikmalaya ini. 

Deden Supriyadi, pemilik Deden Batik, menceritakan, awal mula perintisan usaha batik di Tasikmalaya bermula dari tahun 1950-an. Ia menjelaskan, pada 1955 keluarganya mulai merintis usaha batik dengan menggunakan nama ayahnya, yakni Asep Batik.

Namun, setelah ayahnya meninggal dunia pada tahun 2000, Deden meneruskan usaha tersebut dan mengganti namanya menjadi Deden Batik. Setelah lebih dari enam dekade, usaha Batik Tasik sampai sekarang masih bertahan.

Bukan hanya Deden Batik, di Kota Tasikmalaya ada banyak pengusaha batik yang masih berproduksi dengan beragam bendera, di antaranya Agnesa Batik, Purnama, Sahrul, Nurul, Dimas, Nurjaman, Al Fahmi, Melinda, Ariindi, Azalea, Krisna Wijaya, dan Batik Jigi. 



Baca: Mengulas Awal Mula Berkembangnya Batik Jawa Barat


Kendati sempat mati suri lantaran kehadiran batik cetak atau batik print, Batik Tasik perlahan bangkit dan bertahan hingga menjadi salah satu produk unggulan yang dibanggakan. Batik Tasik masih berkibar dan beredar hingga luar pulau hingga menembus pasar mancanegara.

Deden Batik yang semula bernama Asep Batik merupakan salah satu pionir pengusaha batik di Tasikmalaya, tepatnya di bilangan Cigeureung, Kecamatan Cipedes. Dulu, di masa kejayaannya, ada sekitar 300 orang yang bekerja di Asep Batik dengan volume produksi mencapai puluhan ribu per bulan.

Namun, setelah dihantam beragam persoalan, kondisi Deden Batik tak lagi seperti dulu. Jumlah karyawan yang semula ratusan, berkurang jadi puluhan dengan kemampuan produksi per bulan di kisaran empat ribuan kain batik.

Kini, di tengah kondisi global yang belum sepenuhnya pulih, Deden bersama puluhan pengusaha batik terus berkarya demi menjaga denyut nadi ekonomi dan memertahankan eksistensi Batik Tasik yang telah menjadi salah satu identitas budaya kota resik ini.



Baca juga: Go Tik Swan, Sang Pelopor Batik Indonesia