KOROPAK.CO.ID – TASIKMALAYA – Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Jihad Ciloa, Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya, Ustaz Dedi Hasbulloh, menyampaikan pesan penting yang mengajak hadirin untuk merenungi sabda Rasulullah SAW tentang kondisi umat di akhir zaman.
Ia menggambarkan sebuah masa yang akan datang di mana para pemimpin bertindak seperti singa, menterinya seperti serigala, penegak hukumnya seperti anjing penjilat, sementara rakyatnya seperti kambing yang jinak.
“Maka, tidak akan pernah betah kambing hidup dalam satu kandang bersama singa, serigala, dan anjing. Yang akan rusak dan tersakiti justru kambing itu sendiri,” ujar Ustaz Dedi, dalam tausiyahnya pada kegiatan santunan Ponpe Nurul Jihad, Minggu (20/7/2025) mengutip sabda Rasulullah SAW bahwa zaman semacam ini ‘tidak lama lagi akan datang’.
Lebih lanjut, Ustaz Dedi menyinggung pernyataan salah satu perwakilan pemerintah yang baru memberi sambutan dalam kegiatan santunan, menyebut bahwa masyarakat harus bersatu. Namun menurutnya, justru masyarakat di tingkat bawah sudah bersatu, hanya saja para elit dan pemimpinnya yang diatas belum menunjukkan persatuan.
“Yang di bawah sudah bersatu. Yang bertengkar itu yang di atas. Yang memberi contoh buruk justru mereka yang diatas, korupsi, kolusi, nepotisme terus. Ini realita yang hari ini kita lihat,” ujarnya dengan tegas.
Ustaz Dedi menegaskan bahwa situasi seperti inilah yang sejatinya telah diperingatkan oleh Rasulullah SAW. Sebuah zaman ketika kekuasaan hanya menjadi ajang perebutan, hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah, dan rakyat hanya menjadi korbannya.

“Indonesia ini negeri yang subur, dan kaya raya. Jika pemimpinnya adil, pejabatnya bersih, maka sebenarnya rakyat akan bisa hidup makmur. Tapi kenyataannya, yang paling tidak nyaman hidup di negeri ini adalah rakyat kecil,” tuturnya.
Dalam tausiyah Ustaz Dedi juga memberikan pesan keras kepada para pemimpin, khususnya pemerintah daerah di Kabupaten Tasik, agar lebih peduli terhadap kondisi masyarakat kecil yang masih hidup dalam keterbatasan. Ia menyoroti minimnya perhatian terhadap rakyat miskin, anak-anak yatim, dan kaum dhuafa.
“Saya ingin menyampaikan pesan kepada para pemimpin, termasuk Bapak Bupati Tasik. Hampir 90% bantuan pemerintah tidak tepat sasaran. Ini bukan lagi rahasia. Tiga tahun lebih, hal ini terus terjadi,” jelasnya.
Pihaknya sendiri tidak menolak bantuan, tetapi bantuan itu dikembalikan ke masyarakat. “Kalau pemimpinnya memberi bantuan tapi tidak amanah, maka itu bukan solusi. Kita butuh kejujuran seperti Sayyidina Umar, kalau dapat Rp100 ribu, ya sebutkan Rp100 ribu. Bukan diberi Rp200 juta tapi diumumkan Rp500 juta. Itu pengkhianatan terhadap Amanah,” ungkapnya.
Ia juga mencontohkan keteladanan Sayyidina Umar bin Khattab RA, yang menolak makan enak selama masih ada rakyat yang kelaparan. Bahkan, Umar sendiri turun langsung memanggul karung makanan untuk seorang janda dan anak-anak yatim yang menangis karena lapar.

“Kondisi saat ini sangat bertolak belakang dengan semangat Islam yang mengajarkan keadilan dan kepedulian terhadap sesama. Islam itu bukan sekadar ritual, tapi harus hadir dalam bentuk nyata, membela yang lemah dan menyantuni yang membutuhkan. Kalau hari ini Islam hanya dekat dengan kekuasaan tapi menjauh dari penderitaan, maka hilanglah makna Islam itu sendiri,” tegasnya.
Ia menolak keras praktik pemimpin yang hanya sibuk dengan pencitraan media sosial, namun tidak tahu kondisi rakyatnya. Terkait kegiatan santunan, Ustaz Dedi menegaskan bahwa acara tersebut tidak menggunakan dana hibah atau bantuan pemerintah. Semua murni berasal dari masyarakat dan para donatur.
Ustaz Dedi juga membagikan pengalaman pribadinya saat bertemu dengan seorang anak yatim yang tersentuh oleh perlakuannya. Anak itu berkata bahwa Ustaz Dedi mengingatkannya pada almarhum ayahnya.
“Satu tindakan kecil yang tulus, bisa menyembuhkan luka di hati anak yatim. Itu yang Allah lihat. Bukan besarnya pemberian, tapi ketulusannya,” katanya.
Acara santunan ini menjadi wujud nyata dari ajaran Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, bukan sekadar slogan, tapi aksi nyata yang menyentuh kehidupan rakyat kecil.











