Berkenalan dengan Dalang Milenial Rizki Rahma Nurwahyuni

Koropak.co.id, 23 October 2022 15:15:23
Penulis : Eris Kuswara
Berkenalan dengan Dalang Milenial Rizki Rahma Nurwahyuni


Koropak.co.id - Saat ini, banyak yang beranggapan bahwa generasi muda zaman sekarang, cenderung hidup "kebarat-baratan", tidak menghargai budayanya sendiri, hingga melupakan warisan nenek moyang bangsa Indonesia, menjadi stigma yang beredar di masyarakat.

Namun stigma yang menggeneralisasikan bahwa generasi muda saat ini lupa dengan budayanya sendiri berhasil dipatahkan oleh anak muda dari Bantul, Yogyakarta. Namanya Rizki Rahma Nurwahyuni.

Sosok yang akrab disapa Rahma ini justru bertindak sebaliknya. Pasalnya, Rahma sendiri turut andil dalam pelestarian seni dan budaya.

Bagi para penikmat seni, khususnya Wayang di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mungkin sudah tidak asing lagi dengan sosok Rahma yang menjadi dalang perempuan di usianya yang masih muda.

"Buah Jatuh Tak Jauh dari Pohonnya", ungkapan itu sangat cocok untuk menggambarkan Rahma. Ya, ternyata darah seni yang dimiliki Rahma sendiri turun dari keluarganya. Pasalnya, Rahma lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga seniman. 

Diketahui, Simbah atau kakeknya merupakan seorang seniman ketoprak. Sedangkan ayahnya, dikenal sebagai seorang dalang yang telah melanglang buana dari satu pertunjukan ke pertunjukan lainnya.

Sejak kecil, Rahma sendiri mengaku bahwa orang taunya mengenalkannya pada kesenian, khususnya kesenian Jawa, seperti wayang, ketoprak, menari. Semua kesenian yang dikenalkan orang tuanya itu pun langsung 'dibabat' olehnya.

Berangkat dari sanalah, lantas Rahma pun mengikuti kejuaraan dalang cilik sekitar 2004. Sejak saat itulah, perjalanannya sebagai dalang pun dimulai. Di sisi lain, keinginannya untuk menekuni dunia pedalangan datang dari diri sendiri. 

Karena, keluarganya tidak memaksa dan hanya memberikan dukungan kepadanya. Hasilnya, Rahma pun selalu semangat dan terus mengasah kemampuannya. Hingga pada akhirnya, kelihaiannya menjadi seorang dalang itu, dimanfaatkannya untuk meraih sebanyak-banyaknya pengalaman.



Baca: Elisha Orcarus Allasso, Sinden Cantik dengan Sejuta Talenta


Seperti saat masih duduk di bangku SMA, Rahma ikut dalam pertukaran pelajar dan dikirim ke Makassar. Disana secara khusus, Rahma mempersembahkan pertunjukkan wayang. 

Tak berhenti sampai di sana saja, Rahma juga membawa branding sebagai "dalang perempuan" ketika mengikuti dimas diajeng, hingga pemilihan Putri Indonesia DIY. 

Meski dunia pedalangan itu sudah ia kenal sejak kecil, namun hal tersebut tak lantas membuat Rahma memilih pendidikan ke jalur seni. Ia juga tak meraih gelar sarjana seni, namun sarjana pendidikan kimia di FMIPA UNY.

Karena bagi Rahma, ketika ia menguasai disiplin ilmu lain di luar seni, hal itu akan memperkaya wawasannya dalam berkesenian. 

Dara yang juga menekuni seni tari ini juga berharap suatu saat ia bisa memberikan sumbangsih kepada Indonesia, baik melalui dunia pedalangan, maupun ilmu kimia yang ia pelajari di perguruan tinggi.

Seiring berjalannya waktu, sampai dengan sekarang, Rahma masih aktif menjadi seorang dalang, kendati tidak sesering dahulu. Karena baginya, dalang sendiri merupakan hobi, bukan pekerjaan.

Rahma tentunya menjadi sosok yang bisa menjadi dalang perempuan di tengah dominasi laki-laki. Ia juga membuktikan bahwa tak hanya laki-laki saja yang bisa menjadi dalang, tapi perempuan juga mampu melakukannya.

Selama menjadi dalang, Rahma mengaku tak ada suara-suara negatif yang sampai ke telinganya. Justru sebaliknya, banyak orang yang bangga karena ada perempuan yang berani dalam melestarikan budaya.

"Pengennya anak-anak muda ikut melestarikan kesenian. Jadi, untuk generasi muda, yuk bareng-bareng melestarikan seni dan budaya!," ajak Rahma dengan semangat.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Komentar

Mengenang Nanu Moeljono, Sosok Pendiri Grup Lawak Legendaris Warkop DKI

Koropak.co.id, 22 March 2023 12:11:52

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Warung Kopi atau yang lebih dikenal dengan Warkop merupakan salah satu grup lawak legendaris Indonesia yang dibentuk oleh Nanu Moeljono, Rudy Badil, Wahjoe Sardono (Dono), Kasino Hadiwibowo (Kasino), dan Indrodjojo Kusumonegoro (Indro).

Nanu, Rudy, Dono dan Kasino merupakan mahasiswa Universitas Indonesia (UI), Jakarta. Sedangkan Indro berkuliah di Universitas Pancasila, Jakarta. Mereka pertama kalinya meraih kesuksesan lewat acara "Obrolan Santai di Warung Kopi" garapan Kepala Bagian Programming Radio Prambors, Temmy Lesanpura. 

Seiring berjalannya waktu, tercatat puluhan judul film pun telah mereka bintangi, bahkan selalu laris di pasaran. Meskipun masyarakat mengenal Warkop beranggotakan tiga orang yakni Dono, Kasino dan Indro. 

Akan tetapi sebenarnya terdapat dua anggota Warkop lainnya yakni Nanu dan Rudy. Tak hanya itu saja dua anggota Warkop tersebut bahkan terlibat aktif dalam membesarkan Warkop pada masa-masa awal saat masih bernama Warkop Prambors.

Salah satu anggota Warkop, Drs. Nanu Moeljono atau yang lebih dikenal dengan nama Nanu Moeljono, lahir di Jakarta pada 17 November 1952-an. Nanu merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara yang lahir dari ayah Jawa dan ibu Sunda.

Ia berkuliah di Universitas Indonesia dengan mengambil jurusan sosiologi. Menariknya saat kuliah, ia juga merupakan salah satu mahasiswa yang diajar oleh Dono. Menurut catatan harian Dono, Nanu sendiri sempat tidak lulus kelasnya karena sering bolos di kelas.

Nanu juga dikenal sebagai anggota Kelompok Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) bersama Dono dan Kasino. Sementara itu, Nanu sendiri memulai kariernya sebagai pelawak pada 1973-an saat dirinya bersama Kasino dan Rudy Badil.

Saat itu, ketiganya dipercaya untuk terlibat dalam program acara talkshow Warung Kopi yang disiarkan radio Prambors Jakarta setiap hari Kamis malam. Program tersebut pun cukup sukses hingga memiliki banyak penggemar setia pada masa itu.

Kesuksesan acara Warkop pun membuat mereka mulai mendapat tawaran untuk tampil di sejumlah pentas dan pertunjukan di berbagai kota, hingga pada akhirnya mereka sempat merilis album rekaman kaset komedi sampai membintangi banyak film yang melambungkan nama Warkop.



Baca: Kisah Perjalanan Hidup Nana Krip dan Sersan Prambors


Namun sayangnya, di masa-masa ini, Rudy Badil akhirnya memilih untuk menjadi sosok di belakang layar dibanding keempat personil Warkop lainnya yang tampil di pentas. Menariknya, hampir dalam setiap lawakannya, Nanu berperan atau selalu menggunakan dialog dengan logat Batak meskipun ia sebenarnya bukan orang Batak. 

Seiring berjalannya waktu, nama Warkop pun mulai populer dan dikenal luas oleh masyarakat secara nasional saat mereka membintangi film Mana Tahaaan... pada 1979-an. Film tersebut terasa istimewa, karena merupakan film nasional pertama mereka dengan kisah dalam filmnya yang juga ditulis sendiri oleh Warkop. 

Hal yang menggembirakannya lagi, film arahan sutradara Nawi Ismail yang juga dibintangi Elvie Sukaesih, Rahayu Effendi dan Kusno Sudjarwadi tersebut cukup sukses di pasaran. Kesuksesan film Mana Tahaaan... juga membuat Nanu mendapatkan tawaran sebagai pemeran utama untuk bermain dalam film Rojali dan Zuleha. 

Dalam film itu, Nanu beradu akting dengan Lydia Kandou, Elvie Sukaesih dan Titiek Puspa. Meskipun begitu, konon keterlibatan Nanu dalam film itu ternyata sempat menimbulkan polemik dikarenakan tidak dibicarakan sebelumnya dengan personil Warkop lainnya.

Terhitung sejak Agustus 1980, Nanu mulai tidak aktif baik di Warkop maupun dunia hiburan akibat menderita penyakit yang cukup serius. Sedangkan tiga personil Warkop lainnya, Dono, Kasino dan Indro tetap terus berkarya dan produktif membintangi film komedi.

Dengan kondisinya yang sakit itulah, Nanu pun lebih banyak menghabiskan waktu di rumahnya yang berada di Jalan Setiabudi Barat, Jakarta Selatan. Belakangan diketahui bahwa Nanu mengidap nephrotic syndrome, sebuah penyakit pada saringan ginjal. 

Akibat dari penyakit itu, kondisi tubuh Nanu saat itu semakin hari semakin terlihat kurus. Nanu pada akhirnya meninggal dunia di RSCM Jakarta dalam usia 31 tahun setelah berjuang melawan penyakit ginjal yang dideritanya sejak lama pada 22 Maret 1983 dan dimakamkan pada 23 Maret 1983 di pemakaman umum Tanah Kusir, Jakarta.

Nanu juga merupakan personil dan pendiri grup lawak Warkop pertama yang meninggal dunia. Setelah itu, Kasino menjadi personil Warkop kedua yang meninggal dunia pada 19 Desember 1997. Kemudian disusul Dono yang meninggal pada 30 Desember 2001. 

Sementara pendiri Warkop lainnya, yakni Rudy Badil dikabarkan meninggal dunia pada 11 Juli 2019. Sehingga saat ini satu-satunya personil Warkop yang masih hidup adalah Indro.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Kartono, Sang Alif dengan Ilmu Kantong Bolong

Koropak.co.id, 17 March 2023 15:08:57

Admin


Koropak.co.id - Lama mengembara di Eropa dan bekerja di tempat-tempat bergengsi, Raden Mas Panji Sosrokartono pulang ke Tanah Air dan memilih jalan hidup yang berbeda. Putra Bupati Jepara Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, kelahiran 10 April 1877, itu meniti dunia yang bertolak belakang dengan kehidupan sebelumnya.

Selama di Eropa, kakak kandung Raden Ajeng Kartini itu berkarier di banyak tempat, mulai jadi wartawan The New York Herald, atase di kedutaan besar Perancis, hingga jadi penerjemah bahasa di Persatuan Bangsa-Bangsa.

Pada 1925, Sosrokartono pulang ke Tanah Air dan pada 1927 memilih tinggal di Bandung. Salah satu aktivitas yang dilakukannya di Kota Kembang adalah membuka Balai Darussalam. Di tempat itu, Sosrokartono menapaki jalan spiritual dan membuka praktik pengobatan.

Ia mengabdikan diri untuk menolong orang-orang sakit. Uniknya, cara pengobatannya tidak seperti yang dilakukan para dokter. Ia hanya menggunakan air putih sebagai obat untuk segala macam penyakit. Lantaran itu ia dikenal dengan sebutan dokter cai atau dokter air. Bukan hanya warga Bandung, pasien-pasiennya berasal dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk orang-orang Eropa.

Sejak membuka Balai Darussalam, Kartono memang menekuni dunia kebatinan. Gerak dan pemikirannya tercurah pada jalan spiritual. Salah satu aktivitasnya adalah menyulam huruf alif dalam selembar kain yang dianyam dengan benang.

Huruf alim itu dibuatnya tidak asal-asalan. Ia menyulamnya sambil tirakat, serta kainnya tidak boleh disampirkan begitu saja seperti menjemur pakaian. Dengan memohon kepada Allah Subhanahu wata'ala, sulaman alif dan air putih itu digunakan untuk mengobati orang-orang.

Pemilihan huruf alif itu bukan tanpa alasan. Bagi Sosrokartono, huruf pertama dalam abjad bahasa Arab itu merupakan lambang tegak lurus yang mencerminkan kejujuran, keteguhan, kekukuhan, dan keyakinan kepada Allah Subhanahu wata'ala. Lantaran itulah ia dijuluki Sang Alif.



Baca: Kartono, Dari Wartawan di Eropa Jadi Penerjemah PBB


Seandainya mau, Kartono bisa saja memilih jalan hidup yang dipenuhi kemewahan. Sebagai putra bangsawan dan punya kecerdasan di atas rata-rata, ia bisa mendapatkan kekayaan berlimpah dengan cara mudah. Tapi itu tidak dilakukannya. 

Salah satu yang menjadi spirit gerakannya adalah ilmu kantong bolong. Ia mencurahkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk membantu sesama tanpa memikirkan imbalan. Itu menjadi jalan pengabdiannya sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan.

Dalam tesis yang ditulis Minanur Rohman Mahrus Maulana pada 2017, dijelaskan, ajaran ilmu kantong bolong tidak membuka ruang mementingkan diri sendiri secara berlebihan. Setiap manusia dituntut selalu menolong sesama tanpa pamrih.

Inti dari ilmu kantong bolong adalah mengosongkan diri pribadi dari pamrih dalam menolong sesama manusia. Sosrokartono tidak hanya sadar bahwa Tuhanlah yang harus disembah, tapi juga meyakini bahwa seluruh jiwa raga dipersembahkan kepada Tuhan.

Mereka yang melakukan perbuatan tanpa pamrih akan dijauhkan dari rasa takut. Batinnya akan selalu merdeka. Jalan itulah yang dipilih Sosrokartono. Ia melakukan semuanya kosong dari pamrih, tidak mengharap suatu apapun, hanya menjalankan pengabdian kepada Allah Subhanahu wata'ala.

Tak heran, di akhir hidupnya ia tidak meninggalkan banyak harta. Salah satu "peninggalannya" cuma selembar kain bersulam huruf alif. Sosrokartono menghembuskan napas terakhirnya pada Jumat, 8 Februari 1952, di Bandung dan dikebumikan di Jawa Tengah, tepatnya di kompleks makam keluarga Sedomukti, Kudus.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Melepas Kepergian Sang Aktris Legendaris, Nani Wijaya

Koropak.co.id, 16 March 2023 12:01:15

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Barat - Dunia hiburan tanah air kembali dirundung duka. Artis legendaris Indonesia, Nani Wijaya meninggal dunia sekitar pukul 03.28 WIB, setelah sebelumnya mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati, Jakarta Selatan, pada Kamis 16 Maret 2023.

Nani Wijaya meninggal dunia di usia ke-78 tahun. Diketahui, sebelum menghembuskan nafas terakhirnya dan meninggal dunia di RS Fatmawati, sang artis senior itu mengidap penyakit demensia, penyakit yang menyebabkan penurunan daya ingat dan cara berpikir.

Kabar duka tersebut pertama kalinya disampaikan oleh anak Nani Wijaya, Cahya Kamila melalui akun instagramnya. Dalam postingannya, Cahya kamila mengunggah foto Nani Wijaya mengenakan baju dan hijab berwarna putih sembari tersenyum.

"INNALILLAHIWINAILAIHIROJIUN Telah bepulang ibunda kami tercinta dengan tenang Ibu Hj. Nani Widjaya . Di Rs Fatmawaty 16 Maret 2023 pd pukul 3.28. Mohon dimaafkan segala kesalahan yg disengaja maupun tidak disengaja," tulis Cahya Kamila dalam unggahan di akun Instagram-nya, Kamis (16/3).

Jenazah Nani Wijaya rencananya akan dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pesantren Al Ihya, Bogor, Jawa Barat, dan akan dimakamkan satu liang lahad bersama dengan sang suami, Misbach Yusa Biran. Saat ini jenazah Nani Wijaya sendiri disemayamkan di rumah duka di kawasan Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Semasa hidupnya, Dra. Hj. Nani Widjaja atau yang lebih dikenal dengan nama Nani Wijaya, merupakan pemeran senior atau aktris legendaris kelahiran Cirebon, 10 November 1944. Nani Wijaya juga merupakan salah satu dari empat anggota Golden Girls bersama Ida Kusumah, Connie Sutedja, dan Rina Hassim.

Pada 1969, Nani Wijaya menikah dengan Misbach Yusa Biran, seorang sutradara, penulis, kolumnis, sastrawan, dan pelopor dokumentasi film Indonesia. Dari pernikahannya itu, keduanya pun dikarunia 6 orang anak bernama Nina Kartika, Tita Fitrah Soraya, Cahya Kamila, Firdausi, Farry Hanief, dan Sukma Ayu (meninggal dunia, 25 September 2004).



Baca: Mengenang Nur Tompel, Pelawak Pertama dengan Karakter Gagap di Indonesia


Pada 2012, sang sutradara legendaris, Misbach Yusa Biran. Berselang lima tahun kemudian atau tepatnya pada 2017, Nani Wijaya menikah kembali dengan seorang sastrawan dan budayawan, Ajip Rosidi. Namun pada 2020, Ajib Rosidi meninggal dunia.

Sementara itu, berbicara mengenai sepak terjang Nani Wijaya di dunia seni peran, diketahui ia sudah berkecimpung di di bidang tersebut sejak era 60-an. Bahkan berbagai film pun selalu ia mainkan setiap tahunnya, mulai dari Darah Tinggi (1960), Di Lereng Gunung Kawi (1961), Si Doel Anak Betawi (1973), dan Yang Muda Yang Bercinta, Nostalgia di SMA (1980).

Lalu ada, RA Kartini (1982), Opera Jakarta (1985), Catatan si Boy I (1987), III (1989) dan IV (1990), Cintapuccino (2007), Doa yang Mengancam (2008), hingga yang terbaru Ummi Aminah dan Mama Cake (2012).

Tak hanya bermain peran di layar lebar, Nani Wijaya juga kerap tampil menghiasi layar kaca. Bahkan ia telah menerima tawaran bermain sinetron sejak 1995-an, hingga membuatnya sudah tampil di berbagai judul sinetron.

Beberapa nama sinetron terkenal yang pernah diperankannya itu diantaranya, Wah Cintaku sebagai ibunya Cecep (2001-2002), Bajaj Bajuri sebagai Emak (2002-2007), Si Cecep (2004), Kemilau Cinta Kamila 1-3 (2010), Tukang Bubur Naik Haji the Series (2012-2017), hingga yang terbaru Cinta Mulia (2020-2021).

Malang melintang di dunia seni peran sejak dekade 60-an sampai dengan sekarang, membuatnya meraih berbagai penghargaan, diantaranya dalam Festival Film Indonesia sebagai Pemeran Pendukung Wanita Terbaik dalam film Yang Muda Yang Bercinta (1978) dan RA Kartini (1983).

Ia juga menerima penghargaan Lifetime Achievement Award dalam Festival Film Bandung (2010), Indonesian Movie Actor Awards (2021), dan Indonesian Drama Series Awards (2022).


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Kartono, Dari Wartawan di Eropa Jadi Penerjemah PBB

Koropak.co.id, 16 March 2023 08:07:46

Admin


Koropak.co.id - Perundingan antara Jerman dan Perancis itu berlangsung sangat tertutup. Hanya pihak-pihak tertentu yang tahu, karena dilakukan di atas gerbong kereta api yang diparkir di tengah hutan. Seorangpun tidak ada yang boleh menyebarluaskan hasilnya. Siapa yang melanggar akan ditembak mati tanpa melalui proses pengadilan.

Ancaman itu tidak membuat nyali Raden Mas Panji Sosrokartono menjadi ciut. Putra ketiga bupati Jepara Adipati Ario Sosroningrat, yang juga kakak kandung Raden Ajeng Kartini itu mendapatkan informasi yang sangat rahasia tersebut. 

Kartono yang saat itu bekerja sebagai wartawan The New York Herald biro Eropa memperoleh kabar rahasia tentang Jerman yang menyerah kepada Perancis. Ia lantas memuatnya dalam surat kabar asal Amerika Serikat itu.

Lantaran berita tersebut, seperti ditulis Minanur Rohman Mahrus Maulana dalam tesisnya yang ditulis pada 2017, nama Sosrokartono semakin melejit dan mendapat apresiasi tinggi dari kalangan jurnalis internasional.

Bukan hanya para wartawan, banyak orang penting di Eropa yang mengapresiasi kecerdasan Sosrokartono. Itu di antaranya terbukti dengan dipilihnya Sosrokartono menjadi juru bahasa tunggal blok Sekutu pada tahun 1918. 

Sosrokartono memang punya kecerdasan dalam penguasaan banyak bahasa. Bukan satu dua atau tiga, ia menguasai puluhan bahasa asing, termasuk bahasa Slavia dan Rusia. Karena itulah ia ditunjuk menjadi juru bicara setelah melalui proses seleksi yang ketat.

Sebagai juru bicara, ia bertugas menjelaskan berbagai hal kepada banyak pihak. Namun, lantaran harus menyampaikan informasi sesuai dengan kepentingan Sekutu, nuraninya berontak. Apalagi, tidak semua informasi yang disebarluaskan itu benar. Sosrokartono mengundurkan diri. Ia memutuskan berhenti jadi juru bicara.



Baca: Kartono, Orang Jawa yang Jadi Wartawan di Eropa


Tak lama setelah itu, pada 1919, Sosrokartono dipilih menjadi Atase pada kedutaan besar Perancis di ibukota kerajaan Belanda di Den Haag. Ia menjadi satu-satunya orang Jawa yang mendapatkan kedudukan tinggi di kedutaan tersebut.

Ia bertugas melakukan komunikasi dengan banyak pihak mewakili Pemerintah Perancis. Namun lantaran yang dilakukannya bukan untuk mewakili kepentingan bangsa Nusantara yang sedang dijajah Eropa, nurani Kartono kembali berontak. Ia mengundurkan diri sebagai atase kedutaan dan merencanakan pulang ke Tanah Air.

Namun, rencananya pulang ke Indonesia tidak bisa langsung dijalankan. Ia diangkat menjadi juru bahasa di Liga Bangsa-Bangsa yang berkedudukan di kota Genewa Swiss. Di tempat barunya itu, Sosrokartono mulai bergaul dengan diplomat-diplomat dan negarawan-negarawan dari banyak negara di dunia. 

Dibentuknya Liga Bangsa-Bangsa yang kemudian berganti nama jadi Persatuan Bangsa-Bangsa pada 1921 adalah untuk menciptakan perdamaian dunia. Namun, pada kenyataannya tidak begitu. Ada beberapa negara yang mendorong terjadinya perang, dan menjadikan PBB sebagai alat bagi negara-negara kuat untuk menguasai dunia.

Lagi-lagi, nurani Sosrokartono berontak. Kendati jabatannya sudah mapan, ia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai penerjemah di PBB. Setelah lama mengembara di negara-negara Eropa, Sosrokartono akhirnya pulang ke Tanah Air pada 1925.

Setelah menemui ibu dan saudara-saudaranya, termasuk ziarah ke makam ayahnya dan Kartini, Sosrokartono memutuskan tinggal di Bandung. Salah satu aktivitas yang dilakukannya di Kota Kembang itu adalah membuka Daroes Salam atau rumah yang damai. Di tempat itu, Sosrokartono menapaki jalan spiritual dan membuka praktik pengobatan.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Kartono, Orang Jawa yang Jadi Wartawan di Eropa

Koropak.co.id, 15 March 2023 15:16:35

Admin


Koropak.co.id - Kartono bisa jadi kalah tenar oleh Kartini. Kendati keduanya merupakan kakak adik kandung, namun nama Kartini lebih familiar di masyarakat. Padahal, sepak terjang Kartono tak kalah memukau. 

Kakak kandung Raden Ajeng Kartini itu diketahui menguasai puluhan bahasa asing dan menjadi wartawan kala perang dunia pertama berkecamuk. Dia memang bukan sembarang orang. Nama lengkapnya adalah Raden Mas Panji Sosrokartono.

Lahir pada 10 April 1877 di Mayong Jepara, Raden Mas Panji Sosrokartono merupakan anak ketiga dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara periode 1880 s.d. 1905. Dari pernikahan dengan istri keduanya, Ngasirah, bupati Sosroningrat punya delapan anak, dua di antaranya adalah Kartono dan Kartini.

Dalam tesis Minanur Rohman Mahrus Maulana yang ditulis pada 2017 dijelaskan, selain berasal dari keluarga bangsawan, Sosrokartono juga memiliki kecerdasan yang luar biasa. Pada usia delapan tahun, ia masuk sekolah rendah Belanda bernama ELS di Jepara.

Sebenarnya, sekolah tersebut khusus untuk anak-anak keturunan Belanda dan ada kuota terbatas untuk anak-anak bangsawan. Sosrokartono adalah salah satunya.

Tujuh tahun menimba ilmu di ELS, ia lulus dengan nilai bahasa Belanda yang baik, sehingga bisa melanjutkan sekolah di Hogere Burger School (HBS) di Semarang. Waktu itu HBS hanya ada di tiga tempat, yaitu di Batavia, Surabaya, dan Semarang. Sosrokartono beruntung bisa sekolah di sana.

Apalagi, selama sekolah di HBS Semarang, ia tinggal di keluarga Belanda, sehingga bisa belajar banyak hal, mulai menambah kekayaan khazanah bahasa hingga memahami cara hidup orang Belanda.

Setelah lima tahun sekolah di HBS Semarang, pada 1897 Sosrokartono lulus dengan nilai yang memuaskan. Karangannya dalam bahasa Jerman mendapat apresiasi bagus, bahkan melebihi siswa lain yang merupakan anak-anak Belanda.

Kecerdasan Sosrokartono membuat decak kagum banyak orang. Ia lantas disarankan untuk melanjutkan pendidikan ke Belanda. Semula pihak keluarga keberatan, namun akhirnya ia diizinkan berangkat ke sana saat usianya masih 20 tahunan.

Salah satu orang yang mendorongnya kuliah di Belanda adalah Ir. Heyning, seorang insinyur berkebangsaan Belanda. Ia pun menyarankan Sosrokartono untuk masuk Sekolah Tinggi Teknik di Delft Jurusan Pengairan. 



Baca: Tjipto Mangoenkoesoemo, Sang Tiga Serangkai Pendiri Organisasi Indische Partij


Saran itu bukan tanpa alasan. Setelah kelak menuntaskan kuliahnya, Sosrokartono diharapkan bisa membantu meningkatkan produksi pertanian di Jepara, termasuk mengatasi ancaman krisis air yang diperkirakan akan terjadi di wilayah tersebut.

Sosrokartono menuruti saran itu. Ia kuliah di bidang teknik sipil pengairan. Namun, keberadaannya di sana tak bertahan lama. Setelah dijalani, ia merasa kurang cocok dengan jurusan tersebut. Minat belajarnya lebih tertumpu pada sastra.

Setelah dua tahun menimba ilmu di Polytechnische School te Delft, ia memutuskan keluar dan memilih pindah ke Universitas Leiden, masuk Jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur. Pilihannya pada sastra itu sesuai dengan minatnya. Sejak sekolah di HBS Semarang, Sosrokartono memang unggul dalam bidang bahasa dan sastra.

Setelah lulus dari Universitas Leiden pada 1908, Sosrokartono meraih gelar Sarjana Bahasa dan Sastra Timur. Kendati sudah menyelesaikan agenda akademiknya, ia tidak langsung pulang ke Tanah Air. Ia masih ingin menimba pengalaman yang lebih banyak di bumi Eropa.

Salah satu aktivitasnya selama di sana adalah menjadi wartawan The New York Herald. Kemampuannya dalam berbahasa asing menjadi pintu masuk baginya bekerja di surat kabar yang bermarkas di Amerika Serikat itu.

Sosrokartono diketahui menguasai lebih dari 30 bahasa, dan sebagian orang Eropa memberinya julukan Si Jenius dari Timur. Untuk diterima di The New York Herald, ia harus melalui satu tes dengan memadatkan satu tulisan panjang menjadi berita pendek berjumlah kisaran 30 kata.

Berita itu harus ditulis dalam empat bahasa, yaitu Spanyol, Rusia, Perancis, dan Inggris. Sosrokartono berhasil menuntaskan tugas itu, dan membuatnya menjadi 27 kata hingga diterima jadi wartawan. Agar mempunyai akses luas selama liputan di medan perang, ia lantas diberi pangkat mayor.

Salah satu prestasi terbaik Sosrokartono saat menjadi wartawan adalah menyebarluaskan hasil perundingan antara Jerman dan Perancis. Padahal, perundingan itu sifatnya sangat rahasia. Jangankan isi kesepakatan, tempatnya pun sangat tertutup dan tidak banyak orang tahu.

Dalam perundingan yang dilakukan di atas gerbong kereta api itu diketahui bahwa Jerman menyerah kepada Perancis. Tidak dijelaskan dari mana dan bagaimana mendapatkan informasi tersebut, Sosrokartono menyiarkan hasil perundingan tersebut dalam The New York Herald. Lantaran berita itu, nama Sosrokartono semakin melejit dan mendapat apresiasi tinggi dari kalangan jurnalis internasional.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Tjipto Mangoenkoesoemo, Sang Tiga Serangkai Pendiri Organisasi Indische Partij

Koropak.co.id, 13 March 2023 15:12:09

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Sejarah Indonesia tentunya tidak pernah lepas dari perjuangan tokoh-tokoh besar. Salah satunya adalah Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo. Diketahui, Tjipto Mangoenkoesoemo sendiri merupakan tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia yang berkecimpung di bidang perpolitikan. 

Tercatat, ia juga termasuk 3 serangkai yang mendirikan Indische Partij bersama Ernest Douwes Dekker dan Soewardi Soerjaningrat. Tjipto Mangoenkoesoemo lahir di Desa Pecangan, Jepara, Karesidenan Semarang, 4 Maret 1888. Ia merupakan anak dari Mangoenkoesoemo, seorang priyayi Jawa yang berkedudukan sebagai guru dan pembantu administrasi pada Dewan Kota Semarang. 

Sementara ibunya adalah wanita keturunan dari tuan tanah asal Jepara. Semasa kecilnya, Tjipto Mangoenkoesoemo beserta adik-adiknya memiliki kesempatan untuk bersekolah di STOVIA. Saat masih sekolah, ia dikenal sebagai pribadi yang jujur, berpikiran tajam, sekaligus rajin. Di sana, ia juga dikenal sebagai orang yang tegas dalam bertindak dan termasuk orang yang berani melawan arus. 

Pada 20 Mei 1908, Organisasi Boedi Oetomo terbentuk. Tjipto Mangoenkoesoemo pun menyambut baik berdirinya organisasi tersebut. Bukan tanpa alasan, ia menilai organisasi tersebut merupakan wujud kesadaran pribumi akan identitasnya sendiri.

Meskipun demikian, dalam kongres pertama yang berlangsung di Yogyakarta, terjadi perpecahan antara Tjipto Mangoenkoesoemo dan Radjiman Wedyodiningrat.

Salah satu harapannya kala itu adalah menjadikan Boedi Oetomo sebagai wadah mereka dalam berorganisasi politik yang berjuang secara demokratis dan terbuka bagi masyarakat Indonesia. Sedangkan Radjiman sendiri menginginkan organisasi Boedi Oetomo sebagai gerakan kebudayaan yang bersifat Jawa sentris.

Meskipun ia diangkat menjadi pengurus Boedi Oetomo, namun Tjipto Mangoenkoesoemo pada akhirnya mengundurkan diri dari organisasi tersebut. Ia beranggapan bahwa organisasi itu tidak mewakili aspirasinya. Pasalnya ia sendiri selalu ingin bahwa ada jalan bagi timbulnya persatuan di antara seluruh rakyat di Hindia Belanda, dan tidak hanya fokus pada masyarakat Jawa.

Setelah mengundurkan diri dari Boedi Oetomo, ia kemudian melanjutkan kiprahnya sebagai dokter di Solo. Namun di sela-sela kesibukannya, ia juga mendirikan organisasi Raden Ajeng Kartini Klub.

Organisasi tersebut bergerak di bidang sosial dan peduli dengan kesejahteraan nasib rakyat. Kemudian pada  1912, ia mendirikan Indische Partij bersama dengan Ernest Douwes Dekker dan Soewardi Soerjaningrat.



Baca: Mengenal Siti Walidah, Sang Fajar yang Terbit dari Muhammadiyah


Baginya, gerakan yang baru didirikannya itu merupakan upaya mulia mewakili kepentingan-kepentingan semua penduduk Hindia Belanda yang tidak memandang suku, golongan, dan agama apapun. Indische Partij juga merupakan gerakan politik untuk seluruh rakyat Hindia Belanda.

Diketahui juga bahwa Tjipto Mangoenkoesoemo dan Douwes Dekker adalah sahabat karib yang sangat dekat. Bahkan pada 1912, Tjipto Mangoenkoesoemo pindah ke Bandung agar lebih dekat dengan sahabatnya tersebut. Ia kemudian menjadi anggota redaksi penerbitan harian de Express dan majalah het Tijdschrift.

Ia juga mendirikan sebuah komite yang diberi nama Komite Bumi Putra dan di komite itu ia menjadi ketuanya. Komite tersebut juga pernah menerbitkan sebuah artikel Suwardi Suryaningrat yang berjudul "Andaikan Saya Seorang Belanda". Tak hanya itu saja, ia juga menuliskan dukungannya terhadap Suwardi untuk memboikot perayaan kemerdekaan Belanda.

Tulisannya dan Suwardi berhasil memukul pemerintah, sehingga pada 30 Juli 1913, ia dan Suwardi dipenjarakan. Pada 1913 juga, keluar surat keputusan untuk membuang Tjipto Mangoenkoesoemo bersama dengan Suwardi dan Douwes Dekker ke Belanda dikarenakan kegiatan propagandanya dalam Komite Bumi Putra.

Setahun kemudian atau tepatnya pada 1914, Tjipto Mangoenkoesoemo pulang ke Jawa dan kembali berjuang. Oleh karena itulah ia kemudian diasingkan pada 15 Oktober 1920 di daerah yang tidak berbahasa Jawa. Pada 19 Desember 1927, ia selanjutnya dibuang ke Banda, Maluku.

Dalam pembuangannya itu, penyakit asma yang dideritanya kambuh. Meskipun beberapa orang memintanya untuk pulang ke Jawa, ia justru menolak hingga pada akhirnya dialihkan ke Bali, Makassar. Selanjutnya pada 1940 ia dipindahkan ke Sukabumi. Ia juga kemudian meninggal pada 8 Maret 1943 akibat penyakit asma yang dideritanya.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Mengenal Siti Walidah, Sang Fajar yang Terbit dari Muhammadiyah

Koropak.co.id, 12 March 2023 12:24:48

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Apakah kalian mengenal Siti Walidah? Ia merupakan sosok pahlawan nasional yang jejaknya tertutup oleh bayang-bayang sang suami, K.H Ahmad Dahlan, sang pendiri organisasi Islam, Muhammadiyah. 

Siti Walidah sendiri memberikan peran yang sangat banyak dalam pendirian Muhammadiyah. Siti Walidah lahir di Kauman, Yogyakarta pada 3 Januari 1827. Diketahui, masyarakat yang tinggal di Kauman juga merupakan keluarga ulama yang memiliki pengetahuan agama dan menjunjung nilai-nilai Islam.

Walidah atau yang kelak dipanggil sebagai Nyai Ahmad Dahlan ini dilahirkan di tengah lingkungan keluarga yang taat dalam menjalankan ajaran agama Islam. Bahkan ayahnya, H Muhammad Fadli dikenal sebagai seorang Penghulu Kraton Yogyakarta.

Kholid O Santosa dalam "Kekasih Orang-Orang Pergerakan" memaparkan, dengan lingkungan keluarga yang seperti itu, membuat Siti Walidah tumbuh dalam keluarga sederhana dari aspek ekonomi. Padahal, keluarga Siti Walidah itu sebenarnya memiliki usaha batik yang cukup sukses. 

Akan tetapi mereka lebih mengedepankan semangat Islam dan disiplin tinggi dalam mendidik anak-anaknya. Dalam perjalanan hidupnya, Siti Walidah dikenal sebagai sosok yang cenderung menonjol dibandingkan dengan kawan-kawannya, terutama dalam hal keberanian dan kelancaran berbicara. 

Namun sayangnya, ia lahir pada masa di mana seorang anak perempuan tidak mendapatkan kesempatan yang sama dengan laki-laki. Situasi tersebut membuat Siti Walidah tidak pernah menempuh pendidikan formal di sekolah umum yang didirikan oleh pemerintah Belanda.

Meskipun begitu, ia bisa menggantinya dengan secara aktif mengikuti pendidikan agama dari sang ayah dan ulama lainnya. Bahkan Siti Walidah selalu tekun dan hikmat dalam mengikuti pelajaran yang diberikan sang ayah.

Hari-hari Siti Walidah pun diisi dengan membaca kitab-kitab agama Islam dan mengaji Al-Qur'an. Selain itu, ia juga mendapatkan pendidikan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan perempuan, baik sebagai istri maupun ibu.

Oleh karena itulah, kendati tidak mendapatkan pendidikan formal, Siti Walidah justru memiliki wawasan dan pandangan yang luas tentang ilmu-ilmu Islam yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat.



Baca: Rahmah El Yunusiyah, Berjuang Demi Terang Martabat Perempuan


Setelah beranjak dewasa, lantas Siti Walidah dinikahkan dengan anak dari kerabat ayahnya, bernama Muhammad Darwis yang kelak berganti nama menjadi Ahmad Dahlan dan mendirikan organisasi Muhammadiyah pada 18 November 1912 Masehi.

Dalam membantu perjuangan suaminya, Siti Walidah tidak hanya sekadar menjalankan perintah. Akan tetapi, ia juga mempunyai ide-ide unik yang melampaui zamannya, namun tetap atas restu dari suaminya.

Beberapa ide unik yang lahir dari pemikiran Siti Walidah itu dalam rangka mendukung perjuangan sang suami diantaranya pengajian Wal Asri, Pengajian Maghribi, Sopo Tresno, dan Internaat. Dalam aspek itu, ia juga tampil untuk kemajuan para perempuan Muslimah. 

Pasalnya ia menyadari sepenuhnya, bahwa kesempatan belajar itu bukan hanya milik kaum laki-laki saja, akan tetapi juga perempuan yang mempunyai keinginan sama.

Diceritakan, Siti Walidah kemudian mulai melangkah dengan menyelenggarakan pendidikan (pengajian) kaum wanita di beberapa Kampung, seperti di Kampung Kauman, Lempuyangan, Karangkajen, dan Pakualaman yang dikenal dengan nama Wal Ashri.

Ia juga memberikan perhatian kepada buruh perempuan di unit usaha batik Kauman serta memberikan pengajaran pada buruh perempuan sepulang mereka bekerja. Perkumpulan pengajian inilah yang kemudian dikenal dengan nama Maghribi School.

Selain kepada kaum wanita, Siti Walidah juga memberikan perhatian kepada pada gadis dengan menyediakan sebuah asrama yang kelak popular disebut Internaat.

Internaat sendiri merupakan konsep asrama perempuan yang membekali anak-anak perempuan dengan kemampuan kepemimpinan, kemampuan berpidato di depan orang banyak sampai dengan kemampuan mengelola rumah tangganya dan ekonomi keluarga.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Rahmah El Yunusiyah, Berjuang Demi Terang Martabat Perempuan

Koropak.co.id, 05 March 2023 12:17:36

Admin


Koropak.co.id - Perempuan yang satu ini memang tidak setenar Raden Ajeng Kartini yang disebut-sebut sebagai tokoh emansipasi wanita. Namun, kiprahnya dalam membebaskan kaum hawa dari belenggu kebodohan tak usah diragukan. Dunia sudah mengakuinya. Hingga sekarang, mercusuar perjuangannya masih bersinar dan terus menebar cahaya ilmu.

Dia adalah Rahmah El Yunusiyah. Perempuan kelahiran Padang Panjang, Sumatra Barat, 29 Desember 1900, itu merupakan pendiri Diniyah Putri, pesantren khusus perempuan pertama di Indonesia. 

Sekolah tersebut dirintis Rahmah kala umurnya masih 23 tahun, tepatnya pada 1 November 1923, dan sampai saat ini masih beroperasi. Di kala negeri ini belum merdeka, saat penjajahan mencengkram sadis bumi pertiwi, Rahmah El Yunusiyah bergerak nyata dalam membebaskan kaum perempuan dari keterbelakangan.

Di usianya yang masih muda, putri pasangan Muhammad Yunus dan Rafi'ah itu tumbuh menjadi perempuan muda yang berbahaya. Dikatakan berbahaya lantaran gerak-geriknya mengancam pemerintah kolonial, sehingga dijuluki ibu pasukan ekstrimis. Bukan saja di era kolonial Belanda, saat Jepang berkuasa pun sama. Prinsip dan perjuangan Rahmah El Yunusiyah tidak goyah.

Rahmah dengan tegas menolak tawaran bantuan dari kolonial Belanda, lantaran ogah didikte. Ia tidak mau sekolah yang didirikannya berada di bawah pengawasan Belanda dan organisasi manapun, karena ingin bebas dari kepentingan politik apapun.

Satu-satunya yang menjadi pijak gerakannya cuma ajaran Islam. Apapun yang dilakukan, termasuk membela Tanah Air, harus berlandaskan iman sebagai wujud pengabdian kepada Allah Subhanahu wata'ala.

Rahmah pun menolak peraturan Belanda tentang Ordonansi Sekolah Liar yang bertujuan membatasi pendidikan bagi pribumi. Ia menentang dan enggan mendaftarkan sekolahnya ke pemerintah kolonial. 

Akibatnya, ia dibawa ke pengadilan dan didenda seratus gulden. Sekolah Diniyah Putri miliknya juga digeledah, dan tiga gurunya dilarang mengajar. Namun, perlakuan kolonial itu tidak lantas memadamkan api perjuangannya.

Spektrum pergerakan Rahmah malah lebih luas. Bukan hanya bergerak di bidang pendidikan, ia juga terlibat dalam gerakan-gerakan yang mengancam kolonial. Dua di antaranya menjadi pelopor Tentara Keamanan Rakyat di Sumatra Barat dan Sabil Muslimat.

Ia juga aktif dalam Anggota Daerah Ibu yang bergerak di bidang sosial. Di saat masyarakat mengalami kesulitan lantaran dampak perang Asia Timur Raya melawan Sekutu, Rahmah bersama Anggota Daerah Ibu bergerak mengumpulkan makanan dan pakaian. Mereka mengumpulkan beras dan segala hal yang bisa diberikan kepada masyarakat.

Dalam kongres perempuan Indonesia di Batavia pada 1935, Rahmah El Yunusiyah yang mewakili Serikat Kaum Ibu Sumatra, nyaring menyuarakan penggunaan jilbab bagi kaum muslimah. Sikapnya tidak berubah. Di manapun berada, dia selalu memperjuangkan prinsip-prinsip hidup yang berlandaskan ajaran agama. 



Baca: Des Alwi, Anak Angkat Bung Hatta dan Sutan Sjahrir yang Dijuluki Pelobi Tingkat Tinggi


Di masa penjajahan Jepang pun begitu. Ia berdiri paling depan dalam membela martabat kaum perempuan. Ia misalnya lantang menetang rumah prostitusi yang menjadikan perempuan-perempuan Indonesia sebagai pemuas berahi para tentara. Jepang akhirnya menutup semua rumah prostitusi di Sumatra Barat.

Lantaran sikapnya yang tidak kenal kompromi, saat terjadi Agresi Militer Belanda, Rahmah yang kala itu memimpin Tentara Keamanan Rakyat Padang Panjang ditangkap Belanda pada 7 Januari 1949.

Bahkan, Rahmah pun berseberangan sikap dengan Pemerintah Indonesia. Ia menentang Presiden Soekarno yang merangkul orang-orang Partai Komunis Indonesia. Rahmah lantas bergabung dengan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang didirikan Syafruddin Prawiranegara di Bukittinggi pada 1958.

Lantaran dianggap kelompok pemberontak, Pemerintah Republik Indonesia bergerak untuk menumpas PRRI. Kendati sempat masuk keluar hutan untuk menyelamatkan diri dari kejaran tentara Indonesia, Rahmah tertangkap pada Agustus 1961.

Padahal, sebelumnya pada Juni 1957, Rahmah diundang ke Universitas Al-Azhar Mesir dan diberi gelar Syekhah, setara dengan doktor honoris causa. Gelar kehormatan itu baru pertama kali diberikan Al-Azhar kepada seorang perempuan. 

Kedatangan Rahmah ke Al-Azhar mencatat sejarah baru di salah satu kampus tertua di dunia itu. Setelah sekitar 900 tahun berdiri, Al-Azhar tidak membuka ruang pendidikan bagi perempuan. 

Namun, sejak Imam Besar Al-Azhar, Abdurrahman Taj, pada 1956 berkunjung ke Padang Panjang dan melihat sekolah yang didirikan Rahmah, ia terinspirasi untuk melakukan hal yang sama di Al-Azhar. Lantas, sejak 1958, setelah ratusan tahun berdiri, Al-Azhar mulai membuka fakultas khusus perempuan.

Mercusuar perjuangan Rahmah bukan hanya menyinari Padang Panjang, tapi juga sampai ke negeri orang. Namun, derap perjuangan Rahmah El Yunusiyah terhenti setelah jantungnya tak lagi berdetak. 

Ia meninggal dunia pada 26 Februari 1969 dalam salah satu momen yang dirindukan setiap muslim. Rahmah mengembuskan napas terakhirnya saat berwudu menjelang salat Magrib. Jenazahnya dikebumikan di kompleks sekolah yang ia dirikan.

Sejarah boleh saja mencatat nama Rahmah tidak seharum Kartini dengan "Habis Gelap Terbitlah Terang"-nya itu, namun sepak terjang Rahmah El Yunusiyah dalam membebaskan kaum hawa dari belenggu kebodohan terasa nyata hingga sekarang.

Sampai sekarang, mercusuar perjuangannya masih bersinar terang dan terus menebar cahaya ilmu. Saat ini Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang telah berkembang pesat dengan memiliki lima program pendidikan, mulai Taman Kanak-Kanak hingga sekolah tinggi.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Kisah Sri Tanjung Sugiarti Tarka Menjaga Kelestarian Kertas Daluang

Koropak.co.id, 04 March 2023 07:02:18

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Barat - Di masa lampau, kertas daluang sudah digunakan sebagai media tulis. Siapa sangka juga bahwa kini, kertas tradisional khas Nusantara itu juga digemari wanita cantik bernama Sri Tanjung Sugiarti Tarka. 

Di tengah kesibukannya, gadis cantik asal Desa Cikedung Lor, Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat itu dengan telatennya merawat pohon saeh yang diketahui merupakan bahan utama penghasil kertas daluang.

Gadis yang akrab disapa Tanjung ini mengaku bahwa dirinya tidak pernah menyangka akan bisa menjaga kelestarian kertas tradisional khas Nusantara tersebut. Di sisi lain, kertas yang digunakan masyarakat Indonesia sejak abad ke-7 itu juga ternyata tetap digunakannya untuk menyalin naskah kuno hingga aneka kerajinan dari sisa produksi.

"Awalnya, ayah saya (Almarhum Ki Tarka) yang juga konsen menjaga naskah kuno itu mendapatkan lima bibit pohon saeh dari salah satu rekannya yang merupakan dosen sekaligus ahli kertas daluang Indonesia bernama Dr Tedy Permadi. Mulai dari situlah kami sebar lima bibit pohon saeh itu di pekarangan tanah kosong," kata Tanjung sebagaimana dilansir dari detikJabar. 

Ketua Yayasan Surya Pringga Dermayu itu menambahkan, kelima pohon saeh yang ditanamnya pada 2018 itu semakin bertambah. Selain itu, pertumbuhannya yang tidak membutuhkan perawatan khusus membuatnya kian menyebar. Kini, hampir setiap anggota sanggar menanam pohon saeh tersebut.



Baca: Kisah Wawan Gunawan, Perajin Terompet Pencak


"Kalau di sini ada 30 Bata, tapi pohon saeh itu juga kini menyebar di setiap kebun anggota sanggar. Bukan hanya merawat pohon saeh saja, anggota sanggar juga dapat mempelajari cara membuat kertas dari kulit pohon saeh tersebut. Sehingga dengan kertas daluang, mereka pun bisa menyalin setiap naskah kuno yang kini masih terjaga," tambahnya.

Tanjung menuturkan bahwa pada awalnya hanya 3 orang saja yang bisa membuat kertas daluang, akan tetapi kini sudah ada tujuh orang di sanggar yang bisa membuat kertas daluang. Selain itu, berkat kekompakan dan kesungguhan para anggota sanggar, kini kertas daluang hasil produksinya pun semakin tenar. 

"Tak hanya dijadikan sebagai media menyalin naskah kuno, kertas daluang dan bibit pohon saeh ini juga sudah banyak di pesan. Meskipun begitu, saya sendiri membuat kertas daluang ini untuk melestarikan kertas tradisional yang dimiliki masyarakat Indonesia. Sama halnya dengan negara lain yakni Korea dan Jepang, masih banyak generasinya yang merawat kertas tradisionalnya," tuturnya.

Seiring berjalannya waktu, saat ini anggota sanggarnya juga terus berinovasi dengan pohon saeh yang ditanamnya itu. Tidak hanya menjadi media tulis, beberapa orang pun memanfaatkan kertas daluang ini untuk melukis. Bahkan, mereka juga mulai memanfaatkan sisa kayu saeh dan kertas sisa yang tidak terpakainya untuk dijadikan aneka aksesoris. 

"Selain menjadi media tulis menulis, kertas daluang di daerah tertentu dinamakan kertas suci untuk ibadah atau bisa menjadi pakaian, lukisan, hingga yang terbaru dibikin menjadi kerajinan kayak kapal atau topeng yang saat ini juga sedang di coba di sanggarnya," pungkasnya.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Mengenang Nur Tompel, Pelawak Pertama dengan Karakter Gagap di Indonesia

Koropak.co.id, 02 March 2023 15:14:57

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Mohammad Nur atau yang lebih dikenal dengan nama Nur Tompel merupakan pelawak Indonesia yang terkenal dengan ciri khas berbicaranya yang terbata-bata atau gagap serta tompel besar di pipinya saat tampil melawak. Dikarenakan hal itulah, ia pun mendapat julukan "Nur Tompel".

Nur Tompel memiliki seorang ayah bernama Haji Yahya. Ia juga menikah dengan seorang wanita bernama Imas. Dari hasil pernikahannya itu, keduanya dikarunia empat orang anak.

Sebelum karakter gagap juga melekat pada pelawak Azis Gagap, Pria kelahiran Jakarta, 9 September 1954 inilah yang merupakan pelawak pertama di Indonesia yang terkenal karena karakter gagapnya. 

Nur Tompel mulai terkenal sejak dirinya membintangi acara komedi "Pepesan Kosong" yang ditayangkan di TPI pada 1990-an. Dalam acara itu, Nur Tompel tampil bersama dengan pelawak-pelawak Indonesia lainnya seperti Parto Patrio dan Denny Cagur. 

Di sisi lain, Nur Tompel juga merupakan sosok pelawak yang sangat disukai oleh masyarakat. Pasalnya ia sering wara-wari tampil di berbagai acara, baik itu acara televisi maupun panggung hiburan.

Dalam setiap penampilan yang dibawakannya, dengan gaya dan ciri khasnya yang unik, Nur Tompel selalu berhasil membuat penonton tertawa. Seiring bertambahnya usia, membuat kesehatan Nur Tompel juga semakin menurun.



Baca: Mengenang Gusti Jamhar Akbar, Sang Maestro Seni Balamut


Bahkan ia harus dirawat di Rumah Sakit Menteng Mitra Afia di kawasan Kali Pasir, Cikini, Jakarta Pusat akibat penyakit yang dideritanya. Pada 2 Maret 2019, Nur Tompel pun meninggal dunia dalam usia 64 tahun setelah berjuang melawan penyakit Tuberkulosis (TB) yang dideritanya.

Semasa hidupnya, Nur Tompel sudah jarang beraktivitas di dunia hiburan dan ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan berjualan lukisan. Hal tersebut dibenarkan oleh Soleh, anak pertamanya.

"Bapak sih belakangan ini, lagi rutin ngelukis dan jualan lukisan. Tapi kebanyakan lukisan yang dibuat bapak sendiri tidak dijual dan disimpan di rumah. Bapak hanya menjual lukisan-lukisan karya temannya saja ke kolektor-kolektor lukisan," ucap Soleh, anak pertama Nur Tompel di rumah duka di Jalan Anyer, Menteng, Jakarta Pusat saat itu.

Meninggalnya Nur Tompel ini juga sekaligus membuat dunia hiburan Indonesia kehilangan lagi salah satu sosok pelawak legendarisnya. Di hari yang sama, Nur Tompel dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Menteng Pulo, Jakarta. 

Meskipun sang pelawak legendaris itu sudah tiada, namun sosok Nur Tompel tetap dikenang masyarakat Indonesia sebagai salah satu pelawak terbaik dalam sejarah hiburan tanah air.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Mengenang Gusti Jamhar Akbar, Sang Maestro Seni Balamut

Koropak.co.id, 28 February 2023 07:10:33

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Gusti Jamhar Akbar, dikenal sebagai Jamhar merupakan seniman Indonesia yang senantiasa setia memainkan seni bertutur, Balamut hingga akhir hayatnya dan Jamhar meninggal dunia pada 28 Februari 2021. Diketahui, pria kelahiran Alalak, 7 November 1942 ini sudah menjadi pelamutan atau orang yang menyampaikan cerita lamut sejak usia 10 tahun.

Pria yang akrab disapa Kai Jamhar ini merupakan anak dari pasangan Raden Rosmono (ayah) dan Gusti Ardiani (ibu). Sejak kecil Jamhar sudah pandai bermain lamut. Alasannya dikarenakan ia selalu diajak oleh sang ayah, Raden Rosmono untuk mendampingi bermain lamut. 

Jamhar menikah dengan seorang wanita keturunan Tionghoa yang juga penggemar lamut bernama Chen Kwan Chen atau dikenal juga dengan nama Nur Asia. Dari hasil pernikahannya, keduanya pun dikaruniai 6 orang anak bernama Gusti Nur Aina, Gusti Ruwaida, Gusti Mahrita, Gusti Pansurna, Gusti Aminin dan Gusti Mursalin.

Dalam keluarga Jamhar, kesenian lamut ini diwariskan secara turun-temurun, dan Jamhar merupakan keturunan keempat. Tercatat, kesenian lamut itu pertama kalinya dikuasai oleh datunya (buyut), Raden Ngabe Jayanegara dari Yogyakarta yang belajar lamut saat ia menjadi utusan Kerajaan Banjar.

Kala itu ia bertugas di Amuntai, atau yang kini menjadi Ibu Kota Kabupaten Hulu Sungai Utara. Sementara itu, masa keemasan Jamhar sendiri terjadi pada 1960-an s.d 1985-an. Pada masa keemasannya saat itu, penonton sampai berdesakan setiap kali ia memainkan lamut.

Bahkan mereka sampai tak beranjak hingga semalam suntuk hanya untuk mendengarkan kisahnya. Pasalnya, pada masa itu juga hampir setiap malam ia diundang warga untuk balamut. Menariknya lagi, undangan yang didapatkannya kala itu tidak hanya dari Kalimantan Selatan (Kalsel) saja.

Akan tetapi Jamhar sampai harus berlamut hingga ke Jakarta, Surabaya, dan beberapa kota di Kalimantan Tengah. Selain itu, tamu yang datang ke rumahnya untuk berobat dengan Balamut juga malah ada yang dari Sulawesi Selatan hingga Thailand. Sebagaimana diketahui, selain sekedar hiburan, kesenian ini juga dibuat untuk pengobatan.



Baca: Profil Ayu Bulantrisna Djelantik, Pencinta Tari Hingga Mati


Berbicara mengenai kehidupan Jamhar, sangat sederhana. Pria berbadan kurus ini tinggal di permukiman padat penduduk. Bahkan untuk sampai ke rumahnya di Gang Mujahid Aman, Kelurahan Alalak Selatan, Kecamatan Banjar Utara, Banjarmasin, Kalsel, orang-orang harus berjalan secara perlahan karena hanya bisa dilewati satu sepeda motor saja.

Di rumah kayunya itu juga tak ada meja makan. Sehingga Jamhar biasanya menerima tamu dengan duduk di lantai di ruang tamu. Maklum saja, kursi tamu plastik yang tersedia di rumahnya juga hanya ada dua. Di ruang itu juga terpasang foto ayahnya, Raden Rosmono serta tiga piagam penghargaan yang diterima Jamhar. 

Kondisi tersebut tentunya sangat kontras sekali dengan peran besarnya dalam pelestarian kesenian tradisional dari Kalsel ini. Tak hanya warga lokal, lamut juga digemari warga keturunan Tionghoa di Banjarmasin, dan mereka kerap meminta lamut untuk dimainkan saat hendak sembahyang di Pulau Kembang di tengah Sungai Barito di Banjarmasin.

Bisa dikatakan bahwa seni lamut khas Kalsel itu bernasib malang dikarenakan saat ini tengah di ambang kepunahan. Satu per satu pelamutan meninggal dunia, sementara proses pewarisan dan regenerasi kesenian tersebut mandek. Di sisi lain, seni berkisah itu juga semakin ditinggalkan karena generasi muda yang tak lagi tertarik untuk memainkannya.

Jamhar juga sampai mengibaratkan lamut sebagai anak tiri yang tersisihkan. Pasalnya pada 1982-an, di Kalsel hanya ada 112 pelamutan yang tersisa. Saat itu, Jamhar yang berusia 40 tahun termasuk pelamutan muda. 

Akan tetapi kini, tak ada organisasi atau lembaga yang peduli kepada lamut, terlebih lagi membina munculnya pelamutan baru. Lamut juga semakin meredup seiring masuknya berbagai musik modern. Tak hanya itu saja, keenam anak Jamhar juga bahkan tak ada yang meneruskan bermain lamut.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Kisah Cinta Pierre Tendean dan Rukmini, Terhalang Agama Hingga Berakhir Pilu

Koropak.co.id, 26 February 2023 12:15:06

Eris Kuswara

 

Koropak.co.id - Kapten Pierre Andries Tendean atau yang lebih akrab disapa Pierre Tendean ini merupakan seorang perwira militer Indonesia yang menjadi salah satu korban keganasan pasukan Cakrabirawa dalam peristiwa yang dikenal dengan G30S/PKI pada 1965. 

Terlepas dari peristiwa tragis tersebut, sang Pahlawan Revolusi Indonesia itu juga mempunyai kisah percintaan yang tak kalah memilukan. Semasa hidupnya, pria kelahiran 21 Februari 1939 itu pernah merajut hubungan asmara dengan seorang gadis asal Medan, bernama Rukmini Chaimin.

Meskipun berbeda agama, namun tak menghalangi hubungan keduanya. Bahkan Pierre dan Rukmini sudah mempersiapkan acara pernikahan pada November 1965, akan tetapi sirna setelah Pierre meninggal dunia dalam peristiwa G30S/PKI.

Pierre mengawali karier militernya dengan menjadi intelijen, kemudian setelah itu ia ditunjuk sebagai Ajudan Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution (AH Nasution). Memiliki perawakan ideal dengan wajah tampan blasteran Asia-Eropa, serta dikenal sebagai pribadi yang disiplin dan ramah, membuat Pierre banyak digandrungi oleh gadis-gadis semasa menjadi taruna.  

Namun cerita cinta Pierre yang kala itu berpangkat Letnan Dua dimulai pada saat ia ditugaskan sebagai Komandan Peleton Batalyon Tempur 2, Kodam II Bukit Barisan di Medan. Pada saat bertugas di Medan itulah, Pierre bertemu dengan pujaan hatinya, Rukmini.

Diceritakan pada saat tidak dalam keadaan dinas, ia pun diajak oleh temannya bermain ke rumah Chaimin, salah satu tokoh terpandang di Medan. Siapa sangka, kunjungan Pierre kala itu menjadi berkesan ketika ia berjumpa dengan putrinya, Rukmini.

Awalnya, Pierre tak tertarik soal urusan hati. Alasannya dikarenakan ia ingin fokus pada tugasnya di batalion. Namun, sikap Rukmini yang lemah lembut, pemalu dan penuh dengan tutur kata yang sopan, pada akhirnya membuat Pierre luluh dan jatuh hati padanya.

Bak gayung bersambut, ternyata Rukmini juga merasa jatuh hati pada Pierre. Namun ia bukan jatuh hati karena ketampanan yang dimiliki Pierre, melainkan sikap humoris dan kecerdasan yang dimilikinya hingga membuat Rukmini kagum dengan sosoknya.

Saat itu, Rukmini sendiri masih duduk di bangku SMA. Sehingga, usia keduanya juga terpaut cukup jauh dan Pierre berusia delapan tahun lebih tua dari Rukmini. Perkenalan keduanya ini juga diketahui merupakan hasil comblangan dua sejawat Pierre, Satrijo Wibowo dan Setijono Hadi. 

Pada akhirnya, keduanya pun menjalani hubungan asmara meski sempat terganjal restu orang tua dikarenakan perbedaan agama. Di sisi lain, hubungan yang dijalani Pierre dan Rukmini tidaklah mudah. Pasalnya, kedua sejoli ini harus rela menjalin hubungan jarak jauh karena Pierre tak lama berdinas di Medan.



Baca: Kisah Cinta Bung Hatta, Jatuh Hati Pada Anak Mantan Kekasih


Tercatat pada pertengahan 1963-an, Pierre pindah ke Bogor karena harus mengikuti pendidikan intelijen yang dipersiapkan dalam Operasi Dwikora. Selain itu, di tahun tersebut, ia juga ditugaskan di garis depan dalam misi perdamaian di Kongo, Afrika.

Meskipun begitu, kesetiaannya kepada Rukmini yang jauh berada di Medan tak perlu diragukan lagi. Jalinan kasih keduanya justru masih terus berlanjut melalui hubungan jarak jauh. Bahkan mereka juga sering berkirim surat sebagai pelepas rindu.

Tahun demi tahun berlalu, bermacam penugasan selalu dijalani Pierre. Saat masa cuti dinas tiba, ia selalu memakainya untuk berkunjung ke Medan. Sampai pada akhirnya, Pierre memantapkan hatinya untuk mempersunting gadis pujaannya itu pada 1965-an.

Pada Juli 1965-an, Pierre melamar Rukmini dan keduanya juga berniat untuk melanjutkan hubungan asmaranya ke jenjang pernikahan yang direncanakan akan dilaksanakan pada November 1965.

Keseriusan Pierre untuk menikahi kekasihnya itu bukan main-main. Bahkan, demi mempersiapkan hidup bersama Rukmini, Pierre secara rutin mencari informasi rumah kontrakan di sekitaran Menteng, untuk ia tempati bersama Rukmini jika sudah menikah kelak.

Kemudian untuk menambah biaya pernikahan, ia juga rela setiap malam mengambil kerja sampingan sebagai sopir traktor meratakan tanah pembangunan proyek Monumen Nasional (Monas). Namun sayangnya, rencana pernikahan keduanya harus terkubur dalam-dalam dikarenakan Pierre tewas di malam 30 September 1965 bersama jenderal lainnya. 

Tepat 2 bulan sebelum pernikahannya dengan Rukmini, momen lamaran mereka menjadi pertemuan terakhir bagi keduanya. Pernikahan yang sudah direncanakan keduanya harus kandas akibat peristiwa itu. Di sisi lain, tak mudah pula bagi Rukmini menerima kepergian sang kekasih hati hingga hatinya sedih dan hancur. 

Bahkan setelah kepergian Pierre, butuh waktu 5 tahun bagi Rukmini untuk memulihkan perasaannya. Hingga pada 1972-an, Rukmini pada akhirnya menikah dengan pria yang menjadi jodohnya dan dikaruniai 3 anak dan 5 cucu.

Selepas peristiwa itu, Rukmini juga cenderung enggan dan tertutup saat membahas lebih dalam soal kisah hubungan asmaranya dengan Pierre. Sampai dengan tutup usianya pada 27 Juli 2019 lalu, Rukmini tetap setia menyimpan rapat kenangan terhadap sosok Pierre Tendean.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini: