KOROPAK.CO.ID – JAKARTA – Penutupan masa pendaftaran calon Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) pada Senin, 23 Juni 2025, menandai babak penting dalam perjalanan sejarah partai berlambang bunga mawar itu.
Tiga figur dari latar belakang berbeda, namun sama-sama tumbuh dalam tubuh PSI, telah resmi mendaftarkan diri untuk memimpin partai ke arah yang baru dalam Pemilu Raya yang akan digelar bulan depan.
Mereka adalah Kaesang Pangarep, petahana yang membawa semangat regenerasi, Ronald A. Sinaga atau Bro Ron, sosok pendobrak dari Jawa Barat, dan Agus Mulyono Herlambang, juru bicara partai yang mengakar dari tradisi pesantren.
Ketiganya bukan hanya bersaing demi posisi, namun juga memaknai sebuah momen transformasi politik di internal PSI, di tengah bayang-bayang figur besar Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.
Bro Ron menjadi kandidat pertama yang secara resmi mendaftarkan diri. Dengan dukungan dari enam DPW dan 35 DPD, langkah Bro Ron mendapat sorotan sebagai simbol keberanian dalam memulai perubahan. Didorong oleh interaksi aktif di media sosial, serta tantangan santai dari Kaesang sendiri, Bro Ron menjawab tantangan tersebut bukan dengan retorika, melainkan dengan aksi nyata.
“Ketika Ketua Umum menantang, dan netizen mendorong, saya menjawab tantangan itu dengan maju. Ini bukan sekadar kontestasi, ini bagian dari perjalanan demokrasi internal partai,” ujar Bro Ron.
Tak kalah strategis, Kaesang Pangarep mendaftarkan diri dengan dukungan politik yang jauh melampaui batas minimum. Dukungan 10 DPW dan 75 DPD menegaskan posisinya sebagai kandidat kuat. Dalam pernyataannya, ia menyampaikan tekad besar: membawa PSI masuk ke DPR RI pada 2029.
Baca: Langkah Bersejarah dalam Politik Indonesia, Kaesang Pangarep Terpilih Sebagai Ketua Umum PSI
Namun, Kaesang juga menjawab isu liar seputar kemungkinan Jokowi mencalonkan diri. Dengan gaya santai, ia menyebut telah berdiskusi serius dengan sang ayah. “Anak dan bapak tidak mungkin saling bersaing,” katanya. Pernyataannya menandai bahwa regenerasi telah menjadi pilihan, bukan keterpaksaan.
Sementara itu, Agus Mulyono Herlambang memilih mendaftar di detik terakhir. Alasan utamanya: memastikan Jokowi tidak ikut dalam bursa pencalonan. Ia menyebut Jokowi sebagai “kiai” dan “guru politiknya”, sehingga bersaing dengan sang guru adalah hal yang tabu.
“Kalau melawan guru itu kualat. Tapi kalau berkompetisi dengan anak kiainya, itu bagian dari dinamika,” ujarnya sambil tersenyum.
Dengan dukungan dari 6 DPW dan 24 DPD, Agus membuktikan bahwa kekuatan akar rumput dalam PSI tak hanya dimiliki oleh tokoh muda urban, tetapi juga mereka yang lahir dari tradisi pesantren.
Pemilu Raya PSI dijadwalkan berlangsung pada 12–19 Juli 2025 menggunakan sistem e-voting. Hasilnya akan diumumkan dalam Kongres PSI yang digelar di Solo pada 19 Juli 2025, sebuah kota dengan nilai historis tersendiri bagi partai dan pendirinya.
Di antara dinamika ini, publik menyaksikan bukan hanya perebutan kursi Ketua Umum PSI, tetapi juga cerminan generasi baru politik Indonesia yang bertumbuh dari medan yang beragam: media sosial, pesantren, hingga panggung nasional.
Jika PSI berhasil melampaui momen ini dengan elegan, maka sejarah bukan hanya akan mencatat siapa yang terpilih, melainkan bagaimana partai ini belajar mempraktikkan demokrasi internal di tengah gempuran politik dinasti dan bayang-bayang nama besar.











