Memoar

Nandang Suherman, Pemerhati Anggaran Daerah yang Tak Takut Diteror

×

Nandang Suherman, Pemerhati Anggaran Daerah yang Tak Takut Diteror

Sebarkan artikel ini
Nandang Suherman, Pemerhati Anggaran Daerah yang Tak Takut Diteror

KOROPAK.CO.ID – TASIKMALAYA – Sosok ini dikenal sebagai pemerhati kebijakan publik yang konsisten menyuarakan kritik terhadap pemerintah, khususnya terkait Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Berbekal latar belakang pendidikan di Sekolah Teknik Mesin dan sempat menempuh kuliah di Perguruan Tinggi Cipasung, ia sudah aktif di kegiatan sosial sejak muda.

Perjalanannya menjadi pemerhati kebijakan publik dimulai pasca diberlakukannya otonomi daerah pada 1999.

Menurutnya, reformasi yang awalnya sentralistik kemudian memberi kewenangan kepada daerah adalah peluang besar agar masyarakat terlibat langsung dalam proses pemerintahan.

“Sejak dulu saya fokus ke APBD karena sehebat apa pun visi misi, tanpa dukungan anggaran mustahil bisa dieksekusi. Dari situlah kesadaran saya tumbuh untuk mengawal kebijakan melalui data,” ujarnya.

Dari Radio hingga Teror

Sejak 2003 hingga 2012, ia rutin mengkritik DPRD, bupati, dan instansi pemerintah melalui siaran radio di Sumedang.

Keberaniannya menyuarakan kritik berbasis data membuatnya beberapa kali mendapat teror, mulai dari SMS ancaman hingga serangan buzzer di media sosial.

“Dulu saya telepon balik peneror, tapi tidak pernah diangkat. Bahkan saya tantang dengan memberi tahu kendaraan dan rute pulang saya, tapi tetap tidak ada yang datang,” kenangnya.

Meski demikian, ia menegaskan tidak pernah menghiraukan serangan tersebut. Baginya, kritik adalah bentuk kecintaan pada daerah.

Baca: DPRD dan Pemkab Belum Sepakat, KUA-PPAS 2025 Tasikmalaya Masih Buntu

“Hubungan personal saya dengan pejabat tetap baik, tapi kebijakan harus berpihak pada rakyat,” tegasnya.

Beratnya Mengkritik Orang Dekat

Mengkritik pejabat publik yang secara pribadi dikenal adalah tantangan tersendiri. Ia mengaku sempat mengalami dilema, apalagi ketika hubungan keluarganya dekat dengan keluarga pejabat yang dikritik. Namun, pemahaman akhirnya dibangun bahwa kritiknya bukan menyerang pribadi, melainkan mengawal kebijakan.

“Saya tidak akan berani mengkritik tanpa data. Pejabat publik harus dikritik demi perbaikan. Setelah itu, kami tetap bisa duduk ngopi bersama,” ujarnya.

Inspirasi dan Prinsip Hidup

Hobi bersepeda kini menggantikan kegemarannya bermain catur dan membaca. Dalam hidupnya, ia terinspirasi oleh Nabi Muhammad SAW, terutama sahabat beliau, Abu Dzar Al-Ghifari, yang dikenal jujur, sederhana, dan berani menegakkan kebenaran.

“Saya mengkritik tidak membawa massa, tapi membawa kekuatan data. Urusan berubah atau tidak setelah dikritik, itu bukan wewenang saya. Yang penting, kebenaran harus disampaikan meski pahit,” tutupnya.

error: Content is protected !!