KOROPAK.CO.ID – TASIKMALAYA – Harapan puluhan ibu-ibu untuk mengikuti kajian bersama pendakwah ternama Mamah Dedeh pupus pada Minggu pagi, 20 Juli 2025.
Mereka datang dari berbagai daerah, termasuk Sragen dan Garut, menuju Masjid Agung Kota Tasikmalaya setelah membaca pamflet digital yang tersebar luas di media sosial. Sayangnya, kajian itu tidak pernah ada.
Pamflet yang mereka percayai memuat informasi kajian bertajuk “Siraman Qolbu Bersama Mamah Dedeh”, lengkap dengan logo televisi nasional dan desain meyakinkan. Tertulis, acara itu akan berlangsung pukul 06.00 WIB di Masjid Agung. Namun, pihak Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) menyatakan tidak pernah ada agenda seperti itu.
“Setahu saya, kegiatan hari itu hanya pengajian muslimah dan cek kesehatan gratis. Tidak ada nama Mamah Dedeh di jadwal resmi,” kata H. Yayat, Koordinator Keamanan DKM, sebagaimana dilansir dari laman Radar.
Menurut Yayat, kabar hoaks itu sudah terdengar sejak beberapa hari sebelumnya. DKM telah menugaskan petugas keamanan untuk menyampaikan klarifikasi kepada jemaah yang datang. Namun, klarifikasi itu tak cukup menghentikan gelombang jamaah yang datang berbondong-bondong. Dua bus dari Sragen tiba bahkan sebelum salat Subuh.
Video suasana masjid pagi itu sempat viral di TikTok. Seorang pengguna bernama Rahmatilah merekam keramaian ibu-ibu pengajian yang tampak kebingungan. “Keterlaluan yang ngedit flyer. Banyak ibu-ibu yang datang jauh-jauh. Ternyata cuma hoaks,” tulisnya.
Lebih miris lagi, unggahan itu justru dibanjiri komentar bernada olok-olok. Alih-alih mendapat simpati, para ibu-ibu dianggap terlalu polos mempercayai informasi tak jelas sumbernya.
Baca: Mengenal Lebih Dekat Masjid Agung Tasikmalaya
Beberapa komentar bahkan menyebut hoaks tersebut sebagai “balas dendam digital” akibat batalnya konser penyanyi Hindia di acara Ruang Bermusik di Kota Tasikmalaya pekan lalu.
Komentar seperti “Korban pamflet Hindia” atau “Karunya, korban kekecewaan Gen Z berimbas ke Ras Terkuat di Bumi” menyinggung ironi situasi. Prank digital itu disebut sebagai pelampiasan kekecewaan generasi muda terhadap pembatalan acara musik.
Staf administrasi DKM, Khoerul Azmi, menyayangkan aksi iseng yang berdampak nyata itu. Ia menegaskan bahwa pengumuman resmi hanya dilakukan melalui kanal resmi masjid seperti Instagram dan Facebook. “Masyarakat sebaiknya cek dulu ke akun resmi. Jangan percaya begitu saja,” katanya.
Menurut Azmi, selain Masjid Agung, sejumlah lembaga seperti MUI dan Gedung Dakwah juga sempat didatangi warga yang mencari informasi kebenaran pamflet tersebut.
Sementara itu, komentar sinis netizen justru memperpanjang luka. Banyak yang menyalahkan para ibu-ibu karena dianggap “gaptek” atau mudah percaya informasi di media sosial. Namun, sebagian warganet juga membela dan menunjukkan empati. “Kasian, padahal niat mereka baik. Semoga tetap dapat pahala,” tulis akun @peu***.
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa dunia digital bukan sekadar ruang bercanda. Di balik satu unggahan hoaks, ada dampak nyata yang menyesatkan, merugikan, bahkan mempermalukan pihak yang tak tahu-menahu soal “latar belakang candaan.”
DKM Masjid Agung berharap masyarakat lebih bijak dan waspada terhadap informasi yang beredar. “Kami imbau agar warga tak langsung percaya dengan pamflet yang bukan dari kami. Jangan sampai niat ibadah jadi bahan olokan,” ujar Azmi.











