Memoar

Effie Tjoa, Sopran Muda dari Timur yang Menaklukkan Panggung Dunia

×

Effie Tjoa, Sopran Muda dari Timur yang Menaklukkan Panggung Dunia

Sebarkan artikel ini
Effie Tjoa, Sopran Muda dari Timur yang Menaklukkan Panggung Dunia
Doc. Foto: GNFI

KOROPAK.CO.ID – Pada suatu masa ketika Indonesia masih meraba-raba identitas budayanya yang baru merdeka, muncullah suara dari seorang perempuan muda yang bergema hingga ke benua Eropa. Namanya Effie Tjoa Keng Loan, lahir pada 7 Juni 1931 dari pasangan peranakan Tionghoa: Kwee Yat Nio dan Tjoa Hin Noey.

Ibunya, Kwee Yat Nio, adalah perempuan modern pada zamannya, seorang pendidik, penulis, dan penerbit majalah perempuan Istri. Dari rumah yang penuh literasi itulah Effie tumbuh, dan sejak dini, dunia tahu bahwa anak ini tak sekadar bisa bernyanyi, ia harus bernyanyi.

Tahun 1949, ketika usianya belum genap dua dekade, Effie berlayar jauh menembus batas samudra menuju Belanda. Di sana, ia mengasah bakatnya di Conservatorium van Amsterdam, sebuah lembaga musik bergengsi yang telah melahirkan generasi emas komponis dan penyanyi Eropa. Tapi Effie tak sekadar menjadi murid. Ia menjadi cerita.

Di Vercelli, kota kecil di wilayah Piemonte, Italia, tempat lahir pelukis Giovanni Antonio Bazzi, Effie mencatat sejarah. Dalam kompetisi seriosa internasional yang dihelat Società del Quartetto, Oktober 1953, ia menjadi peserta termuda dari 19 negara.

Lagu-lagu klasik karya Puccini dan Beethoven meluncur dari pita suara Effie dengan kepastian seorang maestro. “Un bel dì, vedremo” dan “Ah! Perfido” bukan hanya dinyanyikan, tapi dihidupkan. Dari ratusan peserta, hanya lima melaju ke final: dua dari Italia, satu Soviet, satu Prancis, dan seorang Indonesia berusia 22 tahun, Effie Tjoa.

“Penyanyi muda Republik Indonesia telah merebut hadiah nomor satu, dan mendapat medali emas,” tulis Sin Po, 30 Oktober 1953. Sebuah berita yang lebih dari sekadar prestasi, ia simbol hadirnya suara Asia di panggung seni klasik Barat.

Baca: Handoko Hendroyono, Kreator di Balik M Bloc dan Filosofi Kopi

Dan ternyata itu bukan yang pertama. Dalam suratnya kepada sang ibu, Effie mengungkap bahwa ia telah menjuarai kompetisi serupa di Vercelli dua tahun sebelumnya, pada 1951. Namun saat itu, kelima finalis dianggap seimbang dan semuanya dianugerahi gelar juara.

Usai menaklukkan panggung internasional, Effie kembali ke Indonesia, bukan untuk beristirahat, tapi untuk memberi. Suaranya menggema dalam berbagai konser penting. Namun momen paling menyentuh datang pada awal 1959. Dalam suasana duka akibat banjir di Gempol, Jawa Timur, Effie naik panggung bukan untuk sorotan, tapi untuk harapan.

Pada 7–8 Maret 1959, di Taman Cerme, Malang, ia menggelar konser amal. “Hasilnya 100 persen untuk korban banjir,” lapor surat kabar Republik. Ia menyanyi tidak hanya untuk seni, tapi untuk kemanusiaan.

Di tengah sorotan budaya populer, nama Effie Tjoa mungkin tak seakrab idola masa kini. Tapi dalam sejarah musik Indonesia, ia adalah pionir, seorang sopran yang membawa suara negeri ini ke panggung dunia. Ia membuktikan bahwa suara dari Timur bisa melampaui batas bahasa, ras, dan benua.

Dan sampai hari ini, gema dari “Un bel dì, vedremo” yang dinyanyikannya di tanah Italia, masih menjadi catatan emas dari seorang anak Jakarta yang berani menantang sunyi auditorium Eropa dengan nyanyiannya.

error: Content is protected !!