Seni Budaya

Sejarah dan Perubahan Tari Lenggo di Kesultanan Bima

×

Sejarah dan Perubahan Tari Lenggo di Kesultanan Bima

Sebarkan artikel ini
Sejarah dan Perubahan Tari Lenggo di Kesultanan Bima
Doc. Foto: Lombok Atraktif

KOROPAK.CO.ID – Tari Lenggo, salah satu warisan budaya Nusantara, pertama kali muncul di Kesultanan Bima pada masa pemerintahan Sultan Abdul Kahir sekitar tahun 1680. Awalnya, tarian ini merupakan bagian tak terpisahkan dari upacara adat Hanta Ua Pua, yang dilaksanakan dengan penuh sakralitas di lingkungan kesultanan.

Menurut catatan Kementerian Kebudayaan RI, Tari Lenggo pada masanya dipentaskan oleh empat pasang penari yang terdiri dari pria dan wanita. Gerakan tarian ini memiliki kekhasan tersendiri, dipadu dengan iringan musik tradisional yang membangkitkan suasana khidmat dan megah.

Para penari pada masa lalu mengenakan baju adat berwarna kuning, yang melambangkan kejayaan Islam. Dalam formasi delapan penari, angka delapan dianggap merepresentasikan nggusuwaru atau delapan penjuru mata angin, sebuah simbolisme yang erat kaitannya dengan kepercayaan lokal tentang keseimbangan alam.

Selain itu, ada unsur ritual yang sangat menonjol dalam pertunjukan ini. Penari menggunakan kunyit sebagai pelengkap atribut, sementara empat Ina Lenggo (ibu penjaga) berdiri di empat penjuru, yakni utara, selatan, timur, dan barat, untuk melindungi para penari.

Seiring perjalanan waktu, Tari Lenggo mengalami perubahan dalam tradisi dan praktiknya. Misalnya, keterlibatan empat Ina Lenggo kini telah dihilangkan, dan kunyit yang dulunya digunakan dalam tarian digantikan oleh kertas kuning yang ditempelkan pada tubuh penari.

Baca: Tembe, Kain Tenun Khas Bima yang Memiliki Sejarah Abadi

Selain itu, aturan ketat yang mengharuskan penarinya berasal dari masyarakat Melayu asli pun telah dilonggarkan. Kini, Tari Lenggo lebih terbuka, sehingga dapat dimainkan oleh siapa saja, terlepas dari latar belakang suku.

Fungsi Tari Lenggo juga berubah. Jika sebelumnya hanya ditampilkan pada upacara adat khusus, terutama di bulan Maulid Nabi Muhammad SAW, kini tarian ini sering digunakan untuk menyambut tamu-tamu kehormatan, menjadikannya lebih inklusif sebagai atraksi budaya.

Meskipun telah banyak berubah, Tari Lenggo masih menyimpan potensi untuk menjadi simbol kebanggaan budaya. Langkah konkret yang dapat diambil adalah menyelenggarakan forum resmi guna membahas berbagai aspek, mulai dari koreografi, busana, hingga makna filosofisnya.

Forum ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi para pegiat seni untuk memperbaiki sekaligus menjaga nilai-nilai historis Tari Lenggo, sehingga tetap relevan tanpa kehilangan jati diri budayanya.

Melalui upaya ini, warisan yang berakar dari Kesultanan Bima ini dapat terus hidup, menjadi saksi perjalanan tradisi yang beradaptasi dengan perubahan zaman.

error: Content is protected !!