Seni Budaya

Filosofi Hidup Unik di Desa Cireundeu yang Bertahan Seabad

×

Filosofi Hidup Unik di Desa Cireundeu yang Bertahan Seabad

Sebarkan artikel ini
Filosofi Hidup Unik di Desa Cireundeu yang Bertahan Seabad
Doc. Foto: kabarpangan.com

KOROPAK.CO.ID – Di balik hiruk-pikuk modernisasi yang terus berkembang, terdapat sebuah desa yang tetap teguh menjaga warisan leluhurnya. Desa Cireundeu, yang terletak di Kecamatan Cimahi Selatan, Kelurahan Leuwi Gajah, merupakan saksi hidup dari peradaban adat Sunda yang terus bertahan di tengah perubahan zaman.

Dengan populasi sekitar 800 jiwa dari 60 kepala keluarga, desa ini tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi pusat kehidupan berbasis tradisi yang kaya akan nilai-nilai luhur.

Sejarah Desa Cireundeu tidak bisa dilepaskan dari akar budaya Sunda Wiwitan, sebuah kepercayaan asli masyarakat Sunda yang mengajarkan keseimbangan antara manusia dan alam.

Filosofi ini mengakar dalam setiap aspek kehidupan masyarakatnya, mulai dari cara bertani hingga tata cara hidup sehari-hari. Mata pencaharian utama penduduknya adalah bertani ketela, hasil bumi yang telah menjadi simbol ketahanan pangan desa ini sejak awal abad ke-20.

Nama “Cireundeu” sendiri berasal dari pohon rendeu, sebuah tanaman yang dikenal memiliki khasiat obat herbal. Seperti pohon rendeu yang kuat dan bermanfaat, masyarakat Cireundeu pun hidup dengan filosofi yang mencerminkan semangat kemandirian dan ketahanan.

Salah satu ajaran yang terus dipegang erat oleh masyarakat adat Cireundeu adalah prinsip “Ngindung Ka Waktu, Mibapa Ka Jaman”, yang berarti mereka beradaptasi dengan zaman tanpa melupakan akar budayanya.

Meskipun teknologi modern seperti televisi dan penerangan telah masuk ke desa ini, masyarakat tetap mempertahankan adat istiadat dan nilai-nilai yang diwariskan nenek moyang mereka.

Filosofi lain yang menjadi pegangan hidup masyarakat Cireundeu adalah: “Teu Boga Sawah Asal Boga Pare, Teu Boga Pare Asal Boga Beas, Teu Boga Beas Asal Bisa Nyangu, Teu Nyangu Asal Dahar, Teu Dahar Asal Kuat.”

Yang berarti: “Tidak punya sawah asal punya beras, tidak punya beras asal bisa menanak nasi, tidak punya nasi asal makan, tidak makan asal tetap kuat.” Filosofi ini bukan sekadar ungkapan, melainkan refleksi dari sejarah panjang desa ini.

Pada tahun 1918, Desa Cireundeu mengalami kekeringan yang mengakibatkan sawah-sawah tak lagi bisa menghasilkan padi. Dalam keadaan sulit, para leluhur berinisiatif mencari alternatif lain, hingga akhirnya ketela dijadikan sebagai sumber pangan utama.

Sejak saat itu, masyarakat Cireundeu tidak lagi bergantung pada nasi, melainkan mengolah ketela sebagai bahan makanan pokok, sebuah bentuk kemandirian pangan yang masih bertahan hingga kini.

1. Konsep Pengelolaan Hutan yang Bijaksana

Kehidupan masyarakat Cireundeu tidak terlepas dari alam. Mereka mempraktikkan tata kelola lingkungan yang diwariskan turun-temurun melalui konsep tiga jenis Leuweng (hutan) yang mereka pelihara dengan disiplin:

2. Leuweng Larangan (Hutan Terlarang)

Baca: Kisah Kaputren, Desa Multilingual dengan Keahlian TKW

Kawasan ini adalah bagian dari ekosistem yang tidak boleh dirusak. Masyarakat percaya bahwa hutan ini adalah penjaga keseimbangan alam, berfungsi sebagai penghasil oksigen dan tempat penyimpanan air.

3. Leuweng Tutupan (Hutan Reboisasi)

Sebagai upaya menjaga kelestarian hutan, masyarakat diizinkan memanfaatkan sumber daya dari kawasan ini, dengan syarat mereka harus menanam kembali pohon yang ditebang.

4. Leuweng Baladahan (Hutan Pertanian)

Hutan ini menjadi sumber utama mata pencaharian masyarakat. Di lahan ini, mereka menanam jagung, kacang tanah, singkong, ketela, dan umbi-umbian sebagai bahan pangan.

Tata kelola hutan ini tidak hanya mencerminkan kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan ekosistem, tetapi juga menjadi contoh konkret bagaimana tradisi dan lingkungan dapat berjalan seiring tanpa saling merusak.

Dengan luas wilayah sekitar 64 hektare, di mana 60 hektarenya merupakan kawasan hutan dan pertanian, Desa Cireundeu memiliki potensi besar dalam pengembangan ekowisata. Lanskapnya yang asri dengan kontur perbukitan memberikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin menikmati alam sambil mempelajari kearifan lokal.

Salah satu daya tarik utama desa ini adalah Puncak Salam, sebuah lokasi pendakian yang menawarkan panorama alam yang indah dan udara yang sejuk. Selain itu, bumi perkemahan yang baru diresmikan di sekitar Puncak Salam semakin memperkaya pengalaman wisata berbasis edukasi lingkungan di desa ini.

Masyarakat Cireundeu tidak hanya menjaga budaya mereka, tetapi juga membuka diri untuk berbagi nilai-nilai luhur dengan generasi muda dan wisatawan. Konsep ekowisata yang mereka usung tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga memberikan edukasi tentang pentingnya menjaga lingkungan dan kemandirian pangan.

Desa Cireundeu adalah contoh nyata bagaimana tradisi dan modernisasi dapat berjalan beriringan tanpa saling meniadakan. Masyarakatnya yang memegang teguh adat dan filosofi hidup leluhur telah membuktikan bahwa mereka mampu bertahan dalam berbagai situasi, termasuk menghadapi tantangan zaman.

Di tengah gempuran modernitas, Desa Cireundeu tetap teguh berdiri, menjaga nilai-nilai leluhur sambil terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Seperti pohon rendeu yang menjadi asal-usul namanya, desa ini tetap kokoh, memberi manfaat, dan menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang.

error: Content is protected !!