Memilih Kacamata Sesuai Bentuk Wajah

Koropak.co.id, 24 July 2018 14:16:42
Penulis : Eris Kuswara
Memilih Kacamata Sesuai Bentuk Wajah

 

Koropak.co.id - Selain memiliki fungsi sebagai alat bantu penglihatan, kacamata juga ternyata sangat ampuh untuk menunjang penampilan seseorang. Ditambah lagi kini sudah banyak juga yang menawarkan berbagai model kacamata mulai dari kacamata kesehatan, kacamata pelindung dari sinar matahari (sunglasses), kacamata gaya hingga kacamata anti radiasi.

Namun, apapun jenis kacamata yang ditawarkan tersebut, hal pertama yang harus Anda perhatikan adalah bingkai kacamata yang melingkar di sekeliling lensa itu. Selain itu pemilihan bentuk bingkai yang keliru juga justru akan membuat penampilan seseorang terlihat buruk dan aneh. Sehingga agar tidak salah dalam memilih, alangkah baiknya Anda terlebih dahulu memilih model kacamata dengan bingkai yang sesuai dengan bentuk wajah.

1. Bingkai persegi panjang untuk wajah bulat
Bentuk wajah bulat biasanya ditandai dengan wajah yang tidak bersudut, dengan begitu pilihlah kacamata yang berbentuk persegi panjang dengan sudut yang tajam untuk mempertegas bentuk wajah yang dimiliki itu.

Usahakan juga untuk memilih ukuran yang sedikit lebih lebar dari wajah agar membuat pipi terlihat tirus. Selain itu hindari pemilihan bingkai dengan bentuk bulat dikarenakan akan mempertegas bentuk wajah yang bulat dan pipi yang chubby.

Memilih Kacamata Sesuai Bentuk Wajah

Baca : Atasi Masalah Wajah Tanpa Biaya Mahal

 

2. Sudut melengkung untuk wajah kotak
Bentuk wajah persegi ini seringkali disebut sebagai bentuk wajah idaman para lelaki, karena bentuknya yang menunjukkan rahang yang tegas serta tulang pipi yang lebar akan membuat bentuk wajah ini terlihat kokoh. Ditambah lagi untuk proporsinya, rahang sama panjangnya dengan dahi.

Sehingga pemilihan bingkai dengan bentuk persegi panjang, oval, atau bulat dengan tepi melengkung merupakan pilihan yang tepat untuk menyamarkan kontur tegas di wajah. Usahakan juga untuk memilih bingkai dengan sudut yang tidak runcing untuk menonjolkan fitur alami dari wajah kotak itu.

3. Cat eyes untuk bentuk wajah hati
Apabila Anda memiliki dahi yang lebar dengan tulang pipi serta dagu yang lancip, dengan begitu artinya Anda pemilik bentuk wajah hati. Sehingga untuk menyesuaikan bentuk wajah ini, gunakanlah kacamata dengan bingkai yang lebar di bagian atas dan menyempit di bagian bawah, ditambah sisinya lancip dan berdiameter tebal.

Karena kacamata model ini juga biasa disebut dengan cat eyes dan dapat membuat tulang pipi seseorang terlihat lebih kecil dengan bentuk alis yang tegas. Alangkah baiknya juga untuk hindari kacamata yang berbentuk tinggi dan lebar.


Baca : Optik Melawai Hadir Di Plaza Asia

Memilih Kacamata Sesuai Bentuk WajahBaca : Fakta Rajin Membaca Bisa Membuat Sukses

 

4. Wajah oval cocok untuk semua tipe
Bentuk wajah oval ini memiliki bentuk dahi dan dagu yang simetris, maka wajahnya pun akan terlihat cocok dan menarik dengan model kacamata apapun. Meskipun Anda bisa memilih model kacamata sesuai dengan keinginan, kacamata dengan bingkai yang besar justru akan membantu menegaskan bentuk wajah.

Sebagai pilihan yang tepat, Anda juga bisa mencoba kacamata model oval, cat eyes, ataupun bulat dan satu-satunya model kacamata yang harus dihindari oleh pemilik wajah bentuk ini adalah kacamata dengan bentuk lengan bingkai yang menggantung terlalu rendah dikarenakan akan membuat wajah terlihat semakin panjang.

5. Bingkai lebar untuk wajah segitiga
Ciri utama dari bentuk wajah segitiga adalah dahi yang sempit disertai dengan pipi serta dagu yang lebar. Sehingga alangkah baiknya gunakan kacamata yang memiliki sudut melengkung atau oval, dikarenakan kacamata jenis ini dapat menyamarkan bentuk rahang dan tulang pipi yang lebar.

Apabila Anda ingin mengurangi volume wajah bagian atas, Anda bisa mencoba bingkai yang semakin lebar ke bawah. Khusus untuk bentuk wajah segitiga ini juga pilihlah warna yang lembut, bahkan disarankan untuk memilih kacamata dengan model tanpa bingkai.*

 


Baca : Gerakan Nasional Gemar Membaca

Komentar

Lestarikan Wastra Nusantara Melalui Pagelaran Fesyen Bersama Desainer Edward Hutabarat

Koropak.co.id, 03 December 2022 12:14:27

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Direktorat Jenderal (Dirjen) Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) beberapa waktu lalu menggelar kegiatan bertajuk "Tenun Nusantara: Menjaga Tradisi untuk Bumi Lestari".

Kegiatan yang digelar di Kawasan Candi Borobudur tersebut tersaji dalam bentuk pagelaran fesyen dan pameran tenun dengan menggandeng desainer kawakan, Edward Hutabarat yang juga dikenal sebagai sosok dengan kepakaran wastra Nusantaranya. 

Edward Hutabarat pun sukses menggelar presentasi karyanya yang mengangkat eksplorasi kain tenun Nusantara khas Sumba. Dalam pagelaran itu, koleksi tenun yang ditampilkan merupakan hasil kerja sama Edward Hutabarat dengan para artisan lokal yang begitu menginspirasinya sejak ia melakukan perjalanan ke tanah Sumba, yakni sekitar 20 tahun silam.

Direktur Jenderal Kebudayaan, Kemendikbudristek, Hilmar Farid menjelaskan bahwa kegiatan fashion show yang diselenggarakan itu merupakan kegiatan yang penting dan baik sekali untuk mengangkat sekaligus mengampanyekan kearifan lokal dengan cara kekinian. Bahkan baginya hasil karya Edward Hutabarat itu sangat penting ditampilkan. Terlebih lagi, hasil karyanya dengan mengangkat budaya Nusantara, salah satunya Sumba.

"Yang beda dari fashion show kali ini dikarenakan mengangkat hasil karya kerajinan Nusantara. Kami berharap ke depannya akan terus bermunculan hasil-hasil karya nusantara. Selain itu, Kemendikbudristek juga akan mendukung dan selalu terbuka dalam hal pelestarian budaya. Asalkan apa yang akan dimunculkan dan pesannya itu harus kuat," jelas Hilmar dalam rilis Kemendikbudristek di Jakarta, Jumat 2 Desember 2022.

Sebagaimana halnya wastra Nusantara lain yang sarat akan nilai budaya yang tinggi, kain tenun Sumba juga memiliki keindahan mulai dari motif yang variatif hingga nilai filosofis yang harus tetap dijaga. Hal itulah yang membuat Edward Hutabarat selalu menjaga pakem dari kain tersebut ketika mengembangkannya.



Baca: Pendopo Fashion Show Angkat Keindahan Kain Sikka


Di sisi lain, Edward juga menilai pentingnya pakem tersebut dikarenakan Kain Sumba dan juga kain-kain peradaban dari kepulauan lainnya adalah Kain Peradaban. Kain itu diciptakan untuk melengkapi sebuah seremoni, mulai dari kelahiran, perkawinan, hingga kematian. 

"Dibalik keindahan kain tenun ini juga, ada serangkaian proses yang panjang dan tidak mudah. Hal ini jugalah yang turut merepresentasikan kesabaran penenun lokal dalam membuat kain tenun itu. Mulai dari memintal sendiri benang dari kapas hingga nantinya menjadi kain. Ada satu proses yang disebut Kabakil yaitu teknik akhir dalam menyelesaikan sehelai Kain Sumba yang dikerjakan dengan arah tenunan berlawanan dan dipelintir," jelas Edward.

Edward juga mengungkapkan bahwa proses itu memiliki fungsi dalam melindungi benang-benang agar tidak terlepas dari kainnya, sehingga kain tenun yang melalui proses ini nantinya akan memiliki keluaran kain yang sangat rapi. 

"Kain tenun dengan Kabakil inilah yang menjadi nilai spesial dari kain tenun Sumba, karena tidak semua penenun juga bisa membuat Kabakil dan diperlukan keahlian khusus untuk membuat itu," ungkapnya.

Diketahui, Kabakil ini jugalah yang merepresentasikan judul dari gelaran fesyen Edward Hutabarat kali ini. Selain itu, nuansa di dalamnya pun seakan menyuarakan semangat untuk menjaga eksistensi kain Nusantara agar keindahannya tidak terlepas dari identitas budaya bangsa layaknya Kabakil yang melindungi benang-benang agar tidak terlepas dari kain yang menghasilkan motif yang indah.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Peringati 60 Tahun Hubungan Bilateral Indonesia-Jepang, UBL Gelar Japan Festival

Koropak.co.id, 01 December 2022 13:26:33

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Dalam rangka mengenalkan Budaya Jepang ke warga Jakarta dan sekitarnya, Universitas Budi Luhur (UBL), Jakarta, menggelar kegiatan Japan Festival bertajuk "Building Harmony and Peace", Kamis 1 Desember 2022.

Kegiatan yang juga digelar dalam rangka memperingati 60 tahun hubungan bilateral antara Indonesia-Jepang ini setidaknya melibatkan ratusan siswa dari SMP, SMA dan SMK se-Jabodetabek untuk berkompetisi cosplay Jepang. 

Tak hanya itu saja, Japan Festival juga turut melibatkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) lokal dengan makanan khas Jepang yang disajikan seperti Sushi, Sashimi, Onigiri, Ramen dan lain sebagainya. 

Rektor Universitas Budi Luhur (UBL), Wendi Usino mengatakan bahwa dengan diselenggarakannya acara festival Jepang ini, diharapkan generasi muda bisa belajar dan mendapatkan pengetahuan tentang kebudayaan Negeri Sakura itu. Karena menurutnya, budaya Jepang yang baik itu bisa diadopsi. 



Baca: Amukti Zamrud Nuswantara, Ajang Perekat Keberagaman yang Ada di Yogyakarta


"Tentunya saya juga merasa bangga dengan acara ini, yang mana kita disini bisa memahami budaya dari Jepang. Selain itu, kita juga sama-sama belajar dari kulinernya, budayanya, dan lain sebagainya. Intinya, kami berharap agar kedepannya bisa menyelenggarakan kegiatan budaya dari negara lain seperti Korea Selatan, Belanda dengan sama-sama belajar budayanya," kata Wendi belum lama ini. 

Sementara itu, Perwakilan Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti, Mika Suzuki juga turut mengapresiasi kegiatan Jepang Festival yang diselenggarakan UBL. Bahkan ia juga mengaku, kegiatan ini bisa menjadi sarana bagi generasi muda untuk saling belajar antar budaya.

"Melalui kegiatan ini, tentunya kita bisa saling belajar budaya Indonesia-Jepang. Mulai dari segi bahasa, keilmuan, makanan, dan lain sebagainya. Saya juga suka dengan acara ini, sukses untuk acara Japan Festival Universitas Budi Luhur. Terima kasih semuanya," tandas Mika.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Amukti Zamrud Nuswantara, Ajang Perekat Keberagaman yang Ada di Yogyakarta

Koropak.co.id, 01 December 2022 07:15:33

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Yogyakarta - Dikenal sebagai Kota Pelajar, membuat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tujuan banyak orang dari berbagai daerah di Indonesia untuk menimba ilmu. Tidak hanya duduk di bangku sekolah atau kampus, bahkan mereka turut menjalin komunikasi dan interaksi bersama dengan orang dari berbagai daerah dan masyarakat DIY itu sendiri.

Sebagai upaya dalam merekatkan hubungan antar masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia itulah, Dinas Kebudayaan (Disbud) DIY menggelar Pentas Seni Budaya Nusantara Tahun 2022 bertajuk "Amukti Zamrud Nuswantara" yang dilaksanakan di Monumen Serangan Umum 1 Maret pada Kamis 1 Desember 2022.

Diketahui, tajuk tersebut memiliki makna mengagungkan keindahan Nusantara yang beraneka budaya kekayaan alamnya. Pentas Seni Budaya Nusantara Tahun 2022 itu juga mempersembahkan penampilan adat dari 34 provinsi di Indonesia. 

Kepala Dinas Kebudayaan (Kadisbud) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi mengatakan bahwa kegiatan yang diikuti kalangan pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia ini, menjadi media sekaligus kesempatan yang bagus untuk bisa lebih merekatkan hubungan masyarakat agar bisa lebih guyub dan lebih toleran.



Baca: Cara Pemkab Kediri Bangun Digitalisasi Seni


"Dengan diselenggarakannya kegiatan ini, masyarakat dari berbagai daerah itu pun bisa saling memahami, atau paling tidak bisa menjaga diri lebih aman dan nyaman. Kegiatan ini juga dilaksanakan dengan tujuan untuk membangun pemahaman bersama, terutama terkait etnis dan budaya," kata Dian Lakshmi Pratiwi belum lama ini. 

Dian Lakshmi menyebutkan bahwa Pentas Seni Budaya Nusantara 2022 ini juga memang dilatarbelakangi dengan adanya keanekaragaman suku, budaya, agama, ras, golongan serta menganut prinsip nilai-nilai kebersamaan yang terdapat dalam dasar Negara Pancasila. Sehingga dengan adanya kegiatan ini, diharapkan nantinya tidak hanya muncul kedekatan antar mahasiswa, akan tetapi juga terbangun kedekatan dengan warga Yogyakarta.

"Melalui kegiatan ini diharapkan nantinya bisa lebih terkoneksi, dan mampu membangun hubungan yang baik juga dengan masyarakat. Oleh karena itulah, kami mencoba untuk mengenalkan semua mahasiswa di Yogyakarta, kepada masyarakat. Sehingga jika terjadi sesuatu, bisa enak juga komunikasinya," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Dian Lakshmi juga mengharapkan agar DIY bisa menjadi rumah bersama, dan DIY juga bisa menjadi Indonesia mini yang nyaman dan aman. 

"Kami berharap Yogyakarta bisa menjadi rumah bersama, dan ruang yang nyaman untuk belajar. Sebab bagaimanapun juga kebudayaan menjadi bagian penting dan salah satu pendekatannya dengan diplomasi yang bisa menghaluskan rasa. Kemudian bisa mendekatkan dengan komunikasi yang lebih nyaman, enak, tanpa harus memaksa," pungkasnya. 


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Cara Pemkab Kediri Bangun Digitalisasi Seni

Koropak.co.id, 30 November 2022 07:04:44

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Timur - Saat ini, kemajuan di bidang teknologi tentunya menjadi tantangan tersendiri khususnya bagi para pelaku seni dan budaya. Sebagai upaya dalam mendukung kemajuan teknologi tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri pun saat ini tengah berupaya mengoptimalkan infrastruktur internet dan digital.

Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kabupaten Kediri (DK4), Imam Mubarok menilai, di samping infrastruktur, kemampuan para pelaku seni dalam memanfaatkan kemajuan juga masih menjadi persoalan di Kediri. Pasalnya, tak dapat dipungkiri juga bahwa skill hingga pengetahuan para pelaku seni dan budaya dalam menguasai teknologi dan digitalisasi perlu ditingkatkan.

Alasan inilah yang membuat Bupati Kediri Hanindhito, melalui DK4 dan Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Kabupaten Kediri beberapa waktu lalu menggelar diskusi bersama pelaku seni dan budaya dari berbagai desa dan komunitas bertajuk "Tantangan dan Solusi Wajah Kebudayaan Kabupaten Kediri di Era Digital" di Kabupaten Kediri.

"Saat ini yang menjadi ancaman bagi pelaku seni dan budayawan adalah digital. Oleh karena itulah, SDM yang dimiliki saat ini perlu di-upgrade. Kemudian yang kedua adalah legalitas, tentunya kita akan memberikan rekomendasi pada Bupati Kediri untuk membantu legalitas seniman dan kebudayaan terkait dengan perizinan," kata Imam belum lama ini. 

Imam mengatakan bahwa di era digital saat ini, para pelaku seni didorong untuk tidak mengedepankan ego sektoral, melainkan  berkomitmen untuk bersatu dalam membangun kebudayaan di Bumi Panjalu. Selain itu, kebudayaan di Kabupaten Kediri juga akan maju apabila didukung dengan fasilitas serta infrastruktur digital dan internet yang disediakan oleh pemerintah kabupaten.



Baca: Semarak Adat Sedekah Bumi dan Karnaval Budaya 2022 di Desa Jatibarang


"Nantinya, Kepala Diskominfo Kabupaten Kediri sendiri akan membuatkan web yang didalamnya merupakan peta kebudayaan. Jadi semua potensi di sana, nanti hanya tinggal klik dan semua data pun akan muncul. Sementara itu, berdasarkan data dari DK4, tercatat sebanyak 1.760 budaya dan seni sudah terdaftar di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri dan memiliki induk kebudayaan," katanya. 

Imam menambahkan, adapun untuk nomor induknya akan menjadi sesuatu hal yang penting, yakni sebagai legalitas terlebih lagi untuk menyambut beroperasinya bandara. Sementara itu, untuk menindaklanjuti instruksi bupati dalam memfasilitasi pelaku seni dan budaya, Kepala Diskominfo Kabupaten Kediri, Sri Ilham Wahyu Subekti telah menyiapkan infrastruktur internet.

"Infrastruktur internet itu disiapkan untuk mendukung dibuatnya web dan media promosi digital lain, seperti live streaming. Menurut kami, bandwidth yang dimiliki Diskominfo sendiri cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Di samping itu juga, kami telah menyiapkan 1.450 Mbps. Sedangkan, dalam penggunaan rutinnya hanya digunakan 350 Mbps. Jadi, apabila desa dan kecamatan serentak memakai (bandwidth), maka yang terpakai hanya 750 Mbps," tambahnya. 

Kepala Diskominfo Kabupaten Kediri, Sri Ilham Wahyu Subekti menuturkan, dengan rancangan web dan kecepatan internet tersebut, Bupati Kediri mendorong agar pelaku seni dapat menggunakan infrastruktur yang ada. Bahkan ia juga berharap ke depannya pelaku seni dan budaya di Kediri dapat lebih proaktif dalam mempromosikan budaya dan seni asli dari Kabupaten Kediri. 

"Hal ini termasuk juga dengan Petilasan Sri Aji Jayabaya, cerita panji, candi dan sejarah, serta pesona alam dari gunung yang dinilai mampu menunjang pariwisata di Kabupaten Kediri. Intinya, sesuai dengan instruksi Mas Dhito, teman-teman budayawan ini kita fasilitasi. Sehingga nanti publikasinya itu tidak hanya lokal, tapi mendunia. Jadi yang telah disiapkan oleh Mas Dhito ini bisa dimanfaatkan secara maksimal," katanya.

Selain bidang seni dan budaya, dalam kesempatan itu Ilham juga mengajak seluruh desa untuk terus mengembangkan potensinya dengan memanfaatkan infrastruktur yang dimiliki oleh Pemerintah Kabupaten Kediri.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Mengintip Wajah Baru Benteng Pendem Ngawi Jawa Timur

Koropak.co.id, 28 November 2022 12:09:55

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Timur - Benteng Van den Bosch, atau yang lebih dikenal sebagai Benteng Pendem merupakan sebuah benteng yang terletak di Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi Kota, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. 

Benteng Pendemi memiliki ukuran bangunan 165 m x 80 m dengan luas tanah 15 Hektare. Letak benteng ini juga sangat strategis dikarenakan berada di dekat muara sungai Bengawan Madiun yang bermuara ke sungai Bengawan Solo. 

Tak hanya itu saja, dulu benteng ini sengaja dibangun lebih rendah dari tanah sekitar yang dikelilingi oleh tanah tinggi, sehingga dari luar membuatnya terlihat seperti terpendam. Guna menjaga kelestariannya sebagai bangunan cagar budaya, Benteng Pendemi ini pun direhabilitasi.

Kabarnya, baru-baru ini Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sendiri telah menyelesaikan rehabilitasi benteng yang dibangun pada 1840-an.

Di sisi lain, rehabilitasi yang dilakukan pada Benteng Pendemi ini juga sekaligus untuk meningkatkan potensi sektor pariwisata khususnya yang ada di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. 

Tercatat, rehabilitasi Benteng Pendem Ngawi ini mulai dikerjakan sejak 10 Desember 2020 sebagai tindak lanjut Direktif Presiden Ir H Joko Widodo atau Jokowi setelah meninjau bangunan bersejarah itu pada Februari 2019 lalu. 

Diketahui juga bahwa saat ini pekerjaan konstruksi bangunan dari benteng tersebut 100 persen telah selesai dan siap untuk segera diresmikan sebagai destinasi wisata edukasi dan landmark kawasan heritage di Kabupaten Ngawi. 



Baca: Hampir Rampung, Benteng Pendem Diharapkan Jadi Wisata Edukasi


"Dikarenakan kawasan Benteng Pendem ini merupakan cagar budaya, jadi untuk penataannya harus dilakukan secara hati-hati. Hal itu dilakukan agar nilai kultural yang ada pada bangunan cagar budaya ini tetap terjaga dengan baik," kata Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono dalam rilisnya belum lama ini.

Sementara itu, untuk rehabilitasi kawasan pusaka Benteng Pendem tersebut dilaksanakan dengan mengadopsi Adaptive Reuse Concept. Artinya, rehabilitasinya dilakukan dengan mengembalikan fungsi bangunan cagar budaya dengan fungsi baru.

Kemudian juga seminimal mungkin mengubah bentuk bangunan lama dengan tetap menjaga nilai kultural. Untuk rehabilitasi Benteng Pendem Ngawi itu dilaksanakan selama 2020 s.d 2022 oleh kontraktor PT. Nindya Karya dengan melibatkan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Jawa Timur. 

Sedangkan untuk anggaran pekerjaan konstruksinya sendiri bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) senilai Rp125 miliar. Anggaran itu digunakan untuk merehabilitasi 13 bangunan di dalam kompleks benteng dan juga untuk penataan lanskap kawasan Inti Benteng seluas 4,8 hektare. 

Selain itu juga dilakukan penataan pedestrian kawasan, normalisasi parit, pekerjaan Mekanikal Elektrikal Plumbing (MEP), dan pembangunan bangunan pendukung. 

Sebagai informasi, kawasan wisata Benteng Pendem ini berada di area Yon Armed 12 milik Kementerian Pertahanan seluas 5,4 hektare yang berlokasi sekitar 3 kilometer dari pusat kota Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. 

Selanjutnya, bangunan cagar budaya ini juga tentunya bisa menjadi destinasi wisata pilihan di Kabupaten Ngawi yang dapat ditempuh dengan waktu sekitar 2,5 jam perjalanan dari Bandara Juanda atau Kota Surabaya via Tol Trans-Jawa.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Akhir Pekan Ini, Riksa Budaya dan Kongres Bahasa Cirebon Digelar

Koropak.co.id, 27 November 2022 07:06:44

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Barat - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat menggelar kegiatan tahunan bertajuk Riksa Budaya sebagai upaya dalam melestarikan tiga kekuatan budaya di Jawa Barat yakni Melayu-Betawi, Priangan dan Cirebon.

Kegiatan yang digelar mulai Sabtu 26 s.d Ahad 27 November 2022 ini menampilkan keanekaragaman budaya Cirebon, mulai dari penampilan lima maestro tari topeng hingga kongres bahasa Cirebon. Sebelumnya, kegiatan serupa digelar dengan mengangkat budaya Melayu-Betawi yang melekat pada masyarakat Bekasi pada 25 Oktober 2022 lalu.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Kota Cirebon, Agus Sukmanjaya menjelaskan bahwa dalam kegiatan Riksa Budaya kali ini, beragam budaya dari Cirebon akan ditampilkan, termasuk juga pagelaran lima maestro tari topeng yang tariannya diwarisi dari leluhur mereka.

"Jadi untuk lima tari topeng tersebut diantaranya, tari topeng Losari, Gegesik, Palimanan, Slangit dan Indramayu. Kelima maestro tari topeng dari kelima daerah itu juga akan tampil dalam satu panggung dengan menampilkan tari topeng ciri khas daerahnya masing-masing," jelas Agus, belum lama ini. 

Selain tari topeng dari lima maestro tari topeng, lanjut Agus, akan ditampilkan juga pagelaran wayang kulit dengan dalangnya yang merupakan siswa dari salah satu sekolah di Kota Cirebon. Hal ini tentunya menunjukkan bahwa adanya regenerasi budaya di Kota Cirebon.



Baca: Semarak Adat Sedekah Bumi dan Karnaval Budaya 2022 di Desa Jatibarang


"Tak hanya pagelaran seni, kami juga menggelar Kongres Bahasa Cirebon. Pasalnya, kami menilai peran bahasa itu sangat penting dikarenakan bahasa itu sendiri merupakan identitas suatu bangsa. Selain itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Cirebon juga saat ini sedang membumikan penggunaan Bahasa Cirebon melalui program Sedina Nyerbon," katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat, Febriyani menambahkan, sebelumnya kegiatan Riksa Budaya sempat terhenti akibat pandemi Covid-19 dan tahun ini kegiatan tersebut baru bisa kembali digelar

"Kegiatan Riksa Budaya ini dimulai di kampung adat Kranggan, Kota Bekasi yang mengusung tema Saling Tulungan yang dilaksanakan pada 25 Oktober 2022 lalu dengan mengangkat budaya Melayu-Bekasi yang melekat dengan masyarakat Bekasi," tambah Febriyani.

Selanjutnya, kata Febriyani, Riksa Budaya pun dirangkaikan dengan kongres bahasa yang digelar di Cirebon pada Sabtu (26/11) s.d Ahad (26/11). Kemudian setelah itu rencananya Riksa Budaya berikutnya akan digelar di Sukabumi, Jawa Barat pada Desember 2022 mendatang.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Tembus Batas Kreativitas dengan Purnama

Koropak.co.id, 26 November 2022 10:07:05

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Barat - Forum Film Jawa Barat (FFJB) punya jurus jitu dalam upaya mengapresiasi karya-karya dari komunitas film. Gelaran Film Purnama namanya.

Inilah Gelar Film Purnama: Kebebasan Menembus Batas. Acaranya diadakan di Auditorium Bandung Creative Hub, Jalan Laswi Nomor 7, Kacapiring, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, pada Rabu 23 November 2022 lalu.

Mengusung tema "Menggali Potensi Daerah Sebagai Tema Film Indie", Film Purnama yang digelar FFJB sebagai wadah bagi komunitas film ini sudah dilaksanakan sejak 2013. Memang beberapa tahun terakhir sempat terhenti akibat pandemi Covid-19, namun kali ini kembali bangkit.

Kegiatan film yang diputar di bulan purnama itu menghadirkan pemutaran dan diskusi film dengan moderator mumpuni. Mereka mengupas berbagai karya hingga memberikan banyak pencerahan untuk para peserta.

Turut hadir, mewakili Laboratorium Film Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (Fikom UNISBA), Askurifai Baksin, dan narasumber dari Ketua Forum Film Jawa Barat (FFJB), Irwan Zabonk serta Dosen Binus dan Multimedia Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI), Iwan Urban.

Ketua Forum Film Jawa Barat (FFJB), Irwan Zabonk menjelaskan bahwa Film Purnama merupakan wadah pemutaran film-film yang dihasilkan oleh komunitas film khususnya di Jawa Barat. Tercatat, setiap bulannya Purnama memutar sekitar 5 s.d 8 film.

"Awalnya Film Purnama ini digelar di Dago Tea House. Namun setelah pandemi Covid-19, kegiatannya pun dipindahkan dan digelar di Auditorium Bandung Creative Hub. Tak hanya pemutaran film, di Purnama ini juga turut diadakan diskusinya," jelas Irwan sebagaimana rilis yang diterima Koropak, Sabtu 26 November 2022.

Irwan menambahkan, untuk film yang diputar dalam Purnama sendiri mayoritasnya adalah film pendek. Akan tetapi, tidak semua film yang dikirimkan ke panitia di putar di Purnama. Sebab sebelum diputar di Purnama, pihaknya akan melakukan seleksi atau kurasi untuk film-film yang dikirimkan.

"Seperti di bulan ini, ada sekitar 18 karya film yang dikirim ke panitia. Namun setelah proses seleksi, kami hanya menampilkan tujuh film terlebih dahulu. Sementara untuk sisanya nanti," tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Irwan juga mengungkapkan bahwa Purnama ini merupakan bentuk apresiasi dari FFJB terhadap karya-karya yang dihasilkan komunitas film. Bahkan rencananya, di akhir tahun pihaknya akan menggelar awarding. 

"Dari sekian karya film yang masuk, pada awarding itu panitia akan memilih 10 karya dan lima diantaranya akan mendapatkan penghargaan. Respons dari komunitas film di Jabar untuk Purnama ini juga alhamdulillah cukup banyak. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya karya film yang dikirimkan ke panitia," ungkapnya.



Baca: Film "Pamali" dan Potensi Budaya Sunda


Irwan menuturkan, meskipun bukan lembaga resmi, namun FFJB sendiri tetap menjadi kualitasnya. Sehingga, untuk film yang tayang di Purnama memang merupakan hasil seleksi. 

Soal anggaran, kata dia, FFJB sempat mendapatkan dana dari Pemprov Jabar sebagai bentuk apresiasi pada masa pemerintahan Wakil Gubernur, Deddy Mizwar.

"Saat ini bantuan tersebut sudah tidak ada, makanya biaya penyelenggaraan Purnama ini masih mengunakan dana swadaya dari komunitas film," tuturnya.

Meskipun begitu, dia berharap, yang terpenting pihaknya ingin acara tersebut bisa terus berlanjut. Bahkan kata dia, dia ingin kegiatan tersebut seperti festival film-film lainnya yang umurnya hingga puluhan tahun.

"Seperti Festival Film Jogja yang digagas Garin Nugroho, usianya saat ini sudah hampir 20 tahun," tuturnya.

Tentang minat masyarakat terhadap film, Irwan menilai, saat ini minat tersebut terus berkembang. Terlebih lagi dengan hadirnya media sosial dengan konten-konten videonya yang lebih banyak. Sehingga hal tersebut tentunya bisa memicu karya film yang lebih bagus lagi.

"Terlebih lagi dengan ditunjang teknologi saat ini. Karena sekarang, pakai handphone saja sudah bisa bikin video. Makanya dengan dukungan teknologi yang mumpuni, saya yakin komunitas film akan terus bangkit," ujarnya.

Sementara itu, Pakar Komunikasi sekaligus Panitia FFJB dari Laboratorium Film Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (Fikom UNISBA), Askurifai Baksin, menyatakan bahwa FFJB merupakan wadah untuk berkreasi dan memberikan ruang publikasi bagi komunitas film khususnya di Jawa Barat. 

"Sejatinya film itu bukan hanya untuk diproduksi, akan tetapi juga harus dipublikasikan. Selain itu, film juga merupakan produk komunikasi audio visual. Dengan dukungan teknologi yang mudah dan canggih saat ini, tentunya pembuatan film pun bisa menjadi lebih berkembang," ucap Askur.

Askur menilai generasi muda juga seolah kembali menemukan semangatnya dengan kehadiran teknologi saat ini. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya karya film bagus yang dihasilkan dan dikirimkan di Purnama kali ini. 

"Intinya, kami berharap kondisi ini bisa memajukan perfilman Indonesia, khususnya di Jawa Barat," harapnya.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:



Semarak Adat Sedekah Bumi dan Karnaval Budaya 2022 di Desa Jatibarang

Koropak.co.id, 26 November 2022 07:13:44

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Barat - Setelah beberapa tahun tertunda, Pemerintah Desa (Pemdes) Jatibarang akhirnya kembali mengadakan Adat Sedekah Bumi dan Karnaval Budaya Tahun 2022 yang dilaksanakan di Desa Jatibarang, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Kamis 24 November 2022.

Adat sedekah bumi dan karnaval budaya yang di mulai dari halaman Kantor Desa Jatibarang ini secara langsung bisa menjadi momen untuk mempererat tali silaturahmi dan memperkuat persatuan. Salah satunya adalah dengan dilakukannya kegiatan adat istiadat.

Masyarakat pun tampak begitu antusias dalam mengikuti dan meramaikan adat sedekah bumi dan karnaval budaya. Pasalnya kegiatan itu dimeriahkan dengan acara tumpengan, baritan, do'a tahlilan, tausiyah, pawai karnaval adat, kesenian daerah, pagelaran Seni budaya Sandiwara Purbasari dari Losarang Indramayu, hingga pengundian hadiah dooprize.

Kuwu Desa atau Kepala Desa Jatibarang, Agus Darmawan mengatakan bahwa Adat Sedekah Bumi dan Karnaval Budaya ini digelar sebagai bentuk rasa syukur dari warga desa Jatibarang atas nikmat yang diberikan oleh Allah Subahanahu Wata'ala berupa kesuburan pertaniannya yang makmur dan kesehatan dengan harapan semua warga desa Jatibarang bisa mendapat keberkahan dan terhindar dari segala macan mara bahaya.

"Sedekah Bumi ini merupakan adat budaya tahunan yang dilaksanakan sebagai tanda dimulainya masa bercocok tanam oleh para petani. Acaranya pun akan diawali dengan Tumpengan atau Baritan yaitu do'a bersama dari seluruh masyarakat yang hadir," kata Agus.



Baca: Simak Keseruan Festival Etnis Alas Gayo


Agus menambahkan, setelah itu dilanjutkan dengan tahlilan yang dipimpin oleh Ustaz Karmadi, dimana masyarakat setempat akan membawa makanan dan minuman serta hasil pertanian yang di kumpulkan dalam satu tempat sebagai wujud rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wata'ala.

"Acara pun dilanjutkan dengan ceramah keagamaan yang di sampaikan oleh pengasuh pondok pesantren Darut Tahfidz Jatibarang, Ustaz Munawir. Kemudian setelah tausiyah, ditutup dengan do'a yang dipimpin oleh pengasuh pondok pesantren Petuah Jatibarang, Ustaz Masruhin," tambahnya.

Adapun untuk Karnaval budaya dan keseniannya, dilaksanakan di sepanjang Jalan Mayor Dasuki. Beragam budaya dan kesenian ditampilkan oleh peserta perwakilan dari tujuh Rukun Warga (RW) yang ada di Desa Jatibarang. 

"Mulai dari arak-arakan, hasil bumi, patung, tumpeng raksasa, seni musik tarling, singa depok, kuda ronggeng dan berbagai kreasi seni budaya lainnya memeriahkan karnaval budaya di Desa Jatibarang," pungkasnya.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Ketika Empat Negara Mendaftarkan Kebaya Jadi Warisan Budaya, Indonesia Bagaimana?

Koropak.co.id, 25 November 2022 12:09:23

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta -  Kebaya dikenal sebagai pakaian tradisional wanita yang menjadi warisan budaya dan populer di Asia Tenggara, salah satunya Indonesia. 

Baru-baru ini, dikabarkan bahwa Singapura akan mendaftarkan kebaya untuk masuk dalam daftar warisan budaya UNESCO, melalui upaya multinasional bersama dengan 3 negara lainnya yakni Brunei Darussalam, Malaysia dan Thailand. 

Dewan Warisan Nasional (NHB) Singapura menyebutkan, langkah yang dilakukannya ini akan menjadi nominasi multinasional pertama bagi Singapura untuk Daftar Perwakilan Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan UNESCO. Pihaknya pun menjadwalkan untuk diserahkan penawarannya pada Maret 2023 mendatang.

CEO NHB, Chang Hwee Nee menjelaskan, kebaya adalah pakaian tradisional wanita yang populer di beberapa negara tersebut. Melalui langkah tersebut, pihaknya pun meyakini bahwa kebaya dapat mewakili dan mempromosikan pemahaman lintas budaya yang akan terus aktif diproduksi dan dikenakan oleh banyak komunitas di kawasan Asia Tenggara.

"Kebaya itu sendiri telah, dan terus menjadi aspek sentral dalam representasi serta tampilan warisan budaya dan identitas Melayu, Peranakan dan komunitas lainnya di Singapura. Selain itu, kebaya juga merupakan bagian integral dari warisan kami sebagai kota pelabuhan multikultural dengan hubungan lintas Asia Tenggara dan dunia," jelas Chang Hwee Nee, Kamis 24 November 2022.

Chang Hwee Nee menambahkan bahwa pendaftaran bersama yang dilakukan itu juga merupakan bentuk multikulturalisme dan akar bersama dengan kawasan ketiga negara tersebut. Bahkan Malaysia sendiri telah mengusulkan dan mengoordinasikan nominasi multinasional dan gagasan tersebut serta dibahas sebagai bagian dari rangkaian rapat kerja di antara sejumlah negara pada 2022.

"Baik Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura dan Thailand juga sudah setuju untuk bekerja sama dalam nominasi. Namun kami juga menyambut negara lain untuk bergabung dalam nominasi itu. Pasalnya, antara Agustus dan Oktober, NHB mengadakan enam diskusi kelompok terarah dengan 48 peserta untuk mencari pandangan tentang nominasi itu," tambahnya. 



Baca: Sejarah Kebaya hingga Pendaftaran ke UNESCO


Diskusi itu juga, lanjut Chang Hwee Nee, termasuk melibatkan praktisi budaya, perwakilan asosiasi budaya dan peneliti dalam pembuatan dan pemakaian kebaya. Kemudian mulai dari 1 hingga 3 November, perwakilan dari NHB dan masyarakat juga telah menghadiri lokakarya yang diselenggarakan oleh Malaysia di Port Dickson. 

"Di mana dalam lokakarya itu, mereka mendiskusikan nominasi tersebut, termasuk terkait apa yang harus disertakan dalam pengajuannya. Tak hanya itu saja, NHB juga akan mengatur inisiatif penjangkauan publik dari Januari s.d Maret 2023 untuk meningkatkan kesadaran akan nominasinya," ucapnya. 

Selanjutnya UNESCO sendiri akan menilai nominasi berdasarkan definisi warisan budaya takbenda, dan seberapa baik masing-masing dari empat negara itu akan memastikan promosi dan transmisi praktik terkait kebaya. Setelah itu diharapkan hasil nominasinya akan diumumkan pada akhir 2024 mendatang.

"Kerajinan dan praktik terkait kebaya ini ditambahkan ke inventaris warisan budaya takbenda NHB pada Oktober 2022, dan bergabung dengan elemen lainnya seperti budidaya anggrek dan pembuatan kecap dalam daftar 102 lokal terkuat," ujarnya.

Sementara itu, dibalik langkah yang dilakukan Singapura dan 3 negara Asia Tenggara lainnya untuk mendaftarkan kebaya sebagai salah satu daftar warisan budaya takbenda UNESCO itu, sebenarnya sudah digaungkan oleh Indonesia dalam beberapa waktu terakhir melalui Kebaya "Goes to UNESCO". 

Tak hanya itu saja, komunitas pecinta kebaya di Indonesia juga bahkan mengharapkan agar Indonesia menempuh jalur single nation dalam pengajuan kebaya sebagai warisan budaya ke UNESCO, dan bukan dilakukan secara bersama-sama dengan Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. 

Bukan tanpa alasan, mereka sendiri menilai apabila kebaya diakui oleh banyak negara, maka mungkin saja kebaya tersebut nantinya tidak lagi menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia dan tidak lagi menjadi bagian dari jati diri bangsa.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Pendopo Fashion Show Angkat Keindahan Kain Sikka

Koropak.co.id, 24 November 2022 15:02:51

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Banten - Warisan budaya Indonesia yang sangat banyak dengan keanekaragaman yang dimilikinya itu perlahan bisa hilang seiring berjalannya waktu jika kita tidak berupaya untuk menjaga dan melestarikan keberadaannya.

Selain itu, banyak cara yang dapat dilakukan untuk merawat warisan budaya Indonesia agar tidak hilang termakan waktu, salah satunya adalah dengan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena, semakin budaya itu menjadi rutinitas, maka warisan tersebut tentunya tidak akan punah.

Konsep itulah yang coba dilakukan dalam Pagelaran Pendopo Fashion Show 2022 yang dilaksanakan di Living World Tangerang Selatan, Banten, Rabu 23 November 2022. 

Dengan mengangkat keindahan kain Sikka yang merupakan kain tenun Khas NTT, wastra Nusantara tersebut berhasil diubah menjadi sesuatu yang lebih modern tanpa meninggalkan identitas warisan budayanya.

Direktur Pendopo, Tasya Widya Krisnadi mengungkapkan, melalui Pendopo Fashion Show 2022, pihaknya ingin memelihara kekayaan budaya Indonesia lewat tiga fokus utama yaitu pengembangan produk, kolaborasi dengan pengrajin lokal, dan memperkenalkannya ke publik.

"Agar kain sikka ini semakin eksis, Pendopo juga tidak hanya mengandalkan fashion desainer in-house saja. Akan tetapi juga turut berkolaborasi dengan dua desainer lokal, Didiet Maulana dan Iyonono. Melalui kolaborasi ini, kami ingin kain tenun sikka dikreasikan menjadi lebih modern, sehingga dapat mengikuti selera masa kini," ungkap Tasya.



Baca: Lestarikan Mite dengan Festival Dongeng Internasional Indonesia


Sementara itu, Direktur Kuliner, Kriya, Desain, dan Fesyen Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Yuke Sri Rahayu yang hadir di Pendopo Fashion Show 2022 juga menjelaskan bahwa ajang seperti ini perlu mendapatkan apresiasi sebagai upaya meremajakan budaya Indonesia

"Acara ini juga secara tidak langsung dapat meningkatkan kualitas pengrajin lokal, sehingga produk fashion yang dihasilkannya menjadi bernilai tinggi. Di sisi lain, Pendopo Fashion Show 2022 juga perlu didukung karena melakukan pendampingan pada warga Sikka secara langsung. Artinya budaya di sana dapat terus lestari dan mengikuti zaman," jelas Yuke.

Yuke menambahkan, selain itu, dengan hadirnya desainer profesional dalam pengembangannya, tentunya dapat meningkatkan nilai dari produk fashion yang dihasilkan. Pihaknya juga berharap melalui tenun Sikka, terbukanya lapangan pekerjaan baru untuk masyarakat.

"Kami berharap terbukanya lapangan baru untuk masyarakat melalui tenun Sikka ini. Sehingga dengan demikian, produk ekonomi kreatif ini dapat tumbuh dan berkembang, serta menjadi ladang pekerjaan bagi masyarakat," tambahnya.

Diketahui, Pendopo Fashion Show 2022 sendiri menghadirkan dua sequences di pagelaran busananya, yaitu Koleksi Senandung Sikka Lilit by Pendopo dengan koleksi kain tenunnya tanpa pemotongan sesuai pakem kain wastra yang menyambung dalam satu ikatan.

Kemudian satu sequences lainnya yakni Koleksi Senandung Sikka Ready to Wear by Pendopo yang merupakan kreasi pakaian berbahan tenun ikat Sikka yang dibuat sangat light dan modern dengan banyak cuttingan young di koleksinya.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Lestarikan Mite dengan Festival Dongeng Internasional Indonesia

Koropak.co.id, 24 November 2022 07:14:11

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Bali - Bekerjasama dengan Direktorat Jenderal (Dirjen) Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI, Ayo Dongeng Indonesia baru-baru ini menggelar kegiatan Festival Dongeng Internasional Indonesia (#FDII2022) di Taman Baca Ubud, Bali.

Sebagai rangkaian acara menjelang Peringatan Hari Dongeng Nasional, festival yang mengangkat Tema "Mite dari Timur" itu, dimulai dengan Festival Pembuka yang dilaksanakan di Taman Baca Ubud, Bali dan disiarkan juga secara langsung di akun Instagram @AyoDongeng_Ind.

Direktur Festival Dongeng Internasional Indonesia 2022, Cahyono Budi atau yang lebih dikenal dengan Kak BudiBaikBudi mengungkapkan bahwa tahun 2022 merupakan FDII pertama yang digelar secara offline setelah pandemi Covid-19. Karena selama dua tahun kebelakangan pelaksanaannya digelar secara online.

"Tentunya, Keluarga Indonesia sudah menantikan agar dapat menikmati kembali pertunjukan dongeng secara langsung. Oleh karena itulah, kami berharap festival yang digelar tahun ini bisa mengembalikan semangat serta kebahagiaan anak-anak Indonesia," ungkap Kak BudiBaikBudi.

Kak BudiBaikBudi menjelaskan, kekayaan budaya Nusantara melalui keberagaman tradisinya itu juga menjadi harta yang perlu untuk terus diangkat. Selain itu, langkah untuk melestarikan budaya itu salah satunya bisa dilakukan dengan mengangkat kembali, mengemas ulang, dan memberikan ruang untuk tradisi tutur agar bisa selalu dinikmati.

"Salah satunya adalah 'Mite' yang berupa prosa rakyat atau cerita yang juga bisa mengajarkan banyak sekali nilai dan tentunya juga dapat mengajak kita untuk mengenal budaya menjadi lebih dekat lagi. Biasanya, Mite ini bercerita tentang asal usul hingga menjadi sesuatu yang dipercaya dan membentuk sebuah tradisi. Seperti cerita Dewi Sri dan asal mula Padi hingga mite tentang Kalarahu dan gerhana," jelasnya.

Berbekal dari hal itulah, lanjut Kak BudiBaikBudi, yang mendorong Ayo Dongeng Indonesia untuk mengangkat kembali Mite dari Timur sebagai upaya dalam memelihara budaya serta menjadikannya sebagai tema Festival Dongeng Internasional Indonesia 2022 (#FDII2022).



Baca: Hari Dongeng Nasional Setiap Tanggal 28 November, Begini Ceritanya


"Menyambut kebahagiaan keluarga di masa pasca pandemi, para penjaga mimpi mengajak banyak pendongeng untuk Mite dari berbagai daerah pada 20, 26, dan 27 November 2022 untuk menyemarakan #FDII2022," ujarnya.

Diketahui, #FDII2022 kali ini diawali dengan Festival Pembuka bersama Yayasan Mudra Swari Saraswati dan Ubud Writers and Readers Festival yang diluncurkan di Taman Baca Ubud, Bali pada 20 November 2022 dan Dibuka secara langsung oleh Dirjen Kebudayaan, Kemendikbudristek.

Setelah itu, #FDII2022 akan berlanjut secara daring yang dapat disaksikan secara langsung di kanal Instagram @AyoDongeng_Ind pada pada 26 November 2022 dengan menampilkan banyak pendongeng dari dalam dan luar negeri. 

Selanjutnya acara pun akan berlangsung di Institute Francais Indonesia dengan menampilkan dongeng untuk dewasa dan remaja dari The Nest. Kemudian puncaknya, pada 27 November 2022, #FDII2022 akan menampilkan pertunjukan menakjubkan yang dilaskanakan di Museum Nasional.

Dalam puncak acara nanti, #FDII2022 akan menghadirkan para pendongeng nasional dan internasional di antaranya, Pak Gede Tarmada dari Bali, Kak BudiBaikBudi dari Ayo Dongeng Indonesia, PM Toh dari Aceh, Agus DS dari Bogor, serta Jeeva Raghunath dari India dan Prasong Saihong dari Thailand. Selain itu juga akan hadir Dongeng Istimewa dari Laksmi de Neefe, Puteri Indonesia 2022.

"Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti hanya sebagai sebuah festival saja, akan tetapi bisa menjadi inspirasi dan mengingatkan kembali orangtua dan pendidik di seluruh Indonesia untuk terus bercerita, dan mendongeng bagi anak- anak mereka. Sebab, imajinasi juga tidak akan pernah berhenti dan tidak terbatas oleh ruang dan waktu," pungkasnya.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Peringati 12 Tahun Mendunia, Ribuan Peserta Mainkan Angklung Secara Serentak

Koropak.co.id, 22 November 2022 12:12:30

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Barat - Angklung merupakan alat musik tradisional khas Sunda sekaligus juga menjadi salah satu warisan budaya tradisional asli Jawa Barat yang sangat populer di kalangan masyarakat khususnya masyarakat Sunda. 

Dengan keunikan yang dimilikinya itu jugalah yang membuat The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), menetapkan angklung sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) asli Indonesia pada 2010.

Sementara itu, sebagai bentuk penghargaan terhadap alat musik khas Sunda tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat menggelar "Peringatan 12 Tahun Angklung Mendunia" yang dilaksanakan di Halaman Gedung Sate, Kota Bandung, Jawa Barat, Ahad 20 November 2022 lalu.

Dengan didukung oleh Keluarga Besar Bumi Siliwangi Universitas Pendidikan Indonesia (KABUMI UPI), Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jawa Barat, dan Biro Umum Sekretariat Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat, Peringatan 12 Tahun Angklung Mendunia itu diikuti hingga 1.304 peserta dari berbagai kalangan usia.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kadisparbud) Jawa Barat, Benny Bachtiar menjelaskan bahwa angklung merupakan salah satu bagian dari WBTb Jawa Barat. Oleh karena itulah, event ini diselenggarakan sebagai ajang pembuktian bahwa angklung itu benar-benar ada. 

"Di sisi lain, kita juga wajib memperingati Hari Angklung Sedunia dikarenakan alat musik tradisional ini benar-benar lahir dari Jawa Barat. Intinya, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pelestarian sekaligus juga mengenalkan alat musik angklung kepada generasi anak-anak," jelas Benny dalam keterangannya belum lama ini.



Baca: Hari Angklung Sedunia, Begini Sejarah Peringatannya


Benny mengaku bangga karena masyarakat khususnya anak-anak begitu antusias mengikuti kegiatan Peringatan 12 Tahun Angklung Mendunia di Halaman Gedung Sate, Kota Bandung ini. Tentunya hal itu pun menjadi bukti bahwa angklung dapat diterima baik oleh masyarakat umum.

Dalam kesempatan itu, Benny juga menuturkan bahwa kegiatan kali ini turut dimeriahkan oleh penampilan dari komunitas Kabumi UPI, Savrapanca, dan Angklung Buncis Cirendeu. Tak hanya itu saja, ada beberapa peserta juga yang memainkan angklung digital, sehingga hal tersebut patut sekali untuk diapresiasi.

"Saat ini, kita juga tidak bisa menghindari perkembangan teknologi yang semakin maju. Jadi, yang menjadi poinnya adalah, bagaimana caranya warisan budaya ini tidak hilang meskipun platformnya berbeda-beda. Kemudian yang tak kalah pentingnya, masyarakat dunia khususnya Indonesia memahami dengan benar bahwa angklung berasal dari Jawa Barat. Dengan digitalisasi, maka akan lebih cepat diterima dan dikenal secara global," tuturnya.

Dengan adanya kegiatan ini, pihaknya pun berharap kesenian angklung ini bisa dijadikan sebagai kurikulum di Sekolah Dasar (SD). Selain itu menurutnya. hal tersebut juga menjadi bagian dalam upaya pelestarian dan pemajuan kebudayaan daerah.

"Kami mengimbau agar angklung ini ada di kurikulum atau ekstrakurikuler pendidikan dasar 9 tahun, khususnya di Kabupaten/Kota Jawa Barat. Dengan demikian, nantinya akan semakin banyak anak muda yang mengenal dan bisa memainkan kesenian angklung tersebut.

Sementara itu, sebelumnya Disparbud Jawa Barat sudah terlebih dahulu menggelar pentas Tari Merak Sadunya dan Tari Ronggeng Gunung yang diikuti oleh kurang lebih seribu lebih peserta. Pagelaran itu juga tentunya merupakan upaya dalam pelestarian dan pemajuan kebudayaan asli daerah Jawa Barat.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini: