Actadiurna

Pesan Khusus untuk Bupati Tasik, Dari Nurul Jihad Ciloa Karangnunggal

×

Pesan Khusus untuk Bupati Tasik, Dari Nurul Jihad Ciloa Karangnunggal

Sebarkan artikel ini
Pesan Khusus untuk Bupati Tasik, Dari Nurul Jihad Ciloa Karangnunggal
Doc. Foto: Istimewa koropak.co.id - Pimpinan Ponpes Nurul Jihad, Ustaz Dedi Hasbulloh

KOROPAK.CO.ID – TASIKMALAYA – Dalam suasana khidmat kegiatan santunan anak yatim di Pondok Pesantren Nurul Jihad, Ciloa, Karangnunggal, Minggu (20/7), Ustaz Dedi Hasbulloh menyampaikan pesan yang menggugah sekaligus mengguncang. Pesan yang ditujukan kepada para pemimpin negeri, tak terkecuali Bupati Tasikmalaya.

Ia memulai dengan mengutip sabda Rasulullah SAW mengenai kondisi umat di akhir zaman. Suatu masa ketika pemimpin bertindak seperti singa, menterinya seperti serigala, penegak hukumnya bak anjing penjilat, dan rakyatnya hanyalah kambing jinak.

“Maka, tidak akan pernah betah kambing hidup dalam satu kandang bersama singa, serigala, dan anjing. Yang akan rusak dan tersakiti justru kambing itu sendiri,” ujar Ustaz Dedi.

Kritiknya tak berhenti di ranah simbolik. Ia secara terang menanggapi pernyataan perwakilan pemerintah yang sebelumnya menyampaikan bahwa masyarakat harus bersatu.

“Yang di bawah sudah bersatu. Yang bertengkar itu yang di atas. Yang memberi contoh buruk justru mereka yang di atas, korupsi, kolusi, nepotisme terus. Ini realita yang hari ini kita lihat.”

Pesan ini, bukan sekadar sindiran. Ini peringatan yang sudah diisyaratkan sejak lama dalam sabda Nabi. Sebuah era ketika kekuasaan menjadi ajang perebutan, hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas, dan rakyat hanya menjadi korbannya.

“Indonesia ini negeri yang subur, dan kaya raya. Jika pemimpinnya adil, pejabatnya bersih, maka sebenarnya rakyat akan bisa hidup makmur. Tapi kenyataannya, yang paling tidak nyaman hidup di negeri ini adalah rakyat kecil,”

Ustaz Dedi juga menyampaikan pesan khusus kepada para pemimpin, termasuk Bupati Tasikmalaya. Ia menyoroti minimnya perhatian terhadap kaum miskin dan kelompok rentan yang masih terpinggirkan dalam skema kebijakan dan distribusi bantuan.

Pesan Khusus untuk Bupati Tasik, Dari Nurul Jihad Ciloa Karangnunggal
Doc. Foto: Istimewa – koropak.co.id

“Saya ingin menyampaikan pesan kepada para pemimpin, termasuk Bapak Bupati Tasik. Hampir 90% bantuan pemerintah tidak tepat sasaran. Ini bukan lagi rahasia. Tiga tahun lebih, hal ini terus terjadi,” ujarnya.

Ustaz Dedi menegaskan bahwa dirinya tidak menolak program bantuan untuk masyarakat. Namun, ia menekankan pentingnya ketepatan sasaran serta integritas dalam pelaksanaannya. Yang utama adalah kejujuran dan amanah, bukan sekadar ajang pencitraan saja.

“Kalau pemimpinnya memberi bantuan tapi tidak amanah, maka itu bukan solusi. Kita butuh kejujuran seperti Sayyidina Umar, kalau dapat Rp100 ribu, ya sebutkan Rp100 ribu. Bukan diberi Rp200 juta tapi diumumkan Rp500 juta. Itu pengkhianatan terhadap amanah,” tegasnya.

Dalam ceramahnya, Ustaz Dedi mencontohkan kisah Umar bin Khattab RA, menolak makan enak selama masih ada rakyat yang kelaparan dan yang rela memanggul karung gandum untuk janda dan anak-anak yatim yang menangis karena lapar.

“Kondisi saat ini sangat bertolak belakang dengan semangat Islam yang mengajarkan keadilan dan kepedulian terhadap sesama. Islam itu bukan sekadar ritual, tapi harus hadir dalam bentuk nyata, membela yang lemah dan menyantuni yang membutuhkan. Kalau hari ini Islam hanya dekat dengan kekuasaan tapi menjauh dari penderitaan, maka hilanglah makna Islam itu sendiri,” kata Ustaz Dedi.

Ia pun menolak praktik pemimpin yang hanya sibuk dengan pencitraan di media sosial tanpa memahami denyut kehidupan masyarakatnya. Kegiatan santunan di Ponpes Nurul Jihad, ujarnya, sepenuhnya dibiayai oleh masyarakat dan para donatur. Tanpa sepeser pun dana hibah pemerintah.

“Satu tindakan kecil yang tulus, bisa menyembuhkan luka di hati anak yatim. Itu yang Allah lihat. Bukan besarnya pemberian, tapi ketulusannya,” pungkasnya.

Tausiyah Ustaz Dedi bukan sekadar ceramah. Ia adalah gema dari suara-suara sunyi rakyat kecil, yang kerap tak terdengar di ruang-ruang kekuasaan. Pesan yang layak dicatat, terutama oleh mereka yang tengah memegang amanah publik.

error: Content is protected !!