Simak Keseruan Festival Etnis Alas Gayo

Koropak.co.id, 17 November 2022 15:15:44
Penulis : Eris Kuswara
Simak Keseruan Festival Etnis Alas Gayo


Koropak.co.id, Aceh - Pemerintah Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh menggelar Festival Etnis Alas Gayo bertajuk "Gema Seni dan Budaya Tanoh Alas-Gayo" yang dilaksanakan di Amel Hotel And Convention Hall, Banda Aceh selama dua hari berturut-turut mulai dari 15 s.d 16 November 2022.

Diketahui, Festival Etnis Alas Gayo tersebut dilaksanakan dengan tujuan untuk mempromosikan kesenian khususnya di wilayah tengah dan tenggara Aceh kepada masyarakat luas. Kegiatan festival pun dibuka dengan penampilan alunan musik tradisional Gayo yang dipadukan secara apik dengan kreasi modern. 

Tak ketinggalan, beberapa tarian adat Gayo seperti tari Guel, Didong, Resam Berume, Seni Tutur Pongot dan Saman turut dipentaskan dalam festival. Ratusan pengunjung terlebih lagi anak muda juga turut menyambut meriah penampilan Ervan Ceh Kul.

Kemudian sebagai penutup kegiatan, ditampilkan kesenian dari Tanah Alas. Selanjutnya, ada juga seniman asli Aceh Tenggara yang membawakan kesenian Tangis Dilo yang baru saja ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda (WBTb).  Setelah itu, festival pun ditutup dengan penampilan grup musik Orang Hutan Squad.



Baca: Legenda Gajah Putih dalam Tari Guel Khas Gayo Aceh


Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Aceh, Almuniza Kamal menjelaskan bahwa Festival Etnis Alas Gayo ini menjadi bagian dari upaya dalam melestarikan budaya dan kesenian masyarakat Gayo. Pasalnya budaya dan kesenian itu juga menjadi sebuah kekayaan Aceh yang sudah seharusnya dipertahankan eksistensinya.

"Sebagaimana tagline yang kita miliki yaitu 'Lestarikan Budaya, Majukan Pariwisata'. Oleh sebab itulah, kami berharap festival ini yang tentunya bertujuan untuk mengangkat warisan budaya Alas dan Gayo, agar bisa lebih dikenal lagi oleh masyarakat luas," jelas Almuniza Kamal, Rabu 16 November 2022 malam.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Sejarah dan Nilai Budaya Disbudpar Aceh, Evi Mayasari mengungkapkan bahwa pagelaran seni kali ini menyajikan desain panggung acara yang unik. Terlebih lagi, susunan kursi untuk pengunjungnya juga ditata melingkar 360 derajat dengan panggung utamanya yang berada di tengah.

"Penataan panggung seperti ini, pastinya akan membuat pengunjung yang hadir dapat melihat performance acara yang ditampilkan dalam jarak yang dekat. Sehingga membuat suasana pagelaran pun terkesan akrab dan semakin dekat dengan penonton," ungkap Evi.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Komentar

Mengintip Wajah Baru Benteng Pendem Ngawi Jawa Timur

Koropak.co.id, 28 November 2022 12:09:55

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Timur - Benteng Van den Bosch, atau yang lebih dikenal sebagai Benteng Pendem merupakan sebuah benteng yang terletak di Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi Kota, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. 

Benteng Pendemi memiliki ukuran bangunan 165 m x 80 m dengan luas tanah 15 Hektare. Letak benteng ini juga sangat strategis dikarenakan berada di dekat muara sungai Bengawan Madiun yang bermuara ke sungai Bengawan Solo. 

Tak hanya itu saja, dulu benteng ini sengaja dibangun lebih rendah dari tanah sekitar yang dikelilingi oleh tanah tinggi, sehingga dari luar membuatnya terlihat seperti terpendam. Guna menjaga kelestariannya sebagai bangunan cagar budaya, Benteng Pendemi ini pun direhabilitasi.

Kabarnya, baru-baru ini Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sendiri telah menyelesaikan rehabilitasi benteng yang dibangun pada 1840-an.

Di sisi lain, rehabilitasi yang dilakukan pada Benteng Pendemi ini juga sekaligus untuk meningkatkan potensi sektor pariwisata khususnya yang ada di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. 

Tercatat, rehabilitasi Benteng Pendem Ngawi ini mulai dikerjakan sejak 10 Desember 2020 sebagai tindak lanjut Direktif Presiden Ir H Joko Widodo atau Jokowi setelah meninjau bangunan bersejarah itu pada Februari 2019 lalu. 

Diketahui juga bahwa saat ini pekerjaan konstruksi bangunan dari benteng tersebut 100 persen telah selesai dan siap untuk segera diresmikan sebagai destinasi wisata edukasi dan landmark kawasan heritage di Kabupaten Ngawi. 



Baca: Hampir Rampung, Benteng Pendem Diharapkan Jadi Wisata Edukasi


"Dikarenakan kawasan Benteng Pendem ini merupakan cagar budaya, jadi untuk penataannya harus dilakukan secara hati-hati. Hal itu dilakukan agar nilai kultural yang ada pada bangunan cagar budaya ini tetap terjaga dengan baik," kata Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono dalam rilisnya belum lama ini.

Sementara itu, untuk rehabilitasi kawasan pusaka Benteng Pendem tersebut dilaksanakan dengan mengadopsi Adaptive Reuse Concept. Artinya, rehabilitasinya dilakukan dengan mengembalikan fungsi bangunan cagar budaya dengan fungsi baru.

Kemudian juga seminimal mungkin mengubah bentuk bangunan lama dengan tetap menjaga nilai kultural. Untuk rehabilitasi Benteng Pendem Ngawi itu dilaksanakan selama 2020 s.d 2022 oleh kontraktor PT. Nindya Karya dengan melibatkan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Jawa Timur. 

Sedangkan untuk anggaran pekerjaan konstruksinya sendiri bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) senilai Rp125 miliar. Anggaran itu digunakan untuk merehabilitasi 13 bangunan di dalam kompleks benteng dan juga untuk penataan lanskap kawasan Inti Benteng seluas 4,8 hektare. 

Selain itu juga dilakukan penataan pedestrian kawasan, normalisasi parit, pekerjaan Mekanikal Elektrikal Plumbing (MEP), dan pembangunan bangunan pendukung. 

Sebagai informasi, kawasan wisata Benteng Pendem ini berada di area Yon Armed 12 milik Kementerian Pertahanan seluas 5,4 hektare yang berlokasi sekitar 3 kilometer dari pusat kota Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. 

Selanjutnya, bangunan cagar budaya ini juga tentunya bisa menjadi destinasi wisata pilihan di Kabupaten Ngawi yang dapat ditempuh dengan waktu sekitar 2,5 jam perjalanan dari Bandara Juanda atau Kota Surabaya via Tol Trans-Jawa.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Akhir Pekan Ini, Riksa Budaya dan Kongres Bahasa Cirebon Digelar

Koropak.co.id, 27 November 2022 07:06:44

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Barat - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat menggelar kegiatan tahunan bertajuk Riksa Budaya sebagai upaya dalam melestarikan tiga kekuatan budaya di Jawa Barat yakni Melayu-Betawi, Priangan dan Cirebon.

Kegiatan yang digelar mulai Sabtu 26 s.d Ahad 27 November 2022 ini menampilkan keanekaragaman budaya Cirebon, mulai dari penampilan lima maestro tari topeng hingga kongres bahasa Cirebon. Sebelumnya, kegiatan serupa digelar dengan mengangkat budaya Melayu-Betawi yang melekat pada masyarakat Bekasi pada 25 Oktober 2022 lalu.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Kota Cirebon, Agus Sukmanjaya menjelaskan bahwa dalam kegiatan Riksa Budaya kali ini, beragam budaya dari Cirebon akan ditampilkan, termasuk juga pagelaran lima maestro tari topeng yang tariannya diwarisi dari leluhur mereka.

"Jadi untuk lima tari topeng tersebut diantaranya, tari topeng Losari, Gegesik, Palimanan, Slangit dan Indramayu. Kelima maestro tari topeng dari kelima daerah itu juga akan tampil dalam satu panggung dengan menampilkan tari topeng ciri khas daerahnya masing-masing," jelas Agus, belum lama ini. 

Selain tari topeng dari lima maestro tari topeng, lanjut Agus, akan ditampilkan juga pagelaran wayang kulit dengan dalangnya yang merupakan siswa dari salah satu sekolah di Kota Cirebon. Hal ini tentunya menunjukkan bahwa adanya regenerasi budaya di Kota Cirebon.



Baca: Semarak Adat Sedekah Bumi dan Karnaval Budaya 2022 di Desa Jatibarang


"Tak hanya pagelaran seni, kami juga menggelar Kongres Bahasa Cirebon. Pasalnya, kami menilai peran bahasa itu sangat penting dikarenakan bahasa itu sendiri merupakan identitas suatu bangsa. Selain itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Cirebon juga saat ini sedang membumikan penggunaan Bahasa Cirebon melalui program Sedina Nyerbon," katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat, Febriyani menambahkan, sebelumnya kegiatan Riksa Budaya sempat terhenti akibat pandemi Covid-19 dan tahun ini kegiatan tersebut baru bisa kembali digelar

"Kegiatan Riksa Budaya ini dimulai di kampung adat Kranggan, Kota Bekasi yang mengusung tema Saling Tulungan yang dilaksanakan pada 25 Oktober 2022 lalu dengan mengangkat budaya Melayu-Bekasi yang melekat dengan masyarakat Bekasi," tambah Febriyani.

Selanjutnya, kata Febriyani, Riksa Budaya pun dirangkaikan dengan kongres bahasa yang digelar di Cirebon pada Sabtu (26/11) s.d Ahad (26/11). Kemudian setelah itu rencananya Riksa Budaya berikutnya akan digelar di Sukabumi, Jawa Barat pada Desember 2022 mendatang.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Tembus Batas Kreativitas dengan Purnama

Koropak.co.id, 26 November 2022 10:07:05

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Barat - Forum Film Jawa Barat (FFJB) punya jurus jitu dalam upaya mengapresiasi karya-karya dari komunitas film. Gelaran Film Purnama namanya.

Inilah Gelar Film Purnama: Kebebasan Menembus Batas. Acaranya diadakan di Auditorium Bandung Creative Hub, Jalan Laswi Nomor 7, Kacapiring, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, pada Rabu 23 November 2022 lalu.

Mengusung tema "Menggali Potensi Daerah Sebagai Tema Film Indie", Film Purnama yang digelar FFJB sebagai wadah bagi komunitas film ini sudah dilaksanakan sejak 2013. Memang beberapa tahun terakhir sempat terhenti akibat pandemi Covid-19, namun kali ini kembali bangkit.

Kegiatan film yang diputar di bulan purnama itu menghadirkan pemutaran dan diskusi film dengan moderator mumpuni. Mereka mengupas berbagai karya hingga memberikan banyak pencerahan untuk para peserta.

Turut hadir, mewakili Laboratorium Film Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (Fikom UNISBA), Askurifai Baksin, dan narasumber dari Ketua Forum Film Jawa Barat (FFJB), Irwan Zabonk serta Dosen Binus dan Multimedia Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI), Iwan Urban.

Ketua Forum Film Jawa Barat (FFJB), Irwan Zabonk menjelaskan bahwa Film Purnama merupakan wadah pemutaran film-film yang dihasilkan oleh komunitas film khususnya di Jawa Barat. Tercatat, setiap bulannya Purnama memutar sekitar 5 s.d 8 film.

"Awalnya Film Purnama ini digelar di Dago Tea House. Namun setelah pandemi Covid-19, kegiatannya pun dipindahkan dan digelar di Auditorium Bandung Creative Hub. Tak hanya pemutaran film, di Purnama ini juga turut diadakan diskusinya," jelas Irwan sebagaimana rilis yang diterima Koropak, Sabtu 26 November 2022.

Irwan menambahkan, untuk film yang diputar dalam Purnama sendiri mayoritasnya adalah film pendek. Akan tetapi, tidak semua film yang dikirimkan ke panitia di putar di Purnama. Sebab sebelum diputar di Purnama, pihaknya akan melakukan seleksi atau kurasi untuk film-film yang dikirimkan.

"Seperti di bulan ini, ada sekitar 18 karya film yang dikirim ke panitia. Namun setelah proses seleksi, kami hanya menampilkan tujuh film terlebih dahulu. Sementara untuk sisanya nanti," tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Irwan juga mengungkapkan bahwa Purnama ini merupakan bentuk apresiasi dari FFJB terhadap karya-karya yang dihasilkan komunitas film. Bahkan rencananya, di akhir tahun pihaknya akan menggelar awarding. 

"Dari sekian karya film yang masuk, pada awarding itu panitia akan memilih 10 karya dan lima diantaranya akan mendapatkan penghargaan. Respons dari komunitas film di Jabar untuk Purnama ini juga alhamdulillah cukup banyak. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya karya film yang dikirimkan ke panitia," ungkapnya.



Baca: Film "Pamali" dan Potensi Budaya Sunda


Irwan menuturkan, meskipun bukan lembaga resmi, namun FFJB sendiri tetap menjadi kualitasnya. Sehingga, untuk film yang tayang di Purnama memang merupakan hasil seleksi. 

Soal anggaran, kata dia, FFJB sempat mendapatkan dana dari Pemprov Jabar sebagai bentuk apresiasi pada masa pemerintahan Wakil Gubernur, Deddy Mizwar.

"Saat ini bantuan tersebut sudah tidak ada, makanya biaya penyelenggaraan Purnama ini masih mengunakan dana swadaya dari komunitas film," tuturnya.

Meskipun begitu, dia berharap, yang terpenting pihaknya ingin acara tersebut bisa terus berlanjut. Bahkan kata dia, dia ingin kegiatan tersebut seperti festival film-film lainnya yang umurnya hingga puluhan tahun.

"Seperti Festival Film Jogja yang digagas Garin Nugroho, usianya saat ini sudah hampir 20 tahun," tuturnya.

Tentang minat masyarakat terhadap film, Irwan menilai, saat ini minat tersebut terus berkembang. Terlebih lagi dengan hadirnya media sosial dengan konten-konten videonya yang lebih banyak. Sehingga hal tersebut tentunya bisa memicu karya film yang lebih bagus lagi.

"Terlebih lagi dengan ditunjang teknologi saat ini. Karena sekarang, pakai handphone saja sudah bisa bikin video. Makanya dengan dukungan teknologi yang mumpuni, saya yakin komunitas film akan terus bangkit," ujarnya.

Sementara itu, Pakar Komunikasi sekaligus Panitia FFJB dari Laboratorium Film Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (Fikom UNISBA), Askurifai Baksin, menyatakan bahwa FFJB merupakan wadah untuk berkreasi dan memberikan ruang publikasi bagi komunitas film khususnya di Jawa Barat. 

"Sejatinya film itu bukan hanya untuk diproduksi, akan tetapi juga harus dipublikasikan. Selain itu, film juga merupakan produk komunikasi audio visual. Dengan dukungan teknologi yang mudah dan canggih saat ini, tentunya pembuatan film pun bisa menjadi lebih berkembang," ucap Askur.

Askur menilai generasi muda juga seolah kembali menemukan semangatnya dengan kehadiran teknologi saat ini. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya karya film bagus yang dihasilkan dan dikirimkan di Purnama kali ini. 

"Intinya, kami berharap kondisi ini bisa memajukan perfilman Indonesia, khususnya di Jawa Barat," harapnya.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:



Semarak Adat Sedekah Bumi dan Karnaval Budaya 2022 di Desa Jatibarang

Koropak.co.id, 26 November 2022 07:13:44

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Barat - Setelah beberapa tahun tertunda, Pemerintah Desa (Pemdes) Jatibarang akhirnya kembali mengadakan Adat Sedekah Bumi dan Karnaval Budaya Tahun 2022 yang dilaksanakan di Desa Jatibarang, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Kamis 24 November 2022.

Adat sedekah bumi dan karnaval budaya yang di mulai dari halaman Kantor Desa Jatibarang ini secara langsung bisa menjadi momen untuk mempererat tali silaturahmi dan memperkuat persatuan. Salah satunya adalah dengan dilakukannya kegiatan adat istiadat.

Masyarakat pun tampak begitu antusias dalam mengikuti dan meramaikan adat sedekah bumi dan karnaval budaya. Pasalnya kegiatan itu dimeriahkan dengan acara tumpengan, baritan, do'a tahlilan, tausiyah, pawai karnaval adat, kesenian daerah, pagelaran Seni budaya Sandiwara Purbasari dari Losarang Indramayu, hingga pengundian hadiah dooprize.

Kuwu Desa atau Kepala Desa Jatibarang, Agus Darmawan mengatakan bahwa Adat Sedekah Bumi dan Karnaval Budaya ini digelar sebagai bentuk rasa syukur dari warga desa Jatibarang atas nikmat yang diberikan oleh Allah Subahanahu Wata'ala berupa kesuburan pertaniannya yang makmur dan kesehatan dengan harapan semua warga desa Jatibarang bisa mendapat keberkahan dan terhindar dari segala macan mara bahaya.

"Sedekah Bumi ini merupakan adat budaya tahunan yang dilaksanakan sebagai tanda dimulainya masa bercocok tanam oleh para petani. Acaranya pun akan diawali dengan Tumpengan atau Baritan yaitu do'a bersama dari seluruh masyarakat yang hadir," kata Agus.



Baca: Simak Keseruan Festival Etnis Alas Gayo


Agus menambahkan, setelah itu dilanjutkan dengan tahlilan yang dipimpin oleh Ustaz Karmadi, dimana masyarakat setempat akan membawa makanan dan minuman serta hasil pertanian yang di kumpulkan dalam satu tempat sebagai wujud rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wata'ala.

"Acara pun dilanjutkan dengan ceramah keagamaan yang di sampaikan oleh pengasuh pondok pesantren Darut Tahfidz Jatibarang, Ustaz Munawir. Kemudian setelah tausiyah, ditutup dengan do'a yang dipimpin oleh pengasuh pondok pesantren Petuah Jatibarang, Ustaz Masruhin," tambahnya.

Adapun untuk Karnaval budaya dan keseniannya, dilaksanakan di sepanjang Jalan Mayor Dasuki. Beragam budaya dan kesenian ditampilkan oleh peserta perwakilan dari tujuh Rukun Warga (RW) yang ada di Desa Jatibarang. 

"Mulai dari arak-arakan, hasil bumi, patung, tumpeng raksasa, seni musik tarling, singa depok, kuda ronggeng dan berbagai kreasi seni budaya lainnya memeriahkan karnaval budaya di Desa Jatibarang," pungkasnya.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Ketika Empat Negara Mendaftarkan Kebaya Jadi Warisan Budaya, Indonesia Bagaimana?

Koropak.co.id, 25 November 2022 12:09:23

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta -  Kebaya dikenal sebagai pakaian tradisional wanita yang menjadi warisan budaya dan populer di Asia Tenggara, salah satunya Indonesia. 

Baru-baru ini, dikabarkan bahwa Singapura akan mendaftarkan kebaya untuk masuk dalam daftar warisan budaya UNESCO, melalui upaya multinasional bersama dengan 3 negara lainnya yakni Brunei Darussalam, Malaysia dan Thailand. 

Dewan Warisan Nasional (NHB) Singapura menyebutkan, langkah yang dilakukannya ini akan menjadi nominasi multinasional pertama bagi Singapura untuk Daftar Perwakilan Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan UNESCO. Pihaknya pun menjadwalkan untuk diserahkan penawarannya pada Maret 2023 mendatang.

CEO NHB, Chang Hwee Nee menjelaskan, kebaya adalah pakaian tradisional wanita yang populer di beberapa negara tersebut. Melalui langkah tersebut, pihaknya pun meyakini bahwa kebaya dapat mewakili dan mempromosikan pemahaman lintas budaya yang akan terus aktif diproduksi dan dikenakan oleh banyak komunitas di kawasan Asia Tenggara.

"Kebaya itu sendiri telah, dan terus menjadi aspek sentral dalam representasi serta tampilan warisan budaya dan identitas Melayu, Peranakan dan komunitas lainnya di Singapura. Selain itu, kebaya juga merupakan bagian integral dari warisan kami sebagai kota pelabuhan multikultural dengan hubungan lintas Asia Tenggara dan dunia," jelas Chang Hwee Nee, Kamis 24 November 2022.

Chang Hwee Nee menambahkan bahwa pendaftaran bersama yang dilakukan itu juga merupakan bentuk multikulturalisme dan akar bersama dengan kawasan ketiga negara tersebut. Bahkan Malaysia sendiri telah mengusulkan dan mengoordinasikan nominasi multinasional dan gagasan tersebut serta dibahas sebagai bagian dari rangkaian rapat kerja di antara sejumlah negara pada 2022.

"Baik Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura dan Thailand juga sudah setuju untuk bekerja sama dalam nominasi. Namun kami juga menyambut negara lain untuk bergabung dalam nominasi itu. Pasalnya, antara Agustus dan Oktober, NHB mengadakan enam diskusi kelompok terarah dengan 48 peserta untuk mencari pandangan tentang nominasi itu," tambahnya. 



Baca: Sejarah Kebaya hingga Pendaftaran ke UNESCO


Diskusi itu juga, lanjut Chang Hwee Nee, termasuk melibatkan praktisi budaya, perwakilan asosiasi budaya dan peneliti dalam pembuatan dan pemakaian kebaya. Kemudian mulai dari 1 hingga 3 November, perwakilan dari NHB dan masyarakat juga telah menghadiri lokakarya yang diselenggarakan oleh Malaysia di Port Dickson. 

"Di mana dalam lokakarya itu, mereka mendiskusikan nominasi tersebut, termasuk terkait apa yang harus disertakan dalam pengajuannya. Tak hanya itu saja, NHB juga akan mengatur inisiatif penjangkauan publik dari Januari s.d Maret 2023 untuk meningkatkan kesadaran akan nominasinya," ucapnya. 

Selanjutnya UNESCO sendiri akan menilai nominasi berdasarkan definisi warisan budaya takbenda, dan seberapa baik masing-masing dari empat negara itu akan memastikan promosi dan transmisi praktik terkait kebaya. Setelah itu diharapkan hasil nominasinya akan diumumkan pada akhir 2024 mendatang.

"Kerajinan dan praktik terkait kebaya ini ditambahkan ke inventaris warisan budaya takbenda NHB pada Oktober 2022, dan bergabung dengan elemen lainnya seperti budidaya anggrek dan pembuatan kecap dalam daftar 102 lokal terkuat," ujarnya.

Sementara itu, dibalik langkah yang dilakukan Singapura dan 3 negara Asia Tenggara lainnya untuk mendaftarkan kebaya sebagai salah satu daftar warisan budaya takbenda UNESCO itu, sebenarnya sudah digaungkan oleh Indonesia dalam beberapa waktu terakhir melalui Kebaya "Goes to UNESCO". 

Tak hanya itu saja, komunitas pecinta kebaya di Indonesia juga bahkan mengharapkan agar Indonesia menempuh jalur single nation dalam pengajuan kebaya sebagai warisan budaya ke UNESCO, dan bukan dilakukan secara bersama-sama dengan Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. 

Bukan tanpa alasan, mereka sendiri menilai apabila kebaya diakui oleh banyak negara, maka mungkin saja kebaya tersebut nantinya tidak lagi menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia dan tidak lagi menjadi bagian dari jati diri bangsa.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Pendopo Fashion Show Angkat Keindahan Kain Sikka

Koropak.co.id, 24 November 2022 15:02:51

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Banten - Warisan budaya Indonesia yang sangat banyak dengan keanekaragaman yang dimilikinya itu perlahan bisa hilang seiring berjalannya waktu jika kita tidak berupaya untuk menjaga dan melestarikan keberadaannya.

Selain itu, banyak cara yang dapat dilakukan untuk merawat warisan budaya Indonesia agar tidak hilang termakan waktu, salah satunya adalah dengan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena, semakin budaya itu menjadi rutinitas, maka warisan tersebut tentunya tidak akan punah.

Konsep itulah yang coba dilakukan dalam Pagelaran Pendopo Fashion Show 2022 yang dilaksanakan di Living World Tangerang Selatan, Banten, Rabu 23 November 2022. 

Dengan mengangkat keindahan kain Sikka yang merupakan kain tenun Khas NTT, wastra Nusantara tersebut berhasil diubah menjadi sesuatu yang lebih modern tanpa meninggalkan identitas warisan budayanya.

Direktur Pendopo, Tasya Widya Krisnadi mengungkapkan, melalui Pendopo Fashion Show 2022, pihaknya ingin memelihara kekayaan budaya Indonesia lewat tiga fokus utama yaitu pengembangan produk, kolaborasi dengan pengrajin lokal, dan memperkenalkannya ke publik.

"Agar kain sikka ini semakin eksis, Pendopo juga tidak hanya mengandalkan fashion desainer in-house saja. Akan tetapi juga turut berkolaborasi dengan dua desainer lokal, Didiet Maulana dan Iyonono. Melalui kolaborasi ini, kami ingin kain tenun sikka dikreasikan menjadi lebih modern, sehingga dapat mengikuti selera masa kini," ungkap Tasya.



Baca: Lestarikan Mite dengan Festival Dongeng Internasional Indonesia


Sementara itu, Direktur Kuliner, Kriya, Desain, dan Fesyen Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Yuke Sri Rahayu yang hadir di Pendopo Fashion Show 2022 juga menjelaskan bahwa ajang seperti ini perlu mendapatkan apresiasi sebagai upaya meremajakan budaya Indonesia

"Acara ini juga secara tidak langsung dapat meningkatkan kualitas pengrajin lokal, sehingga produk fashion yang dihasilkannya menjadi bernilai tinggi. Di sisi lain, Pendopo Fashion Show 2022 juga perlu didukung karena melakukan pendampingan pada warga Sikka secara langsung. Artinya budaya di sana dapat terus lestari dan mengikuti zaman," jelas Yuke.

Yuke menambahkan, selain itu, dengan hadirnya desainer profesional dalam pengembangannya, tentunya dapat meningkatkan nilai dari produk fashion yang dihasilkan. Pihaknya juga berharap melalui tenun Sikka, terbukanya lapangan pekerjaan baru untuk masyarakat.

"Kami berharap terbukanya lapangan baru untuk masyarakat melalui tenun Sikka ini. Sehingga dengan demikian, produk ekonomi kreatif ini dapat tumbuh dan berkembang, serta menjadi ladang pekerjaan bagi masyarakat," tambahnya.

Diketahui, Pendopo Fashion Show 2022 sendiri menghadirkan dua sequences di pagelaran busananya, yaitu Koleksi Senandung Sikka Lilit by Pendopo dengan koleksi kain tenunnya tanpa pemotongan sesuai pakem kain wastra yang menyambung dalam satu ikatan.

Kemudian satu sequences lainnya yakni Koleksi Senandung Sikka Ready to Wear by Pendopo yang merupakan kreasi pakaian berbahan tenun ikat Sikka yang dibuat sangat light dan modern dengan banyak cuttingan young di koleksinya.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Lestarikan Mite dengan Festival Dongeng Internasional Indonesia

Koropak.co.id, 24 November 2022 07:14:11

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Bali - Bekerjasama dengan Direktorat Jenderal (Dirjen) Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI, Ayo Dongeng Indonesia baru-baru ini menggelar kegiatan Festival Dongeng Internasional Indonesia (#FDII2022) di Taman Baca Ubud, Bali.

Sebagai rangkaian acara menjelang Peringatan Hari Dongeng Nasional, festival yang mengangkat Tema "Mite dari Timur" itu, dimulai dengan Festival Pembuka yang dilaksanakan di Taman Baca Ubud, Bali dan disiarkan juga secara langsung di akun Instagram @AyoDongeng_Ind.

Direktur Festival Dongeng Internasional Indonesia 2022, Cahyono Budi atau yang lebih dikenal dengan Kak BudiBaikBudi mengungkapkan bahwa tahun 2022 merupakan FDII pertama yang digelar secara offline setelah pandemi Covid-19. Karena selama dua tahun kebelakangan pelaksanaannya digelar secara online.

"Tentunya, Keluarga Indonesia sudah menantikan agar dapat menikmati kembali pertunjukan dongeng secara langsung. Oleh karena itulah, kami berharap festival yang digelar tahun ini bisa mengembalikan semangat serta kebahagiaan anak-anak Indonesia," ungkap Kak BudiBaikBudi.

Kak BudiBaikBudi menjelaskan, kekayaan budaya Nusantara melalui keberagaman tradisinya itu juga menjadi harta yang perlu untuk terus diangkat. Selain itu, langkah untuk melestarikan budaya itu salah satunya bisa dilakukan dengan mengangkat kembali, mengemas ulang, dan memberikan ruang untuk tradisi tutur agar bisa selalu dinikmati.

"Salah satunya adalah 'Mite' yang berupa prosa rakyat atau cerita yang juga bisa mengajarkan banyak sekali nilai dan tentunya juga dapat mengajak kita untuk mengenal budaya menjadi lebih dekat lagi. Biasanya, Mite ini bercerita tentang asal usul hingga menjadi sesuatu yang dipercaya dan membentuk sebuah tradisi. Seperti cerita Dewi Sri dan asal mula Padi hingga mite tentang Kalarahu dan gerhana," jelasnya.

Berbekal dari hal itulah, lanjut Kak BudiBaikBudi, yang mendorong Ayo Dongeng Indonesia untuk mengangkat kembali Mite dari Timur sebagai upaya dalam memelihara budaya serta menjadikannya sebagai tema Festival Dongeng Internasional Indonesia 2022 (#FDII2022).



Baca: Hari Dongeng Nasional Setiap Tanggal 28 November, Begini Ceritanya


"Menyambut kebahagiaan keluarga di masa pasca pandemi, para penjaga mimpi mengajak banyak pendongeng untuk Mite dari berbagai daerah pada 20, 26, dan 27 November 2022 untuk menyemarakan #FDII2022," ujarnya.

Diketahui, #FDII2022 kali ini diawali dengan Festival Pembuka bersama Yayasan Mudra Swari Saraswati dan Ubud Writers and Readers Festival yang diluncurkan di Taman Baca Ubud, Bali pada 20 November 2022 dan Dibuka secara langsung oleh Dirjen Kebudayaan, Kemendikbudristek.

Setelah itu, #FDII2022 akan berlanjut secara daring yang dapat disaksikan secara langsung di kanal Instagram @AyoDongeng_Ind pada pada 26 November 2022 dengan menampilkan banyak pendongeng dari dalam dan luar negeri. 

Selanjutnya acara pun akan berlangsung di Institute Francais Indonesia dengan menampilkan dongeng untuk dewasa dan remaja dari The Nest. Kemudian puncaknya, pada 27 November 2022, #FDII2022 akan menampilkan pertunjukan menakjubkan yang dilaskanakan di Museum Nasional.

Dalam puncak acara nanti, #FDII2022 akan menghadirkan para pendongeng nasional dan internasional di antaranya, Pak Gede Tarmada dari Bali, Kak BudiBaikBudi dari Ayo Dongeng Indonesia, PM Toh dari Aceh, Agus DS dari Bogor, serta Jeeva Raghunath dari India dan Prasong Saihong dari Thailand. Selain itu juga akan hadir Dongeng Istimewa dari Laksmi de Neefe, Puteri Indonesia 2022.

"Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti hanya sebagai sebuah festival saja, akan tetapi bisa menjadi inspirasi dan mengingatkan kembali orangtua dan pendidik di seluruh Indonesia untuk terus bercerita, dan mendongeng bagi anak- anak mereka. Sebab, imajinasi juga tidak akan pernah berhenti dan tidak terbatas oleh ruang dan waktu," pungkasnya.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Peringati 12 Tahun Mendunia, Ribuan Peserta Mainkan Angklung Secara Serentak

Koropak.co.id, 22 November 2022 12:12:30

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Barat - Angklung merupakan alat musik tradisional khas Sunda sekaligus juga menjadi salah satu warisan budaya tradisional asli Jawa Barat yang sangat populer di kalangan masyarakat khususnya masyarakat Sunda. 

Dengan keunikan yang dimilikinya itu jugalah yang membuat The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), menetapkan angklung sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) asli Indonesia pada 2010.

Sementara itu, sebagai bentuk penghargaan terhadap alat musik khas Sunda tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat menggelar "Peringatan 12 Tahun Angklung Mendunia" yang dilaksanakan di Halaman Gedung Sate, Kota Bandung, Jawa Barat, Ahad 20 November 2022 lalu.

Dengan didukung oleh Keluarga Besar Bumi Siliwangi Universitas Pendidikan Indonesia (KABUMI UPI), Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jawa Barat, dan Biro Umum Sekretariat Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat, Peringatan 12 Tahun Angklung Mendunia itu diikuti hingga 1.304 peserta dari berbagai kalangan usia.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kadisparbud) Jawa Barat, Benny Bachtiar menjelaskan bahwa angklung merupakan salah satu bagian dari WBTb Jawa Barat. Oleh karena itulah, event ini diselenggarakan sebagai ajang pembuktian bahwa angklung itu benar-benar ada. 

"Di sisi lain, kita juga wajib memperingati Hari Angklung Sedunia dikarenakan alat musik tradisional ini benar-benar lahir dari Jawa Barat. Intinya, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pelestarian sekaligus juga mengenalkan alat musik angklung kepada generasi anak-anak," jelas Benny dalam keterangannya belum lama ini.



Baca: Hari Angklung Sedunia, Begini Sejarah Peringatannya


Benny mengaku bangga karena masyarakat khususnya anak-anak begitu antusias mengikuti kegiatan Peringatan 12 Tahun Angklung Mendunia di Halaman Gedung Sate, Kota Bandung ini. Tentunya hal itu pun menjadi bukti bahwa angklung dapat diterima baik oleh masyarakat umum.

Dalam kesempatan itu, Benny juga menuturkan bahwa kegiatan kali ini turut dimeriahkan oleh penampilan dari komunitas Kabumi UPI, Savrapanca, dan Angklung Buncis Cirendeu. Tak hanya itu saja, ada beberapa peserta juga yang memainkan angklung digital, sehingga hal tersebut patut sekali untuk diapresiasi.

"Saat ini, kita juga tidak bisa menghindari perkembangan teknologi yang semakin maju. Jadi, yang menjadi poinnya adalah, bagaimana caranya warisan budaya ini tidak hilang meskipun platformnya berbeda-beda. Kemudian yang tak kalah pentingnya, masyarakat dunia khususnya Indonesia memahami dengan benar bahwa angklung berasal dari Jawa Barat. Dengan digitalisasi, maka akan lebih cepat diterima dan dikenal secara global," tuturnya.

Dengan adanya kegiatan ini, pihaknya pun berharap kesenian angklung ini bisa dijadikan sebagai kurikulum di Sekolah Dasar (SD). Selain itu menurutnya. hal tersebut juga menjadi bagian dalam upaya pelestarian dan pemajuan kebudayaan daerah.

"Kami mengimbau agar angklung ini ada di kurikulum atau ekstrakurikuler pendidikan dasar 9 tahun, khususnya di Kabupaten/Kota Jawa Barat. Dengan demikian, nantinya akan semakin banyak anak muda yang mengenal dan bisa memainkan kesenian angklung tersebut.

Sementara itu, sebelumnya Disparbud Jawa Barat sudah terlebih dahulu menggelar pentas Tari Merak Sadunya dan Tari Ronggeng Gunung yang diikuti oleh kurang lebih seribu lebih peserta. Pagelaran itu juga tentunya merupakan upaya dalam pelestarian dan pemajuan kebudayaan asli daerah Jawa Barat.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Angkat Budaya Betawi Lewat Jakarta Live Act Festival 2022

Koropak.co.id, 21 November 2022 15:00:01

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Didedikasikan untuk para pegiat dan industri seni musik, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) DKI Jakarta baru-baru ini menyelenggarakan kegiatan bertajuk Jakarta Live Act Festival 2022 yang dilaksanakan di MBloc Space, Jakarta Selatan, mulai 19 s.d 20 November 2022.

Jakarta Live Act Festival 2022 juga diselenggarakan dengan tujuan memberikan ruang kepada para pegiat musik untuk menuangkan dan mengembangkan kreativitasnya, sekaligus membagi pengalaman dan kemampuan, serta menginspirasi masyarakat luas.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kadisparekraf) DKI Jakarta, Andhika Permata mengungkapkan, Jakarta Live Act Festival 2022 menjadi kegiatan yang spesial, karena melibatkan sejumlah musisi, produser, pencipta lagu, music arranger dan pengamat musik untuk saling berkreasi dengan mengangkat unsur-unsur atau nilai-nilai dari kebudayaan khas Jakarta.

"Kegiatan ini juga digelar sebagai salah satu atraksi yang berhasil menarik banyak perhatian masyarakat. Pasalnya, musik itu memiliki potensi untuk menjadi industri yang lebih besar. Hal tersebut bisa terlihat dari besarnya minat dan antusiasme masyarakat untuk terjun ke dalam bidang ini," ungkap Andhika dalam rilisnya sebagaimana dilansir dari laman InfoPublik, Senin 21 November 2022.

Andhika menambahkan, melalui acara musik ini, Disparekraf DKI Jakarta pun hadir melalui ruang komunitas, talkshow, dan musik kolaborasi untuk menggali berbagai potensi yang baru, sekaligus juga untuk menjawab beragam tantangan dunia musik untuk saat ini dan ke depannya.



Baca: Melihat Kemeriahan Festival Seni Budaya Betawi Gorontalo


"Sejumlah musisi terkenal Indonesia sengaja dihadirkan untuk memeriahkan pagelaran ini. Mulai dari Danilla Riyadi, Endah & Rhesa, Saykoji, Lantun Orkestra, hingga Kezia Caroline," tambahnya. 

Para pembicara yang ahli di bidangnya seperti Nic Edwin, Emil Mahyudin, Imbong Hasbullah, Peter Harjani, Riri Mestika, Ajul Jiung, dan Wisnu Dewanta turut dihadirkan dalam kegiatan kali ini. 

Selain itu, Disparekraf DKI Jakarta juga menggandeng komunitas Santai Sore Market untuk membawa produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) terbaik dan terkurasi pada kegiatan ini.

"Tidak hanya dapat menginspirasi masyarakat khususnya dalam bidang musik, kami berharap kegiatan ini juga dapat menjadi daya tarik baru Jakarta bagi kunjungan wisatawan dalam konteks atraksi pariwisata yang bersumber pada acara kreatif," tuturnya.

Sebagai informasi, Jakarta Live Act Festival 2022 sendiri merupakan salah satu upaya konkret yang dilakukan oleh Disparekraf DKI Jakarta dalam menjaga ekosistem musik khususnya di daerah Jakarta, dan umumnya di Indonesia.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Melihat Kemeriahan Festival Seni Budaya Betawi Gorontalo

Koropak.co.id, 21 November 2022 07:18:18

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Gorontalo - Organisasi keluarga besar masyarakat Gorontalo, Lamahu bekerjasama dengan Pemerintah Daerah (Pemda) DKI Jakarta menggelar kegiatan Festival Seni Budaya Betawi Gorontalo Ke-2 Dan Gebyar Pariwisata 2022 yang dilaksanakan pada 19 s.d 20 November 2022.

Festival yang dihadiri Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sekaligus Ketua Umum Lamahu, Fadel Muhammad itu dilaksanakan di dua lokasi berbeda yakni di Taman Budaya Limboto pada 19 November 2022 dan Danau Limboto, Gorontalo pada 20 November 2022.

Wakil Ketua MPR, Fadel Muhammad mengaku sangat antusias untuk mengikuti Festival Seni Budaya Betawi Gorontalo Ke-2 Dan Gebyar Pariwisata 2022. Bahkan ia juga berharap masyarakat bisa menyambut baik festival yang akan mengangkat dan mengharumkan nama Gorontalo itu.

"Festival Seni Budaya ini sangat bagus. Oleh karena itulah, pemerintah daerah dan rakyat Gorontalo harus bisa  memanfaatkannya secara baik. Karena disana merupakan momen yang tepat untuk mempromosikan kekayaan wisata daerah," kata Fadel belum lama ini.  

Fadel menilai, jika promosi wisata tersebut berhasil maka wisatawan akan mengalir dan berdatangan ke Gorontalo yang dampak baiknya pada pendapatan daerah dan kesejahteraan rakyat akan meningkat. Dengan mengusung tema "Merajut Harmoni Seni Budaya Betawi Gorontalo", festival itu pun akan berjalan sangat menarik dan menjadi hiburan bermutu untuk rakyat.



Baca: Festival Seni Budaya Jaton ke-XVI Dongkrak Ekonomi Gorontalo

  

"Festival ini sangat unik, karena didalamnya ada perpaduan budaya Betawi dan Gorontalo yang ditampilkan. Karena ternyata setelah kita pelajari, budaya dari dua daerah ini memiliki banyak kesamaannya, mungkin dikarenakan akarnya juga dari Melayu," ucap Pimpinan MPR dari Kelompok DPD itu. 

Fadel menambahkan, sebelumnya festival ini juga sudah dilaksanakan di Jakarta yang dimana pembukaannya dibuka oleh Gubernur DKI Jakarta dan berhasil mendapatkan sambutan yang besar dari masyarakat. Oleh karena itulah, pihaknya pun mengajak masyarakat Gorontalo untuk tidak sungkan bersama-sama hadir dalam festival rakyat ini. 

"Karena selain menghibur, dalam festival ini juga ada sisi edukasinya yakni seputar pelestarian budaya nasional untuk masyarakat. Selain itu, festival ini juga akan mengingatkan kita semua bahwa sebagai bangsa Indonesia, kita tidak bisa lepas dan lupa dari budaya yang merupakan akar jati diri bangsa," tambah mantan Gubernur Gorontalo dua periode itu.  

Dalam kesempatan itu, Fadel mengungkapkan bahwa budaya juga sebagai perekat antar anak bangsa. Selain itu, kebhinekaan akan terwujud erat dari kecintaannya kepada budaya sendiri. 

Di sisi lain, berbagai kegiatan untuk rakyat pum menyemarakan festival ini, diantaranya, jalan sehat, pentas seni budaya Betawi dan Gorontalo, bazaar UMKM, donor darah, aneka perlombaan, pembagian aneka pohon, dan penebaran ikan.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Pelestarian Pabrik Semen Pertama di Asia Tenggara Jadi Cagar Budaya

Koropak.co.id, 18 November 2022 15:00:19

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Sumatra Barat - Direktur Utama PT Semen Padang bersama dengan sejumlah pihak hingga saat ini tengah berupaya untuk menjadikan Pabrik Indarung I milik PT Semen Padang sebagai cagar budaya. 

Upaya tersebut dilakukan karena Pabrik Indarung I tersebut dinilai menyimpan sejarah panjang dalam perjalanannya sebagai pabrik semen pertama di Asia Tenggara. 

Di sisi lain, Wali Kota Padang sementara ini telah menetapkan Indarung I sebagai situs cagar budaya kota bersama Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Rasak pada 3 Oktober 2022 lalu. Setelah itu, kedua situs bersejarah tersebut saat ini tengah dalam proses pengajuan untuk menjadi cagar budaya nasional.

Berdasarkan sejarahnya, sebelum berdirinya pabrik yang terletak di Kecamatan Lubuk Kilangan, Indarung, atau 15 kilometer dari pusat kota Padang, Sumatra Barat itu, kawasan Indarung awalnya hanyalah sebuah kampung yang minim berpenghuni. 

Saat itu, wilayah tersebut dikelilingi oleh bukit karang putih yang kaya akan deposit batu kapur serta bukit ngalau yang mengandung batu silica dan batu kapur. Rupanya bebatuan disana berhasil menarik hati seorang insinyur sekaligus perwira Belanda berkebangsaan Jerman, Carl Christophus. 

Sehingga pada 1896-an, batu tersebut pun lantas dikirim ke Belanda untuk diteliti dan hasilnya menunjukkan bahwa bebatuan itu bisa diolah menjadi bahan baku semen. Oleh sebab itulah, pada 25 Januari 1907-an, Carl pun mengajukan permohonan ke Hindia Belanda untuk mendirikan pabrik semen di Indarung. 

Pada 16 Agustus 1907, permohonan disetujui. kemudian setelah itu, pabrik semen di kawasan Indarung pun pada akhirnya selesai dibangun pada 1910-an. Diketahui, kapasitas produksinya saat itu bisa mencapai 50 ton per hari, bahkan pada 1939-an bisa mencapai 170.000 ton.

Tercatat selama periode 1942 s.d 1945-an, saat Perang Dunia II pecah, membuat pabrik Indarung I dikuasai oleh Pemerintahan Jepang. Bahkan segala urusan perusahaan juga resmi dipindahtangankan kepada Asano Cement milik Jepang. 

Perang yang terjadi pada masa itu malah semakin keruh, dan serangan musuh juga turut mengakibatkan banyak mesin yang rusak, sehingga produksi pabrik menjadi terhambat. Selanjutnya pada 1945 s.d 1947-an, pabrik semen itu akhirnya bisa dikuasai rakyat Indonesia.



Baca: Kemendikbudristek Tetapkan 15 Cagar Budaya dari 5 Provinsi di Indonesia


Pemerintah Indonesia resmi mengambil alih perusahaan tersebut lalu mengganti namanya menjadi Kilang Semen Indarung. Saat itu bisa dikatakan tak ada sama sekali produksi di pabrik dikarenakan mesinnya yang masih rusak dan dalam proses perbaikan.

Tak lama setelah periode itu, Kilang Semen Indarung diambil alih oleh NV NIPCM dengan nama Padang Portland Cement Maatschappy dan produksi pun mulai berjalan pada 1949-an hingga 8 tahun setelah itu produksi dari pabrik mampu meraih 1.540.000 ton.

Setelah berjalan cukup lama, pabrik Kilang Semen Indarung akhirnya bisa dikuasai kembali oleh pemerintah Indonesia yang kali ini dikelola oleh Badan Pengurusan Perindustrian Tambang. Dalam rangka mewujudkan ekonomi terpimpin, perusahaan itu pun dijadikan sebagai perusahaan milik negara dengan nama PN Semen Padang. 

Barulah pada 4 Juli 1972-an, nama pabrik berubah menjadi PT Semen Padang dan seluruh sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Indonesia. Namun sayangnya, seiring berjalannya waktu kini pabrik Indarung I itu sudah tidak beroperasi lagi.

Lalu, apa yang membuat Pabrik Indarung I ini layak dijadikan sebagai cagar budaya? Alasannya tentu karena kehebatan pabrik Indarung I di masa lampau, sehingga menjadikannya layak untuk dipertimbangkan sebagai cagar budaya. 

Sementara itu, sejak September 2022, PT Semen Padang bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Padang dan sejumlah ahli juga telah memulai upaya pengajuan pabrik Indarung I sebagai cagar budaya. Di sisi lain, saat ini pabrik tersebut telah menjadi cagar budaya Kota Padang.

Salah satu bukti upaya yang dilakukan itu seperti pada 11 Oktober 2022 lalu, Direktur Utama PT Semen Padang menemui Dirjen Kebudayaan RI di Jakarta untuk melaporkan progres pendaftaran pabrik Indarung I bersama PLTA Rasak Bungo sebagai cagar budaya nasional.

Jika pabrik Indarung I ini telah disahkan sebagai cagar budaya nasional, maka selanjutnya PT Semen Padang juga berencana akan mengajukannya sebagai warisan dunia ke UNESCO. Selain itu juga, untuk mengabadikan sejarahnya, PT Semen Padang saat ini juga tengah berupaya mengambil kembali seluruh dokumen tentang pabrik Indarung I dari Belanda.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Gubernur Jabar Resmi Buka Kongres Bahasa Daerah Budaya Melayu Betawi

Koropak.co.id, 17 November 2022 12:07:34

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Barat - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil secara resmi membuka Kongres Bahasa Daerah Budaya Melayu Betawi yang dilaksanakan di Swiss Bellin Hotel Karawang, Jawa Barat, Rabu 16 November 2022 malam.

Dalam pembukaannya, Kang Emil sapaan akrabnya berharap Kongres Bahasa Daerah Budaya Melayu Betawi bisa menghasilkan kesimpulan mengenai tata cara dalam mengimplementasikan penggunaan Bahasa Daerah Budaya Melayu Betawi yang sesuai dengan aturan.

"Semoga kongres yang berlangsung hari ini juga tidak hanya membahas substansinya saja. Kami berharap nantinya akan ada kesimpulan caranya, seperti bagaimana mengimplementasikannya," kata Kang Emil.

Kang Emil menambahkan, kongres yang dilaksanakan kali ini juga menjadi langkah strategis dari Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jawa Barat (Jabar) dalam melaksanakan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 14 Tahun 2014 tentang Pemeliharaan Bahasa, Sastra, dan Aksara Daerah.

"Dengan demikian kami berharap kongres ini juga bisa menggugah kesadaran masyarakat untuk bersama-sama ambil bagian dalam upaya penyelamatan bahasa daerah," tambahnya.



Baca: Ketika Ribuan Anak Ramaikan Festival Bandung Ulin


Di sisi lain, Kang Emil juga mendukung penuh pelestarian budaya tersebut. Oleh karena itulah, ia pun mengingatkan agar mulai mempersiapkan cara baru dalam mempertahankan budaya di tengah disrupsi yang hadir saat ini.

"Saya tentunya sangat mendukung sekali pelestarian budaya ini, dikarenakan budaya itu juga merupakan identitas. Sehingga pelestarian ini, di setiap zaman ada tantangannya dan untuk tantangannya hari ini adalah kita digempur oleh budaya Korea mulai dari musiknya, hingga drama Korea-nya," ucapnya.

Dalam kesempatan itu Kang Emil pun menegaskan, jika hanya berdiam diri dan tidak bergerak sama sekali, maka akan disapu ombak yang sangat besar. Oleh karena itulah, pihaknya pun sepakat untuk melestarikan budaya dengan cara yang baru.

"Kami juga meminta semuanya untuk tidak mencampurkan masalah batas wilayah administrasi dengan budaya," pungkasnya.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini: