KOROPAK.CO.ID – Di antara jalan-jalan sempit Tanah Abang yang pernah diselimuti kabut kriminalitas, nama Adolf Wilhelm Verbond Hinne menggema sebagai legenda. Ia bukan sekadar seorang perwira polisi kolonial; ia adalah bayangan malam yang menakutkan bagi para buronan dan harapan terakhir bagi penduduk Batavia yang resah.
Sosoknya begitu ikonik, hingga kelak dijuluki sebagai Sherlock Holmes dari Hindia, sebuah gelar yang tak sembarangan disematkan dalam sejarah penegakan hukum di Hindia Belanda.
Lahir pada tahun 1852 di pedalaman Kalimantan dengan nama Scipio, Hinne adalah anak dari seorang wanita pribumi dan diangkat oleh seorang kapten infanteri keturunan Prancis. Ia tumbuh di antara dua dunia: pribumi dan Eropa, dunia yang kelak membentuk pandangan dan naluri tajamnya terhadap hukum dan ketidakadilan.
Namun masa kecilnya jauh dari romantisme kolonial. Pada usia belia, ia diculik oleh bajak laut dari Aceh dan hidup selama enam tahun dalam kekerasan dan ketegangan konstan. Dari kehidupan keras itulah, karakter Hinne ditempa keras, disiplin, dan tajam dalam membaca bahaya, sifat-sifat yang kemudian menjadi bekalnya sebagai penegak hukum.
Karier Hinne di pemerintahan kolonial dimulai dari bawah. Ia sempat menjadi kepala kantor pos di Ternate sebelum akhirnya mengajukan diri sebagai polisi hutan di Jawa. Di sinilah instingnya sebagai pemburu kriminal mulai diuji, salah satunya saat ia memimpin operasi melawan bajak laut Medomo di Halmahera dan menang.
Pada tahun 1887, ia resmi bergabung dengan kepolisian kolonial sebagai onderschout (perwira polisi tingkat menengah) di Batavia. Tugas pertamanya: menjaga keamanan kawasan padat dan rawan, Tanah Abang.
Tahun 1893 menjadi titik balik dalam kariernya. Saat itu, Batavia dihebohkan oleh keberadaan Si Pitung, seorang pejuang rakyat yang dijuluki Robin Hood dari Betawi. Si Pitung menjarah harta tuan tanah kolonial dan membagikannya kepada kaum papa—sebuah tindakan yang membuatnya dicintai rakyat tapi diburu oleh aparat.
Setelah pengejaran panjang dan intelijen yang teliti, Hinne akhirnya menemukan persembunyian Pitung di area pemakaman Tanah Abang. Terjadi baku tembak sengit. Si Pitung tewas. Dan Adolf Wilhelm Verbond Hinne pun naik pangkat menjadi schout, pejabat polisi senior yang bertanggung jawab atas keamanan seluruh Batavia.
Baca: Mengenang Wafatnya Gatot Soebroto, Sang Jenderal Pembela Kaum Kecil
Wilayah Ommelanden, pinggiran Batavia menjadi medan berikutnya bagi Hinne. Di kawasan yang kerap dikuasai perampok dan pembangkang, Hinne tampil bukan hanya sebagai komandan polisi, tapi juga sebagai ahli strategi.
Penulis Belanda Margreet van Till dalam bukunya Batavia Kala Malam menggambarkan Hinne sebagai “polisi berdarah dingin dan tidak bisa disuap,” seorang penyelidik ulung yang lihai menembus dunia malam Batavia, dari rumah judi hingga sindikat senjata.
Di masa ketika integritas menjadi barang langka di kalangan aparat kolonial, Hinne tampil berbeda. Salah satu kasus paling dikenang adalah penyelidikan atas kematian Fatimah, seorang perempuan pribumi yang ditemukan tewas dalam keadaan mencurigakan. Semua bukti menunjuk ke seorang kontrolir polisi: W.H.L. Johan.
Meski menghadapi tekanan dari internal institusi kolonial untuk “melupakan” kasus itu, Hinne bersikeras melanjutkan penyelidikan. Ia berhasil menemukan lima tersangka, termasuk Johan sendiri.
Dalam dunia penuh intrik kolonial, tindakan Hinne menjadi penegasan bahwa hukum tak boleh tunduk pada pangkat atau ras. Kejujuran menjadi bagian dari warisannya yang paling abadi.
Pada tahun 1911, Hinne mencapai puncak karier sebagai Komisaris Polisi, jabatan setara Ajun Komisaris Besar Polisi saat ini. Namun, bayang-bayang rasialisme kolonial tak sepenuhnya pergi; statusnya sebagai peranakan membuatnya tidak pernah diberi pangkat tertinggi.
Dua tahun setelah pensiun, kisah hidupnya diabadikan dalam harian Bataviaasch Handelsblad melalui seri berjudul “De Indische Sherlock Holmes”, pengakuan resmi atas kemampuannya sebagai penyelidik sejati.
Adolf Wilhelm Verbond Hinne bukan sekadar polisi. Ia adalah lambang keberanian, disiplin, dan integritas dalam era di mana hukum kerap berpihak. Ia berdiri sebagai jembatan antara dunia Eropa dan pribumi, antara keadilan dan kekuasaan.
Hingga kini, nama Hinne tetap hidup dalam ingatan sejarah sebagai Sherlock Holmes dari Hindia, sosok yang pernah membuat Batavia aman, satu kasus demi satu, dengan senjata, intuisi, dan nurani.











