KOROPAK.CO.ID – Konflik bersenjata kembali meletup di perbatasan Thailand-Kamboja. Serangan udara, ledakan ranjau, hingga embargo dagang mewarnai ketegangan yang lama terpendam.
Perbatasan Thailand dan Kamboja kembali bergolak. Ledakan ranjau darat yang melukai prajurit Thailand menjadi pemicu terbaru dalam babak panjang sengketa wilayah yang selama ini luput dari radar global.
Dua insiden dalam sepekan terakhir menyebabkan dua tentara Thailand kehilangan kaki, memicu serangan udara balasan ke wilayah militer Kamboja pada Kamis, 24 Juli.
Balasan pun datang tak lama berselang. Artileri dan roket dari pihak Kamboja menghujani pos-pos Thailand di wilayah sengketa. Ketegangan diplomatik menanjak, perbatasan diperketat, lalu lintas sipil dibatasi. Thailand bahkan mengancam memutus aliran listrik dan jaringan internet ke kota-kota Kamboja di perbatasan.
Di sisi lain, Kamboja membalas dengan melarang impor buah dan sayuran dari Thailand serta memblokir penayangan film-film Thailand. Krisis ini menyorot kembali wilayah sengketa yang dikenal sebagai Segitiga Zamrud, titik pertemuan tiga negara: Thailand, Kamboja, dan Laos.
Di sinilah, baku tembak sempat pecah pada Mei lalu dan menewaskan seorang tentara Kamboja. Kedua negara saling menyalahkan dan mengklaim tindakan mereka sebagai upaya bela diri.
Baca: Bayang Luka Mei 1998, Saat Tubuh Perempuan Menjadi Medan Perang
Sengketa ini bukan barang baru. Sejak dekade awal abad ke-20, garis perbatasan sepanjang 817 kilometer antara Thailand dan Kamboja tak pernah benar-benar disepakati. Sebagian besar dipetakan secara sepihak oleh pemerintah kolonial Prancis saat menjajah Kamboja.
Persengketaan semakin pelik ketika Mahkamah Internasional (ICJ) memutuskan Candi Preah Vihear, situs warisan dunia UNESCO sebagai milik Kamboja. Thailand menolak mengakui keputusan tersebut. Pada 2011, lokasi candi itu menjadi titik api: serangkaian bentrokan bersenjata menewaskan puluhan warga dan memaksa ribuan lainnya mengungsi.
Krisis terbaru juga mengguncang panggung politik Thailand. Perdana Menteri Paetongtarn Shinawatra diskors dari jabatannya usai rekaman percakapan telefonnya dengan mantan Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen, bocor ke publik. Dalam rekaman berdurasi 17 menit itu, Paetongtarn terdengar mengkritik langkah militer Thailand terkait konflik perbatasan.
Militer Thailand tak tinggal diam. Skandal itu meretakkan hubungan sipil-militer yang sudah lama rapuh. Paetongtarn, yang baru naik ke kursi perdana menteri sebagai pemimpin termuda dalam sejarah modern Thailand, kini menghadapi ancaman pemecatan permanen.
Di tengah pusaran sengketa geopolitik, penderitaan warga sipil di kedua sisi perbatasan kembali menjadi korban. Deretan ranjau yang tak pernah dibersihkan, senjata yang kembali aktif, dan diplomasi yang tak kunjung matang, menjadikan konflik ini jauh dari selesai.











