KOROPAK.CO.ID – TASIKMALAYA – Kegiatan santunan dalam rangka peringatan Tahun Baru Islam yang digelar Pondok Pesantren Nurul Jihad, Ciloa, Kecamatan Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya, kembali diselenggarakan tahun ini dengan semarak.
Tradisi tahunan ini sudah berjalan sejak 1996. Bermula dari satu kampung, kini jangkauannya meluas hingga ke Kecamatan Cikatomas, Karangnunggal, dan sebagian wilayah Cibalong.
“Kegiatan ini kami isi dengan pengajian, tausiah, serta santunan bagi anak-anak yatim dan kaum dhuafa,” kata Pimpinan Ponpes Nurul Jihad, Ustaz Dedi Hasbulloh, saat ditemui usai acara, Minggu, 20 Juli 2025.

Ustaz Dedi menyebut, antusiasme masyarakat tahun ini meningkat, begitu pula keterlibatan panitia. Namun, ia mengkritik ketidakhadiran pejabat pemerintah dalam kegiatan.
“Pejabat yang tidak hadir mungkin karena ada alasan yang bisa dimengerti atau karena tidak diundang hatinya dengan keimanan. Kalau mereka merasakan atau menginginkan, sebagai umat Rasulullah SAW, maka mereka akan terpanggil dengan hadir di acara santunan ini,” ujar Ustaz Dedi.
Ia menilai bahwa yang seharusnya menyuburkan dan menyantuni anak Yatim, orang yang pertama itu adalah para pejabat. Karena, jika pejabat tidak tahu bahwa disini ada anak yatim terlantar, tidak bisa sekolah, atau kekurangan makan, maka mereka semua diharamkan oleh Allah SWT untuk mencium baunya surga.

“Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, Pemimpin adalah bapak dari masyarakat, dan ulama adalah ibunya. Jika dalam sebuah keluarga tidak ada sinergi antara ayah dan ibu, maka anak-anak akan kehilangan arah. Begitu pula dalam masyarakat, Jika ulama berjalan sendiri, sementara pemimpinnya tidak hadir atau tidak peduli, maka akan ada ketimpangan dalam pengasuhan umat,” jelasnya.
Pihaknya berharap pemerintah khususnya Bupati Tasikmalaya mengetahui bahwa di Ciloa Karangnunggal itu ada pesantren. “Di sini diajarkan tentang syariat Islam, kitab-kitabnya bisa diperiksa. Bolehlah datang periksa tiap-tiap pesantren, terutama Nurul Jihad. Ada apa di Nurul Jihad? Jadi jangan dilihat dari jauh,” katanya.
Ia berpesan untuk jangan menilai dari kabar atau berita yang belum pasti. “Apalagi seorang bupati, kalau cuma berita-berita dari lain, ada yang mengatakan bagus, ada yang mengatakan jelek. Karena suatu perkara itu bisa dianggap benar, bisa juga salah,” tutupnya.











