KOROPAK.CO.ID – JAKARTA – Nama Ryu Kintaro belakangan menjadi buah bibir warganet di media sosial. Anak berusia 10 tahun itu viral lantaran rajin membagikan nasihat soal dunia bisnis dan kewirausahaan di berbagai platform, dari TikTok hingga YouTube.
Ia dikenal lewat kalimat-kalimat motivasional yang terdengar dewasa, termasuk soal pilihan hidup sebagai perintis.
“Yang paling seru itu justru hidup sebagai perintis. Nggak ada yang nunjukin arah, nggak ada yang ngejamin hasil,” ujar Ryu dalam satu unggahan video yang tersebar luas di TikTok dan X (sebelumnya Twitter).
Pernyataan itu kemudian menuai pro-kontra. Sebagian warganet menyebut Ryu sebagai inspirasi, namun tak sedikit pula yang meragukan kapasitasnya sebagai anak dari keluarga berada.
Ryu memang bukan anak biasa. Ia adalah putra dari Christopher Sebastian, pengusaha otomotif pemilik Makko Group. Namun, di balik latar belakang keluarganya yang mapan, Ryu mulai dikenal publik bukan karena warisan bisnis, melainkan dari kanal YouTube yang ia bangun sejak 2020.
Awalnya, konten Ryu berisi vlog kehidupan sehari-hari, bermain gim, hingga jalan-jalan bersama keluarga. Dari situ, ia mulai menarik perhatian. Popularitasnya meroket setelah ia mengunggah video promosi nasi mangkuk milik sang ibu, yang ia jual dari bagasi mobil Lexus. Perlahan tapi pasti, Ryu mulai dikenal sebagai wirausahawan cilik.
Dalam unggahan Sandiaga Uno di platform X, disebutkan bahwa Ryu telah menghasilkan Rp1 miliar dalam setahun dari kanal YouTube-nya. Angka itu melonjak menjadi Rp 1 triliun ketika Ryu meluncurkan bisnis jamu bernama Tjap Nyonya Kaya.
Baca: Dikha, Si Bocah “Aura Farming” dari Kuansing yang Mendunia
Usaha yang didanai dari penghasilan adsense ini, menurut Ryu, lahir dari keinginannya membuat jamu terasa modern dan bisa dinikmati anak-anak. “Saya ingin lebih banyak orang tahu bahwa jamu itu bisa enak dan tetap sehat,” katanya sebagaimana dilansir dari laman detikHot.
Tak hanya sukses secara komersial, Ryu juga menerima penghargaan South East Young Entrepreneur X Factor 2025. Dalam sambutannya, Ryu mengatakan prestasi ini adalah bukti bahwa usia bukan halangan untuk berkarya.
Namun, di balik pencapaian itu, kritik tetap datang. Banyak netizen yang menyangsikan keaslian narasi Ryu, menuduh keberhasilannya sebagai hasil dari privilese.
Ryu menanggapi hal itu dengan tenang. Dalam sebuah podcast yang ia unggah ke akun TikTok @ryu_kintaro, Ryu mengatakan, “Selama tidak merugikan orang lain dan tidak ada dampak buruk seperti dipukul, ya enggak apa-apa.”
Ia mengaku justru melihat komentar miring sebagai penguat engagement akun media sosialnya. Ia menyarankan anak-anak seusianya untuk tidak takut berbagi konten positif. “Jangan takut mencoba selama postingan masih gratis,” ujarnya.
Di tengah segala aktivitas bisnis dan kontennya, pendidikan tetap jadi prioritas. Dalam salah satu video bersama kreator @samuel_christ, Ryu menegaskan bahwa sekolah adalah pondasi berpikir yang benar. “Kalau kita dapat uang tapi nggak tahu cara ngelolanya, bakal hilang semua itu,” kata dia.
Kini, dengan 1,6 juta subscriber YouTube dan 2,5 juta pengikut di TikTok, Ryu Kintaro tidak sekadar menjadi konten kreator anak-anak biasa. Ia mulai memposisikan diri sebagai figur muda yang mengajak generasi sebayanya berpikir soal masa depan dengan gaya yang tidak semua orang bisa terima, tapi tak bisa diabaikan.











