Video

Kisah Perjuangan Didi Kempot, Sang Maestro Campursari & Dangdut Koplo

×

Kisah Perjuangan Didi Kempot, Sang Maestro Campursari & Dangdut Koplo

Sebarkan artikel ini

Koropak.co.id – Lagu-lagu campursari dan dangdut koplo kini mendominasi musik Indonesia. Lagu-lagu berbahasa Jawa disukai dan dihafal oleh berbagai kalangan etnis dan usia, termasuk anak-anak muda.

Kini, perasaan patah hati sering diekspresikan melalui joget yang mendayu. Fenomena ini tidak akan terjadi tanpa peran Didi Kempot, yang dikenal sebagai The Godfather of Broken Heart.

Didi Kempot adalah maestro campursari dan penulis lagu terkenal. Selain disebut The Godfather of Broken Heart, ia juga dikenal sebagai Lord Didi dan Bapak Patah Hati.

Namun, Didi tidak langsung terkenal. Kesuksesan dan pengaruhnya merupakan hasil dari perjuangan keras dari bawah. Ia memulai karir sebagai pengamen jalanan selama bertahun-tahun.

Dionisius Prasetyo, yang dikenal sebagai Didi Kempot, lahir di keluarga seniman di Surakarta. Ayahnya adalah pelawak wayang orang dan ketoprak, sementara ibunya adalah penyanyi keroncong.

Masa kecil Didi dihabiskan di Ngawi setelah orang tuanya bercerai. Ia bersekolah di SD Negeri Sidowayah dan sudah suka menyanyi sejak kecil.

Didi melanjutkan ke SMP 14 Surakarta, tetapi di kelas 3 SMP, ia mulai mencari jati diri dan memutuskan berpetualang ke Samarinda, Kalimantan, sebelum lulus. Di sana, ia tinggal dengan tantenya dan melanjutkan SMA, tetapi tidak betah bersekolah.

Tahun 1982, di usia 16 tahun, Didi memutuskan berhenti sekolah dan mengamen. Ia kembali ke Surakarta dan tinggal dengan ayahnya. Didi menjual sepeda pemberian ayahnya untuk membeli gitar. Awalnya, ia mengamen sembunyi-sembunyi karena takut ketahuan. Ia mengamen di Surakarta, Ngawi, dan Yogyakarta.

 

Baca: Mengenang S. Tidjab: Maestro Karya Seni Indonesia

 

Setelah 3 tahun mengamen, Didi dan teman-temannya pindah ke Jakarta. Di sana, ia menambahkan ‘Kempot’ (Kelompok Penyanyi Trotoar) pada namanya. Mereka mengamen di berbagai tempat di Jakarta, berharap mendapatkan peruntungan.

Didi mulai menulis lagu dalam bahasa Jawa, yang lebih komunikatif. Lagu ‘Stasiun Balapan’ terinspirasi dari pengalaman mengamen di stasiun tersebut dan membuatnya terkenal di industri musik nasional pada 1999.

Meski krisis ekonomi dan gejolak politik membuat promosi lagu ini sulit, Didi tidak menyerah dan akhirnya lagunya dikenal luas.

Selain sukses di Indonesia, Didi juga dikenal di Belanda, Suriname, Hong Kong, dan Taiwan. Sepanjang karirnya, ia mengunjungi Belanda dan Suriname hingga 13 kali dan mengadakan 11 konser. Didi menciptakan 700 lagu sepanjang 38 tahun karirnya.

Banyak lagunya yang hits seperti ‘Stasiun Balapan,’ ‘Cucak Rowo,’ ‘Pamer Bojo,’ ‘Banyu Langit,’ ‘Layang Kangen,’ dan lainnya. Ia meraih banyak penghargaan, termasuk Bintang Jasa Officier In de Ereorde van de Palm, Pop FM Award, dan Anugerah Musik Indonesia.

Lagu-lagu Didi yang berbahasa Jawa diterima berbagai kalangan, termasuk anak muda, yang membentuk kelompok penggemar Sobat Ambyar. Mereka menyalurkan perasaan patah hati lewat berjoget, dan dari sini Didi mendapat gelar The Godfather of Broken Heart.

Didi Kempot wafat pada 5 Mei 2020 di usia 53 tahun akibat penyakit jantung, di puncak ketenarannya. Dari sosok Didi Kempot, kita tidak hanya mewarisi budaya musik campursari dan dangdut koplo yang populer, tetapi juga pelajaran tentang perjuangan hidup.

 

Baca juga: Didi Sahruwijaya: Maestro Kendang Kuningan yang Go Internasional

 

error: Content is protected !!