Memoar

Ong Bing Hok, Perajin Terakhir Rumah Arwah di Pecinan Semarang

×

Ong Bing Hok, Perajin Terakhir Rumah Arwah di Pecinan Semarang

Sebarkan artikel ini
Ong Bing Hok, Perajin Terakhir Rumah Arwah di Pecinan Semarang
Doc. Foto: beritajateng.tv

KOROPAK.CO.ID – SEMARANG – Tradisi Rumah Arwah telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Tionghoa selama berabad-abad. Sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah meninggal, masyarakat Tionghoa percaya bahwa arwah orang yang telah berpulang perlu diberi bekal untuk kehidupan di akhirat.

Bekal tersebut berupa barang-barang yang menyerupai dunia nyata, seperti rumah lengkap dengan perabotannya, yang dikirimkan ke alam baka dengan cara dibakar.

Ong Bing Hok, seorang perajin Rumah Arwah di kawasan Pecinan, Semarang, mengungkapkan bahwa dirinya telah mewarisi bisnis ini dari ayah dan leluhurnya. Tradisi ini, menurut Ong, telah dibawa oleh kakek buyutnya, Hong Bei, dari Tiongkok pada tahun 1800-an.

Kini, dia menjadi satu-satunya perajin Rumah Arwah yang masih bertahan di Pecinan Semarang. “Saya generasi keempat, sudah puluhan bahkan ratusan tahun. Di Pecinan saya sendiri, tapi di tempat lain masih ada,” ujarnya.

Meski zaman terus berubah, Ong tetap setia menjaga keaslian tradisi ini. Dia tetap menggunakan bahan baku utama berupa bambu dan kertas, sebagaimana yang dilakukan oleh leluhurnya sejak dahulu kala.

Baca: Nenek Renia, Penutur Sastra Korehan yang Masih Bertahan Hingga Usia 84 Tahun

Selain sebagai bagian dari ritual keagamaan dan penghormatan kepada leluhur, Rumah Arwah juga memiliki nilai ekonomi. Ong menerima pesanan dari berbagai daerah di Indonesia, dengan harga yang bervariasi, mulai dari Rp2 juta hingga puluhan juta rupiah, tergantung pada ukuran dan tingkat kerumitan desainnya.

Baru-baru ini, dia menyelesaikan pesanan dari Banjarmasin dan sedang bersiap mengirimkan hasil karyanya ke Solo dan Pekalongan. Menurutnya, pembuatan satu unit Rumah Arwah memerlukan waktu sekitar satu hingga dua minggu, tergantung kompleksitas desainnya.

Di tengah arus modernisasi yang begitu deras, keberlangsungan tradisi ini menghadapi berbagai tantangan. Ong berharap generasi muda mau belajar dan meneruskan kerajinan ini agar tidak punah.

“Kalau bisa dikenalkan lewat sekolah atau pelajaran agama, mungkin anak-anak sekarang akan lebih tertarik. Budaya ini punya nilai, bukan hanya untuk sembahyang, tetapi juga untuk melestarikan warisan leluhur,” tuturnya.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Rumah Arwah tetap menjadi simbol penghormatan dan kasih sayang yang tak lekang oleh waktu. Bagi Ong dan masyarakat Tionghoa lainnya, tradisi ini bukan sekadar ritual, melainkan warisan budaya yang harus terus dijaga dan dilestarikan.

error: Content is protected !!