KOROPAK.CO.ID – Sejak dahulu kala, Selat Bali telah menjadi nadi penting yang menghubungkan Pulau Jawa dan Bali. Setiap harinya, ribuan penumpang dan kendaraan menyeberangi perairan ini melalui Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi menuju Gilimanuk di Jembrana.
Namun jauh sebelum menjadi jalur penyeberangan modern seperti sekarang, Selat Bali telah memainkan peran historis dan kultural yang mendalam dalam perjalanan bangsa maritim ini.
Secara geografis, Selat Bali membentang sepanjang kurang lebih 60 kilometer. Ia memisahkan dua kabupaten di dua pulau berbeda: Banyuwangi di Jawa Timur dan Jembrana di Bali. Arus lautnya yang deras dan konsisten bukan hanya menjadi tantangan bagi pelayaran, tapi juga peluang besar dalam bidang energi kelautan.
Sejak beberapa tahun terakhir, potensi ini menarik perhatian akademisi dan peneliti dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga arus laut. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menjadi salah satu pelopor dalam riset energi baru terbarukan berbasis laut di wilayah ini.
Namun kekayaan Selat Bali tidak hanya terletak pada arusnya yang kuat. Di masa lampau, selat ini merupakan jalur dagang vital yang menghubungkan Jawa, Bali, dan kawasan timur Nusantara. Kapal-kapal kayu kerajaan, para saudagar, dan pelaut Nusantara telah lama menelusuri perairan ini untuk membawa hasil bumi dan rempah-rempah.
Dalam perjalanannya, pertukaran budaya pun tak terhindarkan. Dari sinilah lahir kebudayaan Using di Banyuwangi, sebuah hasil percampuran budaya Jawa, Madura, dan Bali.
Tarian Seblang yang khas dari daerah ini memiliki jejak kemiripan dengan tari-tarian sakral Bali, menandakan jejak sejarah panjang lintas budaya di antara dua pulau tersebut.
Baca: Fakta Baru Tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali
Pada era kolonial, Selat Bali juga memiliki posisi strategis dalam konteks militer dan logistik. Perairan ini menjadi saksi bisu lalu lintas kapal pasukan selama Perang Dunia II. Letaknya yang menghubungkan dua wilayah penting membuatnya tak terhindarkan dari peta strategi pertahanan dan transportasi.
Kini, meski dikenal sebagai jalur pelayaran sibuk yang dilalui kapal ferry setiap saat, kawasan sekitar Selat Bali justru menyimpan kekayaan alam dan potensi wisata yang belum sepenuhnya tergarap. Di sisi Bali terdapat Taman Nasional Bali Barat dengan hutan tropis dan terumbu karang yang memesona.
Di sisi seberangnya, Taman Nasional Alas Purwo menyajikan bentang alam purba dan kehidupan liar yang masih lestari. Kegiatan bahari seperti snorkeling, diving, hingga melihat lumba-lumba di habitatnya menjadi daya tarik tersendiri.
Seiring meningkatnya perhatian terhadap ekowisata dan transisi energi hijau, Selat Bali kini berdiri di persimpangan masa lalu dan masa depan. Ia tak sekadar menjadi jalur penyeberangan, tapi simbol pertemuan antara sejarah panjang, potensi ekologis, dan peluang kemajuan teknologi.
Di tengah tantangan krisis iklim dan desakan akan energi bersih, Selat Bali menjadi contoh bagaimana laut—yang selama ini dianggap pembatas bisa menjadi jembatan kemajuan. Dari jejak sejarah perdagangan kerajaan, keindahan tarian lintas budaya, hingga arus laut yang menjanjikan energi masa depan, Selat Bali menyimpan semua itu.
Ketika kita menatap permukaan laut antara Ketapang dan Gilimanuk, barangkali kita hanya melihat gelombang dan kapal. Namun di bawahnya, mengalir kisah panjang bangsa bahari yang terus bergerak menuju masa depan dengan laut sebagai pusatnya.











