Koropak.co.id – Wong Kalang, atau orang Kalang, merupakan komunitas masyarakat kuno yang telah lama ada di Pulau Jawa. Meskipun komunitas ini telah berdiaspora ke beberapa wilayah di pulau tersebut, mereka tetap mempertahankan adat dan kebiasaan yang membedakan mereka dari masyarakat Jawa lainnya.
Menurut Dede Mulyanto dalam jurnal Masyarakat & Budaya yang diterbitkan pada tahun 2018, Wong Kalang memiliki ciri khas yang unik, terutama dalam hal perkawinan.
“Orang Kalang mementingkan kawin-mawin dengan sesama orang Kalang atau dalam istilah antropologi disebut sebagai endogami kelompok,” jelas Mulyanto.
Masyarakat Wong Kalang secara rutin mengadakan pertemuan minimal tiga bulan sekali dengan anggota kelompok lainnya. Mereka memandang diri mereka sebagai satu kekerabatan yang memiliki nenek moyang yang sama.
Aturan endogami kelompok ini sangat ketat; jika seseorang dari Wong Kalang menikah dengan orang luar, maka mereka akan dikeluarkan dari kelompok.
“Istri dan anak-anak mereka tidak diakui sebagai orang Kalang, baik oleh orang-orang Kalangan sendiri maupun oleh tetangga orang Jawa lainnya,” lanjutnya.
Baca: Menjelajahi Komunitas Hindu Madura di Dusun Bongso Wetan
Kebiasaan ini menjadikan Wong Kalang sebagai komunitas yang sangat terjaga identitasnya. Namun, Dede Mulyanto juga mencatat bahwa tidak semua orang Jawa di Desa Pesantren, tempat di mana Wong Kalang banyak ditemukan, bersedia terbuka tentang tetangga mereka yang merupakan Wong Kalang.
“Ada yang antusias membagikan pengetahuan tentang orang Kalang, tetapi ada juga yang enggan berterus terang,” ungkapnya.
Asal-usul Wong Kalang juga mengandung cerita legenda yang menarik. Menurut kepercayaan lokal, Wong Kalang berasal dari seorang putri bangsawan yang menikah dengan seorang pria yang sedang dikutuk menjadi anjing.
“Laki-laki yang dianggap ‘Indo anjing’ itulah yang menjadi kakek moyang orang Kalang. Karena asal-usulnya ini, dipercaya bahwa pada setiap malam Jumat Kliwon, orang Kalang memiliki ekor pendek di tubuh bagian belakang mereka,” jelasnya.
Namun, Dede Mulyanto juga mencatat bahwa seiring berjalannya waktu, banyak orang Kalang yang telah menikah dan bergaul dengan orang Jawa, sehingga darah Kalang mereka tidak lagi murni.
“Sekarang, dengan perubahan zaman, tidak ada lagi orang Kalang yang memiliki ekor. Tradisi ini lebih merupakan warisan sejarah daripada kenyataan sehari-hari,” tutupnya.
Baca juga: Hari Masyarakat Adat Internasional: Penghormatan Kepada Komunitas Adat di Seluruh Dunia











