KOROPAK.CO.ID – Dalam pusaran sejarah politik kontemporer Indonesia, nama Afriansyah Noor menjadi salah satu saksi perjalanan panjang bangsa, dari masa transisi demokrasi hingga penguatan kelembagaan negara. Lahir pada 20 April 1972 di Jambi, Afriansyah, yang akrab disapa Ferry, tumbuh dalam suasana kebudayaan yang kental.
Ia merupakan buah hati dari Fauzi Noor dan Upik Tando, cucu dari Sidi Tando, seorang tokoh pengusaha yang menorehkan pengaruh kuat dalam geliat ekonomi Indonesia era 1950-an.
Masa kecil Ferry dihabiskan di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan, di tengah denyut kehidupan masyarakat Melayu yang sarat tradisi dan nilai. Di sinilah benih-benih kepemimpinannya mulai tumbuh.
Kelak, berbagai gelar adat akan disematkan padanya, dari Datuak Rajo Basa hingga Pangeran Rimbun Alam Cipta Negeri, sebagai bentuk penghormatan atas kontribusi dan kedudukannya dalam masyarakat.
Menempuh pendidikan dari SD Negeri 5 Lubuk Linggau hingga SMA Negeri 4 Jambi, Afriansyah kemudian melanjutkan studinya di Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN), meraih gelar sarjana teknik pada 1997.
Namun, takdir membawanya pada jalur kebijakan publik dan pemerintahan. Ia menempuh magister di STIAMI pada 2010, lalu menyelesaikan program doktoralnya di Universitas Sriwijaya dengan predikat cum laude, menyusun disertasi tentang tata kelola kolaboratif dalam peningkatan kualitas pekerja migran Indonesia.
Perjalanan intelektual ini memperkaya wawasannya dan meneguhkan langkahnya dalam dunia pelayanan publik. Sebelum meraih gelar akademik, Afriansyah sudah menapaki dunia profesional. Pada 1996, ia menjadi pengawas proyek di PT Nusa Raya Cipta.
Dalam rentang waktu berikutnya, ia menduduki posisi strategis di berbagai perusahaan, mulai dari direktur operasional hingga direktur marketing. Namun panggilan politik dan pengabdian pada negara lebih kuat menarik perhatiannya.
Baca: Profil Gus Irfan, Kepala Badan Penyelenggara Haji di Kabinet Prabowo
Tahun 1998, di tengah gejolak reformasi, ia bergabung dengan Partai Bulan Bintang (PBB), partai politik yang didirikan pasca runtuhnya Orde Baru. Ia menjadi salah satu kader kepercayaan Yusril Ihza Mahendra, tokoh utama partai tersebut.
Meski lima kali maju sebagai calon anggota DPR RI dari tahun 2004 hingga 2024 dan belum berhasil duduk di parlemen, semangat juangnya tak pernah pudar.
Afriansyah pernah menjabat Komandan Brigade Hizbullah PBB dan juga menjadi bagian dari Tim Kampanye Nasional untuk pasangan Susilo Bambang Yudhoyono–Jusuf Kalla pada Pilpres 2004, menandai keterlibatannya dalam dinamika politik nasional.
Puncak pengabdiannya dalam pemerintahan datang pada 15 Juni 2022, saat ia dilantik sebagai Wakil Menteri Ketenagakerjaan dalam Kabinet Indonesia Maju. Ia menjabat hingga Oktober 2024, menunjukkan kepiawaiannya dalam mengelola isu-isu strategis ketenagakerjaan.
Selepas itu, ia diangkat sebagai Wakil Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal, memperluas peranannya dalam pelayanan publik, khususnya dalam memastikan standar produk halal di Indonesia.
Di balik kiprah publiknya, Afriansyah adalah suami dari Lin Nurhayani dan ayah dari empat anak: Putri Ariska Anggraini Noor, Akmal Farhansyah Razzak, Lutfia Nur Hasna Rahmatika, dan Putra Ramzzysyah Noor Razak.
Ia dikenal sebagai pribadi yang menjunjung tinggi nilai-nilai adat, agama, dan integritas dalam kehidupan pribadi maupun profesionalnya.
Afriansyah Noor bukan sekadar tokoh politik, ia adalah bagian dari arus besar sejarah bangsa. Dari pengabdian di ranah teknis hingga posisi strategis di pemerintahan, ia menunjukkan bahwa kesetiaan, ketekunan, dan akar budaya yang kuat bisa membentuk pemimpin yang tangguh, bahkan dalam pusaran zaman yang terus berubah.











