Koropak.co.id – Dalam sebuah diskusi yang berlangsung secara daring di Jakarta pada hari Senin, Rusydan Fathy, peneliti dari Pusat Riset Masyarakat dan Budaya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menekankan pentingnya menjaga keaslian budaya dalam pengembangan desa wisata.
Menurutnya, atraksi budaya di desa wisata seharusnya tidak sekadar menjadi pertunjukan yang disiapkan sesuai pesanan (by-order), tetapi harus terintegrasi secara mendalam dengan budaya lokal masyarakat setempat.
Diskusi tersebut digelar untuk membedah buku berjudul “Desa Wisata” karya Nurdiyansah Dalidjo, di mana Rusydan menyoroti bahwa pariwisata di desa wisata harus didasarkan pada narasi lokal yang kuat serta prinsip-prinsip kooperativisme.
“Desa wisata adalah entitas utuh yang dimiliki oleh warga, dan bukan sekadar produk komersial. Saya mengingatkan bahwa budaya yang dipersiapkan hanya untuk memenuhi kebutuhan turis dapat mengurangi kesakralan dan bahkan menyebabkan punahnya kebudayaan tersebut,” tegasnya.
Ia mencontohkan filosofi “Adat basandi sarak, sarak basandi Kitabullah” di Sumatera Barat, yang terkadang hanya menjadi identitas simbolis tanpa kedalaman makna yang sebenarnya.
Baca: Semarak Pameran Kerajinan Muda dan Warisan Budaya Kriyanusa 2024 di Jakarta
Lebih lanjut, Rusydan menekankan bahwa desa wisata seharusnya tidak dibentuk oleh tekanan komodifikasi yang mengubahnya menjadi sekadar objek pandangan wisatawan.
“Sebaliknya, desa wisata harus mampu membangun ikatan emosional dan personal dengan wisatawan, sehingga mereka mendapatkan pengalaman yang autentik dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menyarankan agar desa wisata mengimplementasikan paket wisata yang memungkinkan wisatawan untuk terlibat langsung dalam aktivitas warga, sehingga tercipta keterikatan yang mendalam dan keinginan untuk kembali berkunjung.
“Kesimpulannya bahwa daya tarik desa wisata seharusnya terletak pada keaslian budaya, kearifan lokal, serta sistem sosial-ekonomi yang melekat pada masyarakatnya, yang pada akhirnya menciptakan pengalaman yang tak terlupakan bagi wisatawan,” pungkasnya.
Baca juga: Kemendikbudristek Luncurkan Program Pertukaran Budaya Indonesia-Jepang











